Tanaman Yang Tidak Disukai Lalat Buah

Laporan oleh Arif Maulana

lalat buah
Dr. Agus Susanto, M.Si. (Foto: Dadan Triawan)*

[unpad.ac.id, 9/11/2020] Lalat biji pelir adalah salah satu wereng utama pada komoditas hortikultura. Serangannya boleh menyebabkan kegeruhan signifikan. Banyak produk hortikultura yang berkualitas buruk atau gagal ekspor akibat terjangan laler biji pelir.

Menurut Dosen Departemen Hama dan Kebobrokan Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran,  Dr. Agus Susanto, S.P., M.Si., serangan lalat biji kemaluan menyebabkan daging buah menjadi kemungkus karena mengandung ulat/belatung. Belatung menetas dari telur yang disuntikkan silam ovipositor laler buah lebah ratulebah.

“Ini yang menyebabkan banyak buah di luarnya mulus, ketika dibelah, di dalamnya terserah belatung,” ungkap Agus.

Kondisi biji kemaluan yang seperti ini menyebabkan banyak produk hortikultura Indonesia yang ditolak ekspor. Salah satu negara yang memerosokkan ekspor biji pelir Gedong Pemulas bibir dengan kondisi sebagaimana ini merupakan Jepang. Ini mengakibatkan kemalangan akibat serangan lalat biji kemaluan pada biji kemaluan boleh mencecah 100%.

Berlandaskan observasi nan dilakukan Agus di lapangan, belum suka-suka pengendali wereng yang efektif dan efisien. Khususnya untuk mengurangi lalat lebah ratulebah bertelur di intern buah.

“Lalat buah jika lain dikendalikan akan merugikan secara kuantitas dan kualitas. Segi kuantitas banyak biji pelir yang jebluk dan busuk, sedangkan dari segi kualitas, karena di dalamnya mutakadim ada belatung, maka tidak dapat dijual dan dimakan,” papar Agus.

Hasil observasi tersebut, Agus lagi mengembangkan produk atraktan maupun penjerat lalat berbahan alami. Atraktan ini diperlukan untuk menghirup lalat buah kosen dengan senyawa distingtif. Hal ini akan mengurangi jumlah populasi lalat jantan sekaligus mengacaukan model perkawinan plong laler biji pelir.

“Nantinya, jika populasi memendek, lalat betina tidak akan berbuat proses kawin dan berbuntut,” paparnya.

Kas dapur utama terbit atraktan yang dikembangkan Agus adalah senyawa metil eugenol. Senyawa ini nan digunakan untuk menarik lalat biji pelir  jantan. Lalat biji pelir nyali  akan membutuhkan fusi ini sebagai para-feromon, ataupun zat nan bisa membuat lalat buahjantan menjadi lebih superior sehingga kian disukai atau dipilih  lalat biji zakar  lebah ratulebah andai pasangan kawinnya .

Nah, dengan adanya paduan Me ini, laler buah berani akan terpikat. Sira akan kodrati mengerubungi komoditas atau haring nan mutakadim dipasang atraktan.

Pemanfaatan barang ini cukup mudah. Produk bisa diteteskan pada kapas, kemudian digantung pada jerat. Agar dapat membunuh lalat buah, perangkap bisa diisi oleh air. Begitu laler menghitam pada kapas, ia dapat kontan terkekang di air.

Agar lebih mudah, Agus kembali melebarkan ME Blok nan sudah mengandung paduan metil eugenol sehingga bisa serempak dipakai dan lebih praktis digunakan. Pemakai tidak perlu pun meneteskan produk pada kapas.

Blok dulu digantung, dan sejumlah menit kemudian lalat jantan sudah lalu mengerubunginya.

Berdasarkan hasil pengkajian, atraktan hoki Agus kian efektif dibandingkan produk lainnya. Produk ini lebih banyak menangkap lalat berjenis
Bactrocera dorsalisKompleks. Situasi ini juga dibuktikan dengan hasil uji coba yang dilakukan BP3Iptek Jawa Barat. Atraktan nan dikembangkan Agus Susanto dapat mengedrop tingkat kerusakan pada buah-buahan hingga 80 persen.

Uji coba Atraktan ME Blok di asing ruangan.*

Korban Alami

Senyawa metil eugenol pada atraktan ini dihasilkan dari bahan alami. Rata-rata, senyawa ini bisa diperoleh sederum semenjak pohon selasih. Belaka, Agus enggak mengambilnya dari selasih karena harus dibudidayakan terlebih lewat sehingga membutuhkan biaya produksi yang tinggi.

Alternatifnya, paduan ini diperoleh berasal limbah daun cengkih. Guguran daun cengkih dikumpulkan kenudian dilakukan proses destilasi setakat menghasilkan campuran eugenol. Senyawa tersebut kemudian dimetilasi sehingga menghasilkan  metil eugenol. Tingkat kemurniannya bisa di atas 90 persen.

“Bintang sartan
raw material
mudah didapat dan murah. Kita juga telah berkarya sekelas dengan sejumlah petani. Banyak petani nan lego minyal eugenol hasil destilasi patera cengkih,” ujar Agus.

Tidak saja murni menggunakan bahan alami, atraktan ini juga lewat kerukunan. Produk enggak akan mendebah basyar semangat nontarget.

Atraktan ini dikembangkan atas hibah pendalaman Hibah RAPID Dikti 2022-2017 kemudian Hibah Pusnas Dikti masa 2022-2020. Ibarat tahap awal, sampel barang ini sudah banyak dipakai makanya para penanam di Jawa Barat maupun Sumatera.

Produk ini lagi sudah berangkulan dengan pihak pabrik dan siap dikomersialisasikan selepas izin dari Persen Racun hama keluar.

Diharapkan, produk ini boleh bermanfaat bakal mencagar dagangan hortikultura dari bidasan lalat biji pelir. “Saya bercita-cita ini bisa diterima oleh petani dengan harga yang tidak mahal dan makin kerukunan, lebih efisien, dan lebih mudah penggunaannya,” kata Agus.*

Source: https://www.unpad.ac.id/profil/dr-agus-susanto-m-si-kembangkan-atraktan-lalat-buah-dari-bahan-alami/