Tujuan Bangsa Portugis Ke Indonesia

Berusul Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Bangsa Portugis merupakan bangsa Eropa pertama nan mencecah Kepulauan Nusantara.[1]
Pencarian mereka cak bagi mendominasi sumber perdagangan rempah-rempah nan menguntungkan pada tadinya abad ke-16 dan kampanye penyebaran Katolik Roma mereka yang berbarengan menyaksikan cara pos dan pertahanan ekspor impor, serta partikel budaya Portugis yang kuat yang masih ki ajek terdahulu di Indonesia.

Secara geografis seluruh kewedanan Eropa mengalami musim cahang yang akan takhlik cara mencampuri peranakan mereka farik. Hampir semua persediaan daging yang mereka miliki didapat berpunca satwa piaraan yang tidak mungkin dipelihara plong musim dingin dan disembelih kerjakan kemudian disimpan menjadi daging beku. Agar daging tersebut bisa bertahan lama mereka menggunakan garam dan rempah-rempah sejauh masa penyimpanan. Indonesia merupakan kawasan yang menghasilkan lada, pala, dan cengkeh yang menjadi komoditas utama n domestik perdagangan rempah-rempah dan beberapa tanaman yang semata-mata tumbuh di alas Maluku. Pala memiliki kemujaraban tak saja sebagai penyedap rasa tetapi pun seumpama afrodisiak dan bahan pengawet. Cengkeh dan lada kembali merupakan produk berat dan berharga. Nasion Portugis selama ini membeli rempah-rempah dari musafir Arab dengan harga yang terlampau tinggi. Maka itu karena itulah maksud nasion Portugis ke Indonesia selain buat memanfaatkan sumber dari semua rempah-rempah tersebut pun bikin menguasai perdagangannya meskipun pada awalnya mereka tidak terlalu banyak memaklumi secara rinci letak area Indonesia dan kaidah menuju kesana.[2]

Awal penjelajahan

[sunting
|
sunting sumber]

Bangsa Eropa memajukan teknologi di awal abad ke-16 terutama dalam parasan pelayaran. keahlian hijau bangsa Portugis dalam navigasi, pembuatan kapal, dan persenjataan bukan rontok dari kekuatan besar pengetahuan Bangsa Arab yang semenjana berkembang pesat di kawasan Mediterania plong abad ke-15. Mereka mempelajari bermacam ragam ilmu mengenai geografi dan ilmu falak yang memungkinkan mereka berani mengadakan bestel perjalanan dan ekspansi.[2]
[3]

Ketika jalur Laut Tengah terputus akibat jatuhnya Konstatinopel 1453 oleh penguasa Muslim, bangsa Barat mencari sagur alternatif lain untuk mendapatkan komuditas yang diperlukan.[4]
Rempah-rempah menjadi komuditas berarti ketika itu, khususnya cengkeh dan pala. Maluku tengah dengan palanya dan Maluku paksina dengan cengkehnya. Pada jadinya bangsa Barat yang diprakarsai Portugis melakukan ekspedisi ke timur. Mereka bertujuan mencari Kepulauan Rempah-Rempah. Sesudah menguasai daerah tingkat Goa di India, Portugis menyadari India bukanlah arena nan dicari-cari. Kesannya, Portugis mendengar kota Malaka nan ramai perdagangan.

Malaka terwalak di wilayah Ancol Malaya. Selat Malaka menjadi keseleo satu trayek minimum menentukan kerumahtanggaan sistem perdagangan alam semesta yang membentang dari China dan Maluku sebatas Afrika Timur dan Malaka di Laut Tengah.[5]
Malaka menjadi rahasia transit perdagangan pala, cengkeh, dan anakan pala berasal Maluku ke India.[6]
Strategisnya Malaka laksana pusat perdagangan diincar Portugis. Ketika itu Portugis, yang dipimpin Alfonso de Albuquerque (1509-1515), sesudah menjinakkan Goa, serta merta menggali Malaka.[7]
Albuquerque memutuskan Malaka harus menjadi tumpuan seterusnya dan pada 1511 dimulailah perjalannya.[8]
Internal dua barangkali serang, Malaka takluk. Sejak waktu ini, Portugis menguasai ekspor impor rempah-rempah terbit Asia ke Eropa.

Perebutan Malaka menjatah tumpuan untuk Portugis untuk lebih melangkah pun ke timur Nusantara. Tujuannya ialah wilayah Gugusan pulau Maluku di mana cengkeh dan pala merecup.  Kedua komoditas tersebut dikuasai oleh dua kekaisaran Islam, merupakan Ternate dan Tidore. Selain itu, Maluku sekali lagi ini menyediakan barang bermakna nan menguntungkan seandainya dijual ke Eropa.[6]


[6] M.C. Rifcles,
Sejarah Indonesia Beradab, (Yogyakarta: Gadjah Mada Press, 1993). keadaan. 28

[7] DGE.Hall,
Sejarah Asia Tenggara, (Surabaya: Gerakan Nasional, 1998), kejadian. 191

[8] Bernard H.M Vlekke.
Nusantara,
(Jakarta: KPG, 2022), situasi. 83.

[9] M.C.Ricklefs,op. cit., kejadian. 63-64

[10] George Miller,
Indonesia Timur Tempo Doeloe, (Jakarta: Kekerabatan Awi, 2012), hal. xxv.

Terbit dengan ekspedisi pengelanaan pertama yang dikirim dari Malaka yang hijau ditaklukkan pada musim 1512, bangsa Portugis adalah bangsa Eropa pertama yang tiba di Nusantara, dan menyedang mendominasi sumber-sumber rempah-rempah berguna serta berusaha menyebarkan Katolik Roma.[9]
Meski begitu, mereka memiliki sedikit pengaruh budaya di kepulauan barat tersebut. Bahkan lagi percobaan semula nasion Portugis mendirikan koalisi dan perjanjian damai pada tahun 1512 dengan Kekaisaran Sunda di Parahyangan,[10]
gagal akibat sikap kekhisitan yang ditunjukkan oleh sejumlah pemerintahan Islam di Jawa, seperti Demak dan Banten. Sebaliknya, dampak budaya Portugis yang bersiteguh lama berada di kawasan Indonesia Timur.

Ekspedisi ke Indonesia Timur

[sunting
|
sunting sumber]

Salah satu lokasi rempah-rempah di Indonesia Timur yang tersohor adalah Maluku. Selepas pokok perdagangan rempah-rempah di Melaka berbuntut dikuasai, bangsa Portugis segera mengalihkan sisi ke Kepulauan Maluku, yang terdiri atas beragam kumpulan kerajaan (merujuk plong istilah hidayah para pedagang Arab,
Jazirah Al-Muluk
atau “tanah para raja”) yang awalnya bergumul satu sama tak namun menernakkan bursa antarpulau dan dunia semesta.[11]
Melangkaui penaklukan militer dan persekutuan dengan penguasa setempat, mereka mendirikan pos, benteng, dan misi perdagangan di Indonesia Timur, termasuk Pulau Ternate, Ambon, dan Solor. Mereka juga telah menyebarkan nubuat katolik menyentuh pulau-pulau minimum timur Indonesia. Di abad ke-19 bahasa Portugis sudah menjadi salah searah penting di nusantara, justru beberapa pembukaan jamak dalam bahasa Indonesia kini merupakan hasil serapan dari bahasa Portugis.[12]

Namun, puncak kegiatan misi Portugis dimulai pada paruh terakhir abad ke-16, sesudah langkah perebutan militernya di kepulauan tersebut gagal dan kepentingan Asia Timur mereka berpindah ke Jepang, Makau, dan Tiongkok; serta pada gilirannya gula di Brasil dan perdagangan budak Atlantik mengalihkan perhatian mereka berpunca Nusantara. Di samping itu, bangsa Eropa mula-mula yang tiba di Sulawesi Lor adalah Portugis.

Upaya Penyebaran Agama

[sunting
|
sunting mata air]

Francisco Xavier terlibat kerumahtanggaan misi Portugis di Tolo, Halmahera. Ia merupakan seorang pionir misionaris Kristen di Maluku. Misi tersebut dimulai plong 1534, tetapi akibatnya menjadi sumber konflik antara Spanyol, Portugis, dan Ternate.[13]
[14]

Deklinasi dan peninggalan

[sunting
|
sunting sumber]

Keberadaan Portugis berkurang saja di Solor, Flores dan Timor (lihat Timor Portugis) di Nusa Tenggara Timur sekarang, menyusul kekalahan puas tahun 1575 di tangan pemukim Ternate, penyerobotan Belanda di Ambon, Maluku Utara, dan Banda, serta pil umum untuk menopang cais perdagangan di kawasan ini.[15]
Dibandingkan dengan ambisi awalnya mendominasi perniagaan Asia, pengaruh mereka pada budaya Indonesia amat kecil: gitar balada keroncong; sejumlah pembukaan kerumahtanggaan bahasa Indonesia yang diserap terbit bahasa Portugis nan gayutan menjadi
lingua franca
di samping Jawi; dan banyak nama keluarga di Indonesia Timur seperti Da Silva, Da Lopez, Da Cunha, Henriquez, Carvallo, Da Costa, Diaz, de Fretes, Gonsalves, dll.[16]

Dampak terpenting kehadiran bangsa Portugis ialah batu dan kekusutan jaringan perbisnisan yang sebagian samudra terjadi akibat penaklukan Malaka, dan penyiaran Kristen awal di Indonesia. Setakat waktu ini, penduduk Kristen banyak ditemui di Indonesia Timur.[17]
Di Dusun Baluk Kec. Bola, Kab. Sikka, St. Fransiskus Xaverius, misionaris Katholik yang mengajuk perjalanan orang Portugal, menancapkan sebuah Salib setinggi 3 meter di atas sebuah Alai-belai Karang, yang maka dari itu orang setempat diberi merek “Watu Krus” situasi ini terjadi ± pada tahun 1630. Di Manado, pelaut Portugis berhasil berteduh disana dan mendirikan gereja nirmala diantara perkebunan sawit pemukim setempat.[18]

Di Kampung Tugu, Koja, Jakarta Utara, terdapat permukiman pertalian keluarga Portugis. Mereka merupakan keturunan dari bangsa Portugis nan dibawa ke Batavia (kini Jakarta) sebagai tersiksa perang sesudah VOC Belanda menjinakkan Malaka pada tahun 1641.[19]

Adapun nasab Bangsa Portugis yang beragama Islam dapat ditemukan di Lamno, Aceh.[20]

Biang keladi penting

[sunting
|
sunting sendang]

  • Wilson Simon Maiseka, Penyanyi Indonesia
  • Abílio José Osório Soares, Mantan Gubernur Timor-Timur
  • Octavio A.J.O. Soares
  • Andre Juan Michiels, Tokoh Keroncong Tugu
  • Fernando Quiko, Induk bala dari Tugu
  • Eduardo Quiko, Professor Emeritus of Political Theory, College of the Ozarks, professor emeritus semenjak political science di College of the Ozarks
  • Gaspar da Costa
  • Don Martinho Diaz Vieira de Godinho, Dedengkot Larantuka
  • Umaru Takaeda
  • Alfonso de Albuquerque, Panglima Legiun Laut

Lihat pula

[sunting
|
sunting sumber]

  • Mardijkers
  • Album Timor Leste
  • Sejarah Indonesia
  • Garis waktu rekaman Indonesia

Rujukan

[sunting
|
sunting sumur]


  1. ^


    Welianto, Ari. Welianto, Ari, ed. “Latar Pantat Penjelajahan Raksasa Bangsa Eropa mengaras Indonesia”.
    Kompas.com.




  2. ^


    a




    b



    Ricklefs 1993, hlm. 22.

  3. ^

    Hannigan 2022, hlm. 67.

  4. ^


    Pradjoko, Didik (2008).
    Modul I Ki kenangan Indonesia. Depok: Universitas Indonesia Press. hlm. 5.





  5. ^


    Leirissa, RZ (1999).
    Ternate Bak Persinggahan Sagur Sutra. jakarta: Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional. hlm. 2.




  6. ^


    a




    b




    Ricklefs, M. C. (Merle Calvin) (1993).
    A history of modern Indonesia since c. 1300
    (edisi ke-2nd ed). Houndmills, Basingstoke, Hampshire: Macmillan. ISBN 0-333-57689-6. OCLC 30320024.





  7. ^


    Hall, DGE (1998).
    Sejarah Asia Tenggara. Surabaya: Manuver Nasional. hlm. 191.





  8. ^


    Vlekke, Bernard (2016).
    Nusantara. Jakarta: KPG. hlm. 83.





  9. ^

    Ricklefs 1993, hlm. 22-24.

  10. ^



    Sumber-sumber asli sejarah Jakarta, Jilid I: Dokumen-surat ki kenangan Jakarta hingga dengan penutup abad ke-16. Cipta Loka Caraka. 1999.



    ;Zahorka, Herwig (2007).
    The Sunda Kingdoms of West Java, From Tarumanagara to Pakuan Pajajaran with Royal Center of Bogor, Oper 1000 Years of Propsperity and Glory. Yayasan Cipta Loka Caraka.





  11. ^

    Ricklefs 1993, hlm. 24.

  12. ^

    Hannigan 2022, hlm. 81.

  13. ^


    E.K.M. Masinambow, ed. (1987). “Halmahera dan Kaisar Empat Andai Ahadiat Majemuk: Penggalian-Penyelidikan Terhadap Suatu Daerah Transisi”.
    Bulletin LEKNAS. Jakarta: LIPI.
    2
    (2): 279.





  14. ^



    Francis Xavier; His Life, His Times: Indonesia and India, 1545-1549. hlm. 179.





  15. ^


    Miller, George (ed.) (1996).
    To The Spice Islands and Beyond: Travels in Eastern Indonesia. New York: Oxford University Press. hlm. p.xv. ISBN 967-65-3099-9.





  16. ^

    Vickers 2022, hlm. 71.

  17. ^

    Ricklefs (1991), hal. 22-26

  18. ^

    Hannigan 2022, hlm. 149.

  19. ^


    Shahab, Ali (28 Mei 2006). “Kampung Portugis di Tugu”. Republika. Diakses tanggal
    2009-12-06
    .





    [
    pranala bebas tugas permanen
    ]



  20. ^

    Portugal Bangun Puskesmas Dan Madrasah Di Lamno

Daftar pustaka

[sunting
|
sunting sumber]



Source: https://id.wikipedia.org/wiki/Kekaisaran_Portugis_di_kepulauan_Indonesia

Posted by: gamadelic.com