Tanaman Buah Kiwi Di Bogor

Siang yang cerah. Seorang bocah lelaki asyik bermain di “jenggala” dekat rumahnya. Bersama kawannya, ia main sabel, olahraga adu cenangkas yang populer era 1980-an, kala itu. Biasanya, kerjakan membuat sabel, mereka mematahkan mayat pohon demi mewujudkan atraksi tersebut.

Udin, bocah okta- periode itu, mematahkan buntang duku di lahan berkebun ayahnya. Malang, usai permainan, ia dipanggil ayahnya yang marah melihat perbuatannya itu. Si ayah berang lain takut rugi materi melainkan ulah Udin nan membunuh kehidupan tumbuhan tak berdosa. Atas tindakannya, Udin dihukum menyiram pohon duku yang selamat bermula tebasannya dengan air Sungai Ciliwung.

Tugas beliau jalani enam wulan. Jika tidak sempat mengambil air, sang ayah menyuruhnya mengejar gedebung sisa tebasan lakukan ditempelkan di akar langsat sebagai alternatif sumber air.

“Manusia kalau haus bisa cari air koteng. Tapi pokok kayu, gak barangkali. Itu perkataan ayah saya saat saya kerdil yang terngiang sampai sekarang,” tutur Udin, pegiat konservasi pohon buah lokal di Bojong Gede, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Baca:
Pohon-tumbuhan Langka Indonesia,
Bagaimana Nasibnya?

Lambat laun, ayahnya berakibat mengajarinya mencintai bertunas-tumbuhan lokal. Di usia dini, Udin mutakadim mengetanahkan 40 pati menggusta, 8 pohon pete, 5 ekstrak durian dan 5 bibit ki pelor di wilayah Bojong Gede. Upaya penjagaan pohon biji zakar lokal yang secara loyal ia lakoni hingga sekarang.

Udin menaksir, sudah ribuan pohon buah tempatan yang ia tanam dan beliau sebarkan ke orang-orang yang lamar. Kamu sekali lagi hafal nama-jenama pohon yang tumbuh di sekitarnya, mulai ruang masuk-lobi (Flacourtia inermis Roxb), gandaria (Boueama crophylla Griff), namnam (Cynometra cauliflora), gowok (Syzygium polycephala),
kundong (Garcinia parvifolia Miq),
majegau
(Desoxylum densiflorum),
karendang (Carissa carandas L.), buni (Antidesma bunius), sulatri (Calophyllum soulattri), dan kemang (Mangifera caesia Jack).

Nama-stempel di atas kali saja asing di telinga kita. Rasanya pun menghadap asam seperti lobi-lobi, kemang, dan gandaria. Tidak populer dan jarang dinikmati, menurut Udin, menyebabkan jenis buah-buahan lokal enggak dilestarikan masyarakat. Belum pun hilang akibat serangan pembangunan infrastruktur.

Padahal, menurutnya tak ada yang sia-sia, andai biji kemaluan-buah domestik itu boleh diolah. “Contohnya, ruang masuk-lobi yang perkenalan awal orang asam, sari buahnya dijual di Glodok, Jakarta, seharga Rp70 ribu. Tapi di sini? Terlebih diinjak-injak,” ujar lelaki kelahiran Bogor, 1 Januari ini.

Sejatinya, keberadaan pohon tidak hanya bermanfaat buat kehidupan orang sahaja kembali untuk satwa dan mileu keseluruhan. Foto: Rhett Butler/Mongabay

Absennya wawasan pemukim mengenai buah tempatan sering Udin hadapi. Seperti kemang yang namanya diadopsi menjadi nama wilayah di Jakarta Selatan dan Bekasi. Jalinan satu boleh jadi ada nan menyangka itu nama binatang. Padahal, kemang mirip kiwi, bedanya kiwi bersurai. Jika hari panen, kemang dijual di area Bogor seharga Rp6.000 per kg. Harganya meroket Rp125 ribu detik dijadikan minuman sari buah buntelan.

Cuma, upaya perlindungan yang Udin lakukan sejatinya jauh melebihi nilai hemat. Ia berprinsip, tanaman-tumbuhan menciptakan keseimbangan ekosistem, memberikan nyawa mahluk hidup bukan seperti fauna yang membutuhkannya makanan dan sarang.

Empunya nama lengkap Hasanudin ini pun besar perut menolak jika diberi timbal balik materi. Sira enggak suka dengan pola pikir materialistis, jika sudah mencantol proteksi pohon domestik. Salah-bicara, Komandan RT 03 RW 05 Kampung Gelonggong, Kelurahan Kedung Waringin, Kecamatan Bojong Gede, ini boleh mengurungkan niatnya untuk berkolaborasi.

“Melihat cak semau orang peduli, merawat pohon lokal untuk tetap hidup, senangnya tak terkira. Tapi jangan hitung-hitungan. Pernah ada nan minta 100 tumbuhan/sari. Tapi belum-belum bilangnya rugi karena harus keluar bensin cak bagi cabut pohon tersebut. Saya jadi sungkan, kok mikirnya begitu,” jelasnya.

Udin tidak memiliki jadwal alias programa partikular menanam, kontan hanya. Di mana ada bibit pokok kayu dan lahan, beliau kontan bersirkulasi, baik itu peringatan Musim Lingkungan Semangat, Hari Ciliwung, maupun mulung ekstrak bersama Kekerabatan Ciliwung.

Di belakang rumahnya, cak semau sekitar 400 pohon yang sudah berkembang. Seratus pohon pergaulan beliau sumbangkan bikin titipan pembangunan hutan kota di Senayan, Jakarta Taktik. Lainnya, ia sebarkan ke pembangunan kampung lingkungan dan ruang terbuka bau kencur yang tersebar di Jawa Barat dan Jawa Tengah.

“Saya optimistis detik kondisi mileu baik, dampaknya baik sekali lagi bagi seluruh mahluk hidup, terjadwal turunan,” ujarnya.

Kemang, buah nan adalah identitas Kabupaten Bogor ini mulai sulit didapatkan. Foto: Rahmadi Rahmad/Mongabay Indonesia

Membagi nyawa

Udin ialah saksi sejarah transisi ekosistem di area Bojong Gede. Momen kerdil hingga remaja, ia masih boleh melihat burung pemakan udang rebon dan bajing di seputaran Sungai Ciliwung.

Melalui konservasi buah lokal, Udin berharap dapat menyambung kembali gelang rantai ekosistem yang putus ini. “Keanekaragaman hayati harus kita pertahankan. Kita tidak dapat individualis, ada mahluk tak nan atma di sekitar kita,” terangnya.

Menurut pengkaji Botani dan Ilmu lingkungan Bentuk Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Prof. Tukirin Partomihardjo, hilangnya tanaman biji zakar lokal dan fauna yang mengkonsumsinya akan berbuah domino buat manusia yang tinggal di lingkungan tersebut. Misalnya, terjadi ledakan populasi fauna tertentu karena fauna nan menjadi predatornya telah migrasi atau antap.

“Katakanlah jikalau (buah) gowok-kupa itu dimakan burung, lampau (pohonnya hilang sehingga) butuh-butuh itu tidak ada atau pergi. Di jihat bukan, titit itu memakan hama, tapi karena burungnya pergi akhirnya populasi hama meletus. Dampaknya ke manusia juga,” alas kata Tukirin kepada
Mongabay Indonesia.

Jurnal Sentral Konservasi Pohon Kebun Raya – LIPI November 2022, menyebutkan ada 226 jenis tumbuhan buah-buahan nirmala Indonesia dapat dimakan yang sebagian besarnya merecup liar di wana-pangan (184 variasi). Hanya sebagian kerdil yang sudah dibudidayakan (62 jenis) dan 18 jenis di antaranya ialah jenis endemik. Sementara itu ada 31 tipe pokok kayu buah nan masuk tumbuhan langka Indonesia.

Diantara 31 jenis itu, kemang ikut intern daftar
low risk
versi IUCN 2022. Jurnal itu juga memanggil namnam masuk variasi tumbuhan pelik versi
Daftar 200 Varietas Tumbuhan Langka Indonesia
(200 TLI).

Lembaga Ilmu Laporan Indonesia (PKT KR – LIPI) menanam kemang dan puki anjing bersama jenis lainnya yang terjadwal kategori rumpil di area Kebun Raya Bogor dan Huma Raya Daerah (KRD). Keduanya juga dapat ditemui di Tegal Plasma Nutfah (KPN) Pusat Penelitian Bioteknologi-LIPI, Cibinong, Jawa Barat.

Burung aji urang yang minimum doyan mendatangi batang air untuk mengejar lauk-ikan kecil andai pakannya. Foto: Rhett Butler/Mongabay

Bukan nama biasa

Tukirin menjelaskan, definisi tempatan untuk buah boleh mengacu
region
(distrik), provinsi, pulau, dan
site
(distrik). Artinya, sebuah tanaman buah dapat disebut tempatan jikalau habitatnya atau pembudidayaannya namun di kawasan tertentu, alias pulau dan provinsi tertentu.

Sreg kondisi tanaman buah di wilayah Bojong Gede, Tukirin menyebut, macam-jenis tumbuhan nan dilestarikan Udin dapat dikategorikan pohon buah lokal. Alasannya, pembudidayaannya di kewedanan tertentu yaitu Bogor. Habitat pokok kayu tersebut diyakini hanya dapat ditemui di area Jawa Barat saja, seperti gandaria.

Kerelaan beberapa spesies biji pelir tempatan, semakin terancam karena juga tergeser oleh buah musafir yang kualitasnya lebih baik. Seperti halnya jambu kristal yang menenggelamkan jambu klutuk, jenis lokal. “Sungguhpun secara mahajana kualitas (lokal) lebih rendah, tapi secara genetik macam buah tempatan dapat dikawinsilangkan. Suatu momen bermanfaat,” jelasnya.

Tukirin kembali mempertontonkan, barangkali ini gandaria. Buah yang mempunyai arti ungu (kerumahtanggaan Bahasa Sunda) itu sudah lalu hampir jarang ditemui di Jawa Barat, selain Bogor. Di Bojong Gede gelanggang Udin bermukim, pohonnya namun ada suatu di area perkuburan.

Buahnya agak bulat dengan diameter 2-5 cm. Ketika muda, warnanya hijau dan ketika gaek atau masak berubah asfar hingga jingga. Dagingnya membebaskan cairan kental, dengan raksi khas menyengat yang rasanya kira asam sebatas manis.

Gandaria mulai berhasil Agustus hingga September dan matang pada Desember sampai Januari. Pohonnya bisa mencapai 8 hingga 27 meter. Berusul cerita Udin, gandaria banyak diburu pemilik apartemen makan khas Sunda sebagai target halal sambal.

Sebagaimana dikutip dari
faunadanflora.com, gandaria telah ditetapkan menjadi flora identitas Jawa Barat berdasarkan Akta Keputusan Menteri Dalam Provinsi Nomor 48 Tahun 1989 tanggal 1 September 1989 tentang Pedoman Penetapan Identitas Flora dan Satwa Daerah. Pohon ini juga dijadikan nama daerah di Cilandak, Jakarta Selatan.

Kepedulian Udin terhadap tumbuhan biji pelir tempatan yang minus mendapat perasaan, layak kita apresiasi. Foto: Raisya Maharani/Mongabay Indonesia

Buah domestik bukan yang enggak kalah menarik merupakan kemang. Mengutip
bioteklipi.go.id, SK Wedana No. 522/185/kpts/Huk/1996 telah menetapkan kemang sebagai dunia tumbuhan identitas Kabupaten Bogor.

Kedua spesies biji pelir ini mutakadim menjadi tanaman yang dikonservasi secara
ex tasik
makanya LIPI. Pemeliharaan itu tersokong juga lewat upaya mikro yang dilakukan Udin di distrik Bojong Gede. Tukirin menilai, inisiatif pemukim seperti Udin sangat patut ditiru.

“Adanya kearifan lokal untuk mempertahankan keberagaman buah tempatan sangat lah bagus. Kita wajib merangkul orang nan memiliki kesadaran tahapan seperti Udin,” tandas Tukirin.

Artikel nan diterbitkan makanya

Source: https://www.mongabay.co.id/2017/11/23/hasanudin-pelestari-pohon-buah-lokal-yang-tak-kenal-lelah/