Perhitungan Yang Digunakan Dalam Kalender Hijriah Adalah

Sejak ribuan masa yang lampau, almanak telah diciptakan oleh insan, karena kalender sangatlah utama bagi makhluk. Seperti bangsa mesir yang mutakadim mewujudkan almanak matahari sekitar perian 4221 SM.

Pada saat itu, hari matahari terdiri dari 365 periode terbagi internal 12 bulan dan masing-masing bulan terdiri berpangkal 30 hari dan ditambah 5 hari makan besar perayaan tahunan. Dalam pembuatan penanggalan, cak semau sejumlah diversifikasi sistem yang digunakan internal perhitungannya. Diantaranya dengan menggunakan rayapan bulan, pergerakan matahari dan koalisi berbunga pergerakan dua benda langit tersebut.

Dalam kehidupan masyarakat takwim mempunyai kepentingan nan sangat utama. Karena banyak keadaan yang dilakukan mahajana yang berkaitan dengan perian. Dapat kita sadari sendiri tanpa adanya kalender pasti kita hanya berpedoman pada gejala alam nan terjadi. Seiring berkembangnya manusia dan ilmu pengetahuan, maka cucu adam memerlukan segel yang lebih praktis intern menentukan waktu. Dalam keadaan ini manusia berpikir lakukan boleh menemukan suatu sistem yang terintegrasi dan sistematik sehingga dalam menentukan waktu dapat lebih mudah dan efisien. Orang dengan segala kerinduan tahuan nya mencari dan menggali setiap resep yang terkandung di alam ini yang menjadi modal utama/cendekiawan yang dimilikinya. Kemudian sejalan dengan kejadian tersebut, Allah SWT menyerahkan petunjuk seperti pada petikan ayat di bawah nan menjadi kunci untuk membuka rahasia itu.

(QS. Yunus : 5-6)

Matahari dan bulan perumpamaan obyek ciptaan Sang pencipta SWT mutakadim menjadi dua molekul yang sangat berarti dalam dunia ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), khususnya mengenai pencacahan waktu. Geta benda-benda langit yang selalu berubah-ubah dengan pola yang teratur menjadi lengkap penentuan waktu, musim, bulan dan tahun. Sehingga dibuatlah sistem penanggalan/ancangan perian secara periodik.


Bagaimana dengan sekarang ???


Kalender serani!!


Bagaimana dengan
kalender masehi…???

Takwim Masehi perhitungannya didasarkan sreg persebaran bumi mengerubuti matahari atau peredaran rawi semu dimulai plong ketika matahari berada pada tutul Aries. Hal itu terjadi pada setiap rontok 21 Maret sebatas sekali lagi lagi ke tempatnya tadinya. Saat bumi berevolusi, ternyata inden bumi tidak mengirik lurus terhadap satah ekliptika, melainkan genyot dengan sebelah nan setimpal membentuk sudut 66,50
. Tahun
sirkulasi bumi Cak bagi sekali fragmen membutuhkan periode sebanyak 365,2425 hari. Maka dari itu karena penanggalan Masehi ini perhitungannya didasarkan pada distribusi surya dikenal dengan tahun “
Syamsiyah,
Solar
System
alias tahun Matahari.





Terwalak empat kedudukan bumi pada orbitnya, yaitu seumpama berikut:

1.


Tanggal 21 Maret

Sreg tanggal 21 maret, rawi tepat ki berjebah di khatulistiwa. Sehingga semua tempat di manjapada mengalami siang dan lilin batik dengan hari yang sama. Dari tanggal 21 Maret sampai 21 Juni rekahan bumi Paksina mengalami musim semi, sementara itu belahan mayapada Selatan mengalami perian ranggas.

2.


Sreg tanggal 21 Juni

Pada copot 21 Juni, antagonis Utara bumi menghadap ke matahari yang seakan-akan bakir lega 23,50
LU. Berpangkal tanggal 21 Juni hingga 23 September, belahan bumi Daksina menyingkir matahari sehingga mengalami musim hambar, sedangkan belahan bumi Utara semakin dekat dengan matahri sehingga mengalami musim seksi.

3.


Tanggal 23 September

Pada terlepas 23 September, baik kutub Paksina maupun oponen Daksina bumi berada sama jauhnya terbit matahari yang berada pada khatulistiwa. Berasal terlepas 23 September sampai dengan 21 Desember, belahan mayapada Lor semakin menjauhi rawi sehingga mengalami musim gugur, padahal belahan bumi selatan kian condong ke surya sehingga mengalami musim semi.

4.


Tanggal 21 Desember

Pada terlepas 21 Desember, matahari seolah-olah berada di 23,50
LS. Dari terlepas 21 Desember sebatas dengan 21 Maret, retakan marcapada Selatan makin mendatangi ke arah matahari sehingga mengalami musim memberahikan. Sebaliknya, belahan mayapada Utara mengalami musim dingin karena letaknya semakin jauh pecah matahari.

Dari penjelasan di atas, kedudukan matahari seolah-olah bergeser berpokok khatulistiwa (21 Maret), ke 23,50
LU (21 Juni), ke khatulistiwa pun (23 September), ke 23,50
LS (22 Desember) dan kembali lagi ke khatulistiwa (21 Maret). Kampanye pergeseran sedemikian itu disebut gerak semu surya


Gerak revolusi bumi (gerak tahunan mayapada) Periode=365,25 hari

Almanak miladiyah/masehi disebut juga Yulian Era maupun Gregorian Era (calendar). Tahun miladiyah atau kristen ini disebut demikian karena mulanya ditetapkannya pada saat Utusan tuhan Isa AS dilahirkan. Selain dinamakan tahun Miladiyah ataupun masehi, musim ini sekali lagi disebut dengan periode Yulian karena diakui dan dipergunakan sejak berkuasanya Yulius Caesar di Roma. Tahun masehi bersumber dari sistem romawi historis nan semula berdasarkan sistem Lunar. Sebelum sistem almanak ini ideal seperti saat ini, mengalami sejarah yang habis panjang sejak zaman romawi jauh sebelum pemerintahan Julius caesar.

Hasilnya suka-suka seseorang yang bernama Numa Pompilus yang melakukan kurang reformasi kalender tersebut. Engkau adalah orang pertama yang mendirikan institusi Pontiface (Bos Agama), sehingga beliau zakar almanak yang boleh dijadikan patokan dalam masa pelaksanaan upacara dan tidak hanya bertani.

Tahun mula-mula disesuaikan dengan periode berdirinya kerajaan Roma yakni ± 753 sebelum kelahiran Nabi Isa AS. Bulan yang permulaan tidak
Januari sebagaimana yang dikenal masa ini, hanya bulan Maret. Secara lengkap urutannya adalah
Martinus, kemudian
Aprilis,
Majus,
Junius, Quintilis, Sextilis, September, Oktober, Nopember, Desember, Januarius dan Pebruarius. Jumlah hari internal satu tahun merupakan 355 hari.

Hal ini terlihat pada penjelasan dari segi bahasa yaitu September berarti sapta dan Oktober bermakna berarti okta-.





Belaka karena oleh Yulius Caesar permulaan tarikh Julian ditetapkan satu Januari, maka ini berimplikasi juga lega penetapan awal bulannya. Akhirnya, bukan wulan Maret lagi ibarat rembulan pertamanya, tetapi bulan Januari. Maka, bergeserlah wulan September menjadi rembulan kesembilan dan Oktober menjadi bulan kesepuluh.




Pada masa 45 SM, sistem penanggalan itu mengalami beberapa pergantian yang dilakukan makanya Yulius Caesar atas nasehat Sosigenas (Astronom Iskandaria), adalah jumlah perian kebanyakan dalam satu musim
syamsiyah
bukan 355 tetapi 365 1/4 periode = 365,25 hari. Bulan nan ke lima (Quintilis) namanya dan ke heksa- (Sextilis) namanya diubah menjadi Juli dan Agustus yang jumlah harinya sama ialah 31 hari. Sementara permulaan musim anak uang maupun matahari berkecukupan pada titik Aries ditetapkan pada tanggal 24 Maret dan mula-mula hari Tarikh Julian ditetapkan menjadi 1 Januari bukan bulan Maret seperti nan telah dijelaskan di atas.




Plong hari 325 M (370 tahun setelah angka tahun Julian) diadakan rapat katedral di
Nicea
untuk mengedit ketetapan tarikh Julian. Satu tahun pada sanat Julian =365,25 hari sedangkan sebenarnya peredaran matahari per masa merupakan 365,2422 hari. Hal ini berjasa ada tikai 0,0078 hari atau 1/128 hari = 11,23 menit privat satu periode. Perbedaan tersebut akan menjadi satu waktu kerumahtanggaan 128 musim. Oleh karena itu, pada momen diadakan rapat dom itu kebudayaan telah sampai ke 3 perian, merupakan 370:128 x 1 masa=2,8906 periode. Dengan demikian, permulaan musim bunga yang semula ditetapkan rontok 24 Maret dimajukan 3 periode menjadi tanggal 21 Maret.






Perlintasan dan koreksi terhadap tarikh Julian kemudian juga dilakukan pasca- lama berselang maka dari itu Paus Gregorius XXI pada masa 1582 M, atas saran astronom Klavius sehabis muncul keraguan akan saat-momen penentuan wafatnya Isa al-Masih. Maka, lega tanggal
4 Oktober 1582, ia memerintahkan agar harinya tidak pun terlepas 5 Oktober 1582 akan tetapi

loncat 10 waktu jadi tanggal 15 Oktober 1582. Peristiwa ini dilakukan seyogiannya tidak ada lagi kewaswasan bahwa peringatan wafatnya Isa al-Masih dilakukan sesuai dengan keadaan sebenarnya yaitu jatuh lega bulan purnama segera sesudah mentari melintasi bintik Aries.




Sebenarnya ada beberapa argumen yang bisa diajukan mengapa takdir loncat 10 musim itu dilakukan.
Pertama
bikin menyesuaikan dengan kesepakatan di Nicea bahwa pemulaan masa bunga merupakan lega rontok 21 Maret. Maka sesuai dengan apa yang dilihat oleh Klavius pada tanggal 11 Maret 1582 bahwa pada perian itu senyatanya mutakadim memasuki permulaan tahun bunga. Ini berfaedah angka tahun mutakadim mengalami keterlambatan sejauh 10 musim yakni 21-11=10.
Kedua,
Peredaran matahari semu menurut tarikh Yulian adalah =365,25 hari, padahal yang sebenarnya adalah 365,2422 masa. Bintang sartan cak semau selisih sebanyak 0,0078 hari/tahun= 1/128 hari/tahun = 1 periode intern 128 tahun. Maka, 1582-352 hari/ 128 tahun x 1 perian= 9,9605 musim dibulatkan menjadi 10 hari.




Selain itu, koreksi juga dilakukan terhadap takdir perian-masa abadi nan sebelumnya disamakan dengan tahun-perian biasa ialah tahun 1700, 1800, dan 1900 dan lebih jauh terdaftar kabisat bila habis dibagi 400, maka termasuk musim
basithoh. Untuk itu, kerumahtanggaan perhitungan tarikh masehi ini akan dikurangi 13 masa dengan rekaan 10 + 3 = 13. Angka 10 didapat dari “lompat 10 tahun” yakni 5 Oktober 1582 loncat ke 15 Oktober 1582 dan angka 3 didapat semenjak waktu-masa abadi ( tahun 1700, periode 1800, dan masa 1900) yang sediakala dianggap tertera tahun kabisat karena habis dibagi 4 maka dari itu Gregorius diubah menjadi periode
basithoh
karena lain habis dibagi 400 bukan 4. Inilah yang kemudian dikenal dengan istilah koreksi Gregorian.
[3]


[9]

Ketentuan sanat Gregorian itu sebaik-baiknya adalah ibarat berikut.


Mula-mula

,

permulaan tarikh Gregorian dimulai sejak tahun kelahiran Nabi Isa AS yaitu 1 Januari tahun 1 jam 00:00 (detik syamsu kreatif pada kulminasi pangkal).


Kedua

,

tahun-musim yang bukan termasuk tahun abadi baru bisa disebut periode kabisat bila lampau dibagi 4. Apabila lain maka disebut waktu
basithoh
dengan ketentuan satu hari kelebihan internal tahun
kabisat
dimasukkan dalam wulan Februari. Oleh karena itu jumlah musim dalam

wulan Februari kadang kala 28 hari bila termasuk masa
basithah
dan 29 tahun bila tertera tahun
kabisat.


Ketiga

,

kuantitas hari dalam suatu tahun untuk waktu
kabisat
366 perian dan untuk masa
basithah
365 hari.
Keempat,
jumlah hari dalam satu bulan dapat berubah-ubah antara 31 dan 30 hari kecuali bulan Februari. Bulan Januari, Maret, Mei, Juli, Agustus, Oktober dan Desember jumlah harinya 31 hari, sementara itu untuk bulan April, Juni, September, dan Nopember berjumlah 30 musim. Maka itu karena n domestik angka tahun Masehi ini ditetapkan ada suatu tahun
kabisat
dalam setiap empat perian (daur), maka jumlah hari dalam suatu daurnya yaitu 365 hari x 3 ditambah 366 masa= 1461 perian.





Sistem Perhitungan Penanggalan Serani

a.


Bilangan umum penanggalan Kristen

Sebelum melakukan perhitungan Kalender masehi, terdapat qada dan qadar-ketentuan umum yang perlu diperhatikan dan sistem almanak Kristen, diantaranya yaitu :

1.


1 tahun Masehi berumur 365 hari (
Basithah, atma Februari 28 hari) atau 366 hari (
Kabisah, vitalitas Ferbruari 29 perian)

2.


Tahun
Kabisah
adalah kadar periode nan dulu dibagi 4 (misalnya, 1992, 1996, 2000, 2004), kecuali ganjaran abad nan lain lewat dibagi 4 (misalnya, 1700,1800, 1900, 2100 dst). Selain itu adalah
basithah.

3.


1 siklus = 4 musim ( 1461 hari)

4.


Penyesuaian akibat perkiraan Gregorius sebanyak 10 waktu sejak 15 Oktober 1582 M, serta penambahan 1 hari lega setiap bilangan abad yang tidak sangat dibagi 4 sejak tanggal tersebut, sehingga sejak masa 1900 sampai 2099 terserah penambahan koreksi 13 hari (10+3).




Komplet:

Tanggal 26 September jebluk sreg hari apa? Lakukan mengetahui hal tersebut ditempuhlah langkah pertama dengan mengurangkan angka tahun berjalan dengan biji 1 kemudian dibagi 4. Ancang kedua, menghitung total musim dari terlepas 1 Januari perian 1 sampai tanggal dan tahun yang dicari kemudian dikurangi koreksi Gregorian merupakan 13 hari. Dan awalan ketiga adalah jumlah masa yang sudah diketahui itu lebih lanjut dibagi 7. Nilai cirit dari pembagian itulah yang menentukan merek musim nan dicari, dihitung terbit periode Sabtu. Secara lebih jelas, hal tersebut nampak dalam perkiraan berikut ini:

2003 – 1 : 30
= 500 (daur) endap-endap 2 tahun

Jumlah hari

= 500 x 1461 + 2 tahun x 365 perian + 269 periode – 13 masa





= 730500 + 730 + 269 – 13



=731486 hari

731486 : 7

=104498 geladir 0

Sesuai dengan hasil perincian tersebut, maka sungkap 26 September 2003 jauh pada waktu Jumat. Takdir angka tahun Gregorian atau tarikh Kristen gaya bau kencur itu berlaku hingga ketika ini, seperti yang seremonial kita lihat di kalender-almanak.




b.






Menentukan Waktu Bashitah maupun kabisat














Dalam menentukan suatu tahun apakah merupakan perian kabisat atau bashitoh, maka langkah yang harus dilalui adalah ibarat berikut :

1.


Tentukan Tahun yang akan dicari kemudian dibagi empat.

2.


Setelah dibagi 4, jika periode tersebut habis dibagi 4 maka disebut musim kabisat, dan tidak sangat dibagi 4 maka disebut tahun basithoh.

3.


Partikular untuk tahun-waktu abad, maka harus dibagi 400, seandainya habis dibagi 400 mka disebut kabisat, sekiranya tidak habis dibagi 400 maka disebut tahun bashitoh.


c.






Menentukan hari dan pasaran











Untuk menentukan hari dan pasaran sungkap 1 januari satu tahun dengan mandu laksana berikut :

1.


Tentukan tahun nan akan dihitung

2.


Hitunglah tahun tam, yaitu tahun nan dihitung dikurangi suatu

3.


Hitunglah jumlah siklus selama tahun tam tersebut, adalah selang antara (tahun tam : 4)

4.


Hitunglah tahun kemujaraban berbunga sejumlah siklus tersebut

5.


Hitunglah jumlah hari selama siklus yang terserah dengan dikalikan total hari internal 1 siklus (1461 masa)

6.


Hitunglah jumlah hari berasal masa kelebihan dengan dikalikan 365 hari

7.


Jumlahkan hari-musim tersebut dan tambahkan 1 periode (copot 1 januari)

8.


Kurangi dengan koreksi gregorian, adalah 10 + … hari

9.


Jumlah hari yang didapat kemudian dibagi 7 bikin menentukan tahun, guna hasil dari pengalokasian tersebut adalah musim yang dicari yang dihitung mulai perian sabtu. (sisa 1 = Sabtu; 2=Ahad, 3=Senin, 4=Selasa; 5=Rabu, 6=Kamis, 0=Jum’at)

10.



Jumlah hari nan didapat kemudian dibagi 5 untuk menentukan murahan, kelebihan hasil semenjak penjatahan tersebut merupakan perian yang dicari yang dihitung mulai periode sabtu. (tahi 1 = Sabtu; 2=Ahad, 3=Senin, 4=Selasa; 5=Rabu, 6=Kamis, 0=Jum’at)

11.


Sehabis tahun dan kodian rontok 1 januari ditemukan, maka buat menentukan tahun dan pasaran bulan lebih lanjut dapat menunggangi tabel berikut. Semata-mata sebelumnya harus diketahui terlebih lewat apakah tahun tersebut basithoh atau kabisat.

Rembulan

Basithoh

Kabisat

Tahun

Pasaran

Musim

Murahan

Januari

1

1

1

1

Februari

4

2

4

2

Maret

4

5

5

1

April

7

1

1

2

Mei

2

1

3

2

Juni

5

2

6

3

Juli

7

2

1

3

Agustus

3

3

4

4

September

6

4

7

5

Oktober

1

4

2

5

November

4

5

5

1

Desember

6

5

7

1

Cermin:

Tanggal 1 Januari 2004

Periode yang dilalui = 2003 perian, bertambah 1 musim

alias 2003 : 4 = 500,75 Siklus, kian 3 tahun, lebih 1 masa



500 siklus = 500 x 1461 hari
= 730500
hari





3 periode =
3 x
365 periode
=
1095
hari






1 hari
= _____1___
hari +





Jumlah

= 731591
musim

Koreksi Gregorius = 10 + 3

=

13___

hari –



= 731583
periode

731583 : 7 = 104511, lebih 6 = Kamis, (dihitung mulai Sabtu)

731583 : 5 = 143616, lebih 3 = Pahing, (dihitung tiba Kliwon)

Bintang sartan, tanggal 1 Januari 2004 jatuh pada

Kamis Pahing.












Nahhhhh…..





Bagaiamana dengan kalender islam,







Takwim Hijriah !!

Dalam peredarannya, wulan melakukan tiga gerakan kontan, yaitu rotasi, revolusi, dan bersama dengan marcapada mengitari matahari. Periode rotasinya seperti mana periode revolusinya. Alhasil, muka rembulan yang menghadap bulan selalu setimbang yakni sekelumit fragmen dan putaran bukan lain pernah menghadap ke manjapada. Cak bagi satu mungkin bergerak berputar kerubung manjapada, bulan memerlukan musim selama 27 1/3 tahun yang disebut satu rembulan sideris. Senyatanya, bilamana tersebut bumi telah bergerak mengitari matahari sepanjang 270. Bintang sartan, rembulan harus menempuh tikai jarak tersebut kiranya kembali ke posisi semula relative terhadap matahari. Dengan demikian, selang waktu suatu kali sirkuit bulan adalah 29 ½ hari yang disebut suatu wulan sinodis (qomariah).

Dari kedudukan rembulan yang farik-selisih menghasilkan bagan bulan yang berbeda kembali nan disebut fase bulan, yakni:

1.


Puas geta 1, yaitu kapan kedudukan rawi, bulan dan manjapada terletak satu garis verbatim. Lega kedudukan bulan tiba berevolusi disebut bulan baru alias bulan muda.

2.


Pada geta 2, sekudung bagian bulan yang menumpu manjapada kira-agak doang seperempatnya yang dijalari kilap matahari. Kesudahannya, kita meluluk bulan ceruk.

3.


Plong kursi 3, sekerat bulan nan mengarah mayapada kira-kira belaka seperempatnya yang terkena seri matahari. Akibatnya, kita melihat setengah bulatan yang disebut kuartir purwa alias bulan separuh.

4.


Sreg kedudukan 4, secabik penggalan bulan yang memusat bumi kira-sangkil tiga per empatnya terjangkit sinar mentari. Akibatnya, kita mengaram wulan cembung.





 5.


Pada kedudukan 5, separuh penggalan bulan nan menghadap dunia seluruhnya terkena sinar rawi. Akibatnya, kita mematamatai wulan purnama.


PERUBAHAN PENAMPAKAN BENTUK BULAN (FASE Rembulan)

Kalender Hijriah dibangun berdasarkan rata-rata silkus sinodik bulan


almanak lunar


(qomariyah), n kepunyaan 12


bulan


internal setahun. Dengan menggunakan siklus sinodik bulan, takdir hari dalam satu tahunnya adalah (12 x 29,53059 waktu = 354,36708 musim). Kejadian inilah yang menjelaskan 1 tahun Almanak Hijriah kian sumir sekitar 11 perian dibanding dengan 1 tahun Takwim Kristen. Penentuan dimulainya sebuah hari/terlepas pada Takwim Hijriah berbeda dengan pada Penanggalan Serani. Puas sistem Almanak Kristen, sebuah hari/copot dimulai plong pengetuk 00.00 hari setempat. Saja pada sistem Takwim Hijriah, sebuah masa/tanggal dimulai detik terbenamnya matahari di bekas tersebut.

Faktanya, siklus sinodik wulan bervariasi. Kuantitas hari dalam satu bulan n domestik Kalender Hijriah bergantung lega posisi wulan, bumi dan matahari. Roh bulan yang menjejak 30 hari bersesuaian dengan terjadinya bulan baru (new moon) di



titik apooge


, adalah jarak terjauh antara bulan dan manjapada, dan pada saat yang bersamaan, dunia berharta pada jarak terdekatnya dengan surya


(perihelion)

. Temporer itu, satu bulan yang berlangsung 29 tahun bertepatan dengan detik terjadinya bulan bau kencur di



perige



(jarak terdamping bulan dengan bumi) dengan mayapada mampu di titik terjauhnya pecah syamsu (aphelion). Berpokok sini terlihat bahwa usia bulan tidak tetap melainkan berubah-ubah (29 – 30 hari) sesuai dengan kedudukan ketiga benda langit tersebut (


Bulan

,


Marcapada


dan


Matahari

).

Penentuan tadinya bulan (new moon) ditandai dengan munculnya pengejawantahan (visibilitas) Bulan Pembuluh getah pertama kali (bulan sabit) setelah bulan baru (kata sambung atau
ijtimak). Pada fase ini, Rembulan terbenam sesaat setelah terbenamnya Surya, sehingga posisi hilal berada di ufuk barat. Jika hilal tidak dapat terlihat plong tahun ke-29, maka besaran hari pada wulan tersebut dibulatkan menjadi 30 hari. Enggak ada adat khas rembulan-wulan mana saja yang memiliki 29 masa, dan mana yang memiliki 30 musim. Semuanya tersangkut pada penampakan bulan sabit.


Nama-jenama Bulan dalam Musim Qomariah


No



Nama Wulan


Jumlah Hari

1.

Muharam

30 hari

2.

Safar

29 hari

3.

Rabiulawal

30 hari

4.

Rabiulakhir

29 tahun

5.

Jumadilawal

30 hari

6.

Jumadilakhir

29 hari

7.

Rajab

30 masa

8.

Syakban

29 musim

9.

Ramadhan

30 periode

10.

Syawal

29 hari

11.

Zulkaidah

30 hari

12.

Zulhijah

29/30 hari


Sejarah Penanggalan Islam

Sebelum datangnya Islam, di tanah Arab dikenal sistem kalender berbasis campuran antara


Bulan


(Qomariyah) atau


Rawi


(Syamsiyah). Arus bulan digunakan, dan bakal mensinkronkan dengan hari dilakukan penambahan besaran masa (



interkalasi


). Pada masa itu, belum dikenal penomoran periode. Sebuah perian dikenal dengan tera peristiwa nan cukup terdepan di waktu tersebut. Misalnya, hari dimana


Muhammad


lahir, dikenal dengan sebutan “Perian Gajah”, karena pada waktu itu, terjadi penyerbuan Ka’bah di Mekkah maka itu armada gajah nan dipimpin makanya Abrahah, Gubernur Yaman (salah satu daerah Kerajaan


Aksum

, kini termasuk provinsi


Ethiopia

).

Sistem penanggalan Islam (1 Muharram 1 Hijriah) dihitung sejak peristiwa hijrahnya Utusan tuhan Muhammad SAW beserta para pengikutnya terbit Mekkah ke Madinah, atas perintah Tuhan. Oleh karena itulah kalender Islam disebut juga sebagai kalender Hijriah. Di barat takwim Islam konvensional dituliskan dengan A.H, berasal latinnya
Anno Hegirae. Situasi pemindahan ini refleks dengan 15 Juli 622 Kristen. Bintang sartan penanggalan Islam atau Hijriah (1 Muharram 1 Hijriah) dihitung sejak terbenamnya Rawi puas hari Kamis, 15 Juli 622 M.

Walaupun demikian, takwim dengan musim hijriah ini tidak langsung diberlakukan tepat sreg saat peristiwa hijrahnya nabi detik itu. Penanggalan Islam baru diperkenalkan 17 musim (privat perkiraan tahun serani) pasca- peristiwa hijrah tersebut maka dari itu sahabat terdekat Rasul Muhammad sekaligus khalifah kedua, Umar bin Khatab. Beliau melakukannya sebagai upaya merasionalisasikan berbagai sistem penanggalan yang digunakan pada masa pemerintahannya. Kadang sistem almanak yang satu tidak sesuai dengan sistem penanggalan nan enggak sehingga gegares menimbulkan persoalan internal umur umat.

Kalender dengan 12 rembulan sebetulnya telah lama digunakan oleh Bangsa Arab jauh sebelum diresmikan oleh khalifah Umar, tetapi memang belum ada pembakuan perkiraan tahun plong masa-masa tersebut. Peristiwa-peristiwa penting biasanya sekadar dicatat dalam tanggal dan bulan. Kalaupun tahunnya disebut, galibnya sebutan hari itu dikaitkan dengan peristiwa berfaedah nan terjadi pada periode itu. Misalnya tahun gajah, dan bukan sebagainya.

Sehabis banyak persoalan muncul akibat tidak adanya sistem penanggalan yang biasa, dan atas prakarsa Khalifah Umar, diadakanlah musyawarah dengan tokoh-motor sahabat lainnya akan halnya persoalan kalender ini. Dari sini disepakati bahwa tahun hijrahnya Nabi Muhammad SAW beserta para pengikutnya mulai sejak Mekkah ke Madinah yakni perian pertama dalam kalender Islam. Sedangkan nama-nama keduabelas bulan tetap sebagaimana yang mutakadim digunakan sebelumnya, diawali dengan bulan Muharram dan diakhiri dengan rembulan Dzulhijjah.

Penanggalan hijriah ini berdasarkan pada peredaran bulan mengelilingi bumi. penanggalan ini didasarkan pada perhitungan (hisab). Suatu kali edar lamanya
29 hari 12 jam 44 menit 2,5 detik.
[1]


[17]

Buat menyingkir bongkahan masa maka ditentukan bahwa jiwa rembulan
cak semau yang 30 hari dan adapula nan 29 periode, yakni bakal bulan-bulan gangsal berumur 30 periode, sedang wulan-bulan genap berumur 29 masa, kecuali plong ke-12 (Dzulhijjah) pada Kabisat berumur 30 hari.
[2]


[18]


Pendirian umum penanggalan tahun Hijriah, yaitu:

1.


1 tahun hijriah = 354 hari (Basithah), Dzulhijjah = 29 masa = 355 tahun (kabisat) Dzulhijjah = 30 tahun

2.


Masa-masa kabisat jatuh pada belai ahun ke-2,5,7,10,13,15,18,21,24,26 dan 29 (tiap 30 tahun)

3.


1 daur = 30 tahun = 10631 hari


Menghitung Hari dan Kodian

Menotal musim dan pasaran puas tanggal 1 muharram suatu periode dengan mandu:

1.


Tentukan tahun yang akan dihitung

2.


Hitung
tahun tam,
yakni periode nan berkepentingan dikurangi satu

3.


Hitunglah berapa daur selama tahun tam tersebut

4.


Hitung berapa tahun kelebihan berasal sejumlah daur tersebut

5.


Hitung berapa hari sepanjang daur yang yang suka-suka, ialah daur kali 10631 periode

6.


Hitung berapa perian sepanjang tahun kelebihan (lihat daftar kuantitas masa tahun hijriah)

7.


Jumlahkan hari-hari tersebut dan tambahkan 1 (1 muharram)

8.


Jumlah hari kemudian dibagi menjadi 7 ;

1= Jum’at
3= Ahad
5= Selasa
7= Kamis

2= Sabtu
4= Senin
6= Rabu

0= Kamis

9.


Jumlah hari kemudian dibagi 5 ;

1= Legi
3= Pon
5= Kliwon

2= Pahing
4= Wage
0= Kliwon


Kuantitas Hari Waktu Hijriah


Th


Waktu


Th


Hari


Th


Hari


Th


Tahun


Th


Hari


Th


Perian

1

2

3

4

5

354

709

1063

1417

1772

11

12

13

14

15

3898

4252

4607

4961

5316

21

22

23

24

25

7442

7796

8150

8505

8859

6

7

8

9

10

2126

2481

2835

3189

3544

16

17

18

19

20

5670

6024

6379

6733

7087

26

27

28

29

30

9214

9568

9922

10277

10631


Contoh:


Tanggal; 1 Muharram 1425 H.
Waktu yang dilalui 1424 tahun, makin 1 hari atau (1424 : 30) 47 daur. Lebih 14 waktu, kian 1 hari



47 daur
= 47 x 10.631 tahun
= 499.657 musim



14 waktu= (14 x 354) + 5 hari
=
4.961
hari




1 hari
=
1
waktu +




Jumlah
= 504.619
masa

504.619 : 7
=
72.088,
bertambah 3 = Ahad (mulai jum’at)

504.619 : 5
= 100.923,


lebih 4 = Wage (tiba legi)

Jadi tanggal 1 muharram 1425 H runtuh pada periode


Pekan Wage


Membuat kalender

Setelah mendapatkan hasil musim dan pasaran pada terlepas 1 Muharram dengan pendirian di atas, maka bakal mengetahui hari dan pasaran lega sungkap tiap-tiap bulan berikutnya, dapat digunakan pedoman di bawah ini;


Pedoman Hari (Hr) dan Pasaran (Ps)


Bulan


Hari


Pasaran


Umur


Wulan


Waktu


Pasaran


Umur

Muharam

1

1

30

Rajab

3

3

30

Shafar

3

1

29

Sya’tali tap

5

3

29

Rabiul’awal

4

5

30

Ramadhan

6

2

30

Rabiul’akhir

6

5

29

Syawal

1

2

29

Jumadil Ula

7

4

30

Dzulqa’dah


2

1

30

Jumadil Akhir

2

4

29

Dzulhijah

4

1

29/30


Keterangan





: Hari dan murahan segala saja plong copot 1 muharram perian berapa sekadar nilainya adalah 1, sehingga bikin bulan-bulan berikutnya, hari dan pasaranya dulu mengurutkan hari kebeberapa dari terlepas 1 muharram itu sesuai dengan angka yang suka-suka sreg jadwal (Hr dan Pr) di atas.


Cak menjumlah Hari

Lakukan memahami hari dan kodian satu sungkap tertentu maka masa dan kacangan tanggal 1 bulan itu bernilai satu, sehingga adv amat menambahkan setakat sungkap yang dikehendaki.

Misalnya tanggal 17 Ramadhan 1425 Hijriah, karena tanggal 1 Ramadhan 1425 Hijriah jatuh sreg musim jum’at kliwon, maka sungkap 17 Ramadhan 1425 hijriah jatuh pada hari Ahad Legi, yakni 17 hari dihitung berpokok jum’at sehingga jatuh tahun Ahad, dan 17 waktu dihitung dari kliwon sehingga turun murahan Legi.





Mari kita buat kesimpulannya :



Almanak Masehi/miladiyah yang awalnya beralaskan plong bulan dan matahari dan pun konstelasi bintang, namun setelah terjadi ketidaksinkronan antara ketiganya maka Julius Caesar menggantinya semata-mata beralaskan matahari.

Penanggalan Masehi/Miladiyah plong awal sekadar terwalak 10 wulan, nan mana perian-tahun sreg musim dingin tidak dimasukkan pada penanggalan. Kemudian

Numa Pompilus mengadakan sedikit restorasi dengan menambahkan wulan januari dan februari. 1 tahun serani berusia 365 masa (basithoh) ataupun 366 musim (kabisat), waktu kabisat adalah tahun nan suntuk dibagi 4 dengan jumlah hari pada bulan Februari sebanyak 29 hari.

1 siklus tahun kristen adalah 4 tahun.



N domestik penanggalan masehi terwalak koreksi gregorius sebanyak 10 hari sejak terlepas 15 Oktober, serta penambahan 1 musim pada setiap bilangan abad yang lain lampau dibagi 4 sejak rontok tersebut.

Kalender Hijriah dibangun berlandaskan rata-rata silkus sinodik bulan


takwim lunar


(qomariyah), memiliki 12


bulan


internal setahun. Dengan menggunakan siklus sinodik bulan, bilangan hari kerumahtanggaan satu tahunnya yakni (12 x 29,53059 periode = 354,36708 hari). Kejadian inilah nan menjelaskan 1 periode Kalender Hijriah lebih ringkas selingkung 11 perian dibanding dengan 1 tahun Kalender Masehi. Penentuan dimulainya sebuah waktu/tanggal plong Penanggalan Hijriah berbeda dengan pada Kalender Masehi. Plong sistem Kalender Masehi, sebuah waktu/tanggal dimulai sreg pukul 00.00 masa setempat. Namun pada sistem Kalender Hijriah, sebuah waktu/tanggal dimulai detik terbenamnya matahari di tempat tersebut.



Takwim kalender hijriah berlandaskan pada perputaran bulan mengerubuti bumi. penanggalan ini didasarkan pada perhitungan (hisab). Satu kali edar lamanya
29 hari 12 jam 44 menit 2,5 detik. Bakal menghindari retakan musim maka ditentukan bahwa umur wulan
ada yang 30 hari dan adapula yang 29 periode, yaitu lakukan rembulan-wulan gasal berumur 30 hari, sedang rembulan-bulan genap berusia 29 hari, kecuali pada ke-12 (Dzulhijjah) pada Kabisat berumur 30 hari.






Source: https://hidayahdakwah.blogspot.com/2013/07/perbedaaan-perhitungan-kalender-hijriah.html