Puasa Sunnah Rajab Berapa Hari

Sejak Kamis (03/02/2022), umat Selam telah memasuki bulan Rajab. Riuk satu yang disarankan sejauh rembulan Rajab merupakan puasa. Para ulama memberikan penjelasan Panjang lebar terkait hal ini.

Di antara hadits nan menunjukkan bahwa puasa Rajab adalah dianjurkan sebagai hadits riwayat Abi Dawud berikut ini:

 عَنْ مُجِيبَةَ الْبَاهِلِيَّةِ عَنْ أَبِيهَا أَوْ عَمِّهَا أَنَّهُ أَتَى رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ انْطَلَقَ فَأَتَاهُ بَعْدَ سَنَةٍ وَقَدْ تَغَيَّرَتْ حَالُهُ وَهَيْئَتُهُ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَمَا تَعْرِفُنِي قَالَ وَمَنْ أَنْتَ قَالَ أَنَا الْبَاهِلِيُّ الَّذِي جِئْتُكَ عَامَ الْأَوَّلِ قَالَ فَمَا غَيَّرَكَ وَقَدْ كُنْتَ حَسَنَ الْهَيْئَةِ قَالَ مَا أَكَلْتُ طَعَامًا إِلَّا بِلَيْلٍ مُنْذُ فَارَقْتُكَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِمَ عَذَّبْتَ نَفْسَكَ ثُمَّ قَالَ صُمْ شَهْرَ الصَّبْرِ وَيَوْمًا مِنْ كُلِّ شَهْرٍ قَالَ زِدْنِي فَإِنَّ بِي قُوَّةً قَالَ صُمْ يَوْمَيْنِ قَالَ زِدْنِي قَالَ صُمْ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ قَالَ زِدْنِي قَالَ صُمْ مِنْ الْحُرُمِ وَاتْرُكْ صُمْ مِنْ الْحُرُمِ وَاتْرُكْ صُمْ مِنْ الْحُرُمِ وَاتْرُكْ وَقَالَ بِأَصَابِعِهِ الثَّلَاثَةِ فَضَمَّهَا ثُمَّ أَرْسَلَهَا

Native Banner 1

Artinya:
Berpangkal Mujibah al-Bahiliyyah, dari bapaknya atau pamannya, bahwa ia mendatangi Utusan tuhan. Kemudian ia kembali pun menangkap tangan Rasul satu tahun berikutnya sementara itu kondisi tubuhnya sudah berubah (gontai/ kurus). Ia berkata: Ya Utusan tuhan, apakah ia mengenaliku? Utusan tuhan menjawab: Siapakah engkau? Sira menjawab: Aku Al-Bahili yang datang kepadamu sreg satu tahun yang sangat. Rasul menjawab: Apa yang membentuk fisikmu berubah padahal dulu fisikmu bagus (segar). Ia menjawab: Aku lain bersantap kecuali di malam hari sejak berparak denganmu. Nabi bersabda: Mengapa kamu menyiksa dirimu sendiri? Berpuasalah di rembulan kepala dingin (Ramadhan) dan satu hari di setiap bulannya. Al-Bahili berkata: Mohon ditambahkan pun ya Rasul, sesungguhnya aku masih kuat (bertarak). Utusan tuhan menjawab: Berpuasalah dua periode. Sira berkata: Harap ditambahkan lagi ya Nabi. Nabi menjawab: Berpuasalah tiga perian. Anda berkata: Mohon ditambahkan juga ya Rasul. Rasul menjawab: Berpuasalah terbit bulan-rembulan mulia dan tinggalkanlah, berpuasalah berpunca bulan-bulan puasa dan tinggalkanlah, berpuasalah berasal bulan-bulan mulia dan tinggalkanlah. Nabi mengatakan demikian seraya berisyarat dengan ketiga jarinya dan mengumpulkan kemudian melepaskannya.
(HR Abu Dawud).

Mengomentari bagian akhir sidang pengarang hadits di atas, Syekh Abut Thayyib Syamsul Haq al-Azhim mengatakan:

أَيْ صُمْ مِنْهَا مَا شِئْتَ وَأَشَارَ بِالْأَصَابِعِ الثَّلَاثَةِ إِلَى أَنَّهُ لَا يَزِيْدُ عَلَى الثَّلَاثِ الْمُتَوَالِيَاتِ وَبَعْدَ الثَّلَاثِ يَتْرُكُ يَوْمًا أَوْ يَوْمَيْنِ وَالْأَقْرَبُ أَنَّ الْإِشَارَةَ لِإِفَادَةِ أَنَّهُ يَصُوْمُ ثَلَاثًا وَيَتْرُكُ ثَلَاثًا وَاللهُ أَعْلَمُ  قَالَهُ السِّنْدِيُّ

Native Banner 2

Artinya:
Maksudnya, berpuasalah berpangkal bulan-rembulan mulia, segala yang engkau kehendaki. Nabi berisyarat dengan ketiga jarinya untuk menunjukkan bahwa Al-Bahili hendaknya bertarak lain melebihi tiga hari berlapis-lapis, dan setelah tiga waktu, seyogiannya meninggalkan puasa selama satu atau dua hari. Pemahaman yang lebih erat adalah, isyarat tersebut cak bagi memberikan penjelasan bahwa kiranya Al-Bahili berpuasa sepanjang tiga hari dan berbuka selama tiga musim. Peristiwa ini sebagaimana dikatakan oleh Syekh As-Sindi. Wallahu a’lam.
(Lihat Syekh Abut Thayyib Syamsul Haq Al-Azhim,
‘Aunul Ma’bud Syarh Prabu Abi Dawud, juz VII, halaman: 58).

Pecah keterangan tersebut dapat dipahami, Nabi memberi visiun kepada sahabatnya Al-Bahili berpuasa di wulan-bulan ampunan termasuk Rajab moga bukan dilakukan secara bersambung-sambung. Akan saja diberi selang antara tahun. Bisa tiga musim menanggang perut, tiga periode berbuka. Atau tiga hari berpuasa berturut-turut, lebih lanjut diberi jeda suatu atau dua hari buat berbuka, kemudian memulai lagi bertarak tiga hari.

Tetapi saja, petunjuk Nabi di atas bersifat kasuistik, menyepadankan dengan kondisi penanya, sebab konteksnya penanya tergolong manusia yang ruai. Petunjuk Nabi berpuasa Rajab di atas diarahkan cak bagi basyar yang keberatan untuk melipatkan puasa di bulan Rajab. Sedangkan untuk seseorang yang lestari lakukan berpuasa Rajab melebihi visiun Nabi di atas, maka hal tersebut merupakan lebih baik baginya, sebab suatu bulan munjung di bulan Rajab semuanya baik untuk diisi dengan puasa.

Syekh Ibnu Hajar Al-Haitami menegaskan:

 قال الْعُلَمَاءُ وَإِنَّمَا أَمَرَهُ بِالتَّرْكِ لِأَنَّهُ كان يَشُقُّ عليه إكْثَارُ الصَّوْمِ كما ذَكَره في أَوَّلِ الحديث فَأَمَّا من لَا يَشُقّ عليه فَصَوْمُ جَمِيعِهَا فَضِيلَةٌ

Artinya:
Ulama bertutur: Nabi memerintahkan Al-Bahili buat menyingkir puasa, sebab memperbanyak puasa baginya elusif sebagaimana yang disebutkan internal awal hadits. Sedangkan bagi cucu adam yang enggak pelik berpuasa, maka bertarak di sepanjang bulan-ramadan merupakan keutamaan.
(Lihat Syekh Ibnu Hajar Al-Haitami,
Al-Fatawa Al-Fiqhiyyah Al-Kubra, [Beirut: Darul Fikr, 1983 M], juz II, jerambah 53).

Simpulannya, bertarak Rajab tidak ada batasan berapa hari nan baik untuk dipuasai. Namun menyesuaikan dengan tenggat kemampuan setiap orang. Boleh suatu hari, tiga hari, satu minggu, dua ahad, atau bahkan satu bulan penuh. Semoga penjelasan ini bermanfaat dan boleh dipahami dengan baik.
Wallahu a’lam bis shawab.

Source: https://jatim.nu.or.id/keislaman/selama-bulan-rajab-disarankan-puasa-berapa-hari-VywG8

Posted by: gamadelic.com