Yakin Allah Akan Memberikan Keturunan

Punya asam garam lain ki menenangkan amarah atau tak terlupakan cak bertanya soal ‘pron bila’? Kata ‘kapan’ memang bisa jadi kata nan cukup bikin vitalitas nggak lengang. Seperti kisahan sahabat Vemale yang disertakan dalam kompetisi Stop Cak bertanya Kapan! Ungkapkan Perasaanmu Silam Tanding Menulis Juli 2022 ini. Pada dasarnya anda nggak kawin sorangan menghadapi kebingungan dan kecemasan karena cak bertanya ‘kapan’.

***

5 tahun. Itu juluran waktu yang cukup lama bagiku buat bersabar mengakuri pertanyaan nan setimpal sanding setiap waktu. “Pada saat punya anak?” seolah menjadi pertanyaan wajib yang harus dilontarkan manakala mengetahui berapa semangat pernikahanku. Dan lucunya sehabis itu, sang penanya lantas berupaya menunjukkan rasa empatinya, “Ya sudah, nggak apa-apa. Yang penting sabar dan terus berusaha. Insyaallah lekas diberi anak asuh, ya.” Lalu sebuah tepukan di bahu disematkan, juga sepangsa senyum. Menyebalkan! Sering aku berpikir, cak kenapa orang begitu kepo dengan kehidupan orang lain. Terutama hal-hal yang kiranya tidak teristiadat dipertanyakan, apalagi bila pertanyaan itu berpotensi takhlik makhluk menjadi terluka atau sedih, alih-alih memberi pecut. Karena aku yakin sekali seandainya Allah SWT belum mengaruniai anak asuh, penting memang belum waktunya. Yang terdahulu panjang usus dan ki ajek berusaha. Jadi tidak terbiasa menanya pula pada pasangan nan belum punya anak, karena sebenarnya si penanya sudah tahu barang apa jawaban atas pertanyaannya seorang.Saja barang apa kiat, karena aku tidak bisa mengontrol pendapat orang. Setiap khalayak bebas berkomentar, cak agar komentar itu bukan eco buat didengar. Yang dapat kulakukan hanyalah berpikir positif dan menggubris komentar itu. Sebab apabila komentar bernada negatif itu sesak mendalam aku pikirkan, maka aku seorang yang akan rugi.

Ilustrasi./Copyright unsplash.com/lili kovacBukan bukan banyak upaya nan sudah kulakukan bikin bisa memiliki anak. Temu duga ke genekolog, rutin olahraga, menjalani kamil hidup sehat dan tentu semata-mata beribadah, memohon kepada Allah SWT. Banyak pula saran yang aku terima, termasuk saran yang di asing nalarku. Cak bagi hal yang bontot ini, aku dengan tegas tidak ingin melakukannya. Karena cukup Yang mahakuasa SWT medan aku lamar.Namun sekeras apapun upayaku untuk tetap, aku tahu terpuruk juga ketika genekolog mengatakan bahwa aku tidak bisa memiliki anak karena posisi dinding rahimku yang tak baku. Entah apa istilah medisnya, tapi posisi rahimku membuat sperma tidak dapat membuahi. Mendengar tetapan itu, selintas aku merasa menjadi wanita dan istri nan tidak berguna. Dan aku sesak agak gelap mengatakannya kepada pihak keluarga samudra atau n partner dekatku. Aku memilih untuk menyimpannya dalam hati. Bisa ditebak, akupun menjadi Depresi.Aku yang saat itu masih kerja kantoran, berusaha menyibukkan diri dengan tiang penghidupan. Pulang larut malam, bahkan sengaja membawa banyak pekerjaan kantor ke rumah agar aku bisa mengenyahkan perasaan bersalah pada diri karena tidak bisa memiliki anak. Semua pencahanan itu, cukup berhasil membuatku sibuk dan malah menaikkan penghasilan bulananku. Namun hanya sesaat, karena kemudian aku kembali merasa sepi dan bersalah. Pada suatu malam, entah kenapa hatiku terpengaruh kerjakan melakukan salat malam. Menangis, menghubungkan, memohon, semua perasaan kutumpahkan dalam doaku. Seketika aku merasa lega. Dan memutuskan untuk bersikap pasrah. Aku putuskan untuk tidak cak hendak pula menderita karena menimang kerinduan kerjakan memiliki biji kemaluan hati. Jika Sang pencipta SWT berkehendak memberikan keturunan, insyaallah tentu akan terjadi. Tidak perlu  memaksakan diri hingga memikirkannya secara berlebihan. Apalagi merenungkan bacot banyak orang yang terasa makin menyakitkan hati. Kaprikornus aku harus pasrah. Dan menyerahkan semuanya kepada kuasa Allah SWT.

Ilustrasi./Copyright unsplash.com/freestocks.orgKehidupanku pun berjalan normal. Membaca banyak buku inspirasi dan motivasi membuatku merasa tidak sendiri. Aku menikmati kehidupanku dengan sebaik-baiknya. Tercantum memutuskan cak bagi menjumut cuti kerja dan pulang ke kampung halaman di Bangka. Selama satu ahad menghabiskan liburan di kampung halaman, aku merasa benar-benar fresh.“Tampak tambah kurat mukamu,” alas kata ibu berpokok membelot meja makan. Saat itu kami sedang makan siang bersama. Aku hanya senyum menanggapi komentar ibu. Pasti sahaja wajahku terlihat cerah karena aku bisa pulang ke kampung halaman, bersabung orangtua dan keluarga besar. Aku silam bahagia. Jarang sekali aku memiliki kesempatan cak bagi bisa pulang sejenis ini.“Jangan-jangan kamu hamil,” lanjut ibuku sekali lagi. Aku tersentak. Sempat tungkap sejumlah ketika lalu tersenyum. “Amin,” jawabku singkat. Aku tidak mau banyak berharap sebagaimana tekadku sebelumnya.

Ilustrasi./Copyright unsplash.com/aaron burdenLibur liburan pun usai. Aku kembali menekuni kegiatan sehari-musim, hingga kemudian aku mencatat bahwa aku terlambat menclok bulan. Sebelumnya, insan-orang di sekitarku gelojoh merasa heran karena aku terlihat
moody.
Mudah merasa kesal, sering menggerutu enggak lemak badan dan aku gampang sekali tersulut emosi. Karena penasaran, sepulang kerja aku bungkam-bungkam membeli dua
testpack
di apotek dekat kantorku. Dengan rasa penasaran, aku tak sabar menunggu besok musim berangkat untuk melakukan tes kehamilan.Dan keesokan harinya, seperti absah aku bangun tidur sebelum azan subuh berkumandang. Tapi mana tahu ini aku tidak lantas menuju tenggarang bikin menyiagakan sarapan, tetapi berbarengan menghadap kamar mandi sambil mengangkut dua
testpack
yang kubeli kemaren. Aku melakukan pemeriksaan ulang kehamilan. Sedetik, dua detik, hingga 5 menit kemudian aku berada di kamar bersiram dengan perasaan nan berkecamuk. Kedua tanganku terasa keringat oleh peluh. Berkali-kali aku berusaha menentramkan hati, jika hasilnya negatif aku enggak boleh
down.Mataku tidak abolisi berbunga satu testpack yang sudah kucoba. Hingga tak lama kemudian semburat rona ahmar membentuk dua garis. Aku terperangah bukan berkepastian. Penasaran, kubuka lagi satu testpack dan kembali aku berbuat tes kehamilan. Menunggu bilang saat dan… dua garis abang itu kembali muncul. Positif! Aku positif hamil. Alhamdulillah. Taajul berita gembira ini sampai ke keluarga ki akbar kami. Dan ajaib, sejak berita ini memencar, pertanyaan, “Kapan punya anak?” hilang dengan sendirinya.Asam garam menunggu kehadiran buah hati sejauh kurun waktu 5 hari, dan merasa “kenyang” dengan pertanyaan, “Kapan punya anak asuh?” membuatku menjadi lebih berhati-lever bercakap terhadap saingan yang belum di karuniai anak. Karena aku siuman betul, tanya seperti itu lebih banyak berakibat negatif daripada positif, sebagai halnya yang pernah ku alami lewat.Seperti nan kuungkapkan sebelumnya, pertanyaan “kapan” seperti ini alih-alih membangkitkan hidup atau senawat kepada orang tak, tapi cenderung membuat orang menjadi sedih, gempa bumi hati dan depresi. Jadi menurutku, signifikan sekali buat tak kepo dengan sukma manusia tidak. Karena kita tak pernah senggang apa sebenarnya yang telah sosok lain alami n domestik hidupnya. Jangan sampai pertanyaan “kapan” malah memperburuk keadaannya. Jadi #STOPTANYAKAPAN, start ketika ini juga.

  • Aku Belum Menikah karena Menjadi Tulang Punggung Keluargaku
  • Pernah Murah Kok, Ngapain Masih Menyorong?
  • Tak Semua Pertanyaan Bisa Dijawab Cepat, Termasuk Soal Kapan Rangkaian
  • 14 Tahun Menikah Belum Punya Anak, Suatu Masa Suami Mewujudkan Tangisku Semenjak
  • Moms, Nggak Usah Baper Kalau Cak semau yang Nyinyirin Tumbuh Kembang Momongan

(vem/nda)

Source: https://www.fimela.com/lifestyle/read/3808193/saat-sudah-pasrah-yang-sudah-lama-dinantikan-bisa-terwujud-dengan-mudah