Syarat Ijab Dan Qabul Dalam Pernikahan Adalah

Cak bertanya:

Kami ingin penjelasan Anda tersapu bagian parsial di Siasat
An-Nizhâm al-Ijtimâ’î.
Dinyatakan bahwa boleh ijab-qabul internal akad nikah, salah satunya dengan lafal lampau (mâdhî) dan nan lainnya dengan lafal kala nanti (al-mustaqbal).

Jawab:

Pertama,
cak bertanya Anda merujuk pada apa yang dinyatakan di intern Buku
an-Nizhâm al-Ijtimâ’î fî al-Islâm halaman 120:

Pernikahan terakadkan dengan ijab dan qabul yang syar’i. Ijab adalah perkataan nan keluar bersumber salah seorang dari dua pihak nan berakad. Qabul merupakan perkataan yang keluar semenjak pihak lainnya nan berakad. Seumpama, wanita yang dikhitbah mengatakan kepada junjungan-laki yang mengkhitbah, “Zawwaztuka nafsî
(Aku menjodohkan engkau dengan diriku).” Lalu laki-laki yang mengkhitbah mengatakan, “Qabiltu
(Aku terima).” Atau sebaliknya. Sebagaimana ijab dan qabul boleh terjadi di antara dua pihak yang dikhitbah dan nan mengkhitbah secara sekaligus, juga sah peristiwa itu melalui dua orang duta dari keduanya, alias antara keseleo suatu dari keduanya dengan duta dari yang lain. Di dalam ijab itu disyaratkan harus menunggangi lafal
at-tazwîj wa al-inkâh
(mengawinkan dan menikahkan). Sebaliknya, hal itu tidak disyaratkan internal  qabul. Sekadar, di internal qabul itu disyaratkan adanya keridhaan pihak tak itu terhadap penawaran ini dengan lafal yang mendedahkan keridhaan dan penerimaan atas perkawinan tersebut. Ijab dan qabul itu harus memperalat lafal terlampau (lafzhu al-mâdhi), seperti
zawwajtu
(aku kawinkan) dan
qabiltu
(aku terima), atau salah satu menggunakan lafal dulu (mâdhi)
dan nan tak dengan lafal mendatang (al-mustaqbal). Sebab perkawinan adalah akad. Di dalamnya harus digunakan lafal yang kuak ketetapan yaitu lafal
al-mâdhi…” Selesai.

Kedua, supaya jawabannya menjadi jelas. saya menyebutkan perkara-perkara berikut:

Akad di dalam Islam wajib dengan lafal penawaran dan qabul yang membagi faedah pada kelanggengan (ats-tsubût) dan keterikatan (al-iltizâm) pada kedua pihak yang berakad.

Lafal yang memberi faedah nan demikian adalah sidang pengarang sangat (shighat al-mâdhi). Jika Anda bersabda, “Qâma fulân[un]
(Fulan telah menggermang),” maka berdiri itu telah terjadi dan harus telah terjadi.

Adapun sidang pengarang
al-mudhâri’
tidak memberi faedah telah sempurnanya terjadi sesuatu, tetapi mulai terjadinya saat itu atau mendatang. Kejadian itu karena sidang pengarang
al-mudhâri’
memberi faedah
al-hâl
(kini) dan
al-istiqbâl
(akan datang). Jika Anda berkata, “Yaqûmu fulân[un],”
maka berdiri itu belum terjadi secara sempurna; adakalanya beliau mulai berdiri dan belum berdiri kadang-kadang atau dia bersiap-siap untuk berdiri dan belum berdiri adakalanya. Kalau timbrung lambang bunyi
as-sîn
dan
sawfa
terhadap
al-mudhâri’
maka sudah lalu menentukan makna
al-mustaqbal
(akan menclok).

Sidang pengarang perintah juga terdaftar privat
al-mustaqbal
(esok). Jika Anda berkata,
“Qum yâ fulân[an]
(Berdirilah, hai fulan,” maka jelas bahwa ia belum berdiri. Karena itu pakar bahasa mengatakan adapun perintah
“yatamahadha li al-istiqbâl
(salih untuk masa akan nomplok).

Sidang pengarang-sidang pengarang dan konotasinya ini tersurat di dalam peruasan bahasa…

Di privat
Syarh
al-Ustadz Abdul Karim al-Hidhir bikin Ajurumiyah karya Ibnu Ajurrum, Muhammad ash-Shanhaji Serbuk Abdillah (w.723 H) menyatakan, “Dinyatakan di intern
matan: “Al-Kalâm
yaitu lafal nan disusun yang memberi faedah dalam bahasa Arab. Jenisnya cak semau tiga:
ism[un],
fi’l[un]
dan
harf[un]
datang untuk suatu makna). Kemudian dinyatakan di n domestik
syarh:
Al-Ism
adalah prolog yang menunjukkan makna yang tidak terkait dengan waktu.
Al-fi’l
merupakan introduksi nan menunjukkan makna atau kejadian yang tercalit dengan waktu. Jika waktu itu telah berpulang maka disebut
al-mâdhi. Jikalau madya terjadi maupun akan hinggap maka disebut
al-mudhâri’. Jika zakiah untuk tulat maka itu
al-amr
(perintah). Adapun
al-harf
(abc) tidak jelas maknanya kecuali dengan yang lainnya…”

Ketiga,
sesuai dengan makna redaksi
fi’l
yang disebutkan di atas dan penerapannya dalam akad, khususnya akad ijab nikah dan itu yang menjadi topik pertanyaan, maka menjadi jelas hal-kejadian berikut:

  1. Akad kerumahtanggaan Islam itu menuntut ketetapan (ats-tsubût) dan ketertarikan (al-iltizâm) bagi kedua pihak nan berakad dan ini ada internal
    fi’l mâdhi
    sama dengan yang kami sebutkan. Karena itu akad pernikahan terakadkan dengan ijab dan qabul dengan menggunakan lafal
    al-mâdhi. Seperti si bapak mengatakan, “Zawwajtuka ibnati
    (Aku mengawinkan kamu dengan putriku).” Lalu (nomine) suami mengatakan, “Qabiltu zawâjuhâ
    (aku menerima akad nikah dengan beliau.” Dengan begitu pernikahan itu terakadkan.
  2. Pernikahan tidak terakadkan dengan ijab dan qabul yang menggunakan lafal
    al-mudhâri’
    yang dikaitkan dengan huruf
    as-sîn
    atau
    sawfa. Pasalnya, pengertian
    al-mudhâri’
    intern kondisi ini, begitu juga yang kami katakana, “bukan waktu ini, semata-mata itu menyerupai komitmen di masa nomplok” Keadaan itu tidak memberi keefektifan kelestarian dan keterikatan. Dengan begitu akad pernikahan itu tidak terakadkan. Jika sang bapak berkata, “Sa uzawwijuka ibnati
    (Aku akan mengijabkan dia dengan putriku.” Dulu lelaki itu bersabda, “Sa atazawwajuhâ
    (Saya akan menikahi dia).” Dengan ini ijab nikah tersebut tidak terakadkan.
  3. Kalau penawaran dan qabul menunggangi lafal
    al-mudhâri’
    yang copot dari
    as-sîn
    dan
    sawfa
    alias dengan lafal
    al-amru
    (perintah), maka berdasarkan apa nan kami sebutkan—yakni
    al-mudhâri’
    digunakan pada waktu saat ini dan akan nomplok, demikian sekali lagi
    al-amru—maka itu murni lakukan waktu akan datng. Pengertian
    mendatang
    tidak membagi guna kelestarian dan afinitas. Itu menyerupai komitmen untuk sempurnanya topik tersebut di tahun mendatang. Dengan serupa itu, akad-akad yang tetap dan merintih, sama dengan pernikahan, enggak terakadkan dengan sidang pengarang
    al-mustaqbal
    (besok). Atas dasar itu,
    al-mudhâri’
    dan
    al-amr
    memerlukan
    qarînah
    yang memalingkannya ke hari sekarang dan menjauhkan kebolehjadian sempurnanya akad tersebut di masa mendatang, sahaja contoh di masa sekarang.
    Qarînah
    ini merupakan keberadaan salah satu dari kedua lafal—ijab alias  qabul—harus menunggangi lafal
    al-mâdhi. Misalnya: (a)  Penanggung jawab mengatakan kepada calon suami, “Ji`tuka li uzawwijaka ibnatî
    (Aku datang kepadamu kerjakan mengawinkan engkau dengan putriku).” Lalu calon suami itu menjawab, “Qabiltu zawwâjahâ
    (Aku menerima pernikhan dengan ia).” Ijab nikah demikian terakadkan. Memang, ijabnya dengan lafal
    al-mudhâri’, sementara
    al-mudhâri’
    itu di antara maknanya ialah periode masa ini dan akan hinggap, seperti yang telah kami jelaskan. Akan sekadar, qabulnya menunggangi lafal
    al-mâdhi. Di sini, hal itu menentukan maknanya, yakni sempurnanya akad saat ini, dan lain sebagai komitmen di perian mendatang. (b) Boleh pula wali mengatakan kepada favorit laki, “Tazawwaj ibnatî
    (Kawinilah putriku.” Lampau primadona junjungan berkata, “Qabiltu zawwâjahâ
    (Aku menerima ijab nikah dengan beliau.” Ijab nikah demikian juga terakadkan. Memang, penawaran menggunakan lafal perintah, temporer  perintah seperti yang dikatakan oleh ahli bahasa “salih bikin masa menclok”, sebagaimana juga telah kami jelaskan. Namun, qabulnya menggunakan lafal
    al-mâdhi
    (lampau). Hal demikian menentukan makna sempurnanya akad sreg musim sekarang dan bukan misal komitmen di perian mendatang.

Keempat, inilah makna yang dinyatakan di intern
An-Nizhâm al-Ijtimâ’i: Ijab dan qabul itu harus menggunakan lafal lampau, seperti, “Zawwajtuka
(Aku membaurkan kamu),” dan, “Qabiltu
(Aku terima).” Dapat juga pelecok satunya dengan lafal
al-mâdhi
(lampau) dan yang lain dengan lafal
al-mustaqbal
(mendatang). Sebab ijab nikah ialah akad. Di dalamnya harus diguakan lafal nan mengabarkan kekekalan perkara dan itu adalah lafal
mâdhi
(lampau).” Artinya, sekiranya keduanya—baik ijab dan qabul—tidak menggunakan lafal
al-mâdhi
(suntuk), tetapi menunggangi
al-mudhâri’
dan
al-amru
(perintah) dalam salah satunya, maka yang kedua haruslah dengan lafal
al-mâdhi. Sebab ijab nikah adalah akad. Di dalamnya harus digunakan lafal yang menunjukkan ketetapan, yaitu
al-mâdhi
(lafal lampau).

Saya berharap dalam jawaban ini suka-suka kecukupan, wallâh a’lam wa ahkam.

Kelima,
dan bikin lebih menambah kebaikan maka saya sebutkan beberapa kejadian seputar topik tersebut menurut sejumlah fukaha:

1-         Dinyatakan di dalam
Al-Hidâyah fî Syarhi Bidâyah al-Mubtadî
(hlm. 185) dari fikih Hanafi karya Ali al-Farghani Abu al-Hasan Burhanuddin (w. 593 H) privat pintu “An-Nikâh”:

Beliau berkata:
Ijab kabul terakadkan dengan penawaran dan qabul menunggangi lafal yang keduanya mengungkapkan masa lampau (al-mâdhi)…lagi terakadkan dengan lafal yang salah satunya kuak
al-mâdhi
dan yang lain
al-mustaqbal. Misalnya beliau mengatakan, “Zawwijnî
(Kawinkan aku)…” Silam pihak lain mengatakan, “Zawwajtuka
(Aku mengawinkan dia…”

2-
        Di dalam
Al-Hâwî al-Kabîr
(IX/162) dalam fikih Syafii yang adalah
syarh
Mukhtashar al-Muzani
karya Abu al-Hasan Ali yang terkenal dengan al-Mawardi (w. 450 H) seputar tak terakadkannya pernikahan dengan memperalat
al-mustaqbal
dalam penawaran dan qabul:

Pasal: Adapun akad dengan lafal
al-mustaqbal, misalnya wali mengatakan, “Uzawwijuka binti
(Aku akan menjodohkan engkau dengan putriku).” Silam (favorit) suami mengatakan, “Atazawwajuhâ
(Aku akan mengawini dia.” Akad demikian enggak sah dengan bacot wali itu dan bukan pula dengan ucapan (unggulan) suami itu. Sebab, ucapan masing-masing dari keduanya yaitu komitmen dengan akad, bukanlah akad.  Seandainya (calon) suami memulai, dia berujar kepada wali, “Atazawwaju bintaka
(Aku akan mengawini putrimu)…” Habis pengampu berkata, “Uzawwijukahâ
(Aku akan mengawinkan beliau)…” Akad demikian lagi lain sah dengan ucapan riuk seorang semenjak keduanya. Sebab ucapan masing-masing semenjak keduanya itu merupakan komitmen atas akad dan bukanlah akad.

3-
        Dinyatakan di dalam
Minhâj ath-Thâlibîn wa ‘Umdah al-Muftîn fî al-Fiqhi
karya Abu Zakariya Muhyiddin kedelai Syaraf an-Nawawi (w. 676 H) halaman 205:

Lain lain ijab nikah itu sah dengan ijab—yaitu
zawwajtuka
(aku sudah lalu mengawinkan engkau) ataupun
ankahtuka
(aku sudah lalu mempertemukan beliau)—dan qabul dengan laki mengatakan
tazawwajtu
(telah aku kawini) ataupun
ankahtu
(telah aku nikahi)”, atau
qabiltu nikâhahâ
(telah aku terima nikahnya) atau
qabiltu tazwîjahâ
(telah aku terima kawinnya). Sah pula didahulukan lafal suami atas pengasuh dan tak legal kecuali dengan lafal
at-tazwîj
ataupun
an-inkâh…Perumpamaan dia mengomong, “Zawwijnî
(Kawinkan aku).” Dahulu dia bercakap, “Zawwajtuka
(Aku telah kawinkan dia),” atau wali merenjeng lidah, “Tazawwajhâ
(Kawinilah kamu),” lalu suami berkata, “Tazawwajtu
(Sudah aku kawini),” maka akadnya sah. Selesai.

Saya pun menyebutkan beberapa syarh Al-Minhâj:

a- Dinyatakan di dalam
Mughni al-Muhtâj ilâ Ma’rifati Alfâzhi al-Minhâj
karya Syamsuddin Muhammad al-Khathib asy-Syarbini asy-Syafii w. 977 H (XII/99):

(Andai dia berkata), yakni laki-laki yang mengkhitbah kepada wali, “Zawwijnî
(kawinkan aku dengan)
bintaka
(putrimu) dst,” (lalu dia berkata), yakni wali kepada laki-laki itu, “Zawwajtuka
(mutakadim aku kawinkan sira),” dst (atau wali berkata) kepada laki-laki yang mengkhitbah, “Tazawwajhâ
(Kawinilah dia) yakni putriku,” dst (tinggal dia merenjeng lidah), yakni laki-laki yang mengkhitbah, “Tazawwajtu
(Mutakadim aku kawini),” dst maka akad pernikahan dalam dua komplikasi tersebut lazim.

b- Dinyatakan di internal
Nihâyatu al-Muhtâj ilâ Syarhi al-Minhâj
karya Syamsuddin bin Hamzah Syihabuddin ar-Ramli w. 1004 H (VI/213):

(Andai) (dia) unggulan suami berkata kepada wali, “Zawwijnî bintaka
(Kawinkanlah aku dengan putrimu).” Suntuk wali berkata, “Zawwajtuka
(Telah aku kawinkan dia), yakni dengan putriku,” dst; (alias) (wali berkata) kepada primadona suami, “Tazawwajhâ
(Kawinilah engkau), yakni putriku,” (lewat dia berujar), adalah nomine suami, “Tazawwajtu
(Telah aku kawini) engkau,” dst maka (lumrah) ijab kabul tersebut dalam keduanya karena segala yang disebutkan lakukan mengklaim kepastian (jâzim) yang menunjukkan atas keridhaan.

4-
        Dinyatakan di privat
Al-Mawsû’ah al-Fiqhiyah al-Kuwaytiyyah
(XL/238):

Konotasi (dalâlah) redaksi atas waktu dan pengaruhnya dalam akad:

–           Para fukaha berpendapat bahwa ijab nikah terakadkan dengan ijab dan qabul menggunakan redaksi lampau. Laksana: penanggung jawab berbicara kepada unggulan suami, “Zawwajtuka ibnatî
(Mutakadim kau kawinkan engkau dengan putriku),” ataupun, “Ankahtuka.”
Lalu nomine suami berkata, “Qabiltu nikâhahâ
(Sudah lalu aku  terima koneksi dengan dia).”

Pernikahan juga terakadkan dengan ijab memperalat redaksi perintah sama dengan mulut pengampu kepada primadona laki, “Tazawwaj ibnatî
(Kawinilah putriku).” Lalu calon suami berbicara, “Tazawwajtuhâ
(Telah aku kawini dia).” (Nihâyah al-Muhtâj).

5-         Dinyatakan di dalam
Al-Fiqhu al-Islâmî wa Adillatuhu
karya Wahbah az-Zuhayliy (IX/6528):

Pendek kaji: Pernikahan tak terakadkan, menurut Syafiiyah, kecuali dengan redaksi
al-mâdhi, dan dengan topik
az-zawâj
dan
an-nikâh. Menurut Malikiyah dan Hanafiyah, akad nikah terakadkan dengan redaksi lampau (al-mâdhi),
al-mudhâri’
dan
al-amr
(perintah) jika
qarînah
atau konotasi keadaan (dalâlatu al-hâl) menunjukkan bahwa itu bagi ijab, tak buat komitmen (al-wa’du).

Tidak disyaratkan, menurut jumhur selain Hanbali, didahulukannya ijab terhadap qabul, tetapi disunahkan. Dengan wali mengatakan, “Zawwajtuka iyyâha
(Aku telah mengawinkan engkau dengan anda),” alias, “Ankahtuka
(Aku mutakadim menikahkan engkau.” Hanbali mengatakan, jika qabul didahulukan terhadap ijab, maka lain sah, baik dengan lafal lampau (al-mâdhi) “tazawwajtu
(telah aku kawini)” maupun dengan lafal petisi “zawijnî
(kawinkanlah aku)”.

Saya menyebutkan beberapa perkara di atas untuk menambah faedah, insya Halikuljabbar.

Saudaramu:

Atha’ bin Khalil Bubuk ar-Rasytah

6 Shafar al-Khayr 1440 H

15 Oktober 2022 M

tahrir.info/ar/index.php/ameer/jurisprudence-questions/55590.html

https://www.facebook.com/AmeerhtAtabinKhalil/photos/pb.122848424578904.-2207520000.1539608180./928067817390290/?type=3&theater&_rdc=1&_rdr

https://plus.google.com/100431756357007517653/posts/TiinqXRC7DN

http://archive.hizb-ut-tahrir.info/arabic/index.php/HTAmeer

Source: https://al-waie.id/fikih/seputar-ijab-qabul-dalam-akad-nikah/