Wilayah Kekuasaan Kerajaan Mataram Kuno

Kesultanan Mataram

ꦤꦴꦒꦫꦷꦏꦱꦸꦭ꧀ꦠꦤꦤ꧀​ꦩꦠꦫꦴꦩ꧀


نَاڬَارِي كَسُلْطَانَن مَاتَارَام

15861–1755

Bendera Mataram Islam

Bendera

Mataram Sultanate in Sultan Agung Reign id.svg
Menampilkan peta 1613

Jawa Setelah Perjanjian Giyanti.png
Menganjurkan kar 1757

Mataram Baru 1830.png
Mengemukakan peta 1830

Kar wilayah Kesultanan Mataram

Ibu kota Kutagede
(1586-1613)

Karta
(1613–1645)

Plered
(1646–1680)

Kartasura
(1680–1745)

Bahasa resmi

Jawa
Bahasa yang diakui Bagongan
Agama Islam
Demonim Matawis
Pemerintahan Monarki
Sultan

• 1586-1601

Senapati

• 1613-1645

Anyakrakusuma

• 1646-1677

Amangkurat I

• 1704-1719

Pakubuwana I

• 1719-1726

Amangkurat IV

• 1745-1749

Pakubuwana II
Kemerdekaan

dari Pajang

Sejarah

• Pengungsian kekuasaan
Demak ke Pajang

1549

• Babad Wana Mentaok

1556

• Adeging Nagari

15861

• Palihan Nagari

13 Februari 1755
Alat penglihatan uang derham jawi
dan
dinar
[1]
Didahului maka itu Digantikan makanya
Sultanat Pajang
Kesunanan Surakarta
Kesultanan Yogyakarta
Hindia Belanda
Sekarang bagian terbit
Indonesia


^1

(1513 J/1586 M) Panembahan Senapati jumeneng yang dipertuan ing nagari Mataram[2]

Kesultanan Mataram
(bahasa Jawa:

نَاڬَارِي كَسُلْطَانَن مَاتَارَام,


ꦤꦴ


(


)






(

ga
)



ꦫꦷ


(


)






(

ka
)



ꦱꦸ


(

su
)



ꦭ꧀


(

l
)






(

ta
)






(

na
)



ꦤ꧀


(

ufuk
)






(

ma
)






(

ta
)



ꦫꦴ


(


)



ꦩ꧀


(

m
)

,

translit.



Nagari Kasultanan Mataram

; bahasa Indonesia:
Negara Sultanat Mataram; bahasa Arab:
دولة نوبل ماتارام


Daulat Nuubil Mataram

,
har.
‘Wilayah Mataram yang Sani’) yaitu negara berbentuk sultanat di Jawa pada abad ke-16. Kesultanan ini didirikan sejak medio abad ke-16, namun mentah menjadi negara berdaulat di akhir abad ke-16 yang dipimpin oleh dinasti yang bernama wangsa Mataram.[3]
[4]

Sejauh abad ke-16, tepatnya puas puncak kejayaannya di bawah pemerintahan Anyakrakusuma, Mataram adalah salah satu negara terkuat di Jawa, sultanat nan menyatukan sebagian besar pulau Jawa, yakni sebagian besar wilayah Jawa Barat, Jawa Timur dan Jawa Tengah kecuali Banten, selain itu juga membereskan daerah Madura, dan Sukadana (Kalimantan Barat) serta Pulau Sumatra (Palembang dan Jambi). Sultanat ini terdiri bersumber bilang wilayah inti mulai dari:
kutagara,
nagaragung,
mancanagara,
pasisiran
dan sejumlah
kerajaan vasal, sejumlah di antaranya dianeksasi ke dalam teritori kesultanan, sedangkan sisanya diberikan beragam tingkat kedaulatan.
[butuh rujukan]

Sultanat ini secara de facto yakni negara merdeka yang menjalin interelasi perbisnisan dengan Kerajaan Belanda ditandai dengan kedua pihak silih utus wakil osean. Menjelang keruntuhannya, Kesultanan Mataram menjadi negara protektorat Kerajaan Belanda, dengan status
pzelfbestuurende landschappen.
[burung rujukan]

Perjanjian Giyanti membuahkan kerukunan bahwa Sultanat Mataram dibagi dalam dua kontrol, yaitu Nagari Kasunanan Surakarta dan Nagari Kasultanan Ngayogyakarta. Perjanjian nan ditandatangani dan diratifikasi lega terlepas 13 Februari 1755 di Giyanti ini secara
de jure
men berakhirnya Mataram.[5]
[6]

Etimologi

[sunting
|
sunting sumber]

Nama Mataram secara kuno merupakan nama kerajaan pra-Islam yang mengacu pada Kerajaan Mataram abad ke-8. Praktik umum di Jawa adalah menyebut kerajaan mereka dengan metonimia dan majemuk dalam berjenis-jenis bahasa. Ada keragaman bahkan n domestik bahasa. Kerumahtanggaan bahasa Sanskerta, Mataram signifikan ibu, sementara itu istilah “Matawis” digunakan andai bentuk demonim dan introduksi sifat.

Berlandaskan sejarahnya, ada dua kerajaan yang hubungan terserah di musim yang berbeda dan keduanya disebut Mataram. Kekaisaran selanjutnya, sering disebut sebagai
Mataram Selam
maupun
Matawis
untuk membedakannya dari Kerajaan Mataram abad ke-8.[7]

Album

[sunting
|
sunting perigi]

Pembentukan dan perkembangan

[sunting
|
sunting sumber]

Adeging nagari

[sunting
|
sunting sumber]

Kutagede, jebolan ibu ii kabupaten Sultanat Mataram, didirikan pada musim 1582 maka dari itu Panembahan Senapati.

Sreg seperempat abad ke-16 Masehi, distrik Kesultanan Mataram merupakan bagian mulai sejak area Sultanat Pajang. Statusnya sebagai kadipaten dengan penguasanya adalah Bab Ageng Pamanahan. Selepas Panembahan Senapati berkuasa di Kadipaten Mataram, ia memisahkan wilayahnya dari Sultanat Pajang dan mendirikan Sultanat Mataram.[8]
Kesultanan Mataram didirikan olehnya pada waktu 1586. Selanjutnya plong tahun 1586 provinsi Pajang telah menjadi bagian berpangkal kemerdekaan Kesultanan Mataram diikuti pemasukan tahkta Pajang oleh Pangeran Benawa kepada Panembahan Senapati. Urut-urutan Mataram begitu besar dan kuat sehingga sebagian segara ahli tarikh sekata bahwa itu sudah lalu didirikan selama sejumlah generasi perintis Mataram.

Menurut catatan Jawa, raja-baginda Mataram adalah baka berasal Ki Ageng Pelana (Sela adalah sebuah desa dekat Demak sekarang). Pada musim 1570-an, salah suatu pertalian keluarga Bopeng Ageng Sela, Kyai Gede Pamanahan dianugerahi kekuasaan atas tanah Mataram oleh yang dipertuan Pajang, Sultan Adiwijaya, sebagai imbalan atas jasanya mengalahkan Arya Panangsang, musuh Adiwijaya.[9]
Pajang terwalak di ii kabupaten Surakarta detik ini, dan Mataram awalnya adalah vasal dari Pajang.[4]
Pamanahan kerap disebut laksana Kyai Gede Mataram. Sendiri kyai yaitu seorang ulama muslim nan berpendidikan janjang dan menghadap disegani.

Sedangkan di Pajang, terjadi pencaplokan supremsi megah yang terjadi sesudah Prabu Adiwijaya wafat pada tahun 1582. Pewaris Adiwijaya adalah Pangeran Benawa, digulingkan takhtanya oleh Arya Pangiri dari Demak, dan disingkirkan ke Jipang. Putra Pamanahan, Sutawijaya atau Panembahan Senapati, mengambil alih ayahnya sekitar tahun 1584, dan beliau tiba melepaskan Mataram berpunca kekuasaan Pajang. Di asal Sutawijaya, Mataram tumbuh secara substansial melalui propaganda militer melawan penguasaan Mataram atas Pajang oleh Arya Pangiri, dan Pangeran Benawa dengan cepat menggalang dukungan bagi merebut kembali takhtanya dan merekrut dukungan Panembahan Panglima perang melawan Pajang. Selanjutnya, Pajang diserang berbunga dua sebelah: oleh Yang dipertuan Benawa dan oleh Panembahan Panglima perang. Perang antara Pajang melawan Mataram bubar dengan kekalahan Arya Pangiri. Baginda Benawa kemudian menaiki geta di Pajang.[9]
Sepanjang periode itu tidak ada putra mahkota Pajang yang mengambil alih Pangeran Benawa sehingga kedudukan Pajang diserahkan ke Panembahan Senapati. Kemudian yang menjadi bupati di sana ialah Ratu Burung dandang Baning atau adik Panembahan Panglima perang. Keadaan pada musim 1586 ini menandai berakhirnya kerajaan Pajang dan berdirinya Nagari Kasultanan Mataram.

Kebangkitan Mataram

[sunting
|
sunting sumber]

Pasarean Mataram, kuburan dari Panembahan Senapati dan Panembahan Seda ing Krapyak.

Sutawijaya menjadi pemimpin monarki dengan menyandang gelar “Panembahan” (secara verbatim berarti “orang nan dijunjung”). Kamu mengekspos sifat pemerintahannya nan ekspansif dan mulai memproyeksasi operasi politiknya sesuai ganjaran, layanan, dan fungsi administrasi ke timur di sepanjang Batang air Istimewa.[9]
Sreg 1590 menaklukkan Madiun, dan berbelok ke timur dari Madiun buat menaklukkan Kediri pada waktu 1591 dan Ponorogo.[10]
Sreg saat nan sama ia kembali menaklukkan Labu siam dan Jagaraga (utara Magetan sekarang). Dia berhasil hingga ke timur sejauh Pasuruan. Setelah berhasil menyatukan Jawa, Panembahan Senapati mengalihkan perhatiannya ke Jawa bagian barat, dengan menaklukkan Cirebon dan Argentum, menjadi vasal Mataram sreg musim 1595.[10]
Usahanya lakukan menjinakkan Banten plong musim 1597 gagal, dikarenakan kurangnya transportasi air.[10]
Panembahan Panglima perang wafat pada tahun 1601 dan dimakamkan di Daerah tingkat Gede, sebagai raja Jawa beliau berbuntut membangun fondasi negara hijau yang kokoh. Penggantinya, Raden Mas Jolang ataupun nan kemudian bergelar misal Susuhunan Anyakrawati.[10]

Kontak mula-mula antara Mataram dan Belanda terjadi pada era Susuhunan Anyakrawati. Kegiatan Belanda pada saat itu doang sampai penggalasan pecah pemukiman pesisir Jawa, sehingga interaksi mereka dengan distrik pedalaman Jawa dibatasi, kendatipun dibelakang mereka membentuk siasat bikin menjajari Mataram. Susuhunan Anyakrawati wafat karena kecelakaan sewaktu mengejar rusa di pangan Krapyak. Dari peristiwa itu ia dikenal dengan gelar anumerta
Panembahan Seda ing Krapyak
(Panembahan yang Meninggal di Krapyak).

Masa keberuntungan

[sunting
|
sunting sumber]

Turnamen bela diri antara dua penunggang kuda bertombak di kerajaan Mataram, diadakan di pelan depan keraton.

Anyakrawati digantikan maka itu putranya, Baginda Martapura. Doang Martapura, kesehatannya buruk dan dengan cepat digantikan maka itu saudaranya, Raden Mas Rangsang lega hari 1613, yang menjawat gelar
Susuhunan Anyakrakusuma, dan kemudian sreg masa 1641 mengambil gelar
Raja Agung Adi Sri paduka Anyakrakusuma
(Sultan Agung).[10]
Sultanat Mataram di bawah tadbir Anyakrakusuma dikenang umpama puncak kekuasaan Mataram, dan masa keemasan kekuasaan asli Jawa sebelum imperialisme Eropa pada abad berikutnya. Di bawah kepemimpinannya, Anyakrakusuma bukan mengizinkan Perkongsian Dagang Hindia Timur (VOC) untuk mendirikan loji-loji dagang di pantai utara. Situasi ini ditolak lantaran ia enggak ingin ekonomi di pesisir utara akan melemah seandainya dikuasai makanya VOC. Resistansi ini menciptakan menjadikan gabungan Mataram dengan VOC merenggang.
[pelir rujukan]

Sreg 1641, utusan Jawa yang dikirim Anyakrakusuma ke Arab telah start setelah mendapat izin menyandang gelar “Sultan” dari Mekah. Tera dan gelar Islam yang diperolehnya dari Mekah adalah “Emir Abdul Muhammad Maulana Matarami”.[11]

Lega 1645 Sultan Agung mulai membangun Imogiri, bak ajang pemakaman, sekitar panca belas kilometer selatan Yogyakarta. Imogiri patuh menjadi gelanggang peristirahatan sebagian raksasa tanggungan Kesunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta hingga waktu ini. Tuanku Agung wafat pada musim semi hari 1646, meninggalkan sebuah negara yang ia bangun, membentang cakrawala sebagian ki akbar Jawa, Madura, dan pulau-pulau sekitarnya.

Masa kemerosotan

[sunting
|
sunting sumur]

Sepeninggal Sultan Agung, tahta diambil alih oleh anaknya, Amangkurat I. Pusat pemerintahan dipindahkan ke Kastil Plered yang lokasinya lain jauh dari keraton sebelumnya. Di pangkal kepemimpinannya, Mataram diwarnai dengan gejolak politik yang tidak stabil karena adanya impitan dari VOC, sehingga terjadi banyak persangkalan dan perang ari-ari. Tahun kepemimpinannya pula menjadi titik awal masa kemunduran Mataram.

Pemberontakan Raden Mas Palit dan Trunojoyo

[sunting
|
sunting sumber]

Sikap Amangkurat I yang menentang panjang usus dan tunduk kepada Belanda membentangkan beberapa pemberontakan. Salah satunya adalah pemberontakan Raden Mas Alit, adik mulai sejak Amangkurat I pada 1678 nan menggasak ribuan bahan jiwa. Raden Mas Alit juga tewas dalam penolakan ini.[12]

Ada kembali penangkisan yang dipimpin maka itu Raden Mas Rahmat, momongan Amangkurat I yang momen itu telah menjadi Prabu Adipati Anom atau putra mahkota. Kamu keberatan dengan pengalihan gelar yang ia sandang kepada saudaranya, yakni Baginda Singasari. Ia mengajak Trunojoyo, putra penguasa Madura, untuk melaksanakan misi tersebut sreg 1670. Trunojoyo menyanggupi karena anda ingin Madura merdeka bersumber pemilikan Kesultanan Mataram Islam di bawah kepemimpinan Amangkurat I. Cuma, Trunojoyo terlebih menumpas suatu demi satu provinsi-wilayah kekuasaan Mataram, dan akan menyerang istana Plered. Keadaan ini mewujudkan Ratu Adipati Anom berubah haluan mendukung ayahandanya, kemudian mengamalkan pelarian menuju Tegal. Disinilah Amangkurat I sakit dan wafat, makanya kesannya Amangkurat I diberi nama anumerta
Susuhunan Tegal Arum.[12]

Disisi lain, Trunojoyo semakin langgeng sehingga Prabu Adipati Anom terpaksa menjalin kerja sama dengan VOC bikin menumpas Trunojoyo sekaligus merebut pun takhta Mataram Islam. Kompeni bersedia membantu tapi dengan syarat. Alhasil, Sri paduka Adipati Anom diangkat menjadi penerus tahta dengan gelar Amangkurat II. Disini kembali terjadi eksodus rahasia pemerintahan, bisa jadi ini berkiblat ke Kartasura nan gemuk di bagian timur ibukota lama.[12]

Perebutan Kursi Otoritas

[sunting
|
sunting mata air]

Intervensi VOC dalam urusan kerajaan pun menimbulkan perang sipil antar kerabat keraton Mataram pada saat itu, dikarenakan masing-masing pihak saling mengklaim soal kursi yang lazim. Dimulai pada Perang Takhta Jawa Pertama yang melibatkan Amangkurat III dan Pakubuwana I, Perang Takhta Jawa Kedua yang menyertakan Amangkurat IV dan pangeran-ratu yang memberontak.

Bantahan Sultan Kuning

[sunting
|
sunting sumber]

Terjadinya situasi Geger Pacinan di Batavia berefek pada migrasi etnis Tionghoa secara ki akbar-besaran ke Jawa Tengah.

Hal inilah yang kemudian mendorong perkelahian bersama yakni kesukuan Jawa dan etnis Tionghoa mengganjar para kolonialis di tahun 1740. Perkelahian ini dipimpin maka dari itu Yang dipertuan Kuning yang tulat diangkat oleh sebagian pengikutnya menjadi Amangkurat V, dibantu maka itu VOC dan mengajak Raden Mas Said, momongan bersumber Paduka Arya Mangkunagara yang merupakan plasenta kandung tak ibu dari Pakubuwana II, penguasa Mataram saat itu. Karenanya, keraton Kartasura hancur lebur dalam penyerangan tersebut.
[13]

Karena keraton Kartasura dirasa sudah bukan layak juga, Pakubuwana II memutuskan untuk menjangkitkan pusat pemerintahannya. Mana tahu ini ia memintal desa Sala, wilayah di timur Kartasura yang kaya di tepi sungai Bengawan. Disana Pakubuwana II membeli kapling dari lurah Desa Sala, merupakan Ki Gede Sala, sebesar 10.000 ringgit (gulden Belanda) kerjakan membangun puri Mataram nan mentah. Di sinilah poyang Keraton Surakarta Hadiningrat.

Terpecahnya Mataram

[sunting
|
sunting perigi]

Situasi politik yang masih belum stabil setelah pemberontakan Sri paduka Asfar, takhlik Pakubuwana II mengumumkan sebuah sayembara untuk menumpas Raden Mas Said dan dijanjikan sebuah hadiah. Konon, detik itu Raden Mas Said adalah panglima perang yang tak terkalahkan, bahkan dijuluki Pangeran Sambernyawa.

Tantangan ini dituruti oleh Emir Mangkubumi, adik Pakubuwana II yang juga menjadi paman bersumber Raden Mas Said. Kamu pun berhasil menumpas Raden Mas Said dan seharusnya bisa mendapatkan rahmat tersebut. Tetapi, Pakubuwana II dihasut oleh Perdana Pringgalaya dan Baron van Imhoff, gubernur VOC saat itu lakukan enggak menerimakan hadiah tersebut demi menurunkan derajat Patih nan dikenal anti-VOC. Peristiwa ini membuat Mangkubumi tawar hati, dan situasi pun berbalik di mana ia bergabung dengan Raden Mas Said melawan VOC dan Pakubuwana II.

Perlawanan dari Mangkubumi dan pengikutnya terus berlanjut hingga mangkatnya Pakubuwana II dan digantikan oleh anaknya, Pakubuwana III. Anda bersama Raden Mas Said melancarkan pemberontakan bikin melawan keponakannya tersebut puas hari 1749. Mangkubumi juga diangkat oleh pengikutnya menjadi Susuhunan di wilayah Kabanaran (Sukowati), menandingi Pakubuwana III. Sebab itulah Patih pernah dijuluki sebagai
Susuhunan Kabanaran.

Keadaan berangsur menurun pada tahun 1755, di mana VOC menawarkan perjanjian berbaik kepada Mangkubumi. Maka ditandatanganilah Perjanjian Palihan Nagari yang dilakukan di Dusun Kerten, Desa Jantiharjo, Karanganyar, Jawa Tengah. Perjanjian ini menghasilkan kesepakatan damai antar kedua belah pihak, serta membagi Mataram dalam dua kekuasaan wilayah. Pakubuwana III berkuasa atas negeri timur Mataram dan tetap mempertahankan Surakarta dengan gelar Susuhunan Pakubuwana, padahal Mangkubumi berhak atas wilayah barat Mataram di menyebelah Kali besar Kerupuk yang tulat menjadi Yogyakarta dengan gelar Sultan Hamengkubuwana. Perjanjian ini juga mengakhiri kejayaan Mataram Islam selama beberapa abad.[14]

Rupanya, perjanjian Giyanti tidak dituruti dengan baik oleh Raden Mas Said. Sira merasa Mangkubumi memerangkapi dirinya, sehingga melakukan pertempuran terhadap VOC, Surakarta, dan Yogyakarta. Raden Mas Said berhasil memenangkan perlawanan ini, dan mengedepankan Perjanjian Salatiga plong tahun 1757. Dari perjanjian tersebut, ia diangkat menjadi pangeran merdeka dengan gelar Adipati Mangkunagara, serta beruntung sebagian provinsi Surakarta bagian timur, nan kemudian dinamai dengan Kadipatèn Mangkunagaran.

Seputar lima puluh catur masa kemudian, wilayah Mataram kembali terpecah. Boleh jadi ini, kekalahan Yogyakarta dalam Geger Sepoy pada masa 1813 membuahkan keputusan diangkatnya Paduka Natakusuma, putra dari Hamengkubuwana I menjadi emir merdeka dengan gelar Adipati Paku Alam maka itu pemerintah Inggris. Natakusuma berhak atas daerah kemantren di timur Keraton Yogyakarta, dan sejumlah bidang di pesisir Kulon Progo atau Karang Kemuning, dengan nama Kadipaten Pakualaman.

Struktur pemerintahan

[sunting
|
sunting perigi]

Mataram mempunyai struktur pemerintahan nan dipimpin oleh seorang susuhunan/sultan. Privat konsep kenegaraan Jawa sultan-raja Mataram disebutkan dengan konsep Keagungbinatharaan atau diungkapkan sebagai
“gung binathara, pundak dhendha nyakrawati”
(kekuasaan yang agung, memelihara hukum di muka bumi). Emir dikatakan
“wenang wisesa ing sanagari”
(menjawat kuasa di negara). Dia harus
“wicaksana”
(bijaksana), bertabiat
“budi bawa leksana, ambeg adil para marta”
(luber budi mulia-mulia dan berperangai adil terhadap sesama), tugasnya
“anjaga tata titi tentreming praja”
(menjaga keteratutan dan ketenteraman negeri), agar tercipta suasana
“karta tuwin raharja”
(tenang dan tenteram dan sejahtera).[15]

Amiril muminina sayyidina panatagami kyatira ning rat wus sineksen saking Ngarab, winenang among dirja ayunda rat

Pemimpin para orang islam empunya penata agama kemasyhurannya di jagad telah disaksikan dari daerah Arab, diberi kewenangan memomong keselamatan dunia


Rabuk Sastra Gending
karya Emir Agung

Kemasyhuran sultan Mataram telah dikenal sampai tanah Arab misal seorang pejabat para mukmin di kapling Jawa. Sehingga penguasa Mekah waktu itu membagi gelar Paduka tuan kepada raja Mataram. Inilah semula mula raja Mataram memperalat gelar Sultan. Pemakaian gelar raja pada Mataram selain Prabu yaitu: Panembahan, Susuhunan atau Sunan.

Anyakrakusuma mendapat gelar Kaisar. Gelar tersebut dianugerahkan Sultan Murad IV nan diwakilkan syarif Mekah, Zaid ibnu Muhsin Al Hasyimi. Anyakrakusuma ditahbiskan bagaikan
Sultan Abdullah Muhammad Maulana Matarami, disertai kuluk kerjakan mahkotanya, bendera, bendera, dan sebuah guci nan berisi air zamzam. Kempit yang dulunya ampuh air zamzam itu kini ada di taman bahagia Astana Kasultan Agungan di Imogiri dengan keunggulan Enceh Kyai Mendung.

Aparat birokrasi

[sunting
|
sunting sumber]

Busana dari Kapten Prajurit Istana Yogyakarta yang bergelar
Tumenggung Enèm Wadana Tamtama, yang digunakan buat upacara aturan Grebeg. Busana ini diduga diturunkan berbunga pakaian izzah yang digunakan oleh tumenggung alias wedana yang menjabat di Kesultanan Mataram.

Struktur birokrasi kesultanan Mataram berlandaskan pada jabatan-jabatan yang disusun secara panjang mengajuk sistem pembagian wilayah, meliputi: Susuhunan atau Sultan, gelar nan digunakan untuk merujuk sreg kepala negara yang sedang bertakhta (jumeneng). N domestik menjalankan pemerintahannya, Sultan menciptakan menjadikan dan memangkalkan pejabat dari tingkat pusat sampai daerah berdasarkan wilayah yang sudah dibagi. Garis haluan tersebut dilakukan lakukan menciptakan kegiatan pemerintahan yang terkendali.

Dalam mengurusi rumah tangga karaton tugas diserahkan kepada seorang
Regen Lebet
nan terdiri dari Bupati Gedong Kiwa, Tumenggung Gedong Tengen, Wedana Keparak Kiwa, dan Tumenggung Keparak Tengen. Para regen tersebut dikepalai oleh
Bendahara Lebet, dan setiap
wedana
dibantu oleh
kliwon
(ajudan di bawah wedana),
kabayan
(asisten di bawah kliwon), dan 40
sinse jajar
(salah satu sebutan untuk priyai di mileu karaton).[16]

Adapun untuk mengurusi pemerintahan di Nagaragung, syah menyerahkannya kepada
Bupati Jawi
yang dikepalai maka dari itu seorang
Mangkubumi Jawi. Masing-masing
wedana
juga dibantu oleh
kliwon,
kabayan, dan 40
dokter jajar. Semua
regen
tersebut bertempat di Kutagara, sedangkan daerahnya di Nagaragung diserahkan kepada
demang
atau
kyai lurah.[17]

Untuk mengurusi distrik di luar Kutagara dan Nagaragung (pusat tadbir), di
Mancagara Wétan
maupun
Mancagara Kilèn, paduka meletakkan para bupati nan dipimpin makanya
Bupati Bupati
baik di wilayah
Mancagara
maupun
Pasisiran. Para bupati di wilayah
Mancagara
berjenjang Regen alias Raden Arya, sedangkan di wilayah
Pasisiran
dikenal dengan Syahbandar yang memiliki pangkat Regen, Kyai Demang, ataupun Raden Ngabehi. Para bupati
Mancagara
maupun
Pasisiran
produktif intern kordinasi dan didikan langsung bersumber
Wedana Wedana.[15]
Selain meletakkan tumenggung di distrik
Mancagara
dan
Pasisiran, yang dipertuan pula menempatkan regen signifikan di area pusat. Para bupati tersebut dijadikan staff ahli yang kadang kala diperlukan pertimbangannya.

Sebagai ahli nujum gerak-gerik para buram negara maupun para wedana di area, maka sultan menyanggang biro buku nan disebut telik sandi atau
Abdi Kajineman.[18]
Selain para pejabat tinggi pusat tersebut, di bawahnya masih terwalak sekeliling 150 macam jabatan dibawahnya. Mereka dikhususkan ke internal beragam macam jabatan, mulai bermula prajurit, panglima, pidana, keuangan, perlengkapan, kesenian, keagamaan, dan lainnya. Semua jabatan tersebut merupakan bentuk birokrasi andai penyelenggara roda rezim.[15]

Pembagian administratif

[sunting
|
sunting sumber]

Struktur administratif Mataram menganut komplet konsentris. Berdasarkan sudut pandang konsentris yang diterapkan intern sistem ketatanegaraan di Mataram, wilayah dibedakan kerumahtanggaan beberapa pembagian sebagai berikut:[17]
[19]
[20]

  • Kutagara
    (Kuta Nagara) meliputi:
  1. Siti Narawita (ibu ii kabupaten), sebagai anak kunci pemerintahan.
  2. Karaton (istana), andai pokok kegiatan pemerintahan.
  • Nagaragung
    (Nagara Agung) yaitu kewedanan yang mengitari Kutagara, wilayah ini dibagi menjadi catur bagian, membentangi:
  1. Wilayah Siti Ageng atau Dunia Gede, satu provinsi di antara Pajang dengan Demak, kemudian dibagi menjadi daerah
    Siti Ageng Kiwa
    dan
    Siti Ageng Tengen. Terwalak di sebelah barat daya Semarang, ± negeri Ungaran dan Kedungjati
  2. Kewedanan Siti Bumi atau Bumija yang terletak di sekitar daerah Kedu
  3. Distrik Siti Numbak Anyar yang terletak di sekitar daerah Bagelen
  4. Kewedanan Pajang, dibagi menjadi
    Panumping
    yang meliputi daerah Sukowati dan daerah
    Panekar
    yaitu kawasan Pajang bagian timur.
  • Mancagara
    (Manca Nagara) adalah kawasan di luar Nagaragung yang menghampari:
  1. Mancagara Wétan (Mancanegara Timur), dimulai berpunca Panaraga ke timur, nan meliputi Magetan, Madiun, Grobogan, Kaduwung, Jagaraga, Panaraga, Pacitan, Kediri, Jipang, Wirasaba, Blitar, Srengat, Lodaya, Pace, Nganjuk, Berbek, Cakuwu, Wirasari
  2. Mancagara Kilèn (Mancanegara Barat), dimulai dari Banyumas ke barat, nan menutupi Banyumas, Cilacap, Sumedang, Galuh, Priangan
  • Pasisiran
    (Pantai) yaitu wilayah yang sebagian besar berada di pantai utara Jawa dan sebagian diantaranya diberikan otonomi khusus. Wilayah ini dibagi menjadi dua:
  1. Pasisiran Wétan (Rantau Timur), dimulai bersumber Demak ke timur, nan menghampari Jepara, Kudus, Pati, Rembang, Lasem, Tuban, Sedayu, Lamongan, Gresik, Surabaya, Pasuruan, Blambangan
  2. Pasisiran Kilèn (Pesisir Barat), dimulai dari Demak ke barat, nan meliputi Semarang, Kendal, Pekalongan, Pemalang, Tegal, Brebes, Cirebon, Indramayu, Karawang

Kedua kawasan,
Mancagara Wétan
dan
Pasisiran Wétan, lazimnya disebut laksana
Brang Wétan. Demikian pun untuk
Mancagara Kilèn
dan
Pasisiran Kilèn
disebut sebagai
Brang Kilèn
atau
Brang Kulon. Struktur wilayah Mataram memiliki kawin yang terstruktur dengan wilayah kabupaten dan jumlah cacahnya disebutkan di intern Pustaka Rajapuwara. Di samping bilang wilayah di atas, terdapat lahan seberang (kapling sabrang: tanah yang berada di seberang laut), seperti Jambi, Palembang, Banjar, Kotawaringin dan Sukadana.

Budaya

[sunting
|
sunting sumber]

Sungguhpun kerajaan Islam, Mataram tidak rangkaian mengadopsi budaya, sistem, dan institusi Islam secara menyeluruh. Sistem politiknya berserat dari kultur Jawa asli yang digabungkan dengan unsur-unsur Selam. Sultanat Mataram yaitu simbol berdirinya guna sosial-politik Islam di Jawa yang menjadi noktah pergantian sekaligus masa pergantian dari masa Hindu-Buddha ke masa Kajawen (Ka-jawi-an). Mataram diakui berbenda menyorotkan Islam secara kultural nan ditandai dengan perubahan besar puas masa Sinuhun Agung kerumahtanggaan mengadaptasikan agama dengan budaya domestik.

Islam dihadirkan di Jawa secara adaptif dengan budaya asli Jawa. Adaptasi kultural tersebut dapat masin lidah publik Jawa, maka pribumisasi Islam dianggap berbuntut karena Islam berkembang pesat di Jawa secara saintifik dan melalui proses kultural berpokok awam Jawa itu koteng.

Sejak saat itulah budaya Islam di Jawa lebih dikenal dengan istilah Kajawen (Ka-melayu-an) yang sarat dengan muatan sufistik dan start berkembang pesat. Kitab-kitab ilmu batin kerumahtanggaan bahasa Arab-Nya mulai sejak timur tengah mulai digubah dalam bahasa Jawa dengan diadakan adaptasi sekadarnya terhadap alam pikiran Jawa minus kehilangan substansinya. Perpaduan pecah berbagai sentral budaya ini telah menimbulkan karya-karya bakir baru yang memperkaya khazanah kontan pengembang budaya Kajawen.

Daftar penguasa Mataram

[sunting
|
sunting sumber]

Para penguasa Mataram yakni keturunan dari Ki Ageng Pelana, Gapura Ageng Enis dan Ki Ageng Pamanahan, perintis dan pendiri wangsa Mataram bersama tokoh dari Sela lainnya yaitu Ki Pakar Martani dan Capuk Panjawi. Pada dasarnya penguasa Mataram mulanya bergelar panembahan kemudian susuhunan, gelar sultan baru resmi digunakan pada periode 1641 pada tahun pengaruh Anyakrakusuma. Berikut yaitu daftar penguasa Mataram:

Etiket Jangka hidup Awal memerintah Akhir memerintah Anak bini
Danang Sutawijaya

Panembahan Panglima perang
?–1601 1586 1601 Wangsa Mataram
Raden Mas Jolang

Anyakrawati

(Sunan Krapyak)
?–1613 1601 1613 Wangsa Mataram
Raden Mas Jatmika

Anyakrakusuma

(Prabu Agung)
1593–1645 1613 1645 Wangsa Mataram
Raden Mas Sayyidin

Amangkurat I

(Sunan Tegalarum)
1618–13 Juli 1677 1646 1677 Wangsa Mataram
Raden Mas Rahmat

Amangkurat II

(Ratu Amral)
?–1703 1677 1703 Wangsa Mataram
Raden Mas Sutikna

Amangkurat III

(Sunan Mas)
?–1734 1703 1705 Wangsa Mataram
Raden Mas Darajat

Pakubuwana I

(Pangeran Ngalaga)
?–1719 1704 1719 Wangsa Mataram
Raden Mas Suryaputra

Amangkurat IV

(Ratu Jawi)
?–20 April 1726 1719 1726 Wangsa Mataram
Raden Mas Prabasuyasa

Pakubuwana II

(Sunan Kumbul)
8 Desember 1711–20 Desember 1749 1726 1742 Wangsa Mataram
Raden Mas Garendi

Amangkurat V

(Sunan Asfar)
1726–? 1742 1743 Wangsa Mataram
Raden Mas Prabasuyasa

Pakubuwana II

(Raja Kumbul)
8 Desember 1711–20 Desember 1749 1745 1749 Wangsa Mataram
1749–1755 (interregnum)

Mataram terbagi puas tahun 1755, andai akibat berbunga Perang Takhta Jawa Ketiga. Hal itu disebut dalam bahasa Jawa sebagai
Palihan Nagari.

Warisan

[sunting
|
sunting sumber]

Tari Penari, merupakan tarian klasik Jawa pusaka Sultan Agung.

Mataram yakni kerajaan Islam terbesar anak bungsu di Jawa sebelum terbagi menjadi Surakarta, Yogyakarta, Mangkunagaran dan Pakualaman. Setelah keruntuhan Mataram plong abad berikutnya pulau Jawa intern kolonialisme Belanda. Bagi sebagian orang Jawa, Kesultanan Mataram, khususnya era Sultan Agung, dikenang sebagai kebesarhatian masa lepas nan gemilang, karena Mataram menjadi kerajaan keladak Islam terbesar di Jawa.[21]

Dalam seni dan budaya, Kesultanan Mataram telah memencilkan jejak yang kekal dalam budaya Jawa, karena banyak unsur budaya Jawa, sama dengan klonengan, menggambar, keris, wayang kerucil indra peraba dan tari tradisional Jawa diciptakan, dikembangkan privat bentuknya nan sekarang, dan diwariskan oleh karaton penerusnya. Pada hari puncak Sultanat Mataram puas paruh pertama abad ke-17, kebudayaan Jawa berkembang, sebagian samudra di wilayah Jawa Barat dan Jawa Timur. Mataram banyak mempengaruhi kebudayaan di Jawa termasuk di bagian barat. Pada masa ini masyarakat Sunda berasimilasi selanjutnya dengan budaya Kajawen (Jawa). Seperti wayang golek yang diadopsi berpunca Jawa, kemudian budaya serupa seperti gamelan dan batik juga di kenalkan di sana dan berkembang. Sreg periode itu pula bahasa Sunda mulai menggunakan tingkatan bahasa yang didasarkan kepada adat serta angka-nilai sosial kemasyarakatan, untuk tukar menghargai dan mengagungkan turunan lain, sebagaimana tercermin intern bahasa Jawa. Selain itu leter Jawa juga digunakan buat menulis bahasa Sunda sebagai cacarakan.

Empat Sagotra

[sunting
|
sunting sumber]

Catur Sagotra merupakan pemberkasan empat entitas yang masih memiliki akar unik makao kekerabatan. Hal ini merujuk pada keluarga kekaisaran-kerajaan penerus dinasti Mataram Islam. Kerajaan-imperium tersebut ialah Kesunanan Surakarta, Kesultanan Yogyakarta, Kadipaten Mangkunagaran, dan Kadipaten Pakualaman.

Terbentuknya Catur Sagotra berawal pada tahun 2004 makanya Sri Susuhunan Pakubuwana XII, sebelum wafat pernah menjatah amanah kepada Nani Soedarsono bagi melanjutkan cita-cita luhur Catur Sagotra. Catur Sagotra merupakan sebuah gagasan bersama berpunca empat raja Jawa lega waktu itu yaitu Sri Susuhunan Pakubuwana XII, Sri Sultan Hamengkubuwana IX, KGPAA. Mangkunagara VIII dan KGPAA. Paku Duaja VIII. Maksud Catur Sagotra yaitu untuk mempersatukan keempat trah n domestik ikatan kesamaan falsafah budaya dan keterkaitan ki kenangan nenek moyang Mataram.[22]

Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta melangkahi Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) rutin menyelenggarakan festival Empat Sagotra setiap tahunnya. Festival ini diikuti oleh badal semenjak keempat wilayah retakan Mataram. Keempat keraton akan menampilkan mahakarya seni dan budaya sesuai dengan tendensi masing-masing.

Galeri

[sunting
|
sunting sumber]

Lihat pula

[sunting
|
sunting sumber]

  • Kesunanan Surakarta
  • Kesultanan Yogyakarta
  • Kadipaten Mangkunagaran
  • Kadipaten Pakualaman

Referensi

[sunting
|
sunting sumber]


  1. ^


    “Koin Java Rupee Dengan Seijin Susuhunan Mataram”.
    kintamoney.com. 2022. Diakses tanggal
    19 Agustus
    2022
    .





  2. ^


    Graaf, Hermanus Johannes de (2001).
    Awal kebangkitan Mataram : masa pemerintahan Senapati
    (edisi ke-Cet. 3). Jakarta: Grafiti. ISBN 9789794440117. OCLC 603911675.





  3. ^


    “The Mataram Kingdom & Royal Palaces”. joglosemar.co.id. Diarsipkan semenjak versi asli terlepas 2022-03-03. Diakses sungkap
    20 Agustus
    2022
    .




  4. ^


    a




    b




    “Mataram, Historical kingdom, Indonesia”. Encyclopædia Britannica. Diakses rontok
    20 Agustus
    2022
    .





  5. ^

    Brown 2003, p. 63: “On February 13, 1755, the Treaty of Giyanti was signed, dividing what was left of the kingdom of Mataram into two parts. One part, with its capital in the city of Spesial, was headed by Pakubuwana II’s son, Pakubuwana III. The other part, with its capital 60 kilometres to the west of Yogyakarta, was ruled by Pakubuwana II’s half-brother Mangkubumi, who took the title Tuanku Hamengkubuwono I. The treaty was not immediately accepted by all parties to the dispute: fighting went on for another two years. In 1757, though, an uneasy peace settled on Java when Pakubuwana III’s territory was divided, with a portion going to his cousin Mas Said, who took the title Mangkunegara I.”

  6. ^


    “Gianti Agreement | Indonesia [1755]”.
    Encyclopedia Britannica
    (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal
    2020-01-08
    .





  7. ^


    Adji, Krisna Bayu; Achmad, Sri Wintala (2014).
    Sejarah raja-raja Jawa : dari Mataram Kuno sampai Mataram Islam. Yogyakarta: Araska Publisher.





  8. ^


    Munawar, Zaid (2020). “Tata Pajak di Kerajaan Mataram Islam Perian Sultan Agung, 1613-1645 M”.
    Jurnal Sejarah Peradaban Selam.
    4
    (1): 10.




  9. ^


    a




    b




    c




    Soekmono.
    Pengantar Sejarah Tamadun Indonesia 3. Kanisius. hlm. 55.




  10. ^


    a




    b




    c




    d




    e




    Soekmono.
    Pengantar Album Kebudayaan Indonesia 3. Kanisius. hlm. 56.





  11. ^


    Soekmono.
    Pengantar Rekaman Kebudayaan Indonesia 3. Kanisius. hlm. 63.




  12. ^


    a




    b




    c



    Mengenal Sejarah Runtuhnya Kesultanan Mataram dan Daftar Prabu-paduka tuan

  13. ^

    Solo, Kota yang Terbentuk Dari Geger Pecinan

  14. ^


    Aswab Nanda Pratama (2019). “Masa Ini dalam Sejarah, Perjanjian Giyanti Memecah Kewedanan Mataram Islam”.
    Kompas.com
    . Diakses tanggal
    20 Januari
    2022
    .




  15. ^


    a




    b




    c




    Moedjanto, G (1987).
    Konsep Otoritas Jawa; Penerapannya Makanya Raja-sinuhun Mataram. Yogyakarta: Kanisius.





  16. ^

    Widada, dkk. (2001). Kamus Basa Jawa (Bausastra Jawa). Yogyakarta: Kanisius. Wurianto, Arif Budi. (2001). Gung Binatara: Kekuasaan dan Moralitas Jawa. Buku harian Ilmiah Bestari
  17. ^


    a




    b




    Suwarno, P. J. (1989).
    Sejarah Birokrasi Pemerintahan Indonesia Lewat dan Sekarang. Yogyakarta: Perhimpunan Atma Jaya.





  18. ^


    Kartodirdjo, A. Sartono, dkk. (1995).
    Negara dan Chauvinisme Indonesia; Integrasi, Disintegrasi, dan Suksesi. Jakarta: Grasindo.





  19. ^

    Serat Pustaka Rajapuwara, Kumpulan Reksapustaka Mangkunegaran, Surakarta, No. MS 113.

  20. ^


    Moertono, S. (1985).
    Negara dan Kampanye Bina Negara di Jawa Zaman dulu, Studi Mengenai Masa Mataram II, Abad XVI Sampai XIX. Jakarta: Yayasan Suluh Indonesia.





  21. ^


    Ricklefs, M. C. (2008).
    A History of Maju Indonesia Since C. 1200.





  22. ^


    Yudono, Jodhi (ed.). “Catur Sagotra Nusantara, bagi Melestarikan Empat Keraton”.
    Kompas.com
    . Diakses tanggal
    2021-02-01
    .




Daftar pustaka

[sunting
|
sunting sumber]

  • Soekmono, Drs. R.
    Pengantar Rekaman Kultur Indonesia 3. 2nd edition. Penerbit Kanisius 1973. 5th reprint edition in 2003. Yogyakarta. ISBN 979-413-291-8. (in Indonesian)
  • Anderson, BRO’G. The Idea of Power in Javanese Culture dalam Anderson, BRO’G. Language and Power: Exploring Political Cultures in Indonesia. Cornell University Press. 1990.
  • Carey, Peter. 1997. Civilization on loan: the making of an upstart polity: Mataram and its successors, 1600–1830.
    Berbudaya Mendapat habuan Studies
    31(3):711–734.
  • de Graaf, H.J. dan T.H. Pigeaud. 2003. Kerajaan Islam Pertama Di Jawa: Tinjauan Sejarah Politik Abad XV dan XVI. Pustaka Utama Graffiti.
  • De Graaf, H.J. Puncak Kekuasaan Mataram: Politik Ekspansi Prabu Agung. Pustaka Penting Graffiti 2002.
  • Mangunwijaya Y.B. 1983. Rara Mendut. Jakarta : Gramedia.
  • Miksic, John (general ed.), et al. (2006)
    Karaton Surakarta. A look into the court of Surakarta Hadiningrat, central Java
    (First published: ‘By the will of His Serene Highness Paku Buwono XII’. Surakarta: Yayasan Pawiyatan Kabudayan Karaton Surakarta, 2004) Marshall Cavendish Editions Singapore ISBN 981-261-226-2
  • Ricklefs, M.C. 2002. Yogyakarta di Bawah Sultan Mangkubumi 1749–1792: Memori Pencatuan Jawa. Yogyakarta: Penerbit Matabangsa.
  • Ricklefs, M.C. 2001.
    A history of modern Indonesia since c.1200. Stanford: Stanford University Press. ISBN 0-8047-4480-7.

Bacaan lanjur

[sunting
|
sunting mata air]

Buku

[sunting
|
sunting sumber]

Sejarah Mataram

[sunting
|
sunting sumber]

  • Abimanyu, Soedjipto (2015).
    Kitab Terlengkap Sejarah Mataram. Yogyakarta: Saufa.



Kisah Trunajaya

[sunting
|
sunting sumber]

  • Andaya, Leonard Y. (2004).
    Pusaka Arung Palakka: Sejarah Sulawesi Selatan Abad ke-17. Makassar: Ininnawa.



Kemaritiman Kesultanan Mataram

[sunting
|
sunting perigi]

  • Reid, Anthony (2014).
    Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450-1680 Jilid I: Tanah di Bawah Kilangangin kincir. Jakarta: Obor.



  • Reid, Anthony (2015).
    Asia Tenggara dalam Kurun Menggalas 1450-1680 Jilid II: Jaringan Perdagangan Global. Jakarta: Suluh.



Budaya Kesultanan Mataram

[sunting
|
sunting perigi]

  • Tim Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI (2018).
    Ensiklopedi Islam Nusantara: Edisi Budaya
    (PDF). Jakarta: Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam.



Keterangan Pengkhususan

[sunting
|
sunting sumber]

  • Harianti, V. Indah Sri Pinasti, dan Sudrajat. (2007). “Perang Tanding Adipati Jayakusuma Melawan Panembahan Senopati dalam Babad Pati” (PDF). Yogyakarta: Universitas Kawasan Yogyakarta.

Majalah

[sunting
|
sunting mata air]

  • Suandika, Tedi, dan Arafah Pramasto (2017, 21 Desember). “Perang 1659 dan Kontrol Mataram Islam dalam Kemiliteran Palembang”
    (PDF).
    Pagaralam Post. hlm. Opini.



Penyajian

[sunting
|
sunting perigi]

  • R. Rahmat Romadon, Nurazizah, dan Rachmi Yamini (2016). “Nyimas Utari Sandijayaningsih dan Misi Pembantaian JP Coen” (PDF). Depok: Universitas Indonesia.

Pranala luar

[sunting
|
sunting sumur]

  • (Indonesia)
    Situs web resmi Catur Sagotra



Source: https://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Mataram

Posted by: gamadelic.com