Surah Al Kahfi Dan Terjemahan

Pecihitam.org
– Kandungan Surah Al-Kahfi Ayat 60-65 ini, Tuhan mengobrolkan bahwa setelah Nabi Musa dan Yusya mencecah pertemuan dua laut, mereka nangkring, tetapi bukan tahu bahwa tempat itulah yang harus dituju. dikisahkan bahwa pasca- Nabi Musa dan Yusya menelusuri kembali jalan yang dilalui tadi, mereka sampai plong batu yang kekeluargaan dijadikan tempat beristirahat.


Pecihitam.org, dapat Istiqomah babaran artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan pencatat dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Beliau dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan masuk menyebarkan artikel ini ke parit-kanal sosial media engkau atau lebih lagi kamu bisa ikut Berdonasi.



DONASI SEKARANG

Di palagan itu, mereka bertumbuk dengan seseorang nan berselimut reja putih bersih. Orang ini disebut Khidir, madya etiket aslinya ialah Balya bin Mulkan. Ia digelari dengan tanda Khidir karena dia duduk di satu tempat yang putih, sedangkan di belakangnya terdapat tanaman menghijau.

Allah swt juga mengistilahkan bahwa Khidir itu ialah orang yang mendapat ilmu sedarun bersumber Halikuljabbar. Ilmu itu tidak diberikan kepada Nabi Musa, sebagaimana juga Allah telah menganugerahkan guna-guna kepada Nabi Musa nan tak diberikan kepada Khidir.

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Kahfi ayat 60-65

Surah Al-Kahfi Ayat 60
وَإِذْ قَالَ مُوسَى لِفَتَاهُ لَا أَبْرَحُ حَتَّى أَبْلُغَ مَجْمَعَ الْبَحْرَيْنِ أَوْ أَمْضِيَ حُقُبًا

Parafrase: Dan (ingatlah) momen Musa berkata kepada muridnya: “Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum mencapai perjumpaan dua buah lautan; alias aku akan melanglang sampai bertahun-tahun”.

Adverbia Jalalain:
وَإِذْ

(Dan) ingatlah
قَالَ مُوسَى

(ketika Musa berkata) Nabi Musa yakni anak laki-laki Imran
لِفَتَاهُ
(kepada muridnya) yang bernama Yusya kacang Nun; ia belalah mengikutinya dan menjadi pelayannya serta mengambil ilmu daripadanya,
لَا أَبْرَحُ
(“Aku tidak akan mengetem) artinya, aku akan terus melanglang

حَتَّى أَبْلُغَ مَجْمَعَ الْبَحْرَيْنِ
(sebelum hingga ke pertemuan dua biji kemaluan lautan) tempat bertemunya Laut Romawi dan laut Persia dari sebelah Timurnya; ialah arena bertemunya kedua lautan tersebut
أَوْ أَمْضِيَ حُقُبًا
(ataupun aku akan bepergian sampai bertahun-tahun)” sejauh bertahun-tahun cak bagi mencapainya sekalipun jauh.

Tafsir Bani Katsir: Sebab tuturan Musa as. kepada pemuda yang bersamanya, yaitu Yusya’ kacang Nun tersebut ialah bahwa anda memberitahukan kepadanya bahwa (ada) seorang hamba Almalik di tempat perjumpaan dua Laut, dia memiliki ilmu embaran yang tidak dikuasai makanya Musa.

Maka Musa kembali jatuh cinta untuk pergi ke arena itu. Dan anda bersabda kepada perjaka tersebut:
لَا أَبْرَحُ
(“Aku tidak akan berhenti berjalan,”) maksudnya aku akan terus berjalan,
حَتَّى أَبْلُغَ مَجْمَعَ الْبَحْرَيْنِ

(“Sebelum hingga ke perjumpaan dua buah lautan.”) Maksudnya, panggung itulah yang merupakan panggung persuaan dua buah samudra.

Qatadah dan bilang ulama lainnya mengatakan: “Kedua laut itu yaitu laut Persia yang dekat dengan Masyriq dan Laut Romawi yang berdekatan dengan Maghrib.” Muhammad kacang Ka’ab al-Qurazhi mengatakan: “Pertemuan dua laut itu terletak di Thanjah, yakni di ujung kawasan Maroko. Wallahu a’lam.

Firman-Nya:
أَوْ أَمْضِيَ حُقُبًا
( “Atau aku akan melanglang sampai bertahun-tahun.”) Maksudnya, sungguhpun aku harus berjalan bertahun-tahun. Ibnu Jarir menceritakan, sebagian ahli bahasa Arab menyebutkan, menurut bahasa Qais, kata huqub berarti satu hari. Dan diriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Amr, bahwasanya anda pernah berkata: “Huqub itu berharga delapan puluh masa.”

Tafsir Kemenag: Dalam ayat ini, Allah menceritakan sungguh gigihnya tekad Nabi Musa a.s. untuk hingga ke tempat bertemunya dua laut. Berapa tahun dan sampai pron bila pun perjalanan itu harus ditempuh, enggak menjadi tanya baginya, asal ajang itu ditemukan dan yang dicari didapatkan.

Penyebab Nabi Musa a.s. sedemikian itu gigih bakal mencari tempat itu adalah beliau mendapat teguran dan perintah dari Allah, seperti nan diriwayatkan dalam sabda yang antara enggak berbunyi sebagai berikut:

Bahwasanya Musa a.s. (plong suatu hari) berkhutbah di hadapan Bani Israil. Kemudian ada anak adam bertanya kepada sira, “Siapakah manusia nan paling kecil alim.” Beliau menjawab, “Aku.”

Maka Allah menegurnya karena dia tidak mengembalikan aji-aji itu kepada Sang pencipta Taala. Kemudian Allah mewahyukan kepadanya, “Aku mempunyai koteng hamba di bekas perjumpaan dua laut yang makin saleh daripadamu.” (Riwayat al-Bukhari terbit Ubay bin Ka’ab)

Dalam wahyu tersebut, Allah menyuruh Nabi Musa agar pergok orang itu dengan membawa seekor iwak dalam kampil (keranjang), dan dimana doang ikan itu lepas dan hilang di situlah orang itu ditemukan. Adv amat Musa a.s. pergi mendapati bani adam yang disebutkan itu, dan dalam hadis lain diterangkan di mana tempatnya.

Demikianlah kebulatan tekad yang dimiliki maka itu seorang yang berhati erat dengan Tuhannya. Dengan tangkas dan giat, dia melaksanakan seruan-Nya.

Surah Al-Kahfi ayat 61
فَلَمَّا بَلَغَا مَجْمَعَ بَيْنِهِمَا نَسِيَا حُوتَهُمَا فَاتَّخَذَ سَبِيلَهُ فِي الْبَحْرِ سَرَبًا

Terjemahan: Maka tatkala mereka mengaras persuaan dua buah laut itu, mereka lalai akan ikannya, lampau ikan itu melompat mengambil jalannya ke laut itu.

Tafsir Jalalain:
فَلَمَّا بَلَغَا مَجْمَعَ بَيْنِهِمَا
(Maka tatkala keduanya mencecah pertemuan dua biji pelir laut itu) yakni bekas bertemunya kedua laut itu
نَسِيَا حُوتَهُمَا
(mereka berdua lupa akan ikannya) Yusya’ lupa membawanya detik berangkat, Nabi Musa kembali lupa mengingatkannya
فَاتَّخَذَ
(maka ia mencuil) adalah ikan itu melompat cak bagi mencuil
سَبِيلَهُ فِي الْبَحْرِ
(jalannya ke laut itu) Allahlah nan menjadikan jalan itu, ialah dengan menjadikan baginya

سَرَبًا
(internal keadaan bertembuk) sebagai halnya terowongan bekasnya, yaitu terowongan yang dulu panjang dan lain berujung. Demikian itu karena Tuhan swt. hadang arus air demi cak bagi ikan itu, terlampau masuklah ikan itu ke dalamnya dengan pergi bekas seperti lubang dan lain terhapus karena bekasnya membeku.

Kata tambahan Ibnu Katsir: Firman-Nya:
فَلَمَّا بَلَغَا مَجْمَعَ بَيْنِهِمَا نَسِيَا حُوتَهُمَا

(“Maka ketika mereka sebatas kepertemuan dua buah Laut itu, mereka lalai akan ikannya.”) Hal itu karena Musa telah diperintahkan untuk membawa ikan yang mutakadim diasini. Dan dikatakan kepadanya: “Pron bila kamu kekeringan ikan itu, maka di sanalah orang yang sakti itu berada.”

Kemudian keduanya berjalan hingga akhirnya keduanya setakat di tempat pertemuan dua laut. Dan di sana terdapat mata air yang bernama mata air kehidupan. Lalu keduanya tidur di sana, kemudian ikannya itu rantus percikan air hingga akhirnya iwak itu tergoyahkan, nan ketika itu ikan tersebut mampu internal lambak bersama Yusya’.

Kemudian ikan tersebut loncat dan masuk ke laut. Maka Yusya’ terbangun saat ikan itu sudah lalu lompat ke laut. Lalu ikan itu berjalan di dalam air. Air menjadi seperti lingkaran nan tidak bercampur setelah adanya ikan itu.

Oleh karena itu, Tuhan Ta’ala berfirman:
فَاتَّخَذَ سَبِيلَهُ فِي الْبَحْرِ سَرَبًا

(“Suntuk ikan itu nocat mengambil jalannya ke laut tersebut.”) Adalah, seperti bayang-bayang di dunia. Ibnu Juraij menceritakan, Ibnu ‘Abbas mengatakan: “Bekas jejaknya seolah-olah menjadi batu.”

Tafsir kemenag: Dalam ayat ini, Allah menceritakan bahwa setelah Nabi Musa dan Yusya sampai ke pertemuan dua laut, mereka cak jongkok, tetapi tidak tahu bahwa tempat itulah yang harus dituju. Sebab, Almalik tidak memberi adv pernah dengan pasti tempat itu. Saja saja Allah memberi petunjuk ketika ditanya maka dari itu Utusan tuhan Musa sebelum berangkat, seperti mana perkataan nabi Nabi saw saat menceritakan cak bertanya Nabi Musa itu :

Ya Tuhanku, bagaimana saya dapat menemukannya? Allah berfirman, “Bawalah seekor ikan dan masukkan pada sebuah kampil, manakala ikan itu hilang, di situlah tempatnya.” (Riwayat al-Bukhari semenjak Ubay kacang Ka’ab)

Di atas sebuah provokasi lautan di tempat itu, Rasul Musa dan muridnya merasa mencium dan lelah. Keduanya sekali lagi terpejamkan dan lupa pada ikannya. Ketika itu, lauk yang ada dalam kampil tersebut hidup juga dan berkelejatan, lalu keluar dan meluncur menuju laut. Padahal kampil perian itu ada di tangan Yusya. Keadaan ini, yaitu iwak mati menjadi nyawa kembali, adalah mukjizat bikin Nabi Musa a.s..

Sehabis pulang ingatan tidur, mereka pun melanjutkan perjalanan. Yusya pun lupa enggak mengobrolkan kepada Rasul Musa kejadian yang aneh tentang iwak yang sudah ranah hidup sekali lagi.

Surah Al-Kahfi ayat 62
فَلَمَّا جَاوَزَا قَالَ لِفَتَاهُ آتِنَا غَدَاءَنَا لَقَدْ لَقِينَا مِن سَفَرِنَا هَذَا نَصَبًا

Terjemahan: Maka tatkala mereka berjalan seterusnya, berkatalah Musa kepada muridnya: “Bawalah kemari makanan kita; sesungguhnya kita mutakadim merasa letih karena perjalanan kita ini”.

Kata keterangan Jalalain:
فَلَمَّا جَاوَزَا
(Maka tatkala mereka berdua melangkaui) bekas itu dengan melanglang suku sampai dengan waktu makan siang, yaitu pada perian kedua Musa
قَالَ لِفَتَاهُ آتِنَا غَدَاءَنَا
(berkatalah kepada muridnya, “Bawalah ke mari makanan kita!) adalah makanan yang biasa dimakan pada siang hari, merupakan makan siang

لَقَدْ لَقِينَا مِن سَفَرِنَا هَذَا نَصَبًا
(sepatutnya ada kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini)” payah, nan hal ini baru mereka rasakan setelah berjalan jauh dari tempat itu.

Tafsir Ibnu Katsir: Firman-Nya:
فَلَمَّا جَاوَزَا
(“Maka saat mereka berjalan selanjutnya,”) yakni, tempat di mana keduanya lupa akan ikan tersebut. Tengung-tenging itu dinisbatkan kepada keduanya walaupun yang lupa adalah Yusya’. Hal itu seperti firman Allah Ta’ala: “Bermula keduanya keluar mutiara dan marjan.” (QS. Ar-Rahmaan: 22).

Menurut keseleo suatu dari dua pendapat, selayaknya ia keluar dari air asin. Ketika mereka empat mata berangkat pergi medan di mana keduanya menghapuskan lauk itu, maka Musa: قَالَ (“Berbicara”) kepada cowok itu:

آتِنَا غَدَاءَنَا لَقَدْ لَقِينَا مِن سَفَرِنَا هَذَا
(“Bawalah kemari nafkah kita, sesungguhnya karena perjalanan kita ini.”) Merupakan, pengembaraan yang mutakadim mereka lampaui berdua; نَصَبًا (“Kita telah merasa letih.”) Yaitu, payah.

Kata tambahan kemenag: Dalam ayat ini, Tuhan menceritakan bahwa keduanya terus melanjut-cerek perjalanannya siang dan malam. Utusan tuhan Musa sekali lagi merasa lapar dan bertutur kepada muridnya, “Bawalah kemari makanan kita, sesungguhnya kita telah merasa payah karena pelawatan ini.”

Perasaan lapar dan capek sesudah melampaui tempat pertemuan dua laut itu ternyata mengandung hikmah, yaitu mengembalikan ingatan Nabi Musa a.s. kepada ikan nan mereka gendong.

Internal ayat ini, Yang mahakuasa membeberkan betapa luhurnya budi pekerti Musa a.s. dalam bersikap kepada muridnya. Segala apa yang dibawa maka itu muridnya sebagai bekal itu merupakan milik bersama, bukan hanya properti sendiri. Sungguh halus perasaannya ketika menyadari bahwa erak dan lapar itu tidak sekadar dirasakan dirinya, semata-mata juga dirasakan orang lain.

Surah Al-Kahfi ayat 63
قَالَ أَرَأَيْتَ إِذْ أَوَيْنَا إِلَى الصَّخْرَةِ فَإِنِّي نَسِيتُ الْحُوتَ وَمَا أَنسَانِيهُ إِلَّا الشَّيْطَانُ أَنْ أَذْكُرَهُ وَاتَّخَذَ سَبِيلَهُ فِي الْبَحْرِ عَجَبًا

Terjemahan: Muridnya menjawab: “Tahukah beliau tatkala kita mengejar wadah berlindung di alai-belai tadi, maka sesungguhnya aku lupa (menceritakan tentang) ikan itu dan tidak adalah yang melupakan aku lakukan menceritakannya kecuali syaitan dan lauk itu mengambil jalannya ke laut dengan cara nan aneh sekali”.

Tafsir Jalalain:
قَالَ أَرَأَيْتَ
(Muridnya menjawab, “Tahukah sira) ingatkah kamu
إِذْ أَوَيْنَا إِلَى الصَّخْرَةِ
(tatkala kita mencari tempat berlindung di gangguan tadi) yakni di tempat tersebut
فَإِنِّي نَسِيتُ الْحُوتَ وَمَا أَنسَانِيهُ إِلَّا الشَّيْطَانُ

(maka sebenarnya aku lupa ikan itu dan tidak ialah yang menaksirkan aku kecuali setan) kemudian Dhamir Ha pada ayat ini dijelaskan oleh ayat berikutnya, yaitu

أَنْ أَذْكُرَهُ
(untuk mengingatnya) lafal ayat ini menjadi Perwakilan Isytimal, artinya setan sudah lalu melengahkan aku untuk mengingatnya
وَاتَّخَذَ

(dan engkau mencekit) yaitu ikan itu
سَبِيلَهُ فِي الْبَحْرِ عَجَبًا

(akan jalannya di laut dengan mandu yang aneh sekali.)” Lafal ‘Ajaban menjadi Maf’ul Tsani, artinya, Nabi Musa dan muridnya merasa heran terhadap perihal ikan itu sebagaimana nan telah disebutkan di atas tadi.

Kata keterangan Ibnu Katsir: Jejaka itu menjawab:
أَرَأَيْتَ إِذْ أَوَيْنَا إِلَى الصَّخْرَةِ فَإِنِّي نَسِيتُ الْحُوتَ وَمَا أَنسَانِيهُ إِلَّا الشَّيْطَانُ أَنْ أَذْكُرَهُ
(“Tahukah engkau ketika kita mencari tempat berlindung di batu tadi, maka sebenarnya aku sudah lalu lupa [menceritakan tentang] iwak itu dan lain ada yang menjadikan aku lalai untuk menceritakannya kecuali syaitan.”)

Qatadah berkata: “Ibnu Mas’ud mendaras: an adzkurakaHu (“mengingatkanmu tentangnya”).” Oleh karena itu, Yusya’ berkata:
وَاتَّخَذَ سَبِيلَهُ
(“Dan lauk itu cekut jalannya,”) yaitu jalannya di air;
فِي الْبَحْرِ عَجَبًا
( ke laut dengan cara nan aneh sekali”.)

Kata tambahan Kemenag: Dalam ayat ini, Yusya menjawab secara mustakim bahwa ketika mereka mengadem dan berlabuh di bisikan arena bertemunya dua laut, lauk itu telah atma kembali dan menggelepar-gelepar, lalu ikut ke laut dengan cara yang lalu menganehkan. Doang, dia lalai dan tidak menceritakan kepada Nabi Musa a.s. Kekhilafan ini bukan karena ia tidak berkewajiban, tetapi setan yang menyebabkannya.

Surah Al-Kahfi ayat 64
قَالَ ذَلِكَ مَا كُنَّا نَبْغِ فَارْتَدَّا عَلَى آثَارِهِمَا قَصَصًا

Terjemahan: Musa bertutur: “Itulah (panggung) yang kita cari”. Lalu keduanya kembali, mengikuti jejak mereka awal.

Tafsir Jalalain:
قَالَ
(Berkatalah) Musa,
ذَلِكَ
(“Itulah) ajang kita kesuntukan ikan itu
مَا
(tempat) sesuatu
كُنَّا نَبْغِ
(nan kita cari)” kita cari-cari, karena sememangnya kejadian itu yaitu tanda-tanda cak bagi kita, bahwa kita akan dapat berbenturan dengan orang yang menengah kita cari.

فَارْتَدَّا
(Suntuk keduanya kembali) kembali lagi
عَلَى آثَارِهِمَ
(mengikuti jejak mereka semula) menitinya
قَصَصًا
(secara khusyuk) dulu keduanya setakat di batu samudra bekas mereka beristirahat.

Tafsr Ibnu Katsir:
قَالَ ذَلِكَ مَا كُنَّا نَبْغِ
(“Ke laut itu dengan Pendirian yang aneh sekali. Musa berkata: ‘Itulah tempat yang kita cari.’”) Maksudnya, inilah palagan nan memang kita cari.

فَارْتَدَّا عَلَى آثَارِهِمَا قَصَصًا
(“Tinggal keduanya kembali mengikuti jejak mereka semula.”) Maksudnya, mereka menceritakan bekas penjelajahan mereka dan menelusuri urut-urutan itu kembali.

Kata tambahan Kemenag: Mendengar jawaban seperti tersebut di atas, Nabi Musa menjawat-nya dengan gembira sembari bersabda, “Itulah tempat yang kita cari. Di tempat itu, kita akan berlawan dengan orang yang kita cari, yakni Utusan tuhan Khidir.” Mereka pun pun mengikuti jejak semula, bikin mendapatkan batu yang mereka jadikan tempat berlindung.

Menurut al-Biqa’i, firman Allah dalam ayat ini menunjukkan bahwa mereka itu berjalan di padang pasir, sehingga tak ada jenama-nama, akan tetapi ada jejak mereka.

Maka cak semau kebolehjadian bahwa yang dimaksud dalam firman Tuhan tentang pertemuan dua laut itu adalah pertemuan air tawar (sungai Nil) dengan air asin (Laut Tengah) yaitu kota di Dimyath atau Rasyid di provinsi Mesir.

Surah Al-Kahfi Ayat 65
فَوَجَدَا عَبْدًا مِّنْ عِبَادِنَا آتَيْنَاهُ رَحْمَةً مِّنْ عِندِنَا وَعَلَّمْنَاهُ مِن لَّدُنَّا عِلْمًا

Terjemahan: Tinggal mereka bercocok koteng hamba di antara hamba-hamba Kami, yang sudah Kami berikan kepadanya anugerah berpokok sisi Kami, dan yang mutakadim Kami ajarkan kepadanya hobatan dari arah Kami.

Tafsir Jalalain:
فَوَجَدَا عَبْدًا مِّنْ عِبَادِنَا
(Lalu mereka berdua antuk dengan koteng hamba di antara hamba-hamba Kami) ialah Khidhir
آتَيْنَاهُ رَحْمَةً مِّنْ عِندِنَا
(yang mutakadim Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami) yakni kenabian, menurut satu pendapat, dan menurut pendapat yang lain kewalian, pendapat yang kedua inilah yang banyak dianut oleh para ulama

وَعَلَّمْنَاهُ مِن لَّدُنَّا
(dan nan telah Kami ajarkan kepadanya dari jihat Kami) bermula Kami secara serempak عِلْمًا (ilmu). Lafal ‘عِلْمًا
menjadi Maf’ul Tsani, yaitu hobatan-ilmu yang berkaitan dengan masalah-masalah kegaiban. Pendeta Bukhari telah meriwayatkan sebuah titah, bahwa puas satu momen Utusan tuhan Musa berdiri berkhutbah di hadapan kaum Anak laki-laki Israel. Silam cak semau soal,

“Siapakah orang yang minimum alim?” Maka Nabi Musa menjawab, “Aku”. Dulu Allah menyapa Nabi Musa karena ia belum pernah berlatih (ilmu mistik), maka Allah menurunkan nubuat kepadanya, “Sebenarnya Aku n kepunyaan sendiri hamba nan lalu di pertemuan dua laut, dia kian alim daripadamu”. Musa berkata,

“Wahai Rabbku! Bagaimanakah caranya supaya aku dapat bertarung dengan sira”. Almalik berfirman, “Pergilah kamu dengan mengangkut seekor lauk samudra, kemudian ikan itu ia letakkan pada keranjang. Maka manakala kamu merasa kehilangan ikan itu, berarti dia ada di palagan tersebut”.

Dahulu Nabi Musa cekut iwak itu dan ditaruhnya pada sebuah keranjang, selanjutnya dia start disertai dengan muridnya yang bernama Yusya bin Nun, hingga keduanya sampai pada sebuah provokasi nan besar. Di ajang itu keduanya memangkal buat istirahat seraya membaringkan raga mereka, hasilnya mereka berdua tertidur.

Kemudian ikan yang ada di keranjang berontak dan melompat keluar, lalu jatuh ke laut. Dulu iwak itu melompat cekut jalannya ke laut itu. (Q.S. Al Kahfi, 61) Allah menahan arus air demi untuk jalannya ikan itu, sehingga pada air itu tampak seperti korok. Ketika keduanya terbangun berbunga tidurnya, peserta Utusan tuhan Musa pangling memberitakan adapun lauk kepada Rasul Musa.

Lalu keduanya berangkat melakukan pengelanaan kembali sepanjang sehari kemarin. Puas keesokan harinya Rasul Musa berkata kepada muridnya, “Bawalah ke marilah makanan siang kita”, sebatas dengan perkataannya, “dahulu lauk itu melompat cekut jalannya ke laut dengan pendirian yang aneh sekali”. Eks iwak itu tampak bagaikan gua dan Musa beserta muridnya merasa aneh sekali dengan keadaan itu.

Adverbia Ibnu Katsir:
فَوَجَدَا عَبْدًا مِّنْ عِبَادِنَا آتَيْنَاهُ رَحْمَةً مِّنْ عِندِنَا وَعَلَّمْنَاهُ مِن لَّدُنَّا عِلْمًا
(“Sebatas mereka berlawan dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari jihat Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari jihat Kami.”) Inilah Khidhir as, sebagaimana nan disebutkan bilang hadits shahih nan bersumber dari Rasulullah.

Imam al-Bukhari meriwayatkan, al-Humaidi memberitahu kami, bermula Sufyan, dari ‘Amr bin Dinar, mulai sejak Sa’id kedelai Jubair, beliau merencana, aku koalisi mengatakan kepada Anak laki-laki
Abbas, bahwa Nauf al-Bikali mengatakan bahwa Musa sahabat Khidhir tersebut bukanlah Musa berpokok sahabat Anak laki-laki Israil.

Maka Anak laki-lakiAbbas pun berkata: “Musuh Allah itu telah berdusta.” Ubay bin Ka’ab pernah mendengar Rasulullah berfirman: “Sepatutnya ada Musa pertautan berdiri menyerahkan ceramah kepada Bani Israil, lalu ia ditanya: ‘Siapakah sosok yang paling banyak ilmunya?’ Ia menjawab: Aku.’ Maka Allah mencelanya, karena engkau belum diberi ilmu oleh-Nya. Lalu Allah mewahyukan kepadanya: ‘Sesungguhnya Aku mempunyai sendiri hamba yang berada di arena persuaan dua laut, yang i makin kebal daripada dirimu.’ Musa berkata:

‘Ya Rabbku, bagaimana aku bisa menemuinya?’ Anda berucap: ‘Pergilah dengan membawa seekor lauk, dan letakkanlah ia di tempat penimbunan. Di mana ikan itu hilang, maka di situlah Khidhir itu berharta.’ Maka Musa menjumut seekor ikan dan meletakkannya di arena penimbunan. Lalu memencilkan bersama seorang bujang bernama Yusya’ kacang Nun.

Ketika keduanya mendatangi batu karang, keduanya menempatkan kepala mereka dan tidur. Ikan itu bergelepar di wadah akumulasi itu, sebatas keluar darinya dan jatuh ke laut. Kemudian ikan itu mengambil jalannya ke laut. Allah menghalangi jalannya air berpunca iwak itu, maka jadilah air itu seperti lingkaran.

Kemudian sahabatnya itu (Yusya’) tercacak dan pangling bikin memberitahukan kepada Musa tentang ikan itu. Kemudian mereka terus bepergian menempuh pengelanaan siang dan lilin batik. Plong keesokan harinya, Musa berkata kepada pemuda itu, ‘Bawalah kemari makanan kita, sebenarnya kita telah merasa lelah karena pengelanaan kita ini.’”

Rasulullah menamakan bahwa Musa tidak merasa kelelahan sehingga engkau berhasil mengaras bekas yang ditunjukkan oleh Allah Ta’ala. Maka, sahabatnya itu berkata kepadanya:

“Tahukah anda, saat kita mencari tempat berlindung di batu tadi, maka sesungguhnya aku mutakadim lupa (menceritakan tentang) lauk itu dan lain ada yang menjadikanku lupa bakal menceritakannya kecuali syaitan, dan lauk itu mengambil jalannya ke laut dengan mandu nan aneh sekali.” Engkau merenjeng lidah:

“Ikan itu memperoleh lobang keluar, semata-mata bagi Musa dan sahabatnya, yang demikian itu ialah hal yang asing biasa.” Maka Musa berkata kepadanya: ‘Itulah tempat nan kita cari.’ Lalu keduanya kembali mengikuti jejak mereka tadinya.”

Tafsir Kemenag: Dalam ayat ini, dikisahkan bahwa setelah Nabi Musa dan Yusya menelusuri kembali jalan yang dilalui tadi, mereka hingga pada bencana yang perikatan dijadikan arena beristirahat. Di ajang ini, mereka bersesuai seseorang yang berselimut cemping bersih putih.

Basyar ini disebut Khidir, sedang merek aslinya ialah Balya kacang Mulkan. Dia digelari dengan tera Khidir karena ia duduk di suatu tempat yang putih, sedangkan di belakangnya terwalak tumbuhan menghijau. Keterangan ini didasarkan pada titah berikut:

Diriwayatkan bersumber Abuk Hurairah bahwa Rasul saw berbicara, “Dinamakan Khidir karena sira duduk di atas kulit sato yang ikhlas. Momen palagan itu mengalir, di belakangnya tampak tumbuhan yang hijau.” (Riwayat al-Bukhari)

Dalam ayat ini, Tuhan swt kembali mengistilahkan bahwa Khidir itu merupakan individu yang mendapat habuan ilmu sekaligus dari Allah. Ilmu itu tidak diberikan kepada Rasul Musa, sebagaimana sekali lagi Allah telah menganugerahkan hobatan kepada Nabi Musa yang tidak diberikan kepada Khidir.

Menurut Hujjatul Selam al-Gazali, bahwa pada garis besarnya, ada dua cara bagi seseorang untuk mendapatkan ilmu: Proses pencekokan pendoktrinan semenjak manusia, disebut at-ta’lim al-insani, yang dibagi lagi menjadi dua, ialah:

a. Belajar kepada orang tidak (di asing dirinya). b. Belajar sendiri dengan menggunakan kemampuan akal perhatian.

2. Pengajaran nan langsung diberikan Allah kepada seseorang yang disebut at-ta’lim ar-rabbani, yang dibagi menjadi dua pun, yaitu : a. Diberikan dengan cara wahyu, yang ilmunya disebut: ‘ilm al-anbiya’ (aji-aji para utusan tuhan) dan ini khusus lakukan para nabi.

b. Diberikan dengan cara ajaran yang ilmunya disebut ‘ilm ladunni (guna-guna dari sisi Tuhan). ‘Ilm ladunni ini diperoleh dengan pendirian bertepatan dari Sang pencipta minus calo.

Kejadiannya boleh diumpamakan seperti sinar semenjak suatu lampu lucut yang langsung mengenai hati yang asli ikhlas, nihil pun subtil. Ilham ini adalah perhiasan nan diberikan Yang mahakuasa kepada para kekasih-Nya (para wali).

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Al-Kahfi Ayat 60-65 beralaskan Adverbia Jalalain, Kata keterangan Ibnu Katsir dan Tafsir Kemenag. Semoga menambah khazanah guna-guna Al-Qur’an kita.

  • Author
  • Recent Posts

M Resky S

Source: https://pecihitam.org/surah-al-kahfi-ayat-60-65-terjemahan-dan-tafsir-al-quran/

Posted by: gamadelic.com