Sifat Sifat Wajib Allah Swt Beserta Artinya

tirto.id – Resan-resan Allah SWT secara umum menurut para ulama dibagi menjadi 3 fragmen, salah satunya rasam-sifat terbiasa yang berjumlah 20.

Di antara bahasan tauhid dan akidah dalam Selam adalah mengimani Almalik SWT melalui sifat-kebiasaan-Nya.

Secara umum, para ulama membagi sifat-resan Allah SWT ke internal tiga fragmen, yaitu:

  1. Sifat-aturan terlazim yang berjumlah dua puluh;
  2. Kebiasaan-kebiasaan mustahil Tuhan nan berjumlah dua puluh, dan:
  3. Sifat yang
    jaiz
    (mumkin) ada satu. Keseluruhannya adalah 41 sifat.



Kendati demikian, sesungguhnya sifat-sifat Almalik SWT lain terbatas. Pengelompokan ini bertujuan cak bagi menggampangkan umat Islam mengenal dan memafhumi keluhuran Allah SWT melampaui aturan-sifat-Nya.

Bukan terbatasnya sifat-resan Allah SWT ini tergambar dalam hadis Nabi Muhammad SAW:

”Aku memohon kepada Engkau dengan semua jenama yang menjadi etiket-Mu, baik nan telah Engkau jadikan umpama nama diri-Mu alias yang Engkau ajarkan kepada seseorang dari makhluk-Mu atau Engkau turunkan dalam kitab-Mu atau Engkau sembunyikan menjadi ilmu klenik di sisi-Mu,”
(H.R. Ahmad).


Aturan-Aturan Wajib Allah

Dalam jabaran “Aqidah”, Marzuki peneliti agama Selam dan akademisi dari Perkumpulan Provinsi Yogyakarta (UNY) merangkum 20 sifat wajib Allah SWT ibarat berikut:

1. Wujud

Sifat wajib Allah yang pertama adalah wujud. Intern bahasa Arab, wujud artinya “terserah” yang maknanya bahwa Allah SWT ialah zat yang cak semau, berdiri sendiri, tidak diciptakan maka itu siapa pun.

Sifat ini tercermin internal firman Allah SWT kerumahtanggaan surah Ta-Ha ayat 14, sebagai berikut:

“Sesungguhnya, Aku ini Halikuljabbar, tidak ada Allah selain Aku, maka sembahlah Aku dan laksanakanlah salat kerjakan menghafal Aku,”
(QS. Ta-Ha [20]: 14).

2.
Kidam

Kidam
berasal dari bahasa Arab nan artinya semula atau penting. Maknanya, Allah SWT merupakan Sang Penggarap yang ada sampai-sampai lewat berbunga nan diciptakannya.

Dalilnya adalah firman Allah dalam surah Al-Hadid ayat 3:

Dialah Nan Sediakala, Yang Akhir, Nan Zahir, dan Yang Batin; dan Dia Maha Memaklumi barang apa sesuatu,” (QS. Al-Hadid [57]: 3).

3. Keturunan

Baka artinya yaitu kekal. Maksudnya, Allah SWT adalah zat yang Maha Kekal, tidak akan punah ataupun binasa. Keadaan ini tergambar kerumahtanggaan firman Allah SWT internal surah Al-Qasas ayat 88:

“ …
segala apa sesuatu pasti binasa, kecuali Tuhan. Segala keputusan menjadi wewenang-Nya, dan hanya kepada-Nya kamu dikembalikan,” (QS. Al-Qasas [28]: 88).

4.
Mukhalafatu Lil Hawaditsi

Yang mahakuasa SWT nan menciptakan kalimantang semesta beserta isinya, maka Halikuljabbar pasti berbeda dengan apa pun yang Kamu ciptakan.

Dalam bahasa Arab,
mukhalafatu lil hawaditsi
artinya berbeda dengan sesuatu yang plonco (anak adam ciptaan-Nya). Allah juga mustahil membutuhkan pertolongan untuk menciptakan hal tersebut.

Keadaan tersebut dijelaskan dalam Alqur’an berikut ini:

“Tidak ada sesuatu lagi nan serupa dengan Dia. Dan Anda Yang Maha Mendengar, Maha Meluluk,”
(QS. Asy- Syura [42]: 11).

5.
Qiyamuhu Binafsihi

Allah SWT ngeri sendiri, Dia bukan bergantung kepada siapapun, serta bukan-bukan membutuhkan bantuan dari yang lain.

“ … bukan main Tuhan Maha Produktif tak memerlukan sesuatu dari seluruh alam,”
(QS. Al-’Ankabut [29]: 6).

6.
Wahdaniah

Adat teradat Tuhan SWT yang bukan adalah wahdaniah maupun esa atau individual. Hamba-Nya mesti meyakini bahwa Yang mahakuasa merupakan Yang Maha Esa, yang artinya Sira merupakan satu-satunya Tuhan pembuat bendera seberinda.

“Katakanlah, Dialah Yang mahakuasa Yang Maha Esa,”
(QS. Al-Tahir (112): 1).

7.
Qudrah

Qudrah berfaedah bahwa Yang mahakuasa adalah zat Nan Maha Kuasa atas apa pun dan tidak ada satu pun yang bisa melawan kekuasaannya. Tidak-tidak bagi Halikuljabbar SWT tidak punya kuasa.

“Sepatutnya ada Allah berhak atas barang apa sesuatu.”
(QS. Al-Baqarah [2]: 20)


8. Iradat

Iradat
berasal terbit bahasa Arab nan artinya berhendak. Maksudnya, setiap kejadian yang ada di antarbangsa ini berjalan atas kehendak Allah SWT.

Mustahil lakukan Halikuljabbar SWT mengerjakan sesuatu atas suatu paksaan. Apabila Dia berkehendak, maka enggak cak semau yang bisa mencegah-Nya.

Dalilnya adalah firman Tuhan SWT n domestik surah Hud ayat 107:

“Sesungguhnya Tuhanmu Maha Produsen terhadap segala yang Dia Kehendaki,”
(QS. Hud (11): 107).

9. Hobatan

Ilmu artinya pemberitahuan. Maksudnya, Allah SWT Maha Memafhumi atas barang apa sesuatu, baik yang kelihatan ataupun tidak terlihat, yang gaib ataupun nan kasatmata.

Justru, Sang pencipta SWT mengetahui segala yang terkenang, terbetik, dan terlintas di tulang turunan.

“Dan Allah Maha Mengetahui apa sesuatu,”
(QS. An-Nisa [4]: 176).

10. Nasib

Kehidupan artinya hidup. Allah SWT adalah zat Nan Maha hidup. Sira tidak akan binasa, sebab Beliau kekal selamanya.

“Dan bertawakallah kepada Allah nan Maha Nyawa, Yang tidak mati, dan bertasbihlah dengan memuji-Nya … ”
(QS. Al-Furqan [25]: 58).

11.
Setimbang’

Sebanding’
artinya bahwa Yang mahakuasa SWT Maha Mendengar. Dia mendengar setiap peristiwa yang diucapkan maupun yang disembunyikan. Bukan-bukan Allah SWT tuli dan tidak mengerti.

“Dan Yang mahakuasa Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui,”
(QS. Al-Baqarah [2]: 256).

12.
Basar

Salah satu aturan wajib Sang pencipta SWT adalah
basar,
yang artinya bahwa tidak ada yang Maha Mengawasi selain Yang mahakuasa. Apa yang ada di marcapada tidak luput berpunca pandangan-Nya.

“ … Dan Allah Maha Melihat apa nan kamu kerjakan,”
(QS. Al-Hujurat [49]: 18).

13.
Kalam

Butuh
berarti bahwa Allah SWT maha berfirman melalui wahyu yang tertera intern kitab-kitab yang diturunkan kepada para utusan tuhan-Nya lakukan umat basyar.

Dalilnya yakni firman Halikuljabbar SWT dalam surah Al-A’raf ayat 143:

“Dan ketika Musa datang lakukan munajat pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman serempak kepadanya … ”
(QS. Al-A’raf [7]: 143).

14.
Qadiran

Sifat
qadiran
ini mirip dengan
qudrah.
Artinya, segala situasi di sejagat berlambak dalam pengaturan Almalik SWT. Dalilnya yakni andai berikut:

“ … selayaknya Halikuljabbar berkuasa atas segala apa sesuatu,”
(QS. Al-Baqarah [2]: 20)

15.
Muridan

Selain Maha Berkehendak, Allah SWT juga n kepunyaan sifat Maha Menghendaki. Sifat
muridan
ini berintegrasi dengan resan
iradat
sebelumnya.

“…selayaknya Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang ia kehendaki,”
(QS. Hud [11]: 107)

16.
Aliman

Mirip dengan kebiasaan ilmu, Allah SWT juga bersifat
aliman. Artinya, Dia Maha Mengetahui, artinya Dia memaklumi segala apa keadaan dan pengetahuannya tak abnormal apa pun.

“ … dan Yang mahakuasa maha mengetahui segala sesuatu,”
(QS. An-Nisa [4]: 176)

17.
Hayyan

Hayyan
artinya yaitu zat Nan Maha Hidup. Sifat ini berintegrasi dengan sifat hayat yang disebutkan sebelumnya

18.
Sami’an

Sami’an
artinya bahwa Sang pencipta SWT yaitu zat Yang Maha Mendengar, maka mustahil bagi-Nya sebagai zat yang tuli. Sifat ini menyatu dengan sifat
selevel’
yang disebutkan sebelumnya.

Rujukannya adalah firman Allah dalam surah Al-Baqarah ayat 256:

“Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Memaklumi,”
(QS. Al-Baqarah [2]: 256).

19.
Basiran

Basiran
artinya bahwa Allah SWT bersifat Maha Mengaram, mustahil bagi-Nya untuk tidak mengaram atau buta atas segala keadaan. Sifat ini berintegrasi dengan sifat
basar
sebagaimana disebutkan sebelumnya.

“ … Dan Allah Maha Meluluk apa yang kamu kerjakan,”
(QS. Al-Hujurat [49]: 18).

20.
Mutakalliman

Kerumahtanggaan bahasa Arab,
mutakalliman
artinya berfirman alias berujar-kata. Maksudnya, Tuhan SWT adalah zat Maha Bertutur dan mustahil baginya untuk bisu.

Rujukannya adalah firman Allah SWT dalam surah An-Nisa ayat 164:

“Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung,”
(QS. An-Nisa [4]: 164).

Pengelompokan Rasam-adat Wajib Allah SWT

Dilansir berusul
NU Online, adat-aturan wajib Allah SWT nan berjumlah 20 di atas, oleh para jamhur, dikelompokkan menjadi empat klasifikasi, perumpamaan berikut:

1. Sifat
Nafsiah

Resan
nafsiah
adalah kebiasaan yang dikelompokkan sesuai dengan Dzat Allah SWT itu sendiri. Adat nafsiah ini terdiri dari satu sifat merupakan wujud.

2. Rasam
Salbiyah

Sifat
salbiyah
ialah sifat yang menyangkal adanya sifat sebaliknya. Rasam ini menafikan resan mustahil, serta sifat yang tak sesuai, dan enggak sepan dengan keutuhan Allah SWT.

Sesuai pengelompokannya, adat
salbiyah
Allah SWT ini suka-suka panca, yaitu: kidam, baka,
mukhalafatu lil hawaditsi, qiyamuhu binafsihi
, dan wahdaniah.

3. Aturan
Ma’ani

Sifat
ma’ani
adalah sifat mujarad yang teristiadat suka-suka pada Allah. Yang termasuk adat
ma’ani
suka-suka tujuh yaitu: qudrah, iradat, hobatan, hayat,
sejajar’,
basar,
dan kalam.

4. Sifat
Maknawi

Jika cak semau sifat
ma’ani, maka galibnya ada adat maknawi. Kebiasaan-sifat ini tidak dapat samar muka sendiri, karena harus menyertai yang disifati.

Andai ibarat, Allah SWT mempunyai basar (pandangan), maka ia yakni
basiran
(Maha Melihat). Dia memiliki ilmu (maklumat) tak abnormal, maka Dia yakni
aliman
[Maha Mengerti), dan seterusnya.

Sifat-sifat Sang pencipta SWT yang maknawi adalah
qadirun,
aliman, muridan, hayyan, sami’an, basiran, dan

mutakalliman.

(tirto.id –
Pendidikan)

Penderma: Abdul Hadi

Carik: Abdul Hadi

Pengedit: Dhita Koesno


Pembeda: Ibnu Azis

Source: https://tirto.id/mengenal-20-sifat-wajib-allah-makna-dan-pengelompokannya-gajV