Shalat Maghrib Di Waktu Isya

JAKARTA, iNews.id
– Cara mengqodho sholat ashar di waktu maghrib penting diketahui bakal nan pangling meninggalkan kewajiban. Meninggalkan sholat karena udzur syar’i semisal pangling atau karena
tertidur harus segera menggantinya sekiranya sudah tersadar.

Dalil kewajiban mengqodho sholat yang terlewat atau tertinggal ini berlandaskan hadits Nabi SAW.

مَنْ نَسِيَ صَلَاةً أَوْ نَامَ عَنْهَا فَكَفَّارَتُهَا أَنْ يُصَلِّيَهَا إِذَا ذَكَرَهَا

Latin: Man nasiya sholaatan auw naama ‘anhaa fakaffaa ratuha an yusholliihaa idzaa dzakarahaa

Artinya: “Siapa nan lupa sholat (dan meninggalkannya), maupun tertidur, maka kafaratnya ialah ia harus mengerjakannya detik sira ingat”
(HR Muslim)

Cara mengqodho sholat Ashar di waktu Maghrib

Ashar yaitu salah suatu perian yang terkadang banyak dilalaikan orang karena kesibukannya. Tak adv minim yang meninggalkan sholat Ashar baik karena kesibukan maupun tertidur.

Padahal, sholat Ashar dalam Quran sebagaimana disebut para ahli tafsir adalah sholat wustho yang etis-benar harus dijaga.

Namun, jika menjauhi sholat Ashar karena lupa atau tertidur harus buru-buru mengerjakannya di waktu
sholat maghrib.

Sebelum mengarifi cara mengerjakannya, berikut ini bacaan niat qodho sholat Ashar di waktu maghrib:

أصلى فرض الْعَصْرِ اَرْبَعَ رَكَعَاتٍ مستقبل القبلة قضاءً لِله تعالى

Latin: Ushallii fardhal ‘ashri arba’a raka’aatin mustaqbilal qiblati qodho’an lilaahi ta’aalaa

Artinya: “Saya (berujud) mengerjakan shalat fardhu ashar empat rakaat dengan menghadap kiblat serta qadha karena Yang mahakuasa Ta’ala.

Berikut cara mengqodho sholat Ashar di periode Maghrib:

1. Tertib

Cara mengqodho sholat Ashar di hari maghrib yang terlewat harus dilakukan dengan tertib sesuai urutan waktunya. Yakni, mengerjakan sholat Ashar terlebih silam. Setelah itu, mentah melakukan sholat maghrib.

2. Diawali adzan dan iqomah

Prinsip mengqodho sholat ashar
di waktu maghribut berikutnya yakni disunnahkan cak bagi didahului dengan adzan dan iqomah.

3. Dibaca jahr dan sirr (berkanjang dan pelan)

Dalam madzhab Imam Syafi’i, referensi qodho sholat dikeraskan (jahr) apabila dikerjakan pada malam waktu dan sirr (pelan) jika terjamah pada siang hari.

4. Segera Terjamah

Para ulama sepakat qodho sholat harus dikerjakan sesegera mungkin, terkecuali jika suka-suka udzur syar’i maka boleh menundanya.

Pengedit : Kastolani Marzuki

Halaman :
1 2

Assalamualaikum.

saya ingin menanyakan perihal
qadha sholat. Saya tangkap suara suka-suka yang menamai solat dapat di-qada, apakah sopan demikian?
Bila benar bagaimana hukumnya dan tata cara melakukannya?

Songsong rahmat.

Dari: Harindra Abiddina Falach


Wa alaikumus salam

Alhamdulillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, wa ba’du

Diantara
amalan yang tingkat kewajibannya dulu kuat yakni shalat. Karena itu, shalat hukumnya perlu dikerjakan oleh semua turunan yang sudah lalu baligh, selagi dia masih berakal. Namun cak acap, perhatian kaum muslimin terhadap shalatnya, tidak sekuat tingkat kewajibannya. Suka-suka diantara mereka yang meninggalkan setimbang sekali, cak semau yang bolong-bolong, ada yang suka telat, setakat ada nan sengaja telat. Kalau telah telat, dia mulai mencacau, bagaimana cara mengqadha’nya.

Ada bilang catatan terdahulu tersapu
dengan
qadha shalat:

Pertama, shalat yakni kewajiban nan dibatasi waktunya

Allah berfirman,

إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا

“Sebenarnya shalat yakni kewajiban untuk orang beriman yang telah ditetapkan waktunya.” (QS. An-Nisa: 103).

Ada batas tadinya dan cak semau batas intiha untuk shalat wajib. Turunan yang mengerjakan shalat setelah batas pengunci statusnya tawar, sebagai halnya orang yang
mengerjakan shalat sebelum timbrung waktu, juga batal. Dengan demikian, hukum asal shalat, harus dikerjakan pada waktu yang telah ditentukan. Dan tidak dapat keluar dari hukum radiks ini, kecuali karena ada sebab yang diizinkan oleh syariat, seperti mana alasan bolehnya menjamak shalat.

Kedua, pelaksanaan shalat teradat ada 4 bentuk: cak semau’, qadha, I’adah, dan dijamak.

1.      Suka-suka’ [arab: أداء] : melaksanakan shalat puas waktu yang sudah ditentukan. Inilah
cara mengerjakan shalat internal kondisi konvensional, sebagaimana jadwal shalat nan sudah lalu dimaklumi bersama.

2.      Qadha [arab: قضاء] : melaksanakan shalat setelah perenggan musim yang ditetapkan. Ini tetapi bisa dikerjakan internal kondisi tertentu, yang nanti akan dibahas.

3.      I’adah [arab: إعادةُ] : Mengulangi shalat wajib, karena shalat sebelumnya dinilai batal dengan sebab tertentu, namun masih dalam rentang masa shalat. Perumpamaan, insan
shalat dzuhur tanpa bersuci karena lalai, kemudian engkau mengulangi shalat tersebut sebelum periode dzuhur radu.

4.      Lazim : melaksanakan shalat yang digabungkan dengan shalat sebelumnya alias sesudahnya. Lumrah namun boleh dilakukan dengan syarat dan suratan tertentu, sebagaimana yang pernah dibahas di:
https://konsultasisyariah.com/akan halnya-menjamak-qashar-shalat/

Ketiga, khalayak yang telat dalam mengerjakan shalat terserah 2:

a. Telat mengerjakan shalat di asing kesengajaan.
Seperti ketiduran, atau kelupaan, kemudian bau kencur pulang ingatan setelah musim shalat selesai. Dalam kondisi ini, dia diwajibkan kerjakan segera melaksanakan shalat setelah sadar. Dalil
ketentuan ini adalah perbuatan nabi nabi muhammad berbunga Anas bin Malik, bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bercakap,

مَنْ نَسِيَ صَلَاةً، أَوْ نَامَ عَنْهَا، فَكَفَّارَتُهَا أَنْ يُصَلِّيَهَا إِذَا ذَكَرَهَا

“Barang siapa yang kelupaan shalat ataupun terpejamkan sehingga terlewat masa shalat maka penebusnya merupakan dia segera shalat ketika engkau pulang ingatan.” (HR. Bukhari dan Orang islam).

Disebutkan dalam hadis yang bukan bahwa Utusan tuhan shallallahu ‘alaihi wa sallam sangkutan berbuat suatu pengelanaan bersama
para shahabat. Di malam harinya, mereka singgah di sebuah tempat bagi beristirahat. Sekadar mereka kesiangan dan nan permulaan pulang ingatan adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam karena sinar matahari.

Kemudian, beliau berwudhu dan dia memerintahkan agar azan dikumandangkan. Lalu, beliau melaksanakan shalat qabliyah subuh, kemudian beliau perintahkan sebaiknya seseorang beriqamah, dan dia melaksanakan shalat subuh berjemaah. Para sahabatpun saling berbisik, ‘Apa pelunas untuk
kesalahan yang kita lakukan karena telat shalat?’ Mendengar komentar mereka, Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَمَا إِنَّهُ لَيْسَ فِيَّ النَّوْمِ تَفْرِيطٌ، إِنَّمَا التَّفْرِيطُ عَلَى مَنْ لَمْ يُصَلِّ الصَّلَاةَ حَتَّى يَجِيءَ وَقْتُ الصَّلَاةَ الْأُخْرَى، فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فَلْيُصَلِّهَا حِينَ يَنْتَبِهُ لَهَا

“Sesungguhnya ketiduran lain termuat menyia-nyiakan shalat. Yang disebut menyia-nyiakan shalat yakni mereka yang mendorong shalat, hingga masuk
waktu shalat berikutnya. Siapa nan ketiduran hingg telat shalat maka seyogiannya dia laksanakan ketika bangun…” (HR. Muslim)

Belaka perlu diingat, makna hadis ini bukan berlaku untuk orang nan sengaja tidur ketika cak bertengger waktu shalat, dan tidak ingat sampai musim shalat selesai. Kemudian dia beralasan ketiduran, padahal tidak cak semau gerakan darinya untuk siuman ketika waktu shalat.

b. Telat mengerjakan shalat dengan kesengajaan
Basyar nan sengaja menunda shalat, hingga keluar
hari shalat, sudah menunjang dosa yang sangat ki akbar. Sampai sebagian jamhur memvonis perbuatan begini bak tindakan kekafiran. Ini menunjukkan bahwa sengaja menunda waktu shalat hingga keluar waktu, statusnya dosa nan suntuk ki akbar. Dan dia perlu untuk alangkah-sungguh bertaubat.
Apakah manusia ini teristiadat qadha?

Ulama berbeda pendapat dalam kebobrokan ini. Mayoritas ulama berpendapat, dia tetap terbiasa mengqadha shalatnya dan dia berdosa karena perbuatannya, selama belum alangkah-sungguh
bertaubat. Provisional pendapat yang dikuatkan syaikhul islam,
qadha shalat
yang dia buat tidak baku, karena berfaedah dia melaksanakan shalat di luar waktu minus udzur (alasan) yang dibolehkan. Syaikhul Islam mengatakan,

وتارك الصلاة عمدا لا يشرع له قضاؤها ، ولا تصح منه ، بل يكثر من التطوع ، وهو قول طائفة من السلف

“Orang yang menyingkir shalat dengan sengaja, tidak disyariatkan meng-qadhanya. Dan jika dilakukan, shalat qadhanya tak sah. Sahaja yang dia lakukan
adalah melipatkan shalat sunah. Ini meruapakan pendapat sebagian ulama masa silam.” (Al-ikhtiyarot, hlm. 34).

Keempat, bolehkah melakukan qadha shalat di waktu terlarang

Terserah beberapa waktu yang liar untuk shalat, diantaranya: saat rawi dari, atau rawi tenggelam. Ketika ada orang nan ketiduran shalat fajar dan bau kencur bangun ketika matahari terbit, maupun ketiduran shalat asar, dan mentah bangun ketika matahari terbenam, bolehkah dia mengqadha?
Dalam
fatwa selam dinyatakan,

فإن حصل للمسلم عذر كالنوم والنسيان ولم يتمكن من فعل الصلاة في وقتها ، فإنه يجب عليه إذا زال العذر أن يقضي الصلاة ، ولو كان ذلك في وقت من أوقات النهي . وهو قول جمهور العلماء . انظر : المغني (2/515)

Seandainya koteng mukminat memiliki udzur, seperti ketiduran atau kelupaan, sehingga tidak memungkinkan bagi melakukan shalat plong waktunya, maka wajib baginya untuk mengqadha shalat saat sudah sadar, meskipun di waktu yang terlarang. Ini merupakan pendapat mayoritas
ulama. Simak Al-Mughni (2/515). (Fatawa Islam, no. 20013)

Kelima, baru teringat setelah melintasi beberapa shalat

Orang yang lalai shalat, dan baru teringat setelah melangkaui beberapa shalat maka dia mesti mengqadha shalat tersebut dan bilang shalat yang dilewati. Misalnya, orang lupa shalat dzuhur dan hijau ingat sehabis maghrib. Dia perlu mengqadha shalat dzuhur, asar, kemudian maghrib.

Demikian yang difatwakan oleh Pater Malik. Keterangan sesudah-sudahnya tentang
ini, telah dibahas di: https://konsultasisyariah.com/kaidah-mengganti-shalat-yang-terlupa/

Keenam, Shalat sonder bersuci karena lupa

Shalat sonder bersuci, baik dengan wudhu maupun tayammum, hukumnya sia-sia. Kecuali seandainya engkau tidak mampu berbuat keduanya. Tetapi jika ada orang yang shalat sonder berwudhu karena tengung-tenging, padahal normalnya dia mampu
berwudhu, maka status shalatnya batal dan wajib diulangi, detik pulang ingatan. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لا يقبَلُ اللهُ صلاةَ أحدِكم إذا أَحْدثَ حتى يتوضَّأَ

“Yang mahakuasa tidak menerima shalat kalian momen privat kondisi hadats, sampai kamu berwudhu.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Karena statusnya sia-sia, shalat yang dikerjakan tanpa berwudhu, tidak dinilai sebagai shalat. Dan jika anda baru ingat selepas keluar waktu shalat maka teradat diqadha.

Kerumahtanggaan
Fatwa Sayabakah Islamiyah dinyatakan,

فمن صلى بغير وضوء ناسياً، ثم تذكر ذلك ولو بعد خروج وقت الصلاة، توضأ وأعاد صلاته ولا إثم عليه ما دام فعل ذلك نسياناً، لقوله صلى الله عليه وسلم ” إن الله تجاوز عن أمتي الخطأ والنسيان وما استكرهوا عليه ” رواه ابن ماجه والبيهقي وغيرهما

“Orang nan shalat minus wudhu karena lalai, kemudian dia mentah teringat, sungguhpun sudah keluar waktu shalat, sira harus berwudhu dan mengulangi shalatnya. Sira tidak berdosa, sejauh itu dilakukan karena lupa. Seperti
sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Sepatutnya ada Allah meangampuni kesalahan umatku karena keliru, lalai, alias dipaksa.” HR. Ibnu Majah, Baihaqi dan yang lainnya. (Fatawa Syabakah Islamiyah, no. 27116)

Allahu a’lam

Dijawab oleh ustadz Ammi Binar Baits (Dewan Pembina www.KonsultasiSyariah.com)

🔍 Syariat Menikah Di Rembulan Ramadhan,
Hukum Asuransi Kesehatan, Doa Tawaf Haji, Ilmu Pernafasan Islam, Cap Terkena Sihir Penunduk, Shallallahu Alaihi Wasallam

KLIK GAMBAR Kerjakan
MEMBELI FLASHDISK VIDEO Prinsip SHOLAT, Alias HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Bagaimana prinsip mengqodho sholat Maghrib ke isya?

Prinsip mengqodho sholat maghrib
di masa
isya
boleh dilakukan dengan menjalankan
sholat isya
empat rakaat terlebih dahulu, hijau kemudian
sholat maghrib
tiga rakaat. Boleh sekali lagi dengan menggesakan
sholat
qodho
maghrib
dahulu, mentah kemudian
sholat isya.

Apakah dapat qodho maghrib ke isya?

Artinya, sholat
qodho Maghrib boleh
dilakukan sebelum maupun sesudah sholat
Isya.

Bagaimana cara mengqadha shalat maghrib?

Jadi, kalau kita ingin
mengqadha shalat maghrib
di musim isya, setelah membaca niat
mengqadha shalat maghrib
di musim isya, maka kita mengerjakan
shalat maghrib
sebagai halnya biasa dengan 3 rakaat. Kemudian dilanjutkan dengan
shalat
isya sesuai rakaat
shalat
isya pada galibnya.

Shalat terbiasa adv amat Apa qodho sangat?

Jika memang tidak dikhawatirkan akan kekurangan perian
sholat wajib,
qodho
boleh didahulukan. Akan saja, jika waktu
sholat
bukan memungkinkan,
sholat terlazim
harus didahulukan sebelum
qodho.

Source: https://ujiansekolah.org/cara-mengqadha-shalat-maghrib-di-waktu-isya-rumaysho/

Posted by: gamadelic.com