Sifilis Disebabkan Oleh Bakteri Apa

Sakit sabun
Treponema pallidum.jpg
Citra mikrograf elektron
Treponema pallidum, bakteri penyebab sifilis
Informasi umum
Spesialisasi Penyakit infeksi, Dermatologi
Sunting ini di Wikidata

Sakit sabun
atau
keburukan sunan singa
adalah infeksi menular genital yang disebabkan makanya bakteri spiroset
Treponema pallidum
sub-varietas
pallidum. Rute utama penularannya melalui kontak seksual; infeksi ini sekali lagi bisa ditularkan bermula ibu ke janin sejauh kehamilan atau saat kelahiran, yang menyebabkan terjadinya kencing nanah kongenital. Penyakit bukan nan diderita bani adam yang disebabkan maka itu
Treponema pallidum
termaktub frambusia ataupun puru (subspesies
pertenue), pinta (sub-macam
carateum), dan bejel (sub-macam
endemicum).

Tanda dan gejala sifilis plural gelimbir plong fase mana keburukan tersebut muncul (primer, sekunder, laten, dan tersier). Fase primer secara umum ditandai dengan munculnya
chancre
tunggal (ulserasi keras, tidak menimbulkan rasa sakit, tak menggelinyau di kulit), sifilis sekunder ditandai dengan ruam yang hambur nan acap kali muncul di telapak tangan dan tungkak suku, kencing nanah laten biasanya bukan memiliki alias hanya menunjukkan adv minim gejala, dan sifilis tersier dengan gejala gumma, neurologis, atau jantung. Namun, problem ini telah dikenal sebagai “peniru ulung” karena kemunculannya ditandai dengan gejala yang tak setinggi. Diagnosis lazimnya dilakukan melewati testimoni darah; tetapi, patogen juga bisa dilihat melintasi mikroskop. Sifilis dapat diobati secara efektif dengan antibiotik, khususnya dengan suntikan penisilin G (nan disuntikkan lakukan neurosifilis), ataupun seftriakson, dan bagi pasien yang memiliki alergi jarang terhadap penisilin, doksisiklin maupun azitromisin dapat diberikan secara oral.

Sakit sabun diyakini mutakadim menginfeksi 12 juta orang di seluruh dunia pada masa 1999, dengan makin dari 90% kasus terjadi di negara berkembang. Setelah jumlah kasus menurun secara dramatis sejak ketersediaan penicilin di seluruh dunia pada 1940an, skor infeksi kembali meningkat sejak pergantian milenium di banyak negara, sewaktu-waktu unjuk bersamaan dengan
human immunodeficiency virus
(HIV). Kredit ini disebabkan sebagian oleh praktik seks yang tidak lega hati dan penurunan penggunaan proteksi ketika berhubungan seksualitas.[1]
[2]
[3]

Tera dan gejala

[sunting
|
sunting sumber]

Gonore dapat muncul sreg satu di antara empat fase nan berbeda; primer, sekunder, laten, dan tersier, dan bisa pun terjadi secara congenital. Fase ini disebut misal “peniru yang hebat” oleh Sir William Osler dikarenakan kemunculannya yang bervariasi.

Primer

[sunting
|
sunting sumber]

Penis yang terinfeksi kencing nanah primer.

Sifilis primer umumnya diperoleh berpunca perikatan seksual secara bersama-sama dengan orang yang terinfeksi ke orang lain.

Selingkung 3 sampai 90 hari setelah awal terkontaminasi (rata-rata 21 hari) luka di kulit yang dinamakan chancre mulai terbantah. Lesi ini biasanya (40 % semenjak waktu) singularis, kokoh, bukan terasa sakit, pemborokan kulit sonder rasa gatal dengan dasar yang bersih serta berbatasan tajam antara dimensi 0,3 dan 3,0 cm. Walau bagaimanapun luka dapat dikeluarkan hampir kerumahtanggaan kerangka apapun.

Pada bentuk nan umum, luka baerkembang bersumber macule ke papule dan alhasil ke erosion atau ulcer.

Kadang-kadang, lesi ganda mungkin muncul (~40%). Lesi ganda bertambah umum ketika koinfeksi dengan HIV. Lesi mana tahu sakit atau perih (30%), dan dapat terjadi di luar kelamin (2–7%). Letak paling umum plong wanita adalah di cervix (44%), butuh laki-laki heteroseksual (99%), dan anal serta rektal galibnya secara relatif (junjungan-laki nan berbimbing seks dengan adam) (34%). Pelebaran nodus limfa;(80%) acap kali terjadi di sekeliling provinsi infeksi, terjadi selama 10 hari setelah pembentukan tukak. Lesi dapat bertahan selama tiga hingga enam minggu sonder penyembuhan.

Sekunder

[sunting
|
sunting mata air]

Sifilis sekunder pada umumnya ditandai dengan munculnya ruam pada telapak tangan.

Papules kemerah-merahan dan banyaknya nodul di badan menandai terjadinya sakit sabun sekunder.

Gonore sekunder seringnya terjadi empat sampai sepuluh minggu setelah infeksi primer. Sementara penyakit sekunder dapat dikenal dalam berbagai pendirian secara nyata, gejala-gejala paling umum berkaitan dengan kulit, selupat rahak, dan nodus limfa. Di sana mana tahu terdapat kesamaan, kemerah-merahan-pink, ruam yang tidak jelingah pada bangkai dan ekstrem, tertulis pada bekas kaki tangan dan soles. Ruam bisa menjadi makulopapular atau pustular. Itu dapat berbentuk datar, lebar, keputih-putihan, lesi mirip gambol dikenal sebagai kondiloma latum pada selaput lendir.

Semua dari deposit bakteri lesi terkontaminasi. Gejala bukan termasuk demam, remai tenggorokan, malaise, berat raga roboh, rambut rontok, dan sakit penasihat. Varietas komplikasi lainnya yang sukar terjadi termasuk hepatitis, ginjal problem, radang taktik, periostitis, optik neuritis, uveitis, dan interstitial keratitis.

Gejala akut biasanya diatasi setelah tiga hingga enam minggu; namun sekitar 25% orang bisa kambuh gejala sekunder. Banyak orang yang mengalami kencing nanah sekunder (40-85% bermula wanita, 20-65% berpangkal laki-laki) lain melaporkan mengalami chancre dari sifilis primer sebelumnya.

Laten

[sunting
|
sunting sumber]

Sifilis laten didefinisikan seperti mengalami bukti serologis berasal infeksi tanpa gejala-gejala dari problem. Komplikasi ini dijelaskan bertambah lanjut ibarat lebih tadinya (kurang berbunga 1 hari setelah raja singa sekunder) atau penghabisan (lebih dari 1 tahun setelah raja singa sekunder) di Amerika persekutuan dagang. Amerika serikat memanfaakkan memotong dari dua masa dini dan penghabisan sifilis laten. Tadinya sifilis laten bisa n kepunyaan gejala- gejala kumat. Penghabisan gonore laten adalah asimptomatik, dan lain meluas begitu juga awal gonore laten.

Tersier

[sunting
|
sunting sumur]

Sifilis tersier dapat terjadi kira-kira 3 sampai 15 musim pasca- infeksi awal, dan bisa dibagi kedalam tiga bentuk berbeda; sakit sabun gummatous (15%), penghabisan neurosifilis (6.5%),dan kardiovaskular sifilis (10%). Tanpa pengobatan, ketiga dari orang yang terinfeksi berkembang ke problem tersier. Manusia dengan raja singa tersier ialah bukan penular.

Sifilis gummatous atau gonore akhir benign biasanya terjadi 1 sebatas 46 periode setelah infeksi awal, dengan kebanyakan 15 tahun. Fase ini ditandai oleh pembentukan gumma buletin, yang lembut,mirip peradangan bola tumor yang bisa berjenis-jenis dan terlampau berguna bentuknya gumma umumnya mempengaruhi kulit, tulang, dan liver, namun boleh terjadi dimanapun.

Neurosifilis merujuk puas infeksi yang menyertakan sistem saraf pusat yang boleh terjadi dini, menjadi tak bergajala maupun dalam tulang beragangan bersumber meningitis sifilistik yang berhubungan dengan keseimbangan nan lunglai dan nyeri seri sreg ekstrimitas lebih rendah. Akhir neurosifilis umumnya terjadi 4 setakat 25 tahun pasca- infeksi sediakala. Siflis meningovaskular umumnya muncul dengan apati dan sawan, serta telah awam dengan demensia dan dorsalis. Juga di sana barangkali terwalak pupil Argyll Robertson, tempat pupil kecil bilateral menyempit saat orang fokus pada objek intim, sekadar tidak menyempit ketika dijangkiti binar cuaca.

Sifilis kardiovaskular biasanya terjadi 10-30 perian setelah infeksi semula. Kebobrokan yang paling awam adalah syphilitic aortitis, yang bisa mengakibatkan pembentukan aneurisme.

Kongenital

[sunting
|
sunting sumber]

Kencing nanah kogenital oleh-oleh sejak lahir dapat terjadi selama kehamilan alias sejauh kelahiran. Dua semenjak tiga orok sifilis lahir sonder gejala. Gejala umum yang kemudian berkembang dari hidup beberapa tahun permulaan meliputi: hepatosplenomegali (70%), ruam (70%), demam (40%), neurosyphilis (20%), dan pneumonitis (20%). Jika terobati sifilis kongenital tahap penutup dapat terjadi di 40% meliputi: hidung; pelana komplikasi kerangka, tera Higoumenakis, saber shin, atau sendisendi Clutton di antara lainnya.

Sebab

[sunting
|
sunting sumur]

Bakteriologi

[sunting
|
sunting sendang]

Hispatologi dari
Treponema pallidum
spiroset menunggangi sebuah modifikasi Steinert tembaga stain

Treponema pallidum
subspesies

pallidum

adalah bakteri berbentuk spiral, gram-negatif, yang bersirkulasi ketumbuhan.[4]
[5]
Tiga penyakit terkait lain manusia disebabkan oleh
Treponema pallidum, di antaranya patek atau patek (subspesies
pertenue), pinta (subspesies
carateum) dan bejel (subspesiesendemicum).[6]
Lain sebagai halnya subtipe
pallidum, kebobrokan-penyakit tersebut tidak menyebabkan komplikasi neurologis.[7]
Manusia dikenal sebagai satu-satunya penghimpun alami untuk subspesies
pallidum.[8]
Subspesies “pallidum” lain mampu berkeras hati tanpa inang sejauh makin berasal beberapa tahun. Itu dikarenakan genomnya yang katai (1.14 MDa) mengalami kegagalan untuk menyandikan kolek-kolek metabolisme yang diperlukan untuk menciptakan menjadikan sebagian lautan makronutriennya.Pembuatan mikronutriennya dua kelihatannya lebih lambat waktunya jauh lebih lama berjam-jam dari 30 .[4]

Penularan

[sunting
|
sunting sumber]

Sifilis terutama ditularkan melalui koalisi genital atau selama kehamilan dari ibu ke janinnya; spiroseta mampu menembus membran mokusa utuh maupun ganguan kulit.[6]
[8]
Maka itu karena itu dapat ditularkan melalui merebeh area di dempang lesi, serta seks verbal, vagina, dan anal.[6]
Selingkung 30 sebatas 60% dari mereka yang dijangkiti sifilis primer alias sekunder akan terjangkit kebobrokan tersebut.[9]
Contoh penularannya, seseorang yang disuntik dengan hanya 57 organisme punya peluang 50% meradang.[4]
Sebagian besar (60%) dari kasus baru di United States terjadi pada junjungan-laki yang bersambung seks dengan laki-laki. Penyakit tersebut dapat ditularkan lewat komoditas darah. Tetapi, dagangan darah sudah diuji di banyak negara dan risiko penularan tersebut menjadi sedikit. Risiko dari penularan karena berbagi jarum suntik tidaklah banyak.[6]
Sifilis tidak boleh ditularkan melewati dudukan toilet, aktivitas sehari-tahun, bak menggiurkan, maupun berbagi organ makan serta pakaian.[10]

Diagnosis

[sunting
|
sunting sumur]

Poster buat menguji kencing nanah, menunjukkan sendiri laki-suami dan wanita menundukkan kepalanya karena malu. (circa
1936)

Kinerja awal sifilis sulit didiagnosisis secara klinis.[4]
Penegakkan diagnosisnya melalui testimoni darah atau sensor visual secara bertepatan menggunakan mikroskop. Pemeriksaan darah yaitu prinsip yang umum digunakan, karena bertambah mudah dilakukan.[6]
Pengecekan diagnostik, bagaimanapun pun, tidak mampu membedakan antara tahap-tahap penyakit.[11]

Tes darah

[sunting
|
sunting sumber]

Tes talenta dibagi menjadi nontreponemal dan pembuktian treponemal.[4]
Testimoni Nontreponemal digunakan mulanya, dan mencakup riset laboratorium ki aib kelamin (VDRL) dan tes rapid plasma reagin. Bagaimanapun, konfirmasi-tes tersebut hanya sekali-kali false positives, pengecekan diperlukan melampaui tes treponemal, sebagai halnya partikel aglutinasi treponemal palidum (TPHA) ataupun fluorescent treponemal antibody absorption test (FTA-Abs).[6]
False positives pada tes nontreponemal bisa terjadi bersamaan dengan sejumlah infeksi sepertivarisela dan campak, serta dengan limfoma, tuberkulosis, malaria, endokarditis, ki kesulitan jaringan ikat, dan kehamilan.[12]
Tes antibodi treponemal lazimnya menjadi positif dua sampai lima minggu sesudah infeksi sediakala.[4]
Neurosifilis didiagnosis dengan menemukan tingginya angka leukosit (terutama limfosit) dan tingkat protein yang tinggi pada cairan tulang belakang kondisi dari infeksi sifilis yang dikenal.[6]
[12]

Pengujian langsung

[sunting
|
sunting sumber]

Mikroskop medan terlarang cairan serosa berpunca tukak dapat digunakan untuk membuat diagnosis langsung. Namun, kondominium sakit enggak selalu mempunyai perlengkapan ataupun anggota staf yang berpengalaman, temporer pengujian harus dilakukan dalam waktu 10 menit dalam perolehan spesimen. Sensitivitastelah dilaporkan hampir 80%, sensitivitas dan spesifitas sahaja bisa digunakan bagi konfirmasi diagnosis semata-mata bukan satu-satunya adat. Dua verifikasi tak dapat dilakukan plong sampel dari cangker: pengujian antibodi neon langsung dan tesamplifikasi asam nukleat. Testimoni neon serta merta menggunakan tagantibodi dengan fluorescein, yang disispkan untuk protein raja singa spesifik, sementara itu amplifikasi asam nukleus menggunakan teknik, seperti reaksi berantai polimerase, untuk mendeteksi adanya gen sifilis spesifik. Tes-tes tersebut tak seperti waktu-labil watak, sama dengan tes-pengecekan tersebut tidak memerlukan patogen sukma bakal membuat diagnosis.[4]

Pencegahan

[sunting
|
sunting sendang]

Tidak cak semau vaksin yang efektif untuk pencegahan.[8]
Menanggang perut dari kontak tubuh intim dengan manusia yang terinfeksi secara efektif mengurangi penularan sifilis, seperti pemakaian yang tepat berpangkal kondom lateks. Namun, penggunaan kondom, tak sebaik-baiknya menghilangkan risiko.[10]
[13]
Oleh karena itu, Centers for Disease Control and Prevention merekomendasikan kontak paser panjang dengan suatu antiwirawan yang tidak terkontaminasi dan menghindari zat seperti alkohol dan zat liar lainnya nan dapat meningkatkan risiko perilaku seksual.[10]

Sakit sabun bawaan pada bayi bisa dicegah dengan penapisan ibu selama awal kehamilan dan mengobati mereka yang meradang.[14]
United States Preventive Services Task Force (USPSTF) sangat merekomendasikan penapisan universal pada semua wanita hamil,[15]
sementara itu Organisasi Kesehatan Manjapada menyarankan hendaknya semua wanita dites pada lawatan purwa antenatal dan pun plong trimester ketiga.[16]
Jika mereka positif, mereka mengemukakan agar pasangan mereka juga dirawat.[16]
Lamun demikian, sifilis bawaan masih banyak terjadi di negara berkembang, karena banyak wanita yang sekelas sekali belum menerima perawatan antenatal, dan apalagi penjagaan tak sebelum babaran yang dipedulikan tidak termasuk penapisan,[14]
dan ini sewaktu-waktu masih terjadi di negara maju, karena mereka nan prospek besar dijalari sifilis (melalui penggunaan remedi-obatan terlarang, dll.) merupakan yang paling terbatas mengamini preservasi selama kehamilan.[14]
Beberapa langkah untuk meningkatkan akal masuk ke tes nada-nadanya efektif lakukan mengurangi tingkat sifilis bawaan di negara berpendapatan rendah sampai madya.[16]

Sifilis yaitu penyakit nan harus dilaporkan di beberapa negara, termasuk di Kanada[17]
Ning Eropa,[18]
dan Amerika Maskapai.[19]
Ini berarti penyedia layanan kesehatan diwajibkan bikin memberitahukan kepada pengaruh Kesegaran Mahajana, nan idealnya belakang hari akan memberikan pemberitahuan padanan kepada antagonis pasien.[20]
Dokter juga dapat menunda pasien untuk mengirim pasangan pasien lakukan mengejar perawatan kesegaran.[21]
CDC merekomendasikan laki-laki yang aktif secara seksual yang melakukan interelasi libido dengan adam dites sekurang-kurangnya sekali kerumahtanggaan setahun.[22]

Preservasi

[sunting
|
sunting sumber]

Infeksi dini

[sunting
|
sunting sumber]

Pilihan perawatan pertama bagi raja singa sukar tetap satu dosis intramuskular penisilin G atau satu dosis oral azitromisin.[23]
Doksisiklin dan tetrasiklin merupakan pilihan lainnya; namun, karena terdapat risiko kelainan sreg janin dosisiklin dan tetrasiklin tidak direkomendasikan lakukan wanita hamil. Resistensi terhadap antibiotik sudah lalu berkembang pada sejumlah agen, termasuk makrolid, klindamisin, dan rifampin.[8]
Ceftriakson, generasi ketiga sefalosporin antibiotik, bisa jadi saja seefektif preservasi berbasis penisilin.[6]

Azitromisin termasuk dalam variasi antibiotik Macrolides, dimana pemohon generiknya tersuguh di Indonesia. Jika suatu dosis/cure belum sembuh, maka ada baiknya dilakukan pengecekan resistensi antibiotik (kultur) untuk memafhumi spesies antibiotik apa yang masih mempan, hanya untuk melakukan kultur perlu mencari laboratorium balai pengobatan yang melakukan tes dengan cukup contoh, caranya dengan bertanya apakah makmal balai pengobatan tersebut mengetes azitromisin maupun tidak, jika mengetes, maka laboratorium klinik tersebut umumnya pula akan mengetes antibiotik lainnya yang diperkirakan mempan untuk bakteri gram positip seperti raja singa, misalnya erytromisin nan kembali termasuk antibiotik tipe macrolides dan mengetes pula moxyfloxasin dan levofloxasin nan teragendakan jenis antibiotik Quinolones atau sepersaudaraan dengan ciprofloxasin, tetapi cipro acap kali sudah resisten (tidak mempan).

Infeksi akhir

[sunting
|
sunting sumber]

Buat neurosifilis, akibat penetrasi yang lemau dari penisilin G ke n domestik sistem saraf pusat, mereka yang terkena dampak direkomendasikan untuk diberikan penisilin intravena dosis panjang paling kecil buat 10 hari.[6]
[8]
Seandainya sosok mengalami alergi, ceftriakson bisa digunakan atau desensitisasi penisilin boleh dicoba. Kemunculan akhir enggak boleh diobati dengan penisilin G intramuskular sekali seminggu sejauh tiga minggu. Takdirnya alergi, seperti mana pada kasus awal kelainan, doksisiklin atau tetrasiklin dapat digunakan, sekalipun untuk jangka waktu lebih lama. Perawatan pada fase ini membatasi perkembangan lebih lanjut, tetapi hanya mempunyai sekuritas relatif mungil pada kerusakan yang sudah terjadi.[6]

Reaksi Jarisch-Herxheimer

[sunting
|
sunting sumber]

Satu efek samping yang dapat terjadi akibat terapi ini adalah reaksi Jarisch-Herxheimer. Reaksi Jarisch- Herxheimer sering kali dimulai sehabis satu jam dan berseregang selama 24 jam, dengan gejala demam, ngilu otot, ngilu kepala, dan takikardia.[6]
Takikardia disebabkan oleh sitokin yang dikeluarkan maka dari itu sistem kekebalan tubuh misal respons terhadap lipoprotein yang dikeluarkan bermula bakteri sifilis yang berpunca.[24]

Epidemiologi

[sunting
|
sunting sumber]

Kematian berdasarkan Berdasarkan roh karena sakit sabun per 100.000 penduduk pada 2004[25]

 no data

 <35

 35-70

 70-105

 105-140

 140-175

 175-210

 210-245

 245-280

 280-315

 315-350

 350-500

 >500

Sifilis diyakini sudah menginfeksi 12 miliun turunan pada 1999, dengan lebih bersumber 90% kasus terjadi di negara berkembang.[8]
Penyakit ini memengaruhi 700.000 setakat 1,6 juta kehamilan setiap tahunnya, mengakibatkan aborsi mendadak, kematian mudigah dalam perut, dan sifilis kongenital. Pada Afrika sub-Sahara, gonore berkontribusi pada kira-kira 20% dari kematian perinatal.[7]
Angkanya rata-rata lebih strata pada pemakai narkoba menjarum, mereka yang meradang HIV, dan junjungan-junjungan yang berhubungan seksual dengan junjungan-laki.[1]
[2]
[3]
Di Amerika Serikat, angka sifilis sejak 2007 enam mungkin lebih tataran pada laki-laki daripada amoi, dan hampir sama lega 1997.[26]
Hampir setengah pecah kasus sreg 2022 terdiri dari Warga Amerika pertalian keluarga Afrika.[27]

Raja singa banyak terjadi di Eropa selama abad ke-18 hingga abad ke-19. Di negara maju sejauh abad ke-20, infeksinya menurun secara cepat dengan semakin menyebarnya pemanfaatan antibiotik, hingga 1980an dan 1990an.[5]
Sejak masa 2000, ponten sifilis meningkat di AS, Kanada, Inggris, Australia dan Eropa, terutama di antara laki-suami yang gandeng seksual dengan lelaki.[8]
Semata-mata, biji gonore di antara kuntum Amerika, tetap stabil sepanjang periode ini, dan angka di antara perempuan Inggris meningkat, tetapi masih di asal angka kasus pada lanang.[28]
Nilai nan meningkat di antara heteroseksual terjadi di Tiongkok dan Rusia sejak 1990an.[8]
Ini dikaitkan dengan praktik seks yang tidak lega hati, seperti bergonta-ganti teman seks, prostitusi, dan menurunnya penggunaan proteksi.[8]
[28]
[29]

Jika tidak diobati, angka mortalitas sampai ke 8% hingga 58%, dengan angka kematian lebih pangkat ada laki-laki.[6]
Keparahan gejala sifilis berkurang sepanjang abag ke-19 dan 20, sebagian karena semakin banyaknya ketersediaan pengobatan efektif dan karena penghamburan virulens pecah spirochaete.[30]
Dengan pengobatan prematur, masalah lebih sedikit.[4]
Sifilis meningkatkan risiko penularan HIV dua hingga lima kali, dan infeksi lainnya juga banyak terjadi (30–60% jumlahnya di pusat kota).[6]
[8]

Ki kenangan

[sunting
|
sunting sendang]

Lukisan Gerard de Lairesse karya Rembrandt van Rijn,circa
1665–67, lukisan di atas kanvas – De Lairesse, adalah pelukis dan ahli teori seni, menderita sifilis kongenital yang berakibat fatal pada kerusakan wajah dan akhirnya mengakibatkan kebutaan padanya.[31]

Bawah-muasal raja singa tidak diketahui.[6]
Berpangkal dua hipotesis utama, satu di antaranya mengusulkan bahwa raja singa terpukau ke Eropa oleh bodi kapal nan juga dari pelayaran Christopher Columbus ke Amerika, postulat lainnya menyebutkan bahwa sifilis telah terserah sebelumnya di Eropa, tetapi enggak dikenali. Ini disebut sebagai hipotesis “Columbus” dan “pra-Columbus” secara berurutan.[11]
Hipotesis Columbus dulu didukung oleh bukti yang ada.[32]
[33]
Catatan terdaftar dari kejadian luar stereotip sifilis di Eropa terjadi puas 1494/1495 di Naples, Italia, selama invasi Prancis.[5]
[11]
Karena disebarkan maka dari itu tentara Prancis nan kembali, lega awalnya komplikasi ini disebut sebagai “French disease”, demikian tanda tradisionalnya. Sreg 1530, cap “sifilis” permulaan kali digunakan oleh dokter dan penyair Italia Girolamo Fracastoro sebagai judul puisinya intern bahasa Latin dalam heksameter dactylic yang menayangkan kerusakan akibat keburukan gonore di Italia.[34]
Intern sejarah peristiwa tersebut disebut sekali lagi sebagai “Great Pox” (“Gesit Hebat”).[35]
[36]

Organisme penyebabnya,
Treponema pallidum, pertama kali diidentifikasi oleh Fritz Schaudinn dan Erich Hoffmann pada 1905.[5]
Terapi mula-mula yang efektif (Salvarsan) dikembangkan pada 1910 oleh Paul Ehrlich, nan diikuti oleh percobaan penisilin dan konfirmasi keefektifannya pada 1943.[5]
[35]
Sebelum penciptaan pengobatan efektif lainnya, merkuri dan isolasi banyak digunakan, dengan pengobatan yang kian buruk dari penyakitnya.[35]
Banyak tokoh sejarah, termasuk Franz Schubert, Arthur Schopenhauer, Édouard Manet[5]
dan Adolf Hitler,[37]
diyakini menderita penyakit sifilis.

Umum dan kultur

[sunting
|
sunting sumur]

Seni dan sastra

[sunting
|
sunting sumber]

Karya seni Eropa yang paling awal menggambarkan sifilis
Syphilitic Man
karya Albrecht Dürer, racikan kayu nan diyakini mengambil alih Landsknecht, tentara Eropa Paksina.[38]
Saga
femme fatale
atau “perempuan beracun” dari abad ke-19 diyakini berbunga dari kesengsaraan akibat kencing nanah, dengan contoh klasik dalam kepujanggaan terdaftar John Keats’
La Belle Dame sans Merci.[39]
[40]

Seniman Jan van der Straet melukis pemandangan seorang adam mampu raya nan mengakuri pengobatan sifilis dengan papan tropis guaiacum puas sangkil-kira tahun 1580.[41]
Judul karya seni tersebut adalah “Preparation and Use of Guayaco for Treating Syphilis”. Cak kenapa artis tersebut memilih lakukan memasukkan gambar ini dalam nikah karyanya yang memestakan Bumi Yunior menunjukkan kepada kabilah elit Eropa mengenai betapa pentingnya pengobatan gonore, meskipun enggak efektif pron bila itu. Karya yang munjung dandan dan detail melukiskan catur pelayan yang medium mempersiapkan potongan ketika sendiri dokter melihat, menyembunyikan sesuatu di belakang punggungnya ketika pasien yang minum.[42]

Penajaman Tuskegee dan Guatemala

[sunting
|
sunting sumber]

Suatu dari kasus yang paling terkenal di Amerika Perkongsian tentang etika medis nan dipertanyakan pada abad ke-20 merupakan penelitian sifilis Tuskegee.[43]
Pendalaman tersebut dilakukan di Tuskegee, Alabama, dan didukung maka itu U.S. Public Health Service (PHS) bekerja seperti mana Tuskegee Institute.[44]
Eksplorasi tersebut dimulai lega 1932, ketika sifilis menjadi problem yang tersebar dan enggak ada pengobatan yang aman dan efektif.[45]
Penelitian tersebut dirancang kerjakan menakar perkembangan sifilis yang tak diobati. Lega 1947, penisilin divalidasi sebagai obat yang efektif untuk sifilis dan digunakan secara luas bagi memulihkan penyakit tersebut. Saja, direktor eksplorasi, melanjutkan penelitian tersebut dan tidak menawarkan pengobatan dengan penisilin kepada para pesuluh investigasi.[44]
Ini diperdebatkan, dan beberapa individu mengetahui bahwa penisilin diberikan kepada banyak subjek.[45]
Penelitian tersebut tak berpisah sebatas 1972.[44]

Eksperimen raja singa lagi dilakukan di Guatemala sejak 1946 hingga 1948. Ekperimen tersebut disponsori makanya eksperimen sosok Amerika Sindikat, dilakukan selama tadbir Juan José Arévalo bekerja begitu juga kementerian dan sida-sida kesehatan Guatemala. Dokter menginfeksi tentara, tahanan, dan pasien RSJ dengan sifilis dan keburukan yang ditularkan secara seksual lainnya, minus arsip izin semenjak subjek, kemudian mengobati mereka dengan antibiotik. Pada Oktober 2022, A.S secara normal meminta absolusi kepada Guatemala karena sudah lalu mengamalkan eksperimen ini.[46]

Pencegahan

[sunting
|
sunting sendang]

  • Cara yang minimum pasti bakal mencegah penyiaran penyakit meluas seksual adalah dengan tidak melakukan perpautan seksual.
  • Pencegahan yang 100% efektif adalah menikah dengan perawan nan sehat. Jika belum boleh, lampiaskan birahi dengan mengamalkan onani.
  • Pendayagunaan kondom boleh mengurangi risiko penularan ki aib.
  • Pastikan toilet nan digunakan higienis, hindari pendayagunaan toilet duduk di tempat masyarakat.
  • Segera obati bila ada unek-unek seperti di atas.

Referensi

[sunting
|
sunting sumur]

  1. ^


    a




    b




    Coffin, LS (January 2022). “Syphilis in Drug Users in Low and Middle Income Countries”.
    The International journal on drug policy.
    21
    (1): 20–7. doi:10.1016/j.drugpo.2009.02.008. PMC2790553alt=Dapat diakses gratis
    . PMID 19361976.




  2. ^


    a




    b




    Gao, L (September 2009). “Meta-analysis: prevalence of HIV infection and syphilis among MSM in China”.
    Sexually transmitted infections.
    85
    (5): 354–8. doi:10.1136/sti.2008.034702. PMID 19351623.




  3. ^


    a




    b




    Karp, G (January 2009). “Syphilis and HIV co-infection”.
    European journal of kerumahtanggaan medicine.
    20
    (1): 9–13. doi:10.1016/j.ejim.2008.04.002. PMID 19237085.




  4. ^


    a




    b




    c




    d




    e




    f




    g




    h




    Eccleston, K (March 2008). “Primary syphilis”.
    International journal of STD & AIDS.
    19
    (3): 145–51. doi:10.1258/ijsa.2007.007258. PMID 18397550.




  5. ^


    a




    b




    c




    d




    e




    f




    Franzen, C (December 2008). “Syphilis in composers and musicians–Mozart, Beethoven, Paganini, Schubert, Schumann, Smetana”.
    European Journal of Clinical Microbiology and Infectious Diseases.
    27
    (12): 1151–7. doi:10.1007/s10096-008-0571-x. PMID 18592279.




  6. ^


    a




    b




    c




    d




    e




    f




    g




    h




    i




    j




    k




    l




    m




    cakrawala




    Kent ME, Romanelli F (2008). “Reexamining syphilis: an update on epidemiology, clinical manifestations, and management”.
    Ann Pharmacother.
    42
    (2): 226–36. doi:10.1345/aph.1K086. PMID 18212261.




  7. ^


    a




    b




    Woods CR (2009). “Congenital syphilis-persisting pestilence”.
    Pediatr. Infect. Dis. J.
    28
    (6): 536–7. doi:10.1097/INF.0b013e3181ac8a69. PMID 19483520.




  8. ^


    a




    b




    c




    d




    e




    f




    g




    h




    i




    j




    Stamm LV (2010). “Global Challenge of Antibiotic-Resistant Treponema pallidum”
    (PDF).
    Antimicrob. Agents Chemother.
    54
    (2): 583–9. doi:10.1128/AAC.01095-09. PMC2812177alt=Dapat diakses gratis
    . PMID 19805553. Diarsipkan berpokok versi asli
    (PDF)
    tanggal 2022-06-16. Diakses copot
    2013-08-12
    .





  9. ^


    Bhatti MT (2007). “Optic neuropathy from viruses and spirochetes”.
    Int Ophthalmol Clin.
    47
    (4): 37–66, ix. doi:10.1097/IIO.0b013e318157202d. PMID 18049280.




  10. ^


    a




    b




    c




    “Syphilis – CDC Fact Sheet”. Centers for Disease Control and Prevention (CDC). 16 September 2022. Diakses tanggal
    30 May
    2007
    .




  11. ^


    a




    b




    c




    Farhi, D (September 2022-Oct). “Origins of syphilis and management in the immunocompetent patient: facts and controversies”.
    Clinics in dermatology.
    28
    (5): 533–8. doi:10.1016/j.clindermatol.2010.03.011. PMID 20797514.




  12. ^


    a




    b




    Committee on Infectious Diseases (2006). Larry K. Pickering, ed.
    Red book 2006 Report of the Committee on Infectious Diseases
    (edisi ke-27th). Elk Grove Village, IL: American Academy of Pediatrics. hlm. 631–44. ISBN 978-1-58110-207-9.





  13. ^


    Koss CA, Dunne EF, Warner L (2009). “A systematic review of epidemiologic studies assessing condom use and risk of syphilis”.
    Sex Transm Dis.
    36
    (7): 401–5. doi:10.1097/OLQ.0b013e3181a396eb. PMID 19455075.




  14. ^


    a




    b




    c




    Schmid, G (June 2004). “Economic and programmatic aspects of congenital syphilis prevention”.
    Bulletin of the World Health Organization.
    82
    (6): 402–9. PMC2622861alt=Dapat diakses gratis
    . PMID 15356931.





  15. ^


    U.S. Preventive Services Task, Force (May 2009 19). “Screening for syphilis infection in pregnancy: U.S. Preventive Services Task Force reaffirmation recommendation statement”.
    Annals of intern medicine.
    150
    (10): 705–9. PMID 19451577.




  16. ^


    a




    b




    c




    Hawkes, S (June 2022 15). “Effectiveness of interventions to improve screening for syphilis in pregnancy: a systematic review and meta-analysis”.
    The Lancet infectious diseases.
    11
    (9): 684–91. doi:10.1016/S1473-3099(11)70104-9. PMID 21683653.





  17. ^


    “National Notifiable Diseases”. Public Health Agency of Canada. 5 April 2005. Diakses tanggal
    2 August
    2022
    .





  18. ^


    Viñals-Iglesias, H (September 2009 1). “The reappearance of a forgotten disease in the oral cavity: syphilis”.
    Medicina oral, patologia oral y cirugia bucal.
    14
    (9): e416–20. PMID 19415060.





  19. ^


    “Table 6.5. Infectious Diseases Designated as Notifiable at the National Level-United States, 2009 [a]”.
    Red Book
    . Diakses tanggal
    2 August
    2022
    .





  20. ^



    Brunner & Suddarth’s textbook of medical-surgical nursing
    (edisi ke-12th). Philadelphia: Wolters Kluwer Health/Lippincott Williams & Wilkins. 2022. hlm. 2144. ISBN 978-0-7817-8589-1.





  21. ^


    Hogben, M (April 2007 1). “Partner notification for sexually transmitted diseases”.
    Clinical infectious diseases: an official publication of the Infectious Diseases Society of America. 44 Suppl 3: S160–74. doi:10.1086/511429. PMID 17342669.





  22. ^


    “Trends in Sexually Transmitted Diseases in the United States: 2009 National Data for Gonorrhea, Chlamydia and Syphilis”. Centers for Disease Control and Prevention. 22 November 2022. Diakses tanggal
    3 August
    2022
    .





  23. ^


    David N. Gilbert; Robert C. Moellering; George M. Eliopoulos.
    The Sanford guide to antimicrobial therapy 2022
    (edisi ke-41st). Sperryville, VA: Antimicrobial Therapy. hlm. 22. ISBN 978-1-930808-65-2.





  24. ^


    Radolf, JD; Lukehart SA (editors) (2006).
    Pathogenic
    Treponema: Molecular and Cellular Biology. Caister Academic Press. ISBN 1-904455-10-7.





  25. ^


    “Disease and injury country estimates”. World Health Organization (WHO). 2004. Diakses tanggal
    11 November
    2009
    .





  26. ^


    “Trends in Reportable Sexually Transmitted Diseases in the United States, 2007”. Centers for Disease Control and Prevention(CDC). 13 January 2009. Diakses sungkap
    2 August
    2022
    .





  27. ^


    “STD Trends in the United States: 2022 National Data for Gonorrhea, Chlamydia, and Syphilis”. Centers for Disease Control and Prevention (CDC). 22 November 2022. Diakses sungkap
    20 November
    2022
    .




  28. ^


    a




    b




    Kent, ME (February 2008). “Reexamining syphilis: an update on epidemiology, clinical manifestations, and management”.
    The Annals of pharmacotherapy.
    42
    (2): 226–36. doi:10.1345/aph.1K086. PMID 18212261.





  29. ^


    Ficarra, G (September 2009). “Syphilis: The Renaissance of an Old Disease with Oral Implications”.
    Head and neck pathology.
    3
    (3): 195–206. doi:10.1007/s12105-009-0127-0. PMC2811633alt=Dapat diakses gratis
    . PMID 20596972.





  30. ^


    Mullooly, C (August 2022). “Secondary syphilis: the classical triad of skin rash, mucosal ulceration and lymphadenopathy”.
    International journal of STD & AIDS.
    21
    (8): 537–45. doi:10.1258/ijsa.2010.010243. PMID 20975084.





  31. ^


    The Metropolitan Museum of Art Bulletin, Summer 2007, pp. 55–56.

  32. ^


    Rothschild, BM (15 May 2005). “History of syphilis”.
    Clinical infectious diseases: an official publication of the Infectious Diseases Society of America.
    40
    (10): 1454–63. doi:10.1086/429626. PMID 15844068.





  33. ^


    Harper, KN (2011). “The origin and antiquity of syphilis revisited: an appraisal of Old World pre-Columbian evidence for treponemal infection”.
    American journal of physical anthropology. 146 Suppl 53: 99–133. PMID 22101689.





  34. ^

    Nancy G. “Siraisi, Drugs and Diseases: New World Biology and Old World Learning,” in Anthony Grafton, Nancy G. Siraisi, with April Shelton, eds. (1992).
    New World, Ancient Texts
    (Cambridge MA: Belknap Press/Harvard University Press), pages 159-194
  35. ^


    a




    b




    c




    Dayan, L (October 2005). “Syphilis treatment: old and new”.
    Expert opinion on pharmacotherapy.
    6
    (13): 2271–80. doi:10.1517/14656566.6.13.2271. PMID 16218887.





  36. ^


    Knell, RJ (7 May 2004). “Syphilis in renaissance Europe: rapid evolution of an introduced sexually transmitted disease?”
    (PDF).
    Proceedings. Biological sciences / the Royal Society. 271 Suppl 4 (Suppl 4): S174–6. doi:10.1098/rsbl.2003.0131. PMC1810019alt=Dapat diakses gratis
    . PMID 15252975.





  37. ^


    “Hitler syphilis theory revived”. BBC News. 12 March 2003.




  38. ^


    Eisler, CT (2009 Winter). “Who is Dürer’s “Syphilitic Man”?”.
    Perspectives in biology and medicine.
    52
    (1): 48–60. doi:10.1353/pbm.0.0065. PMID 19168944.





  39. ^


    Hughes, Robert (2007).
    Things I didn’t know : a memoir
    (edisi ke-1st Vintage Book). New York: Vintage. hlm. 346. ISBN 978-0-307-38598-7.





  40. ^


    Wilson, [ed]: Joanne Entwistle, Elizabeth (2005).
    Body dressing
    (edisi ke-[Online-Ausg.]). Oxford: Berg Publishers. hlm. 205. ISBN 978-1-85973-444-5.





  41. ^


    Reid, Bibit penyakit A. (2009).
    Myths and realities of Caribbean history
    (edisi ke-[Online-Ausg.]). Tuscaloosa: University of Alabama Press. hlm. 113. ISBN 978-0-8173-5534-0.





  42. ^

    “Preparation and Use of Guayaco for Treating Syphilis” Diarsipkan 2022-05-21 di Wayback Machine.. Jan van der Straet. Retrieved 6 August 2007.

  43. ^


    Katz RV; Kegeles SS; Kressin NR; et al. (2006). “The Tuskegee Legacy Project: Willingness of Minorities to Participate in Biomedical Research”.
    J Health Care Poor Underserved.
    17
    (4): 698–715. doi:10.1353/hpu.2006.0126. PMC1780164alt=Dapat diakses gratis
    . PMID 17242525.




  44. ^


    a




    b




    c




    “U.S. Public Health Service Syphilis Study at Tuskegee”. Centers for Disease Control and Prevention. 15 June 2022. Diakses sungkap
    7 July
    2022
    .




  45. ^


    a




    b




    White, RM (13 March 2000). “Unraveling the Tuskegee Study of Untreated Syphilis”.
    Archives of Internal Medicine.
    160
    (5): 585–98. doi:10.1001/archinte.160.5.585. PMID 10724044.





  46. ^


    “U.S. apologizes for newly revealed syphilis experiments done in Guatemala”.
    The Washington Post. 1 October 2022. Diakses tanggal
    1 October
    2022
    .
    The United States revealed on Friday that the government conducted medical experiments in the 1940s in which doctors infected soldiers, prisoners and mental patients in Guatemala with syphilis and other sexually transmitted diseases.




Bacaan lanjut

[sunting
|
sunting sumber]

  • Parascandola, John.
    Sex, Sin, and Science: A History of Syphilis in America
    (Praeger, 2008) 195 pp. ISBN 978-0-275-99430-3 excerpt and text search
  • Shmaefsky, Brian, Hilary Babcock and David L. Heymann.
    Syphilis
    (Deadly Diseases & Epidemics) (2009)
  • Stein, Claudia.
    Negotiating the French Pox in Early Modern Germany
    (2009)

Pranala luar

[sunting
|
sunting sumber]

Klasifikasi

D

  • ICD-10: A50-A53
  • ICD-9-CM: 090-097
  • MeSH: D013587
  • DiseasesDB: 29054
Sumber luar
  • MedlinePlus: 000861
  • eMedicine: med/2224 emerg/563 derm/413
  • Patient UK: Kencing nanah
  • “Syphilis – CDC Fact Sheet” Centers for Disease Control and Prevention (CDC)
  • UCSF HIV InSite Knowledge Base Chapter: Syphilis and HIV Diarsipkan 2022-01-20 di Wayback Machine.
  • Recommendations for Public Health Surveillance of Syphilis in the United States
  • Pastuszczak, M.; Wojas-Pelc, A. (2013). “Current standards for diagnosis and treatment of syphilis: Selection of some practical issues, based on the European (IUSTI) and U.S. (CDC) guidelines”.
    Advances in Dermatology and Allergology.
    30
    (4): 203–210. doi:10.5114/pdia.2013.37029. PMC3834708alt=Dapat diakses gratis
    . PMID 24278076.



  • Balai kesehatan Pandawa | Penyebab dan Faktor Risiko Kencing nanah



Source: https://id.wikipedia.org/wiki/Sifilis

Posted by: gamadelic.com