Suku Tengger Berada Di Daerah

Suku Tengger berasal dari Ardi Bromo, Jawa Timur. Sebagian terbit mereka menempati daerah Kabupaten Pasuruan, Lumajang, Probolinggo, dan Malang. Bahasa suku Tengger termasuk rumpun bahasa Jawa.

Biasanya tungkai Tengger beragama Hindu. Kaki Tengger memiliki budaya dan sifat istiadat nan sudah dilakukan secara turun temurun. Kaki ini memiliki upacara Yadnya Kasada ataupun Kasodo yang dilakukan di bawah kaki gunung Bromo.

Mengenal Suku Tengger

Tungkai Tengger memiliki beragam budaya dan leluri yang diturunkan dari beberapa generasi. Mengutip muslihat “Keajaiban Bromo, Tengger, Semeru” yang ditulis Kalis Batoro, berikut fakta-fakta adapun Suku Tengger.

1. Rumah Adat Suku Tengger

Suku Tengger memiliki rumah rasam yang dibangun di selingkung lereng argo Bromo, dusun Cemoro Lawang desa Ngadisari kecamatan Sukapura. Mengutip dari probolinggokab.go.id, flat kebiasaan suku Tengger sebagian osean konstruksinya terbuat dari tiang.

Rumah ini disesuaikan dengan alam sekitar, sehingga menjadi hunian yang nyaman bikin ditinggali. Rumah resan tungkai Tengger tidak bertingkat seperti apartemen kancah. Bagian ujung sengkuap memanjang tinggi sementara bagian sampingnya abnormal. Rumah ini semata-mata mempunyai dua tingkapan.

2. Bahasa Kaki Tengger

Masyarakat Tengger mengaryakan bahasa Jawa-Tengger kerjakan berkomunikasi. Bahasa Tengger dibagi menjadi menjadi dua tataran yaitu bahasa
ngoko
dan
kromo. Bahasa
kromo
dipakai untuk insan yang bertambah lanjut umur, sementara
ngoko
dipakai bagi arwah sama tua.

Tungkai ini masih mempertahankan bahasa Kawi. Contohnya
reang yang artinya aku, eyang lakukan laki-laki, dan pemakaian kata
ingsun
untuk aku dayang. Beberapa desa memiliki perbedaan logat, misalnya sufiks A tak sebagaimana bahasa Jawa yang berakhiran Ozon.

Bahasa Sansekerta kebanyakan dipakai maka itu Dukun Tengger dan pembantu Medikus. Penggunaan bahasa tersebut untuk berdoa ketika upacara sifat Tengger.

3. Agama Suku Tengger

Awalnya suku Tengger menganut asisten animisme dan dinamisme. Lalu perkembangan agama Hindu dan Budha mencelup masyaratak ketika zaman kerajaan Majapahit. Pembantu ini kemudian diwariskan oleh nini moyang mereka setakat sekarang. Meski demikian, agama baru ini tunak mempertahankan tradisi yang ada.

Berlandaskan Tetua Adat dan agama di Indonesia, agama Suku Tengger dibagi menjadi 5 adalah Hindu, Budha, Selam, Kristen, dan Katolik. Sementara itu sifat kepercayaan masih dipengaruhi oleh animisme dan mitos tentang Giri Bromo dan Semeru. Kedua gunung tersebut dianggap tempat suci dan keramat yang diwariskan secara turun temurun.

Resan budaya yang diwariskan leluhur mengajarkan moral dan ikatan kombinasi. Umum Tengger menganut filsafat hidup atau Kawruh Budha yang menjelaskan tentang wara-wara watak.

Ada serangkaian upacara yang dilakukan suku Tengger berkaitan dengan agama Hindu seperti Galungan, Khalwat, Saraswati, Cerocok Wesi. Istilah Dukun Tengger adalah Mantri Pandhita, seseorang yang silam dihormati internal pemimpin upcara adat pemeluk agama Hindu dan Budha.

Ajang ibadat agama Hindu tertua di Jawa merupakan Pundi-pundi Agung Mandala Giri di Senduro Lumajang. Terserah juga Jaring-jaring Poten bercorak Jawa Tengger yang mewah di samudra pasir gunung Bromo. Tempat ibadah agama Budha ada Wihara Paramitha Budha yang berada di desa Ngadas.

4. Tradisi Suku Tengger

Adat istiadat budaya Tengger merupakan pembiasaan anjlok temurun. Ada penanggalan Tengger nan digunakan untuk perian, bulan, dan tahun. Sistem penanggalan ini dipakai untuk tanda-tanada keadaan alam, persawahan, peternakan, dan bidang budaya.

Berikut penjelasan akan halnya penanggalan kaki Tengger:

  • Bulan mula-mula disebut Kasa.
  • Wulan kedua kedua disebut Karo.
  • Bulan ketiga disebut Katiga.
  • Rembulan keempat dinamakan Kapat.
  • Bulan kelima disebut Kalima.
  • Bulan keenam adalah Kanem.
  • Bulan ketujuh merupakan Kapitu.
  • Wulan okta- ialah Kawolu.
  • Wulan kesembilan adalah Kasanga.
  • Bulan 10 adalah Kasepuluh.
  • Rembulan 11 yaitu Dhesta.
  • bulan 12 disebut Kasada.

5. Upacara Sifat Kasada

TRADISI YADNYA KASADA

Pagar adat YADNYA KASADA (ANTARA FOTO/Zabur Karuru/foc.)

Ritual ini disebut tahun raya YadNya Kasada nan dilakukan pada bulan ke-12 (Kasada) yang serampak dengan bulan purnama. Adat Kasada merupakan perkataan terimakasih kepada Sang Hyang Widhi bahwa awam Tengger diberi kenikmatan, keselamatan, kebugaran, dan kepelesiran, rejeki, dan kelimpahan hasil bumi.

Prosesi upacara dimulai dengan Medak Titro atau pemungutan air suci nan disimpan kerumahtanggaan gua Widodaren. Air ini dilengkapi dengan sesajen yang disebut Nglukat Umat. Rasam Kasada dilakukan di balai desa Ngadisari. Ada bermacam ragam acara seperti menjual dagangan lokal dan hasil manjapada unggulan, burit tahun ada pawai oncor, dan pacuan jaran.

Tetua adat mempersiapkan ongkek yang terbuat berpokok diversifikasi bambu jajan, buluh betung, atau kayu cemara. Ongkek ini dilengkapi dengan berbagai hasil pengetaman nan dihasilkan tanah Tengger.

Pada magrib menjelang malam hari ketika bulan purnama, ada pertunjukan seni drama tari nan menceritakan Joko Seger dan Roro Anteng diiringi gamelan. Lilin batik harinya, publik kaki Tengger mempersiapkan ongkek bersama-sama melintasi Cemoro Lawang menuju Pure Poten atau Pure Sakral.

Pura ini menjadi medan berlangsungnya upacara adat Kasada nan fertil di kaki jabal Bromo dan jabal Batok. Ongkek ini dipikul diterangi oncor. Sesudah memasuki Jala-jala Poten diiringi gamelan lalu mulai seremoni aturan.

Ongkek berisi berbagai rupa tanaman budidaya suku Tengger, terserah juga incaran ritual, dan jajanan pasar. Pohon budidaya (Tandur Tuwuh) ini begitu juga kentang, bawang prei, kelambir, gandung, padi, siyem, srikoyo, dan sayuran lainnya. Ada kembali hewan kurban seperti ayam, wedus, dan domba.

Acara selanjutnya dari Adat KAsada adalah Korban Labuhan yang dilakukan martil 03.00-04.00 pagi. Ongkek dan Tandur Tuwuh dipersembahkan ke kawah jabal Bromo. Upcara Labuhan ini dilakukan tetuan adat memasukkan ongkek dan tandur tuwuh di giri itu.

Masyarakat membuang tandur tuwuh dan berdoa lakukan kesehatan, kemakmuran, dan rejeki. Terserah pun mencuil benda-benda bermanfaat seperti uang, kentang, daging ayam, kue yang dilarung ke gunung Bromo disebut marit.

6. Rasam Karo

Karo dikenal seumpama pengultusan terhadap Sang Hyang Widhi Wasa, sanjungan roh leluhur, dan kesucian bani adam. Perayaan dilakukan dengan prinsip membeningkan diri, flat, flat ibadah, balai desa, makam, sampai mileu desa.

Masyarakat Tengger nan lain mengagungkan adat Karo dengan pendirian bersih desa. Rasam Karo ini dilakukan selama 2 pekan menutupi berbagai kegiatan seperti mana Ngumpul (perundingan), Mepek (mencukupi kebutuhan), Tekane Ping Pitu, Prepegan, Sodoran (tarian daerah), Sesanding, Nyadran, dan Mulihe Ping Pitu.

Upacara sifat Nyadran menyiapkan sesaji ke tempat makan yang dipimpin maka itu atasan sifat. Seremoni ini menjelaskan tentang hidup turunan dari awal kelahiran sebatas kematian. Sehabis rasam Nyadran ada acara selamatan nan dilakukan umum. Acara ini menghadirkan tari Tayup dan tari Ujung-Ujungan.

7. Kebiasaan Unan-Unan

Upacara adat selamatan kaki Tengger yang diadakan 5 tahunan sesuai ancangan kalender Tengger. Unan-Unan berasal berusul Nguno, artinya adalah memanjangkan bulan yang dilakukan setiap 5 tahun sekali.

Upacara Unan-Unan dini dilakukan di tempat sakral sama dengan Bengkel seni Pamujan. Binatang kerbau digunakan misal korban. Mitos upacara ini lewat hewan besar dipakai sebagai persembahan terhadap buta rasi yaitu Buta Galungan, Dunggulan, dan Amangkurat.

Upacara dilakukan cak agar masyarakat terhindar dari godaan dan pemberkatan dari kegelapan. Pelaksanaan upacara dilakukan dengan kepala kerbau, kulit kerbau, dan 100 sesajen yang diletakkan dalam gelanggang raksasa. Sesajen ini kemudian diarak dari Aula Desa ke Sanggar Pamujan.

8. Adat Entas-Entas

ONGKEK YADYA KASADA

ONGKEK YADYA KASADA (ANTARA FOTO/Zabur Karuru/hp.)

Upacara adat ini dilakukan dengan mensucikan semangat leluhur agar mudah memasuki alam
lelanggit.
Menurut bos adat, Entas-Entas merupakan upacara sakral yang dilakukan sepanjang 3 setakat 4 waktu.

Cumbu upacara Entas – Entas, yaitu Resik, Sedekah, Andeg-andeg Klakah, Menduduk, Kayopan Agung, dan Nglukat. Untuk mendukung programa ini dilakukan dengan penyembelihan sapi, wedus, nangui untuk agama Hindu. Jaran dipakai perumpamaan alat transportasi pawai dan arak-arakan desa.

Upacara adat ini dilengkapi dengan sesajen yang terdiri dari tumpeng, gedang ayu, nasi, ayam aduan panggang, kupat, lepet, banyu suci. Ada kembali tanaman seperti daun pandan, bunga soka, piji, alang-alang, tebu, dan pisang.

Saat upacara Nglukat, dilakukan penyebaran beras nan diikuti ayam jantan dan bebek. Suka-suka juga programa iring-iringan diiringi klonengan menuju makam. Ketika berjalan ke area makam dilakukan pembakaran kemenyan, pemecah telur, dan menyebar berbagai bunga. Saat lilin batik hari dilakukan programa tandakan yang menyodorkan tari Sayup yang diiringi nada gamelan.

9. Upacara Pujan Mubeng

Ritual adat dilakukan pada bulan kesembilan ataupun Kesanga, selepas rembulan purnama. Awam Tengger berjalan berasal senggat desa bagian timur merumung mata angin desa. Formalitas ini dilakukan buat menjernihkan desa mulai sejak gangguan dan bencana alam. Pengembaraan keliling upacara diakhiri dengan makan bersama di rumah tetua adat.

10. Upacara Liliwet

Upacara ini diadakan dengan setiap rumah penduduk. Upacara Liliwet dilakukan dengan anugerah mantra seluruh bagian termasuk pekarangan agar terhindar berpokok malapetaka. Palagan yang diberi mantra yaitu dapur, gapura, tamping, sigiran, dan empat tepas pelataran.

11. Formalitas Barikan

Berpunca jurnal “Sekilas Tentang Masyarakat Tengger” nan dibuat oleh Ayu Sutarto, upacara Barikan dilakukan publik Tengger pasca- nyeri, murka alam, gerhana, dan kejadian lain.

Upacara ini dilakukan jika terserah perlambang buruk terhadap kejadian alam. Masyarakat adat berbuat upacara Barikan selama 5-7 masa setelah peristiwa. Upacara ini dilakukan bikin memberi keselamatan dan menunda bahaya nan akan menclok.

12. Upacara Kematian

Upacara ini dilakukan dengan sanggang royong. Tetangga memberi peranti dan keperluan untuk upacara penguburan. Nglawu yaitu bantuan pemberian seperti uang, beras, kain kafan, dan sakarosa sreg tanggungan.

Mayat dimandikan di atas dipan. Pasak negeri kebiasaan membersihkan air suci dari prasen kepada buntang serta merta mengucapkan doa kematian. Sebelum kuburan digali, vlek adat memberikan siraman air yang telah diberi ilmu.

Tanah yang diberi air kemudian digali untuk korok kubur. Batang suku Tengger dibarikan dengan pembesar membujur ke daksina ke arah Giri Bromo. Sorenya keluarga mengadakan kenduri. Cucu adam yang meninggal kemudian diganti dengan boneka yang disebut bespa. Boneka dini terbuat dari anak uang dan dedaunan yang diletakkan di atas tapang berbagai macam sajian.

Source: https://katadata.co.id/safrezi/berita/61763a5b36c62/mengenal-bahasa-rumah-adat-dan-tradisi-suku-tengger

Posted by: gamadelic.com