Zakat Tanaman Dan Buah Buahan



1. Tentang

Zakat Hasil Panen Persawahan

Nisab zakat hasil panen pertanian, sayur-sayuran, buah-buahan, dan bunga

Sebagian besar mahajana Indonesia memiliki tanah lapang pekerjaan seumpama pembajak. Maka dari itu karena itu, setiap empunya lahan pertanian diharapkan memaklumi dan paham cara menentukan mandu menentukan zakat pertanaman. Hasil perkebunan yang harus keluarkan
zakat
adalah bermula spesies makanan pokok seperti milu, beras, kurma, dan gandum yang biasa disebut dengan zakat hasil pertanian buah, panen, atau sayuran.

Menurut pendapat ulama momen ini, hasil pertanian yang wajib dizakati tak hanya pohon pokok, hanya sekali lagi hasil sayur-sayuran sebagai halnya cabe, ubi belanda, kubis, tumbuhan anakan, buah-buahan, dan lain-bukan. Cara menghitung kuantitas yang akan dikeluarkan zakat pecah tanaman tersebut ialah disamakan dengan nisab zakat perladangan makanan rahasia dan harga makanan pokok yang dipakai publik setempat.

Baca Juga: ZAKAT SEWA Tanah PERTANIAN


2. Syarat Zakat Hasil Panen Pertanian

Syarat yang harus dipenuhi dalam mengasingkan zakat pertanian yaitu bagaikan berikut:

  1. Hasil pertanian dimiliki sendiri.
    Artinya, nan berhak mengeluarkan zakat hasil pertanian yakni tuan sawah, tak buruh yang menggarap sawah. Masyarakat Indonesia mengenal dua spesies pengelola sawah, ialah pemilik sawah dan orang yang berkarya merawat tanaman di sawah. Pemilik sawah (zamindar) tersebutlah nan harus berzakat hasil pertanian.
  2. Sudah lalu mencapai nisab nan telah ditentukan.
    Nisab zakat pertanian dari sawah yang teradat dikeluarkan zakatnya adalah minimal 653 kg.
    Bila hasil perkebunan tersebut berupa biji kemaluan, sayuran, dan bunga, maka seluruh kekayaan hasil pertanian diubah ke kredit hasil pertanaman lambung sentral masyarakat setempat.


3. Nisab Zakat Persawahan

nisab zakat hasil panen pertanian

Terlampau, berapakah jumlah zakat nan harus dikeluarkan peladang? Menurut mata air irigasi nan dipakai untuk mengerjakan sawah, jumlah zakat perkebunan dibagi menjadi dua.

  1. Persawahan yang menggunakan air hujan, air sungai, dan mata air sebagai sumber pengairan. Takdirnya sawah yang dikelola adalah sawah tadah hujan dan jenis pengairan lain nan bukan perlu membeli air, maka besar zakat perkebunan yaitu sebesar 10 komisi dari seluruh hasil pengetaman.
  2. Pertanian yang mengharuskan membeli air tali air supaya sawah mereka dapat bersemi. Bakal pertanian tipe ini jumlah zakat pertanian yang harus dikeluarkan adalah 5 persen berpokok seluruh hasil panen. Jumlah 5 persen lainnya diasumsikan sebagai biaya pembelian pupuk, perawatan lahan, obat hama, dan lain-lain.

Puas detik ini sangat berat kita temukan sawah yang serius tadah hujan maupun sawah irigasi. Bagaimana bila sawah dikelola menunggangi kedua prinsip pengairan, adalah air hujan dan air irigasi? Jika kita mengacu kepada pendapat Imam Az-Zarkawi, maka segara zakat hasil perkebunan sawah jenis ini merupakan 7,5%. Besar prosentase 7,5 merupakan nilai tengah berbunga 5 komisi dan 10 persen.

Baca Juga: NISAB DAN Takdir ZAKAT


4. Periode Zakat Pertanian

Buat mengeluarkan zakat pertanian tidak perlu menunggu masa kepemilikan selama satu periode. Jadi, hasil pertanian mesti dizakati adalah momen start masa panen. Namun ada sebagian manusia yang makin suka berzakat maal lega bulan Ramadhan bersamaan dengan zakat fitrah. Hal tersebut tidak masalah asalkan masih dalam satu hari masa penuaian karena kalau mutakadim lalu tahun berikutnya maka dikhawatirkan petambak sudah lupa buat menunaikan zakat hasil pertanian.

Hendaknya pengumuman tentang zakat hasil pertanian ini dapat berguna kerjakan Kamu.

***

Cak hendak berzakat dengan lembaga zakat terpercaya? Mari berzakat bersama Dompet Dhuafa!


Zakat Sekarang

Source: https://zakat.or.id/cara-menentukan-zakat-hasil-pertanian/