Tanaman Buah Yang Tahan Genangan Air

Bogor. Selasa, 12 April 2022.
Pemerintah terus kobar acara restorasi gambut, sebagai upaya pemulihan akibat kebakaran hutan dan persil gambut. Kegiatan ini meliputi
rewetting
(pembasahan gambut yang terdegradasi), revegetasi (penanaman kembali) dan revitalisasi ekonomi masyarakat.

Membantu upaya tersebut, Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan, yang sekarang menjadi Daya Pembakuan Instrumen Pengelolaan Rimba Per-sisten (Pustarhut), sudah lalu merajut kerja sebabat pengkajian dengan
World Agroforestry
(ICRAF) dalam proyek
Developing Biodiverse Agroforest on Rewetted Peatlands
(BAR-Peat), selama tahun 2022-2021.

Hutan dan lahan gambut yang rusak akibat kebakaran, lega umumnya memiliki kondisi nan ternganga. Kegiatan rewetting dilakukan melangkahi pembangunan sortang serokan dan pembasahan kembali untuk meningkatkan muka air tanah. Sreg musim penghujan, pada lahan gambut nan direstorasi malar-malar terjadi banjir. Maka dari itu karena itu, salah satu tantangan pada kegiatan rehabilitasi lahan gambut terdegradasi yaitu pemilahan macam yang sesuai untuk kedua kondisi ternganga (minus naungan) dan banjir,” demikian disampaikan oleh Dr. Hesti Lestari Tata, pengelola proyek penelitian dari Pustarhut, yang saat ini menjadi peneliti di BRIN.

Hesti menjelaskan, bibit rambutan dan durian yang ditanam pada beraneka macam kondisi tingkat genangan dan tingkat naungan, menunjukkan toleransi yang rendah terhadap genangan. “Kedua tanaman biji pelir tersebut paling baik bertunas sreg kondisi gambut tidak tergenang dan lega tingkat naungan 30%. Provisional balangeran dan gerunggang memiliki persentasi tumbuh 100% puas kondisi sonder naungan dan genangan, hingga sepertiga tingkatan pati hingga umur 13 minggu,” tuturnya.

Jenis balangeran memiliki kemampuan dengan kisaran hidup yang lebih luas daripada gerunggang, yaitu produktif tumbuh pada tingkat naungan tinggi (70%) hingga kondisi mangap, dan tingkat genangan strata merupakan sepertiga tinggi sari. Menurut Hesti, pohon balangeran dan durian memiliki toleransi strata terhadap genangan karena kemampuannya membentuk akar adventif, yang membantu proses fotosintesis akar tunjang pada kondisi banjir. “Akar adventif balangeran bersifat gentur, sebaliknya akar adventif gerunggang tak keras dan memiliki sukma tertentu,” tambahnya.

Hadirnya kajian tersebut disambut baik oleh Plt. Kepala Pustarhut, Wening Sri Wulandari. “Informasi scientific kegiatan kerja setimbang ini merupakan modalitas untuk menyusun patokan instrument, dan diharapkan dapat menerimakan kontribusi dalam formulasi standar pembaruan gambut mendukung pencapaian Indonesia FoLU Jaring-Sink 2030,” wanti-wanti Wening.

Tim penghasil di persemaian.

Kegiatan ini yakni kegiatan kolaboratif  yang  didukung oleh Fakultas Kehutanan dan Mileu IPB University, ICRAF, Michigan Technological University, USDA Forestry Service, Amerika Serikat, dengan tim  yaitu Hani Nuroniah, Diandra A. Ahsania, Haning Anggunira, Siti Falak. Hidayati, Meydina Pratama, Istomo (IPB), Rodney A. Chimner, Meine van Noordwijk, Randall Kolka. Kabar eksemplar kegiatan dapat dilihat pada Jurnal PLOS ONE
“Flooding tolerance of four tropical peatland tree speces in a nursery trial”,
yang terbit pada tanggal 6 April 2022, pada link berikut https://journals.plos.org/plosone/article?id=10.1371/journal.pone.0262375. (***)

Penjamin Jawab Berita:

Plt. Pengarah Pustarhut : Dr. Wening Sri Wulandari

Kontributor:

Pranata Humas Pakar Taruna : Mamay Maisaroh, S.Hut., M.Si.

Source: https://pustarhut.org/dua-jenis-tumbuhan-tahan-genangan-potensial-untuk-restorasi-gambut/