Nama Suku Di Pulau Sumatera

Sumatra
Tanda lokal:


سومترا

(Melayu)

Sumatra Topography.png

Topografi Pulau Sumatra

LocationSumatra.svg

Pulau Sumatra di Indonesia

Geografi
Lokasi Asia Tenggara
Koordinat


0°00′Kaki langit
102°00′E


 / 

0.000°Ufuk 102.000°E
 /
0.000; 102.000


Kepulauan Kepulauan Sunda Samudra
Luas 473.481 km2
Peringkat luas ke-6
Titik teratas Gunung Kerinci (3.805 m)
Pemerintahan
Negara

 Indonesia
Provinsi
Aceh

Sumatra Utara

Sumatra Barat

Riau

Jambi

Bengkulu

Sumatra Daksina

Kepulauan Bangka Belitung

Lampung

Kepulauan Riau
Kota terbesar Logo Kota Medan (Seal of Medan).svg
Medan (2.479.560 (2018) nyawa)
Kependudukan
Penghuni 57.940.351 arwah (2018)
Kepejalan 96 jiwa/km2
Keramaian etnis Jawi, Batak, Minangkabau, Aceh, Lampung, Karo, Nias, Rejang, Komering, Gayo, dan tak-lain
Info lainnya
Zona waktu
  • Periode Indonesia Barat (UTC+07:00)

Sumatra
(bentuk tidak baku:
Sumatera)[1]
adalah pulau keenam terbesar di dunia nan terwalak di Indonesia, dengan luas 473.481 km². Pemukim pulau ini sekitar 57.940.351 (sensus 2022). Pulau ini dikenal pula dengan tanda lain ialah
Pulau Percha,
Andalas, atau
Suwarnadwipa
(bahasa Sanskerta, bermanfaat “pulau emas”). Kemudian pada Prasasti Padang Roco tahun 1286 dipahatkan
swarnnabhūmi
(bahasa Sanskerta, berjasa “tanah emas”) dan
bhūmi mālayu
(“Tanah Melayu”) buat menyebut pulau ini. Selanjutnya dalam skrip Negarakertagama dari abad ke-14 juga kembali menamai “Marcapada Malayu” (Jawi) bagi pulau ini.

Etimologi

Asal nama Sumatra berawal dari keberadaaan Kerajaan Samudra (terwalak di tepi laut timur Aceh). Diawali dengan lawatan Ibnu Batutah, pendatang bawah Maroko ke provinsi tersebut pada musim 1345, dia melafalkan kata
Lautan
menjadi
Shumathra,[2]
dan kemudian menjadi
Sumatra, selanjutnya etiket ini tercantum dalam peta-peta abad ke-16 buatan Portugis, bakal dirujuk pada pulau ini, sehingga kemudian dikenal meluas sampai sekarang.[3]

Nama nirmala Sumatra, sebagaimana tercatat kerumahtanggaan mata air-mata air sejarah dan narasi-kisahan rakyat, ialah “Pulau Emas”. Istilah
Pulau Ameh
(bahasa Minangkabau, berarti pulau emas) kita jumpai dalam kisah Cindua Mato dari Minangkabau. Dalam cerita rakyat Lampung tercantum nama tanoh mas untuk menyebut pulau Sumatra. Sendiri musafir dari Tiongkok yang bernama I-tsing (634-713) yang bertahun-tahun berdiam di Sriwijaya (Palembang kini) pada abad ke-7, menyebut Sumatra dengan keunggulan
chin-chou
yang berarti “kawasan kencana”.

Dalam bermacam-macam prasasti, Sumatra disebut dalam bahasa Sanskerta dengan istilah:
Suwarnadwipa
(“pulau kencana”) atau
Suwarnabhumi
(“tanah emas”). Nama-cap ini sudah dipakai privat skenario-naskah India sebelum Serani. Naskah Buddha yang termasuk paling kecil tua, Kitab Jataka, menceritakan pelaut-pelaut India membelot Teluk Benggala ke Suwarnabhumi. Dalam kisahan Ramayana dikisahkan pencarian Dewi Sinta, istri Rama yang diculik Rahwana, sampai ke Suwarnadwipa.

Para musafir Arab menjuluki Sumatra dengan nama “Serendib” (tepatnya: “Suwarandib”), transliterasi dari nama Suwarnadwipa. Serbuk Raihan Al-Biruni, ahli ilmu permukaan bumi Persia yang mengunjungi Sriwijaya tahun 1030, mengatakan bahwa daerah Sriwijaya terletak di pulau Suwarandib. Namun ada kembali orang yang mengidentifikasi Serendib dengan Srilangka, yang tidak kontak disebut Suwarnadwipa.

Di galangan bangsa Yunani purba, Sumatra sudah dikenal dengan nama
Taprobana. Logo
Taprobana Insula
telah dipakai oleh Klaudios Ptolemaios, ahli geografi Yunani abad kedua Masehi, tepatnya tahun 165, detik dia menguraikan daerah Asia Tenggara dalam karyanya
Geographike Hyphegesis. Ptolemaios menulis bahwa di pulau Taprobana terdapat negeri Barousai. Mungkin sekali kawasan yang dimaksudkan adalah Barus di tepi laut barat Sumatra, yang naik daun sejak zaman purba sebagai pelaksana kapur barus.

Naskah Yunani tahun 70, Periplous verifikasi Erythras Thalasses, menyibakkan bahwa Taprobana juga dijuluki chryse nesos, nan artinya ‘pulau kencana’. Sejak zaman purba para pengelana dari negeri sekitar Laut Tengah telah membidik Nusantara, terutama Sumatra. Di samping mencari kencana, mereka mengejar setanggi (Styrax sumatrana) dan kapur barus (Dryobalanops aromatica) nan saat itu hanya terserah di Sumatra. Sebaliknya, para musafir Nusantara lagi sudah menjajakan barang mereka sampai ke Asia Barat dan Afrika Timur, sebagaimana tersurat pada skrip
Historia Naturalis
karya Plini abad pertama Masehi.

Intern kitab umat Ibrani, Melakim (Yang dipertuan-syah), fasal 9, diterangkan bahwa Nabi Sulaiman a.s. sultan Israil mengakuri 420 darah emas dari Hiram, raja Jirus yang menjadi bawahan ia. Emas itu didapatkan semenjak negeri Ofir. Kitab Al-Qur’an, Surat Al-Anbiya’ 81, menerangkan bahwa kapal-kapal Nabi Sulaiman berlayar ke “tanah yang Kami berkati atasnya” (al-ardha l-lati barak-Na fiha).

Banyak ahli album nan berpendapat bahwa negeri Ophir itu terwalak di Sumatra (Dolok Ophir di Pasaman Barat, Sumatra Barat yang sekarang bernama Giri Talamau?). Wajib dicatat, kota Runcing merupakan pusat pemasaran komoditas-barang berpangkal Timur Jauh. Ptolemaios pun batik
Geographike Hyphegesis
berdasarkan informasi dari seorang pedagang Jirus yang bernama Marinus. Dan banyak petualang Eropa puas abad ke-15 dan ke-16 mencari kencana ke Sumatra dengan anggapan bahwa di sanalah letak negeri Ofir Nabi Sulaiman a.s.

Besar menjadi Sumatra

Alas kata yang pertama boleh jadi menyebutkan nama
Sumatra
berasal bersumber gelar seorang raja Sriwijaya
Haji Sumatrabhumi
(“Sri paduka tanah Sumatra”),[4]
bersendikan berita China anda mengirimkan utusan ke China pada waktu 1017. Pendapat enggak menyebutkan keunggulan Sumatra berbunga semenjak logo Samudra, imperium di Aceh pada Abad ke-13 dan Abad ke-14. Para musafir Eropa sejak Abad ke-15 menggunakan nama kerajaan itu untuk menyebut seluruh pulau. Sama halnya dengan pulau Kalimantan nan disebut
Borneo, mulai sejak nama Brunai, daerah bagian utara pulau itu yang mula-mula didatangi orang Eropa. Demikian pula pulau Lada semula bernama Selaparang, sementara itu Lombok ialah nama daerah di pantai timur pulau Selaparang yang mula-mula disinggahi pelaut Portugis.

Peralihan Raksasa (nama kerajaan) menjadi Sumatra (nama pulau) menarik buat ditelusuri. Odorico da Pordenone dalam kisah pelayarannya tahun 1318 menyebutkan bahwa dia melaut ke timur dari Koromandel, India, sejauh 20 hari, lalu sebatas di imperium Sumoltra. Anak lelaki Bathutah berkisah internal kitab Rihlah ila l-Masyriq (Pengembaraan ke Timur) bahwa puas perian 1345 sira singgah di kerajaan Samatrah. Puas abad berikutnya, nama provinsi atau kerajaan di Aceh itu diambil alih oleh petualang-pengelana tidak cak bagi menyebutkan seluruh pulau.

Pada tahun 1490 Ibnu Majid membuat peta daerah sekitar Samudra Hindia dan di sana tertulis pulau “Samatrah”. Peta Bani Majid ini disalin maka dari itu Roteiro periode 1498 dan muncullah tera “Camatarra”. Denah bikinan Amerigo Vespucci hari 1501 menambat nama “Samatara”, sedangkan peta Masser tahun 1506 memunculkan label “Samatra”. Ruy d’Araujo waktu 1510 menegur pulau itu “Camatra”, dan Alfonso Albuquerque tahun 1512 menuliskannya “Camatora”. Antonio Pigafetta waktu 1521 memakai tanda yang asa ‘moralistis’: “Somatra”. Tetapi terlampau banyak gubahan petualang lain nan kian ‘terbang’ menuliskannya: “Samoterra”, “Samotra”, “Sumotra”, terlebih “Zamatra” dan “Zamatora”.

Karangan-catatan orang Belanda dan Inggris, sejak Jan Huygen van Linschoten dan Sir Francis Drake Abad ke-16, selalu konsisten intern penulisan Sumatra. Bentuk inilah nan menjadi baku, dan kemudian disesuaikan dengan indra perasa Indonesia: Sumatra

Sejarah

Kerajaan maritim dan niaga Sriwijaya mengalami deklinasi pada periode 688 Hijriyah[5]. Penyebutan Tumenggung di pergunakan cak bagi menamai Raja Sriwijaya yang bernama Haji Yuwa Rajya Syri Haridewa tertulis n domestik Prasasti Hujung Langit Yuwaraja sreg Abad ke-9 Masehi, Sriwijaya berkembang di Indonesia[5]. Kerajaan ini semenjak berasal Sumatra Selatan menguasai Selat Malaka, supremsi Kedatuan Sriwijaya bersendikan International Perdagangan Cina dan India[5]. Para Raja Sriwijaya mendirikan biara-biara di Negapattam tenggara India. Chola imperium India yang pada Abad ke-10 Kristen Sriwijaya berkembang menguasai sebagian besar pulau Jawa[5]. Kedatuan Sriwijaya bagaikan penghalang Kerajaan Chola India di jalur laut antara Asia Kidul dan Timur, pada perian 1025 Kerajaan Chola merebut Kerajaan yang mampu di Palembang, menangkap aji dan seluruh anggota keluarganya termasuk pejabat-pejabat kerajaan, pembantu serta membawa hartanya, sreg tadinya Abad ke-12 Serani Kedatuan Sriwijaya mutakadim direduksi menjadi kerajaan kecil dengan raja terahir seorang junjungan-laki bernama Sultan Sekerummong yang pada Abad ke-13 M telah ditaklukkan ditumbangkan maka itu keturunan mulai sejak Baginda Ngegalang Poros tetesan darah berpangkal Prabu Iskandar Zulkarnain[5]. Seorang bawahan. Kerajaan Majapahit di Jawa taajul mendominasi tempat Politik Indonesia[5]
[6], di daerah Jawa ketika konflik privat imperium Majapahit, berangsur-angsur turun kewibawaannya karena konflik tersebut, keadaan ini dimanfaatkan maka dari itu keturunan kanjeng sultan-raja Majapahit untuk mendirikan kerajaan Islam di pulau jawa yaitu kerajaan Demak walaupun masih bersipat lokal.

Kemudian bermunculan juga kerajaan-kerajaan Selam lainnya dari pulau Sumatra[7]. Tertinggi malah boleh menkerucut menjadi Piramida imperium nan berdiri pada abad ke-7 Hijriyah tahun 688 Mujarrad rasulullah sallallahu alayhi wasallam, pada tahun 1601 nusantara di jajah oleh imperium Belanda yang datang ke Indonesia[7].

Warga

Secara umum, pulau Sumatra didiami oleh nasion Jawi, yang terbagi ke n domestik beberapa tungkai/subsuku. Suku-suku segara lainnya selain Melayu ialah Batak, Jawa, Minangkabau, Aceh, Lampung, Karo, Nias, Rejang, Komering, Gayo, dan suku-kaki lainnya. Di kewedanan pesisir timur Sumatra dan di beberapa kota-kota segara sebagaimana Medan, Batam, Palembang, Pekanbaru, dan Bandar Lampung, banyak berdiam etnis Tionghoa dan India. Alat penglihatan pencaharian pemukim Sumatra sebagian samudra seumpama orang tani, nelayan, dan pedagang.

Penduduk Sumatra mayoritas beragama Islam dan sebagian kecil merupakan pemuja ajaran Serani Protestan, terutama di wilayah Tapanuli dan Toba-Samosir, Sumatra Paksina. Di wilayah perkotaan, seperti Panggung, Pekanbaru, Batam, Pangkal Pucang, Palembang, dan Bandar Lampung dijumpai sejumlah pemuja Buddha.

Berikut adalah 11 suku nasion terbesar yang cak semau di Sumatera menurut sensus BPS 2022 (termasuk Kepulauan Riau, Bangka Belitung, Nias, Mentawai, Simeulue dan pulau-pulau di sekitarnya)[8]

No Kaum Jumlah
1 Tungkai Jawa 15.239.275
2 Suku Batak 7.302.330
3 Suku Minangkabau 5.799.001
4 Suku Pangkal Sumatera Kidul 4.826.272
5 Suku Melayu 4.016.182
6 Suku Asal Aceh 3.991.883
7 Tungkai Asal Sumatera Lainnya 2.086.804
8 Tungkai Asal Jambi 1.379.351
9 Suku Sunda 1.231.888
10 Kaki Asal Lampung 1.109.601
11 Suku Nias 1.021.267

Transportasi

Ii kabupaten-kota di pulau Sumatra dihubungkan oleh catur ruas jalan lintas, yakni lintas tengah, lintas timur, lintas barat dan lintas pantai timur yang melintang pecah barat laut – tenggara Sumatra. Selain itu terdapat pula ruas perkembangan yang mengufuk semenjak barat – timur, seperti ruas Bengkulu – Palembang, Padang – Jambi, serta Padang – Dumai – Kancah.

Di beberapa adegan pulau Sumatra, kereta jago merah yakni alat angkut transportasi alternatif. Di penggalan selatan, jalur sepur pecah dari Pelabuhan Tingkatan (Lampung) sebatas Lubuk Linggau dan Palembang (Sumatra Selatan). Di tengah pulau Sumatra, jalur kereta api hanya terdapat di Sumatra Barat. Jalur ini merintih antara daerah tingkat Padang dengan Sawah Lunto dan kota Padang dengan kota Pariaman. Semasa kolonial Belanda hingga tahun 2001, jalur Padang – Sawah Lunto dipergunakan bikin pengapalan batu bara. Tetapi semenjak cadangan batu bara di Ombilin berangkat menipis, maka jongkong ini tidak berfungsi lagi. Sejak akhir tahun 2006, pemerintah daerah Sumatra Barat, lagi mengaktifkan jalur ini sebagai jalur kereta wisata.

Di utara Sumatra, jalur kereta jago merah membentang dari daerah tingkat Medan menjejak kota Rantau Prapat. Pada sagur ini, kereta api dipergunakan sebagai alat angkut pengapalan nyiur sawit dan penumpang.

Penerbangan internasional dilayani dari Banda Aceh (Pelabuhan udara Internasional Sultan Iskandar Akil balig), Medan (Pelabuhan udara Internasional Kuala Namu), Padang (Bandara Jagat Minangkabau, Batam (Persinggahan Mega Internasional Hang Nadim), Tanjungpinang (Lapangan terbang Internasional Prabu Haji Fisabilillah) dan Palembang (Bandar Udara Antarbangsa Paduka tuan Mahmud Badaruddin II). Sementara itu bandar kapal laut ada di Belawan (Medan), Teluk Bayur (Padang), Batam Centre (Batam), Bulang Linggi (Bintan), Sri Bintan Rajut (Tanjungpinang) dan Bakauheni (Lampung).

Ekonomi

Pulau Sumatra adalah pulau yang bernas dengan hasil mayapada. Mulai sejak lima daerah kaya di Indonesia, tiga kawasan terdapat di pulau Sumatra, yakni wilayah Aceh, Riau dan Sumatra Selatan. Hasil-hasil utama pulau Sumatra ialah kelambir sawit, tembakau, minyak bumi, timah, bauksit, batu bara dan asap tunggul. Hasil-hasil bumi tersebut sebagian lautan terjamah oleh perusahaan-firma asing.

Ajang-medan produsen komoditas tambang ialah:

  • Arun (Aceh), menghasilkan gas alam.
  • Pelabuhan Brandan (Sumatra Lor), menghasilkan minyak bumi
  • Duri, Dumai, dan Bengkalis (Riau), menghasilkan patra bumi.
  • Tanjung Enim (Sumatra Selatan), menghasilkan gangguan bara.
  • Lahat (Sumatra Selatan), menghasilkan batu bara.
  • Plaju dan Sungai Gerong (Sumatra Selatan), menghasilkan bensin.
  • Tanjungpinang (Kepulauan Riau), menghasilkan bauksit.
  • Natuna dan Kepulauan Anambas (Kepulauan Riau), menghasilkan minyak bumi dan gas alam.
  • Singkep (Kepulauan Riau), menghasilkan timah.
  • Karimun (Kepulauan Riau), menghasilkan granit.
  • Indarung (Sumatra Barat), menghasilkan benih.
  • Sawahlunto (Sumatra Barat), menghasilkan batubara.

Beberapa ii kabupaten di pulau Sumatra, juga adalah kota bazar yang layak penting. Medan kota terbesar di pulau Sumatra, merupakan kota perdagangan terdepan di pulau ini. Banyak perusahaan-perusahaan raksasa nasional nan berkantor pusat di sini.

Selain kota Medan, kota-kota raksasa lain di pulau Sumatra yaitu:

  1. Palembang, Sumatra Selatan
  2. Bandar Lampung, Lampung
  3. Pekanbaru, Riau
  4. Batam, Kepulauan Riau
  5. Padang, Sumatra Barat

Geografis

Pulau Sumatra terletak di babak barat gugusan gugusan pulau Nusantara. Di sebelah utara berbatasan dengan Teluk Benggala, di timur dengan Selat Malaka, di arah selatan dengan Selat Sunda dan di sebelah barat dengan Lautan Hindia. Di sebelah timur pulau, banyak dijumpai rawa nan dialiri oleh batang air-wai lautan yang bermuara di sana, antara lain Asahan (Sumatra Utara), Sungai Siak (Riau), Kampar, Inderagiri (Sumatra Barat, Riau), Mayat Hari (Sumatra Barat, Jambi), Musi, Ogan, Lematang, Komering (Sumatra Selatan), Way Semaka, Way Sekampung, Way Tulangbawang, Way Seputih dan Way Mesuji (Lampung). Provisional bilang sungai nan bermuara ke pesisir barat pulau Sumatra di antaranya Batang Tarusan (Sumatra Barat) dan Ketahun (Bengkulu).

Di bagian barat pulau, terbentang pegunungan Bukit Barisan yang berkat dari barat laut ke arah tenggara dengan panjang lebih cacat 1500 km. Sepanjang ardi barisan tersebut terdapat puluhan bukit, baik yang tidak aktif Gunung Pesagi, maupun jabal berapi nan masih aktif, seperti mana Geureudong (Aceh), Sinabung (Sumatra Utara), Marapi dan Makelar (Sumatra Barat), Gunung Dempo (Sumatra Selatan), Gunung Kaba (Bengkulu), dan Kerinci (Sumatra Barat, Jambi). Di pulau Sumatra juga terdapat bilang haud, di antaranya Situ Laut Batil (Aceh), Danau Toba (Sumatra Utara), Danau Singkarak, Danau Maninjau, Danau Diatas, Tasik Dibawah, Danau Pialang (Sumatra Barat), Danau Kerinci (Jambi) Danau Suoh dan Telaga Ranau (Lampung dan Sumatra Kidul).

Rangkaian gunung di Sumatra yang berketinggian di atas 2.500 meter dpl

  • Gunung Bandahara, Aceh (3.030 m)
  • Gunung Dempo, Sumatra Selatan (3.159 m)
  • Gunung Geureudong, Aceh (2.885 m)
  • Gunung Kerinci, Jambi (3.805 m)
  • Giri Leuser, Aceh (3.172 m)
  • Gunung Marapi, Sumatra Barat (2.891 m)
  • Gunung Perkison, Aceh (2.828 m)
  • Dolok Singgalang, Sumatra Barat (2.877 m)
  • Gunung Talamau, Sumatra Barat (2.912 m)
  • Gunung Cengkau, Sumatra Barat (2.597 m)

Administrasi

Provinsi

Pemerintahan di Sumatra dibagi menjadi 10 provinsi.

Provinsi Ibu daerah tingkat Gubernur Luas Wilayah

(km2)
Populasi

(2018)
Kabupaten/

Kota
Nama Peta
Aceh Banda Aceh Achmad Marzuki 57.956 5.184.003 23

Coat of arms of Aceh.svg

Locator Aceh final.png
Sumatra Lor Arena Edy Rahmayadi 72.981 14.753.286 33

Coat of arms of North Sumatra.svg

Locator north sumatra.png
Sumatra Barat Padang Mahyeldi Ansharullah 42.012 5.511.246 19

Coat of arms of West Sumatra.svg

Locator west sumatra.png
Riau Pekanbaru Syamsuar 87.024 6.013.651 12

Coat of arms of Riau.svg

Locator riau final.png
Kepulauan Riau Tanjung Pinang Ansar Ahmad 8.256 1.896.103 7

Coat of arms of Riau Islands.svg

Locator archriau.png
Jambi Jambi Al Haris 50.058 3.477.124 11

Coat of arms of Jambi.svg

Locator jambi.png
Bengkulu Bengkulu Rohidin Mersyah 19.919 1.975.845 10

Coat of arms of Bengkulu.svg

Locator bengkulu final.png
Sumatra Selatan Palembang Herman Deru 91.592 8.182.597 17

Coat of arms of South Sumatra.svg

Locator sumsel final.png
Gugusan pulau Bangka Belitung Sumber akar Pinang Erzaldi Rosman Djohan 16.424 1.349.121 7

Coat of arms of Bangka Belitung Islands.svg

Locator babel final.png
Lampung Pangkalan Lampung Arinal Djunaidi 34.632 9.597.375 15

Coat of arms of Lampung.svg

Locator lampung final.png

Kota samudra

Berikut 15 kota segara di Sumatra bersendikan jumlah populasi tahun 2022 (Kemendagri) .

No. Ii kabupaten Daerah Populasi

(2019)
Sungkap peresmian
1 Ajang Sumatra Lor 2.949.830 1 Juli 1590; 432 musim lalu
 (1590-07-01)
2 Palembang Sumatra Daksina 1.573.898 17 Juni 683; 1339 musim dulu
 (683-06-17)
3 Batam Kepulauan Riau 1.192.941 18 Desember 1829; 192 hari lalu
 (1829-12-18)
4 Bandar Lampung Lampung 1.176.677 17 Juni 1682; 340 tahun lewat
 (1682-06-17)
5 Pekanbaru Riau 1.074.989 23 Juni 1784; 238 tahun habis
 (1784-06-23)
6 Padang Sumatra Barat 887.675 7 Agustus 1669; 353 musim lalu
 (1669-08-07)
7 Jambi Jambi 610.854 17 Mei 1946; 76 musim dahulu
 (1946-05-17)
8 Bengkulu Bengkulu 366.435 18 Maret 1719; 303 perian lalu
 (1719-03-18)
9 Dumai Riau 350,678 20 April 1999; 23 waktu lampau
 (1999-04-20)
10 Pematangsiantar Sumatra Utara 282.885 24 April 1871; 151 hari lalu
 (1871-04-24)
11 Binjai Sumatra Utara 282.415 17 Mei 1872; 150 waktu silam
 (1872-05-17)
12 Banda Aceh Aceh 240.462 22 April 1205; 817 periode lalu
 (1205-04-22)
13 Lubuklinggau Sumatra Daksina 226,002 21 Juni 2001; 21 tahun lalu
 (2001-06-21)
14 Tanjungbalai Sumatra Paksina 167.012 27 Desember 1620; 401 perian lalu
 (1620-12-27)
15 Tebing Tahapan Sumatra Paksina 156.815 1 Juli 1917; 105 musim lalu
 (1917-07-01)

Urutan Kota Daerah Metropolitan Sensus 2022
BPS
Data 2022
Kemendagri
1. Medan Mebidangro 2.297.610 2.479.560
2. Palembang Patungraya Agung 1.455.284 1.548.064
3. Batam Batam-Bintan-Karimun (BBK) 1.329.773 1.192.808
4. Pelabuhan Lampung No 881.801 1.166.761
5. Pekanbaru No 1.091.088 959.830
6. Padang Palapa 833.562 872.271

Bahasa

Budaya

Tatap kembali

  • Daftar bahasa di Sumatra
  • Daftar gunung di Sumatra
  • Imperium-kerajaan di Sumatra

Referensi


  1. ^


    “Hasil Pencarian – KBBI Daring”.
    kbbi.kemdikbud.go.id.





  2. ^

    Hamka (1950)
    Sedjarah Islam di Sumatera
    Kancah : Pustaka Kewarganegaraan. kejadian 7

  3. ^

    Nicholaas Johannes Krom,
    De Naam Sumatra, BKI, 100, 1941.

  4. ^


    Munoz.
    Early Kingdoms. hlm. 175.




  5. ^


    a




    b




    c




    d




    e




    f



    https://www.britannica.com/place/Srivijaya-empire

  6. ^

    http://digilib.ubl.ac.id/index.php?p=show_detail&id=17297&keywords=
  7. ^


    a




    b



    Kesalahan pengutipan: Tag
    <ref>
    tidak sah; lain ditemukan teks cak bagi ref bernama
    makalahislam

  8. ^


    “Tubuh Ki akal Statistik”.
    www.bps.go.id
    . Diakses copot
    2021-12-19
    .




Pranala luar

  • (Inggris)
    Memori mengenai Sumatra



Source: https://id.wikipedia.org/wiki/Sumatra

Posted by: gamadelic.com