Perbedaan Ibadah Haji Dan Umrah


Haji dan umroh merupakah ibadah yang rapat persaudaraan proporsional secara ritual, yakni berbuat ibadah di Baitullah dan diperuntukkan oleh orang-orang yang mampu. Sekadar, secara mendasar, haji dan umroh jelaslah ibadah yang berbeda. Kata sandang ini akan membicarakan tuntas akan halnya perbedaan haji dan umroh.

Berikut mari kita simak signifikasi, dalil yang mensyariatkan, syarat, berbaik dan wajibnya, perbedaan, setakat hal-hal nan membatalkan antara haji dan umroh:


1. Pengertian Haji dan Umroh

Pengertian haji secara bahasa atau etimologi ialah menyahajakan atau berkiblat. Sementara itu, pengertian haji menurut istilah (terminologi) yaitu menyengaja pergi ke kapling suci (Mekkah) bakal beribadah, menjalankan tawaf, sa’i, serta wukuf di Arafah maupun menjalankan seluruh ketentuan-ketentuan ibadah haji di waktu yang telah ditentukan serta dilakukan dengan tertib.

Baca Juga:
Hukum dan Tata Kaidah Kurban Bagi Anak adam Haji

Provisional itu, signifikansi umrah secara bahasa atau etimolog ialah terbit kata
i’tamara
artinya berkunjung. Dalam syariat islam, ibadah umrah berharga menyekar ke Baitullah atau (Masjidil Haram) yang berniat kerjakan mendekatkan diri kepada sang kuasa yakni Halikuljabbar SWT dengan memenuhi seluruh syarat syaratnya dengan waktu lain ditentukan seperti pada ibadah haji.


2. Hukum dan Dalil nan mensyariatkan Haji dan Umroh

Puas dasarnya umat muslim mengerjakan ibadah haji bersendikan Firman Allah SWT kerumahtanggaan QS. Ali Imran ayat 97 bagaikan berikut:

وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ

Artinya:

“Dan (diantara) tanggung manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, yaitu bagi khalayak-orang nan mewah mengadakan pertualangan ke sana. Barangsiapa memungkirkan (kewajiban) haji, maka ketahuilah bahwa Allah Mahakaya (enggak memerlukan sesuatu) berbunga seluruh alam.”

Selain itu, terdapat juga perintah kerjakan ibadah haji dan umroh dalam QS. Al-Baqarah ayat 196 bak berikut:

وَأَتِمُّوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلَّهِ

Artinya:

“Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah kalian karena Halikuljabbar.”

Sementara dalam titah Nabi, sumber akar pikulan haji bersendikan perkataan nabi nan diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim terbit Serdak Hurairah bak berikut:

 بُنِىَ الاِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ اَنْ لآ اِلَهَ اِلاَّ اﷲُ٬ وَاَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اﷲِ٬ وَاِقَامِ الصَّلاَةِ وَاِيْتَاءِ الزَّكاَةِ ٬ وصَوْمِ رَمَضَانَ ٬ وَحِجِّ الْبَيْتِ لِمَنْ اِسْتَطَاعَ اِلَيْهِ سَبِيْلاً

Artinya:

“Islam dibangun atas lima perkara; bersaksi bahwa tiada Allah selain Allah dan bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan salat, menunaikan zakat, puasa di bulan Ramadan dan melakukan haji ke Baitullah bagi orang nan gemuk melakukan perjalanan ke sana.”

Haji Hukumnya Fardhu Sementara itu Umrah Hukumnya Sunnah atau Tatawwu

Dari dalil-dalil yang diuraikan, disebutkan bahwa hukum haji ialah wajib bagi orang nan sudah mampu. Padahal umroh disebutkan sunnah ataupun tatawwu’.

Seperti mana hadits Nabi Muhammad SAW yang maknanya sebagai berikut.

“Haji adalah fardhu sedangkan umrah yaitu tatawwu.”

(HR. Mukmin)

Tatawwu merupakan tidak diwajibkan, tetapi sangat baik dilakukan untuk mendekatkan diri kepada Sang pencipta. Serta, melakukannya lebih utama daripada meninggalkannya karena tatawwu mempunyai ganjaran pahala. Sekadar, perintah haji semata-mata diwajibkan segolongan atma hanya sekali saja.

Seperti yang tertera kerumahtanggaan hadits yang diriwayatkan maka dari itu Anak laki-laki Abbas berikut:

أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ فَرَضَ اللهُ عَلَيْكُمُ الْحَجَّ فَحُجُّوا. فَقَالَ رَجُلٌ: أَكُلَّ عَامٍ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ فَسَكَتَ حَتَّى قَالَهَا ثَلاَثًا، فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَوْ قُلْتُ نَعَمْ لَوَجَبَتْ، وَلَمَا اسْتَطَعْتُمْ. ثُمَّ قَالَ: ذَرُوْنِي مَا تَرَكْتُكُمْ فَإِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ بِكَثْرَةِ سُؤَالِهِمْ وَاخْتِلاَفِهِمْ عَلَى أَنْبِيَائِهِمْ فَإِذَا أَمَرْتُكُمْ بِشَيْءٍ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَإِذَا نَهَيْتُكُمْ عَنْ شَيْءٍ فَدَعُوْهُ

Artinya:

“Aduhai sekalian manusia, sungguh Allah sudah lalu mewajibkan bagi kalian haji maka berhajilah kalian!

(Seseorang berkata).

Apakah setiap tahun, ya Rasulullah? Engkau terdiam sehingga bani adam tersebut mengulangi ucapannya tiga kali.

(Terlampau Rasulullah SAW berfirman).

Sekiranya aku katakan ya, niscaya akan mesti bikin kalian dan kalian bukan akan sanggup.

(Kemudian beliau bersabda).

Biarkanlah segala apa yang aku tinggalkan kepada kalian. Sesungguhnya orang sebelum kalian telah binasa karena mereka banyak bertanya nan tidak diperlukan dan menyelisihi utusan tuhan-utusan tuhan mereka. Kalau aku memerintahkan sesuatu kepada kalian maka lakukanlah sesuai dengan kesanggupan kalian. Dan bila aku melarang kalian bermula sesuatu maka tinggalkanlah.”

Baca Juga:Penjelasan dan Jenis-keberagaman Haji yang Wajib Diketahui


3. Perbedaan Haji dan Umroh

Kabah haji dan umroh
Haji dan umroh memiliki sejumlah perbedaan nan mudah diketahui (Istimewa)

Terlihat ekuivalen, namun nyatanya ada perbedaan tersirat antara haji dan umroh. Perbedaan pertama adalah plong hukumnya. Para ulama seia bahwa haji yaitu rukun islam kelima yang hukumnya wajib dikerjakan apabila mampu. Darurat, ibadah umroh hukumnya sunnah muakkad.

Lalu, perbedaan berdasarkan rukunnya yaitu adanya wukuf di Padang Arafah untuk ibadah haji, sementara umroh enggak cak semau. Kemudian, umroh dan haji n kepunyaan waktu pelaksanaan yang berbeda. Umroh dapat dilakukan bilamana sahaja, sementara haji cuma setahun sekali di bulan tertentu dengan rentang waktu semula bulan Syawal hingga Dzulhijjah.


4. Syarat Konvensional Haji dan Umrah

Syarat sah yang harus dipenuhi makanya calon jamaah haji maupun umroh, yaitu:

  • Islam.
  • Mampu (kuasa).
  • Berakal.
  • Baligh.
  • Ada pelepas.
  • Merdeka, dan pun aman pada perjalanannya.

Dalam hal ini tidak ada perbedaan yang mutlak antara haji dan umroh.


5. Damai Haji dan Umroh

rukun haji dan umroh
Rukun haji dan umroh (Khusus)

Dalam manasik, berdamai merupakan seremoni  tertentu yang menjadi penentu keabsahan haji atau umrah (mansukh bila tidak dilakukan), dan tak bisa diganti dengan dam (denda).

Damai haji terserah 5 (panca), yaitu:

  • Kehendak ihram.
  • Wuquf di padang Arafah.
  • Thawaf.
  • Sa’i.
  • Mencelah surai (tahallul).

Sedangkan rukun umrah terserah 4 (empat), yakni:

  • Niat ihram.
  • Thawaf.
  • Sa’i.
  • Memotong rambut (tahllul).

Syekh Abdullah Abdurrahman Bafadhal al-Hadlrami dalam Busyra al-Karim Bi Syarhi Masa-il at-Ta’lim Ala al-Muqaddimah al-Hadlrasmiyah bersuara:

أركان الحج خمسة: الإحرام، والوقوف بعرفة، والطواف، والسعي، والحلق. وأركان العمرة أربعة وهي: الإحرام، والطواف، والسعي، والحلق

Artinya:

“Rukun-rukun haji ada lima, yaitu niat ihram, wuquf di Arafah, thawaf, sa’i dan menyelang rambut. Dan rukun-rukun umrah suka-suka empat adalah ihram, thawaf, sa’i dan mencelah bulu.”

Perbedaan rukun haji dan umroh ini terletak plong wuquf di padang Arafah. Karena semata-mata dilakukan oleh jamaah haji refleks pada tanggal 9 Zulhijjah.

Adapun penjelasan mengenai rukun secara luas sebagai berikut:

  • Ihram, yaitu berniat kerumahtanggaan start mengerjakan haji dan umroh dengan menggunakan kain ceria dan tidak dijahit. Selain itu, ibadah ihram ini dimulai sesudah start di miqat atau (had-batas yang sudah ditentukan).
  • Wuquf, adalah cak jongkok dulu di Padang Arafah dari tergelintirnya matahari pada tanggal 9 wulan Zulhijah sampai terbit fajar ditanggal 10 Zulhijah.
  • Thawaf (ifadah), yaitu ibadah mengerumuni Kakbah sampai 7 boleh jadi dan didalamnya juga ada syarat tertentu.
  • Sa’i, yaitu lari-lari kecil ataupun urut-urutan cepat diantara Safa sampai Marwah
  • Tahallul, yaitu mencukur atau menggunting rambut minimal kurang tiga helai rambut.


6. Hal Terbiasa internal Haji dan Umroh

Istilah wajib merupakan interelasi ritual manasik yang apabila ditinggalkan tidak dapat membatalkan haji alias umrah, namun teristiadat diganti dengan dam (denda).

Adapun wajib haji cak semau 5 (lima), merupakan:

  • Niat ihram berpangkal miqat (batas distrik nan telah ditentukan menyetimbangkan distrik asal jamaah haji/ umrah).
  • Menginap di Muzdalifah.
  • Menginap di Hut.
  • Tawaf wada’ (perpisahan) serta melempar jumrah.

Sedangkan wajib umroh hanya ada 2 (dua), yaitu:

  • Niat ihram berpunca miqat.
  • Menyingkir larangan-larangan ihram.

Baca Juga: Panduan Haji Model


7. Hal-Hal yang Membatalkan Ibadah Haji dan Umrah

Hal-hal yang membatalkan umroh dan haji

Berikut peristiwa-peristiwa nan haram dilakukan ataupun membatalkan detik haji dan umroh, yaitu:

  • Memakai sesuatu yang berjahit di badan.
  • Menutupi kepala dengan sesuatu sebagaimana kopyah dll. (dua larangan ini bagi junjungan-laki saja).
  • Menyisir atau mengepang rambut.
  • Mencopot bulu saat ihrom.
  • Menyusup kuku saat masih ihrom.
  • Memakai wangi-wangian.
  • Membunuh fauna buruan yang bisa dimakan.
  • Akad nikah.
  • Jima’.
  • Bersentuhan alat peraba dengan adanya syahwat tanpa berhubungan badan.

Di masa pandemi ini umat Islam harus menjaga kebugaran supaya spirit ibadah haji dan kurban terjaga. Sreg dasarnya, umroh, haji, dan kurban ganti berkaitan bakal nyalakan spiritual umat Islam setelah Ramadhan usai.


Pahala Umroh di bulan Ramadhan

Di dalam sebuah hadis Bukhari dan Muslim dikatakan bahwa umroh di wulan Ramadhan memiliki pahala yang senilai dengan pahala haji. Apa maksudnya, ya?

Dewan Pengawas Syariah Dompet Dhuafa,
Ustadz H. Ahmad Fauzi Qosim, S.S., M.A., M.M, menjelaskan bahwa Allah memberikan kesempatan kepada siapapun hamba-Nya untuk tetap bisa mendapatkan pahala darmabakti, yang bukan produktif dia kerjakan.

Ibadah haji, salah suatu ibadah yang membutuhkan modal paling besar. Sukma, jasmani, harta, dan memakan banyak perian. Sehingga jumlah suku bangsa muslimin yang mewah melaksanakannya, jauh kian minus dibandingkan dedikasi ibadah lainnya.

Cuma, Yang mahakuasa Maha Rani, Tuhan Maha Pemurah. Allah berikan kesempatan bakal semua hamba-Nya, untuk mendapatkan pahala haji, sekalipun dia tidak mampu start haji, begitu juga berbuat ibadah umroh di rembulan Ramadhan.

Melansir berusul Rumaysho, umrah sudah kita ketahui
keutamaannya. Seperti mana amalan cak semau yang memiliki manfaat seandainya dilakukan sreg musim tertentu, demikian pula umrah. Umrah di bulan Ramadhan terasa sangat unik dari umrah di bulan lainnya yaitu senilai dengan haji sampai-sampai seperti mana haji bersama Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam
.

Dari Ibnu ‘Abbas
radhiyallahu ‘anhuma
, sira berkata bahwa Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam
 pernah bertanya pada seorang wanita,

مَا مَنَعَكِ أَنْ تَحُجِّى مَعَنَا

Artinya:

Barang apa alasanmu sehingga lain ikut berhaji bersama kami?

Wanita itu menjawab, “Aku mempunyai tugas untuk menjatah menenggak pada seekor onta di mana unta tersebut ditunggangi makanya ayah fulan dan anaknya –ditunggangi suami dan anaknya-. Ia pergi gamal tadi minus diberi minum, lantas kamilah yang bertugas mendayukan air pada unta tersebut. Lantas Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam
 berujar,

فَإِذَا كَانَ رَمَضَانُ اعْتَمِرِى فِيهِ فَإِنَّ عُمْرَةً فِى رَمَضَانَ حَجَّةٌ

Artinya:

Jika Ramadhan tiba, berumrahlah saat itu karena umrah Ramadhan senilai dengan haji.
” (HR. Bukhari no. 1782 dan Orang islam no. 1256).

Lalu, intern lafazh Muslim disebutkan,

فَإِنَّ عُمْرَةً فِيهِ تَعْدِلُ حَجَّةً

Artinya:

Umrah pada rembulan Ramadhan senilai dengan haji.”
(HR. Mukminat no. 1256)

Kemudian, dalam lafazh Bukhari yang lain disebutkan,

فَإِنَّ عُمْرَةً فِى رَمَضَانَ تَقْضِى حَجَّةً مَعِى

Artinya:

Sesungguhnya umrah di rembulan Ramadhan seperti berhaji bersamaku
” (HR. Bukhari no. 1863).

Kerumahtanggaan riwayat lain, Pendeta Nawawi

rahimahullah
 mengomong,

“Yang dimaksud yakni umrah Ramadhan mendapati pahala seperti pahala haji. Namun tak signifikan umrah Ramadhan sebanding dengan haji secara keseluruhan. Sehingga jika seseorang punya muatan haji, adv amat ia berumrah di wulan Ramadhan, maka umrah tersebut tidak bisa menggantikan haji tadi.” (Syarh Shahih Muslim, 9:2)

Siapa yang Mendapatkan Pahala Haji ketika umroh di bulan Ramadhan?

Para jamhur berbeda pendapat tentang mereka yang mendapatkan keutamaan yang disebutkan internal hadits tersebut, dalam tiga pendapat;

Pertama:
Bahwa hadits tersebut solo bagi wanita nan diajak bicara makanya Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Yang berpendapat semacam ini adalah Said bin Jubair dari galengan tabi’in. Dikutip oleh Bani Hajar dalam Fathul Bari (3/605)

Di antara dalil yang digunakan untuk pendapat ini adalah riwayat bermula Umma Ma’qal, dia berkata,

“Haji ialah pahala haji, umrah merupakan pahala umrah. Situasi ini disampaikan Rasulullah kepadaku, dan aku lain tahu apakah itu khusus lakukan aku alias buat insan-hamba allah secara umum.” (HR. Abu Daud, no. 1989. Namun saja sidang pengarang ini lemah, dilemahkan oleh Al-Albany intern Dhaif Abu Daud).

Kedua:
Keutamaan ini berlaku cak bagi orang yang sudah niat berhaji namun dia tak mampu, kemudian diganti dengan umrah di bulan Ramadan. Maka di sana berkumpul niat haji dengan menunaikan umrah dan pahalanya adalah pahala haji sempurna bersama Nabi shallallahu alaihi wa sallam.

Ibnu Rajab berfirman dalam Kitab Lathaiful Ma’arif, hal. 249,

“Ketahuilah, bahwa mana tahu yang tidak kuasa melakukan sebuah kebaikan, dulu dia menyayangkannya dan ingin mendapatkannya, maka sira sama pahalanya dengan cucu adam yang melakukannya… kemudian sira menyebutkan contohnya, di antaranya; Sebagian wanita tidak berselesa menunaikan haji bersama Utusan tuhan shallallahu alaihi wa sallam, maka ketika dia datang wanita tersebut bertanya apa yang dapat menggantikan haji tersebut.

Maka anda merenjeng lidah, “Lakukanlah umrah di bulan Ramadan, karena umrah di bulan Bulan pahala, sama denga menunaikan haji, atau haji bersamaku.”
Keadaan semaca itu juga disampaikan oleh Ibnu Katsir dalam kata tambahan 1/531.

Pendapat ini disebukan oleh Syaikhul Selam Ibnu Taimiyah bagaikan probabilitas demikian maksudnya dalam Majmu Fatawa (26/293-294)

Ketiga:
Pendapat para ulama internal empat mazhab dan yang lainnya, bahwa keutamaan n domestik hadits ini bersifat umum untuk barang siapa nan umrah di rembulan Bulan ampunan. Umrah di dalamnya sebagaimana haji bikin semua anak adam, tidak khusus bagi khalayak tertentu dalam kondisi tertentu. Lihat Raddul Mukhtar (2/473), Mawahibul Jalil (3/29), Al-Majmu (7/138), Al-Mughni (3/91), Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah (2/144).

Pendapat yang lebih dekat dengan kebenaran –wallahua’lam- adalah pendapat terakhir, yaitu bahwa keutamaannya bersifat awam bagi orang yang umrah di bulan Bulan pahala. Peristiwa tersebut dilandasi sebagai berikut;

  1. Terdapat hadits berpokok sejumlah shahabat, Tirmizi bertutur, “Dalam bab ini terdapat riwayat dari Ibnu Abbas, Jabir, Duli Hurairah, Anas dan Wahab bin Khanbasy. Dalam umumnya riwayat mereka tidak menyebutkan narasi penanya wanita tersebut.”

2. Amalan hamba allah sepanjang hari, baik dari kalangan shahabat, tabiin, jamhur dan shalihin, mereka tinggal mementingkan menunaikan umrah di bulan Ramadan bakal mendapatkan pahalanya.


Penjelasan Pahala Umrah sama begitu juga Ibadah Haji

Tidak diragukan lagi bahwa umrah di wulan Ramadan bukan boleh menggantikan muatan haji. Maksudnya, bahwa kelihatannya yang umrah di wulan Bulan puasa tidak menggugurkan kewajibannya bakal melaksanakan ibadah haji nan wajib karena Almalik Ta’ala.

Dengan demikian, maksud berpunca hadits tersebut yakni menyamakannya berusul sisi pahala, bukan berpangkal jihat kedudukan hukum.

Walaupun demikian, ekualitas yang dimaksud antara pahala umrah di rembulan Ramadan dan pahala haji adalah dari ukuran pahala, bukan dari variasi dan kwalitas, karena haji tidak diragukan lagi, bertambah indah berpangkal umrah dari sisi jenis amal.

Siapa yang umrah di bulan Bulan mulia, maka sira akan meraih seukuran pahala ibadah haji, semata-mata tetapi polah ibadah haji punya keutamaan-keutamaan, khasiat-keistimewaan dan kedudukan nan tidak terdapat dalam umrah, berupa doa di Arafah, melontar jumrah, menyembelih kurban dan lainnya.

Keduanya, meskipun sama kadar pahalanya dari arah kuntitas, maksudnya jumlahnya, akan tetapi tidak sekelas dari sebelah kualitasnya. Peristiwa ini seperti amalan tidak yang nilainya sama dengan ibadah haji, seperti pahala sholat isyraq/syuruq, menghadiri majelis hobatan di Zawiat, berbakti plong orang tua, sholat beramai-ramai di masjid, dan zikir sesudah sholat sebagai halnya pesan Rasulullah SAW dalam beberapa hadits. Wallaahu a’lam

Hidupkan jiwa berbagi dengan kurban di Dompet Dhuafa. Yuk, berani berkurban pula tanpa khawatir dengan harga terjangkau, pemesanan praktis, dan terpercaya hingga pelosok ibu pertiwi.
Berbarengan ketuk tautan ini, ya!


Zakat Sekarang

Source: https://zakat.or.id/haji-dan-umroh/

Posted by: gamadelic.com