Budidaya Tanaman Biji pelir Naga sebagai Salah Satu Solusi Eskalasi Pendapatan Masyarakat Desa Kolobolon

06 Jun, 2022

Biji kemaluan naga dikelompokan kedalam keluarga pokok kayu kaktus. Kendatipun dikenal perumpamaan biji pelir terbit Asia, tanaman ini aslinya berasal pecah Meksiko, Amerika Tengah dan Amerika Selatan. Pada periode 1870, bangsa Perancis membawa biji kemaluan naga bersumber Guyana ke Vietnam sebagai pohon hias. Karena rasanya manis, buah dragon kemudian dikonsumsi secara rembet di Vietnam dan Cina.

Di Indonesia, buah naga menginjak populer sejak tahun 2000. Tidak jelas benar siapa yang pertama kali mengembangkannya. Diperkirakan buah dragon nan masuk ke negeri kita berasal dari Thailand dan dibudidayakan oleh para pehobi tumbuhan secara sporadis.

Sekarang terletak beberapa spesies tanaman buah dragon yang banyak dibudidayakan. Jenis-jenisnya buah terkenal yaitu:

  • Hylocereus undatus kulitnya merah dengan daging buah asli
  • Hylocereus polyrhisus indra peraba merah dengan daging buah merah
  • Hylocereus costaricensis jangat berma dengan daging buah merah pekat sangka keunguan
  • Hylocereus megelanthus kulitnya berwarna kuning dengan daging buah putih.

Budidaya biji kemaluan naga dulu cocok dengan kondisi iklim dan alam Indonesia. Tanaman ini bertaruk optimal pada ketinggian 0-350 meter dpl dengan guyur hujan sekitar 720 mm per tahun. Guru udara ideal bagi pertumbuhan biji zakar hantu bumi berkisar 26-36 derajat celcius.  Selain itu buah ular besar mempunyai nilai ekonomis yang sepan tinggi di pasaran karena mengandung nilai vitamin nan tataran dan cita rasa yang unik menjadikan buah naga salah satu biji kemaluan favorite sekarang.

Melihat karakteristik dan peluang ekonomis pecah tanaman buah naga, maka Yayasan TLM membantu masyarakat desa Kolobolon buat menguburkan tanaman ini, bentuk bantuan yang diberikan adalah penyiapan bibit tanaman biji pelir naga, pendampingan dan pelatihan Teknik bercocok tanam buah dragon sampai tahap pasca pengetaman.

Pada bulan Maret masa 2022, Yayasan TLM memulai dengan membentuk kelompok tani dari awam,  bersumber hasil perjumpaan maka terbentuk kelompok bertanam yang berjumlah  12 Kepala Keluarga dengan 36 anggota.

kerumunan tani bersama fasilitator dari Yayasan TLM mewujudkan perencanaan bagi menanam tanaman biji kemaluan naga di lahan yang tersedia.  Proses reboisasi terdiri atas bilang tahap, antara lain;

Tahapan Pertama – Pengolahan Persil

Tahap ini termuat langkah bibit, pengolahan petak, pembuatan kayu naik dan pemupukan awal.  Untuk bibit, digunakan batang dari tanaman buah naga nan telah pernah berbuah.  Cara ini seremonial disebut cara vegetative, dinilai kian mudah dan murah dibandingan dengan cara generative (berpokok biji).

Yayasan TLM menawarkan Teknik tani organik dan menggunakan bahan baku yang tersedia di lingkungan desa sebagai serat, dengan mandu itu boleh menekan biaya produksi dan memaksimalkan pemanfaatan objek baku yang tersedia, seperti sisa sisa ternak dapat dijadikan rabuk kendang, berak daun-daun tanaman dapat dijadikan humus.

Persil di olah agar endut-endut dan lobang tanam dibuat sesuai ukuarn tanam, kemudian diberi pupuk organik dan di buatkan tiang panjat agar nantinya pohon dragon tumbuh dan terbentuk maka itu tiang tersebut.

Untuk 50 tumbuhan saja membutuhkan lahan seluas 100 m2, jarak tanam berparak 2,5 meter dari 1 pohon ke pohon lain dengan jalur jalan di perdua  seumpama jalan.

Penggodokan lahan tidur menjadi kebun produktif

Tahap Kedua – Penamanan

Sebelum ditanam, stek buah hantu bumi dikembangkan pada bedeng bakal menumbuhkan akar-akarnya, terbatas kian kontol waktu 1 bulan sebatas tanaman siap di tanam di terowongan.  Setelah siap tanam,   anakan biji zakar naga dimasukan kedalam korok tanam dan diberi air secukupnya.

Tahap Ketiga – Pelestarian

Tanaman biji pelir naga n kepunyaan kancing tumbuh yang baik, adaptasi dengan lingkungan yang baik, sehingga tidak memerlukan perawatan yang intensif, sepan memperhatikan pengairan (tidak perlu air nan banyak, karena varietas kaktus), pencucian gulma, pengendalian hama ki aib begitu juga tungau dan kutu.  Selain itu pemeliharaan yang tak kalah berguna adalah pemangkasan hendaknya pokok kayu cepat bertelur.  Umur tanaman berusul sejak ditanam sampai berbuah berkisar 6 setakat 8 bulan.  Pasca- itu setiap musim (rembulan Oktober hingga April) tanaman buah dragon akan rutin berbuah dan akhirnya semakin meningkat.

Diagram 1. Jumlah dan rumpil buah naga yang ditanam di Desa Kolobolon

Periode Besaran Buah Berat Buah
Pertama (2015) 10 buah/tanaman 4-6 buah/kg
Kedua (2016) 20 buah/pokok kayu 3-5 buah/kg
Ketiga (2018) 30 biji zakar/pohon 2-3 buah/kg

Perigi : Yayasan TLM

Tahap Keempat – Pemanenan

Setelah ditanam selama 6-8 bulan, tanaman buah naga akan mulai berbunga.  Pada tahap ini bunga yang unjuk pada jihat batang akan bertumbuh sampai siap lakukan fase pembuahan.  Uniknya fase ini hanya terjadi dari jam 21.00 sebatas 08.00, seandainya tidak terjadi pembenihan maka bunga akan menyelimuti dan akan luruh, namun jika terjadi pembenihan maka rente akan menutup dan berubah menjadi buah.  Karena itu pada tahap penyerbukan bisa dilakukan pembuahan manual untuk membantu sebaiknya penyerbukan boleh terjadi.

Periode yang diperlukan bersumber pembentukan bunga hingga untuk buah naga siap dipanen berkisar 35 sapai 40 hari.  Takdirnya sudah siap untuk dipanen, maka pemendekan bisa dilakukan pada pangkal biji kemaluan dan waktu pemotongan pada pagi hari karena kapan itu biji pelir kerumahtanggaan keadaan optimal dan penguapan belum banyak.

Tahap Kelima – Pasca Panen

Selepas biji pelir dipanen, maka buah siap dijual ke pengguna.  Camar duka di desa Kolobolon harga jual di tempat sreg tahun 2022 yaitu Rp. 35.000 saban kilogram.  Dengan kuantitas buah 3-5 buah per Kilogram.  Bila setiap tahun jumlah buah dan berat buah semakin meningkat maka diharapkan pendapatan dari usaha tumbuhan biji pelir hantu bumi juga akan meningkat.  Sebagai gambaran boleh di buat sebuah Analisa Usaha budidaya Pohon Buah naga di desa Kolobon, sebagai berikut :

Diagram 2. Analisa Persuasi Budidaya Tumbuhan Buah Naga di Kolobolon bikin 50 pokok kayu

1.      Pengeluaran

a.      Biaya Produksi Waktu 1

Stek tumbuhan 50 kunarpa @ Rp. 15.000

 

Rp.    750.000

2.      Pemasukan

a.      Tahun 1 : 50 X 2 Kg X Rp. 35.000 (postulat tahun pertama 1 tumbuhan menghasilkan 2 Kg)

b.      Tahun 2 : 50 X 4 Kg X Rp. 35,000 (premis tahun kedua  1 pohon menghasilkan 4 Kg)

 

Rp. 3.500.000

Rp. 7.000.000

3.      Keuntungan

a.    Tahun 1 (Penyerahan tahun1 – biaya produksi)

b.    Musim 2

 

Rp. 2.750.000

Rp. 7.000.000

Bila melilhat taksiran Analisa Usaha Budidaya Tanaman Buah Hantu bumi yang cukup menjanjikan, bisa dipastikan jika masyarakat di desa Kolobolon yang  mengebumikan buah hantu bumi maka boleh menjadi alternative penambahan pendapatan mereka, selain itu lahan tidur boleh dimanfaatkan menjadi lahan bakir.

Besaran penduduk desa Kolobolon sreg tahun 2022 adalah  1584 usia, terdiri atas 348 Kepala Tanggungan, seandainya setiap batih mengebumikan pohon naga di kebun atau halaman rumah seluas 100 m2 menanam sebanyak 50 pohon biji zakar naga, intern 1 tahun pertama boleh minimal Rp. 3.500.000 dan akan terus meningkat pada perian berikutnya seiring dengan semangat tanaman.

Pohon buah naga lampau prospektif karena permintaan akan barang dari buah naga yang masih tinggi untuk pasar lokal.  Yayasan TLM berkomitmen lakukan bekerjasama dengan mahajana desa untuk memanfaatkan petak-tanah tidur dijadikan lahan produktif, mendampingi dari segi Teknik bercocok tanam dan system pengairan, juga mendampingi untuk menjualbelikan produk berasal pertanian.  Diharapkan dengan kehadiran Yayasan TLM di masyarakat, khususnya desa Kolobolon bisa memasrahkan kesempatan baru untuk peningkatan taraf arwah yang bertambah baik.

Tanaman biji kemaluan naga sebagai komoditas unggulan tipar rani Kolobolon nan bertaruk subur dan siap panen

Penjualan hasil panen buah naga