Saling basmi, silih bakar sampai… ’sayang kamu semua’: Mantan armada anak asuh Selam dan Kristen Ambon

  • Endang Nurdin
  • BBC News Indonesia

Ronald Regang (kiri) dan Iskandar Slameth di Ambon.
Informasi rancangan,

Ronald Regang (kidal) dan Iskandar Slameth di Ambon.

Ratusan momongan

Islam dan Masehi

diperkirakan terlibat privat konflik paling berdarah Indonesia – Ambon- yang berusul sreg 1999, terkesan dalam arus sadisme dan kebengisan perang.


Peringatan: Artikel ini pintar unsur kekerasan

Membunuh dengan berbagai senjata, tengkuluk hingga senjata jago merah penemuan, membakar, mengebom, “tanpa rasa (bersalah) segala apa-apa” perumpamaan “mesin pembunuh”, ialah putaran hidup sehari-hari sebagian anak-anak berumur antara sembilan sampai belasan tahun saat itu, selama bertahun-tahun.

Kebencian membara atas logo agama – Selam, Masehi- takhlik kehidupan mereka terkepung di lokasi konflik, dengan doang satu tujuan “menyembelih setinggi-tingginya lawan iman.”

  • Kisah mantan tentara anak Ambon: Bermusuhan, bersekutu dan menjadi konsul damai
  • Inspirasi perdamaian bermula Ambon: ‘Ale rasa beta rasa yang sempat terkoyak’
  • Dilatih perang maka itu pengebom Bali, Amrozi, angkatan anak asuh itu terbuka matanya setelah mendengar kisah koteng ibu

Pusaran konflik yang begitu intern membawa mereka hanya pada dua sortiran: Dibunuh atau gorok.

Lewatkan Artikel-artikel nan direkomendasikan dan terus mengaji




Artikel-artikel yang direkomendasikan


Akhir dari Artikel-kata sandang nan direkomendasikan

Dua di antara mereka, Ronald Regang dan Iskandar Slameth, menceritakan avontur mereka, berada di ‘garis depan’ saat konflik dan perbangkangan berat menepis bara kedengkian dan trauma menghafaz orang-sosok nan mereka hapus dan kawan nan telah meninggal.

Pesiaran video,

Pelawatan mantan tentara anak Muslim dan Kristen Ambon, pecah musuh menjadi sahabat

Keduanya pernah membunuh dengan alasan membela agama dan komunitas per.

Keduanya pernah disulut kebencian asing biasa satu sama tak, setakat kemudian bertemu di satu ruangan, beberapa tahun setelah konflik mereda, dan menjadi sahabat.

Ronald Regang: “Jika waktu boleh diputar”

Keterangan tulang beragangan,

Ronald: Seandainya masa diputar, kita tak akan saling membantai takdirnya bisa berkomunikasi.

“Seandainya saya bisa mengembari mereka n kepunyaan jiwa… anak adam yang pernah saya binasakan… persekutuan dagang-kawan yang meninggal, seandainya waktu boleh diputar kembali,” prolog Ronald suatu malam di Ambon.

Ia lain berusaha mencegat air matanya. Ia tetapi mengusapnya.

  • Ketika artis Islam dan Kristen di satu panggung menjadi sesuatu nan ‘mewah’
  • Kisah pembentuk bom molotov yang mengidas merawat perdamaian di Maluku

“Ketua saya remai,” katanya beberapa kali menunjuk pembesar episode bokong saat berkisah tentang aksinya rani di garis depan kerumahtanggaan kerusuhan berpembawaan itu.

“Yang minimal membuat saya trauma itu… sosok-bani adam nan pergaulan saya bunuh, cahaya muka-muka mereka itu ada intern tidur dan mimpi saya… Tampang mereka seperti itu kental dalam perasaan saya,” katanya merunduk.

Pada tadinya tahun 2000, usianya baru start 10 tahun. Namun ia sudah dihadapkan kerumahtanggaan “kondisi mendebah atau dibunuh bikin bisa bertahan hidup.”

Wara-wara gambar,

Kami seperti plasenta sekarang, introduksi mereka empat mata.

Ronald tiba di bandar di Teluk Ambon di intiha 1999, hampir satu hari setelah konflik pecah pada 19 Januari 1999.

Momen itu konflik mutakadim menyebar ke Ternate, ajang tinggalnya bersama cucu adam berida serta kakak dan adik. Mereka senggang terpisah saat ibu dan adiknya mengungsi ke Manado terlebih dahulu dan kemudian ke Ambon. Ronald menyusul belakangan.

Kapal petro nan tiba di pelabuhan khusus Masehi ketika itu, langsung dirazia untuk “mengejar orang Muslim.”

“Yang paling saya ingat, tak suka-suka orang di sejauh jalan yang ada hanya kita, laskar tersendiri, isi di n domestik kondominium-rumah dikeluarkan di jalan-kronologi dibakar,” cerita Ronald mengingat kejadian hampir 20 tahun lalu itu.

  • Pater di iklan Amazon diminta promosikan kerukunan antaragama
  • Sinta Nuriyah, 17 tahun merawat kebhinekaan dengan sahur keliling

“Mayit-buntang ditumpuk… di kiri kanan, semuanya mayat. Sepanjang jalan bau amis, ada yang dibakar, ada nan membengkak, sepanjang kronologi,” tambahnya.

Seorang sepupu mengenalinya di pangkalan dan langsung mengajaknya cak bagi bergabung bersama anak asuh-anak lain yang malam itu “perdua mencelup wajah mereka”

“Saya tak dapat kemana-mana pula dan masuk ke wilayah pertempuran!”

Iskandar Slameth: “Ili dibantu pela (saudara) Kristen”

Idul Fitri, 19 Januari 1999. Sendiri pemuka masyarakat di salah satu permukiman Muslim Ambon, dipanah sebatas tewas.

Kepanikan terjadi di tengah perayaan lebaran saat itu.

“Siapkan senjata segala apa adanya, kita harus mempertahankan diri,” cerita Iskandar mengulang perintah ayahnya saat itu kepada anak-anak asuh lakinya. Iskandar berusia 13 waktu.

Keterangan kerangka,

Iskandar mengungsi bersama anak bini ke Hitu, lima bulan setelah konflik berpokok di Ambon lega Januari 1999.

Merasa tak aman di ibu daerah tingkat Maluku itu, ayah Iskandar mengakhirkan bikin kembali ke kampung, Hitu, yang terhitung menjadi basis bagi komunitas Muslim.

Namun perjalanan dengan mobil sejauh seputar suatu jam ini penuh risiko karena harus melewati “kurang lebih 60% sampai 70% kewedanan orang Serani,” kisah Iskandar. Tak terserah polisi maupun militer nan mau mendampingi mereka.

  • Sejumlah gereja mundurkan jadwal ibadah demi ‘dukung umat Muslim salat Idul Fitri’
  • Umat Buddha Indonesia penyokong terbesar pembangunan RS di Rakhine
  • Buka puasa di gereja, gerombolan teruna lintas agama Cirebon pelihara keluasan pikiran

Berwisata dirintangi palang, menandai pemisahan wilayah Serani dan Muslim.

“Saat menerobos kawasan Masehi, pela mama di depan dan mereka sejumlah ini saudara saya… ketika melewati wilayah Muslim, pela mama berada di pinggul,” tambahnya mengacu plong Pela Gandong, ikatan lawai perhubungan yang dibuat dengan suatu upacara dengan mereka yang sebenarnya tidak memiliki pertalian darah.

“Beruntung dia (pela Kristen) kita dapat sampai ke kampung.”

“Tembuni-saudara menjabat dengan Allahuakbar, karena mereka mengira kami sudah meninggal di Ambon,” tambahnya.

Membunuh atau dibunuh

Sahaja beberapa bulan di kampung, Iskandar kembali ke Ambon – tersulut emosi- sesudah mendengar kakaknya rantus pangkalan dan “hancur kakinya”.

Di sinilah, ia pertama barangkali membunuh, pasca- ada basyar nan menembaknya namun meleset.

“Saya menjagal atau dibunuh… terserah biram teriak… lihat di belakangmu suka-suka padanan. Saluk masih di tangan… Saya emosi luar biasa karena ditembak. Remai meski tak tembus tapi ngilu. Kamu mau potong saya, saya potong,” cerita Iskandar.

Keterangan gambar,

Iskandar di reruntuk-runtuhan rumah penghuni yang dibakar keseleo satu kelompok dalam pasukannya.

Badannya mumbung darah cucu adam yang ditusuknya. Situasi ini sempat membuatnya trauma.

“Saya mandi sebatas bersih, salat sunah menenangkan diri… Kebayang terus, periode dia berdarah…”

Perasaan saya seperti barang apa ya… tapi itu pilihan, saya menzabah atau saya dibunuh,” katanya menyergap emosi.

Embaran rang,

Keduanya banyak berkujut dalam kegiatan lintas agama.

Avontur selanjutnya selalu dengan bom dan senjata.

“Darah saya mendidih… Saya dididik dengar bom dan senjata tiap hari. Saya juga sudah bunuh manusia,” tambahnya.

“Kita cukup keji, (suka-suka daerah) yang kita bantai dalam satu hari.”

Ia tergabung intern Pasukan Jihad, sebutan kerjakan pasukan Muslim di Ambon. Saat konflik itu, katanya, terdapat dua keramaian lain, Tentara Jihad- nan datang dari asing Maluku- serta Mujahidin, kelompok dari luar Indonesia yang mendidik ideologi mereka yang bertempur.

Saling menaruh dendam rumit

“Selama perang terjadi, ada yang bersikap sirep, suka-suka nan lewat emosional dan ingin membunuh…. Saya koteng masuk dengan dendam, nan cukup kuat. Karena enggak embuk kandung saya saja yang kena bom. Plasenta sepupu ditembak mati di tempat, sepupu pecah ibu dipotong juga. Seandainya wicara kesumat, ari-ari saya banyak yang mati,” alas kata Iskandar lagi.

Sendang rangka,

AFP

Kabar gambar,

Tentara berjaga-didik pada 1 Mei 2004 di daerah Waringin, Ambon. Suasana saat itu masih erotis.

Lewati Podcast dan lanjutkan mendaras

Podcast

Penghabisan dari Podcast

Ronald n kepunyaan sikap serupa. Enggak lama setelah berkujut berbarengan di konflik, ia menjadi komandan Pasukan Agas, sebutan kerjakan tentara momongan Kristen, memelopori lebih dari 20 anak asuh-anak yang jadi milisi.

“Saat permulaan mana tahu mendabih, tidak ada rasa barang apa-apa, karena saat itu kerumahtanggaan pikiran saya dan keluarga saya di kampung sudah lalu dibantai dan saya ingin balas. Dan internal diri saya, saat masuk perang dan gorok orang enggak ada rasa segala apa-segala,” kisah Ronald.

“Sebelum turut ke medan pertempuran, kita selalu mengerjakan doa. Karena anggapan kita saat itu merupakan ini adalah perang suci, kita membela agama dan membela ajang suntuk kita,” introduksi Ronald.

“Kita cangap awali dengan wirid dan itu di gereja. Semua kumpul di dom: kita membagi kawan-serikat dagang, ada skuat pembakar, tim pembom, tim penembak dan tim pemangkas kita bagi-bikin cak bagi masuk (berbagai) wilayah.”

Sekitar 5.000 bani adam meninggal dan bertambah sepotong juta mengungsi dalam konflik sektarian dengan rahasia di Ambon dan menyebar ke sebagian osean kepulauan Maluku.

Keterangan rencana,

Inilah salah satu lokasi pembantaian, kisah Ronald.

Detik konflik berangkat mereda, sejak perjanjian Malino yang dicapai pada 2002, para mantan tentara anak Ambon ini masih terkungkung bara kegeraman, dihantui manusia-orang yang mereka bunuh, terbelut dalam trauma dan guncangan jiwa sungguh-sungguh, menurut pendeta serta ustad pendamping mereka.

Ronald mengatakan engkau baru berhenti memanggul senjata pada 2004, tahun detik ia didatangi Jacky Manuputty, pendeta yang diminta mencari anak-momongan alamat konflik di Indonesia makanya badan kanak-kanak PBB UNICEF bagi dipertemukan di Yogyakarta.

Bakar kebencian

Perjalanan ke luar Maluku ini mengawali pertukaran Ronald.

“Ronald boncel momen itu melihat ada dunia lain, ada gedung-bangunan tinggi,” katanya tersenyum dengan ain berbinar.

“Dari tasik saya mulai berubah, saya berpatut beberapa khalayak, termaktub psikolog semenjak Jakarta. Sebelumnya, sekiranya keluar berbunga Maluku, hanya sampai Manado dan itupun saat mengungsi.”

Sumber gambar,

AFP

Keterangan gambar,

Legiun Jihad di kacamata Ternate pada 22 Februari 2000.

Beliau mulai mengikuti berbagai ragam kegiatan melalui Lembaga Antar Iman, yang dibentuk pendeta Jacky dan ustad Abidin Wakano.

Provisional Iskandar mengatakan engkau terjebak dalam dunia gelap lainnya, narkoba.

“Perjalanan kita sahaja di daerah Muslim, stres… lain netral. Kita kronologi situ juga-tasik lagi. Bisa ke sebelah, tapi ada rasa tegak, saya dibunuh
ng
gak?

“Onal hanya bilang kita paling sayang beliau semua”

Kewegahan dan rasa agak kelam bagi bertumbuk dengan warga Masehi menciptakan menjadikan Iskandar keteter untuk hadir ke salah suatu acara perdamaian,
Young Ambassador for Peace, pada 2006.

“Detik tahu mereka terbit jihad mini, kami sudah hampir bunuh-bunuhan,” kata Ronald mengacu puas kelompok Iskandar.

“Kami kumpul dengan teman Muslim dan menyusun kebijakan sekiranya terjadi apa-segala apa,” pungkas Iskandar dalam wawansabda terpisah.

Selama lebih satu ahad mereka berada di tumpangan dan baru pada hari ketiga kondisi menginjak cair, pungkasnya.

“Kita catat rasa benci, rasa dendam (di atas kertas)… Saya tulis saya paling benci selaras Kristen, karena kakak saya hancur kakinya, sepupu saya mati. Lalu saya bakar semua (coretan itu),” cerita Iskandar penuh emosi.

Ronald mengungkap kebencian yang sama. “Saya katakan kalau manusia Muslim itu tebal hati, memenggal kita punya basyar.”

Warta susuk,

Ronald dan Iskandar: Jikalau ada barang apa-segala apa dengan Is, saya yang maju demikian lagi sebaliknya.

“Padahal kawan Muslim juga menceritakan peristiwa yang sama. Kita bercerita isu orang Kristen berkecukupan gini…. Lo mengapa isunya sederajat… kita setara-sama bukan ada nan tahu.”

Persuaan ini menjadi bintik balik berikutnya bagi kedua putra Maluku ini.

“Onal (Ronald) yang membuat kita semua benar-ter-hormat nangis…. Suasana hening, suka-suka lilin,” cerita Iskandar.

“Onal tak banyak bicara… Onal hanya bisa bangkit dan bilang… Kamu bilang kita minimum sayang engkau semua,” tambahnya.

“Lebur telah… nangis semua. Kita semua basudara (bersaudara),” prolog Iskandar juga. Lengannya merangkul mengingat persuaan mereka sekitar 12 periode suntuk.

“Semua peluk erat, mulai musim ini sampai di mana pun kita saudara. Kamu mau memencilkan ke mana, bilang, beta akan di depan anda,” kenangnya.

“Saya merasa puas”

“Kita sejauh ini bergumul, tapi kita enggak tahu perang ini akan ke mana. Selama ini kita belaka melihat orang dengan ain sebelah. Kalau dengan mata dua atau ada dengan komunikasi, tentu tak ada kerusuhan maupun kita tidak saling musnahkan,” prolog Ronald lagi.

Sejak pertemuan itu mereka saling mengundang untuk bertandang ke daerah masing-masing.

“Memadai saya menginjakkan kaki di daerah Serani, saya merasa plong. Ini namanya bebas. Balik ke kondominium dalam kejadian baik-baik,” kata Iskandar.

“Kita berkomitmen kerjakan makara duta damai diri sendiri dan orang-orang di samping kita.”

“Kita keluar dari situ dengan penuh kesenangan. Suatu kampung Serani misalnya… yang dulu habis dalam satu hari… Mereka mempunyai perseteruan terhadap saya… Hanya saya ke sana menjauhi makan ikan bakar ramai-gempita.”

“Sesudah itu, kita melangkah: ada saudara di sini, di sana. Tak memiliki rasa berdiri lagi…Tak suka-suka lagi, amnesti…,” kata Iskandar.

Artikel ini yaitu bagian permulaan bermula bilang gubahan tentang narasi mantan tentara anak asuh Ambon.

Produksi visual oleh Haryo Gagah perkasa.

(Cerita Ronald Regang yang ditulis Jacky Manuputty termasuk salah satu narasi internal ki akal ‘Keluar Dari Ekstremisme, Delapan Kisah Hijrah berpunca Kekerasan Menentang Binadamai yang diluncurkan pada 27 Februari 201
8. Saat ini Jacky ialah kepercayaan Utusan Unik Kepala negara lakukan Dialog dan Kerjasama Antariman dan Antarperadaban.)

Artikel ini merupakan bagian dari Programa BBC #MelintasiPerbedaan #CrossingDivides

Crossing Divides: Berbagai cerita tentang bagaimana orang berinteraksi n domestik dunia yang terpolarisasi.