Tulisan Surga Dalam Bahasa Arab

Penyadur : Junanah

Dosen PAI-FIAI UII-Ketua Prodi MIAI

Suka-suka kesan yang kontradiktif; Sebagian beranggapan bahwa Bahasa Arab itu Bahasa keindraan, Sebagian tak apriori karena menganggap Bahasa Arab itu Bahasa kampungan? Kekontradiktifan inilah nan menyebabkan sebagian turunan apriori untuk mempelajarinya, karena plus berat difahami dengan banyaknya gramatika dan cak bagi melafazhkan baik abc hijaiyahnya maupun alas kata-kata nan memerlukan makhraj nan unik. Bahasa secara umum sepantasnya sebanding dalam focus kemahiran yang ditempuh(Kemahiran/ketrampilan mendengarkan, Kemahiran/ketrampilan berucap, Kemahiran/ketrampilan membaca dan Kemahiran/ketrampilan Menggambar). Pada prakteknya; cak bagi menjadi mahir membaca yang berarti harus mengarifi gramatikanya, arti bersumber masing-masing kosa katanya(biarpun telah ada google translate), tanpa memahami posisi masing-masing katanya maka untuk menerjemahkan dan memahami konten apa yang telah dibaca.

Banyak para ahli menerjemahkan ayat sesuai dengan persepsinya, sehingga semua cucu adam akan mengikutinya meski secara gramatikal Bahasa Arab kurang sesuai, contohnya ayat nan berbunyi ( إن مع العسر يسرا   ), secara gramatikal Bahasa Arab subjek terbit kalimat/ayat tersebut yaitu (يسرا), sehingga menurut paramasastra Bahasa Indonesia mengartikannya “Sememangnya
fasilitas
itu bersamaan dengan kesulitan”, bermakna focus kita sreg kemudahannya bukan pada kesulitannya. Subjek plong ayat tersebut secara gramatika Bahasa Arab “nakiroh/indifinitif” sehingga bersifat umum, sementara predikatnya  (مع العسر) berperilaku khusu/tertentu/definif, dengan kata lain setiap kemudahan apapun itu selalu diiringi dengan kesulitan tertentu yang perkembangan keluarnya relative terampai sikap dan kemampuan masing-masing manusia menemukannya. Setelah pemahaman tentang makna dari ayat tersebut kita fahami secara gramatikanya, maka sudah selayaknya kalau kita akan merentang manusia yang selalu optimis dan husnuzhan kepada Sang pencipta, karena focus kita pada kemudahannya bukan kesulitannya, dengan belalah mengutamakan sikap peka dalam menyikapi semua kejadian, In syaa Almalik Aamiin

Setiap ayat nan dalam Al-Qur’an mengandung gramatikal Bahasa Arab, sehingga ketika kita memaknai dan menerjemahkan sesuai gramatikanya, maka keyakinan kita kembali akan menjadi landasannya. Plong perian pandemic Covid 19 barangkali ini, sesungguhnya Allah semenjana menguji keimanan kita, adakah kita berpengharapan bahwa apapun yang terjadi itu atas izin Allah atau kita akan latah dan latah lazimnya manusia, meski itu pandai sekalipun? Astaghfirullah, semoga Sang pencipta memaafkan kita semua atas kecuaian sikap dan kekurang pekaan kita internal memaknai ayat-ayat Sang pencipta baik ayat qauliyah alias kauniyah. Secara qauliyah Allah berfirman(وإذا مرضت فهو يشفينِ) yang artinya ”Dan Ketika aku sakit maka Halikuljabbar nan akan menyembuhkanku”, berarti ayat tersebut bermakna setiap pribadi yang mengalami nyeri apa tetapi, Sang pencipta jamin akan disembuhkan dengan cara Halikuljabbar tiap-tiap sesuai suratan keimanan seseorang akan itu, sehingga karena kadar keyakinan masing-masing orang itu farik-tikai, Allah akan menyembuhkan juga berbeda, meskipun penyebab sakitnya sama sekalipun. Tugas kit akita sebagai manusia yaitu berikhtiar dengan mengimani bahwa Allah pasti menyembuhkan kendati car akita mencari obatnya berbeda. Semoga sembarang orang yang sedang lindu terus bergantung sahaja kepada Allah dengan keimanan bahwa Almalik akan menyembuhkan sesuai usaha(berobat) dan keyakinan masing-masing.

Buncit introduksi Arab satu ini yang menyebabkan budaya Pendidikan baik dalam anak bini maupun secara Buram terkonstruksi seperti waktu ini ini. Matan hadits yng dimaknai sebagai berikut ”Perintahkan  anak-momongan kalian untuk sholat pada usia tujuh tahun.Pukullah mereka jika tidak melaksanakannya pada usia dekade, dan pisahkan ranjang-tempat tidur mereka” Dari hadits tersebut, yang tak sesuai kerumahtanggaan memaknai merupakan berpangkal kata (ضرب) . Pada lazimnya para jamhur dan mefassir selalu memaknai kata (ضرب) yang berkaitan dengan Pendidikan baik itu bakal anak atau istri pelalah diartikan dengan “Memukul” padahal dalam Munid dan Kamus Bahasa Arab-Indonesi Al-Munawwir tidak demikian. Berikut copy berpokok Kamus Al-Munawwir tengtang keistimewaan (ضرب) :

Dari kamus Al-Munawwir makna (ضرب) bukan berdiri sendiri, jajar pertama berharga memukul jika pengenalan tersebut dalam suatu kalimat (ضربه  بعصى و نحوه), Adapun makna  (ضرب) apabila dikaitkan denga (الصلآة) maknanya tak memukul juga tetapi mendirikan (اقامها). Makna yang beredar tentatif semua mengarah pada “Menimbuk”, apabila hal ini terus berlanjut dan bukan ada yang mau mengembalikan kepada makna seharusnya, maka proses Pendidikan dimanapun berada akan tetap melegalkan pemukulan terhadap momongan didik apabila mereka tidak tertib ikut aturan. Andai pendidik kita seharuskan sudah tidak lagi mengikuti gedung budaya kekerasan dalam Pendidikan yang disebabkan sekadar telah diyakini oleh kebanyakan, maka dari itu nan dianggap sesuai.Jikalau para pendidik(baik kerumahtanggaan keluarga maupun Lembaga Pendidikan) menyadari akan akar masalahnya, maka kekerasan dalam Pendidikan tidak akan terjadi sekali lagi.

Pengunci kata, silakan kita belajar Bahasa Arab yang baik dan moralistis, sebaiknya kita bisa merealisasikan slogan “Bahasa Arab adalah Bahasa Suwargaloka”, karena apabila kita memahami semua kata Arab dan ayat Al-Qur’an secara baik dan bermartabat, kita akan selalu bersikap optimis dan rajin husnu zhan kepada Allah, bahwa Allah lebih titik api mempercepat “Akomodasi” daripada “kesulitan”, kemudian dengan memahami makna apa nan tersirat di pesong apa nan nan tersurat, kita semakin optimistis bahwa Allah itu tidak pernah menguji hambaNya kecuali sebatas kemampuannya. Makna berbunga suatu prolog Arab bisa berakibat fatal Ketika tidak sesuai dengan makna nan moga, hanya dengan memaknai secara baik dan benar prolog yang asalnya sudah terkonstruk dimaknai enggak sesuai, maka setelah kita kembalikan kepada makna nan sengguhnya, In syaa Halikuljabbar konstruksi makna yang salah tersebut dapat direkonstruksi menjadi makna yang seharusnya dan dapat dirasakan dampak positifnya.

Source: https://islamic-education.uii.ac.id/bahasa-arab-itu-bahasa-surga/

Posted by: gamadelic.com