Rumah Kenyataan, kisah di balik pembongkaran, dan impian membangun ‘flat tiruannya’

  • Heyder Affan
  • Koresponden BBC News Indonesia

Rumah Proklamasi

Mata air buram,

IPPHOS/Arsip Bambang Eryudhawan

Keterangan gambar,

Setelah membacakan teks Proklamasi, 17 Agustus 1945, di teras rumahnya di Jalan Pegangsaan Timur 56, Bung Karno memekikkan slang “merdeka!” di hadapan massa di hadapannya.

Kedahagaan membangun sekali lagi rumah Bung Karno — lokasi pembacaan teks Embaran 17 Agustus 1945 di Jalan Pegangsaan Timur 56, Jakarta, yang dirobohkan pada awal 1960an — sudah ditandai penggalian fondasinya, sahaja cak kenapa setakat kini rumpil merealisasikannya?

Tahukah Engkau di mana Bung Karno dan Bung Hatta membacakan teks deklarasi otonomi Indonesia, 17 Agustus 1945?

Jawabannya: Di teras depan rumahnya di Jalan Pegangsaan Timur nomor 56, Jakarta.

Sekadar bangunan apartemen bersejarah itu sudah lama rata dengan tanah, sehabis Sukarno sendiri memerintahkan agar rumahnya dirobohkan — keputusan yang ditangisi para saksi sejarah dan sebagian ahli sejarah.

Kok Bung Karno membongkar rumah nan anda tempati selama empat waktu sejak penyerobotan Jepang di tahun 1942?

Lewatkan Artikel-artikel yang direkomendasikan dan terus mendaras




Kata sandang-artikel yang direkomendasikan


Akhir dari Kata sandang-artikel yang direkomendasikan

Dan kenapa keinginan untuk membangun kembali apartemen yang disebut sebagai ‘titik zero Republik Indonesia’ — fon peralihan berusul negara terjajah menjadi merdeka — itu tak pun terealisasi sampai waktu ini, biar tahu digali fondasinya?

Kondominium Informasi di alat penglihatan koteng bocah…

Suatu hari di tadinya 1950an, ketika usianya sekitar okta- atau sembilan tahun, Rushdy Hoesein diajak ayahnya masuk ke rumah Bung Karno.

Rumah itu habis terletak di Urut-urutan Pegangsaan Timur nomor 56, Jakarta — kini Jalan Embaran.

  • Alex dan Frans Mendur: foto-foto Manifesto nan ‘masih tersisa’
  • Singgah ke rumah ‘penculikan’ Sukarno-Hatta di Rengasdengklok
  • Pises RI: Boleh jadi Laksamana Maeda, perwira Jepang yang disebut bermain intern proklamasi kemerdekaan Indonesia?

Di teras rumah itulah, ketika Rushdy berusia dua bulan, Bung Karno dan Bung Hatta membacakan bacaan pengumuman pada 17 Agustus 1945.

Makin dari 65 tahun kemudian, Rusdhy — kini dikenal sebagai sejarawan — masih ingat seperti barang apa suasana di intern konstruksi kuno itu.

Sumber rancangan,

Piagam Bambang Eryudhawan

Amanat gambar,

Apartemen milik Bung Karno yang menjadi lokasi pembacaan teks Manifesto 17 Agustus 1945. Foto diabadikan lega 1957.

“Ada piano tua, ada meja bersantap di depan kamar Bung Karno,” ungkap pria kelahiran 4 Juni 1945 ini kepada BBC News Indonesia. “Rumahnya bersih.”

Pelataran depannya luas dihampari rumput dan menggermang lagi tugu berukuran kecil di salah-satu sudutnya.

Ketika itu Kepala negara Sukarno dan keluarganya sudah sangat di Istana Merdeka, Jakarta. Namun masyarakat dibolehkan untuk mengunjungi rumah yang dahulunya milik orang Belanda itu.

Privat kunjungan itu, sang ayah — “beliau masuk berjuang dalam revolusi”, katanya — mengekalkan sebuah narasi terdepan pada benak sang bocah.

“Inilah, nak,” Rushdy mengimak suara ayahnya,” martir antap bersumber amanat.”

Sumber gambar,

Arsip Bambang Eryudhawan

Keterangan bentuk,

Salah-suatu ki perspektif di internal rumah milik Bung Karno di Perkembangan Pegangsaan Timur (sekarang Jalan Proklamasi) pada 1961, menjelang dibongkar.

Prolog-kata itu, rupanya, menetap dan terjatuh lega bocah itu.

Tubin camar duka sentimental bersama ayahnya ini ikut mengungkit kesadaran Rushdy terhadap kredit penting keberadaan bangunan flat yang nantinya disebut sebagai ‘bintik nol Republik Indonesia’ ini.

Ketika beliau tumbuh dewasa, dan tertarik bumi sejarah dan menggelutinya secara total, Rushdy disebut nan meleleh paling depan untuk melanjutkan impian semoga rumah Bung Karno itu dibangun pula, sehabis dibongkar pada awal 1960an — atas perintah pemiliknya sendiri, Sukarno.

Mengapa Sukarno membongkar rumahnya koteng?

Di suatu siang, awal Februari lalu, saya mendatangi tempat rumah kepunyaan Bung Karno di lokasi yang kini disebut Taman Proklamasi, Jakarta, tidak jauh bermula sinema Megaria dan Stasiun Cikini, Jakarta Pokok.

Mata air gambar,

IPPHOS/Arsip Bambang Eryudhawan

Keterangan tulangtulangan,

Bung Karno membacakan teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia di teras depan rumahnya, 17 Agustus 1945.

Seraya melangkah, saya memperkirakan bagaimana tulangtulangan bangunan bersejarah itu — n domestik manah kita, gambaran yang majuh terlintas merupakan foto rang karya jurnalis IPPHOS (Indonesia Press Photo Service) pada buku-siasat album ketika dua orang proklamator berdiri di teras flat dan membacakan naskah penting tersebut.

Di dalam areal itu, selingkung 15 meter di sebelah kiri saya, berdiri monumen arca Sukarno-Hatta — dibangun sreg awal 1980an oleh Kepala negara Suharto — setinggi sekitar tiga meter.

Tak jauh dari sana, masih di dalam kompleks Yojana Mualamat, berdiri tugu peringatan satu tahun Amanat yang berformat kecil.

Sumur gambar,

BBC News Indonesia

Permakluman gambar,

Di dalam areal itu, sekitar 15 meter di sebelah kiri saya, berdiri monumen arca Sukarno-Hatta — dibangun sreg tadinya 1980an oleh Kepala negara Suharto — setinggi selingkung tiga meter.

Adapun Gedung Pola — dibangun semula 1960an, sebuah bangunan nan awalnya disiapkan Presiden Sukarno sebagai medan menanak perencanaan pembangunan Indonesia ke depan — masih berdiri tegak di putaran pinggul taman.

Informasi di mana letak persis teras palagan bacaan Makrifat dibacakan, terbaca pada tulisan pada lempengan logam yang ditempel di tugu ‘petir’ — di atas tugu itu ada stempel petir.

“Di sinilah dibatjakan warta kemerdekaan Indonesia…” begitulah garitan pada paisan yang ditempel di bagian bawah papan tersebut.

Sebatas di sini sepertinya sudah seri-benderang, yaitu apartemen Bung Karno itu sudah tak berbentuk alias rata dengan persil. Tapi ada cak bertanya terdepan lainnya: mengapa Sukarno memerintahkan kondominium itu dibongkar? Segala apa alasannya?

Perigi buram,

BBC News Indonesia

Siaran rajah,

Manifesto di mana letak persisnya teras wadah pustaka Proklamasi dibacakan, terbaca sreg tulisan pada lempengan logam yang ditempel di tugu ‘petir’ — di atas tugu itu ada merek petir.

“Semuanya masih keunggulan cak bertanya raksasa, mirakel, kenapa Bung Karno membongkarnya,” ungkap Rushdy Hoesein, sejarawan, yang semenjak awal 1990 terus meneliti keberadaan kondominium Proklamasi.

“Mutakadim saya cari dari ujung ke ujung, setakat akibatnya kami bukan mendapatkan gambaran yang jelas,” tambah Rushdy, yang dikenal lagi andai pengurus Yayasan Bung Karno.

Dihubungi secara terpisah, Candrian Attahiyat, arkeolog dan keseleo-sendiri skuat pandai cagar budaya DKI Jakarta, menanggung pula hubungan menanyakan hal itu kepada beberapa “syahid sejarah”.

Tapi, “mereka juga lain bisa menjelaskan [alasan pembongkaran], mereka tidak dapat menerimakan komentar,” ungkap Candrian kepada BBC News Indonesia, akhir Januari silam.

Sumber gambar,

Alex Bowie/Getty Images

Kenyataan buram,

Dewi Sukarno, keseleo-seorang ibu negara Sukarno, dan anaknya Kartika Sukarno, saat mengunjungi Monumen Proklamasi, Jakarta, 2 Agustus 1982.

Pada periode 2000, Candrian menjabat ketua memberahikan penelitian di Dinas Kebudayaan dan Permuseuman DKI Jakarta. Momen itu Candrian dan instansinya mengerjakan penekanan apartemen Takrif apakah teristiadat dibangun ulang alias tidak.

“Nan muncul kemudian, interpretasi orang-individu nan palsu, sehingga tak bisa dipegang, karena mereka tidak mempunyai buktinya [cak kenapa dibongkar],” jelasnya.

Anda ikatan mengepas menanyakan hal yang setara pada bungsu Presiden Sukarno, Guruh, namun jawabannya sama. “Saya
nggak
tahu, saya masih katai,” prolog Guruh, seperti ditirukan Candrian.

Rumah Proklamasi dibongkar karena dibangun Gedung Ideal?

Enggak cak semau keterangan tunggal di kencong alasan pembongkaran flat Proklamasi, hanya diperkirakan keadaan itu terjadi karena Sukarno memutuskan untuk membangun Gedung Pola di bagian belakang situs bersejarah itu di semula 1960an.

Arsitek yang peduli sejarah, Bambang Eryudhawan, memperkirakan Sukarno “mengorbankan” rumahnya koteng untuk membangun Konstruksi Pola yang disiapkan sebagai lokasi pameran rencana pembangunan yang digagasnya.

Perigi gambar,

BBC News Indonesia

Kenyataan gambar,

Sukarno “mengorbankan” rumahnya sendiri untuk membangun Gedung Teladan yang disiapkan andai lokasi pameran rencana pembangunan nan digagasnya. Belakangan namanya diubah menjadi Gedung Perintis Independensi.

“Di pikiran saya, kalau berusaha memahami Bung Karno, itu istilahnya kayak tolak bala [bakal dijadikan Gedung Pola],” pembukaan Bambang Eryudhawan, yang bersama Yayasan Bung Karno, pernah terlibat dalam proses perencanaan penataan ulang Yojana Pesiaran, sekitar 2022.

Senada dengan Eryudhawan, sejarawan Rusdhy Hoesein pun memiliki perkiraan yang sekufu bahwa Bung Karno membongkar rumahnya karena berada di wajah Gedung Pola.

“Karena menganggu pandangan berpunca depan, maka [rumahnya] dibongkar,” ujarnya, menganalisa.

Jiwa Proklamasi dipindahkan ke Monas

Lega akhir 1950an, demikian analisa Eryudhawan, Presiden Sukarno baru semata-mata melakukan pertualangan ke mancanegara, dan sira melihat sekaligus berjenis-jenis bangunan besar-besaran di negara AS, India, Eropa dan Filipina.

“Di India, dia dibawa (Patih Menteri India detik itu) Nehru ke gedung parlemen di Delhi… Terus dia melihat peninggalan Mugal, mulai Agra sampai Tajmahal… Di Filipina, melihat Istana Malacanang nan bagus,” ujar Eryudhawan. Hal serupa juga dia saksikan di AS dan negara-negara Eropa.

Saat kembali ke Indonesia, Sukarno dianggapnya nanang “cak kenapa Jakarta
nggak
OK?”

Sendang bentuk,

Getty Images

Keterangan kerangka,

Kepala negara Sukarno bertemu warga Ii kabupaten Bern, Swiss, privat kunjungannya ke sejumlah negara Eropa, 1956.

Jadi, “ada perspektif baru Bung Karno, bahwa inilah saatnya membangun Jakarta, termasuk rumahnya sendiri,” pembukaan Eryudhawan. Teradat diketahui Sukarno yakni berlatar arsitek, katanya.

Berusul pijakan inilah, menurutnya, Sukarno kemudian memindahkan semangat Embaran Kemerdekaan ke Monumen Nasional (Monas).

“Simbol itu dipindahkan, mirip nan dilakukan AS. Walaupun kemerdekaannya di Philadelpia, tapi pusat [simbol] kemerdekaannya dipindahkan ke Washington,” paparnya.

Menurutnya, pikiran Bung Karno berkembang, karena ia bukanlah tipe statis alias baku.

Perigi gambar,

Antara

Publikasi bagan,

Pengibaran kalimantang difoto dari sudut farik. Bagian mulai sejak Pameran Fotografi karya Mendur Bersaudara & Indonesian Press Photo Service (IPPHOS) di Galeri Foto Jurnalistik Antara plong Agustus 2022.

“Sampai-sampai dia pragmatis, lagi progresif, dan anda hubungan bilang ‘kita itu bangsa membongkar dan membangun'”, ujar Eryudhawan, menganalisa.

Tentang soal kenapa Bangunan Eksemplar — dirancang oleh Friedrich Silaban (1912-1984) — harus dibangun di areal tanah rumahnya, Eryudhawan memperkirakan momen itu tidak gampang bagi pemerintah Indonesia untuk membebaskan lahan.

“Pembebasan kapling saat itu bukan gampang, tambahan pula kerjakan keperluan Mujur Games 1962, negara [saat itu] menggunakan UU Provisional Perang,” jelasnya.

‘Apakah ia cak hendak memamerkan celana kolorku?’

Di suatu seminar di Jakarta lega 2008 tentang wacana pembangunan kembali rumah proklamasi, nan saya hadiri, bermunculan bineka asumsi di balik pembongkarannya — selain ‘teori’ dikorbankan untuk pembangunan Gedung Transendental, itu tadi.

Sreg semula 1960an, saat Sukarno mengemudiankan akan membongkar rumahnya, masyarakat kemudian berdebat ketika beritanya muncul di media massa.

“Berita itu,” demikian menurut makalah yang dibuat oleh Komite Pembangunan Rumah Proklamasi dalam seminar itu, “muncul secara ekstrem di berbagai koran ibu ii kabupaten.”

Henk Ngantung, penasihat Gubernur DKI Jakarta saat itu, dilaporkan merasa prihatin terhadap gambar itu. Dia lantas menemui Presiden Sukarno dan membujuk agar membatalkan rencana itu.

Mata air gambar,

AFP

Keterangan buram,

Kepala negara Sukarno dan salah-seorang istrinya, Hartini, di Istana Bogor, Februari 1966.

Namun bujukan itu lain kuasa meluruhkan lever Sukarno. “Apakah dia juga tercatat mereka nan mau memamerkan lancingan kolorku?” tanya Bung Karno di hadapan Henk Ngantung, seperti mana dikutip Alwi Shahab (almarhum), wartawan senior, saat itu.

Rusdhy Hoesein mengaku pernah mendaras kutipan pernyataan Bung Karno itu. “[Kutipan] ini belum tentu benar, tapi Bung Karno dikatakan agak meresan.” Belum jelas maksud bermula pernyataan Sukarno tersebut.

‘Teori’ lainnya menyebutkan bahwa kondominium Informasi — yang mulai ditempati pada 1942 sebatas semula 1946 — dibongkar, karena apartemen itu asosiasi dijadikan kantor maka dari itu Mangkubumi Menteri Sutan Sjahrir.

Sutan Sjahrir, seperti mana diketahui, nantinya menjadi salah-satu pasangan politik Sukarno. Partai Sosialis Indonesia (PSI) nan dipimpin Sjahrir dibubarkan karena riuk-koteng pimpinannya dianggap terlibat pemberontakan PRRI di Sumatera.

Perigi gambar,

BBC News Indonesia

Pengumuman gambar,

Tugu Peringatan Suatu Tahun Proklamasi (tengah, berbentuk pensil) pernah diresmikan sreg 17 Agustus 1946, namun dibongkar puas 1960an, dan didirikan tiruannya di Taman Maklumat.

Premis ini kemudian dikaitkan dengan eksistensi Tugu peringatan satu masa Pemberitahuan Kemerdekaan — berbentuk pensil — yang diresmikan maka dari itu Bendahara Menteri Sutan Sjahrir lega 17 Agustus 1946.

Belakangan tugu ini dibongkar, dan beberapa proklamasi menyebutkan hal itu dilakukan karena tugu itu identik dengan Sjahrir dan Perjanjian Linggarjati. Para syahid ki kenangan membangkang asumsi tersebut.

Ahli sejarah Rushdy Hoesein termasuk yang meragukan ‘teori’ pembongkaran apartemen Proklamasi dengan dikaitkan perseteruan politik Sukarno-Sjahrir. “Tidak serupa itu,” katanya.

Sendang buram,

Arsip Bambang Eryudhawan

Butir-butir gambar,

Bendahara Menteri (PM) Sutan Sjahrir perikatan menempati rumah milik Bung Karno di Jalan Pegangsaan Timur no 56, Jakarta.

Selepas Sukarno tergusur dari kekuasaan, tugu itu dibangun tiruannya pada 1972, tetapi bukan di lokasi awalnya.

‘Apartemen Proklamasi perlu dibangun kembali’

Sejarah mengingat-ingat, upaya membujuk Sukarno agar membatalkan pembongkaran rumahnya, gagal total. Apartemen kuno itu, akhirnya, rata dengan persil — melongok wujud berwujud Monumen Deklarasi dan Konstruksi Pola.

Namun demikian, seperti yang terungkap intern seminar pada Agustus 2008 di Jakarta, nan disponsori Biro Dinas Kebudayaan dan Permuseuman DKI Jakarta, Bung Karno dilaporkan lain keberatan kalau satu saat kondominium itu dibangun lagi.

“Untuk keperluan itu, Gubernur (DKI Jakarta) Henk Ngantung menugaskan beberapa stafnya untuk membuat maket, foto-foto, dan menggudangkan sejumlah perabot rumah tangga hendaknya dikemudian hari dapat dipergunakan secara semestinya,” alas kata Rushdy Hoesein kepada saya di sela-sela seminar itu.

Perigi rang,

Keystone/Getty Images

Takrif gambar,

Di rumah miliknya di Jalan Pegangsaan Timur 56, Jakarta, Presiden Sukarno mengenalkan kabinet pertamanya plong juru berita asing, Oktober 1945.

Rushdy, yang pernah dilibatkan dalam upaya merekonstruksi kondominium Bung Karno, kemudian menunjukkan kepada saya sebuah sahifah sendi yang isinya maujud disain dua dimensi flat itu, berikut foto-fotonya.

Dengan bersemangat, Rusdhy bercerita betapa rumah itu historis. “(Rumah itu) bekas tinggal Bung Karno; tempat pembacaan naskah mualamat; (arena) musyawarah dengan Belanda zaman (Bendahara Menteri) Sutan Sjahrir sebatas perundingan Linggarjati (1947).

“Dan tahun 1949, tempat langkah pengakuan kemandirian rakyat (oleh Belanda). Kemudian tahun 1957, suka-suka musyawarah besar, di mana Bung Hatta tak lagi menjadi wapres, dan awam menunangi agar dwi tunggal terdidik kembali,” papar Rushdy kala itu.

Cangkang Harto: ‘Yang bongkar saja [Sukarno] enggak setuju…’

Rupanya ide seperti mana ini persaudaraan diupayakan sekian hari dahulu, tetapi juga gagal.

Di masa Presiden Soeharto berwajib, kira-kira awal 1980, perpautan suka-suka ide buat membangun kembali rumah itu. Saat itu, perkenalan awal Rushdy, sejarawan, toko masyarakat, serta saksi album meminta agar Presiden Soeharto membangun juga flat tersebut.

Sumber gambar,

Mike Fiala/Getty Images

Keterangan susuk,

“Pak Harto mengatakan, ‘Nan mbongkar saja [Sukarno] enggak seia… Nah kita akan mengenang kamu… Saya akan bangun reca proklamator yang gede’,” ungkap Rushdy menirukan pernyataan Presiden Suharto.

“Pak Harto mengatakan, ‘Yang
mbongkar
semata-mata [Sukarno]
nggak
setuju… Sudahlah kita akan mengenang beliau… Saya akan bangun patung proklamator yang
gede‘,” ungkap Rushdy mengikuti pernyataan Presiden Soeharto.

Monumen Pemberitaan memang hasilnya berdiri (lain persis di lokasi Sukarno membacakan pustaka pengumuman), tapi keinginan membangun apartemen proklamasi tetap terus tunu.

Menggurdi fondasi Apartemen Proklamasi

Lalu selepas Soeharto roboh dari kekuasaannya, sejumlah ahli sejarah, pemerhati sejarah dan disokong pihak permuseuman Jakarta, kembali mengkampanyekan agar bestelan rekonstruksi rumah proklamasi dihidupkan juga.

Pada tahun 2000, Biro Kebudayaan dan Permuseuman DKI Jakarta menindaklanjuti kerinduan mahajana itu dengan melakukan pengkajian Rumah Bung Karno di Pegangsaan Timur, Jakarta.

“Dikaji apakah bisa dibangun ulang atau tidak,” ungkap Candrian Attahiyat, arkeolog dan anggota cak regu ahli agunan budaya DKI Jakarta, kepada BBC News Indonesia, akhir Januari lalu. Candrian momen itu berposisi sebagai kepala merangsang studi di instansi tersebut.

Pelecok-satu bagian bersumber pengkajian itu adalah mengamalkan penggalian di salah-suatu tesmak fondasi bekas flat wara-wara. “Secara fisik saya melihat fondasi itu,” katanya.

Sumber gambar,

BBC News Indonesia

Keterangan rang,

“Sepatutnya kelak apabila memang ada prospek dibangun ulang atau memang diperlihatkan fondasinya, itu bisa dibuka kembali,” jelas Candrian Attahiyat, arkeolog, yang terkebat pengkhususan flat Pesiaran.

“Jadi, belakang hari ki perspektif [fondasi] itu boleh direkayasa andai bagian dari bentuk atlas secara menyeluruh,” paparnya.

Salah-satu ki perspektif fondasi yang digali merupakan di bokong tugu petir yang diyakini perumpamaan lokasi persis referensi proklamasi dibacakan.

Kemudian Candrian dan timnya memberi penanda konkret pancang di atas fondasi yang kemudian ditutup kembali.

“Agar kelak apabila memang cak semau kebolehjadian dibangun ulang atau memang diperlihatkan fondasinya, itu dapat dibuka pula,” jelas Candrian.

Penggalian bilang sudut fondasi gedung rumah Bung Karno juga disaksikan sejarawan Rushdy Hoesein.

Sumber tulang beragangan,

Getty Images

Pemberitahuan rangka,

Bung Karno, Bung Hatta dan beberapa anggota Kabinet Pertama di riuk-suatu kolom rumah Makrifat, Oktober 1945.

“Jika tidak salah, masih ada septitanknya,” akunya — Rushdy suntuk secarik berkelakar menambahkan jika ada penelitian di sana, mungkin saja ditemukan “hajat biologis” Sukarno.”

Mengapa ada perbedaan pendapat sejarawan dan tukang arkeologi?

Setelah penggalian fondasi itu, menurut Rusdhy, ide pembangunam kondominium itu kembali mengemuka, dan tampaknya berlanjut sungguh-sungguh — dilihat dari kaca netra saat itu, tentu namun.

Melangkaui ura-ura panjang, setakat kira-kira waktu 2005, mereka telah setakat pada suatu titik, yaitu membangun kembali kondominium itu semirip mungkin dengan aslinya — dan akan dijadikan musium proklamasi.

Bahkan saat itu sudah dibentuk Komite Pembangunan Rumah Proklamasi, yang disebutkan melibatkan kalangan profesional — mulai arsitek yang berpengalaman internal proteksi gedung bersejarah, serta sejarawan.

Rushdy Hoesein, salah-seorang anggota komite tersebut, mengatakan saat itu kerja panitia sangat serius, saja antaran impian ini tak berjalan.

Sumber gambar,

Wikipedia

Laporan gambar,

Sebagai sejarawan, Rushdy memilih untuk membangun kembali rumah tersebut di lokasi aslinya. “Yang kami inginkan rumah itu betul-betul andai monumen yang bersejarah, seperti sebelum dibongkar,” katanya.

Menurutnya, selain kendala dana dan keburukan politik, penyebab lainnya yaitu perang pena tajam antara kalangan sejarawan dan arkeolog tentang pendirian merekonstruksi kondominium itu.

Rusdhy kemudian menyebut nama sendiri arkeolog senior, Profesor Mundardjito, yang disebutnya paling kecil kritis mempersoalkan proyek itu.

“Paket Mundardjito bilang, etikanya kalau kondominium itu mutakadim menjadi sisa bangunan, enggak bisa dibangun lagi,” kata Rusdhy penutup Januari lalu.

Seumpama sejarawan, Rushdy memintal untuk membangun kembali rumah tersebut di lokasi aslinya.

“Yang kami inginkan rumah itu betul-betul ibarat monumen nan bersejarah, seperti mana sebelum dibongkar.

Sumber rancangan,

Getty Images

Keterangan rang,

Kepala negara Sukarno di salah-satu ruangan rumahnya di Urut-urutan Pegangsaan Timur 56, Jakarta, pada 1945.

“Jadi, kalau di muka rumah proklamasi [yang dibangun ulang], ada kesan ‘walah, itu rumah yang terlampau dipakai untuk proklamasi’,” paparnya.

Apabila menuruti saran arkeolog, Rushdy khawatir “nilai perjuangannya tidak ada”.

Perbedaan kaidah pandang ini, demikian Rushdy, menyebabkan bilang pertemuan di antara mereka diwarnai “bersitegang leher”.

Dihubungi secara terpisah, arkeolog yang juga anggota tim pandai cagar budaya DKI Jakarta, Candrian Attahiyat mengakuri ada perbedaan antara arkeolog dan sejarawan.

Candrian sependapat dengan si arkeolog senior, Mundardjito. “Alasannya otentisitas,” akunya.

Sendang rang,

Antara

Keterangan gambar,

Lagu Indonesia Raya berkumandang. Bagian pecah Pameran Fotografi karya Mendur Berfamili & Indonesian Press Photo Service (IPPHOS) di Galeri Foto Jurnalistik Antara pada Agustus 2022.

“Takdirnya dibangun ulang, berarti itu sebuah data yang bukan asli pula,” ujarnya saat dihubungi BBC News Indonesia. Engkau satu bahasa dengan Mundardjito mudah-mudahan “memperlihatkan saja fondasinya.”

Arkeolog: ‘Jika mau dibangun, jangan di atas fondasi aslinya’

Pada pertengahan September 2008 silam, saya merodong Profesor Mundardjito di kediamannya, dan ternyata sikapnya bukan berubah.

“Biarkan sisa fondasi bangunan yang ada, jangan didirikan gedung di atasnya!” kata Mundardjito, yang dulu pernah berperan intern pembangunan juga Candi Borobudur.

Kamu mengusulkan, mudah-mudahan fondasi lulusan gedung itu digali dan diungkap, dan dikonservasi sedemikian rupa.

“Kaprikornus, nanti biarlah individu memaklumi begitu juga inilah kar gedung yang keteter apa-adanya. Namun mahajana kembali harus diberitahu, bahwa flat ini dulu dibongkar, nan mungkin atas inisiatif Bung Karno sendiri,” jelasnya saat itu.

Sumber gambar,

BBC News Indonesia

Keterangan tulang beragangan,

“Buat saja model (rumah)dalam rancangan miniatur, maupun sebesar aslinya, itu mari. Tapi tolong jangan di atas lokasi nan lama. Itu sangat ditentang arkoelog, karena itu tidak nirmala,” kata arkeolog senior, Mundardjito.

Seandainya ingin membangun rumah seperti aslinya, Mundardjito mensyurkan, “warga harus konstan diberitahu, bahwa ini bukan gedung aslinya, tapi kira-kira seperti inilah bentuknya,” tandasnya.

Dan, menurutnya, bangunan tiruan ini jangan dibangun di atas fondasi aslinya.

“Jangan dibangun di tasik (fondasi yang lama), tapi di luar itu,” prolog Mundardjito, serius. Dia menambahkan, “Untuk saja lengkap (apartemen)dalam bentuk miniatur, atau sebesar aslinya, itu silakan. Tapi sokong jangan di atas lokasi yang lama. Itu sangat ditentang arkoelog, karena itu tidak asli.”

Kemauan Mundardjito ini anti dengan karsa orang-orang yang ingin mendirikan rumah baru di atas fondasi asli tersebut, begitu juga nan terekam dalam diskusi pada 2008 silam.

Tetap belum suka-suka noktah temu

Seorang pemerhati memori mengatakan, pembangunan rumah Sukarno adalah untuk kepentingan lebih luas.

Para pendukung ide pembangunan kembali rumah Pesiaran menganggap, yang terdahulu rumah itu dibangun semirip barangkali dengan aslinya. Apalagi, mereka mengaku telah menemukan foto-foto, disain apartemen itu sebelum dibongkar, serta saksi sejarah.

Sumber bagan,

Ullstein bild/Getty Images

Keterangan buram,

Di depan teras rumahnya, Presiden Sukarno berfoto bersama Kabinet pertamanya, Oktober 1945.

Tapi Mundardjito menganggap, syarat-syarat itu tidaklah cukup. Menurutnya, apabila ingin dibangun di atas fondasi yang lama, harus terserah tembok yang tersisa, sehingga bisa diketahui bahan jati bangunan itu. “Hanya semua ini tidak terpenuhi,” katanya.

Lebih dari itu, menurut Mundardjito, seandainya proyek ini dipaksakan, bisa merusak keotentikan situs asli fondasi itu. Dan prinsip berfikir sebagai halnya ini, tegas Mundardjito, bisa membahayakan validitas akademis nan relatif dan terus berkembang.

Beliau kemudian mengusulkan, agar dibangun maket berformat kecil yang bisa ditinjau ulang. Maket ini menurutnya bisa diletakkan di akrab fondasi kudus, berikut memberi latar belakang rekaman gedung tersebut.

Sumber lembaga,

The Illustrated London News/Bambang Eryudhawan

Maklumat gambar,

Presiden Sukarno, istrinya Fatmawati, serta anaknya, di depan rumahnya, November 1945.

Lay out
itu bisa direkonstruksi, agar nanti terserah ahli tarikh lain boleh membiji ulang, ‘oh bukan begitu, tugunya lain di haud’. Nah, ganti lagi, taruh di sini.

“Jadi, ini seumpama pemulihan yang akademik sifatnya, yang dapat diganti sesuai pemikiran orang-hamba allah yang punya data hijau. Ini namanya jalan pemikiran orang-individu, nan tidak terus jadi berhenti,” jelas Mundardjito.

Dia khawatir apabila bangunan hijau dibangun di fondasi yang lama, orang-cucu adam dipaksa untuk cak jongkok berfikir.

Rencana membangun museum Proklamasi…

Dalam perkembangannya, persisnya plong 2022, Rushdy Hoesein, Bambang Eryudhawan, Candrian Attahiyat — dan anak adam-manusia nan peduli lainnya — sangat meletakkan harapan, ketika Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata berencana membuat Museum Proklamasi.

“Kami khusyuk sekali menggarap ini. Tahun ini kami kaji berpangkal segi museum, sejarah, dan tidak-bukan. Kami berangkat bikin tahun 2012,” introduksi Direktur Jenderal Sejarah dan Purbakala Aurora Tambunan, awal Februari 2022.

Museum Laporan itu rencananya akan berdiam di Gedung Pola, kata Aurora.

Sumber gambar,

Facebook/Bambang Eryudhawan

Pengumuman gambar,

“Kecuali dirayakan setiap tanggal 17 Agustus, tapi bahkan gelanggang titik awalnya, dianggap baku-resmi saja,” kata arsitek nan peduli sejarah, Bambang Eryudhawan.

Arsitek yang peduli sejarah, Bambang Eryudhawan, menanggung Yayasan Bung Karno kemudian dilibatkan dalam proses perencanaan master plan Yojana Pengetahuan — termasuk museumnya. Saat itu, pihaknya bekerjasama dengan pemenang lelang penataan ulang taman itu.

“Menyentak sekali, ada
goodwill
mulai sejak pemerintah momen itu,” pengenalan Eryudhawan. Lega saat itu, pemerintah buku menyetujui pendekatan para arkeolog agar “cukup dibuka fondasinya” dan “tidak membangun rumahnya kembali.”

Keputusan tak membangun ‘rumah tiruannya’ kembali didasarkan pengalaman Amerika Perseroan yang “tak membangun kondominium Benjamin Franklin, salah satu penandatangan Deklarasi Independensi AS”.

“Namun mewujudkan kerangkanya namun, karena antara ahli sejarah dan arkeolog ragu-ragu,” ungkap Eryudhawan.

Seperti segala konsep penataan Eryudhawan dkk?

Berekanan dengan pemenang lelang dan kementerian terkait, Eryudhawan dkk kemudian ikut menelorkan konsep penataan museumnya.

Sumber gambar,

Antara

Keterangan gambar,

Tesmak lain berpokok foto Sukarno dan Hatta hasil jepretan Frans Mendur nan dipajang dalam Pameran Fotografi karya Mendur Bersaudara & Indonesian Press Photo Service (IPPHOS) di Galeri Foto Publisistik Antara pada Agustus 2022.

Keseleo-satunya, “bagian teras depan [flat Bung Karno, gelanggang pembacaan teks pemberitahuan] nan historis, boleh direkonstruksi di n domestik Konstruksi Pola.”

Di sana, rencananya mereka akan merekonstruksi ruangan-rubrik penting di dalam rumah itu. “Kita rekonstruksi sama dengan aslinya, terutama bagian depannya, ” Eryudhawan mengklarifikasi.

“Syukur, terima kasih, kita dapat merekonstruksi orang-turunan yang hadir saat pembacaan teks Makrifat,” ujarnya.

Rangka cara museum ini sangat didukung Yayasan Bung Karno, karena sejauh ini tidak ada museum Proklamasi di Indonesia.

“Enggak cak semau satu pun museum Proklamasi di republik ini,” kata Eryudhawan dengan nada getir.

Sumber gambar,

Antara

Maklumat tulangtulangan,

Bagian dari Pameran Fotografi karya Mendur Bersaudara & Indonesian Press Photo Service (IPPHOS) di Galeri Foto Jurnalistik Antara pada Agustus 2022.

Yang lebih terdepan lagi, saat itu mereka sudah menyiapkan narasi yang didukung artefak dan hasil ekskavasi fondasi yang primitif, ungkapnya.

Tentang fondasinya, mereka akan menggali dan mengutarakan salah-suatu sudutnya, sehingga pengunjung museum bisa melongoknya.

Rencana nan disiapkan Eryudhawan dkk, pengunjung museum masuk dulu ke Tugu Proklamasi, mematamatai fondasi eks apartemen Bung Karno, dan diajak timbrung museum di Bangunan Eksemplar lakukan melihat segala hal terkait artefak Informasi.

Jika rencana ini terealisasi, Eryudhawan berpengharapan lanskap yunior itu akan mampu mendudukkan posisi ‘Titik Nol Republik Indonesia’ pada hakikatnya.

Sumber gambar,

Antara

Laporan gambar,

Pengibaran bendera berma kudus. Putaran dari Pameran Fotografi karya Mendur Berfamili & Indonesian Press Photo Service (IPPHOS) di Galeri Foto Jurnalistik Antara puas Agustus 2022.

“Sehingga semuanya terbaca dengan mudah dan baik, dan taman itu berklas… Karena peziarah datang, purwa-tama tak karena kesejarahan, namun karena rubrik itu menyapa.

Yang suka-suka momen ini di Taman Proklamasi, menurutnya, “tidak ulem, enggak ada resep tariknya, malah terbelenggu oleh pagar, yang kesannya sama dengan taman konvensional.”

Anggota cak regu ahli Cagar Budaya DKI Jakarta, Candrian Attahiyat, sependapat bahwa eksistensi Taman Pengumuman bukan meladeni narasi Warta yang menarik.

“Seharusnya ada acara yang mengaitkan acara 17 Agustus di Istana dengan taman itu. Sejauh ini, sehabis berpunca istana, nan dikaitkan adalah Taman kuba pahlawan Kalibata,” alas kata Candrian.

Cak kenapa rencana membangun Museum Proklamasi batal?

Bagan membangun museum itu, yang sudah menerobos sawala mendalam, akhirnya kembali menguap semacam itu saja saat terjadi pertukaran pemerintahan.

Sumber rancangan,

Antara

Keterangan gambar,

Sambutan Bala Independensi. Babak terbit Pameran Fotografi karya Mendur Berfamili & Indonesian Press Photo Service (IPPHOS) di Galeri Foto Jurnalistik Antara pada Agustus 2022.

Pada titik ini, Eryudhawan lantas bertanya-cak bertanya, kenapa enggak cak semau pemimpin kewarganegaraan yang berani untuk menata ulang Taman Proklamasi dan membangun museumnya.

“Kenapa kita yang harus mengupayakannya? Harusnya dengan sendirinya diurus negara. Tapi tidak sangkutan terjadi,” katanya masygul.

Bermula permakluman ini, dia menilai bahwa kondominium Pemberitahuan “lain bisa asian tempat yang pantas” di sini.

“Kecuali dirayakan setiap copot 17 Agustus, tapi tambahan pula medan tutul awalnya, dianggap biasa-stereotip sahaja.”

Perigi gambar,

AFP

Keterangan rangka,

Presiden Sukarno, istri presiden Fatmawati, dan dua anaknya, yaitu Guntur dan Megawati.

Rushdy Hoesein pun ikut bersabda. Dia mengaku bersama Yayasan Bung Karno, keluarga Bung Karno dan Bung Hatta, mutakadim mengusulkan konsep penataan Yojana Proklamasi kepada para pemimpin kewarganegaraan di hampir setiap tahun kepemimpinan.

“Tapi tidak pernah diperhatikan, tidak perikatan disetujui,” akunya.

‘Buku Putih’ Apartemen Proklamasi

Di hadapkan berbagai ragam kendala sebagai halnya itu, Eryudhawan, Rusdhy dan dkk berencana mengeluarkan ‘buku polos’ Flat Amanat.

Tujuannya memberi semacam panduan atau pedoman bagi masyarakat adapun rumah bersejarah itu. Hal ini ditekankan karena di kendaraan sosial terjadi apa yang disebutnya “keterangan yang tak terkendali”.

“Kita mau memberikan sumbangan pemikiran terhadap data nan boleh melantangkan posisi dari Bintik Nol Republik Indonesia sebagaimana seharusnya,” jelasnya.

Anda mengharapkan sebelum 17 Agustus 2022 tubin, buku itu bisa berasal.

Mata air tulang beragangan,

AFP

Deklarasi bagan,

Presiden Sukarno sedang santai di Puri Bogor, Februari 1965.

Tentang Rusdhy Hoesein sempat menggandeng napas tahapan saat ditanya perihal penerbitan buku zakiah ini.

“Ini tidak persoalan mulai sejak ataupun tidak. Seyogyanya ini diprakarsai secara resmi oleh pemerintah,” kata Rusdhy nan terus mengupayakan penataan situs bersejarah itu sejak 1990an.

“Takdirnya kami mencetak, rasanya kurang pantas. Biar kami memiliki datanya, kami dengan berat hati, lebih baik disimpan sebagai arsip saja, jika pemerintah lain roboh tangan,” irama suara Rusdhy Hoesein terdengar pelan dan makin pelan.