Siapa Pendiri Kerajaan Gowa Tallo

Berasal Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia nonblok

Kesultanan Gowa

1320–1905
1936–1957

Bendera Kesultanan Gowa

Kalimantang

Wilayah kekuasaan Federasi Kesultanan Gowa-Tallo pada abad ke-17

Wilayah dominasi Federasi Kesultanan Gowa-Tallo pada abad ke-17

Ibu ii kabupaten Tamalate
(1320–1548)
Somba Opu
(1548–1670)
Kalegowa
(1670–1680)
Ujung Tanah
(1680–1684)
Mangallekana
(1684–1692)
Kalegowa
(1692–1702)
Balla Kiria
(1702–1720)
Katangka
(1720–1722)
Pabineang
(1722–1727)
Mallengkeri
(1727–1753)
Kalegowa
(1753–1895)
Jongaya
(1895–1906)
Sungguminasa
(1936–Sekarang)
Bahasa nan awam digunakan Makassar.
Agama 1320-1607:Animisme 1607 : Islam
Pemerintahan Monarki
Kanjeng sultan
Sejarah

• Didirikan

1320

• Sultan Hasanuddin naik takhta

1653

• Perjanjian Bungaya antara Gowa dan VOC

1667

• Kesultanan Gowa ditaklukkan seutuhnya oleh Belanda

1905

• Kesultanan Gowa juga dihidupkan dan dinaikkan statusnya menjadi setingkat swapraja

1936[1]

• Wilayahnya dijadikan Kabupaten Gowa

1957
Didahului maka dari itu Digantikan oleh
Gowa dan Tallo
Hindia Belanda
Republik Indonesia

Gowa
(juga dieja
Goa) atau
Bate Salapang
(bahasa Makassar:
ᨅᨈᨙᨔᨒᨄ
Baté Salapang “Sembilan Panji”) adalah sebuah imperium dan kesultanan nan berpusat di daerah Sulawesi Selatan, tepatnya di jazirah selatan dan pesisir barat ancol yang mayoritasnya didiami maka itu suku Makassar. Wilayah inti wadah kerajaan ini sekarang mewah di bawah Kabupaten Gowa, Kotamadya Makassar dan Kabupaten Takalar detik ini.

Berawal semenjak
chiefdom
alias
banua
nan didirikan lega semula abad ke-14, Kerajaan Gowa hingga ke puncak kejayaannya bersama Kekaisaran Tallo sekitar musim 1511 hingga 1669, ketika kerajaan ini menjabat hegemoni militer dan bursa atas kewedanan timur Nusantara, teragendakan di antaranya sebagian besar Sulawesi, beberapa bagian berpokok Maluku dan Nusa Tenggara, serta pesisir timur Kalimantan. Dalam prosesnya menjadi kekaisaran maritim, Kekaisaran Gowa berekspansi bervariasi inovasi kerumahtanggaan bidang rezim, ekonomi dan militer. Pergantian sosial budaya yang drastis juga terjadi seiring mengeratnya perpautan antara Kerajaan Gowa dan marcapada luar, terutama pasca- Kekaisaran Gowa mengadopsi Selam perumpamaan agama resmi pada mulanya 1607.

Kekalahan Kerajaan Gowa dalam Perang Makassar nan terjadi pada tahun1669 mengakibatkan lepasnya negeri kekuasaan Kerajaan Gowa di luar Sulawesi Selatan, darurat sebagian boncel wilayahnya diberikan kepada VOC. Meski begitu, Kerajaan Gowa tetap bertahan sebagai distrik merdeka sampai mulanya abad ke-20, detik pemerintah kolonial Belanda mengalahkan Gowa n domestik Ekspedisi Sulawesi Selatan dan menjadikannya daerah jajahan.

Warisan Kesultanan Gowa

[sunting
|
sunting sumur]

Kapal Palari, Pelabuhan Paotere, kota Makassar, Sulawesi selatan, Kapal Phinisi,Aksara Lontara, Benteng Somba Opu, Benteng Ujung Pandang (Rotterdam), Tari Pakarena, Sinrilik, Tunrung Pakanjara’

Album

[sunting
|
sunting mata air]

Memori awal

[sunting
|
sunting sumber]

Naskah
Lontara Patturioloang
Gowa menyebutkan bahwa nasab penguasa Imperium/Kesultanan Gowa berawal pecah perkawinan
Tumanurung
yang secara harafiah dapat diartikan orang bukan diketahui dasar muasalnya secara tentu dengan seorang bangsawan yang hanya dikenali dengan Karaeng Bayo”,[2]
[3]
sebagai perkawinan antara wanita bangsawan setempat dan penguasa.[4]
[5]
Bangsawan-bangsawan
Bate Salapanga
di Gowa pun bersepakat menciptakan menjadikan daerah dan mengangkat mereka berdua suami-gula-gula misal penguasa.[6]
Bukti genealogis dan arkeologis mengisyaratkan bahwa pembentukan negeri Gowa terjadi puas sekitar tahun 1320 Masehi.[7]
[8]
Para ahli mengaitkan kemunculan Kerajaan Gowa dan negeri-distrik di Sulawesi Kidul lainnya dengan intensifikasi pertanian dan pemusatan pemerintahan besar-jumlah plong abad ke-14, nan dipicu makanya naiknya permintaan luar untuk beras Sulawesi Selatan.[9]
[10]
[11]
Konsistensi penduduk turut meningkat seiring dengan perlintasan semenjak budaya meladang kepada karakter kunci padi lahan basah secara intensif. Pangan-jenggala di pedalaman semenanjung pun dibuka untuk memberi arena bagi pemukiman-pemukiman agraris baru,[12]
tertulis Gowa yang awalnya sekali lagi merupakan
chiefdom
pedalaman yang berbasiskan khuluk daya gabah.[8]

Kerumahtanggaan perang tahta antara dua putra “Sombaya ri Gowa” atau Raja di Kerajaan Gowa yang ke-enam pada penutup abad ke-15, Betara Gowa Tuniawanga ri Parallakkenna mengalahkan saudaranya Karaeng Loe ri Sero’. Karaeng Loe ri Sero’ kemudian menuju ke ambang Sungai Tallo dan mendirikan negeri baru yang dikemudian masa dinamakan Tallo,[13]
[14]
yang kemudian berkembang menjadi negara maritim berbasis niaga.[15]
[16]
Hingga abad ke-16, fragmen barat Sulawesi Daksina terdiri dari negeri-daerah sama kuat yang silih bersekutu dan bersaing satu sebanding lain, tanpa terserah satu pun yang mampu menguasai keseluruhannya.[17]
Putra Betara Gowa, Karaeng Tumapaʼrisiʼ Kallonna (berkuasa sekitar 1511–1546), memecahkan peristiwa
martabat quo
ini dengan menjinakkan pantai Garassi’ serta mengecap setidaknya tiga belas negeri bersuku Makassar lainnya.[18]
[19]
[20]
Pada akhir 1530-an atau semula 1540-an, Kerajaan Gowa memenangkan perang melawan Imperium Tallo dan perkongsian-sekutunya.[21]
[22]
Kerajaan Gowa pula menjadi negeri paling dominan di lahan kaki Makassar dan diakui andai plasenta tua oleh Kerajaan Tallo.[23]
[24]
Sombaya Tumapaʼrisiʼ Kallonna melebarkan birokrasi imperium dengan menunjuk Daeng Pamatteʼ sebagai
sabannaraʼ
(syahbandar) mula-mula.[25]
Penyusunan catatan sejarah serta syariat tersurat kekaisaran kembali dimulai pada masa pemerintahannya.[26]
[18]
Beliau lagi prospek yaitu penguasa Kerajaan Gowa nan purwa siapa membangun kubu Somba Opu.[27]
[28]

Penguasa Kerajaan Gowa berikutnya, Karaeng Tunipalangga (memerintah sekitar 1546–1565) memperluas pengaruh Kerajaan Gowa melalui serangkaian agresi militer. Kamu juga melakukan inovasi internal bidang teknologi persenjataan dan pertahanan.[29]
[30]
[28]
Pada waktu pemerintahannya, Kerajaan Gowa mengalahkan seluruh pesaingnya di pesisir barat dan memperluas pengaruhnya mencecah daerah Sulawesi Tengah.[31]
[32]
Sombaya Tunipalangga pula menerima khalayak-orang Jawi dan Nusantara Barat lainnya untuk bermukim dan sekaligus berniaga di negerinya.[33]
Ia apalagi mengadakan perjanjian dengan salah satu pengarah mereka dan memperbolehkan mereka cak bagi tinggal secara permanen di dalam wilayah Imperium Gowa sonder harus mengikuti hukum resan setempat.[34]
[35]
[36]
Para pengembara ini kemungkinan juga timbrung terbabit dalam reformasi ekonomi yang berkontribusi plong kejayaan pesat Imperium Gowa sebagai bandar dermaga utama di Nusantara bagian timur kala itu.[37]
Sombaya Tunipalangga sekali lagi mengembangkan birokrasi Keraiaan Gowa selanjutnya dengan menciptakan jabatan
Tumilalang alias Tumailalang
yang artinya “orang di privat” (menteri kerumahtanggaan negeri???[38]) untuk menggantikan tugas-tugas nondagang
sabannaraʼ,[39]
[40]
serta mengangkat
Tumakkajannangngang
atau penasihat pengrajin yang bertugas mematamatai tiang penghidupan ??? (Bermula versi enggak, jabatan “Tumakkajannangngang” atau lengkapnya “Anrongguru Lompona Tukkajannangnganga” adalah jabatan Panglima Angkatan perang Kekaisaran/Kesultanan Gowa yang di masa pemerintahan Aji (Sultan) atau Sombaya ri Gowa ke 15, jabatan tersebut diduduki oleh putra Dia ialah I Mallombasi Daeng Mattawang Sri paduka Hasanuddin Tumenanga ri Balla’pangkana yang dijuluki oleh amirulbahar VOC Cornelius Spellman dengan julukan De Haantjes van Het Osten atau Ayam Bahaduri berasal Timur, dalam bahasa Makassarnya; Jangang Pallakina Butta Irayayya, dan juga pada musim penutup Kesultanan Gowa para waktu pemerintahan Sombaya ri Gowa XXXVI Andi Idjo Daeng Mattawang Karaeng Lalolang Sultan Muhammad Abdul Kadir Aiduddin Tumenanga ri Jongaya yang dijabat oleh salah satu kerabatnya nan bernama Andi Laoddanriu Karaeng Bontonompo) serikat-serikat pengrajin di Makassar.[41]
[42]

Perluasan pengaruh Kerajaan Gowa di tepi laut barat memicu respons agresif dari Kerajaan Bone di sisi timur. Perang meledak lega sediakala 1560-an, dan bau kencur berakhir pada 1565 dengan kekalahan Gowa. Karaeng Tunibatta, tembuni dan penerus Sombaya Tunipalangga, mati dipenggal (Nibatta) oleh lawan.[43]
[44]
[45]
Sesudah mortalitas Tunibatta, penguasa Kerajaan Tallo I Mappatakangkang Tana Daeng Padulung Tumenanga ri Makkoayang naik sebagai
Kutu’wicara butta atau pandai wicara negeri
(perdana menteri???) pertama Gowa??? dan mengangkat Karaeng Tunijalloʼ, putra Karaeng Tunibatta, sebagai penguasa Gowa.[46]
[47]
Sejak saat itu, penguasa Imperium Gowa dan Kerajaan Tallo berbagi posisi internal memimpin keseluruhan daerah Gowa dan negeri Tallo secara sedarun.[48]
[49]
Karaeng Tunijalloʼ mengakhiri peperangan dengan menandatangani Perjanjian Caleppa alias “Ulu Kanaya ri Caleppa” antara Kerajaan Gowa dan Imperium Bone,[44]
[45]
yang mempertahankan kedamaian di semenanjung selama terbatas lebih enam belas tahun berikutnya.[50]
Sepanjang itu pula, Sombaya Tunijalloʼ dan Karaeng Tumenanga ri Makkoayang melanjutkan kebijakan-ketatanegaraan memihak-perbelanjaan penguasa sebelumnya dan mengikat persahabatan dengan negeri-wilayah lain di Nusantara.[51]
[52]
[53]

Masa sultanat

[sunting
|
sunting mata air]

Pada perian 1666, di bawah pimpinan Laksamana Cornelis Speelman, VOC berusaha menundukkan kerajaan-kerajaan kecil di Sulawesi, semata-mata belum berbuntut menaklukkan Kesultanan Gowa. Di lain pihak, setelah Prabu Hasanuddin naik tahta, ia berusaha menggabungkan kurnia kerajaan-kerajaan boncel di Indonesia fragmen timur bakal melawan VOC (Kompeni).

Pertempuran terus berlangsung, Kompeni menambah kemujaraban pasukannya hingga pada balasannya Gowa terdesak dan semakin lemah sehingga plong rontok 18 November 1667 bersedia mengadakan Perjanjian Bungaya di Bungaya. Gowa merasa dirugikan, karena itu Sultan Hasanuddin mengadakan pertentangan lagi. Akhirnya pihak Kompeni minta bantuan armada ke Batavia. Perbantahan kembali berbunga di berbagai tempat. Sinuhun Hasanuddin memberikan perkelahian sengit. Bantuan legiun dari luar menambah kekuatan pasukan VOC, hingga akhirnya Kompeni berhasil melangkaui pertahanan terkuat properti Kesultanan Gowa yaitu Baluwarti Somba Opu plong copot 12 Juni 1669. Sultan Hasanuddin kemudian mengundurkan diri dari tahta kerajaan dan wafat puas sungkap 12 Juni 1670.

Kesultanan Gowa telah mengalami timbul tenggelam dalam perkembangan sejak Tuanku Gowa ke-1, Tumanurung, hingga mencapai puncak keemasannya lega abad ke-17, hingga kemudian mengalami masa penjajahan di bawah dominasi Belanda. Dalam pada itu, sistem rezim mengalami transisi lega masa Emir Gowa ke-36, Andi Idjo Karaeng Lalolang Prabu Muhammad Abdul Kadir Aidudin, menyatakan Kesultanan Gowa bergabung menjadi episode Republik Indonesia yang merdeka dan berganduh, dan berubah bentuk pecah kerajaan menjadi Ii kabupaten Daerah tingkat Gowa. Sehingga dengan pergantian tersebut, Andi Idjo sekali lagi tercatat intern rekaman sebagai Pangeran Gowa terakhir dan sekaligus Bupati Kabupaten Gowa pertama.

Budaya dan awam

[sunting
|
sunting sumber]

Laksana negara maritim, maka sebagian besar publik Gowa adalah penangkap ikan dan pedagang. Mereka giat berusaha untuk meningkatkan taraf kehidupannya, bahkan bukan jarang dari mereka yang merantau bakal menggunung kemakmuran hidupnya. Biarpun publik Gowa memiliki kebebasan bikin berusaha dalam hingga ke kesejahteraan hidupnya, tetapi kerumahtanggaan kehidupannya mereka sangat terikat dengan norma kebiasaan yang mereka anggap sakral. Norma kehidupan mahajana diatur berdasarkan adat dan agama Islam yang disebut
Pangadakkang. Dan masyarakat Gowa sangat berkepastian dan taat terhadap norma-norma tersebut.

Di samping norma tersebut, umum Gowa juga mengenal pelapisan sosial yang terdiri dari lapisan atas yang merupakan golongan bangsawan dan keluarganya disebut dengan
Anakarung
alias
Karaeng, sedangkan rakyat kebanyakan disebut
to Maradeka
dan masyarakat lapisan sumber akar disebut dengan golongan
Ata.[54]

Dari segi kebudayaan, maka masyarakat Gowa banyak menghasilkan benda-benda budaya yang berkaitan dengan mayapada pelayaran. Mereka terkenal sebagai pelaksana kapal. Macam kapal yang dibuat oleh orang Gowa dikenal dengan nama
Pinisi
dan
Lombo. Kapal
Pinisi
dan
Lombo
merupakan kebanggaan rakyat Sulawesi Kidul dan terkenal hingga mancanegara.

Ekonomi

[sunting
|
sunting mata air]

Kerajaan Makassar yaitu kerajaan Nautikal dan berkembang sebagai resep penggalasan di area Indonesia bagian Timur. Hal ini ditunjang makanya beberapa faktor yaitu : letak yang strategis, punya bom yang baik jatuhnya Malaka ke tangan Portugis pada tahun 1511 yang menyebabkan banyak pengelana yang pindah ke Indonesia Timur.

Ibarat trik perdagangan. Makassar berkembang menjadi pelabuhan internasional nan banyak disinggahi petualang asing seperti Portugis, Inggris, Denmark dan sebagainya yang datang untuk berniaga di Makassar.

Daftar penguasa

[sunting
|
sunting sumber]

I Mangngimangi Daeng Matutu Karaeng Bontonompo Kanjeng sultan Muhammad Thahir Muhibuddin Tumenanga ri Sungguminasa (bertahta 1936-1946) mendengarkan lektur pengangkatan pengarah gubernur Celebes, Tn. Bosselaar (awal tahun 1930-an).

  1. Tumanurung Bainea (±1300)
  2. Tumassalangga Barayang
  3. I Puang Loe Lembang
  4. I Tuniata Banri
  5. Karampang ri Gowa
  6. Tunatangka’/Tunarangka’ Lopi (±1400)
  7. Betara Gowa Tuniawanga ri Parallakkenna
  8. I Pakere Tau Tunijallo ri Passukki
  9. I Daeng Matanre Karaeng Manguntungi
    Tumapa’risi’ Kallonna
    (1510-1546)
  10. I Manriwagau’ Daeng Bonto Karaeng Lakiung Tunipalangga (1546-1565)
  11. I Tajibarani Daeng Marompa Karaeng Data Tunibatta
  12. I Manggorai Daeng Mammeta Karaeng Bontolangkasa Tunijallo’ (1565-1590)
  13. I Tepukaraeng Daeng Parabbung Tunipasulu’ (1590-1593)
  14. I Mangnga’rangi Daeng Manrabbia
    Sultan Alauddin

    Tumenanga ri Gaukanna; Berkuasa mulai perian 1593 – wafat sungkap 15 Juni 1639, merupakan penguasa Sultanat Gowa permulaan nan memeluk agama Islam
  15. I Mannuntungi Daeng Mattola Karaeng Ujung Karaeng Lakiung, Muhammad Said
    Sultan Malikussaid
    Tumenanga ri Papang Batunna; Lahir 11 Desember 1605, berhak berangkat tahun 1639 hingga wafatnya 6 November 1653
  16. I Mallombasi Daeng Mattawang Muhammad Baqir Karaeng Bonto Mangngape
    Sultan Hasanuddin
    Tumenanga ri Balla’pangkana; Lahir rontok 12 Januari 1631, berwenang tiba tahun 1653 sampai 1669, dan wafat pada 12 Juni 1670 , diangkat perumpamaan Pahlawan Kebangsaan dengan Surat Keputusan Presiden No. 087/TK/1973, tanggal 6 November 1973.
  17. I Mappasomba Daeng Uraga Sri paduka Amir Hamzah Lengkung langitumammalianga ri Allu Lahir 31 Maret 1656, berkuasa 29 Januari 1669 hingga wafatnya 7 Mei 1674.
  18. I Mappaosong Daeng Mangngewai Karaeng Bisei 𝐒𝐮𝐥𝐭𝐚𝐧 𝐌𝐮𝐡𝐚𝐦𝐦𝐚𝐝 𝐀𝐥𝐢
    Tumatea ri Jakattara; Lahir 29 November 1654, berkuasa mulai 3 Oktober 1674 sebatas 27 Juli 1677 (di penggulingan maka itu VOC Belanda bersama Sekutu nya), diasingkan ke Batavia 16 September 1678 dan wafat 15 Maret 1681.
  19. I Mappadulung Daeng Mattimung Karaeng Sanrobone 𝐒𝐮𝐥𝐭𝐚𝐧 𝐀𝐛𝐝𝐮𝐥 𝐉𝐚𝐥𝐢𝐥
    Tumamenanga ri Lakiung. Berkuasa puas 27 Juli 1677- hingga wafatnya 17- September 1709.
  20. La Pareppa Tosappewalie Karaeng Anak Moncong
    Tuanku Ismail Muhtajuddin

    Tumenanga ri Somba Opu. Berkuasa 16 Februari 1710, di campakkan umpama Raja di Gowa 24 Agustus 1712.
  21. I Mappau’rangi Karaeng Boddia
    Kanjeng sultan Sirajuddin
    Tumenanga ri Pasi. Berwajib 31 Agustus 1712.
  22. I Manrabbia
    Sultan Najamuddin
  23. I Mappaurangi Karaeng Boddia
    Sultan Sirajuddin
    Tumenanga ri Pasi; Menyandang buat kedua kalinya puas tahun 1735
  24. I Mallawagau
    Ratu Abdul Chair Al Manshur
    (1735-1742)
  25. I Mappaba’basa’
    Sultan Abdul Quddus
    (1742-1753)
  26. Amas Madina
    Sultan Usman Fakhruddin
    Batara Gowa (diasingkan oleh Belanda ke Sri Lanka) (1747-1795)
  27. I Mallisujawa Daeng Riboko Arungmampu
    Sultan Imaduddin
    Tumenanga ri Tompobalang
    (1767-1769)
  28. I Temassongeng I Makkaraeng Karaeng Katangka
    Sultan Zainuddin
    Tumenanga ri Mattoanging (1770-1778)
  29. I Mannawarri I Sumaele Karaeng Bontolangkasa Karaeng Mangasa
    Sultan Abdul Hadi
    Tumenanga ri Lambusu’na
    atau
    ri Sambungjawa
    (1778-1810)
  30. I Mappatunru’ I Manginnyarrang Karaeng Lembangparang
    Sultan Abdul Rauf
    Tumenanga ri Katangka
    (1816-1825)
  31. I La Oddanriu’ Daeng Mangngeppe Karaeng Katangka
    Sultan Abdul Rahman
    Tumenanga ri Suangga
    (1825-1826)
  32. I Kumala Daeng Parani Karaeng Lembangparang
    Emir Abdul Kadir
    Muhammad Aidid
    Tumenanga ri Kakoasanna
    (1826 – wafat 30 Januari 1893)
  33. I Malingkaang Daeng Nyonri’ Karaeng Katangka
    Syah Muhammad Idris
    Tumenanga ri Kalabbiranna (1893 – wafat 18 Mei 1895)
  34. I Makkulau Daeng Serang Karaeng Lembangparang
    Paduka tuan Husain
    Tumenanga ri Bundu’na
    atau Somba Ilanga ri Lampanna; Memerintah sejak terlepas 18 Mei 1895 – 1906, di Mahkotai di Makassar plong rontok 5 Desember 1895.
  35. I Mangngimangi Daeng Matutu Karaeng Bontonompo
    Yamtuan Muhammad Thahir Muhibuddin
    Tumenanga ri Sungguminasa
    (1936 – 1946)
  36. Andi Idjo Daeng Mattawang Karaeng Lalolang
    Sultan Muhammad Abdul Kadir Aiduddin
    Tumenanga ri Jongaya
    (1956 – 1978) sinkron raja Gowa terakhir
    [55]dan menjadi bupati pertama kabupaten Gowa momen bergabung menjadi bagian Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Lihat lagi

[sunting
|
sunting sumber]

  • Suku Makassar
  • Kesultanan Aceh
  • Kesultanan Banten
  • Kesultanan Bolango
  • Kesultanan Gorontalo
  • Kesultanan Kutai
  • Kesultanan Tidore
  • Kesultanan Ternate
  • Kesultanan Palembang
  • Kesultanan Lingga

Rujukan

[sunting
|
sunting sumber]

Sitiran

[sunting
|
sunting sendang]


  1. ^


    Akbar, Adil (2019).
    Jaringan Pelayaran dan Perdagangan Beras di Sulawesi Kidul pada Tahun 1946-1950
    (Tesis). hlm. 47.





  2. ^

    Cummings (2002), hlm. 25, 149–153.

  3. ^

    Abidin (1983).

  4. ^

    Bulbeck (1992), hlm. 32–34.

  5. ^

    Bulbeck (2006), hlm. 287.

  6. ^

    Cummings (2002), hlm. 25.

  7. ^

    Bulbeck (1992), hlm. 34, 231, 473, 475, antara enggak.
  8. ^


    a




    b



    Bulbeck (1993).

  9. ^

    Bulbeck & Caldwell (2000), hlm. 107.

  10. ^

    Druce (2009), hlm. 34–36.

  11. ^

    Pelras (1996), hlm. 100–103.

  12. ^

    Pelras (1996), hlm. 98–100.

  13. ^

    Cummings (2007b), hlm. 100–105.

  14. ^

    Bulbeck (1992), hlm. 430–432.

  15. ^

    Reid (1983).

  16. ^

    Cummings (2007a), hlm. 2–5, 83–85.

  17. ^

    Bulbeck (1992), hlm. 123–125.
  18. ^


    a




    b



    Cummings (2007a), hlm. 32–33.

  19. ^

    Druce (2009), hlm. 241–242.

  20. ^

    Bulbeck (1992), hlm. 125.

  21. ^

    Bulbeck (1992), hlm. 117–118.

  22. ^

    Cummings (2000), hlm. 29.

  23. ^

    Cummings (2014), hlm. 215–218.

  24. ^

    Bulbeck (1992), hlm. 127–131.

  25. ^

    Bulbeck (1992), hlm. 105–107.

  26. ^

    Cummings (2002), hlm. 216.

  27. ^

    Cummings (2007a), hlm. 57.
  28. ^


    a




    b



    Bulbeck (1992), hlm. 126.

  29. ^

    Cummings (2007a), hlm. 33–36, 56–59.

  30. ^

    Andaya (1981), hlm. 25–26.

  31. ^

    Druce (2009), hlm. 232–235, 244.

  32. ^

    Bougas (1998), hlm. 92.

  33. ^

    Sutherland (2004), hlm. 79.

  34. ^

    Cummings (2007a), hlm. 34.

  35. ^

    Andaya (1981), hlm. 27.

  36. ^

    Cummings (2014), hlm. 219–221.

  37. ^

    Andaya (2011), hlm. 114–115.

  38. ^

    Gibson (2007), hlm. 45.

  39. ^

    Cummings (2002), hlm. 112.

  40. ^

    Bulbeck (1992), hlm. 107.

  41. ^

    Gibson (2005), hlm. 45.

  42. ^

    Bulbeck (2006), hlm. 292.

  43. ^

    Cummings (2007a), hlm. 36.
  44. ^


    a




    b



    Pelras (1996), hlm. 131–132.
  45. ^


    a




    b



    Andaya (1981), hlm. 29.

  46. ^

    Reid (1981).

  47. ^

    Bulbeck (1992), hlm. 102.

  48. ^

    Cummings (1999), hlm. 109–110.

  49. ^

    Cummings (2007a), hlm. 86.

  50. ^

    Druce (2014), hlm. 152.

  51. ^

    Cummings (2007a), hlm. 41.

  52. ^

    Cummings (2002), hlm. 22.

  53. ^

    Pelras (1994), hlm. 139.

  54. ^


    “Imperium Gowa-Tallo / Kesultanan Makassar (Hipotetis)”. Diarsipkan berasal varian asli tanggal 2022-06-10. Diakses rontok
    2015-08-10
    .





  55. ^


    “Rekaman KABUPATEN GOWA – Website Resmi Pemerintah Kabupaten Gowa” (intern bahasa Inggris). Diakses tanggal
    2021-11-01
    .




Daftar bacaan

[sunting
|
sunting perigi]

Abidin, Andi’ Zainal (1983). “The Emergence of Early Kingdoms in South Sulawesi: A Preliminary Remark on Governmental Contracts from the Thirteenth to the Fifteenth Century”.
Southeast Asian Studies.
20
(4): 1–39. doi:10.14724/jh.v2i1.14.



Andaya, Leonard Y. (1981).
The Heritage of Arung Palakka: A History of South Sulawesi (Celebes) in the Seventeenth Century. Ann Arbor: University of Michigan. ISBN 9789024724635.



——— (2011). “Chapter 6: Eastern Indonesia: A Study of the Intersection of Mendunia, Regional, and Local Networks in the ‘Extended’ Indian Ocean”. Dalam Halikowski Smith, Stephan C. A.
Reinterpreting Indian Ocean Worlds: Essays in Honour of Kirti N. Chaudhuri. Cambridge Scholars Publishing. hlm. 107–141. ISBN 9781443830447.



Bougas, Wayne A. (1998). “Bantayan: An Early Makassarese Kingdom, 1200–1600 A.D.”.
Archipel.
55
(1): 83–123. doi:10.3406/arch.1998.3444.



Bulbeck, Francis David (992).
A Tale of Two Kingdoms: The Historical Archaeology of Gowa and Tallok, South Sulawesi, Indonesia
(Tesis Ph.D.). Australian National University.



——— (1993). “New Perspectives on early South Sulawesi History”.
Baruga: Sulawesi Research Bulletin.
9: 10–18.



———; Caldwell, Ian (2000).
Land of iron: the Historical Archaeology of Luwu and the Cenrana valley : Results of the Origin of Complex Society in South Sulawesi Project (OXIS). University of Hull Centre for South-East Asian Studies. ISBN 9780903122115.



——— (2006). “Chapter 13: The Politics of Marriage and the Marriage of Polities in Gowa, South Sulawesi, During the 16th and 17th Centuries”. Dalam Fox, James J.
Origins, Ancestry and Alliance: Explorations in Austronesian Ethnography. Canberra: ANU Press. hlm. 283–319. ISBN 9781920942878.



Cummings, William P. (2000). “Reading the Histories of a Maros Chronicle”.
Bijdragen Tot de Taal-, Land- en Volkenkunde.
156
(1): 1–31. doi:10.1163/22134379-90003851. JSTOR 27865583.



——— (2002).
Making Blood White: Historical Transformations in Early Beradab Makassar. Honolulu: University of Hawaii Press. ISBN 9780824825133.



——— (2007a).
A Chain of Kings: The Makassarese Chronicles of Gowa and Talloq. Leiden: KITLV Press. ISBN 9789067182874.



——— (2007b). “Islam, Empire and Makassarese Historiography in the Reign of Ratu Ala’uddin (1593–1639)”.
Journal of Southeast Asian Studies.
38
(2): 197–214. doi:10.1017/S002246340700001X. JSTOR 20071830.



——— (2014). “Chapter 10: Re-evaluating state, society, and the dynamics of expansion in precolonial Gowa”. Dalam Wade, Geoff.
Asian Expansions: The Historical Experiences of Polity Expansion in Asia. Routledge. hlm. 214–232. ISBN 9781135043537.



Druce, Stephen C. (2009).
The Lands West of the Lakes: A History of the Ajattappareng Kingdoms of South Sulawesi, 1200 to 1600 CE. Leiden: Brill. ISBN 9789004253827.



——— (2014). “Dating the tributary and domain lists of the South Sulawesi kingdoms”. Dalam Ampuan Haji Brahim bin Ampuan Haji Tengah.
Cetusan minda sarjana: Sastera dan budaya. Dermaga Seri Begawan: Dewan Bahasa dan Pustaka. hlm. 145–156. ISBN 9789991709604.



Gibson, Thomas (2005).
And the Sun Pursued the Moon: Symbolic Knowledge and Traditional Authority among the Makassar. Honolulu: University of Hawaii Press. ISBN 9780824828653.



——— (2007).
Islamic Narrative and Authority in Southeast Asia: From the 16th to the 21st century. New York: Springer Publishing. ISBN 9780230605084.



Pelras, Christian (1994). “Religion, Tradition and the Dynamics of Islamization in South-Sulawesi”.
Indonesia.
57
(1): 133–154.



——— (1996).
The Bugis. Oxford: Blackwell Publishers. ISBN 9780631172314.



Reid, Anthony (1981). “A Great Seventeenth-Century Indonesian Family: Matoaya and Pattingalloang of Makassar”.
Masyarakat Indonesia.
8
(1): 1–28.



Sutherland, Heather (2004). “The Makassar Malays: Adaptation and Identity, c.1660–1790”. Kerumahtanggaan Barnard, Timothy.
Contesting Malayness: Malay Identity Across Boundaries. NUS Press. hlm. 76–106. ISBN 9789971692797.





Source: https://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Gowa

Posted by: gamadelic.com