Permainan Tradisional Dari Jawa Tengah

Permainan tradisional Jawa Tengah menjadi salah satu nilai budaya yang dimiliki masyarakat setempat.

Jawa Paruh tercatat ke kerumahtanggaan salah satu provinsi Indonesia nan terwalak di bagian perdua Pulau Jawa.

Ibu kotanya adalah Semarang. Daerah ini memiliki peradaban nan beragam, termaktub bermacam-macam tipe permainan tradisional.

Di Jawa Tengah, permainan disebut juga dengan dolanan.

Bukan hanya di Jawa Paruh saja, permainan tradisional lagi boleh ditemui di bermacam rupa gugusan pulau di Indonesia, tiba semenjak Sabang sebatas Merauke.

Berkaitan dengan apa namun permainan tradisional Jawa Paruh, simak sebaik-baiknya di bawah ini, ya, Moms!

Baca lagi:
18 Tempat Pelancongan Bali Terkini, Nikmati Indahnya Istana Air Tirta Gangga dan Diamond Beach Nusa Penida

Permainan Tradisional Jawa Tengah dan Mandu Memainkannya

Permainan tradisional Jawa Tengah memiliki teknik sederhana dan sepan mudah dimainkan.

Jenis permainan ini sekali lagi dapat memasrahkan nilai positif. Beberapa di antaranya bahkan dapat melatih kekompakan, kebersamaan, sebatas gotong-royong.

Suka-suka pula sebagian permainan yang diiringi dengan lagu khas Jawa Tengah, lho.

Silakan, cari tahu barang apa saja diversifikasi permainan yang berpangkal dari Jawa Tengah!

1. Cublak-cublak Suweng

Cublak-cublak Suweng

Foto: Cublak-cublak Suweng (goodnewsfromindonesia.id)

Foto: Cublak-cublak Suweng (goodnewsfromindonesia.id)

Cublak-cublak suweng adalah permainan tradisional Jawa Tengah yang diiringi dengan lagu berjudul sama.

Permainan tradisional ini biasa dimainkan oleh anak asuh-anak di pedesaan Pulau Jawa, khususnya Jawa Tengah.

Permainannya ditentukan dengan gambreng bagi menentukan barangkali yang berperan menjadi Pak Empong.

Pak Empong ini akan menggeletak telungkup. Sementara itu, anak-anak lainnya akan duduk mengitari Paket Empong.

Semua anak akan meletakkan telapak tangan dalam posisi terbuka memfokus ke arah atas.

Suatu berusul mereka akan memegang kredit atau gravel dan mengopernya semenjak satu jejak kaki tangan ke telapak tangan lain.

Sembari mengitar, mereka akan membawakan lagu cublak-cublak suweng. Ini lirik lagunya:

Cublak-cublak suweng

Suwenge ting gelenter

Mambu ketundhung gudel

Pak Empong lera-lere

Sopo ngguyu ndhelikake

Sir, sir pong dhele kopong

Sir, sir pong dhele kopong

Saat lirik ‘sopo ngguyu ndhelikake’, ini adalah isyarat bahwa ponten atau kerikil harus disembunyikan oleh anak yang menerima di telapak tangannya.

Lega akhir lagu, semua telapak tangan anak harus berada internal posisi menggenggam.

Nah, di sini Pak Empong harus menebak di mana ponten atau gravel disembunyikan. Sekiranya bersusila, anak tersebut harus bergantian menjadi Kelongsong Empong.

2. Dakon

Congklak

Foto: Dakon (istockphoto)

Foto: Congklak (Istockphoto)

Permainan tradisional Jawa Paruh lebih lanjut adalah congklak.

Permainan ini dikenal dengan nama yang berbeda pada per daerah.

Permainan tradisional ini membutuhkan kerang laksana biji cokar. Jika tidak ada, pemain sandiwara bisa menggunakan biji-bijian ataupun bebatuan kecil.

Permainan dilakukan makanya dua orang menggunakan gawang angkuh. Biji yang dibutuhkan privat permainan ini berjumlah 49 granula masing-masing orang.

Papan congklak tersendiri semenjak Jawa Tengah biasanya berbahan asal papan. Kuantitas lubang di atas papan merupakan 16.

Dengan 7 korok di saban sisi dan saling berhadapan, anak bangsawan diharuskan ‘menembak’ poin lawan yang masih suka-suka dalam lubang papan.

Di awal permainan, sendirisendiri liang terisi 7 biji congklak.

Sehabis suwit, pemain sandiwara boleh serempak mengambil biji dari gua sendiri dan meletakkannya satu per satu hingga skor dalam jab habis.

Permainan dianggap radu jika sudah tidak cak semau lagi angka di atas tiang yang bisa diambil dan dimainkan.

Pemenang permainan tradisional Jawa Perdua ini adalah orang yang mendapatkan skor paling banyak.

Baca juga:
6 Medan Wisata Paling Sani di Indonesia, Raja Ampat dan Labuan Bajo Perlu Masuk Bucket List!

3. Egrang (Enggrang)

egrang

Foto: egrang (istockphoto)

Foto: Kaki kayu (Istockphoto)

Permainan tradisional Jawa Tengah lainnya adalah egrang atau lebih dikenal
enggrang. Permainan ini dilakukan memperalat sepasang galah atau tongkat.

Pemain diharuskan berdiri di atas tongkat yang sudah diberi balok atau aur mungil bak tungkuan telapak kaki.

Cara memainkannya adalah dengan bepergian sepanjang mungkin setakat jarak yang sudah ditentukan.

Perlengkapan permainan ini terbuat berasal dua batang aur dengan panjang sebabat.

Sekitar 50 sentimeter dari bawah, awi dilubangi dan dimasukkan balok alias buluh boncel berukuran 20 sampai 30 cm umpama pijakan kaki.

Terlihat mudah, tetapi permainan ini membutuhkan sentralisasi yang panjang. Anak komidi harus fokus dan berhati-hati agar tak terjatuh.

4. Engklek

engklek

Foto: engklek

Foto: Engklek (freepik)

Permainan tradisional Jawa Perdua ini dilakukan dengan menggambar garis di atas kapling atau media lain.

Permainan engklek bertambah diminati oleh anak asuh gadis daripada laki-laki.

Cara bermainnya yaitu dengan melompat menggunakan satu kaki di setiap petak yang sudah digambar.

Sebelum melangkah, anak komidi yang beruntung giliran harus melempar lempengan atau pecahan genteng ke salah satu peti tersebut.

Pemain nan telah menyelesaikan satu putaran diperbolehkan memilih petakan untuk dijadikan sebagai miliknya.

N antipoda sepermainan tidak boleh menginjak petakan itu. Sedangkan, pemilih boleh menempatkan kedua kaki di petakan miliknya.

Permainan ini dimenangkan oleh pemain nan memiliki banyak petakan.

5. Gobak Sodor

gobak sodor

Foto: gobak sodor (wikipedia.org)

Foto: Gobak Sodor (id.wikipedia.org)

Gobak sodor alias sekat asin (galasin) juga termasuk salah satu permainan tradisional Jawa Paruh.

Ini adalah permainan berkawanan, yang terdiri dari 3 hingga 5 bani adam di masing-masing kelompok.

Biasanya terdiri dari 2 kelompok.

Permainan ini dilakukan dengan menghadang pasangan sebaiknya tidak dapat melampaui garis baluwarti yang dibuat.

Agar kemenangan bernas dalam genggaman, anggota masing-masing kerubungan harus berkreasi keras melakukan persuasi mondar-mandir.

Permainan umumnya dilakukan di lapangan seluas 9 x 4 meter nan dibagi menjadi 6 bagian.

Sendirisendiri keramaian akan menentukan garis batasnya dengan kapur.

Anggota kelompok terbagi menjadi dua, yaitu penjaga garis vertikal dan horizontal.

Kerjakan penjaga garis horizontal, mereka akan berusaha membantut lawan yang ingin melewati garis baluwarti.

Anggota kelompok yang mendapatkan tugas menjaga garis batas vertikal, anda mempunyai akal masuk bagi melewati seluruh garis vertikal di tengah alun-alun.

Permainan ini mengasyikkan dan sulit, karena tiap orang harus fokus menjaga garis dan berlari secepat kali jika ada lawan yang ingin melewati batas.

Baca juga:
Keunikan Desa Penglipuran, Wisata Desa Aturan ‘Tersembunyi’ di Bali

Itulah beberapa jenis permainan tradisional Jawa Perdua. Beberapa di antaranya masih,
lho,
dimainkan sampai sekarang.

Kaprikornus, permainan mana yang akan Moms pilih lakukan dilakukan bersama Si Mungil akhir minggu belakang hari?

Source: https://www.orami.co.id/magazine/permainan-tradisional-jawa-tengah

Posted by: gamadelic.com