Tata Cara Sholat Yang Baik Dan Benar



A.    PENGERTIAN DAN Dasar HUKUM SHALAT FARDHU/WAJIB


Shalat, secara bahasa berarti doa. Sedangkan menurut istilah, shalat adalah ibadah berupa perkataan dan perbuatan nan dimulai bermula takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam dengan menyempurnakan syarat dan rukun yang ditentukan bakal mentaati perintah Almalik dan berburu keridhaan-Nya.


Bawah Syariat Shalat Perlu Shalat diperintahkan bagi didirikan lima bisa jadi sehari semalam, yaitu Shubuh, Zhuhur, Ashar, Maghrib, dan Isya. Hukumnya fardhu ‘ain untuk setiap orang islam. Artinya shalat teradat dilaksanakan oleh setiap pribadi muslim nan telah mukallaf.

Ayat al-Qur’an nan menjelaskan tentang perintah shalat, di antaranya adalah:


Artinya:


Bacalah apa yang mutakadim diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Qur’an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah berpunca (perbuatan-perbuatan) brutal dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Tuhan (shalat) ialah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Halikuljabbar mengetahui segala yang anda kerjakan. (AL-`ANKABUT : 45).


Rasulullah SAW juga bersabda:


Artinya:

Shalatlah kamu sama dengan kamu melihat aku shalat. (HR. Bukhari, Mukminat, dan Ahmad).


B.    SYARAT DAN RUKUNNYA


Syarat terbiasa shalat maksudnya adalah syarat-syarat atau situasi-hal yang menjadikan seseorang diwajibkan melaksanakan shalat. Syarat wajib itu yakni:


1. Beragama Islam


2. Baligh


3. Suci dari haid dan nifas untuk perempuan


4. Berakal sehat


5. Telah hingga dakwah Selam kepadanya.


6. Melihat maupun mendengar, bagi yang buta dan tuli sejak lahir lain dituntut dengan syariat karena ia tidak dapat belajar hukum Islam tersebut.












1.




Syarat Sah Shalat Teristiadat


Syarat sah shalat maksudnya merupakan sesuatu nan harus dipenuhi

sebelum mengamalkan shalat sehingga hukum shalat tersebut
menjadi sah. Syarat sah tersebut yaitu:


1. Suci berusul hadas besar dan hadas kerdil


2. Asli bodi, pakaian dan tempat dari najis


3. Mengerudungi kemaluan


4. Timbrung waktu shalat


5. Menghadap kiblat


6. Memahami cara-mandu mengamalkan shalat


7. Tidak berbuat sesuatu yang dapat membatalkan shalat.





2.






Akur Shalat



1. Kehendak


2. Berdiri bagi nan mampu, seandainya lain dapat duduk maupun rebahan buat yang nyeri.


3. Takbiratul ihram, dengan membaca “Allahu Akbar”


4. Mendaras sertifikat al-Fatihah


5. Ruku’ dengan thuma’ninah (nangkring sejenak)


6. I’tidal dengan thuma’ninah


7. Sujud dengan thuma’ninah


8. Duduk antara dua sujud dengan thuma’ninah


9. Duduk pengunci (duduk tawarru’)


10. Membaca tasyahud akhir (ketika duduk tawarru’)


11. Membaca shalawat atas Nabi Muhammad SAW


12. Mengucapkan salam purwa


13. Tertib (koheren dan kronologis).


C.  Hal-Kejadian YANG MEMBATALKAN SHALAT


1. Menyingkir salah suatu akur alias mengemudiankan akur sebelum sempurna dengan sengaja.


2.  Menghindari keseleo satu syarat sah shalat.


3.  Berbicara dengan sengaja di luar bacaan shalat.


4. Bergerak lebih berasal tiga kali berbaris-baris selain manuver shalat.


5.  Makan maupun minum


6.  Berubah karsa.


D.    SHALAT JAMAAH DAN SHALAT JUM`AT





1.






SHALAT BERJAMAAH


Salat berkumpulan merujuk sreg aktivitas salat yang dilakukan secara simultan. Salat ini dilakukan oleh paling kecil dua khalayak dengan salah seorang menjadi pastor (pemimpin) dan nan lainnya menjadi makmum.


Berikut adalah landasan hukum nan terdapat dalam Al Qur’an maupun Hadits mengenai salat berjama’ah:


•    Kerumahtanggaan Al Qur’an Yang mahakuasa SWT bersabda: “Dan apabila kamu berada bersama mereka silam anda hendak mendirikan salat bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan berusul mereka berdiri (salat) bersamamu dan menjawat senjata,…” (QS. 4:102).


•    Rasulullah SAW bersabda: “Demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya, sungguh aku bermaksud hendak menyuruh bani adam-basyar mengumpulkan kayu bakar, kemudian menyuruh seseorang menyerukan adzan, lalu menyuruh seseorang pula buat menjadi imam bagi orang banyak. Maka saya akan menghadap bani adam-orang yang lain timbrung berjama’ah, lantas aku bakar rumah-apartemen mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim bermula Serdak Hurairah RA).

Mengenai keutamaan salat berjama’ah dapat diuraikan sebagai berikut:


•    Berjama’ah lebih utama pecah pada salat sendirian.


•  Semenjak setiap langkahnya diangkat kedudukannya satu derajat dan dihapuskan baginya satu dosa serta senantiasa dido’akan oleh para malaikat.


•    Terbebas berbunga yuridiksi/penguasaan setan.


•    Menyerikan cahaya yang sempurna di hari yaumul akhir.


•    Mendapatkan balasan yang bertumpuk-tumpuk.


•    Alat angkut pengikatan hati dan bodi, saling mengenal dan saling kontributif satu sejajar lain.


•    Sparing kehidupan yang teratur dan disiplin.


•    Yakni pantulan kepentingan dan ketaqwaan.





2.






SHALAT JUMAT



Salat Jumat ialah aktivitas ibadah salat pemeluk agama Islam yang dilakukan saban hari Jumat secara berjama’ah sreg musim dzhuhur.

Salat Jumat yakni kewajiban setiap muslim suami-suami. Hal ini termasuk dalam Al Qur’an dan Hadits berikut ini:


•    Al Qur’an Al Jumu’ah ayat 9 nan artinya:”Wahai bani adam-orang yang berketentuan, apabila ia diseru bagi melaksanakan salat pada hari Jumat, maka bersegeralah mengingat Allah dan tinggalkanlah membahu, dan itu lebih baik cak bagi kamu jika kamu mengarifi.” (QS 62: 9)


•    “Hendaklah anak adam-orang itu berhenti berpunca memencilkan salat Jum’at atau kalau lain, Allah akan menutup hati mereka kemudian mereka akan menjadi orang yang lalai.” (HR. Orang islam).

Pada salat Jumat setiap mukmin dianjurkan bikin memperhatikan hal-hal berikut:


•   Bersiram, berpakaian rapi, memakai wewangian dan bersiwak (menggisil gigi).


•   Meninggalkan transaksi bisnis ketika adzan sudah mulai berkumandang.


•    Mengacapkan pergi ke surau.


•    Melakukan salat-salat sunnah di masjid sebelum salat Jum’at sepanjang Imam belum datang.


•   Tidak melalui pundak-bahu khalayak yang sedang duduk dan merembukkan/menggeser mereka.


•   Berhenti dari segala pembicaraan dan kelakuan batal apabila imam telah cak bertengger.


•  Hendaklah memperbanyak membaca shalawat serta salam kepada Rasulullah SAW pada lilin lebah Jum’at dan siang harinya


•   Memanfaatkannya untuk bersungguh-sungguh dalam berdoa karena perian Jumat yakni perian yang mustajab untuk dikabulkannya doa.


E.    SANKSI HUKUM BAGI YANG MENINGGALKAN SHALAT




Para Ulama Sekata Bahwa Menjauhi Shalat Tertulis Dosa Besar yang Lebih Besar berpangkal Dosa Samudra Lainnya.


Bani Qayyim Al Jauziyah –rahimahullah- mengatakan, ”Kaum muslimin bersepakat bahwa meninggalkan shalat lima perian dengan sengaja adalah dosa besar yang paling kecil raksasa dan dosanya lebih besar dari dosa menjagal, merampas harta sosok lain, berzina, maling, dan minum minuman keras. Orang nan meninggalkannya akan asian hukuman dan kemurkaan Allah serta mendapatkan kehinaan di dunia dan akhirat.” (Ash Sholah, kejadian. 7).

Dinukil oleh Adz Dzahabi intern Al Kaba’ir, Ibnu Hazm –rahimahullah- berujar, “Tak terserah dosa selepas kejelekan yang minimum samudra daripada dosa meninggalkan shalat hingga keluar waktunya dan gorok seorang orang islam sonder alasan yang dapat dibenarkan.” (Al Kaba’ir, peristiwa. 25).


Adz Dzahabi –rahimahullah- juga mengatakan, “Orang yang mengakhirkan shalat hingga keluar waktunya terjadwal pelaku dosa ki akbar. Dan nan meninggalkan shalat secara keseluruhan -yakni satu shalat hanya- dianggap seperti orang yang berzina dan mencuri. Karena memencilkan shalat atau luput darinya teragendakan dosa ki akbar. Oleh karena itu, orang yang meninggalkannya setakat acap kali tertera pelaku dosa besar hingga dia bertaubat. Sepatutnya ada makhluk yang menyingkir shalat tertulis orang nan merugi, celaka dan termasuk insan mujrim (nan berbuat dosa).” (Al Kaba’ir, peristiwa. 26-27)


F.    PENDAPAT ULAMA




Shalat ialah berbaik kedua berpokok panca berdamai Islam. Umat Islam cocok bahwa menjalankan ibadah shalat 5 waktu (dini hari, dhuhur, ashar, maghrib, dan isya’) adalah kewajiban. Tapi ternyata banyak perbedaan n domestik menjalankan ibadah shalat, meskipun hukumnya sama-sama wajib.


Dari suntuk aku cinta bingung (dan dilanjutkan bengong) atas perbedaan-perbedaan shalat umat Islam. Tapi kebingunganku sekarang jadi rendah tercerahkan. Makashii banget lakukan pak nurul yakin atas tugasnya untuk membandingan pendapat 4 mazhab tentang shalat terlazim.

Semua hamba allah Islam sekata bahwa hamba allah nan menentang bagasi shalat wajib panca periode atau meragukannya, engkau bukan termasuk orang Islam, sekalipun ia mengucapkan syahadat, karena shalat tertulis keseleo satu rukun Islam. (Mughniyah; 2001)


Para jamhur mazhab farik pendapat tentang hukum orang yang meninggalkan shalat karena celih dan meremehkan, dan engkau meyakini bahwa shalat itu mesti. (Mughniyah; 2001),

Syafi’i, Maliki dan Hambali : Harus dibunuh, Hanafi : ia harus ditahan selama-lamanya, atau sebatas ia shalat. (Mughniyah; 2001)

Source: https://tatacarasholat1234.blogspot.com/