Teori Maslow Hierarchy Of Needs

Terbit Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia independen

Diagram Teori kebutuhan Maslow

Tataran kebutuhan Maslow
merupakan teori ilmu jiwa nan diperkenalkan maka dari itu Abraham Maslow dalam makalahnya, “A Theory of Human Motivation“, di
Psychological Review
lega tahun 1943.[1]
Ia beranggapan bahwa kebutuhan-kebutuhan di tingkat yang kian rendah harus terpenuhi atau paling bukan cukup terlampiaskan apalagi lampau sebelum kebutuhan-kebutuhan di tingkat yang lebih hierarki menjadi hal yang memotivasi.[2]

Konsep Teori Hierarki kebutuhan Maslow

[sunting
|
sunting sumur]

Konsep hierarki kebutuhan dasar ini bermula ketika Maslow berbuat observasi terhadap perilaku monyet.[3]
Berdasarkan pengamatannya, didapatkan inferensi bahwa bilang kebutuhan lebih diutamakan dibandingkan dengan kebutuhan yang lain.[3]
Contohnya jika individu merasa haus, maka individu akan cenderung bikin mengepas memuaskan dahaga.[3]
Individu dapat jiwa sonder alat pencernaan selama berminggu-minggu.[3]
Cuma tanpa air, makhluk hanya dapat hidup selama beberapa hari saja karena kebutuhan akan air kian kuat daripada kebutuhan akan makan.[3]

Tingkat Kebutuhan Maslow

[sunting
|
sunting mata air]

Kebutuhan-kebutuhan ini sering disebut Maslow sebagai kebutuhan-kebutuhan radiks yang digambarkan sebagai sebuah hierarki atau strata yang menggambarkan tingkat kebutuhan.[2]
Terdapat panca tingkat kebutuhan asal, yaitu: kebutuhan fisiologis, kebutuhan akan rasa kesepakatan, kebutuhan akan rasa punya dan rahmat sayang, kebutuhan akan sanjungan dan kebutuhan akan aktualisasi diri.[3]
Maslow menjatah asumsi bahwa sehabis insan memuaskan kebutuhan plong tingkat paling bawah, bani adam akan memuaskan kebutuhan pada tingkat yang berikutnya.[4]
Jika pada tingkat tertinggi tetapi kebutuhan dasar tidak terpuaskan, maka hamba allah boleh juga pada tingkat kebutuhan yang sebelumnya.[4]
Menurut Maslow, pemuasan berbagai kebutuhan tersebut didorong oleh dua kekuatan yakni motivasi kekeringan (deficiency motivation) dan motivasi urut-urutan (growth motivation).[5]
Motivasi kekurangan bertujuan untuk mengatasi masalah kegentingan hamba allah karena berbagai kesuntukan nan suka-suka.[5]
Padahal motivasi pertumbuhan didasarkan atas kapasitas setiap manusia bagi tumbuh dan berkembang.[5]
Produktivitas tersebut yaitu pembawaan terbit setiap individu.[5]

Tangga Kebutuhan Maslow

[sunting
|
sunting sumber]


Kebutuhan Fisiologis
(Physiological Needs)


[sunting
|
sunting sumber]

Kebutuhan minimum asal pada setiap orang adalah kebutuhan fisiologis adalah kebutuhan kerjakan mempertahankan hidupnya secara jasmani.[2]
[6]
Kebutuhan-kebutuhan itu seperti kebutuhan akan peranakan, minuman, tempat berteduh, tidur dan oksigen (sampur, pangan, kayu).[6]
Kebutuhan-kebutuhan fisiologis yaitu potensi paling dasar dan raksasa bagi semua pelepasan kebutuhan di atasnya.[2]
Manusia yang lapar akan selalu termotivasi untuk makan, bukan untuk mengejar jodoh maupun dihargai.[2]
Bani adam akan mengabaikan atau menindihkan dulu semua kebutuhan lain sampai kebutuhan fisiologisnya itu terpenuhi.[2]
Di masyarakat yang sudah mapan, kebutuhan buat memuaskan rasa lapar adalah sebuah mode hidup.[2]
Mereka umumnya sudah memiliki cukup makanan, saja momen mereka bersabda lapar maka yang sebenarnya mereka pikirkan adalah citarasa makanan yang hendak dipilih, bukan rasa lapar nan dirasakannya.[2]
Seseorang yang alangkah-sungguh lapar lain akan terlalu peduli dengan rasa, bau, guru maupun tekstur lambung.

Kebutuhan fisiologis berbeda dari kebutuhan-kebutuhan lain dalam dua hal.[2]
Pertama, kebutuhan fisiologis adalah semata kebutuhan yang bisa terlaksana sebaik-baiknya ataupun minimal bisa diatasi.[2]
Hamba allah dapat merasakan cukup privat aktivitas bersantap sehingga pada titik ini, daya penggagas untuk bersantap akan hilang.[2]
Bagi seseorang yang mentah saja menyelesaikan sebuah santapan besar, dan kemudian membayangkan sebuah makanan lagi sudah cukup untuk membuatnya enek.[2]
Kedua, yang khas dalam kebutuhan fisiologis adalah hakikat pengulangannya.[2]
Setelah basyar bersantap, mereka akhirnya akan menjadi lapar lagi dan akan terus menerus mencari tembolok dan air lagi.[2]
Sementara kebutuhan di tingkatan nan lebih jenjang bukan terus menerus muncul.[2]
Sebagai contoh, seseorang nan minimal tersalurkan sebagian kebutuhan mereka lakukan dicintai dan dihargai akan taat merasa berpengharapan bahwa mereka dapat mempertahankan pelampiasan terhadap kebutuhan tersebut tanpa harus mencari-carinya kembali.[2]


Kebutuhan Akan Rasa Aman
(Safety/Security Needs)


[sunting
|
sunting sendang]

Setelah kebutuhan-kebutuhan fisiologis terpuaskan secukupnya, muncullah apa yang disebut Maslow sebagai kebutuhan-kebutuhan akan rasa aman.[6]
Kebutuhan-kebutuhan akan rasa aman ini diantaranya yaitu rasa aman jasad, stabilitas, kecanduan, perlindungan dan kedaulatan dari sendi-ki akal mengancam sebagai halnya kriminalitas, perang, terorisme, penyakit, takut, cemas, bahaya, kerusuhan dan bujukan alam.[2]
Serta kebutuhan secara psikis yang mengancam kondisi rohaniah sama dengan tidak diejek, tidak direndahkan, tidak stres, dan bukan sebagainya. Kebutuhan akan rasa aman berlainan semenjak kebutuhan fisiologis karena kebutuhan ini tidak boleh terwujud secara total.[2]
Orang bukan pernah dapat dilindungi sepenuhnya berpangkal ancaman-ancaman meteor, kebakaran, air ampuh atau perilaku berbahaya orang lain.

Menurut Maslow, orang-makhluk yang tidak kesatuan hati akan bertingkah laris sama seperti anak-anak yang tidak aman.[6]
Mereka akan bertingkah laku seakan-akan buruk perut dalam keadaan adv amat terancam.[6]
Seseorang yang enggak lega hati punya kebutuhan akan keteraturan dan penstabilan secara jebah serta akan berusaha keras menghindari hal-hal nan berwatak asing dan yang tidak diharapkannya.[6]


[sunting
|
sunting sumur]

Jika kebutuhan fisiologis dan kebutuhan akan rasa aman mutakadim tercurahkan, maka muncullah kebutuhan akan demap, karunia sayang dan rasa memiliki-dimiliki.[6]
Kebutuhan-kebutuhan ini meliputi galakan untuk dibutuhkan makanya individu lain agar ia dianggap sebagai penduduk komunitas sosialnya. Bentuk akan pemenuhan kebutuhan ini seperti berkawan, kedahagaan memiliki padanan dan anak cucu, kebutuhan bakal dekat pada keluarga dan kebutuhan antarpribadi seperti kebutuhan lakukan memberi dan mengakuri cinta.[6]
[2]
Seseorang yang kebutuhan cintanya sudah relatif terwujud sejak kanak-kanak tidak akan merasa pusing momen menolak cinta.[2]
Ia akan memiliki keyakinan ki akbar bahwa dirinya akan dipedulikan hamba allah-turunan nan memang penting bagi dirinya.[2]
Ketika ada makhluk enggak menyorong dirinya, ia tidak akan merasa hancur.[2]
Bagi Maslow, pelahap mencantol satu hubungan sehat dan penuh kasih mesra antara dua hamba allah, termasuk sikap saling berkepastian.[6]
Berkali-kali cinta menjadi rusak jika salah satu pihak merasa takut pada kelemahan-kelemahan serta kesalahan-kesalahannya.[6]
Maslow juga mengatakan bahwa kebutuhan akan cinta membentangi sering nan menjatah dan gegares yang menerima.[6]
Kita harus mengerti cinta, harus produktif mengajarkannya, menciptakannya dan meramalkannya.[6]


Kebutuhan Akan Penghargaan
(Esteem Needs)


[sunting
|
sunting sumur]

Setelah kebutuhan dicintai dan dimiliki tercukupi, selanjutnya manusia akan adil buat mengejar kebutuhan egonya atas keinginan untuk berprestasi dan memiliki harga diri.[2]
Maslow menemukan bahwa setiap turunan yang punya dua kategori tentang kebutuhan penghargaan, merupakan kebutuhan nan lebih abnormal dan lebih hierarki.[3]
Kebutuhan yang rendah adalah kebutuhan bakal mengagungkan turunan bukan, kebutuhan akan prestise, ketenaran, kemuliaan, pengakuan, perhatian, reputasi, apresiasi, martabat, bahkan dominasi.[3]
Kebutuhan yang tinggi yaitu kebutuhan akan martabat termasuk perasaan, keagamaan, kompetensi, prestasi, penyerobotan, independensi dan kebebasan.[3]
Sekali insan dapat memenuhi kebutuhan untuk dihargai, mereka sudah siap kerjakan memasuki gerbang aktualisasi diri, kebutuhan tertinggi yang ditemukan Maslow.[2]


Kebutuhan Akan Aktualisasi Diri
(Self-actualization Needs)


[sunting
|
sunting sumber]

Tingkatan bungsu berpokok kebutuhan dasar Maslow adalah aktualisasi diri, yaitu kebutuhan kerjakan membuktikan dan menunjukan dirinya kepada orang bukan.[3]
Plong tahap ini, seseorang mengembangkan semaksimal mungkin barang apa potensi yang dimilikinya. Kebutuhan aktualisasi diri adalah kebutuhan yang tak melibatkan keseimbangan, semata-mata mengikutsertakan keinginan yang terus menerus cak bagi memenuhi potensi.[3]
Maslow melukiskan kebutuhan ini sebagai hasrat untuk semakin menjadi diri sepenuh kemampuannya sendiri, menjadi apa semata-mata menurut kemampuannya.[6]
Awalnya Maslow berasumsi bahwa kebutuhan bagi aktualisasi diri serentak unjuk setelah kebutuhan bagi dihargai terpenuhi.[2]
Akan tetapi selama hari 1960-an, engkau menyadari bahwa banyak anak muda memiliki pemenuhan yang cukup terhadap kebutuhan-kebutuhan lebih rendah seperti reputasi dan harga diri, sahaja mereka belum juga bisa menjejak aktualisasi diri.[2]

Tatap pula

[sunting
|
sunting sumber]

  • Teori ERG memperluas dan mendalami teori Maslow
  • Kebutuhan sumber akar manusia, ideal Manfred Max-Neef
  • Prasyarat fungsional
  • Bawaan individu
  • Teori kebutuhan
  • Disintegrasi berupa
  • Derita Manjapada Pertama

Referensi

[sunting
|
sunting sumber]


  1. ^


    Maslow, A.H. (1943). “A theory of human motivation”.
    Psychological Review.
    50
    (4): 370–96. CiteSeerX10.1.1.334.7586alt=Dapat diakses gratis
    . doi:10.1037/h0054346 – via psychclassics.yorku.ca.




  2. ^


    a




    b




    c




    d




    e




    f




    g




    h




    i




    j




    k




    l




    m




    falak




    o




    p




    q




    r




    s




    t




    u




    v




    w




    x




    y




    z




    (Indonesia)
    Feist, Jess (2010).
    Teori Kepribadian : Theories of Personality. Salemba Humanika. hlm. 331. ISBN 978-602-8555-18-0.




  3. ^


    a




    b




    c




    d




    e




    f




    g




    h




    i




    j




    k




    Rahmat Hidayat, Deden (2011). Zaenudin A. Naufal, ed.
    Teori dan Aplikasi Psikologi Karakter dalam Konseling. Ghalia Indonesia. hlm. 165–166. ISBN 978-979-450-654-7.




  4. ^


    a




    b




    (Inggris)
    Plotnik, Rod (2014).
    Introduction to Psychology, 10th Edition. Wadsworth. hlm. 332. ISBN 978-1-133-94349-5.




  5. ^


    a




    b




    c




    d




    Hartiah Haroen, ed. (2008).
    Teknik Prosedural Keperwatan: Konsep dan Aplikasi Kebutuhan Dasar Klien. Salemba Humanika. hlm. 2. ISBN 978-979-3027-53-1.




  6. ^


    a




    b




    c




    d




    e




    f




    g




    h




    i




    j




    k




    l




    m




    G. Goble, Frank (1987). A. Supratiknya, ed.
    Mazhab Ketiga, Ilmu jiwa Humanistik Abraham Maslow. Kanisius. hlm. 71.




Bacaan lanjutan

[sunting
|
sunting perigi]

  • Heylighen, Francis (1992). “A cognitive-systemic reconstruction of maslow’s theory of self-actualization”
    (PDF).
    Behavioral Science.
    37
    (1): 39–58. doi:10.1002/bs.3830370105.



  • Koltko-Rivera, Mark E. (2006). Rediscovering the later version of Maslow’s hierarchy of needs: Self-transcendence and opportunities for theory, research, and unification.
    Review of General Psychology
    10.4: 302.
  • Kress, Oliver (1993). “A new approach to cognitive development: ontogenesis and the process of initiation”.
    Evolution and Cognition.
    2
    (4): 319–332.



  • Maslow, Abraham H. (1993). Theory Z. In Abraham H. Maslow,
    The farther reaches of human nature
    (pp. 270–286). New York: Arkana (first published Viking, 1971). Reprinted from
    Journal of Transpersonal Psychology, 1969, 1(2), 31–47.

Pranala luar

[sunting
|
sunting mata air]

  • A Theory of Human Motivation, artikel Maslow tahun 1943.



Source: https://id.wikipedia.org/wiki/Hierarki_kebutuhan_Maslow

Posted by: gamadelic.com