Suku Baduy Berada Di Daerah

Bani adam Badui


Ebi Kanékés

Raiyani Muharramah-Pakaian badui luar DSCF2964.jpg

Kerubungan tungkai Badui asing

Daerah dengan populasi bermakna
Banten ca.
26.000 jiwa
Bahasa
Bahasa Sunda Badui
Agama
99% Sunda Wiwitan • 1% Islam
Etnis terkait
Sunda Banten • Sunda Priangan

Suku Badui

disebut kembali andai

Sunda Badui
(Bahasa Badui:

Udang Kanékés
) ataupun kadang doang sering disebut
Badui
(sewaktu-waktu ditulis secara tidak baku bagaikan
Baduy)[1]
merupakan sekelompok masyarakat kebiasaan Sunda di kawasan pedalaman kabupaten Lebak, area Banten. Populasi mereka sekeliling 26.000 orang, mereka merupakan riuk satu kelompok masyarakat nan mengerudungi diri mereka dari manjapada luar. Selain itu mereka pula n kepunyaan keyakinan larangan bakal didokumentasikan, khususnya penduduk wilayah Badui Dalam.

Suku Badui terjadwal sub-suku mulai sejak suku Sunda, mereka dianggap sebagai masyarakat Sunda yang belum terpengaruh pemodernan atau kelompok nan hampir seutuhnya terasing dari bumi luar.

Publik Badui menolak istilah “tamasya” atau “tamasya” bagi mendeskripsikan kampung-kampung mereka. Sejak 2007, bakal mendeskripsikan wilayah mereka serta cak bagi menjaga kesakralan area tersebut, publik Badui memperkenalkan istilah “Saba Budaya Badui”, nan berarti “Silaturahmi Kultur Badui”.[2]

Etimologi

[sunting
|
sunting sumber]

Sebutan “Badui” adalah sebutan yang diberikan maka dari itu penduduk luar kepada kelompok masyarakat tersebut, berawal dari sebutan para peneliti Belanda nan agaknya mempersamakan mereka dengan kelompok Arab Badawi yang ialah awam yang berpindah-pindah (nomaden). Kemungkinan enggak yaitu karena adanya Sungai Badui dan Gunung Badui nan ada di bagian utara pecah kawasan tersebut. Mereka sendiri lebih gemar menyebut diri sebagai
benur Kanekes
maupun “orang Kanekes” sesuai dengan merek wilayah mereka, ataupun sebutan yang mengacu kepada nama kampung mereka sebagai halnya
Udang Cibeo
(Garna, 1993).

Berdasarkan Kamus Osean Bahasa Indonesia, penulisan yang tepat ialah “Badui”, bukan “Baduy”.[1]

Negeri

[sunting
|
sunting sumber]

Bangunan apartemen adat penduduk Badui Luar

Suku Badui bermukim di wilayah di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak. Permukimannya terpusat di daerah aliran wai pada sungai Ciujung yang tertulis dalam provinsi Cagar Budaya Gunung-gunung Kendeng.[3]
Kanekes secara geografis terletak pada koordinat 6°27’27” – 6°30’0” LS dan 108°3’9” – 106°4’55” BT (Permana, 2001). Mereka berdiam tepat di kaki pegunungan Kendeng yang berjarak sekitar 40 km terbit Kota Rangkasbitung. Negeri yang merupakan bagian mulai sejak Pegunungan Kendeng dengan ketinggian 300 – 600 m di atas meres laut (DPL) tersebut mempunyai topografi berbukit dan mengombak dengan kemiringan tanah lazimnya mengaras 45%, nan merupakan persil vulkanik (di bagian utara), persil endapan (di fragmen tengah), dan tanah campuran (di bagian kidul). suhu rata-rata 20 °C.
[kalam rujukan]

Tiga desa penting Kanekes N domestik adalah Cikeusik, Cikertawana, dan Cibeo.
[penis rujukan]

Bahasa

[sunting
|
sunting perigi]

Bahasa yang mereka gunakan yaitu bahasa Sunda dialek Badui. Untuk berkomunikasi dengan penduduk luar mereka lampias menggunakan Bahasa Indonesia, sungguhpun mereka tidak mendapatkan embaran tersebut dari sekolah. Hamba allah Kanekes Internal tak mengenal budaya tulis, sehingga sifat-istiadat, kepercayaan/agama, dan kisahan nenek moyang hanya tersimpan di privat congor verbal hanya.

Orang Kanekes tidak mengenal sekolah, karena pendidikan formal berlawanan dengan sifat-istiadat mereka. Mereka memurukkan tawaran pemerintah untuk membangun fasilitas sekolah di desa-desa mereka. Bahkan hingga periode ini, lamun sejak era Soeharto pemerintah telah berusaha memaksa mereka untuk mengubah prinsip hidup mereka dan membangun kemudahan sekolah modern di negeri mereka, cucu adam Kanekes masih menolak operasi pemerintah tersebut. Namun masyarakat Kanekes punya caranya sendiri untuk berlatih serta melebarkan wawasan mereka hingga sepadan dengan masyarakat di luar kaki Badui.

Kelompok awam

[sunting
|
sunting sumber]

Orang Kanekes puas masa 2022

Masyarakat Kanekes secara umum terbagi menjadi tiga kelompok yaitu
tangtu,
panamping, dan
dangka
(Permana, 2001).

Kelompok
tangtu
yaitu kerubungan yang dikenal sebagai Kanekes Dalam (Badui Intern), yang paling ketat mengikuti rasam, yaitu penghuni yang tinggal di tiga kampung Cibeo, Cikertawana, dan Cikeusik. Ciri spesifik Basyar Kanekes Dalam merupakan pakaiannya berwarna putih alami dan sensasional tua (warna tarum) serta memakai berkas kepala putih. Mereka dilarang secara adat cak bagi berpatut orang luar.

Kanekes Intern adalah bagian berbunga keseluruhan insan Kanekes. Tidak seperti Kanekes Luar, warga Kanekes Dalam masih memegang konstan kebiasaan-istiadat nenek moyang mereka.

Sebagian peraturan yang dianut maka dari itu Makhluk Kanekes Dalam antara lain:

  • Tidak diperkenankan menunggangi ki alat untuk sarana transportasi
  • Tidak diperkenankan menggunakan wana kaki
  • Pintu apartemen harus menghadap ke utara/selatan (kecuali rumah si
    Pu’un
    atau ketua kebiasaan)
  • Larangan menggunakan perlengkapan elektronik (teknologi)
  • Menggunakan kain berwarna hitam/putih sebagai pakaian yang ditenun dan dijahit sendiri serta tidak diperbolehkan menunggangi pakaian modern.

Kerubungan masyarakat kedua yang disebut
panamping
adalah mereka yang dikenal laksana Kanekes Luar (Badui Luar), yang suntuk di majemuk kampung yang tersebar mengelilingi negeri Kanekes Dalam, sebagaimana Cikadu, Kaduketuk, Kadukolot, Gajeboh, Cisagu, dan lain sebagainya. Masyarakat Kanekes Luar berciri khas melingkarkan busana dan ikat kepala berwarna biru bawah tangan (dandan tarum).

Kanekes Asing merupakan orang-orang nan telah keluar semenjak adat dan wilayah Kanekes Intern. Ada beberapa hal yang menyebabkan dikeluarkannya penduduk Kanekes Dalam ke Kanekes Luar:

  • Mereka mutakadim menubruk resan masyarakat Kanekes Dalam.
  • Berkeinginan bagi keluar dari Kanekes Intern
  • Menikah dengan anggota Kanekes Luar

Ciri-ciri masyarakat hamba allah Kanekes Asing

  • Mereka telah mengenal teknologi, seperti peralatan elektronik.
  • Proses pembangunan rumah penduduk Kanekes Luar sudah menggunakan alat-alat bantu, seperti gergaji, palu, paku, dll, yang sebelumnya dilarang oleh adat Kanekes Privat
  • Menunggangi pakaian aturan dengan warna hitam atau spektakuler tua (bagi junjungan-laki), yang merepresentasi bahwa mereka tidak suci. Kadang memperalat pakaian modern seperti kaos oblong dan serawal jeans.
  • Menggunakan peralatan kondominium tangga maju, seperti kasur, bantal, piring & gelas kaca & plastik.
  • Mereka lalu di luar wilayah Kanekes Privat.
  • Sebagian di antara mereka sudah lalu terpengaruh dan berpindah agama menjadi seorang orang islam intern jumlah cukup signifikan.

Apabila Kanekes Dalam dan Kanekes Luar tinggal di kawasan Kanekes, maka “Kanekes Dangka” dahulu di luar wilayah Kanekes, dan pron bila ini sangat 2 kampung nan primitif, adalah Padawaras (Cibengkung) dan Sirahdayeuh (Cihandam). Kampung Dangka tersebut berfungsi ibarat semacam
buffer zone
atas pengaruh bermula asing (Permana, 2001).

Asal usul

[sunting
|
sunting sumber]

Kafilah Kanekes selingkung tahun 1920

Menurut kepercayaan yang mereka anut, makhluk Kanekes mengaku keturunan dari Batara Tunas kelapa, salah satu dari tujuh dewa ataupun batara nan diutus ke bumi. Asal usul tersebut sering sekali lagi dihubungkan dengan Nabi Adam sebagai karuhun pertama. Menurut kepercayaan mereka, Adam dan keturunannya, termuat penduduk Kanekes, mempunyai tugas memencilkan diri atau
asketik
(mandita) untuk menjaga keakuran manjapada.

Pendapat mengenai radiks usul makhluk Kanekes berbeda dengan pendapat para ahli sejarah, yang menyandarkan pendapatnya dengan prinsip fusi bersumber beberapa bukti ki kenangan faktual prasasti, catatan perjalanan anak kapal Portugis dan Tiongkok, serta cerita rakyat akan halnya ‘Tatar Sunda’ yang memadai minim keberadaannya. Masyarakat Kanekes dikaitkan dengan Kerajaan Sunda yang sebelum keruntuhannya pada abad ke-16 berpusat di Pakuan Pajajaran (seputar Bogor saat ini). Sebelum berdirinya Sultanat Banten, provinsi ujung barat pulau Jawa ini adalah bagian penting mulai sejak Kerajaan Sunda. Banten merupakan pelabuhan menggandar yang cukup besar. Sungai Ciujung bisa dilayari berbagai macam perahu, dan ramai digunakan bagi pengapalan hasil marcapada dari area pedalaman. Dengan demikian penguasa wilayah tersebut, nan disebut perumpamaan Aji Pucuk Umun menganggap bahwa kekekalan batang air perlu dipertahankan. Untuk itu diperintahkanlah sepasukan bala imperium yang sangat terbentuk untuk menjaga dan mengelola area berhutan deras dan berbukit di wilayah Dolok Kendeng tersebut. Keberadaan pasukan dengan tugasnya yang spesial tersebut nada-nadanya menjadi cikal bakal Mahajana Kanekes yang sebatas sekarang masih mendiami wilayah hulu Wai Ciujung di Gunung Kendeng tersebut (Adimihardja, 2000). Perbedaan pendapat tersebut mengangkut kepada asumsi bahwa plong waktu yang sangat, identitas dan kesejarahan mereka sengaja ditutup, nan mungkin merupakan untuk mereservasi peguyuban Kanekes koteng dari serangan musuh-tara Pajajaran.

Van Tricht, seorang mantri nan aliansi melakukan riset kesegaran pada hari 1928, mengubah teori tersebut. Menurut dia, orang Kanekes adalah penduduk ceria daerah tersebut yang memiliki daya tolak langgeng terhadap yuridiksi luar (Garna, 1993b: 146). Insan Kanekes sendiri pun menolak kalau dikatakan bahwa mereka berasal dari orang-orang pelarian bersumber Pajajaran, ibu kota Kerajaan Sunda. Menurut Danasasmita dan Djatisunda (1986: 4-5) orang Badui merupakan penduduk setempat yang dijadikan mandala’ (kawasan nirmala) secara sahih makanya prabu, karena penduduknya berkewajiban menernakkan
kabuyutan
(ajang pemuliaan leluhur atau nini moyang), enggak agama Hindu atau Budha.
Kebuyutan
di area ini dikenal dengan
kabuyutan
Sejati Sunda ataupun ‘Sunda Asli’ atau Sunda Wiwitan (wiwitan=asli, asal, pokok, jati). Maka dari itu karena itulah agama putih mereka pun diberi nama Sunda Wiwitan.

Kepercayaan

[sunting
|
sunting sumber]

Asisten masyarakat Kanekes nan disebut sebagai ajaran Sunda Wiwitan, ajaran leluhur turun temurun nan berurat pada penghormatan kepada
karuhun
atau arwah leluhur dan pemujaan kepada kehidupan keistimewaan alam (animisme). Meskipun sebagian raksasa aspek petunjuk ini adalah kudus adat istiadat bebuyutan, sreg perkembangan selanjutnya ajaran leluhur ini kembali adv minim dipengaruhi makanya sejumlah aspek ramalan Hindu, Buddha, dan di kemudian dari ajaran Islam.

Kerangka apresiasi kepada roh kekuatan pataka ini diwujudkan melalui sikap menjaga dan melestarikan umbul-umbul; yaitu merawat alam sekitar (gunung, bukit, lembah, wana, huma, sumber, batang air, dan segala ekosistem di dalamnya), serta memberikan penghargaan setinggi-tingginya kepada bendera, dengan cara merawat dan menjaga hutan larangan bak bagian dalam upaya menjaga keseimbangan jagat rat. Inti ajun tersebut ditunjukkan dengan adanya pikukuh atau ketentuan adat mutlak yang dianut n domestik kehidupan sehari-perian turunan Kanekes (Garna, 1993). Isi terpenting dari ‘pikukuh’ (loyalitas) Kanekes tersebut adalah konsep “tanpa peralihan apa juga”, atau perubahan sesedikit siapa:

Lojor heunteu beunang dipotong, pèndèk heunteu beunang disambung
(janjang tidak bisa/tidak bisa dipotong, pendek lain boleh/bukan boleh disambung).

Pemali tersebut kerumahtanggaan spirit sehari-waktu diinterpretasikan secara harafiah. Di satah pertanian, bentuk pikukuh tersebut adalah dengan tidak mengubah kontur lahan bagi ladang, sehingga cara berladangnya sangat sederhana, tidak mengolah lahan dengan bajak, bukan membuat terasering, hanya menanam dengan tugal, ialah sepotong aur yang diruncingkan. Sreg pembangunan kondominium juga garis bentuk parasan tanah dibiarkan barang apa adanya, sehingga kusen penyangga kondominium Kanekes berulangulang tidak setimbang janjang. Perkataan dan tindakan mereka juga jujur, polos, tanpa basa-basi, malah n domestik berwarung mereka enggak melakukan sia-sia-menawar.

Korban asisten terpenting bikin masyarakat Kanekes merupakan Arca Domas, yang lokasinya dirahasiakan dan dianggap paling sakral. Orang Kanekes mengunjungi lokasi tersebut kerjakan mengerjakan pemujaan setahun sekali sreg rembulan Kalima, yang puas musim 2003 bertepatan dengan rembulan Juli. Hanya
Pu’un
ataupun ketua rasam terala dan beberapa anggota masyarakat terpilih semata-mata nan mengikuti kontingen pemujaan tersebut. Di kegandrungan Arca Domas tersebut terletak provokasi lumpang yang menggudangkan air hujan abu. Apabila pada saat pengultusan ditemukan gangguan lumpang tersebut ada dalam keadaan mumbung air nan jernih, maka bagi masyarakat Kanekes itu merupakan pertanda bahwa hujan pada tahun tersebut akan banyak roboh, dan panen akan berbuntut baik. Sebaliknya, apabila batu lumpang kering atau berair keruh, maka yakni pertanda kehampaan panen (Permana, 2003a).

Bagi sebagian dok, berkaitan dengan keteguhan masyarakatnya, pendamping nan dianut masyarakat aturan Kanekes ini mencerminkan kepercayaan religiositas awam Sunda secara umum sebelum masuknya Islam.

Pemerintahan

[sunting
|
sunting sumber]

Masyarakat Kanekes mengenal dua sistem pemerintahan, yaitu sistem kebangsaan, nan mengajuk sifat negara Indonesia, dan sistem adat yang mengikuti adat istiadat yang dipercaya awam. Kedua sistem tersebut digabung maupun diakulturasikan sedemikian rupa sehingga tak terjadi tumbukan. Secara kebangsaan, penghuni Kanekes dipimpin maka dari itu kepala desa yang disebut laksana
jaro pamarentah, yang ada di dasar camat, sedangkan secara aturan menyerah pada pimpinan adat Kanekes yang tertinggi, yaitu “Pu’un”.

Struktur pemerintahan Kanekes

Pemimpin adat tertinggi dalam masyarakat Kanekes adalah “Pu’un” yang terserah di tiga kampung
tangtu. Jabatan tersebut berlangsung bebuyutan, namun tak otomatis dari bapak ke anak, melainkan dapat juga kerabat lainnya. Jangka waktu jabatan
Pu’un
bukan ditentukan, sekadar beralaskan pada kemampuan seseorang menjawat jabatan tersebut.

Mata pencaharian

[sunting
|
sunting mata air]

Sebagai halnya nan telah terjadi selama ratusan perian, maka mata pencaharian terdahulu masyarakat Kanekes yaitu bertani gabah huma. Selain itu mereka juga mendapatkan penghasilan apendiks dari lego buah-buahan yang mereka dapatkan di pangan seperti durian dan asam keranji, serta madu alas.

Interaksi dengan publik luar

[sunting
|
sunting sumber]

Awam Kanekes yang sampai sekarang ini ketat mengikuti kebiasaan-istiadat tak yakni awam terasing, terpencil, ataupun masyarakat nan terisolasi berusul perkembangan bumi luar. Berdirinya Kesultanan Banten yang secara otomatis mengegolkan Kanekes ke internal wilayah kekuasaannya kembali tidak amnesti berpangkal kesadaran mereka. Bak merek kesetiaan/pengakuan kepada penguasa, publik Kanekes secara rutin melaksanakan
seba
ke Sultanat Banten (Garna, 1993). Sebatas sekarang, seremoni seba tersebut terus dilangsungkan setahun sekali, berupa menghantar hasil bumi (padi, palawija, buah-buahan) kepada Gubernur Banten (sebelumnya ke Gubernur Jawa Barat), melalui Bupati Lebak di Kota Rangkasbitung. Di bidang perkebunan, penduduk Kanekes Luar berinteraksi intim dengan masyarakat asing, misalnya dalam sewa-mengontrak tanah, dan tenaga buruh.

Perdagangan yang pada hari yang lampau dilakukan secara barter, saat ini ini sudah lalu mempergunakan yen rupe biasa. Bani adam Kanekes menjual hasil buah-buahan, madu, dan gula kawung/enau melangkaui para tengkulak. Mereka pula membeli kebutuhan hidup yang tidak diproduksi sendiri di pasar. Pasar untuk orang Kanekes terdapat di luar kawasan Kanekes seperti pasar Kroya, Cibengkung, dan Ciboleger.

Puas saat ini turunan asing yang mengunjungi daerah Kanekes semakin meningkat sampai dengan ratusan makhluk per siapa kunjungan, biasanya yakni remaja berasal sekolah, mahasiswa, dan pun para pelawat dewasa lainnya. Mereka menerima para tamu tersebut, terlebih untuk menginap satu malam, dengan predestinasi bahwa pengunjung menuruti sifat-istiadat nan bertindak di sana. Aturan adat tersebut antara lain bukan boleh berfoto di wilayah Kanekes Dalam, tidak menunggangi sabun cuci, sampo atau sikat gigi dengan pasta gigi di sungai, tak boleh membuang sampah merambang. Namun, wilayah Kanekes tetap gelap bagi orang asing (non-WNI). Beberapa wartawan luar yang mengepas masuk sebatas saat ini selalu ditolak masuk.

Kapan pekerjaan di ladang bukan plus banyak, orang Kanekes juga senang berkelana ke daerah tingkat osean seputar wilayah mereka dengan syarat harus bepergian kaki. Pada rata-rata mereka pergi dalam rombongan kecil yang terdiri dari 3 sebatas 5 orang, berkunjung ke rumah kenalan yang pernah nomplok ke Kanekes sedarun menjual madu dan hasil kerajinan tangan. Dalam kunjungan tersebut rata-rata mereka mendapatkan tambahan uang bagi mencukupi kebutuhan hidup.

Rujukan

[sunting
|
sunting mata air]

  1. ^


    a




    b




    “Hasil Pencarian – KBBI Daring”.
    kbbi.kemdikbud.go.id.





  2. ^


    Cahya, Kahfi Dirga, ed. (2020-07-20). “Saba Budaya Baduy Gantikan Pariwisata Baduy, Apakah Itu?”.
    Kompas.com
    . Diakses tanggal
    2021-08-07
    .





  3. ^


    BPS Provinsi Banten (2019).
    Pariwisata Banten dalam Angka Musim 2022
    (PDF). Maktab Pariwisata Provinsi Banten. hlm. 51.




Kepustakaan

[sunting
|
sunting sumber]

  • Adimihardja, K. (2000). Turunan Baduy di Banten Selatan: Orang air pemelihara kali besar, Jurnal Antropologi Indonesia, Th. XXIV, No. 61, Jan-Apr 2000, hal 47 – 59.
  • Garna, Y. (1993). Masyarakat Baduy di Banten, internal Publik Terasing di Indonesia, Editor: Koentjaraningrat & Simorangkir, Terang Etnografi Indonesia No.4. Jakarta: Departemen Sosial dan Dewan Nasional Indonesia untuk Kesejahteraan Sosial dengan Gramedia Referensi Utama.
  • Iskandar, J. (1991). An evaluation of the shifting cultivation systems of the Baduy society in West Java using system modelling, Thesis Abstract of AGS Students, [1]
    [
    pranala bebas tugas permanen
    ]

    .
  • Berpunya, A. (2001). Pamarentahan Baduy di Desa Kanekes: Perspektif peguyuban, [2].
  • Nugraheni, E. & Winata, A. (2003). Pemeliharaan lingkungan dan plasma Nutfah menurut kearifan tradisional masyarakat kasepuhan Gunung Halimun, Kronik Studi Indonesia, Tagihan 13, Nomor 2, September 2003, pekarangan 126-143.
  • Permana, C.E. (2001). Kufu gender internal kebiasaan inti antarbangsa Baduy, Jakarta: Wedatama Widya Sastra.
  • Permana, C.E. (2003). Arca Domas Baduy: Sebuah referensi arkeologi intern penafsiran ulas masyarakat megalitik, Indonesian Arheology on the Net, [3]
  • Permana, C.E. (2003). Religi n domestik tradisi bercocok tanam terbelakang, Indonesian Arheology on the Kisa, [4]
  • Ascher, Robert, 1971 Analogy in Archaeological Interpretation, dalam James Deetz (ed.) Mans Imprint from the Past. Boston: Little Brown. Peristiwa: 262271.
  • Danasasmita, Saleh dan Anis Djatisunda,., 1986 Spirit Masyarakat Kanekes. Bandung: Sundanologi.
  • Ekadjati, Edi S., 1995 Kebudayaan Sunda (Suatu Pendekatan Sejarah). Jakarta: Pustaka Jaya.
  • Garna, Judhistira, 1988 Persilihan Sosial Budaya Baduy dalam Nurhadi Rangkuti (Peny.). Orang Baduy dari Inti Jagat rat. Bentara Budaya, KOMPAS, Yogyakarta: Etnodata Prosindo.
  • 1993 Masyarakat Baduy di Banten, dalam Koentjaraningrat (ed.) Umum Terasing di Indonesia. Jakarta: Gramedia . Peristiwa. 120-152)
  • Hoevell, W.R. van, 1845 Bijdrage tot de kennis der Badoeinen in het zuiden der residentie Bantam. TNI, VII: 335-430.
  • Iskandar, Johan, 1992 Ilmu lingkungan Perladangan di Indonesia: Penelitian Kasus berpunca Distrik Baduy, Banten Daksina, Jawa Barat. Jakarta: Djambatan.
  • Jacobs, J. and J.J. Meijer, 1891 De Badoejs. s-Grahenhage: Martinus Nijhoff.
  • Koorders, D., 1869 Losse Aantekeningeng tijdens het bezoek bij de Badois, BKI, LVI: 335-341.
  • Kramer, C., 1979 Etnoarchaeology: Implication of Ethnography for Archaeology. New York: Columbia University Press.
  • Mundardjito., 1981 Etnoarkeologi: Peranannya dalam Peluasan Arkeologi di Indonesia, dalam Majalah Arkeologi 1-2, IV:17-29
  • Permana, R. Cecep Eka, 1996 Tata Ruang Masyarakat Baduy. Tesis Antropologi Acara Pascasarjana Universitas Indonesia.
  • Pleyte, C.M., 1909 Artja Domas, het zielenland der Badoejs. Tijdschrift voor Indishe Taal, land en Volkenkunde. LI:Afl. 6: 494-526.
  • Sucipto, Toto (Drs.); Limbeng, Julianus, S.Sn., M.Si. (2007). Dra. Siti Maria, ed.
    Studi Tentang Religi Masyarakat Baduy di Desa Kanekes Provinsi Banten. Sorot pengungkapan ponten-skor kepercayaan komunitas aturan. Jakarta: Departemen Kebudayaan dan Pariwisata; Direktorat Jenderal Nilai Budaya, Seni dan Gambar hidup; Direktorat Pendamping Terhadap Tuhan Yang Maha Esa.



  • Tricht, B. van, 1929 Levende Antiquiteiten in West-Java. Djawa IX: 43-120.
  • Rahardjo, D.M.; Rahayu (2002).
    Ebi kanekes di Banten Kidul. Jakarta: Badan peluasan kebudayaan dan wisata. OCLC 993742641.



Lihat juga

[sunting
|
sunting sumur]

  • Orang Amish di AS yang sama-sama mengisolasi diri.
  • Suku Sunda Baduy

Pranala luar

[sunting
|
sunting mata air]


Gambar pada pranala luar
Klik pranala arti melihat gambar
Searchtool.svg Arca Domas
  • Zanten, W. van. Aspects of Baduy Music Diarsipkan 2022-08-21 di Wayback Machine..
  • Patung Domas Baduy Diarsipkan 2022-03-16 di Wayback Machine.
  • (Indonesia) Bersama suku Baduy yang solo
  • (Inggris)
    The Baduy People
  • (Indonesia) Bersinergi Dengan Alam di Tanah Baduy



Source: https://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Badui

Posted by: gamadelic.com