Petik Dulu Atau Titik Dulu

Terserah sebuah pertanyaan yang diajukan di Quora secara termengung: “Mengapa merek petik dua (“) yang kedua (tanda kutip dua penutup) sayang ditulis setelah titik (.)? Bukankah kian turut akal jika noktah (.) bosor makan jadi karakter minimum akhir suatu kalimat?

Dengan pengenalan lain, soal yang diajukan begitu juga ini: Mengapa pertanyaannya ditulis begini …

“Mengapa tanda petik dua (“) yang kedua pelalah ditulis pasca- noktah (.)? Bukankah lebih konsekuen seandainya titik (.) rajin jadi karakter paling kecil penghabisan satu kalimat?”

… alih-alih sama dengan ini …

“Cak kenapa tanda kutip dua (“) yang kedua belalah ditulis setelah titik (.)? Bukankah lebih turut akal seandainya tutul (.) selalu jadi fiil paling akhir suatu kalimat”??


Marilah membahas semuanya berpangkal fungsi kedua merek baca tersebut malah dahulu.

Label Bintik (.)

Huruf angka yang satu ini hampir selalu boleh dijumpai kerumahtanggaan sebuah kalimat. Menjadi parameter akhir berpangkal sangkutan kata, tanda titik lazim diletakkan di akhir sebuah kalimat. Doang, ada pun beberapa penulisan dan pendayagunaan stempel baca titik (.) lainnya yang harus kita pahami.

  • Dipakai kerjakan mengakhiri singkatan yang belum konvensional. Sebagai transendental, cap ini ditaruh setelah
    yth. nan merupakan kependekan
    nan terhormat,
    hlm.
    yang merupakan kependekan semenjak
    halaman, ataupun
    a.kaki langit.
    yang yaitu kependekan dari
    atas jenama.
  • Etiket tutul (.) lain dipakai puas judul ataupun keterangan pengirim maupun maksud pada inskripsi.
  • Dipakai kerjakan membatasi singkatan pada gelar sarjana dengan bidang yang diambilnya, contohnya S.Pd
    nan ialah
    akademikus pendidikan,
    S.E
    yang merupakan
    intelektual ekonomi, maupun
    S.Hum
    yang yaitu singkatan dari
    ilmuwan humaniora.
  • Dipakai untuk mengakhiri angka maupun abc plong rancangan kenyataan ataupun tabel.
  • Dipakai dalam daftar referensi andai pembatas antara keterangan yang satu dengan yang lain.

Contoh:
Knight, John.
2001.
Wanita Ciptaan Ajaib
.
Bandung: Indonesia Publishing House.

  • Dipakai sebagai pembatas untuk nilai atau kodrat ribuan ataupun kelipatannya dan dipakai plong pembatas jam dan menit n domestik hitungan masa.

Tanda Nukil (“…”)

Nama baca yang satu ini sebenarnya adalah eksploitasi ganda dari tanda kutip. Hanya doang, fungsinya jauh farik dari stempel petik. Beberapa penggunaan keunggulan kutip (“…”) yang tepat kalimat di bahasa Indonesia adalah sebagai berikut.

  • Dipakai kerjakan
    menyikap
    titel rubrik, judul kertas kerja, gerbang resep, atau tajuk karangan lain yang berlum diterbitkan.

Contoh:
Skripsinya berjudul
“Amatan Rasio Dongeng-dongeng Nusantara dengan Cerita Rakyat berbunga Negara Lain”.

  • Dipakai misal
    kepercayaan kalimat serentak.

Paradigma:
Selongsong RT menyampaikan,
“Mulai wulan depan, besar iuran kebersihan akan ditingkatkan menjadi dua kali lipat daripada semula.”

Di sini, dapat kita lihat beberapa biji yang bisa diambil.

  1. Setiap kalimat tentu diakhiri dengan tanda baca, baik itu tera titik, tanda koma, atau jenama seru. Meski fungsi spesifik masing-masing tanda tersebut berbeda, pada dasarnya ketiga-tiganya bertugas sebagai akhir mulai sejak sebuah kalimat.
  2. Dalam penggunaannya, tanda kutip dua diposisikan
    mengapiti
    sebuah kalimat langsung. [Kata ‘mengapiti’ memang harus menjadi kilap utama di sini].

Kalimat langsung adalah kalimat yang menirukan atau mengutip ucapan atau ujaran khalayak tak. Adegan kutipan terserah yang berupa kalimat tanya, kalimat berita, ataupun kalimat perintah.

Anak asuh cak bertanya kedua yang berada di awal berbunyi,
“Bukankah lebih logis sekiranya noktah (.) selalu kaprikornus penutup suatu kalimat?”

Jawabannya, tidak, dan ya.

Titik
tidak besar perut
menjadi akhir suatu kalimat, karena dalam penggunaannya, anda dapat saja digantikan makanya tanda tanya (?) atau tanda seru (!). Pasalnya, bukan semua kalimat bermaksud kerjakan mengabarkan.

Sedangkan, jika yang dimaksud yakni tanda tutul ibarat akhir kalimat berita, maka penggunaannya sudah lalu mengakhiri sebuah kalimat.

Lho, tapi kan dalam kalimat simultan tanda noktah tidak mengakhiri kalimat. Kalimatnya landang diakhiri dengan tanda petik!

Ah, siapa beberapa?

Coba kita lihat kembali acuan penggunaan tanda kutip di atas.

Acuan:
Skripsinya berjudul
“Analisis Nisbah Takhayul-dongeng Nusantara dengan Cerita Rakyat dari Negara Lain”.

Perhatikan label titiknya. Kenapa tera noktah berlimpah di luar etiket petik?

Jawabannya adalah, karena tanda titik tersebut tak termasuk apa yang dikutip. Yang dikutip di dalam sana hanyalah judul skripsi, yang ditandai dengan cetak lebat. Logo titik tersebut hanya digunakan untuk mengakhiri kalimat yang dimulai dengan alas kata ‘Skripsinya ….’

Sementara itu dalam kalimat atau pernyataan yang disampaikan secara simultan, tanda noktah tersebut termaktub ke dalam apa yang dikutip.

Ideal: Dia bertanya, “Cak kenapa tanda petik dua (“) yang kedua selalu ditulis selepas titik (.)? Bukankah lebih timbrung akal busuk jikalau titik (.) selalu jadi fiil paling akhir satu kalimat?”

[Tanda tanya termasuk ke n domestik babak kalimat yang Anda tanyakan dan saya cukil.]

Jadi, segel bintik memang pada umumnya digunakan bakal mengakhiri sebuah kalimat. Nah, kalimatnya itu yang ada di dalam tanda petik dua.

Nah sekarang, tanya kita di atas tadi bisa dijawab dengan mudah.

P.S.:

Hal ini kali bisa sekadar berbeda jika terserah penempatan dialog tag. Dialog Tag adalah keterangan kalimat langsung yang tidak boleh kabur sendiri (berupa frasa) dan menjelaskan kalimat kontan di depannya. Sejauh ini, ada tiga variasi dialog tag, yaitu:

  • Dialog tag pembuka. Pada dialog tag jenis ini, frasanya berdiri di depan kalimat langsung.

Lengkap: Ratna menatapku berbarengan mendesis, “Makanya, jangan sok jadi khalayak! Rasain centung, akibatnya?!”

[Dialog tag pembuka selalu disertai dengan kata kerja yang menjelaskan seperti mana apa sang pelaku berkata, dan diekori dengan cap koma.]

  • Dialog tag perantara. Terserah dua jenis pecahan lagi dialog tag pialang, yaitu dialog tag perantara biasa dan dialog tag talang yang masih bersambung.

Sempurna: “Maka dari itu, jangan sok kaprikornus manusia!” desis Ratna sambil menatapku. “Rasain centung, akibatnya?!”

[Tandai bahwa dialog diucapkan oleh orang yang ekuivalen (Ratna). Maka dialog tag diakhiri dengan titik, dan kalimat langsung lanjutan menggunakan huruf kapital.]

Nah, kasus dialog tag perantara kalau kalimat masih bersambung,
contohnya:

“Maka itu,” desis Ratna, “jangan sok jadi orang! Rasain cerek, akibatnya?!”

[Pada kasus ini, kalimat yang mengajuk dialog tag masih congah pada kalimat yang seperti mana yang diikuti dialog tag, sehingga dialog kedua diawali dengan huruf kecil.]

  • Dialog tag penutup

Dialog tag penutup ini nan paling buruk perut digunakan. [Dialog tag ini sama seperti dialog tag pembuka, fungsinya merupakan menjelaskan bagaimana cara sang pencerita berujar, hanya saja ia dimulai dengan kata kerja tanpa imbuhan.]

Contoh:”Makanya, jangan sok jadi orang. Rasain ketel, akibatnya?!” desing Ratna sambil menatapku.

Kemudian, di sini muncul lagi sebuah pertanyaan baru: Mengapa setelah dialog tag pembuka dan kalimat yang dikutip, tidak sekali lagi ditutup dengan cap noktah?

Kalau nan ini sih, saya bisa saja menjawab dengan opini sendiri. Hal ini terjadi karena dialog tag bukan termasuk kerumahtanggaan sebuah kalimat, dan belaka berfungsi membeningkan kalimat berbarengan amung.

Daftar Bacaan:

Sanggar Pustaka.com. Stempel Baca – Penulisan, Fungsi, & Penggunaan Label Baca nan Benar. diakses pada 25 Agustus 2022

Wikibooks.org. Bahasa Indonesia – Kalimat Sederum. diakses pada 25 Agustus 2022

Shireishou.com. Pendirian Menulis Dialog Tag dan Peletakkan Label Baca Percakapan plong Novel | Tips Menulis Novel Percuma. diakses pada 25 Agustus 2022

Source: https://celestillalaland.wordpress.com/2019/03/25/mengintip-penggunaan-tanda-kutip-yang-mengapit-titik/

Posted by: gamadelic.com