Sifat Jaiz Allah Ada Berapa

Jakarta

Memafhumi sifat-sifat Allah SWT merupakan riuk satu rangka kepatuhan kita kepada keagungan-Nya. Berkepastian terhadap sifat-sifat Allah termasuk intern damai iman yang pertama.

Sifat-rasam Allah SWT digolongkan menjadi tiga yaitu sifat terbiasa, mustahil/muhal, dan jaiz. Resan wajib adalah kebiasaan yang pasti dimiliki Yang mahakuasa SWT. Kebalikan dari sifat ini adalah rasam bukan-bukan atau bisa disebut juga sifat muhal. Sementara itu, aturan jaiz yaitu Allah SWT bebas mengerjakan apa yang anda kehendaki.

Dikutip dari buku Asmaul Husna & 20 Rasam Tuhan, berikut
20 resan tidak-tidak bagi Yang mahakuasa SWT:

Adam artinya tiada. Mustahil bagi Tuhan SWT punya sifat ini. Dialah yang menciptakan alam segenap berserta seluruh isinya. Dialah nan Maha Tulen dan Maha Tinggi.

2. Al-Huduts

Huduts artinya baru. Mustahil kalau Tuhan plonco. Keberadaan-Nya adalah yang paling awal sebelum diciptakannya sejagat ini maka itu-Nya.

3. Al-Fana

Fana artinya binasa atau lenyap. Mustahil bagi Allah SWT untuk tidak kekal. Dialah yang kekal. Dialah nan berhak mengabaikan seluruh ciptaan-Nya.

4. Al-Mumatsilatu lil Hawaditsi

Mumatsilatu lil Hawaditsi artinya menyerupai alias sama sebagai halnya khalayak ciptaan-Nya. Mustahil cak bagi Sang pencipta SWT bakal menyerupai makhluknya. Dialah Maha Sempurna, enggak ada yang menyerupai-Nya.

5. Al-Ihtiyaj ila Ghairihi

Ihtiyaj ila Ghairihi artinya membutuhkan yang tidak. Mustahil bagi Allah SWT membutuhkan bantuan. Dialah nan menolong makhluknya.

6. At-Ta’addud

Ta’addud artinya bertambah bersumber satu. Tidak-tidak untuk Allah SWT berjumlah lebih terbit suatu. Dialah Yang Maha Esa maupun tersendiri. Tak ada Tuhan selain Dia.

7. Al-‘Ajzu

‘Ajzu artinya loyo. Tidak-tidak bagi Allah SWT kerjakan tidak langgeng. Dialah Yang Maha Kuasa atas segala apa sesuatu. Tidak mungkin jika Sang pencipta SWT mempunyai sifat ini.

8. Al-Karahah

Karahah artinya terpaksa. Mustahil kerjakan Almalik SWT melakukan sesuatu tidak atas kehendaknya sendiri. Dialah Yang Maha Kuasa. Dia melakukan sesuatu atas kehendaknya enggak ada paksaan dari siapapun.

9. Al-Jahlu

Jahlu artinya bodoh. Bukan-bukan bagi Allah SWT enggak mengarifi sesuatu. Dialah Yang Maha Mengetahui. Terlebih sesuatu yang bukan nampak oleh mata kita sekalipun.

10. Al-Maut

Maut artinya mati. Mustahil bagi Allah SWT akan hening. Anda punya sifat kekal. Dia sukma dan abadi.

Klik halaman selanjutnya

Pada materi ini akan dibahas tentang kebiasaan-sifat Yang mahakuasa pecah sifat-sifat mustahil yang tidak dimiliki Allah, sifat jaiz, hingga sifat-adat wajib Allah. Sebelum masuk sreg pembahasan itu, perlu kita ketahui lebih lagi lewat mengenai Tuhan, apa arti kata Almalik. Menurut Toshihiko Izutsu yang dikutip maka dari itu Sangkot Sirait dalam bukunya yang berjudul “Tauhid dan Pembelajarannya”, keistimewaan kata Allah adalah kata fokus tertinggi intern sistem al-Qur’an, yang nilai penting dan kedudukannya tidak cak semau yang melebihinya.

Siapakah Allah? Allah adalah asma Tuhan nan berkuasa disembah. Selain Allah, lain terserah Tuhan yang cukup disembah. Demikianlah penegasan wahyu Islam sebagaimana yang wajib dilafalkan oleh setiap muslim, yang dikenal dalam dua kalimah syahadah, “Saya bersaksi bahwa enggak suka-suka Almalik yang berwajib disembah melainkan Allah; saya bersaksi kembali bahwa Muhammad merupakan Rasul Allah.” Secara global Allah itu bersifat dengan segala macam sifat-rasam kesempurnaan. Karena itulah yang sesuai dengan ke Tuhanan-Nya. Tidak-tidak ia memiliki sifat-sifat kekurangan. Yang memiliki sifat kehabisan bukanlah Tuhan.

Pengertian Resan-Resan Allah

Sifat-resan Allah adalah sifat sempurna nan yang enggak terhingga bagi Almalik. Sifat-resan Yang mahakuasa wajib bagi setiap orang islam mempercayai bahwa terwalak sejumlah sifat keutuhan yang tidak terukur kerjakan Allah. Maka, wajib juga dipercayai akan rasam Yang mahakuasa nan dua puluh dan mesti diketahui juga resan yang mustahil cak bagi Allah. Sifat yang mustahil kerjakan Tuhan yakni lawan kepada aturan wajib.

Resan wajib Allah terbagi menjadi empat bagian yakni :

Aturan Nafsiyah, merupakan sifat yang berbimbing dengan Dzat Tuhan. Sifat nafsiyah ini tetapi ada suatu, yaitu Wujud (cak semau).

Sifat Salbiyah yakni aturan yang menafsirkan adanya sifat sebaliknya, ialah sifat-sifat yang tidak sesuai, bukan layak dengan kesempurnaan Dzat-Nya. Kebiasaan salbiyah ini ada lima, yaitu:

  1. Qidam (silam)
  2. Baqa’(kekal)
  3. Mukhalafatul lil-hawadis (berlainan dengan yang bau kencur)
  4. Qiyamuhu bi nafsihi (berdiri sendiri)
  5. Wahdaniyah (keesaan)

Kebiasaan Ma’ani merupakan sifat-sifat contoh yang wajib terserah pada Allah. Yang tertera sifat ma’ani ada tujuh, yaitu:

  1. Qudrah (berkuasa)
  2. Iradat (berkehendak)
  3. ‘llmu (memaklumi)
  4. Spirit (hidup)
  5. Sama’ (mendengar)
  6. Basar (menyibuk)
  7. Butuh (bercakap)

Sifat Ma’nawiyah adalah kelaziman dari kebiasaan Ma’ani. Sifat Ma’nawiyah enggak dapat berdiri sendiri, sebab setiap cak semau sifat ma’ani tentu ada sifat Ma’nawiyah. Total aturan ma’nawiyah sama dengan kuantitas sifat ma’ani, ialah:

  1. Qadiran ( Maha berwajib)
  2. Muridan (Maha berkehendak)
  3. ‘Aliman (Maha mengetahui)
  4. Hayyan (Maha vitalitas)
  5. Sami’an (Maha mendengar)
  6. Basiran (Maha melihat)
  7. Mutakalliman (Maha berbicara)

Aturan-Sifat Wajib Tuhan

Sifat mesti Allah ialah rasam yang karuan suka-suka pada Allah. Berikut dibawah ini merupakan sifat-kebiasaan allah yang perlu :

Adanya Allah itu bukan karena ada yang mengadakan atau menciptakan, tetapi Halikuljabbar itu suka-suka dengan zat-Nya sendiri.

Dalil Aqli sifat Wujud Adanya semesta bendera nan kita tatap sudah cukup dijadikan sebagai alasan adanya Sang pencipta, sebab tidak masuk akal seandainya suka-suka sesuatu yang dibuat sonder ada yang membuatnya. Dalil Naqli sifat Wujud

“Allahlah menciptakan langit dan bumi dan segala yang suka-suka diantara keduanya dalam (waktu) enam hari”. (QS. AS sajdah [32]:4)

Sifat Allah ini menandakan bahwa Allah swt sebagai Pencipta lebih dulu ada daripada semesta standard dan isinya yang Ia ciptakan.

Dalil aqli adat Qidam Jikalau Halikuljabbar tidak qodim, teristiadat Allah hadits, sebab tidak cak semau hakim antara qodim dan hadits. Apabila Tuhan hadits maka terlazim membutuhkan muhdits (nan membuat) mislanya A, dan muhdits A mesti membutuhkan kepada Muhdits yang lain, misalnya B. Kemudian muhdits B teradat membutuhkan muhdits yang tidak juga, misalnya C. Begitulah seterusnya. Apabila tiada ujungnya, maka dikatakan tasalsul (peristiwa berantau), dan apabila yang ujung membutuhkan kepada Allah maka dikatan daur (peristiwa bergerak). Masing-masing dari tasalsul dan daur adalah mustahil menurut akal. Maka setiap yang mengakibatkan tasalsul dan daur, yaitu hudutsnya Allah adalah mustahil, maka Yang mahakuasa terbiasa bersifat Qidam. Dalil Naqli sifat Qidam

“Dialah yang awal dan nan penghabisan Nan zhohir dan yang bathin”. (QS. Al-Hadid [57]:3)

Allah Akan Kekal dan Lestari Selamanya, Kekalnya Tuhan SWT bukan berkesudahan

Dalil Aqli kebiasaan Baqa’ Jika Allah tidak teradat Baqo, yakni Wenang Allah Tiada, maka tidak akan disifati Qidam. Sementara itu Qidam tak boleh dihilangkan dari Allah beralaskan dalil nan telah dulu privat sifat Qidam. Dalil Naqli Resan Baqa’.

“Tiap sesuatu akan binasa (memasap) kecuali Dzat-nya”. (QS. Qoshos [28]:88)

  1. Mukhalafatuhu Lilhawadith (berbeda dengan Ciptaannya/Makhluknya)

Sifat ini menunjukkan bahwa Allah SWT farik dengan hasil ciptaan- Nya. Coba kita perhatikan tukang jahit hasil busana yang dijahit koteng enggak kali begitu juga baju yang dibuat manusia lain.

Dalil Aqli sifat mukhalafah lil hawadits Apabila diperkirakan Halikuljabbar menyamai simultan makhluknya, niscaya Allah dalah baru (Hadits), sedangkan Allah baru ialah bukan-bukan Dalil Naqli resan mukhalafah lil hawadits

“Tidak ada sesuatu apapun nan serupa dengan dia, dan dia-lah yang maha mendengar lagi maha melihat”. (QS. Asy-Syuro [42]:11)

  1. Qiyamuhu Binafsihi (Almalik Berdiri Koteng)

Artinya Bahwa Sang pencipta SWT itu tegak dengan zat seorang sonder membutuhkan bantuan yang tidak. Maksudnya, kehadiran Yang mahakuasa SWT itu ada dengan sendirinya tidak ada nan mengadakan maupun menciptakan. Contohnya, Tuhan SWT menciptakan internasional ini karena niat koteng tanpa minta uluran tangan siapapun.

Dalil Aqli sifat Qiyamuhu Binafsihi Seadainya Allah membutuhkan dzat, niscaya Allah ialah sifat, sebab doang sifatlah yang cak acap membutuhkan dzat, sedangkan dzat selamanya tak membutuhkan dzat lain bakal berdirinya. Dan apabila Allah “Resan” adalah mustahil, sebab apabila Almalik “resan”, maka Sang pencipta tak akan disifati dengan kebiasaan Ma’ani dan Ma’nawiyah, sedangkan sifat tersebut adalah termasuk resan-sifat yang wajib bakal Tuhan berdasarkan dalil-dalil tertentu.

Berharga apabila Allah tidak disifati dengan rasam Ma’ani dan Ma’nawiyah ialah pelecok (Bathil), dan tawar pula sesuatu yang mengakibatkannya, yaitu butuhnya Yang mahakuasa kepada dzat. Apabila tawar butuhnya Tuhan kepada dzat maka tetap Maha kaya (istighna)nya Allah dari dzat. Seandainya Allah membutuhkan sang pncipta, niscaya Allah baru (Hadts), sebab yang membutuhkan penghasil hanyalah yang baru padahal dzat qodim tidak membutuhkannya. Dan mustahil Allah Hadits, karena segala sesuatu yang hadits harus membutuhkan si pencipta (mujid) yang kelanjutannya akan mengakibatkan daur atau tasalul. Dalil Naqli Sifat Qiamuhu Binafsihi

“Sepatutnya ada Tuhan khusyuk maha bernas (tidak memerlukan sesuatu) berusul bendera sepenuh”. (QS. Al Ankabut [29]:6)

  1. Wahdaniyyah (Tunggal/Esa)

Artinya yakni Bahwa Allah SWT adalah Sang pencipta Nan Maha Esa, baik itu Esa zat-Nya, sifat-Nya, atau perbuatannya. Esa zat-Nya maksudnya zat Sang pencipta SWT itu bukanlah hasil dari penjumlahan dan perkiraan ataupun penyatuan satu unsur dengan anasir nan lain mkenjadi satu. Berlainan dengan mahluk, mahluk diciptakan dari berbagai unsur, seperti wujudnya manusia, ada tulang, daging, kulit dan lebih lanjut.Esa sifat-Nya artinya semua sifat-sifat kesempurnaan bagi Allah SWT tidak sebabat dengan sifat-kebiasaan pada mahluk-Nya, seperti murka, malas dan sombong.Esa perbuatan-Nya bermanfaat Almalik SWT mengerjakan sesuatu tidak dicampuri maka dari itu perbuatan mahluk apapun dan sonder membutuhkan proses ataupun tenggang waktu. Almalik SWT mengamalkan karena karsa-Nya koteng sonder cak semau nan menyuruh dan melarang.

Dalil Naqli

“Jikalau di langit dan dibumi suka-suka yang mahakuasa-yang mahakuasa selain Almalik, niscaya langit dan marcapada akan kemungkus”. (QS. Al Anbiya [21]:22)

Kekuasaan Yang mahakuasa SWT, atas segala sesuatu itu mutlak, tidak ada batasnya dan lain ada nan membatasi, baik terhadap zat-Nya sendiri ataupun terhadap makhluk-Nya. Berbeda dengan kekuasaan manusia ada batasnya dan ada yang membatasi.

Dalil Aqli kebiasaan Qudrot

Dalilnya adalah adanya internasional. Proses penyusunan dalilnya, sekiranya Allah tidak berkemampuan niscaya Allah gontai(‘Ajzun), dan apabila Sang pencipta lemah maka bukan akan gemuk menciptakan makhluk komoditas sedikitpun. Dalil Naqli sifat Qudrot

“Sesungguhnya Yang mahakuasa berkuasa atas segala sesuatu”. (QS. Al- Baqarah [2]:20)

Allah SWT menciptakan bendera beserta isinya atas kehendak-Nya koteng, sonder terserah paksaan berasal pihak enggak maupun intervensi berusul siapa-siapa Apapun yang Almalik SWT kehendakin tentu terjadi, seperti mana setiap setiap Allah SWT enggak kehendaki pasti tidak terjadi.Berbeda dengan kehendak alias keinginan sosok, tidak sedikit manusia mempunyai kerinduan, tetapi kehausan itu kandas di paruh kronologi. Apabila manusia berkeinginan sonder disertai dengan kehendak Allah SWT. Pasti kerinduan itu tidak terlaksana. Hal ini menunjukan bahwa manusia memiliki keterbatasan, sedangkan Allah SWT memiliki kehendak yang tidak rendah.

Dalil Aqli sifat Irodat. Dalilnya adalah adanya alam segenap. Proses penyusunan dalil, seasndainya halikuljabbar tidak bersifat berkehendak niscaya berperangai terpaksa (karohah), dan halikuljabbar berperangai tertekan yaitu bukan-bukan karena tidak akan disifati qudrot, akan cuma tidak disifatinya Tuhan dengan sifat qudrot yaitu mustahil, sebab akanberakibat lemahnya Alla, sedangkan lemahnya Sang pencipta adalah mustahi, karena tidak akan mampu mewujudkan makhluk dagangan sedikitpun. Dalil Naqli sifat Irodat.

“Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang engkau kehendaki”. (QS. Hud[50]:107)

Artinya Allah SWT memiliki takrif atau kepandaian yang adv amat sempurna, artinya aji-aji Sang pencipta SWT itu tidak abnormal dan tak pula dibatasi. Tuhan SWT mengarifi segala sesuatu nan suka-suka di pan-ji-panji semesta, baik yang tampak alias yang gaib.Bahkan, apa nan dirahasiakan didalam hati makhluk sekali pula. Bukti kesempurnaan ilmu Allah SWT, sebagai air laut menjadi mangsi untuk menulis kalimat-kalimat Tuhan SWT, tak akan habis kalimat-kalimat tersebut lamun mendatangkan adendum air yang banyak seperti semula.Kita gegares kagum atas kecerdasan dan guna-guna yang dimiliki khalayak-cucu adam ampuh di dunia ini. Kita juga takjub akan indahnya karya dan canggihnya tekhnologi nan diciptakan manusia. Sadarkah kita bahwa ilmu tersebut hanyalah sebagian katai saja yang diberikan Allah SWT kepada kita ?.

Dalil Aqli sifat Aji-aji Dalilnya yakni adanya alam semesta. Proses penyusunan dalil, seandainya Allah tak sakti niscaya tak akan berkehendak, sementara itu allah tidak berkehendak adalah mustahil, karena enggak akan disifati qudrot, akan semata-mata Halikuljabbar tidak disifati dengan qudrot ialah mustahil, sebab akan berakibat lemahnya Halikuljabbar. Sedangkan lemahnya Allah yaitu tidak-tidak, karena tidak akan mampu membuat barang orang sedikitpun. Dalil Naqli resan Ilmu

“Dan ia maha mengetahui apa sesuatu”. (QS.Al Hadid [57]:3 maupun QS. Al Baqaroh [2]:29)

Artinya Hidupnya Allah enggak ada nan menghidupkannya melainkan semangat dengan zat-Nya sendiri karena Allah Maha Hipotetis, berbeda dengan makhluk yang diciptakan-Nya. Contohnya : Khalayak terserah yang menghidupkan. Selain itu, mereka juga mmebutuhkan makanan, minuman, istirahat, tidur, dan sebagainya. Akan tetapi, hidupnya Tuhan SWT lain membutuhkan semua itu. Halikuljabbar SWT hidup selama-lamanya, tidak mengalami mortalitas bahkan mengantuk juga tidak.

Dalil Aqli sifat hayat Dalilnya adanya duaja seberinda. Proses penyusunan dalil, jika Allah tidak kehidupan maka enggak akan disifati Qudrot, akan tetapi Allah tidak disifati dengan Qudrot adalah tidak-tidak, sebab akan berbuah lemahnya Allah, seangkan lemahnya Allah adalah tidak-tidak, karena tak akan fertil membuat alam semesta. Dalil Naqli rasam Vitalitas Firman Allah :

“Dan bertakwalah kepada Allah nan roh yang tidak mati”. (QS. Al- Furqon [25]:58)

Yang mahakuasa SWT mendengar setiap kritik yang terserah di alam semesta ini. Yidak ada suara yang terlepas dari pendengaran Allah SWT walaupun kritik itu lemah dan lapangan., seperti suara miring bisikan hati dan jiwa cucu adam.Pendengaran Allah SWT berbeda dengan pendengaran mahluk –Nya karena tidak terhalang oleh suatu apapun, sedangkan rungu mahluk-Nya dibatasi ruang dan waktu. DALIL :

”Dan Allah-lah Yang Maha Mendengar sekali lagi Maha Mengetahui” … (QS Al Maidah :76)

Allah SWT melihat apa sesuatu yang ada di internasional ini . penglihatan Almalik bersifat mutlak, artinya tidak dibatasi oleh jarak( jauh atau dekat) dan lain bisa dihalangi oleh dinding (tipis atau tebal). Segala apa sesuatu yang terserah di jagat rat ini, boncel alias segara, terpandang atau tak tampak, tentu semuanya terbantah maka dari itu Tuhan SWT. DALIL:

”………Dan Allah maha Melihat segala nan kamu kerjakan.” … (al-Baqarah: 265)

 Dengan memaklumi adat osean Allah SWT mudahmudahan kita selalu berhati- hati dalam melakukan. Mungkin kita bisa berbohong kepada hamba allah, sama dengan anak adam tua, guru, maupun teman. Akan doang kita tak akan bisa berbohong kepada Allah SWT.

  1. Kalam ( Berbicara / Berfirman )

Allah SWT berperilaku pelir artinya Allah SWT berucap dalam kitab-Nya yang diturunkan kepada para nabi dan rasul-Nya. Musyawarah Allah SWT tentu tak setinggi dengan pembicaraan insan karena Halikuljabbar SWT tak berorgan (panca alat pencium), begitu juga lidah dan mulut nan dimiliki maka dari itu manusia.Allah SWT berbicara tanpa menggunkan perangkat tolong yang berbentuk apapun sebab sifat kalam Yang mahakuasa SWT dulu sempurna. Seumpama bukti bahwa adanya tajali Almalik SWT berupa al qur’an yang diturunkan kepada Utusan tuhan Muhammad SAW dan kitab-kitab Allah yang diturunkan kepada para rasul sebelum Nabi Muhammad SAW. DALIL :

”……. Dan Almalik bercakap kepada Musa dengan satu perkataan yang jelas” (QS AnNisa’ :164)

Oleh karena itu kita sebagai hamba Allah SWT mudah-mudahan sparing diri mengucapkan kalimat-kalimat tayyibah, artinya kata-kata yang mulia, sebagaimana ketika kita berbuat salah, maka segeralah membaca istighfar.

  1. Qadirun Yaitu (Hal Allah Ta’ala Yang Berkuasa Mengadakan Dan Mentiadakan)

DALIL

“Selayaknya Alllah berkuasa atas barang apa sesuatu“ (QS. Al Baqarah :20).

  1. Muridun Yaitu (Kejadian Sang pencipta Ta’ala Yang Menghendaki dan menentukan tiap-tiap sesuatu).

Engkau berkehendak atas semangat dan takdir manusia. DALIL

“Sesungguhnya Tuhanmu Maha Melaksanakan apa yang Dia kehendaki“ … (QS. Hud :107)

  1. ‘Alimun Yaitu (Kejadian Allah Ta’ala Nan Memahami akan Tiap-tiap sesuatu).

Mengetahui apa hal yang telah terjadi maupun yang belum terjadi, Allah pula boleh mencerna isi lever dan pikiran manusia. DALIL

“Dan Alllah Maha Memafhumi sesuatu“ … (QS. An Nisa’ :176)

  1. Hayyun Yaitu (Keadaan Allah Ta’ala Yang Atma).

Allah yakni Dzat Yang Hidup, Sang pencipta lain akan pernah mati, tidak akan persaudaraan tidur alias lengah. DALIL

“Dan bertakwalah kepada Allah yang spirit kekal dan yang tidak senyap“ (QS. Al Furqon :58)

  1. Sami’un Merupakan (Peristiwa Allah Ta’ala Nan Mendengar).

Sang pencipta selalu mendengar musyawarah khalayak, permintaan maupun takbir hambaNya. DALIL

“Sang pencipta Maha Mendengar dan Maha Mengetahui“ … (QS. Al Baqoroh :256).

  1. Basirun Yaitu (Keadaan Allah Ta’ala Nan Melihat akan tiap- tiap yang Maujudat ( Benda yang ada ).

Tuhan selalu melihat gerak-gerik kita. Oleh karena itu, hendaknya kita selalu berbuat baik. DALIL

 “Dan Allah Maha Melihat segala apa yang anda kerjakan“ … (QS. Al Hujurat :18)

  1. Kaunuhu Mutakallimun Yaitu (Situasi Allah Ta’ala Yang Bercakap-kata, Yang mahakuasa tidak gagu)

Ia bersuara atau berfirman menerobos ayat-ayat Al Quran. Bila Al Alquran menjadi pedoman hidup kita, maka kita telah patuh dan tunduk terhadap Allah swt.

Sifat-Sifat Mustahil bagi Allah

Sifat Mustahil Bagi Allah artinya Rasam Yang Tidak Mungkin terserah pada Sang pencipta Swt. Sifat Mustahil Allah merupakan Musuh Kata/Padanan dari Kebiasaan Wajib Almalik Berikut dibawah ini yakni 20 adat-rasam bukan-bukan bakal Almalik swt.

  1. ‘Adam, artinya tiada (bisa hening)
  2. Huduth, artinya baharu (bisa di perbaharui)
  3. Fana’, artinya binasa (tidak kekal/sepi)
  4. Mumathalatuhu Lilhawadith, artinya menyerupai akan makhlukNya
  5. Qiyamuhu Bighayrih, artinya berdiri dengan nan enggak (cak semau kerjasama)
  6. Ta’addud, artinya berbilang – beberapa (kian dari suatu)
  7. ‘Ajz, artinya ruai (tidak lestari)
  8. Karahah, artinya terpaksa (bisa di paksa)
  9. Jahl, artinya jahil (bodoh)
  10. Maut, artinya ranah (dapat mati)
  11. Syamam, artinya tuli
  12. ‘Umy, artinya buta
  13. Bukm, artinya gagu
  14. Kaunuhu ‘Ajizan, artinya litak (dalam keadaannya)
  15. Kaunuhu Karihan, artinya terdesak (privat keadaannya)
  16. Kaunuhu Jahilan, artinya jahil (kerumahtanggaan keadaannya)
  17. Kaunuhu Mayyitan, artinya mati (privat keadaannya)
  18. Kaunuhu Asam, artinya tuli (internal keadaannya)
  19. Kaunuhu A’ma, artinya buta (intern keadaannya)
  20. Kaunuhu Abkam, artinya gagu (dalam keadaannya)

Sifat Jaiz Cak bagi Halikuljabbar Swt

Sifat Jaiz bagi Sang pencipta artinya boleh kerjakan Allah Swt mengadakan sesuatu atau tidak mengadakan sesuatu alias di sebut juga sebagai “mumkin”. Mumkin ialah sesuatu yang boleh terserah dan tiada.

Ja’iz artinya boleh-boleh sekadar, dengan makna Allah Swt menciptakan apa sesuatu, yakni dengan tidak ada paksaan dari sesuatupun juga, sebab Allah Swt bertabiat Qudrat (kuasa) dan Iradath (kehendak), kembali boleh – dapat hanya bagi Allah Swt meniadakan akan segala sesuatu apapun nan ia ingin.

Buat Mempelajari Mantra Tauhid Ini, Kita Harus Mencari Guru nan Baik secara Keilmuan dan lagi Pengamalan privat kehidupannya sehari hari, dan lebih utama adalah seorang guru yang memiliki sanad hingga dengan ke Bagian Rasullulah SAW, karena guru yang sebagaimana ini akan sulit didapatkan, kuncinya adalah seorang guru yang bisa mengubah diri tubuh dan diri keruhanian kita sendiri internal pengamalan kehidupan sehari hari.

Baca Juga :

DAFTAR Teks

Al Utsaimin, Syaikh Muhammad bin Shalih, 1996, Qowa’idul Mutsla, yogyakarta : ki alat hidayah

Al- jibrin, Syaikh Abdullah kacang Abdul Aziz, 2006, Cara Mudah Mencerna Aqidah, Jakarta: Teks At-Tazkia.

Al Utsaimin, Syaikh Muhammad bin Shalih, 1995, Lektur Lum’atul I’tiqad, yogyakarta: Sarana Hidayah.

As-Segaf, Alawi bin Abdul Qadir, 2001, Mengungkapkan Keutuhan Sifat-kebiasaan Allah dalam Alquran dan As-sunnah, Jakarta:Pustaka Azzam.

Drs. H. Masan AF, 2009, Aqidah Akhlak Madrasah Tsanawiyah papan bawah V11, Semarang: Karya Toha Putra.

Mungkin Dibawah Ini yang Dia Cari

Source: https://apadimaksud.com/ada-berapakah-sifat-jaiz-bagi-allah-sebutkan-dan-jelaskan

Posted by: gamadelic.com