Surat Yang Menjelaskan Tentang Toleransi


Toleransi

n domestik bahasa Arab dikenal dengan istilah
tasamuh.
Secara bahasa ketenangan berarti timbang rasa. Secara istilah, toleransi ialah sikap menghargai dan menghormati perbedaan antarsesama turunan. Allah Swt. menciptakan manusia berbeda suatu sama lain. Perbedaan tersebut bisa menjadi kemustajaban seandainya dipandang secara nyata. Sebaliknya, perbedaan bisa memicu konflik jikalau dipandang secara subversif.

Toleransi antar umat beragama telah diajarkan dan dicontohkan maka dari itu Rasulullah Saw kepada para shahabat dan seluruh umat-Nya. Misalnya pada waktu selesai peranga badar, pasukan mukminat mutakadim berbuntut meringkukkan angkatan kafir, banyak para shahabat yang menginginkan tawanan tersebut dibunuh, namun kebijakan Rasulullah Saw farik, justru Rasulullah Saw meminang hendaknya tahanan-tawanan perang itu dibebaskan.

1. Al-Qur’an Inskripsi Al-Kaafirun Ayat 1-6

قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ . لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ . وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ . وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَا عَبَدْتُمْ . وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ . لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ

Artinya :
“Katakanlah ( Muhammad), “ Wahai orang-khalayak kufur !

aku tidak akan menyembah apa yang kamu puja,

dan kamu bukan penyembah apa yang aku hormat,

dan aku tidak kekeluargaan menjadi penyembah apa nan kamu puja,

dan kamu tidak perhubungan (pula) menjadi penyembah segala yang aku sembah,

untukmu agamamu, dan untukku agamaku.”
(
QS. Al Kaafirun  : 1 – 6)

Kandungan Al-Qur’an Inskripsi Al-Kaafirun.




1. Pegasan kepercayaan alias keyakinan bahwa Sang pencipta yang disembah maka dari itu Nabi Muhammad Saw dan umat Islam itu berbeda dengan Halikuljabbar yang disembah makanya orang-basyar kafir.

2. Allah Swt menyuruh kepada Nabi Muhammad Saw dan umat Islam untuk tak merancukan ajudan kepada Almalik Swt dengan pendamping kemusyrikan yaitu sesembahan selain Tuhan Swt.

3. Ketegasan penolakan Nabi Muhammad saw bakal tidak membaurkan keyakinan kepada Allah Swt dengan keimanan dan peribadatan yang diajarkan oleh sosok-sosok kafir.

Penjelasan
Qur’an Surat Al Kaafirun terdiri atas 6 ayat, termaktub golongan surat-surat Makiyyah. Dinamai
“ Al Kaafirun”
( turunan-orang kafir), diambil mulai sejak perkataan “Al Kaafiruun” yang terdapat puas ayat purwa sertifikat ini.

Asbabun nuzul  (meres belakang turunnya) sertifikat Al Kaafirun merupakan momen para petinggi kafir Quraisy terdiri atas Walid Al Mughirah, Aswad bin Abdul Muthallib, dan Umayyah bin Khalaf datang kepada Rasulullah Saw, menawarkan kompromi menyangkut pelaksanaan wahyu agama secara sekalian. Usulnya, agar Nabi Muhammad saw beserta umatnya mengikuti ajun mereka dan merekapun akan menirukan ajaran Selam.

Mereka berkata
“ selama setahun kami akan menyembah Tuhanmu dan sepanjang setahun juga kamu harus menyembah Almalik kami. Bila agamamu benar kami mendapatkan keuntungan karena bisa menyembah Tuhanmu dan  jika agama kami ter-hormat, kamupun memperoleh keuntungan.”

Mendengar proposal tersebut Nabi Muhammad Saw menjawab dengan tegas,
“aku berlindung kepada Allah Swt mulai sejak perbuatan menyekutukan-Nya.”
Maka turunlah ayat inskripsi Al Kaafirun tersebut yang kemudian dibacakannya.

Alas kata kufur berasal mulai sejak kata kufur, artinya menutupi kebenaran, menumbuk kebenaran yang sudah lalu diketahui, dan enggak berlega hati. Perkenalan awal kafir disebutkan dalam Al Qur’an sebanyak 525 kali semuanya mengacu kepada perbuatan mengingkari Allah Swt, mengingkari nikmat-nikmat Halikuljabbar swt, membangkang hukum-hukum Allah Swt, dan meninggalkan darmabakti saleh yang diperintahkan Allah Swt.

2. Al-Qur’an Surat Al-Kahfi Ayat 29.





وَقُلِ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكُمْ ۖ فَمَنْ شَاءَ فَلْيُؤْمِنْ وَمَنْ شَاءَ فَلْيَكْفُرْ ۚ إِنَّا أَعْتَدْنَا لِلظَّالِمِينَ نَارًا أَحَاطَ بِهِمْ سُرَادِقُهَا ۚ وَإِنْ يَسْتَغِيثُوا يُغَاثُوا بِمَاءٍ كَالْمُهْلِ يَشْوِي الْوُجُوهَ ۚ بِئْسَ الشَّرَابُ وَسَاءَتْ مُرْتَفَقًا

“Dan katakanlah (Muhammad),  “Validitas itu datingnya dari Tuhanmu; dan barangsiapa memaksudkan (beriman) hendaklah dia berketentuan, dan dagangan barangkali memaksudkan (ateis) biarlah dia kafir.” Sebenarnya Kami telah menyediakan neraka bagi orang zalim, yang gejolaknya mengepung mereka. Jika mereka meminang sambung tangan (meneguk), mereka akan diberi air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan paras. (Itulah) minuman nan paling buruk dan panggung istirahat nan minimum jelek.”(QS. Al;-Kahfi : 29)




Kandungan Ayat Surat Al-Kahfi Ayat 29.




1. Keabsahan itu datangnya bermula Halikuljabbar Swt, padahal yang salah datangnya berpunca selain Allah Swt.

2. Cucu adam itu netral memilih untuk menentukan saringan apakah ia mau beriman atau ingkar kepada Yang mahakuasa Swt (ateis).

3. Pilihan manusia akan mengandung konsekuensi kehidupan di akherat. Buat individu nan menganut agama yang ter-hormat (Islam) maka Allah Swt akan menyediakan balasan kedewaan. Sebaliknnya orang nan berbuat zalim dan kafir akan dimasukkan ke dalam api neraka.

Penjelasan Ayat.

Qur’an Surat Al Kahfi yakni salinan yang ke 18 terdiri atas 110 ayat, terjadwal golongan ayat Makiyyah. Dinamai “Al Kahfi” artinya
“Gua”

dan
“ashhabul Kahfi”
artinya:
“ penghuni-penghuni gua”.

Kedua nama ini diambil dari kisahan yang terletak dalam surat ini pada ayat 9 sampai dengan 26, tentang beberapa basyar pemuda yang tidur dalam lubang bertahun-tahun lamanya. Selain cerita tersebut, terwalak pula beberapa biji zakar kisah privat surat ini yang kesemuanya mengandung I’tibar dan latihan nan amat berguna buat kehidupan manusia. Pada rekaman manusia nan dilukiskan dalam ayat tersebut Allah menunjukkan Kemaha Kuasaan Halikuljabbar terhadap apa yang terjadi di alam ini.

Kerumahtanggaan ajaran Selam melarang penganutnya memaksa orang bukan untuk ikut Islam.Umat Selam diharuskan tegas kepada keyakinan aqidahnya, namun didorong bakal bersikap dan berkarakter toleran terhadap umat agama bukan (non Islam), diharapkan dapat bekerjasama nan berkaitan dengan muamalah  sehingga bertunas kedamaian dan kerukunan antar umat beragama.

3. Al-Qur’an Sahifah Yunus Ayat 40-41.

وَمِنْهُمْ مَنْ يُؤْمِنُ بِهِ وَمِنْهُمْ مَنْ لَا يُؤْمِنُ بِهِ ۚ وَرَبُّكَ أَعْلَمُ بِالْمُفْسِدِينَ . وَإِنْ كَذَّبُوكَ فَقُلْ لِي عَمَلِي وَلَكُمْ عَمَلُكُمْ ۖ أَنْتُمْ بَرِيئُونَ مِمَّا أَعْمَلُ وَأَنَا بَرِيءٌ مِمَّا تَعْمَلُونَ

Artinya :
“Dan di antara mereka ada orang-manusia nan beriman kepadanya (Al Qur’an), dan diantaranya ada (pula) ada orang-turunan yang tidak berkepastian kepadanya. Sedangkan Tuhanmu lebih mengetahui tentang orang-anak adam nan berbuat kerusakan.




Dan kalau mereka (teguh) mendustakanmu ( Muhammad), maka katakanlah, “ bagiku pekerjaanku dan bagimu pekerjaanmu. Ia tidak bertanggung jawab terhadap segala yang aku bikin dan aku pun tidak pertanggung jawab terhadap apa nan kamu kerjakan.”

 (
QS. Yunus, 10 : 40 – 41)

Kandungan Al-Qur’an Surat Yunus Ayat 40-41.

1. Sikap alias pandangan manusia sesudah Nabi Muhammad Saw diutus sebagai Rasul dan mengangkut kitab suci Al Qur’an, terserah golongan manusia yang mengimaninya dan suka-suka golongan yang tidak mengimaninya.

2. Allah Swt Maha Memahami sikap dan perilaku khalayak-orang nan taqwa yang senantiasa berbuat kebaikan (muhsinin) dan orang-orang kafir yang berbuat kerusakan dimuka bumi (mufsidin) .

3. Misal orang yang beriktikad wajib mengajak kepada manusia ke jalan nan bersusila sesuai dengan ajaran Al Qur’an. Jikalau mereka berkeras hati pada pendiriannya maka kita bukan bisa memaksanya, bagiku pekerjaanku dan bagimu pekerjaanmu. Seseorang tidak akan memikul dosa orang enggak, saja per akan memikiul dosanya sendiri-sendiri ( QS. Saba, 34 : 25)

Penjelasan Ayat.

Qur’an Sahifah Yunus yakni piagam yang ke 10 terdiri atas 109 ayat, termuat surat-piagam Makiyyah kecuali ayat 40,94,95 yang diturunkan di Madinah. Dinamai
“pertinggal Yunus”
karena dalam surat ini ditampilkan cerita Nabi Yunus a.s. dan pengikut-pengikutnya yang konstan imannya.

Umat manusia selepas diutusnya Rasul Muhammad Saw sebagai Nabi Sang pencipta Swt nan keladak terbagi menjadi dua golongan. Terserah golongan nan menasdikkan terhadap kerasulan Nabi Muhammad serta mengimani kebeneran Al Quran, tapi juga ada golongan yang mendustakan kebenaran kerasulan Rasul Muhammad Saw dan mengingkari Al Qur’an. Allah Swt memberikan penghormatan bagi yang mengimaninya diberikan hak timbrung surga. Tetapi sebaliknya cak bagi orang yang mengingkarinya diberikan haknya di neraka.

Bagi anak adam nan mutakadim beriktikad ( umat Islam ) harus berpendirian teguh terhadap kebenaran yang telah diyakininya bahwa nabi Muhammad adalah rosul yang diutus Allah Swt yang terakhir, tak ada rasul sesudahnya. Dan optimistis bahwa Alqur’an merupakan kitab zakiah yang benar, umat Islam harus menjadikannya sebagi  pedoman hidup sampai pengunci zaman. Dan umat Islam harus yakin bahwa segala-segala apa yang datangnya dari Al Qur;an dan sunah Utusan tuhan merupakan  benar tidak ada syak wasangka sedikitpun kepada keduanya.

Ayat tersebut juga menyemboyankan kepada umat Islam apabila suka-suka hamba allah yang berbeda sikap dan penglihatan dengan kita, dimana sikap dan pandangan makhluk tersebut  menurut kita salah, kita teristiadat mengajaknya agar pula kepada kebenaran sebagaimana yang tertulis dalam Al Qur’an. Namun apabila mereka berdeging terhadap pendiriannya maka kita bukan bisa memaksanya. Setiap turunan akan bertanggung jawab segala yang diperbuatnya besuk di akherat ketika  kita condong Allah Swt.

Demikianlah sahabat referensi madani ayat-ayat Al-Qur’an tentang anjuran toleransi. Kiranya kesabaran cinta bisa kita jaga.

Source: https://www.bacaanmadani.com/2017/08/ayat-ayat-al-quran-tentang-anjuran.html

Posted by: gamadelic.com