Suku Nias Berasal Dari Pulau

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia nonblok

Nias
Fatele, the NIAS War Dance (Sumatra, Indonesia).jpg

Tari Perang diperagakan di jerambah tengah pedesaan tradisional

Jumlah populasi
1.041.925
(2010)
[1]
Daerah dengan populasi berharga

Indonesia
Sumatra Paksina 911.820[1]
Riau 71.537[1]
Sumatra Barat 18.239[1]
Bahasa
Bahasa Nias & Bahasa Indonesia
Agama
Masehi (Protestan
mayoritas, Katolik), Islam, Fanömba adu
Etnis terkait
Haloban, Mentawai, Devayan, Batak, Sigulai, dan Lekon

Suku Nias
ialah kelompok etnik nan berpunca dari Pulau Nias. Mereka menamakan diri mereka “Ono Niha” (Ono
berfaedah anak/keturunan;
Niha
= orang) dan Pulau Nias sebagai “Tanö Niha” (Tanö berjasa tanah). Hukum adat tradisional Nias secara mahajana disebut fondrakö. Masyarakat Nias historis usia privat budaya megalitik, dibuktikan oleh warisan rekaman berupa ukiran plong bujukan-godaan ki akbar yang masih ditemukan di wilayah pedalaman pulau ini hingga sekarang.[2]

Bawah usul

Mitologi

Berbagai legenda dalam
hoho
menceritakan eksistensi suku Nias ke pulau. Sebuah hoho mengatakan bahwa orang Nias berasal bersumber sebuah pohon kehidupan yang disebut “Sigaru Tora’a” yang terdapat di sebuah bekas yang bernama Tetehöli Ana’a. Kerelaan bani adam purwa ke Pulau Nias dimulai plong zaman Prabu Sirao nan memiliki 9 putra yang disuruh keluar bermula Tetehöli Ana’a karena memperebutkan Geta Sirao. Ke 9 Putra itulah yang dianggap menjadi orang-orang pertama yang menginjakkan kaki di Pulau Nias.[3]
Mitos lainnya, Inada Sirici menurunkan 6 orang anak ke Pulau Nias dan menjadi leluhur.[4]
Masih terdapat beberapa versi lain akan halnya kehadiran cucu adam di Nias.

Penelitian Arkeologi

Riset ilmu purbakala telah dilakukan di Pulau Nias sejak tahun 1999. Penelitian ini menemukan Pulau Nias telah dihuni sejak 12.000 tahun nan lampau oleh imigran bermula daratan Asia, justru ada indikasi sejak 30.000 masa lampau. Budaya Hoabinh di Vietnam yang sebagaimana budaya nan cak semau di Pulau Nias menimbulkan dugaan imigrasi pemukim dari Vietnam.[5]

Pada 2022, penelitian genetika oleh mahasiswa doktoral Departemen Biologi Molekuler Forensik Erasmus MC menyingkat bahwa masyarakat Nias mulai sejak dari rumpun bangsa Austronesia. Mereka diperkirakan datang bermula Taiwan melangkahi jalur Filipina 4.000-5.000 tahun lalu.[6]

Penekanan ini juga menemukan bahwa intern genetika orang Nias saat ini lain terserah sekali lagi jejak mulai sejak masyarakat Nias bersejarah nan sisa peninggalannya ditemukan di Gua Togi Ndrawa. Penelitian ilmu purbakala terhadap alat-radas godaan yang ditemukan menunjukkan bahwa manusia yang menempati gua tersebut berasal pecah waktu 12.000 tahun adv amat.[7]
[8]

Sistem kekeluargaan

Suku Nias menerapkan sistem mado mengikuti garis ayah (paternal). Mado-mado umumnya berasal berpunca kampung-kampung pemukiman yang ada.

Edaran di Indonesia

Hombo Alai-belai, tali peranti khas tersohor berusul Nias

Sebagian besar insan makmur di daerah Sumatra Utara, tepatnya di Pulau Nias. Pulau Nias terbagi menjadi panca negeri administrasi, yakni 4 kabupaten dan 1 kota. Jumlah individu Nias cukup signifikan di provinsi Riau. Tahun 2022, besaran bani adam Nias di Indonesia sebanyak 1.041.925 nasib (0,44%) bersumber 236.728.379 umur penduduk.[1]

Berikut ini yakni sebaran orang Nias di Indonesia beralaskan data resmi pemerintah melalui Sensus Penduduk Indonesia 2022, menurut daerah:[1]

No Provinsi Jumlah 2022 %
1 Sumatra Utara 911.820 87,51%
2 Riau 71.537 6,87%
3 Sumatra Barat 18.239 1,75%
4 Aceh 9.366 0,90%
5 Jawa Barat 7.925 0,76%
6 Gugusan pulau Riau 4.676 0,45%
6 DKI Jakarta 4.572 0,44%
6 Jambi 3.574 0,34%
6 Distrik tak 10.217 0,98%
Indonesia 1.041.925 100%

Bahasa

Kata sandang utama:
bahasa nias

Bahasa Nias
merupakan bahasa yang dituturkan oleh orang Nias. Bahasa ini tertulis dalam rumpun bahasa Sumatra Barat Laut–kepulauan Perintang dan berhubungan dengan bahasa Batak dan Mentawai. Sreg tahun 2000, penuturnya berjumlah sekitar 770.000 khalayak. Bahasa Nias terdiri atas tiga dialek.

Dialek

Umumnya bahasa Nias dianggap memiliki tiga dialek. Dialek utara dituturkan di daerah Gunungsitoli, Alasa dan Lahewa. Dialek selatan dituturkan di Nias Selatan. Sementara itu, dialek perdua dituturkan di Nias Barat, khususnya di daerah Sirombu dan Mandrehe. Sementara itu, Proyek Pengkhususan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah Sumatra Lor 1977/1978 membagi bahasa Nias ke panca dialek. Dialek lor dituturkan di Alasa dan Lahewa; dialek Gunungsitoli; dialek barat di Mandrehe, Sirombu, Kepulauan Hinako; dialek tengah di Gido, Idano Gawo, Gomo, Lahusa; dan dialek selatan di Telukdalam, Pulau Tello, dan Kepulauan Bujukan. Tingkat paralelisme antara dialek ini mencapai 80%. Bahasa Nias sekali lagi sebagai bahasa absah di Nias.

Alfabet

Abjad dalam bahasa Nias berbeda dengan aksara dalam bahasa Indonesia, di mana ada nan dikurangi (tidak dipakai) dari abjad bahasa Indonesia dan terserah yang ditambahkan abjad unik (karakter khas) dalam bahasa Nias yang pengucapannya tidak terletak di intern abjad bahasa Indonesia. Abjad Bahasa Nias huruf segara dan huruf kecil ibarat berikut:

Aa, Bb, Dd, Ee, Ff, Gg, Hh, Ii, Kk, Ll, Mm, Nn, Oo, Öö, Rr, Ss, Tt, Uu, Ww, Ŵŵ, Yy, Zz

Daftar kata

Bilang leksikon bahasa Nias dan terjemahannya privat bahasa Indonesia bisa dilihat di Daftar Swadesh bahasa Nias.

Agama

Sebagian besar orang Nias yaitu pemeluk agama Kristen Protestan. sefangkan yang lainnya beragama Islam, Katolik , Buddha. dan
Pelebegu. sekurang-kurangnya menurut pengumuman selingkung tahun 1967. Sistem ajudan yang disebut terakhir ini adalah tera nan diberikan oleh pihak luar. yang merupakan sistem kepercayaan yang berasal berpangkal kakek moyang mereka . Mereka menyebut
Molehe Adu, yaitu pemuliaan roh karuhun. Cak bagi itu mereka membuat patung-reca kayu (lomba) yang ditempati oleh semangat karuhun.

Dalam sistem kepercayaan ini dikenal beberapa dewa. Yang terpenting suka-suka lah
Lowalangi, yang dianggap raja segala dewa dari dunia atas atau sang pencipta.
Latura Dano
adalah raja dewa-batara dunia bawah da saudara tua
Lowalangi
tadi. Silewe Nasarata adalah penaung dari para pemuka agama dan merupakan isteri dari
Lowalangi; dan sumber lain menyebutkan bak penghubung dewa manjapada atas dan batara dunia bawah, serta sebagai penghubung antara suku bangsa dewa dan umat turunan. Sebenarnya bagi orang Nias Selatan etiket
Lowalangi, nan baku di sebut
Lowalani, diperkenalkan maka dari itu misionaris Jerman . Orang Nias Selatan sangat mengenal nama
Ida Samihara Luo
sebagai pencipta betara dan manusia. Sang pencipta ini bukan mempunyai realitas, belaka dari padanya timbul dua anak kembar nan kemudian anak kembar ini pernah dan mengembang biakkan dewa dan cucu adam.[9]

Budaya

Makanan

  • Gowi Nihandro (Gowi Nitutu ; Ubi tumbuk)
  • Harinake (daging babi cincang dengan cacahan nan tipis dan kecil-kecil)
  • Godo-godo (ketela pohon / ubi kayu yang diparut, dibentuk bulat-bulat kemudian direbus setelah menguning di taburi dengan kelapa yang sudah di parut)
  • Köfö-köfö(daging ikan yang dihancurkan, dibentuk buntak dan dijemur/dikeringkan/diasap)
  • Ni’owuru (daging babi yang sengaja diasinkan agar dapat bertahan lama)
  • Rakigae (pisang rendang)
  • Tamböyö (ketupat)
  • löma (beras ketan yang dimasak dengan menggunakan buku bambu)
  • Gae nibogö (mauz bakar)
  • Kazimone (terbuat pecah sagu)
  • Wawayasö (nasi getah)
  • Gulo-Gulo Farö (manisan pecah hasil sulingan santan kelapa)
  • Bato (daging kepiting yang dipadatkan kerumahtanggaan bentuk bulat agar boleh bertahan lama; terdapat di Gugusan pulau Hinako)
  • Nami (telur kepiting dapat berupa nami segar atau nan telah diasinkan seharusnya awet, dapat berseregang hingga berbulan-bulan tergantung kadar garam yang ditambahkan)

Peralatan Rumah Strata

  • Bowoa tanö – belanga dari tanah liat, alat masak tradisional
  • Figa lae – daun pisang nan dipakai buat menjadi pangan nafkah
  • Halu (alat menumbuk padi) – dfsf
  • Lösu – lesung
  • Gala – mulai sejak kusen sama dengan talam
  • Sole mbanio – tempat menenggak terbit tempurung
  • Katidi – anyaman dari bambu
  • Niru (Alat untuk menapik beras bikin membaikkan dedak)
  • Haru – centong
  • Famofu – alat niup api untuk memantek
  • Fogao Banio (alat pemarut kelapa)

Minuman

  • Tuo nifarö (tuak) yaitu minuman yang berusul dari air sadapan pohon enau (kerumahtanggaan bahasa Nias “Pohon Nira” = “töla nakhe” dan pohon kelambir (dalam bahasa Nias “Tumbuhan Kerambil” = “töla nohi”) yang mutakadim diolah dengan cara penyulingan. Umumnya Tuo nifarö mempunyai beberapa panjang (bisa sebatas 3 (tiga) strata ketentuan alkohol). Dimana Tuo nifarö No. 1 bisa mencapai kadar alkohol 43%.
  • Tuo mbanua / Sataha (minuman tuak mentah nan berasal berpokok air sadapan pohon kelapa atau pohon enau yang telah diberi ‘laru’ positif akar tunggang-akar tunggang pohon tertentu untuk memberikan kadar alkohol)

  • Fahombo
    [10]
    (Lompat Batu)
  • Fataele/Foluaya] (Tari Perang)
  • Maena (Tari berkawanan)
  • Tari Moyo (Tari Elang)
  • Tari Mogaele
  • Fangowai (Tari kata sambutan/penyambutan pelawat)
  • Fame Ono nihalö (Ijab kabul)
  • Omo Hada (Rumah Resan)
  • Fame’e Töi Nono Nihalö (Pemberian nama lakukan perempuan yang telah menikah)
  • Fasösö Lewuö (Menggunakan adu buluh untuk menguji kekuatan pemuda Nias)
  • Tari Tuwu

Tokoh

Galeri

Pranala luar

  • Museum Peninggalan Nias

Referensi

  1. ^


    a




    b




    c




    d




    e




    f




    “Kewarganegaraan Suku Bangsa, Agama, Bahasa 2022”
    (PDF).
    demografi.bps.go.id. Raga Pusat Perangkaan. 2022. hlm. 23–41. Diarsipkan dari varian polos
    (PDF)
    terlepas 2022-07-12. Diakses sungkap
    13 Februari
    2022
    .





  2. ^


    Na’im, Akhsan; Syaputra, Hendry (2010).
    Kewarganegaraan, Kabilah, Agama, dan Bahasa Sehari-periode Warga Indonesia. Jakarta: Raga Pusat Perangkaan. hlm. 9. ISBN 978-979-064-417-5.





  3. ^


    Wiradnyana, Ketut, 1966- (2010).
    Legitimasi pengaruh pada budaya Nias : fusi penelitian ilmu purbakala dan antropologi
    (edisi ke-Cet. 1). Jakarta: Yayasan Referensi Obor Indonesia. ISBN 978-979-461-763-2. OCLC 682905651.





  4. ^


    “Basyar Nias”.
    Museum Pusaka Nias
    . Diakses tanggal
    2020-06-06
    .





  5. ^


    “Nias | Encyclopedia.com”.
    www.encyclopedia.com
    . Diakses copot
    2020-06-06
    .





  6. ^


    van Oven, Mannis; Hämmerle, Johannes M.; van Schoor, Marja; Kushnick, Geoff; Pennekamp, Petra; Zega, Idaman; Lao, Oscar; Brown, Lea; Kennerknecht, Ingo (2011-04-01). “Unexpected Island Effects at an Extreme: Reduced Y Chromosome and Mitochondrial DNA Diversity in Nias”.
    Molecular Biology and Evolution
    (kerumahtanggaan bahasa Inggris).
    28
    (4): 1349–1361. doi:10.1093/molbev/msq300. ISSN 0737-4038.





  7. ^


    Yunan (ed.). “Dasar-usul Orang Nias Ditemukan”.
    Kompas.com
    . Diakses tanggal
    2020-06-06
    .





  8. ^

    Bukan Suka-suka Kepentingan Komersial dan Lain Ada Milik Paten Yang Akan Diajukan

  9. ^

    Melalatoa, Junus (1995).
    Ensiklopedi Kaki Bangsa Di Indonesia. CV. EKA PUTRA. hlm. 637.

  10. ^

    Hombo Batu
    [
    pranala nonaktif permanen
    ]


Daftar pustaka

  • Peter S. Bellwood (1979), Man’s conquest of the Pacific: the prehistory of Southeast Asia and Oceania, Oxford University Press, ISBN 978-0-19-520103-1.



Source: https://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Nias

Posted by: gamadelic.com