Tanaman Hias Buah Jeruk Citrus Mitis

Perbanyakan tanaman biji kemaluan dengan metode sambung pada barang in vitro telah banyak dilakukan. Pada tumbuhan jeruk, batang pangkal tetap yakni hal yang terdahulu karena system perakaran nan lebih baik dan kesabaran terhadap masalah akar dibandingkan jenazah atas bisnis.  Penelitian pelanjutan jeruk Kalamondin hasil perbanyakan SE plong batang pangkal JC dilakukan di nursery house Balai Eksplorasi Tanaman Jeruk dan Biji zakar Subtropika (Balitjestro), plong Januari – Desember 2010. Sambungan dilakukan dimana batang atas spesies embrio dan planlet disambungkan pada batang dasar JC dengan perlakuan 3 macam, merupakan planlet JC hasil perbanyakan  SE yang berumur 4 dan 8 wulan setelah orientasi serta semaian biji umur 8 bulan.  Sendirisendiri kegiatan disusun RAK faktorial dengan 3 ulangan.

Dari penelitian ini disimpulkan bahwa dari hasil analisa statistik didapat bahwa perikatan perlakuan antara batang bawah serta diversifikasi layon atas pada semua penanda bukan berbeda nyata, padahal secara terpisah % sambungan nan hidup tidak dipengaruhi baik oleh perlakuan batang bawah yang digunakan maupun jenis batang atas yang disambungkan. Sedangkan total daun dan tinggi tanaman dipengaruhi sangat nyata oleh perlakuan batang asal yang farik sampai dengan arwah 8 bulan pasca- sambung, kuantitas daun dan tinggi tumbuhan terbaik lega pohon dengan mayat bawah yang berpangkal mulai sejak semai biji hayat 8 bulan; hanya selepas umur sambungan diatas 8 rembulan, kedua parameter tersebut pertumbuhannya tidak dipengaruhi sekali lagi oleh perlakuan mayit bawahnya.


Persentase Sambungan Bintang sartan/Atma

Dari hasil analisa statistika didapat bahwa lain terserah interaksi antara perlakuan batang sumber akar dengan batang atas, namun secara terpisah % sambungan bintang sartan plong tanaman umur 1-10 rembulan juga tidak berbeda berupa puas perlakuan bangkai pangkal ataupun kunarpa atas yang berbeda, biarpun % tertinggi masing-masing pada pada perlakuan batang asal semaian kehidupan 8 bulan dan penggunaan planlet sebagai jenazah atas. (Tabel 1).

Grafik 1. Biasanya uang lelah sambungan jadi pada pohon sukma 1, 4, 7 dan 10 bulan setelah penyambungan

[cml_media_alt id='1276']Tabel 1 SE 111[/cml_media_alt]

Meskipun secara statistika, plong setiap keberagaman perlakuan layon asal atau atas yang digunakan tidak farik maujud, sahaja tampak bahwa pengusahaan layon bawah hasil semai skor berusia 8 bulan setelah sebar, menghasilkan % bersemi yang terala.  Padahal penggunaan planlet seumpama jenazah atas, juga relatif menghasilkan komisi tumbuh yang makin memuaskan dibandingkan dengan pemakaian kunarpa atas fase bakal manusia.

Rendahnya tingkat keberhasilan pada perlakuan embrio sebagai batang atas juga dihasilkan pada penelitian Altaf et al. (2008).  Dari hasil penyambungan dengan batang atas yang berpangkal dari embrio dan pucuk jeruk Kinnow pada mayat dasar RL masing-masing didapat 138 dan 61.4% tanaman arwah.  Situasi ini diduga disebabkan karena embrio mulai sejak dari pertumbuhan single sel dan kebanyakan mereka bukan dapat bertahan hidup pada mileu nan relatif merangsang.


Panjang Tanaman

Pecah hasil analisa statistika didapat bahwa tak ada interaksi antara perlakuan bangkai pangkal dengan buntang atas, doang secara terpisah tinggi tanaman setakat dengan umur 8 bulan sesudah hubung dipengaruhi sangat nyata makanya penggunaan batang bawahnya, sedangkan pada umur 9 dan 10 wulan, tahapan tanaman sudah tidak ki terdorong oleh perbedaan batang asal yang digunakan (Gambar 1, 2) .  Penggunaan layon radiks JC radiks semai biji (8+) menolak terjadinya pertumbuhan tataran tanaman yang lebih baik dan berbeda nyata dibandingkan 2 tipe lainnya sampai 8 bulan setelah hubung; sedangkan kedua batang bawah asal planlet (4 dan 8 bulan setelah aklimatisasi) tidak berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan pangkat tumbuhan.  Hal ini diduga disebabkan karena perakaran nan terlatih pada batang dasar asal semaian relative kian baik dibandingkan dengan nan berasal berpangkal aklimatisasi planlet asal perkalian SE (Gambar 3).   Sedangkan pemakaian layon atas ialah embrio dan planlet tidak mempengaruhi pertumbuhan janjang tanaman mulai dari umur 1 s/d 10 wulan setelah hubung (Tabel 2).

[cml_media_alt id='1271']gambar SE 1[/cml_media_alt]
Rajah 1. Biasanya tinggi tanaman puas umur 1-10 bulan pasca- sambung sreg perlakuan batang dasar
[cml_media_alt id='1272']ambar 2. Tanaman hasil sambung antara planlet JC aklimatisasi 4 bulan + embrio, semai JC + embrio dan semai JC + planlet Kalamondin umur 10 bulan setelah sambung[/cml_media_alt]
Susuk 2. Pokok kayu hasil sambung antara planlet JC adaptasi 4 wulan + janin, semaian JC + embrio dan semaian JC + planlet Kalamondin umur 10 wulan pasca- sambung
[cml_media_alt id='1273']Gambar 3. Perakaran pada batang bawah tanaman hasil sambung antara : (a) planlet JC aklimatisasi 4 bulan + planlet Kalamondin  dan (b) semai JC + embrio Kalamondin umur 10 bulan setelah sambung[/cml_media_alt]
Gambar 3. Perakaran pada kunarpa bawah tanaman hasil sambung antara : (a) planlet JC penyesuaian 4 rembulan + planlet Kalamondin  dan (b) semai JC + mudigah Kalamondin spirit 10 bulan setelah hubung

Tabel 2.Rata-rata tinggi pokok kayu puas tanaman kehidupan 1-10 wulan setelah grafting pada perlakuan batang atas

[cml_media_alt id='1270']tabel 2 SE edit[/cml_media_alt]


Total Daun/Tumbuhan

Dari hasil analisa statistika didapat bahwa tidak suka-suka interaksi antara perlakuan batang bawah dengan batang atas, tetapi secara terpisah jumlah daun dipengaruhi secara nyata dengan penggunaan buntang asal yang berbeda hingga dengan pohon kehidupan 8 bulan, setelah umur itu penggunaan batang bawah nan berbeda tidak memberikan pengaruh lagi; terbaik puas tanaman dengan batang bawah yang dari dari semai kredit umur 8 bulan.  Sedangkan pemakaian batang atas nan berasal terbit janin dan planlet bukan mempengaruhi jumlah daun yang bersemi sampai dengan nyawa 10 bulan (Tabulasi 3.).

Grafik 3. Rata-rata jumlah daun/tanaman lega 1-10 bulan sesudah sambung

[cml_media_alt id='1275']tabel SE 3 edit[/cml_media_alt]

Pada penggunaan mayat bawah yang berbeda, jumlah daun berbeda berwujud sebatas dengan umur 8 bulan, seperti mana parameter tinggi pohon.  Plong tanaman yang tumbuh normal, kuantitas daun akan seiring dengan tinggi tanamannya.


Garis tengah Tanaman

Dari hasil analisa statistika didapat bahwa tidak terserah interaksi antara perlakuan jenazah bawah dengan batang atas; namun secara terpisah penampang tanaman setakat dengan roh 10 rembulan setelah sambung tidak dipengaruhi maka dari itu eksploitasi batang bawah dan bangkai atasnya.  Puas awal pertumbuhan hingga dengan hidup 4 bulan sehabis sambung, sengkang pohon dipengaruhi secara berupa oleh pendayagunaan batang bawahnya, namun sesudah itu perlakuan tersebut tidak berpengaruh separas sekali.

Penggunaan batang atas yang bersumber berpokok bakal manusia dan planlet, sreg awalnya berpengaruh terhadap semua indeks pertumbuhan, apabila eksplan nan disambung pada batang pangkal mutakadim sreg fase planlet, maka pertumbuhan tanaman kian cepat dibandingkan dengan menggunakan eksplan dalam fase bakal manusia; padahal pada pertumbuhan selanjutnya, perbedaan jenazah atas tak berkarisma pun. Menurut Aloni et al. (2010) pokok kayu hasil sambungan akan tumbuh baik bila kedua vascular terkoneksi ideal.  Pada proses pertautan, regenerasi vascular merupakan proses yang sangat komplek meliputi tahapan diferensiasi jaringan parenkim pada relasi irisan batang atas dan bangkai dasar menjadi xylem dan floem; proses tersebut diawali dengan terjadinya pertumbuhan kalus (‘jembatan kalus’) puas ke dua kaliber irisan tersebut (Hartman dan Kester, 1983). Menurut Gokbayrak et al. (2007) plong anggur tingkat pertautan ataupun kompatibilitas antara batang asal-kultivar diduga dahulu ditentukan oleh profil zat putih telur kuantitas dan Acid Phospatase (AcPH). Penggunaan planlet sebagai jenazah atas akan mengantuk tsb. diatas lebih baik karena diduga ekplan tersebut telah mempunyai jaringan yang lebih pola dibandingkan fetus sehingga pada tadinya pertumbuhan, proses aliansi antara batang atas dan radiks akan lebih cepat.

Sedangkan penggunaan batang bawah yang berasal bermula semaian akan mendorong pertumbuhan secara keseluruhan, baik tinggi tanaman atau garis tengah batang tanaman hasil sambungannya.  Menurut Singh et al. (2003), dengan semangat yang sama pada awal pertumbuhannya, perkembangan planlet dan semaian sitrus akan berbeda secara riil, planlet sitrus yang diaklimatisasikan akan berkembang lebih lambat dibandingkan semaian.  Hal ini disebabkan kurangnya makanan sreg planlet bila dibandingkan dengan tumbuhan berasal pecah semaian nilai; karena semaian tersebut mempunyai tandon makanan nan berasal dari kotiledon.  Hanya dengan selang hari yang lebih lama, pertumbuhan plong bangkai atas ataupun pangkal ini nisbi akan sama, sehingga lega akhir pengamatan (umur 9-10 wulan sehabis sambung) pertumbuhan tanaman, baik tinggi, kuantitas daun atau kaliber tanaman lain dipengaruhi pun oleh perlakuan keduanya yang berbeda.


Ilmu jaringan tubuh Sambungan Antara Batang Atas Kalamondin dan Batang Sumber akar JC

Sreg pelanjutan ex vitro antara planlet/embryo pada mayat bawah JC hasil perbanyakan SE yang diaklimatisasikan alias plong semaian, pertautan nan dihasilkan contoh.  Hal ini ditunjukkan dengan menyatunya fragmen epidermis dan jaringan pembuluh floem serta xylem kedua layon pohon tergabung (Gambar 4.). Hal ini menyorong terjadinya pertumbuhan yang normal pada semua perlakuan.

[cml_media_alt id='1274']Gambar 4. Histologi sambungan Batang bawah hasil aklimatisasi 4 bl planlet JC (a) Semaian JC (b) dengan planlet Kalamondin serta bag. tanaman yg dianalisa[/cml_media_alt]
Rencana 4. Histologi sambungan Batang bawah hasil orientasi 4 bl planlet JC (a) Semai JC (b) dengan planlet Kalamondin serta bag. pokok kayu yg dianalisa


Kesimpulan

Perlakuan batang bawah tidak berpengaruh terhadap % sambungan kaprikornus dan total daun sampai umur 8 bulan; berpengaruh nyata pada tinggi tanaman sampai dengan atma 8 bulan dan diameter batang sampai dengan atma 4 rembulan.  Sedangkan perlakuan batang atas lain berpengaruh terhadap % sambungan jadi, besaran daun dan garis tengah buntang; tetapi berpengaruh riil pada tinggi pokok kayu hanya sampai nyawa 4 rembulan. Pembentukan perantaraan pada semua perlakuan adalah sempurna, yaitu ditandai dengan menyatunya babak gelimir dan jaringan pembuluh floem serta xylem kedua jenazah tanaman tergabung, kecuali pada sambungan in vitro yang mayit atasnya berupa planlet.

Source: http://balitjestro.litbang.pertanian.go.id/daya-tumbuh-tanaman-jeruk-kalamondin-citrus-mitis-blanco-hasil-perbanyakan-via-somatik-embriogenesis-se-in-vitro-pada-batang-bawah-jc/