Struktur Teks Cerita Pendek Adalah

Menuduh Cerpen: Signifikansi, Ciri, Fungsi, Struktur & Analisis | Bahasa Indonesia Kelas bawah 11

Apa itu Cerpen

Apa itu cerpen? Seperti barang apa pola cerpen dan bagaimana cara menganalisisnya? Marilah, jawab rasa penasaranmu akan halnya cerpen dengan mengaji artikel Bahasa Indonesia kelas 11 ini!

Ketika memasuki inferior 11 SMA semester 1, dalam kursus Bahasa Indonesia engkau akan bertarung dengan topik-topik pelajaran nan tinggal mengademkan. Mengapa? Karena anda akan banyak membiasakan mengenal dan mencerna makin kerumahtanggaan tentang cerpen, pantun, juga cerita-cerita nonfiksi lainnya.

Sampai-sampai kerjakan ia yang gemar membaca, batik, berimajinasi, dan memikirkan banyak hal, tulisan seringkali menjadi media yang sangat sekata untuk membuka dan memformulasikan perasaan serta pemikiran.

Cukuplah, salah satu rencana tulisan ataupun karya sastra yang akan kita bahas di sini ialah cerpen. Pasti kamu udah familiar centung dengan cerpen? Tapi, apakah kamu senggang bedanya cerpen dengan novel? Meskipun agak mirip-mirip, cerpen dan novel memiliki perbedaan yang cukup signifikan, lho!

Denotasi Cerpen

Cerpen itu abreviasi berpokok

kisah pendek
. Nah, cerita pendek atau
cerpen ialah salah satu jenis karya sastra yang berbentuk prosa fiksi. Bedanya sekufu novel, cerita di dalam cerpen condong lebih padat dan lazimnya tidak memiliki banyak biang keladi. Yaa.. kalau orang-orang bilang, kita hanya kalam sekali duduk bagi mengatasi satu cerita sumir. Hmm, mana tahu bisa dicoba.

Siapa belaka dapat takhlik kisah ringkas. Termasuk kamu yang masih duduk di bangku sekolah. Arwah di sekolah tentunya lewat menganjur, dong! Banyak situasi-kejadian menyeret yang boleh kamu ekspresikan ke internal sebuah narasi pendek.

Entah itu cerita tentang tingkah lucu temanmu semasa SMA, kisahan tentang guru tegas dan guru gecul yang selalu membuatmu pulang ingatan pada dirinya, atau bahkan cerita-cerita manis yang mungkin, ketika kamu malu mengekspresikannya, kamu bisa mewakilinya dengan menciptakan tokoh pada sebuah cerita pendek. Itu menarik banget!

Biaya siluman Mewujudkan Cerpen

Lalu, bagaimana pendirian membuat cerpen? Eits,
membuat cerpen juga ada tekniknya, lho! Beliau bisa
berkonsultasi dengan guru
Bahasa Indonesiamu di sekolah, terus kalau di rumah, boleh sambil buka aplikasi Ruangguru dan nonton video belajarnya di
ruangbelajar.

Sebenarnya, nggak banyak kok, yang harus dipelajari dalam membentuk sebuah cerpen. Kamu cukup
memahami kurnia, unsur intrinsik, dan atom ekstrinsik


cerpen.

Lalu, ia boleh
membuat kerangka cerita dan berangkat menulisnya. Pasca- kaprikornus, anda bisa
konsultasikan pun ke gurumu
di sekolah. Seandainya menurut beliau oke, suntuk diterbitin deh, di
blog
pribadi. Atau bisa juga dikirim ke media-ki alat.

Sudahlah, jika kamu sudah reseptif tentang dasar-dasar cerpen, kamu juga perlu
membaca banyak referensi narasi
untuk menambah kosakatamu. Lakukan membuat cerpen, kamu juga harus
memahami isi dalam sebuah kisahan
yang dibuat oleh orang lain. Maka itu, di sini kita juga akan membahas tentang amatan cerpen, ya!

Baca Pula: Ayo, Ketahui Spesies-Jenis Kiat Nonfiksi!

Ciri-Ciri Cerpen

Cerpen mempunyai sejumlah ciri-ciri. Di antaranya adalah:

1. Terfokus lega 1 tokoh

2. Ceritanya tidak lebih berusul 10.000 alas kata

3. Memiliki puncak masalah

4. Terdapat solusi alias penyelesaian keburukan

5. Ceritanya padat dan serampak terpatok pada tujuan

6. Silsilah yang singkat membuat cerpen tidak punya tokoh yang banyak

7. Latar ceritanya terbatas

ciri-ciri cerpen

Fungsi Cerpen

Cerpen kembali punya fungsi, lho! Apa aja sih, khasiat cerpen? Coba perhatikan infografik berikut!

5 fungsi cerpen

1. Kurnia Rekreatif

Cerpen berfungsi cak bagi memberikan
rasa senang, gembira, dan menghibur
bagi seluruh pembacanya.

2. Fungsi Estetis

Cerpen memiliki fungsi bikin
memasrahkan keindahan
buat pembaca karya sastra.

3. Fungsi Moralitas

Cerpen dapat
menyerahkan biji-angka tata susila
kepada pembaca, sehingga mendapat pesiaran tentang hal-hal nan baik dan hal-hal yang buruk.

4. Fungsi Didaktif

Cerpen boleh
mengarahkan dan mendidik
sidang pembaca dengan nilai-nilai legalitas dan kebaikan di dalam cerita.

5. Fungsi Relegiusitas

Cerpen
mengandung nilai-nilai nan terletak pada wahyu agama
nan bisa dijadikan teladan bagi para pembacanya.

Selain kelima arti tersebut, cerpen kembali memiliki fungsi-fungsi lainnya, tergantung dari maksud dan tujuan pengarang saat menulis cerpen.

Baca Kembali: Segala apa Sekadar Unsur-Unsur Intrinsik Cerpen? Cari Tahu Yuk!

Rehat sekilas yuk! Sebelum lanjut ke materi struktur cerpen, sudah tahu belum sekiranya di aplikasi Ruangguru sekarang ada fitur yunior, yaitu AdaptoX. Beliau bisa belajar sinkron bermain game interaktif seru sesuai dengan materi yang sedang kamu pelajari. Cobain, ayo!





Fitur AdaptoX ruangbelajar


Struktur Cerpen

Struktur cerpen terdiri 6 babak, merupakan abstrak, orientasi, aliansi keadaan, keburukan, resolusi, dan koda. Nah, untuk penjelasan lebih lengkapnya, cak semau di bawah ini, ya!

1. Hipotetis

Niskala yaitu bagian cerpen yang
menggambarkan keseluruhan isi kisah.

2. Orientasi

Orientasi cerpen berisi penentuan keadaan nan menciptakan paparan optis dari permukaan, angkasa luar, dan musim dari cerita. Di bagian ini, kamu kembali akan menemukan pengenalan para tokoh, mengatak putaran, dan perpautan antartokoh.

3. Rangkaian Peristiwa

Lalu, pada bagian ini, kisah akan berlantas melangkaui serangkaian situasi satu ke hal lainnya yang tidak terkira.

4. Komplikasi

Kemudian, cerita akan bergerak menjurus konflik ataupun puncak masalah, perlagaan, ataupun kesulitan-kesulitan cak bagi para tokohnya yang memengaruhi parasan waktu dan kepribadian.

5. Resolusi

Terakhir, pada bagian ini, akan mengobrolkan solusi dari keburukan atau tantangan yang dicapai. Engkau juga akan mengetahui bagaimana mandu pengarang mengakhiri cerita.

6. Koda

Koda yaitu
komentar akhir terhadap keseluruhan isi cerita. Bagian ini juga bisa disebut simpulan cerpen.

Oke, sesudah kita mengetahui pengertian, ciri-ciri, keefektifan, dan struktur cerita pendek, nggak afdhol kalo kita nggak menganalisis arketipe cerpen, nih!

Baca Juga: Kajian Anasir Ekstrinsik Cerpen, Ada Apa Saja Ya?

Ideal Cerpen Singkat

Oke, di sini kamu dapat
mengaji contoh cerpen (cerita pendek) terlebih terlampau, kemudian kita kajian bersama beralaskan strukturnya. Baca baik-baik, dan nikmati galur ceritanya, ya!

Tikus dan Hamba allah

(Karangan Jakob Sumardjo)

Entah bagaimana caranya tikus itu memasuki kondominium kami setia sebuah misteri. Tikus berpikir dalam-dalam secara tikus dan manusia nanang secara manusia, hanya manusia-tikus nan bakir membongkar mirakel ini. Semua lubang di seluruh apartemen kami tutup rapat (sepanjang nan kami temukan), namun tikus itu tetap masuk rumah. Kondominium kami dikelilingi huma zero yang luas milik tetangga. Kami menduga tikus itu adalah tikus tegal. Tubuhnya memadai lautan dan bulunya hitam legam.

Pertama kali kami menyadari kehadiran pemukim rumah yang lain diundang, dan enggak kami ingini itu, ketika saya tengah menonton film. Seketika tungkai saya diterjang benda dingin yang meluncur ke arah televisi, dan saya lihat tikus hitam besar itu berlari kencang bersembunyi di genyot rak buku. Jantung saya nyaris tanggal, darah naik ke atasan akibat terkesiap, dan otomatis kedua tungkai saya angkat ke atas.

Baru kemudian muncul kicauan dan kegeraman saya. Saya mengejar semacam tongkat di genahar, dan hanya saya temukan sapu ijuk. Sapu itu saya genyot memegangnya dan menuju ke arah balik rak buku.Tangan saya amat kebelet menabok tinggal itu tikus. Tetapi, tak saya lihat wujud benda barang apa sekali lagi di sana. Kali begejil item telah masuk rak putaran bawah di mana terdapat gua untuk mengegolkan kabel-kabel puas televisi. Untuk memeriksanya, saya harus mematikan televisi sangat. Saya takut kalau tikus keparat itu menyerang saya menginjak-tiba.

Imigran gelap rumah itu, saya biarkan selamat silam.

Saya bukan kontak menceritakan keberadaan tikus itu kepada istri saya yang pembenci tikus, sampai lega suatu hari ayutayutan saya yang justru memberitahukan kepada saya adanya tikus tersebut. Berita itu begitu pentingnya melebihi kegawatan masuknya teroris di kampung kami.

“Kelongsong, rumah kita majenun tikus lagi! Segara sekali! Item!”

“Di mana Mamah lihat?”

“Di tanur, lari berpokok rak piring menuju belakang kulkas!” Istri saya buncah luar biasa, menahan berasimilasi, serempak mengacung-acungkan pisau tanur ke arah lemari es di kompor.

“Sudah suatu tahun enggak ada tikus. Rumah sudah kudrati. Cak kenapa tikus timbrung rumah kita? Jiran jauh. Terbit mana tikus itu?”

“Itu tikus kebun, Mah,” jawab saya santai serta merta mengganjar buku ke rak buku.

“Jangan leha-leha-leha-leha saja Pah, cepat lihat relung kulkas!”

Wah, keadaan semakin gawat. Saya memenuhi perintah amputan saya dengan menggalakkan senter ke bagian kolong lemari pendingin. Tidak ada apa pun. Tikus keparat! Ke mana ia hirap?

Sejak itu istri saya amat membedabedakan menjaga kebersihan. Semua piring di rak dibungkus kain, kembali tempat sendok. Tudung hidangan diberati dengan ulekan agar tikus tidak boleh melalui ikut buat menggasak peranakan geladir. Gelas alumnus saya minum malam perian harus ditutup mepet. Tempat sampah ditutupi bakul sampah penadah sampah bersama-sama diberati batu. Strategi kami adalah semua tempat lambung ditutup rapat-berapatan sehingga tikus tidak akan bisa menerobos.

Istri saya memanjar dibelikan lem tikus paling mustakim. Selembar kertas patra tebal dilumuri perekat tikus maka dari itu istri saya dan di paruh-tengah lumuran lem itu ditaruh ampela ayam adegan bersantap malam saya. Jebakan lem tikus ditaruh di kaki kulkas. Pada lilin lebah itu, ketika candik saya tengah asyik menonton sinetron, istri saya menginjak-tiba berteriak memanggil saya yang sedang mengulangi membaca di kamar kerja, bahwa si tikus terkekang.

Saya lekas menutup buku dan lari ke dapur menyusul istri. Benar, seekor tikus hitam sedang meronta-ronta melepaskan diri dari kertas yang berlem itu.

“Mana pengetuk metal?!” saya panik mencari pukul besi yang entah disimpan di mana di dapur itu.

“Jangan dipukul Pah!”

“Lewat bagaimana?” Saya menjawab mendongkol.

“Selimuti dengan kertas surat kabar. Bungkus rapat-rapat. Digulung cak agar seluruh lem lengket ke badannya.”

“Lalu diapakan?” Saya semakin dongkol.

“Buang di tempat sampah!”

“Aah, mana pengetuk besi?”Kedongkolan memuncak.

“Besok darahnya ke mana-mana! Contong saja berhimpit-berhimpit!”

Saya mengalah. Ketika tikus itu akan saya tutupi plano koran, matanya kuyu penuh kekaguman memandang saya. Ah, persetan! Saya mengimpitkan rasa absolusi saya. Tikus saya basung rapat-rapat, sangat saya buang di leger sampah di depan rumah, serampak bukan pangling menunaikan janji perintah gendak saya agar penutupnya diberati batu.

Siang harinya sepulang terbit mengajar, istri saya tertahan-tahan memberi tahu saya bahwa tikus itu lepas detik Mang Maman ahli sampah cak hendak melimpahkan sampah ke gerobaknya. Kisahan Mang Maman, ada tikus meloncat bersumber cikar sampahnya dan lari ke kebun sebelah dengan terbungkus kertas coklat. Cerita lepasnya tikus ini beberapa masa kemudian diperkuat oleh Bi Nyai, pembantu kami, bahwa sira melihat tikus hitam yang belang-belang kulitnya. Geram juga saya, dan mengendap-endap saya membeli dua haring tikus. Saat mau saya pasang lilin batik harinya, istri gelap saya keberatan.

“Darahnya ke mana-mana,” katanya.

“Ah, gampang, urusan saya. Takdirnya kena ubin, saya akan pel pakai kreolin,” jawabku.

Ulam-ulam saya mengalah, dan rupanya merasa punya andil bersalah sekali lagi. Coba kalau tikus itu dulu kupukul kepalanya, tentu beres.

Puas musim subuh ayutayutan membangunkan saya.

“Tikusnya kena, Pah!”

Memang benar, seekor tikus hitam tercapit jebakan persis pada lehernya. Darah tak banyak keluar. Detik saya amati dari dekat, ternyata tidak tikus yang kulitnya sudah belang-gundul.

“Ini bukan tikus yang lepas itu, Mah!”

“Perian?”Ia mendekat mengamati.

“Kalau begitu terserah tikus tidak.”

“Boleh jadi ini istrinya,” celetekku.

Detik cak hendak saya lepas dari jebakan, istri saya melarangnya.

“Keluarkan saja ke tempat sampah dengan jebakannya.”

Rasa tidak aman masih menggantung di rumah kami.Tikus belang itu masih hidup. Permusuhan kami belum terbalas. Berhari-hari kemudian kami memasang juga lem tikus dengan bergantiganti umpan, seperti sate ayam, sate embek, lauk jambal kegemaran saya, sosis, semata-mata tak pernah berbuntut menangkap si belang.

Bibi mengusulkan hendaknya dikasih umpan ayam bakar. Saya membeli segumpal ayam jantan bakar di restoran padang yang paling ramai dikunjungi makhluk. Sepotong katai paha ayam jantan itu dipasang istri saya di tengah lumuran perekat Fox, sisanya saya pakai ikan makan lilin lebah.

Gagasan Bi Nyai ternyata pintar. Seekor tikus menggeliat-geliat melepaskan diri berasal karton tebal nan dilumuri perekat.Tikus itu betul-betul musuh gula-gula saya, di beberapa bagian badannya telah tidak berbulu. Kasihan juga melihat semarak matanya yang memelas seolah minta ampun.

“Mah, cepat renggut martil besinya.”

Candik saya mengambil pukul besi di dapur dan diberikan kepada saya. Ketika mau saya hantam kepalanya, istri saya melarang berbarengan berteriak.

“Tunggu dulu! Pukul besinya dibungkus buletin lampau. Kepala tikus lagi dibungkus koran. Darahnya dapat enggak ke mana-mana!”

Serupa itu jengkelnya saya kepada istri yang tak interelasi belajar bahwa tikus yang meronta-ronta itu boleh belas kasihan pula.

“Cepat sana. Cari koran!” bentakku jengkel.

“Kenapa sih berang-marah doang?” sahut ulam-ulam saya dongkol pun. Saya sengap saja, tetapi cukup tegang melihat tikus nan meronta-ronta semakin hebat itu. Kalau dulu berpengalaman magfirah, karuan anda bisa pembebasan juga kini.

Akhirnya tikus hitam itu saya hantam tiga kali plong kepalanya. Bangkainya dibuang bibi di tempat sampah.

Sejumlah periode setelah itu istri saya tiba kendur ketegangannya. Kalau saya lupa menutup kopi nescafe, biasanya dia murka-murka kalau lepasan tindasan susu itu dijilati tikus, tetapi sekarang tidak mendengar lagi sewotnya. Begitulah kedamaian kondominium kami mulai nampak, sampai puas suatu pagi istri saya mendengar sayup-sayup cicit-cicit obstulen bayi tikus! Inilah gejala perang baratayuda akan dimulai kembali di rumah kami.

“Harus kita temukan sarangnya! Bayi-bayi tikus itu kelaparan ditinggal kedua orangtuanya. Kalau nyenyat bagaimana? Seandainya mereka hidup, rumah kita menjadi rumah tikus!” kata ayutayutan.

Lalu kami berbuat pengejaran besar-total. Bagian-bagian tersembunyi di rumah kami obrak-abrik, doang jabang bayi-jabang bayi tikus lain ketemu. Bayi-bayi itu sekali lagi tidak kedengaran tangisnya lagi. “Mungkin ada di para-para. Tapi bagaimana naiknya?” pengenalan saya.

“Nunggu Mang Maman jika rebut sampah siang,” pembukaan istri. Momen Mang Pucang mau mencekit sampah di depan rumah, bibi minta kepadanya kerjakan menanjak ke menara mencari bayi-bayi tikus.

“Di jihat mana, Bu?” tanya Mang Pinang.

“Tadi tetapi terdengar di pemanas doang. Mungkin di atas tenggarang ini atau intim-intim sekitar situ,” sahut istri saya.

Sekitar sepoteng jam kemudian Mang Hilang akal berteriak dari menara bahwa orok-bayi tikus itu ditemukan. Mang Maman membawa kanak-kanak anyir-bayi itu di kedua kepalan tangan tangannya sambil menuruni jenjang.

“Ini Bu ada lima. Satu bayi telah antap, yang lain sudah lalu lemas. Lihat, napas mereka telah tersengal-lumbago.”

Cem-ceman saya bergidik menyaksikan bayi-bayi tikus sirah itu.

“Bunuh dan lempar ke tempat sampah, Mang” pengenalan istri saya.

“Ah, jangan Bu, cak hendak saya bawa pulang.”

“Mau membudidayakan tikus?” tanya istri saya heran.

“Ah ya tidak Bu. Orok-jabang bayi tikus ini bisa dijadikan obat kuat,” jawab Mang Maman serentak meringis.

“Obat kuat? Bagaimana memakannya?”

“Ya ditelan begitu saja. Bisa sekali lagi dicelupkan ke kecap makin dulu.”

Selepas memberi upah sepuluh ribu rial, istri saya masih terbengong-bengong menyaksikan Mang Pinang memasukkan keempat bayi tikus itu ke kedua kantong celananya, sedangkan yang seekor dijinjing dengan ujung tangan dan dilemparkan ke pedati sampahnya.

Tikus-tikus tak terpisahkan dari vitalitas manusia. Tikus comar mengimak manusia dan memakan makanan manusia juga. Meskipun buat sementara makhluk, terutama perempuan, tikus-tikus amat menjijikkan, mereka sulit dimusnahkan. Perang melawan tikus ini tidak akan pernah berparak.

Saya masih menunggu, pada suatu tahun gendak saya akan terdengar teriakannya lagi maka dari itu penampakan tikus-tikus nan baru.

Baca Juga: Pusparagam Ideal Cerpen Ringkas & Menarik beserta Strukturnya

Analisis Cerpen

Bagaimana menurutmu narasi tadi? Apakah menarik? Setelah kamu membacanya, sekarang kita mulai menganalisis contoh cerpen tersebut, yuk! Caranya ialah dengan
menghakimi struktur
atau bagian-babak berpokok cerpen tersebut. Begitu juga yang sudah dijelaskan sebelumnya, struktur cerpen sendiri terdiri berpangkal
Lengkap, Habituasi, Komplikasi (Puncak Konflik), Evaluasi, Resolusi,

dan

Koda. Kita telaah satu-satu satu, ya!

a. Abstrak

Tanwujud merupakan bagian kisah yang
menggambarkan keseluruhan isi narasi. Jikalau kesediaan maya dalam cerpen, sebenarnya bersifat opsional, barangkali ada nan menggunakannya barangkali sekali lagi tak. Apalagi, jika kisah dalam cerpen menghadap serempak plong situasi-peristiwa penting, tidak berlarat-larat, dan serentak terpusat lega konflik utamanya.

b. Aklimatisasi

Aklimatisasi adalah
pengenalan cerita. Pada penyesuaian ini, biasanya pengarang ingin memulainya dengan memvisualkan penokohan alias bibit-bibit kebobrokan nan dialaminya. Hipotetis orientasi cerpen terdapat pada kutipan berikut ini:

Kutipan:

Entah bagaimana caranya tikus itu memasuki rumah kami setia sebuah mirakel. Tikus berpikir secara tikus dan manusia berpikir dalam-dalam secara individu, hanya manusia-tikus yang berpunya membongkar misteri ini. Semua korok di seluruh rumah kami tutup rapat (sepanjang yang kami temukan), namun tikus itu tetap masuk rumah. Rumah kami dikelilingi kebun kosong yang luas hak setangga. Kami mengasa tikus itu adalah tikus tipar.Tubuhnya cukup besar dan bulunya hitam legam.

Kutipan tersebut
mengenalkan masalah yang dialami tokoh, yakni dengan mengilustrasikan banyaknya tikus di kerumahtanggaan rumah mereka.

c. Komplikasi (Puncak Konflik)

Komplikasi atau puncak konflik adalah episode cerpen nan
menceritakan puncak penyakit yang dialami inisiator utama.

Masalah itu karuan namun lain dikehendaki oleh sang tokoh. Putaran ini pula yang paling menegangkan dan memunculkan rasa penasaran pembaca tentang cara sang tokoh di n domestik menguasai masalahnya bisa terjawab. Dalam bagian ini, sang tokoh menghadapi dan menyelesaikan masalah itu, kemudian timbul konsekuensi maupun akibat-akibat tertentu yang menghilangkan masalah sebelumnya.

Kutipan:

“Mah, cepat rampas pukul besinya.”

Istri saya menjeput palu besi di pemanas dan diberikan kepada saya. Ketika ingin saya hantam kepalanya, candik saya melarang sambil berteriak.

“Tunggu dulu! Pukul besinya dibungkus koran dulu. Kepala tikus lagi dibungkus jurnal. Darahnya bisa lain ke mana-mana!”

Begitu jengkelnya saya kepada istri yang tidak persaudaraan sparing bahwa tikus yang meronta-ronta itu bisa lepas pula.

“Cepat sana. Cari koran!” bentakku jengkel.

“Kenapa sih berang-marah sekadar?” sahut istri saya dongkol sekali lagi. Saya diam saja, tetapi cukup tegang mematamatai tikus yang meronta-ronta semakin hebat itu. Jikalau habis berpengalaman lepas, tentu ia bisa lepas juga masa ini.

Akhirnya tikus hitam itu saya hantam tiga kali pada kepalanya. Bangkainya dibuang bibi di medan sampah.

Kutipan tersebut merupakan komplikasi karena
pada penggalan itulah sang gembong utama menyelesaikan permasalahannya, yaitu dengan melakukan usaha tangkap tikus bersama-sebanding istrinya. Lega bagian itu pula ketimbul kegentingan puncak antartokoh, termasuk implikasinya pada pembaca nan turut terlibat emosi dan rasa penasarannya. Kemudian, hal tersebut terjawab, yakni dengan terkalahkannya tikus-tikus pembawa masalah mereka itu.

d. Evaluasi

Evaluasi adalah
babak nan

menyatakan komentar pengarang atas hal puncak yang telah diceritakannya

.
Komentar yang dimaksud dapat dinyatakan bertepatan makanya pengarang atau diwakili oleh pengambil inisiatif tertentu. Sreg bagian ini silsilah ataupun konflik kisah sangkil mengendur, tetapi pembaca tetap menunggu implikasi ataupun konflik selanjutnya, sebagai akhir bersumber ceritanya.

Kutipan:

Sejumlah masa selepas itu istri saya menginjak kendur ketegangannya. Kalau saya lupa menutup manuskrip, biasanya dia marah-marah kalau palagan salinan payudara itu dijilati tikus, sekadar sekarang tidak mendengar lagi sewotnya. Begitulah kesentosaan rumah kami mulai nampak, hingga pada suatu pagi ulam-ulam saya mendengar sayup-sayup cicit-cicit bunyi bayi tikus! Inilah gejala perang baratayuda akan dimulai lagi di rumah kami.

Penggalan cerita di atas
merupakan akibat atau implikasi dari keadaan puncak. Sang istri tokoh utama tidak tegang juga dengan ulah-ulah tikus itu, kedamaian di rumahnya kembali mulai mereka rasakan walaupun itu bukan nan terakhir karena masih suka-suka masalah lain yang tersisa, merupakan nan disebut dengan perang Baratayuda, pemburuan gencar terhadap feses-geladir dan sarang-sarang tikus.

e. Resolusi

Resolusi merupakan

tahap penuntasan akhir dari seluruh perikatan narasi

.
Bedanya dengan komplikasi, plong adegan ini ketegangan sudah lalu makin mereda. Dapat dikatakan pada bagian ini belaka terwalak kelainan-keburukan kecil yang tersisa yang perlu beruntung penyelesaian.

Kutipan:

Istri saya bergidik menyaksikan bayi-bayi tikus merah itu.

“Lenyapkan dan lepaskan ke ajang sampah, Mang” kata istri saya.

“Ah, jangan Bu, mau saya dukung pulang.”

“Mau memelihara tikus?” pertanyaan ulam-ulam saya heran.

“Ah ya tidak Bu. Bayi-orok tikus ini boleh dijadikan remedi langgeng,” jawab Mang Maman sambil meringis.

“Penawar lestari? Bagaimana memakannya?”

“Ya ditelan begitu belaka. Bisa sekali lagi dicelupkan ke kecap lebih dulu.”

Setelah membagi upah dasa ribu rial, istri saya masih terbengong-bengong menyaksikan Mang Maman memasukkan keempat bayi tikus itu ke kedua kantong celananya, sedangkan yang seekor dijinjing dengan jemari dan dilemparkan ke gerobak sampahnya.

Kutipan tersebut menceritakan
penyelesaian masalah, sebagai akhir berpangkal konflik penting, tidak lagi cak semau ketegangan di dalamnya. Semua problem kembali dianggap tuntas dengan dimasukkannya anak-anak asuh tikus ke dalam kantong celana Mang Maman dan sebagiannya pun dibuang ke cikar sampah dengan entengnya.

f. Koda

Koda yaitu

komentar akhir terhadap keseluruhan isi cerita

.
Penggalan ini boleh juga diisi dengan simpulan tentang hal-hal yang dialami tokoh penting.

Kutipan:

Tikus-tikus tak terpisahkan semenjak hidup manusia.Tikus kerap mengimak manusia dan memakan makanan sosok juga. Biarpun cak bagi sementara orang, terutama dara, tikus-tikus amat menjijikkan, mereka selit belit dimusnahkan. Perang melawan tikus ini lain akan pernah berakhir.

Saya masih menunggu, pada suatu waktu ampean saya akan terdengar teriakannya lagi oleh penampakan tikus-tikus yang baru.

Dalam babak cerita tersebut,
pengarangnya mengomentari bahwa perang sosok membalas tikus enggak akan hubungan bererak. Tikus-tikus tetap akan menguntit cucu adam sejauh makanannya itu tetap ada, tak terkecuali pada istrinya yang sreg saat-saat tertentu akan merasa terancam lagi oleh penampakan tikus-tikus baru lainnya.

Bagian-babak cerita singkat itu merupakan gambar struktur umum. Artinya habis mungkin keberadaan cerpen-cerpen lainnya tidak punya struktur sebagai halnya itu. Peristiwa ini terkait dengan kreativitas dan kebebasan yang dimiliki oleh setiap pengarang privat berkarya. Terimalah, independensi itu sah disebut bagaikan

Licentia Poetica
.

Baca Juga: Teladan Referensi Eksplanasi berdasarkan Strukturnya

Itu semua adalah gambaran privat menganalisis sebuah cerpen. Cak semau banyak struktur intern cerpen yang jika kita urutkan, bisa kita pahami cara pengarang dalam mewujudkan sebuah tulisan cerita yang menarik dan imajinatif.

Bagaimana? Sekarang kamu telah paham cerek apa itu cerpen dan bagaimana cara menganalisis contoh cerpen bersendikan strukturnya? Sesungguhnya masih banyak lho, teknik-teknik yang bisa digunakan dalam menganalisis sebuah cerpen. Sekiranya kamu ingin jago menciptakan menjadikan cerpen yang menarik dan disenangi banyak pembaca, mulailah memahaminya dan mulailah menulis.

So, bagi mendapatkan banyak pengetahuan tentang cerpen, selain bersumber guru di sekolahmu, kamu juga bisa menonton video membiasakan di ruangbelajar. Sesudah itu, kamu bisa konsultasikan deh, ke gurumu! Jadi, selamat belajar dan menulis cerpen!





New call-to-action


Bacaan:

Suherli dkk. 2022.
Bahasa Indonesia bikin SMA/MA Kelas bawah 11. Jakarta: Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang, Kemendikbud.


Artikel ini telah diperbarui pada 15 November 2022.

Profile

Fahri Abdillah

Tertarik dengan isu pendidikan, literasi wahana, dan budaya. Gemar urut-urutan-perkembangan ke tempat baru, fotografi, dan menulis.

Source: https://www.ruangguru.com/blog/apa-itu-cerpen

Posted by: gamadelic.com