Peribahasa Bahasa Jawa Dan Artinya

Bola.com, Jakarta –
Peribahasa
Jawa
adalah satu di antara dari sekian banyak karya sastra nan berkembang di tengah awam Jawa, yang mengandung kata-kata bijak dan nilai berupa di dalamnya.

Kebanyakan khalayak Jawa dikenal oleh masyarakat luas laksana pribadi yang memiliki sopan santun dan inspirasi roh yang penuh makna dari leluhurnya.

  • Daftar 4 Calon Pelamar MU, Ada yang berpunca Indonesia Lain Ya?
  • Momen Hangat Louis van Gaal Dekap Juru kabar di Konferensi Pers Beker Manjapada 2022
  • 3 Anak ningrat Ekuador yang Cak bagi Merepotkan Belanda di Piala Dunia 2022 Varian Mualim PSIM

Terdapat banyak kebudayan nan dapat kamu tatap dari masyarakat Jawa, satu di antaranya adalah karya sastra petitih Jawa.

Peribahasa Jawa cerbak digunakan maka dari itu ibu bapak cak bagi memburas putra putri mereka agar lebih siap dalam menjalani usia karena petitih Jawa memiliki makna yang benar-benar.

Satu di antara spesies karya sastra ini juga diturunkan dari generasi ke generasi sebagai selang dan pesan untuk anak asuh-cucu agar selalu menjadi pribadi nan lebih baik.

Tulangtulangan peribahasa
Jawa
memang cukup sumir, cuma memiliki arti yang mendalam dan kebanyakan bersama-sama mengena ke lubuk hati.

Jika penasaran seperti apa perbahasaan Jawa, berikut kumpulan peribahasa
Jawa, yang dapat kamu jadikan sebagai kursus, sebagai halnya dirangkum dari
Titikdua, Selasa (28/07/2020).

Kumpulan Peribahasa Jawa

1. Ana dina, ana upa. (Ada hari, cak semau nasi)

Selama khalayak mau bekerja dengan tekun tentu akan mendapatkan sesuap nasi (perut). Peribahasa yang mirip yakni: “Ora obah ora mamah” (tak mau bersirkulasi, bekerja, bukan memperoleh bersantap). Ini menjadi semboyan bagi orang kecil menggarangkan dirinya untuk berkreasi.

2. Kebo gupak anjing hutan-jakal. (Munding mumbung lumpur mengajak kotor yang bersentuhan dengannya)

Ungkapan ini merupakan peringatan bahwa insan yang yang mempunyai sifat dan perbuatan buruk (kumuh) cenderung suka mengajak (memengaruhi) orang lain mengimak perbuatannya. Oleh karena itu, jauhilah turunan begitu juga itu atau jangan berdekatan dengannya.

3. Ngundhuh wohing pakerti. (Memetik buah ulah sendiri)

Sebagaimana petani ketika menanam padi, pada saatnya nanti akan memanen gabah, tak jagung. Ini adalah kiasan bagi orang nan melakukan ragam buruk pasti akan memperoleh keburukan pula di belakang hari.

4. Witing tresna jalaran saka kana. (Awal cinta karena biasa berdekatan)

‘Peringatan’ untuk junjungan-laki maupun perempuan agar berhati-lever dalam berteman, karena kedekatan (keakraban) dapat menumbuhkan cinta.

5. Anak kelakuan, bapa kepradhah. (Anak meminta, buya meluluskannya)

Ini ialah peringatan bagi ibu bapak hendaknya bertanggung jawab terhadap vitalitas momongan-anaknya. Ayah bunda harus mempertimbangkan dengan cermat permintaan sang momongan, tentang baik-buruk dan manfaatnya, hendaknya lain menimbulkan permasalahan dalam anak bini.

6. Nabok nyilih tangan. (Memukul pinjam tangan orang lain)

Kiasan terhadap orang licik nan tidak berani menghadapi musuhnya secara melangah, namun menunangi tolong (uluran tangan) hamba allah lain dengan umpet-umpet.

Kompilasi Aforisme Jawa

7. Kekudhung walulang macan. (Berpurdah jangat harimau)

Bayangan orang yang berusaha menjejak keinginannya dengan menggunakan pengaruh pecah penguasa atau orang nan ditakuti masyarakat.

8. Becik ketitik, ala ketara. (Baik akan terbukti, diakui, buruk akan tertentang sendiri)

Anjuran agar siapa-siapa tidak takut berbuat baik. Cak agar awalnya belum kelihatan, pada saatnya akan menemukan makna dan dihargai. Dan jika berbuat buruk, sepandai-pandainya menutupi risikonya akan terkejar juga.

9. Emban cindhe, emban siladan. (Menggendhong dengan selempang, menggendong dengan rautan bambu)

Nasihat yang galibnya ditujukan pada manusia tua renta (penguasa) agar tak diskriminatif perhatiannya terhadap anak asuh atau rakyat (bawahannya). Nan disukai jangan lantas diberi kemudahan, sementara yang tidak disukai terus-menerus disakiti (dipersulit hidupnya).

10. Kegedhen empyak kurang cagak. (Kebesaran sengkuap cacat tiang)

Gambaran pecah orang yang berbuat sesuatu melebihi kemampuannya. Dengan memaksakan diri, sebagaimana dikiaskan flat yang atapnya dahulu besar (demes) dengan sedikit tiang, segara kemungkinan rumah (cita-citanya) tak dapat didirikan (tercurahkan). Misalnya, terwujud (rumah bisa berdiri), konstruksinya akan rapuh sehingga mudah roboh dan akan menimbulkan masalah yunior.

11. Dudu sanak dudu kadang, yen mati melu kelangan. (Bukan ari-ari bukan kerabat, kalau ranah ikut kehilangan)

Ungkapan terhadap jasa seseorang yang sepan besar bagi masyarakat sehingga saat nan bersangkutan meninggal bumi, semua orang akan merasa kehilangan.

12. Kesandhung ing rata, kebentus ing tawang. (Tersandung di palagan yang rata, terbentur ke langit).

Satu kejadian yang susah  terjadi. Bagaimana mungkin di wadah rata cucu adam bisa tersandung dan kepala terlanggar ke langit? Takdirnya keadaan itu terjadi dikarenakan kurang hati-hati dan ceroboh. Ini merupakan peringatan agar sosok selalu waspada dan berhati-hati dalam berbuat sesuatu.

Kompilasi Adagium Jawa

13. Janma tan kena ingina. (Sosok jangan dihina)

Peringatan bahwa orang bisa saja berbeda antara isi dan penampilannya. Kalau dilihat terbit penampilannya mungkin akan keliru karena banyak basyar suka menyembunyikan (menyimpan) kemampuan nan jauh berbeda dengan apa yang tertumbuk pandangan.

14. Berada bisa jadi ilang kedhunge, pasar ilang kumandhange. (Seperti batang air kehilangan lubuk, pasar kesuntukan gema)

Gambaran kejadian dan kondisi zaman saat rasam kebiasaan serta tradisi mulai terkikis dan berganti dengan poin-poin yunior yang belum sepenuhnya dimengerti makanya masyarakat.

15. Utha-uthu nggoleki selane tersengsam. (Ke sana ke mari berburu celah sawah yang dibajak)

Spirit seseorang yang terus berjuang minus lelah dan tidak sipu internal propaganda mengejar nafkah lewat jalan hidup apa pun yang cak semau di sekitarnya.

16. Mburu uceng kelangan deleg. (Mengejar ikan kecil, uceng, kehilangan tongkat untuk seberang sungai).

Sebagai terhadap usaha memperoleh hasil yang nisbi kecil dengan mengabaikan persuasi lain yang telah dijalankan, karenanya terlebih rusak.

17. Sadawa-dawane lurung isih dawa gurung. (Sepanjang-panjangnya lorong, masih kian panjang pembuluh)

Sosok suka menyebarkan amanat (berita) dari bacot ke mulut hingga dalam waktu singkat cepat menyebar ke plural kalangan.

18. Bernas suruh lumah-kurebe beda, nanging rupiah gineget padha rasane. (Seperti daun kinang, warna atas dan bawahnya beda, tapi takdirnya digigit proporsional rasanya).

Misalnya, penilaian terhadap Belanda dan Jepang. Meski yang satu dari Eropa dan yang enggak dari Asia, silam tujuan datang ke Indonesia adalah sama, adalah menjajah.

19. Ngelmu iku kelakone kanthi larap. (Menguasai mantra itu tercapainya lewat proses, avontur, lahir maupun batin)

Menurut pandangan Jawa, ngelmu (menjadikan ilmu itu perilaku) penyerapannya memerlukan kekuatan indra batin serta penghayatan pribadi, bukan dengan aktivitas pelopor atau pikiran semata-mata.

Sendang:
Titikdua

Source: https://www.bola.com/ragam/read/4316475/kumpulan-peribahasa-jawa-nasihat-bijak-dan-pesan-positif-turun-temurun

Posted by: gamadelic.com