Nisab Zakat Tanaman Dan Buah Buahan

Zakat Tanaman dan Buah-Buahan

Dasar syariat zakat biji-bijian dan buah-buahan

Zakat tanaman dan buah-buahan adalah salah satu jenis zakat bersumber hasil nan dikeluarkan dari bumi. Dalil akan wajibnya lakukan mengeluarkan zakat dari tanaman dan buah-buahan mutakadim dijelaskan di dalam Al-Qur’an, As-Sunah, dan ijmak.

Berasal Al-Qur’an yaitu firman Allah ﷻ,

﴿يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنفِقُوا مِن طَيِّبَاتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّا أَخْرَجْنَا لَكُم مِّنَ الْأَرْضِۖ وَلَا تَيَمَّمُوا الْخَبِيثَ مِنْهُ تُنفِقُونَ وَلَسْتُم بِآخِذِيهِ إِلَّا أَن تُغْمِضُوا فِيهِۚ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ﴾

“Hai khalayak-orang yang berkeyakinan,
nafkahkanlah
(di jalan Halikuljabbar) sebagian berpunca hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian bersumber apa yang Kami keluarkan dari mayapada untuk dia. Dan janganlah kamu melembarkan yang buruk-buruk lalu engkau menafkahkan daripadanya, padahal dia sendiri enggak ingin mengambilnya melainkan dengan memincingkan netra terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Yang mahakuasa Maha Mewah kembali Maha Terpuji.” (QS. Al-Baqarah: 267)

Jihat pendalilannya terdapat sreg firman Allah ﷻ “
nafkahkanlah”
, nan menunggangi
fi’il ‘amr
(kata kerja perintah) nan menunjukkan akan kewajibannya. Juga ki gua garba di sini dapat diartikan dengan zakat, sebagaimana firman Allah ﷻ,

﴿وَالَّذِينَ يَكْنِزُونَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَلَا يُنفِقُونَهَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ﴾

“Dan orang-orang yang menggudangkan emas dan perak dan tak menafkahkannya pada perkembangan Halikuljabbar, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih.” (QS.
At-Taubah: 134)

Imam Asy-Syafi’i rahimahullah bercakap ketika menguraikan ayat ini dan ayat 180 dari dokumen Ali ‘Imran,

فِيْ هَاتَيْنِ الآيَتَيْنِ فَرْضُ الزَّكَاةِ

“Dua ayat ini mengandung kewajiban zakat.”
([1])

Dalil lainnya adalah firman Allah ﷻ,

﴿وَهُوَ الَّذِي أَنشَأَ جَنَّاتٍ مَّعْرُوشَاتٍ وَغَيْرَ مَعْرُوشَاتٍ وَالنَّخْلَ وَالزَّرْعَ مُخْتَلِفًا أُكُلُهُ وَالزَّيْتُونَ وَالرُّمَّانَ مُتَشَابِهًا وَغَيْرَ مُتَشَابِهٍۚ كُلُوا مِن ثَمَرِهِ إِذَا أَثْمَرَ وَآتُوا حَقَّهُ يَوْمَ حَصَادِهِۖ وَلَا تُسْرِفُواۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ﴾

“Dan Dialah yang menjadikan kebun-kebun yang berjunjung dan yang lain berjunjung, tumbuhan korma, tanam-tanaman yang bermacam-macam buahnya, zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya) dan tidak sama (rasanya). Makanlah dari buahnya (yang bermacam-macam itu) bila dia berbuah,
dan tunaikanlah haknya di masa memetik hasilnya, dan janganlah kamu plus-lebihan. Sesungguhnya Allah enggak menyukai turunan yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-An’am: 141)

Dari Salim polong Abdillah dari ayahnya bahwa Rasulullah ﷺ berkata,

فِيمَا سَقَتِ السَّمَاءُ وَالعُيُونُ أَوْ كَانَ عَثَرِيًّا العُشْرُ، وَمَا سُقِيَ بِالنَّضْحِ نِصْفُ العُشْرِ

“Tanaman nan diairi dengan air hujan abu dan indra penglihatan air ataupun dengan penyedotan air berpunca tanah([2])
(tumbuh seorang), maka besaran zakatnya sepersepuluh (dari hasil panennya), sedangkan pohon yang diairi dengan menunggangi unta pengangkut air
([3])(dengan biaya produksi), maka jumlah zakatnya seperduapuluh (bermula hasil panennya).”
([4])

Dalam riwayat tak,

فِيمَا سَقَتِ السَّمَاءُ وَالْأَنْهَارُ وَالْعُيُونُ، أَوْ كَانَ بَعْلًا الْعُشْرُ، وَفِيمَا سُقِيَ بِالسَّوَانِي، أَوِ النَّضْحِ نِصْفُ الْعُشْرِ

“Pokok kayu nan diairi dengan air hujan, sungai, dan dengan mata air ataupun berupa tumbuhan ba’l([5])
maka kuantitas zakatnya sepersepuluh (dari hasil panennya), sedangkan pohon nan diairi dengan sapi alias unta
([6]), maka jumlah zakatnya seperduapuluh (dari hasil panennya).”
([7])

Juga dikatakan oleh Ibnul Mundzir dan Ibnu Abdil Kedai minum bahwa kejadian ini merupakan kesepakatan para ulama.([8]

Jenis tumbuhan yang kena zakat

Ada 4 jenis tumbuhan nan disepakati akan barang bawaan zakatnya oleh para ulama, yaitu:

  1. Gandum
    sya’ir.
  2. Gandum
    burr/hinthah.
  3. Kurma sangar (tamr).
  4. Kismis (zabib).

Berdasarkan hadis Abu Musa al-Asy’ari radhiallahu ‘anhu dan Muadz bin Jabal radhiallahu ‘anhu momen Rasulullah ﷺ mengutus mereka ke negeri Yaman,

لا تأخُذا في الصَّدَقَةِ إلَّا مِن هذه الأصنافِ الأربَعَةِ: الشَّعيرِ والحِنطَةِ والزَّبيبِ والتَّمرِ

“Janganlah kalian berdua cekut zakat kecuali berbunga 4 jenis ini: garai (sya’ir), sorgum (hinthah), kismis, dan kurma kering.”
([9])

Mengenai selain 4 jenis ini, maka para ulama berbeda pendapat tentangnya:

Pendapat pertama: Zakat teradat pada setiap kredit-bijian nan merupakan incaran pokok (muqtat) dan dapat awet dalam jangka hari yang lama (muddakhar). Padahal lega buah-buahan, maka sesuai keterangan hadits Abu Musa dan Muadz radhiallahu ‘anhu di atas, namun perlu pada kismis (anggur nan sudah dikeringkan) dan kurma kering.

Ini adalah pendapat mazhab Maliki([10]) dan mazhab Syafi’i([11]).

Pendapat kedua: Zakat wajib sreg setiap yang dapat ditakar (makil) dan boleh abadi dalam jangka hari yang lama (muddakhar), meskipun bukan berupa target pokok, baik berpunca biji-bijian maupun buah-buahan.

Ini ialah pendapat mazhab Hanbali([12]).

Hal ini bersendikan sabda Rasulullah ﷺ,

لَيْسَ فِيمَا دُونَ خَمْسَةِ أَوْسُقٍ مِنَ التَّمْرِ صَدَقَةٌ

“Tak terserah zakat sreg tamar yang kurang dari 5 wasaq.”([13])

Hadis ini menunjukkan bahwa patokan wajibnya zakat yaitu dengan
“tawsiq”,
dan ini adalah keseleo suatu alat ukuran takaran (bukan timbangan).

Mengenai wajibnya bagi sesuatu yang disimpan, maka dijelaskan oleh Syekh Said al-Qahthani rahimahullah di antaranya adalah,

لأنَّ جميعَ مَا اتفقَ علَى زكاتِهِ مدخرٌ؛

“Karena seluruh biji zakar dan biji yang disepakati bakal dikeluarkan zakatnya adalah nan bisa disimpan.” ([14])

Pendapat ketiga:
Zakat teradat pada setiap tanaman yang maksud ditanamnya adalah kerjakan mengembangkan hasil bumi, baik
muqtat
atau pun enggak,
muddakhar
ataupun pun enggak,
makil
atau pula bukan, sehingga mencengam segala tipe pohon, baik nyata nilai-bijian, buah-buahan, atau pun sayur-sayuran.

Ini yaitu pendapat Padri Abu Hanifah rahimahullah.([15])  Berdasarkan firman Allah ﷻ,

﴿يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنفِقُوا مِن طَيِّبَاتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّا أَخْرَجْنَا لَكُم مِّنَ الْأَرْضِۖ وَلَا تَيَمَّمُوا الْخَبِيثَ مِنْهُ تُنفِقُونَ وَلَسْتُم بِآخِذِيهِ إِلَّا أَن تُغْمِضُوا فِيهِۚ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ﴾

“Hai orang-sosok nan beriman, nafkahkanlah (di jalan Almalik) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami buang dari dunia bagi kalian. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri enggak mau mengambilnya melainkan dengan memincingkan netra terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya juga Maha Terpuji.” (QS. Al-Baqarah: 267)

Sisi pendalilannya yakni pada firman-Nya “Dan sebagian terbit apa yang Kami keluarkan dari manjapada untuk kalian”, maka keumuman ayat ini menunjukkan bahwa setiap yang keluar berasal bumi ada zakatnya, dan sayur-sayuran terjadwal yang keluar dari marcapada.

Dari ketiga pendapat di atas penulis lebih condong pada pendapat pertama bahwasanya zakat perlu puas setiap kredit-bijian yang yakni mangsa pokok (muqtat) dan boleh awet n domestik jangka waktu yang lama (muddakhar).

Hal ini karena
muqtat
adalah perkara yang terdahulu bagi kehidupan setiap insan, di mana tidak terserah semangat kecuali dengannya. Berbeda halnya dengan tanaman nan dimakan bagi berlezat-lezatan, maka kamu tidak termasuk tumbuhan nan diwajibkan zakat.
Wallahu a’lam.

N
ishab zakat pohon

Tujuan dari nisab zakat adalah batasan minimal dari harta yang wajib untuk dikeluarkan zakatnya. Adapun nisab zakat pohon dan biji pelir-buahan adalah 5
wasaq
berdasarkan pendapat mayoritas ulama([16]). Kejadian ini beralaskan  penjelasan bersumber Rasulullah ﷺ tentang penyakit kadar dari zakat pokok kayu dan zakat biji kemaluan-buahan, pecah Duli Sa’id Al-Khudri radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah ﷺ berkata,

لَيْسَ فِيمَا دُونَ خَمْسَةِ أَوْسُقٍ مِنَ التَّمْرِ صَدَقَةٌ

“Tak ada zakat pada tamar yang kurang berasal 5 wasaq.”
([17])

Garis hidup 1
wasaq
disepakati oleh ulama perkiraannya sekeliling 60
sha’, jadi kalau kita perkirakan dengan
sha’
maka 5
wasaq= 300
sha’.

Suatu
sha’
adalah seukuran kewajiban zakat fithr, dan sama dengan 4
mud, sehingga 5
wasaq
yaitu 300 dikalikan dengan 4
mud, menjadi 1200
mud.

Takaran
mud
yakni seukuran dua telapak tangan munjung berusul laki-laki berperawakan sedang.

Lewat, Berapakah Ukuran Nisab ini jika Diukur dengan Asongan Gram?

Sebelumnya perlu diketahui bahwa
sha’
dan
mud
merupakan ukuran bikin mengeti, sedangkan gram/kilogram adalah alat bakal menakar musykil, sehingga terkadang 2 barang yang farik yang takarannya sebabat-setimbang 1
mud,
belum karuan beratnya setolok.

Syariat menjadikan nisab zakat tanaman semuanya dengan takaran. Maka jika hasil penuaian biji-bijian atau biji zakar-buahan sudah mencapai nisabnya internal eceran takaran (300
sha’), maka  mesti padanya zakat, walaupun tukar berbeda beratnya.

Akan tetapi, para ulama berusaha mengasumsikan berat untuk 1
mud
dan 1
sha’
tersebut dengan timbangan berat, karena ini bertambah memudahkan perkiraan hasil panen pada zaman sekarang ini.

Disebutkan oleh Komite Tegar Fatwa dan Riset Ilmiah Arab Saudi, bahwa 1
sha’
beras dan gandum sekitar 3 kg([18]). Maka nisab zakat kredit-bijian alias biji zakar-buahan takdirnya dihitung dengan ini adalah 300 x 3 = 900 kg.

Sedangkan menurut Syaikh Utsaimin rahimahullah, 1 sha’ = 2,4 kg gandum
burr.([19])

Maka nisab zakat ponten-bijian atau buah-buahan jika dihitung dengan ini adalah 300×2,4=720kg.

Syaikh Muhammad Shubhi Hasan Hallaq menyebutkan bahwa 1
sha’= 2,175 gram, maka 5 wasaq = 300 x 2,175 = 652,5 kg.([20]

Intinya, para ulama sepakat bahwa 1
sha’
tidaklah melebihi 3kg.

Karena perbedaan antara ukuran takaran dan sulit inilah, para cerdik pandai mengatakan bahwa jikalau suatu hasil panen tanaman yang teradat zakat kurang kurang dari nisab, maka ia tetap teradat dizakati, mengingat dimensi tahir bersumber nisab yang merupakan takaran, bukan terik. Yang namanya takaran, kurang-bertambah sedikit adalah situasi yang biasa. ([21])

Apakah Hasil Panen yang Kian berasal Nisab Terkena Zakat?

Ya, baik sedikit atau pun banyak, dan ini merupakan yang menjadi perbedaan antara zakat tanaman dan zakat hewan peliharaan. Karena pada zakat satwa ternak –silakan pula dilihat pembahasan khususnya-, kelebihan antara 2 nisab tidaklah dikenakan zakat, sedangkan sreg tanaman, maka kelebihannya tetap terkena zakat. Ini adalah lega hati para ulama([22]).

Contohnya: 50 ekor wedus wajib dizakatkan darinya 1 ekor kambing, karena dia sudah mencapai nisabnya yaitu 40 ekor embek. Kelebihannya (10 embek) lain dihitung, kecuali jika telah mencapai nisab seterusnya, ialah 121 ekor. Adapun zakat tanaman apabila telah sampai ke kian berpokok nisabnya (yaitu 900 kg sesuai pendapat Komite Fatwa dan Investigasi Ilmiah Arab Saudi), misalkan jumlahnya 1200 kg, maka semuanya harus dikeluarkan zakatnya, ialah dengan diambil 10% dari total 1200 kg apabila diairi dengan air hujan, atau 5% darinya jika diairi dengan biaya mandiri, dan bukan hanya dari 900 kg nan yakni ukuran nisab.

Kalau Suatu Variasi Biji-bijian atau Biji pelir-buahan Tidak Sampai Nisabnya kecuali dengan Menggabungkannya dengan Jenis Lainnya yang Sejenis, Apakah Kejangkitan Zakat?

Sebelum membahas ini cak semau dua istilah yang harus kita ketahui agar menggampangkan kita untuk mencerna, yaitu:
keberagaman
dan
macam.

Variasi adalah biji zakar atau biji itu sendiri, akan halnya macam yaitu varietas dari buah atau angka tersebut. Contoh: tamar dan kismis merupakan dua jenis yang berlainan, tentang kurma ajwa dan kurma sukkari maka dia adalah macam nan berbeda dari jenis tamar.

Maka bikin setiap jenis nan farik lain boleh digabungkan. Adapun sreg macam yang berlainan doang satu jenis dapat digabungkan, ini yakni ijmak([23]). An-Nawawi rahimahullah berucap,

وَلَا يُكَمَّلُ جِنْسٌ بِجِنْسٍ، وَيُضَمُّ النَّوْعُ إلَى النَّوْعِ

“Satu jenis harta zakat tidak boleh disempurnakan nisabnya dengan jenis bukan yang berbeda. Mengenai macamnya (berpangkal satu keberagaman yang sekelas) digabungkan dengan keberagaman yang lain buat penyempurnaan nisabnya.” ([24])

Contoh: Seseorang punya hasil penuaian kurma 2,5 wasaq dan kismis 2,5 wasaq. Maka sreg kondisi sama dengan ini keduanya tidak mencapai nisab dan tidak dapat digabungkan untuk mencapai nisab. Hal ini dikarenakan keduanya adalah jenis yang berlainan.

Contoh: Seseorang n kepunyaan hasil panen tamar Ajwa 2,5 wasaq dan kurma sukkari 2,5 wasaq. Maka pada kondisi seperti ini kedua spesies kurma ini digabungkan kerjakan mencapai nisab dan dikeluarkan zakatnya.

Bilangan zakat pokok kayu

Kadar zakat untuk hasil pertanaman, apabila diairi dengan air hujan angin, atau sungai, atau mata air maka 10%. Apabila diairi dengan prinsip disiram atau irigasi (yaitu dengan adanya pembebanan) maka zakatnya 5%. Hal ini berdasarkan berpokok titah Rasulullah ﷺ,

فِيمَا سَقَتِ السَّمَاءُ وَالعُيُونُ أَوْ كَانَ عَثَرِيًّا العُشْرُ، وَمَا سُقِيَ بِالنَّضْحِ نِصْفُ العُشْر

“Pohon yang diairi dengan air hujan ataupun dengan sumber air alias dengan pengisapan air dari petak, maka zakatnya sepersepuluh (10%), sementara itu tanaman yang diairi dengan tenaga anak adam, maka zakatnya seperduapuluh (5%).”
([25])

Waktu wajib bayar zakat tanaman

Masa teristiadat zakat biji-bijian adalah apabila kamu mutakadim mengeras dan suci dari kulitnya, dan pada buah-buahan seandainya sudah lalu mulai masak. Ini merupakan perkara yang disepakati maka itu mayoritas ulama([26]).

Adapun jika biji-bijian tersebut belum membeku dan biji pelir-buahan belum kelihatan matang, maka lain diwajibkan lakukan dikeluarkan zakatnya, hal ini dikarenakan beberapa hal:

  1. Karena keduanya yaitu tanda akan sudah lalu layaknya biji-bijian atau buah-buahan tersebut untuk dikonsumsi.
  2. Ketika biji pelir-buahan tertumbuk pandangan matang dan kredit-bijian telah berpadu adalah waktu yang diperintahkan buat tiba memperkirakan dan menghitung apakah ia mencapai nisab, sehingga harus dizakati ataukah tidak.

Apakah disyaratkan untuk hingga haul (telah sampai 1 tahun)?

Zakat tanaman dikeluarkan setiap kali panen dan telah sampai nisab, dan lain disyaratkan harus sudah tercapai haul. Ini adalah ijmak sebagaimana yang dikatakan oleh Al-Mawardi([27]).

Seperti itu sekali lagi jika cirit hasil penuaian yang telah dizakati disimpan sampai bertahun-tahun lamanya, maka tidak perlu mengeluarkan zakat kembali setiap tahunnya, apabila sudah dikeluarkan zakatnya pada saat panennya. Karena harta-harta seperti ini tak diperkirakan akan berkembang, bahkan kebolehjadian besarnya ia akan semakin menyusut seiring berjalannya waktu. ([28])

الْخَرْصُ

AL-KHARSH (menaksir)

Definisi

Kharsh
secara bahasa artinya memperkirakan/menaksir. ([29]) Akan halnya secara istilah,
kharsh
adalah mengibaratkan total rutab yang berada di pohon sekali lagi memperkirakan jika ia berubah menjadi kurma. Lalu menghitung besaran yang sederhana sesudah penyusutan. Hal ini juga dolan pada anggur. ([30])

Hukum
Kharsh

Kharsh
disyariatkan berdasarkan perbuatan nabi nabi muhammad Rasulullah ﷺ,

غَزَوْنَا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ غَزْوَةَ تَبُوكَ، فَلَمَّا جَاءَ وَادِيَ القُرَى إِذَا امْرَأَةٌ فِي حَدِيقَةٍ لَهَا، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِأَصْحَابِهِ: «اخْرُصُوا»، وَخَرَصَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَشَرَةَ أَوْسُقٍ

“Kami menirukan perang Tabuk bersama Nabi


. Saat sampai di lembah perdesaan suatu kaum, di sana ada seorang wanita yang sedang berharta di kebunnya. Maka Utusan tuhan



berkata kepada para sahabatnya, ‘Taksirlah buah pohon kurma ini!’. Maka Rasulullah



mengesir pohon kurma itu sekitar sepuluh wasaq.”

([31])

Para ulama mengatakan bahwa selayaknya sendiri penasihat mengutus ahli taksir ke kebun-tegal yang hasilnya akan dikeluarkan zakatnya. Sebagaimana dikatakan Ibni Qudamah rahimahullah,

وَيَنْبَغِي أَنْ يَبْعَثَ الْإِمَامُ سَاعِيَهُ إذَا بَدَا صَلَاحُ الثِّمَارِ، لِيَخْرُصَهَا، وَيَعْرِفَ قَدْرَ الزَّكَاةِ وَيُعَرِّفَ الْمَالِكَ ذَلِكَ

“Dan selayaknya seorang penguasa mengutus petugas zakat sekiranya telah terlihat masak biji pelir-buahan bagi ditaksirkan, diketahui qada dan qadar zakatnya, dan diberitahukan kepada pemiliknya.”
([32])

Hari
kharsh

Waktunya yakni detik buah-buahan menginjak terpandang matang. Hal ini bersendikan hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas k,

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ افْتَتَحَ خَيْبَرَ، اشْتَرَطَ عَلَيْهِمْ أَنَّ لَهُ الْأَرْضَ، وَكُلَّ صَفْرَاءَ وَبَيْضَاءَ، يَعْنِي الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ، وَقَالَ لَهُ أَهْلُ خَيْبَرَ: نَحْنُ أَعْلَمُ بِالْأَرْضِ، فَأَعْطِنَاهَا عَلَى أَنْ نَعْمَلَهَا وَيَكُونَ لَنَا نِصْفُ الثَّمَرَةِ وَلَكُمْ نِصْفُهَا، فَزَعَمَ أَنَّهُ أَعْطَاهُمْ عَلَى ذَلِكَ، فَلَمَّا كَانَ حِينَ يُصْرَمُ النَّخْلُ، بَعَثَ إِلَيْهِمُ ابْنَ رَوَاحَةَ، فَحَزَرَ النَّخْلَ، وَهُوَ الَّذِي يَدْعُونَهُ أَهْلُ الْمَدِينَةِ الْخَرْصَ

“Ketika Nabi



mengalahkan Khaibar, ia memberi persyaratan kepada mereka (Yahudi), bahwa semua tanah, nan kuning dan yang jati -merupakan emas dan perak- menjadi hoki sira. Penduduk Khaibar berkata, ‘Kami lebih mengetahui dengan persil ini, maka berikanlah kepada kami tanah hingga kami menggarapnya. Kami mendapatkan sepoteng dan kalian juga mendapatkan setengah dari hasil biji pelir yang didapat.’ Sira mengira bahwa Utusan tuhan memberikannya kepada mereka. Maka momen tiba saatnya pohon tamar bakal ditebang, sira mengutus Ibnu Rawahah kepada mereka. Ibnu Rawahah menerka-nerka pokok kayu kurma -nan disebut oleh pemukim Madinah dengan Al Kharsh (terkaan).”

([33])

Maksud berpangkal حِينَ يُصْرَمُ النَّخْل adalah waktu dipetiknya biji pelir-buahan, adalah waktu mendekati kerjakan dipetiknya biji zakar-buahan tersebut. ([34])

An-Nawawi rahimahullah berbicara,

قَالَ أَصْحَابُنَا وَوَقْتُ خَرْصِ الثَّمَرَةِ بُدُوُّ الصَّلَاحِ

“Para jamhur kami mengatakan bahwa tahun kharsh buah-buahan adalah saat mulai masak.”
([35])

Buah-buahan yang di-kharsh

Biji zakar-buahan nan disyariatkan kerjakan di-kharsh
hanyalah kurma dan anggur. An-Nawawi merenjeng lidah,

قَالَ أَصْحَابُنَا وَلَا مَدْخَلَ لِلْخَرْصِ فِي الزَّرْعِ بِلَا خِلَافٍ لعدم التوقيف فيه ولعدم الاحاطة كالا حاطة بِالنَّخْلِ وَالْعِنَبِ وَمِمَّنْ نَقَلَ الِاتِّفَاقَ عَلَيْهِ إمَامُ الْحَرَمَيْنِ

“Berfirman ulama-cerdik pandai kami, pohon (selain kurma dan anggur) enggak termasuk ke dalam kharsh tanpa suka-suka perselisihan di dalamnya. Juga karena pohon tidak memenuhi kriteria seperti kurma dan berpangku tangan. Di antara jamhur yang menukilkan kesepakatan atasnya yakni Imam al-Haramain.” ([36])

Syarat-syarat orang yang mengerjakan
kharsh

Dijelaskan oleh an-Nawawi rahimahullah bahwa disyaratkan cak bagi
kharsh
seorang muslim, adil, dan mencerna tentang
kharsh. Beliau berbicara,

فَشَرْطُ الْخَارِصِ كَوْنُهُ مُسْلِمًا عَدْلًا عَالِمًا بِالْخَرْصِ

“Syarat seorang yang melakukan kharsh adalah muslim, adil, dan memafhumi mengenai pendirian kharsh.” ([37])

Apakah individu nan melakukan
kharsh
menotal seluruh biji pelir yang ada dipohon?

Ibnu Qudamah mengklarifikasi bahwa makhluk nan melakukan
kharsh
tidak boleh mengeti dari seluruh buah. Ia mengomong,

وَعَلَى الْخَارِصِ أَنْ يَتْرُكَ فِي الْخَرْصِ الثُّلُثَ أَوْ الرُّبْعَ، تَوْسِعَةً عَلَى أَرْبَابِ الْأَمْوَالِ؛ لِأَنَّهُمْ يَحْتَاجُونَ إلَى الْأَكْلِ هُمْ وَأَضْيَافُهُمْ، وَيُطْعِمُونَ جِيرَانَهُمْ وَأَهْلَهُمْ وَأَصْدِقَاءَهُمْ وَسُؤَّالَهُمْ. وَيَكُونُ فِي الثَّمَرَةِ السُّقَاطَةُ، وَيَنْتَابُهَا الطَّيْرُ وَتَأْكُلُ مِنْهُ الْمَارَّةُ، فَلَوْ اسْتَوْفَى الْكُلَّ مِنْهُمْ أَضَرَّ بِهِمْ

“Orang nan melakukan kharsh hendaknya menyingkir sepertiga atau seperempat detik melakukan kharsh mudah-mudahan tak menyempitkan dada pemilik harta. Kejadian ini dikarenakan mereka membutuhkan buah-buah tersebut untuk dimakan oleh mereka dan tamu-tamu mereka, kembali bakal diberikan kepada tetangga mereka, tanggungan mereka, dan orang-makhluk yang menunangi. Demikian lagi terkadang ada buah-buahan yang jatuh, dimakan burung, dan individu yang lewat. Seandainya buah tersebut dihitung dari keseluruhannya maka ini akan memudaratkan pemilik biji zakar.”
([38])

Seandainya sepanjang sekelumit pecah masa sekata-tanam, pengairan suatu tanaman dilakukan dengan biaya mandiri, dan puas secarik masanya lagi diairi minus biaya (dengan air hujan angin, perigi, dsb), maka bagaimanakah zakatnya?

Seperti yang terjadi di sebagian negara, bahwa ketika musim hujan mereka boleh mengairinya dengan prodeo, namun ketika tiba musim kemarau mereka harus membentuk irigasi mandiri agar bisa mengairi tanamannya, lampau bagaimana zakat tanaman yang selama sekeping waktu cocok-tanamnya diairi dengan air yang gratis, padahal selama setengahnya sekali lagi harus diairi dengan biaya mandiri? Maka ini suka-suka 2 kejadian:

Keadaan purwa: jika mengairinya seketul hari dengan biaya dan segumpal tahunnya juga tanpa biaya maka zakatnya adalah 7,5%. Ini adalah ijmak para jamhur sebagaimana dinukilkan makanya Ibnu Qudamah([39]).

Keadaan kedua: Apabila diairi dengan keseleo satunya (yaitu dengan biaya atau tanpa biaya) makin banyak bersumber nan lainnya, maka pendirian menentukan zakatnya merupakan diambil nan paling banyak. Jika yang paling banyak ialah dengan air hujan maka wajib zakatnya adalah 10%, dan apabila yang minimal banyak ialah dengan tenaga manusia maka zakatnya 5%.

Permasalahan:

Bagaimana hukum tipar yang setahun penuh diairi dengan air hujan angin, akan cuma masih membutuhkan biaya perawatan lainnya sama dengan untuk membajak, pupuk, dan lainnya?

Dalam kelainan ini Syekh Bin Baz  rahimahullah menjawab bahwa Rasulullah ﷺ  mengaitkan syariat zakat perkebunan dengan pengairan dan tidak menoleh kepada biaya ketika proses panen ataupun ketika menyekop. Semua itu adalah hal lain nan tidak terserah kaitannya dengan  zakat. ([40])

Zakat pertanian di tanah sewa

Seseorang menyewa persil yang kemudian dijadikannya sebagai kapling pertanian. Dalam keadaan seperti ini, siapakah yang terbiasa mengeluarkan zakat pertanaman tersebut, pemilik petak ataukah penyewa kapling nan merupakan petambak di tanah tersebut?

Para ulama berselisih pendapat dalam masalah ini, sebagian jamhur menyatakan bahwa yang wajib mengeluarkan zakat yaitu pemilik tanah dan sebagian lainnya menyatakan yang wajib mengeluarkan zakat yakni penyewa tanah (peladang).([41])

Perselisihan ini berangkat berbunga perbedaan rukyat mereka akan halnya bawah mulai sejak terlazim zakat perkebunan, apakah yang dianggap dari zakat pertanian itu kepemilikan lahan ataukah kepemilikan hasil dari tanah tersebut? Bakal yang memandang kepemilikan persil mereka mewajibkan tuan tanah yang mengeluarkan zakat. Sebaliknya, buat nan memandang kepemilikan hasil bermula tanah mereka  memerintahkan penyewa tanah (petani) nan mengeluarkan zakat.

Pendapat yang moralistis yakni yang dianggap semenjak zakat pertanian yakni kepemilikan hasil semenjak petak tersebut, lain tanahnya, sehingga yang mesti menyingkirkan zakat adalah penyewa tanah (petani). Ini adalah pendapat dari mayoritas ulama, dan juga mayoritas ulama mazhab nan empat, yaitu mazhab Maliki([42]), Syafi’i([43]), dan Hanbali([44]).

Dalilnya yaitu firman Allah,

﴿يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنفِقُوا مِن طَيِّبَاتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّا أَخْرَجْنَا لَكُم مِّنَ الْأَرْضِ وَلَا تَيَمَّمُوا الْخَبِيثَ مِنْهُ تُنفِقُونَ وَلَسْتُم بِآخِذِيهِ إِلَّا أَن تُغْمِضُوا فِيهِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ ﴾

“Wahai orang-orang nan percaya, infakkanlah sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian terbit barang apa yang Kami keluarkan semenjak bumi untukmu.” (QS. Al-Baqarah: 267)

Segi pendalilan: Halikuljabbar mewajibkan zakat atas orang-basyar yang mendapatkan hasil bumi (hasil pertanian), sedangkan hasil perkebunan adalah milik penyewa, maka yang wajib mengkhususkan zakat yaitu penyewa tanah.

Allah juga bertutur,

﴿ كُلُوا مِن ثَمَرِهِ إِذَا أَثْمَرَ وَآتُوا حَقَّهُ يَوْمَ حَصَادِهِ﴾

“Makanlah buahnya apabila dia berbuah dan berikanlah haknya (zakatnya) pada waktu memetik akhirnya.” (QS. Al-An’am: 141)

Segi pendalilan: Allah memerintahkan zakat buah-buahan untuk turunan-insan yang diperbolehkan memakan buah-buahan tersebut, dan yang bisa memakan buah-buah tersebut ialah penyewa tanah (petani) bukan pemilik tanah. Maka yang perlu mengasingkan zakat adalah penyewa tanah (peladang).

Mengenai pendapat nan menyatakan bahwa zakat pertanian dikeluarkan dari tuan persil yakni pendapat dari Imam Abuk Hanifah.([45])

Footnote:

__________

([1]) Lihat:
Tafsir

a
l-Imam asy-Syafi’i
(2/294).

([2]) Makna
‘atsriyyan
adalah ponten-bijian ataupun buah-buahan yang merecup dengan sendirinya ataupun secara alami, minus oplos tangan pemiliknya. [Lihat:
An-Nihayah Fii Gharib al-Hadits
karya Ibnul Atsir (2/182)].

([3]) Makna
an-nadh
adalah nan diairi dengan hewan pengangkut air. [Lihat:
Umdah al-Qari Syarh Shahih al-Bukhari
(6/72)].

([4]) HR. Bukhari No. 1483.

([5]) Makna
ba’
l: tumbuhan nan menyerap air dengan akarnya minus harus disiram oleh air hujan ataupun dengan prinsip lainnya. [Lihat:
Jami’ al-Ushul
karya Ibnul Atsir (4/613)].

Sementara itu dalam Sunan Abu Dawud No.1598 disebutkan bahwa Waki’, Abu Iyas al-Asadi, dan an-Nahdr kedelai Syumail membeningkan bahwa yang dimaksud dengan
ba’l
adalah yang diairi oleh air hujan abu.

([6])
As-sawani
merupakan kerangka beraneka rupa berpangkal
saniyah, merupakan fauna pengangkut air bagi menyalurkan pokok kayu, baik unta atau sapi. [Lihat:
Jami’ al-Ushul
karya Ibnul Atsir (4/611)].

([7]) HR. Abu Dawud No. 1596 dan dinyatakan lumrah maka itu al-Albani.

([8]) Lihat:
Al-Mughni
karya Ibnu Qudamah (3/3).

([9]) HR. Al-Baihaqi No. 7524 dan dinyatakan sahih oleh al-Albani privat
Tamam al-Minnah
No.369.

([10]) Lihat:
Mawahib al-Jalil Syarh Mukhtahsar al-Khalil
(2/80).

([11]) Lihat:
Fath al-Qarib al-Mujib fi Syarh Alfazh at-Taqrib, karya Anak lelaki Qasim (1/121).

([12]) Lihat:
Al-Iqna’ Fi Fiqh al-Imam Ahmad bin Hanbal
karya Al-Buhuti (1/257).

([13]) HR. Bukhari No.1459.

([14])
Az-Zakah fi al-Islam
hlm. 104.

([15]) Lihat:
Bada’i ash-Shana’i Fi Tartib asy-Syara’i
(2/59).

([16]) Ini yakni pendapat mazhab Maliki, Syafi’i, dan Hanbali. Adapun Imam Serbuk Hanifah berpendapat bahwa tidak cak semau persyaratan nisab pada zakat hasil dunia, dan tanaman dengan segala jenisnya termasuk pecah hasil dunia. Sehingga perlu ditunaikan zakatnya setiap mana tahu panen, berapa kembali jumlah panennya, baik hingga ke nisab atau pun tidak. [Lihat:
Bada’i ash-Shana’i fi Tartib asy-Syara’i
karya al-Kasani (2/59)].

Padahal Al-Qadhi Abu Yusuf dan Muhammad kacang Al-Hasan yang ialah pionir penyebaran dan pengembangan mazhab Hanafi serta petatar senior bermula Rohaniwan Abuk Hanifah, keduanya seia sekata dengan mayoritas jamhur dan menyelisihi Imam mereka dalam situasi ini. [Lihat:
Bada’i ash-Shana’i fi Tartib asy-Syara’i
karya al-Kasani (2/59)].

([17]) HR. Bukhari No.1459 dan Muslim No. 979 tanpa penyebutan “plong kurma”.

([18]) Lihat: Fataawaa Lajnah Daaimah (9/371) No. 12572, dan ini merupakan pendapat Syekh Bin Baz rahimahullah.

([19]) Lihat:
Asy-Syarh al-Mumti’
(6/72).

([20]) Lihat:
Al-Iidhahaat al-‘Ashriyyah Lil Maqaayiis Wal Makaayiil Wal Awzaan Asy-Syar’iyyah
hlm. 128.

([21]) Lihat:
Al-Mughni
(3/11-12).

([22]) Lihat:
Al-Majmu’
(5/464-465).

([23]) Lihat:
al-Mughni
(3/32).

Bahkan Ibnu Hajar al-Haitami mengatakan bahwa para cerdik pandai ijmak/sekata tentang tidak dapat digabungkannya tamar dan zabib, dan hal ini dikiaskan juga pada biji-bijian. [Tatap:
Tuhfah al-Muhtaj Fi Syarh al-Minhaj
(3/248)].

Disebutkan oleh Ibni Qudamah bahwa terwalak perbedaan  pendapat tentang menggabungkan kredit-bijian dari jenis yang berbeda bagi menepati nisab:

Pertama: Angka-bijian dari jenis nan berlainan tidak dapat digabungkan lakukan memenuhi nisab.

Kedua: Biji-bijian seluruhnya digabungkan lakukan menyempurnakan nisab.

Ketiga: Gandum hinthah digabungkan dengan gandum sya’ir. [Lihat:
al-Mughni
(3/32)].

([24])
Minhaj ath-Thalibin
(1/67).

([25]) HR. Bukhari No. 1483.

([26]) Ini adalah pendapat mazhab Syafi’i [Lihat:
Al-Majmu’
(5/465)] dan mazhab Hanbali [Lihat:
Kasysyaaf al-Qinaa’
(2/208)].

([27]) Lihat:
Al-Hawy Al-Kabir
(3/38).

([28]) Tatap:
Al-Mughni
(3/12).

([29]) tatap:
Lisan al-Arab
(7/21).

([30]) Lihat:
Tafsir al-Qurthubi
(7/105) dan
asy-Syarh al-Kabir,
karya Syekh ad-Dardir (1/453).

([31]) HR. Bukhari No. 1481.

([32]) Tatap:
Al-Mughni
(3/14).

([33]) HR. Ibnu Majah No. 1820 dan Abu Dawud No. 3410. Al-Albani menyatakan hadits ini hasan normal. [Lihat:
Shahih Syah Abu Dawud
No. 3410]

([34]) Lihat:
Hasyiyah as-Sindi
(1/558).

([35])
Al-Majmu’
(5/478).

([36])
Al-Majmu’

(5/478).

([37]) Lihat: Al-Majmu (5/478).

([38]) Al-Mughni (3/17).

([39]) Tatap:
Al-Mughni
(3/10).

([40]) Lihat:
Fatawa Nur ’Ala Darb
(15/75).

Terdapat pendapat bukan dalam masalah ini. Yaitu pendapat yang menyatakan bahwa biaya-biaya di luar pengairan seperti pupuk, upah personel dll, tercatat intern hitungan yang mempengaruhi kurangnya nisab. Pendapat ini merujuk kepada pendapat Atha’

وَعَنْ عَطَاء: أَنَّهُ يَسْقُطُ مِمَّا أَصَابَ النَّفَقَةَ، فَإِنْ بَقِيَ مِقْدَارُ مَا فِيْهِ الزَّكَاةُ زُكِّيَ، وَإِلاَّ فَلاَ

Dari ‘Athoo : “Lain dimasukkan ke n domestik hitungan apa saja nan terjadwal dalam nafaqah (biaya perawatan tumbuhan), takdirnya masih tersisa (setelah dikurangi biaya perawatan) kadar nan harus dizakatkan maka teradat cak bagi dizakatkan jika bukan lagi sederhana (sehingga invalid dari nisab) maka tidak terjangkit kewajiban zakat.” [Al-Muhalla (5/258)]

Contoh kasus: Seorang petani panen menghasilkan 1 Ton beras. Selama satu tahun dia hanya mengandalkan pengairan dari air hujan semata-mata. Sepanjang satu tahun itu juga ia sudah menghabiskan biaya perawatan pohon dll, Rp 500.000,- . Sekiranya mengacu sreg pendapat purwa maka total yang harus dizakatkan adalah 10% terbit hasil panennya tanpa dikurangi biaya perawatan. Tentang pendapat kedua maka 10% nya diambil setelah dikurangi biaya perawatan dll.

([41]) Lihat:
Bidayah al-Mujtahid
(2/8).

([42]) Lihat:
Bidayah al-Mujtahid
(2/8).

([43]) Lihat:
Raudah ath-Thalibin
(2/234).

([44]) Lihat:
Al-Mughni
(3/30).

([45]) Lihat:
Hasyiah Ibni ’Abidin
(2/55).

Source: https://bekalislam.firanda.com/6732-cara-menghitung-zakat-tanaman-dan-buah-buahan.html