Nama Raja Dari Kerajaan Islam

Imperium Islam di Indonesia– Masuknya penyebaran agama Selam di Indonesia disebabkan bilang faktor, salah satunya yakni berdirinya kerajaan-kerajaan Selam di Indonesia. Sejarah kerajaan Islam di Indonesia dimulai sejak abad ke-11 Masehi, seiring dengan runtuhnya kerajaan Budha dan Hindu yang ada di Indonesia. Perian kemajuan kekaisaran Islam di Indonesia berlangsung antara abad ke 13 sampai abad ke 16 Serani.

Latar belakang munculnya kerajaan Islam di Indonesia sekali lagi didorong maka dari itu perdagangan laut antar petualang Islam berpokok Arab, Persia, India, Afrika, dan sebagainya. Kerajaan-kerajaan Islam kembali mulai bermunculan, baik di daerah Sumatera, Jawa, Maluku, serta di Sulawesi, bilang yang terkenal adalah Samudera Pasai, Cirebon, Demak, Banten, Mataram, Ternate, Tidore, dan Gowa.

Berdirinya kerajaan Islam juga turut menyebarkan agama Islam di Indonesia. Terdapat sejumlah sosi pengkajian teologi Islam dan pesantren-pesantren akibat berdirinya kekaisaran Selam ini. Di tanah Jawa, era kerajaan Islam pun bukan bisa dipisahkan dari pengasuh songo nan merupakan gembong yang menyebarkan agama Islam di tanah Jawa dan Indonesia secara keseluruhan.

Kerajaan Islam lagi n kepunyaan andil dalam menjaga daerah Nusantara dari penjajah luar, sebagai halnya Spanyol, Portugis, dan tentu tetapi Belanda lalu VOC-nya. Saat Indonesia merdeka, beberapa kesultanan nan masih remang dan bertahan pun melumer dan bergabung dengan wilayah NKRI.

(baca pula
imperium Hindu tertua di Indonesia)

kerajaan islam di indonesia

Sejarah Kerajaan Selam di Indonesia

Berikut ini merupakan nama nama kerajaan Islam di Indonesia nan besar dan naik daun beserta sejarah, waktu berdiri dan perian runtuhnya, musim kejayaannya, pusat pemerintahannya, serta nama-nama raja ataupun sultan nan wasilah berwenang.

Imperium Tatami

Kesultanan Perlak atau Peureulak adalah imperium Islam di Indonesia yang berpusat di wilayah Peureulak, Aceh Timur, Aceh. Kerajaan ini diklaim ibarat kerajaan Selam pertama di Indonesia. Perlak mula-mula berdiri antara waktu 840 M sebatas runtuh sekitar tahun 1292 M.

Kerajaan ini luang menjadi pelabuhan niaga yang beradab karena letaknya yang strategis dan dekat dengan jalur perbelanjaan di Selat Malaka. Perlak juga dikenal sebagai penghasil tiang matras, yang bagus cak bagi membuat kapal. Kebanyakan pedagang semenjak Arab dan Persia mampir disini bagi berdagang.

Datangnya saudagar dari Timur Perdua pula menciptakan menjadikan urut-urutan agama Islam di daerah Aceh Timur menjadi cukup pesat. Perlak kemudian disatukan dengan Imperium Samudera Pasai yang saat itu bernas di bawah masa pemerintahan sultan Samudera Pasai, Sultan Muhammad Malik Al Zahir.

Daftar Sultan Kerajaan Perlak

  1. Sultan Alaiddin Syed Maulana Abdul Azis Shah (840-864)
  2. Kanjeng sultan Alaiddin Syed Maulana Abdul Rezeki Shah (864-888)
  3. Sultan Alaiddin Syed Maulana Abbas Shah (888-913)
  4. Sinuhun Alaiddin Syed Maulana Ali Mughat Shah (915-918)
  5. Pangeran Makhdum Alaiddin Malik Abdul Kadir Shah Johan Berdaulat (928-932)
  6. Sultan Makhdum Alaiddin Malik Muhammad Amin Shah Johan Berdaulat (932-956)
  7. Sultan Makhdum Alaiddin Abdul Malik Shah Johan Berdaulat (956-983)
  8. Yamtuan Makhdum Alaiddin Malik Ibrahim Shah Johan Berdaulat (986-1023)
  9. Kanjeng sultan Makhdum Alaiddin Malik Mahmud Shah Johan Berdaulat (1023-1059)
  10. Aji Makhdum Alaiddin Malik Mansur Shah Johan Berdaulat (1059-1078)
  11. Sri paduka Makhdum Alaiddin Malik Abdullah Shah Johan Berdaulat (1078-1109)
  12. Paduka Makhdum Alaiddin Malik Ahmad Shah Johan Berdaulat (1109-1135)
  13. Kaisar Makhdum Alaiddin Malik Mahmud Shah Johan Berdaulat (1135-1160)
  14. Kanjeng sultan Makhdum Alaiddin Malik Usman Shah Johan Berdaulat (1160-1173)
  15. Sultan Makhdum Alaiddin Malik Muhammad Shah Johan Berdaulat (1173-1200)
  16. Raja Makhdum Alaiddin Abdul Jalil Shah Johan Berdaulat (1200-1230)
  17. Sultan Makhdum Alaiddin Malik Muhammad Amin Shah II Johan Berdaulat (1230-1267)
  18. Sultan Makhdum Alaiddin Malik Abdul Aziz Johan Berdaulat (1267-1292)

Kerajaan Samudera Pasai

Kerajaan Samudera Pasai merupakan imperium Selam yang terletak di pesisir pantai utara pulau Sumatera. Pusatnya karib dengan sekitar kota Lhokseumawe dan Aceh Lor di provinsi Aceh. Imperium ini juga dikenal dengan nama Kesultanan Pasai atau Samudera Darussalam. Kekaisaran ini menjadi salah suatu kekaisaran Selam permulaan di Indonesia.

Awalnya imperium Samudera Pasai didirikan pada tahun 1267 M dan kemudian runtuh pada tahun 1521 M akibat serangan dari Portugis yang ikut ke daerah Sumatera. Sinuhun pertama Samudera Pasai adalah Sultan Malik as-Saleh, ama aslinya adalah Berang Silu.

Sejarah kerajaan Samudera Pasai dapat ditemukan bersumberkan mulai sejak hikayat raja-raja Pasai, serta penciptaan taman bahagia yang dipertuan dan koin emas di era tersebut. Bukti eksistensi imperium ini kembali tercatat puas kitab karya musafir Maroko bernama Tepung Abdullah ibn Batuthah nan tersohor.

Daftar Pangeran Kerajaan Samudera Pasai

  1. Sultan Malik as-Imani (Meurah Silu) (1267-1297)
  2. Sultan Al-Malik azh-Zhahir I / Muhammad I (1297-1326)
  3. Sultan Ahmad I (1326-1336)
  4. Raja Al-Malik azh-Zhahir II (1336-1349)
  5. Sultan Zainal Abidin I (1349-1406)
  6. Yang dipertuan Nahrasyiyah (1406-1428)
  7. Sultan Zainal Abidin II (1428-1438)
  8. Syah Shalahuddin (1438-1462)
  9. Yang dipertuan Ahmad II (1462-1464)
  10. Sultan Abu Zaid Ahmad III (1464-1466)
  11. Sultan Ahmad IV (1466-1466)
  12. Emir Mahmud (1466-1468)
  13. Kaisar Zainal Abidin III (1468-1474)
  14. Syah Muhammad Pangeran II (1474-1495)
  15. Tuanku Al-Kamil (1495-1495)
  16. Prabu Adlullah (1495-1506)
  17. Kanjeng sultan Muhammad Syah III (1506-1507)
  18. Prabu Abdullah (1507-1509)
  19. Sultan Ahmad V (1509-1514)
  20. Yamtuan Zainal Abidin IV (1514-1517)

Kerajaan Aceh Darussalam

Sultanat Aceh Darussalam atau Aceh hanya, adalah sebuah kerajaan Selam nan berfokus di provinsi Aceh di ujung pulau Sumatera. Kerajaan ini didirikan pertama pada tahun 1496 M sebelum risikonya runtuh puas perian 1903 M. Paduka tuan pertama kekaisaran Aceh adalah Sultan Ali Mughayat Raja.

Pusat pemerintahan Kesultanan Aceh Darussalam suka-suka di ii kabupaten Banda Aceh, dan sempat berpindah ke kota Keumala sejak periode 1873 M. Kerajaan ini dikenal memiliki ideologi untuk menentang imperialisme bangsa Eropa nan di era itu berangkat datang ke Indonesia.

Sistem pemerintahan pada Sultanat Aceh Darussalam juga teratur dan sistematik, dengan ekspansi buku penggalian guna-guna permakluman, termaktub ilmu fiqih Selam. Kesultanan Aceh akhirnya runtuh pada 1903 M setelah menyerah kepada pihak Belanda.

Daftar Sultan Kerajaan Aceh Darussalam

  1. Kanjeng sultan Ali Mughayat Syah bin Sunan Syamsu Kanjeng sultan (1496-1528)
  2. Sultan ‘Adilullah bin Munawwar Sri paduka (1528-1540)
  3. Sultan ‘Ali Ri’ayah Syah kedelai Munawwar Ratu (1540)
  4. Sultan Salahuddin bin Ali Malik az Jasmaniah (1530-1537)
  5. Sultan Alauddin bin Ali Malik az Fisis (1537-1568)
  6. Sultan Ali bin Alauddin Malik az Zahir (1568-1575)
  7. Syah Muda (1575)
  8. Sultan Sri Alam (1575-1576)
  9. Raja Zainal Abidin ibn Abdullah (1576-1577)
  10. Pangeran Alauddin Mansur Sultan ibn Ahmad (1577-1589)
  11. Pangeran Ali ibn Munawar Syah (1589-1596)
  12. Sultan Alauddin Riayat Baginda Sayyid al-Mukammil (1596-1604)
  13. Sultan Ali Riayat Sultan (1604-1607)
  14. Sultan Iskandar Muda Johan Pahlawan Meukuta Alam (1607-1636)
  15. Yamtuan Iskandar Tsani Alauddin Mughayat Syah (1636-1641)
  16. Sri Ratu Safiatuddin Tajul Bendera (1641-1675)
  17. Sri Ratu Naqiatuddin Nurul Alam (1675-1678)
  18. Sri Ratu Zaqiatuddin Inayat Syah (1678-1688)
  19. Sri Yang dipertuan Zainatuddin Kamalat Syah (1688-1699)
  20. Paduka Badrul Alam Syarif Hasyim Jamaluddin (1699-1702)
  21. Prabu Perkasa Alam Syarif Lamtui (1702-1703)
  22. Sri paduka Jamalul Alam Badrul Munir (1703-1726)
  23. Pangeran Jauharul Alam Aminuddin (1726)
  24. Kanjeng sultan Syamsul Alam (1726-1727)
  25. Sultan Alauddin Ahmad Syah (1727-1735)
  26. Sultan Alauddin Johan Syah (1735-1760)
  27. Ratu Alauddin Mahmud Pangeran I (1760-1764)
  28. Emir Badruddin Johan Syah (1764-1765)
  29. Sultan Alauddin Mahmud Tuanku I (1765-1773)
  30. Sultan Sulaiman Tuanku (1773)
  31. Raja Alauddin Mahmud Syah I (1773-1781)
  32. Alauddin Muhammad Kanjeng sultan (1781-1795)
  33. Sultan Alauddin Jauhar al-Liwa (1795-1823)
  34. Sultan Syarif Saif al-Duaja (1815-1820)
  35. Sultan Alauddin Jauhar al-Alam (1795-1823)
  36. Sultan Muhammad Syah (1823-1838)
  37. Sultan Sulaiman Ali Iskandar Baginda (1838-1857)
  38. Sultan Mansur Syah (1857-1870)
  39. Prabu Mahmud Syah (1870-1874)
  40. Baginda Muhammad Daud Syah (1874-1903)

Kerajaan Cirebon

Kesultanan Cirebon merupakan kekaisaran Islam yang berada di area Jawa Barat. Kekaisaran ini menang pada abad 15 sampai 16 Serani. Cirebon pertama redup plong tahun 1430 M dan kemudian ambruk pada masa 1677 M. Cirebon menjadi salah satu kerajaan Islam ternama nan menjadi pelabuhan penting sebagai jongkong perdagangan dan pelayaran di era tersebut.

Sosi rezim Sultanat Cirebon ada di tepi laut utara Jawa nan menjadi perbatasan Jawa Paruh dan Jawa Barat. Cirebon lagi memadukan dua budaya, yakni kebudayaan Jawa dan tamadun Sunda. Kesultanan Cirebon menjadi pusat kebudayaan di tanah Jawa sekalian pendakyahan agama Islam.

Sultanat Cirebon akibatnya jatuh pada tahun 1677 Masehi, karena terjadi pembagian menjadi kesultanan Kasepuhan yang dipimpin Pangeran Martawijaya, kesultanan Kanoman yang dipimpin makanya Kaisar Kartawijaya, serta Panembahan Cirebon yang dipimpin Pangeran Wangsakerta.

Daftar Sultan Kekaisaran Cirebon

  1. Kaisar Cirebon I Pangeran Walangsungsang (1430-1479)
  2. Syarif Hidayatullah / Sunan Gunung Jati (1479-1568)
  3. Fatahillah (1568-1570)
  4. Sultan Zainul Arifin / Panembahan Kanjeng sultan I (1570-1649)
  5. Kaisar Abdul Murah hati / Panembahan Girilaya (1649-1677)

Kerajaan Demak

Kesultanan Demak ialah kerajaan Islam pertama di Jawa. Kerajaan ini kembali menjadi kerajaan Selam terbesar di daerah pantai lor Jawa. Sebelumnya Demak merupakan kadipaten
peninggalan kerajaan Majapahit
yang kemudian unjuk menjadi kelebihan baru. Demak berdiri sejak masa 147 M sampai runtuh di tahun 1554 M.

Hadirnya kekaisaran Demak menjadi pelopor penyebaran agama Islam di pulau Jawa, dan bahkan di Indonesia. Demak ngeri setelah runtuhnya kerajaan Majapahit, ditandai dengan berdirinya daerah tingkat pelabuhan Demak yang masa ini menjadi kota Demak di provinsi Jawa Perdua.

Kerajaan Demak tidak bertahan lama dan mengalami kemunduran karena terjadi penyerobotan pengaruh di antara kerabat imperium. Demak runtuh di musim 1554 M dan menjadi bagian dari Kerajaan Pajang yang didirikan oleh Hadiwijaya ataupun Guli Tingkir, setelah ia menaklukkan Arya Penangsang selaku raja Demak nan terakhir sebelum runtuh.

Daftar Baginda Kerajaan Demak

  1. Raden Fatah (1475-1518)
  2. Ekstrak Unus (1518-1521)
  3. Trenggana (1521-1546)
  4. Raja Prawata (1546-1547)
  5. Arya Penangsang (1547-1554)

Kerajaan Banten

Kesultanan Banten adalah kekaisaran Islam nan berpusat di Tatar Pasunda, kewedanan Banten. Banten purwa berdiri pada tahun 1526 M sebelum akhirnya drop di hari 1813 M. Berdirinya kesultanan Banten kembali tak lepas dari munculnya kesultanan Cirebon dan kesultanan Demak yang memperluas kekuatan dan pengaruhnya hingga ke pesisir barat pulau Jawa.

Sultanat Banten menjadi kesultanan yang mandiri pada tahun 1552 setelah Maulana Hasanuddin ditasbihkan oleh ayahnya yaitu Sri paduka Giri Jati sebagai Sultan di Banten. Banten juga dikenal sebagai kerajaan nautikal dan mengandalkan perkulakan dalam menopang perekonomiannya.

Kerajaan Banten berbenda mempertahankan keberuntungan selama hampir 3 abad, meski juga terus digempur oleh bangsa Eropa. Waktu kejayaan kesultanan Banten terjadi saat pengaturan Sultan Ageng Tirtayasa antara tahun 1651 sampai 1682 M. Namun alhasil Banten runtuh pada tahun 1813 M akibat pengaruh kekuatan Hindia-Belanda

Daftar Sultan Imperium Banten

  1. Paduka tuan Maulana Hasanuddin (1552-1570)
  2. Yang dipertuan Maulana Yusuf (1570-1585)
  3. Kanjeng sultan Maulana Muhammad (1585-1596)
  4. Paduka Abdul Mafakhir Mahmud Abdulkadir (1596-1647)
  5. Sultan Abu al-Ma’ali Ahmad (1647-1651)
  6. Tuanku Ageng Tirtayasa (1651-1683)
  7. Sultan Bubuk Nashar Abdul Qahar (1683-1687)
  8. Sultan Abu al-Fadhl Muhammad Yahya (1687-1690)
  9. Sultan Abu al-Mahasin Muhammad Zainulabidin (1690-1733)
  10. Sultan Abdullah Muhammad Syifa Zainularifin (1733-1750)
  11. Sultan Syarifuddin Ratu Wakil2 (1750-1752)
  12. Yamtuan Abu al-Ma’ali Muhammad Wasi (1752-1753)
  13. Sultan Abu al-Nasr Muhammad Arif Zainulasyiqin (1753-1773)
  14. Paduka tuan Aliyuddin I (1773-1799)
  15. Pangeran Muhammad Muhyiddin Zainussalihin (1799-1801)
  16. Sultan Muhammad Ishaq Zainulmuttaqin (1801-1802)
  17. Raja Wakil Pangeran Natawijaya (1802-1803)
  18. Syah Aliyuddin II (1803-1808)
  19. Sultan Wakil Sinuhun Suramenggala (1808-1809)
  20. Sultan Maulana Muhammad Shafiuddin (1809-1813)

Imperium Pajang

Kerajaan Pajang merupakan sebuah imperium Islam yang kunci pemerintahannya ada di provinsi Jawa Tengah. Kesultanan ini adalah kelanjutan dari kesultanan Demak. Pajang pertama remang pada periode 1568 M dan kemudian merosot puas tahun 1586 M.

Kesultanan Pajang merupakan kerajaan pertama nan muncul di pedalaman Jawa setelah runtuhnya kekaisaran Islam di provinsi pantai utara pesisir. Pembangun sewaktu paduka pertama Kekaisaran Pajang adalah Jaka Tingkir yang kemudian dikenal dengan gelar Yamtuan Hadiwijaya.

Usai Hadiwijaya geser, luang terjadi pencaplokan pengaruh antara anaknya dan menantunya. Hal ini kemudian memicu serangkaian hal sebelum Pajang turun di tahun 1587. Usai turun, Pajang dijadikan sebagai bidak dari sultanat Mataram Selam.

Daftar Paduka tuan Kerajaan Pajang

  1. Yamtuan Hadiwijaya / Jaka Tingkir (1568-1583)
  2. Sultan Ngawantiputra / Arya Pangiri (1583-1586)
  3. Paduka tuan Prabuwijaya / Pangeran Benawa (1586-1587)

Kerajaan Mataram Islam

Kesultanan Mataram Islam adalah kekaisaran bercorak Islam nan cak semau di pulau Jawa pada abad ke 17 M. Kerajaan ini awalnya belaka bernama Mataram, belaka kerap disebut sebagai Mataram Selam atau Mataram Baru, untuk memperlainkan dengan Kekaisaran Mataram Historis nan bercorak Hindu.

Kekaisaran ini dipimpin dinasti keturunan Pintu Ageng Sela dan Capuk Ageng Pemanahan. Bawah-usulnya adalah suatu Kadipaten di bawah Kesultanan Pajang. Paduka tuan pertamanya adalah Sutawijaya atau Panembahan Senapati, putra pecah Ki Ageng Pemanahan.

Pada masa kejayaannya, kerajaan Mataram Islam pernah menyatukan tanah Jawa dan berperang mengimbangi VOC dari pihak Belanda. Mataram Islam kemudian runtuh akibat adanya pemberontakan serta kekuasaan dan ramu tangan dari pihak VOC.

Daftar Sultan Kerajaan Mataram Islam

  1. Bopeng Ageng Pamanahan (1556-1584)
  2. Panembahan Senapati (1584-1601)
  3. Raden Mas Jolang (1601-1613)
  4. Raden Mas Rangsang (1613-1646)
  5. Amangkurat I (1646-1676)
  6. Amangkurat II (1677-1703)

Kekaisaran Ternate

Kesultanan Ternate ialah slaah satu kerajaan Selam di kepulauan Maluku. Kerajaan ini disebut sekali lagi seumpama Kerajaan Gapi. Ternate pertama didirikan pada tahun 1257 M sampai waktu 1950 M. Sultanat Ternate memiliki peran penting di kawasan timur Nusantara.

Perian keberuntungan Kesultanan Ternate terjadi di abad 16, dimana wilayahnya dikenal bagaikan pusat perkulakan rempah-rempah di seluruh dunia. Selain itu kontrol Ternate juga merebak berkat arti militernya, hingga meluas sampai kawasan Sulawesi, Filipina dan kepulauan Marshall di Pasifik.

Kerajaan Ternate kemudian senggang mengalami dekadensi setakat anjlok di mulanya abad 17. Sekadar pengaruh Ternate masih pas besar di wilayah Indonesia Timur, bahkan sampai Indonesia merdeka. Kesultanan Ternate kemudian melebur dengan Indonesia, dan hingga kini simbol budaya Kesultanan Ternate masih loyal cak semau.

Daftar Sri paduka Kerajaan Ternate

  1. Baab Mashur Malamo (1257-1277)
  2. Jamin Qadrat (1277-1284)
  3. Komala Abu Said (1284-1298)
  4. Bakuku (Kalabata) (1298-1304)
  5. Ngara Malamo (Komala) (1304-1317)
  6. Patsaranga Malamo (1317-1322)
  7. Cili Aiya (Sidang Arif Malamo) (1322-1331)
  8. Panji Malamo (1331-1332)
  9. Syah Alam (1332-1343)
  10. Tulu Malamo (1343-1347)
  11. Kie Mabiji (Debu Hayat I) (1347-1350)
  12. Ngolo Macahaya (1350-1357)
  13. Momole (1357-1359)
  14. Gapi Malamo I (1359-1372)
  15. Gapi Baguna I (1372-1377)
  16. Komala Pulu (1377-1432)
  17. Marhum (Gapi Baguna II) (1432-1486)
  18. Zainal Abidin (1486-1500)
  19. Sultan Bayanullah (1500-1522)
  20. Hidayatullah (1522-1529)
  21. Serdak Hayat II (1529-1533)
  22. Tabariji (1533-1534)
  23. Khairun Jamil (1535-1570)
  24. Babullah Datu Yang dipertuan (1570-1583)
  25. Said Barakat Syah (1583-1606)
  26. Mudaffar Tuanku I (1607-1627)
  27. Hamzah (1627-1648)
  28. Mandarsyah (1648-1650)
  29. Manila (1650-1655)
  30. Mandarsyah (1655-1675)
  31. Sibori (1675-1689)
  32. Said Fatahullah (1689-1714)
  33. Amir Iskandar Zulkarnain Syaifuddin (1714-1751)
  34. Ayan Tuanku (1751-1754)
  35. Baginda Mardan (1755-1763)
  36. Jalaluddin (1763-1774)
  37. Harunsyah (1774-1781)
  38. Achral (1781-1796)
  39. Muhammad Yasin (1796-1801)
  40. Muhammad Ali (1807-1821)
  41. Muhammad Sarmoli (1821-1823)
  42. Muhammad Zain (1823-1859)
  43. Muhammad Arsyad (1859-1876)
  44. Ayanhar (1879-1900)
  45. Muhammad Wahyu (Kolano Ara Rimoi) (1900-1902)
  46. Haji Muhammad Usman Syah (1902-1915)
  47. Iskandar Muhammad Jabir Syah (1929-1950)

Kerajaan Tidore

Kesultanan Tidore merupakan salah satu kekaisaran Islam di kepulauan Maluku. Muslihat pemerintahannya cak semau di kota Tidore, Maluku Lor. Kerajaan Tidore ini pertama didirikan plong 1081 M hingga tahun 1950 M saat melebur ke wilayah Indonesia yang mutakadim merdeka.

Masa kejayaan kekaisaran Tidore terjadi lega abad 16 hingga abad 18 M. Momen itu wilayah Tidore terus meluas setakat wilayah pesisir Papua Barat. Tidore sekali lagi sempat bercekcok dengan Kesultanan Ternate yang juga kerajaan Islam di Maluku. Kedua kesultanan ini senggang mendapat dukungan, sendirisendiri bersumber Spanyol dan Portugis.

Ketika masa jajahan Belanda ke Indonesia, Tidore tetap menjadi kerajaan merdeka dan menolak penundukan VOC di tanah Maluku. Meski begitu VOC taat berbenda mengontrol perbisnisan rempah-rempah di wilayah Tidore sehingga menyebabkan kerugian bagi Tidore.

Daftar Pangeran Kerajaan Tidore

  1. Kolano Syahjati maupun Muhammad Naqil kedelai Jaffar Assidiq
  2. Kolano Bosamawange
  3. Kolano Syuhud maupun Subu
  4. Kolano Balibunga
  5. Kolano Duko adoya
  6. Kolano Kie Matiti
  7. Kolano Seli
  8. Kolano Matagena
  9. Kolano Nuruddin (1334-1372)
  10. Kolano Hasan Syah (1372-1405)
  11. Sinuhun Ciriliyati alias Djamaluddin (1495-1512)
  12. Aji Al Mansur (1512-1526)
  13. Sultan Amiruddin Iskandar Zulkarnain (1526-1535)
  14. Aji Kiyai Mansur (1535-1569)
  15. Paduka tuan Iskandar Sani (1569-1586)
  16. Baginda Gapi Baguna (1586-1600)
  17. Aji Mole Majimo alias Zainuddin (1600-1626)
  18. Sultan Ngora Malamo alias Alauddin Syah (1626-1631)
  19. Sultan Gorontalo alias Saiduddin (1631-1642)
  20. Sultan Saidi (1642-1653)
  21. Sultan Mole Maginyau alias Malikiddin (1653-1657)
  22. Sultan Saifuddin atau Jou Kota (1657-1674)
  23. Sultan Hamzah Fahruddin (1674-1705)
  24. Sultan Abdul Fadhlil Mansur (1705-1708)
  25. Raja Hasanuddin Kaicil Garcia (1708-1728)
  26. Sultan Amir Bifodlil Aziz Muhidin Malikul Manan (1728-1757)
  27. Aji Muhammad Mashud Jamaluddin (1757-1779)
  28. Sultan Minyak Alam (1780-1783)
  29. Kanjeng sultan Hairul Pan-ji-panji Kamaluddin Asgar (1784-1797)
  30. Paduka tuan Syaidul Jehad Amiruddin Syaifuddin Yamtuan Muhammad (1797-1805)
  31. Sultan Zainal Abidin (1805-1810)
  32. Prabu Motahuddin Muhammad Tulen (1810-1821)
  33. Sultan Achmadul Mansur Sirajuddin Prabu (1821-1856)
  34. Sultan Achmad Syaifuddin Alting (1856-1892)
  35. Paduka tuan Achmad Fatahuddin Alting (1892-1894)
  36. Sultan Achmad Kawiyuddin Alting alias Shah Juan (1894-1906)
  37. Kanjeng sultan Zainal Abidin Syah (1947-1950)

Kekaisaran Gowa

Kesultanan Gowa alias ditulis Goa, adalah keseleo satu kekaisaran Selam di Sulawesi Daksina. Gowa menjadi riuk satu kerajaan Islam terbesar dan tersukses di Sulawesi Daksina. Gerendel pemerintahannya ada di Gowa dan daerah di sekitarnya. Gowa merembah sejak tahun 1300 M dan kemudian runtuh pada tahun 1946 M.

Sebelumnya imperium Gowa adalah bentuk penyatuan dari Sultanat Gowa dan Tallo. Kerajaan Gowa memiliki raja yang naik daun yakni Sultan Hasanuddin. Sira dikenal sebagai pejuang nan gigih dan berkujut internal Perang Makassar menyamai VOC yang dibantu Kesultanan Bone didikan Arung Palakka.

Puncak keemasan kesultanan Gowa terjadi puas abad ke 17 M. Tetapi dominasi Gowa tiba menurun ketika pihak Belanda masuk ke Indonesia. Usai Indonesia merdeka, Imperium Gowa lagi mengemudiankan melumer dan berubah menjadi area tingkat Daerah tingkat Gowa.

Daftar Emir Imperium Gowa

  1. Tumanurung Bainea
  2. Tumassalangga Baraya
  3. Puang Loe Lembang
  4. I Tuniatabanri
  5. Karampang ri Gowa
  6. Tunatangka Lopi
  7. Betara Gowa Tuminanga ri Paralakkenna
  8. Pakere Tau Tunijallo ri Passukki
  9. Daeng Matanre Karaeng Tumapa’risi’ Kallonna
  10. I Manriwagau Daeng Bonto Karaeng Lakiyung Tunipallangga Ulaweng (1546-1565)
  11. I Tajibarani Daeng Marompa Karaeng Data Tunibatte
  12. I Manggorai Daeng Mameta Karaeng Bontolangkasa Tunijallo (1565-1590)
  13. I Tepukaraeng Daeng Parabbung Tuni Pasulu (1593)
  14. I Mangari Daeng Manrabbia Tuanku Alauddin I Tuminanga ri Gaukanna (1593-1639)
  15. I Mannuntungi Daeng Mattola Karaeng Lakiyung Sultan Malikussaid Tuminanga (1639-1653)
  16. I Mallombassi Daeng Mattawang Karaeng Bonto Mangape Baginda Hasanuddin Tuminanga (1653-1669)
  17. I Mappasomba Daeng Nguraga Sultan Amir Hamzah Tuminanga ri Allu’ (1669-1681)
  18. Sultan Mohammad Ali (Karaeng Bisei) Tumenanga ri Jakattara (1674-1677)
  19. I Mappadulu Daeng Mattimung Karaeng Sanrobone Prabu Abdul Jalil Tuminanga 1677-1709)
  20. La Pareppa Tosappe Wali Yamtuan Ismail Tuminanga ri Somba Opu (1709-1711)
  21. I Mappaurangi Sultan Sirajuddin Tuminang ri Pasi
  22. I Manrabbia Sultan Najamuddin
  23. I Mappaurangi Sultan Sirajuddin Tuminang ri Pasi (1735)
  24. I Mallawagau Sultan Abdul Chair (1735-1742)
  25. I Mappibabasa Sultan Abdul Tahir (1742-1753)
  26. Amas Madina Batara Gowa (1747-1795)
  27. I Mallisujawa Daeng Riboko Arungmampu Tuminanga ri Tompobalang (1767-1769)
  28. I Temmassongeng Karaeng Katanka Paduka tuan Zainuddin Tuminanga ri Mattanging (1770-1778)
  29. I Manawari Karaeng Bontolangkasa (1778-1810)
  30. I Mappatunru / I Mangijarang Karaeng Legok Parang Tuminang ri Katangka (1816-1825)
  31. La Oddanriu Karaeng Katangka Tuminanga ri Suangga (1825-1826)
  32. I Kumala Karaeng N baruh Parang Sunan Abdul Kadir Moh Aidid Tuminanga (1826-1893)
  33. I Malingkaan Daeng Nyonri Karaeng Katangka Sultan Idris Tuminanga (1893-1895)
  34. I Makkulau Daeng Serbu Karaeng Lembangparang Paduka tuan Husain Tuminang (1895-1906)
  35. I Mangimangi Daeng Matutu Karaeng Bonto Nompo Sultan Muhammad Tahur (1936-1946)
  36. Andi Ijo Daeng Mattawang Karaeng Lalolang Yang dipertuan Muhammad Abdul Kadir Aidudin (1946-1950)

Kerajaan Islam di Sumatera

  • Kerajaan Jeumpa
  • Kesultanan Peureulak
  • Sultanat Samudera Pasai
  • Kesultanan Lamuri
  • Kerajaan Pedir
  • Kerajaan Daya
  • Kerajaan Linge
  • Kesultanan Aceh
  • Kesultanan Indrapura
  • Kerajaan Pagaruyung
  • Kerajaan Siguntur
  • Kerajaan Sungai Pagu
  • Kerajaan Bungo Setangkai
  • Kesultanan Jambi
  • Kesultanan Serdang
  • Kesultanan Asahan
  • Kesultanan Deli

Kerajaan Selam di Jawa

  • Kesultanan Cirebon
  • Kesultanan Demak
  • Sultanat Banten
  • Kesultanan Pajang
  • Kesultanan Mataram Selam
  • Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat
  • Kasunanan Surakarta Hadiningrat

Imperium Islam di Kalimantan

  • Sultanat Pasir
  • Sultanat Larik
  • Kesultanan Kotawaringin
  • Imperium Pagatan
  • Kesultanan Sambas
  • Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura
  • Kesultanan Berau
  • Kesultanan Sambaliung
  • Kesultanan Gunung Tabur
  • Kesultanan Pontianak
  • Kerajaan Tidung
  • Kekaisaran Tidung Kuno
  • Kesultanan Bulungan

Imperium Islam di Sulawesi

  • Kesultanan Gowa
  • Sultanat Buton
  • Kesultanan Bone
  • Kesultanan Tallo
  • Kerajaan Banggai

Kerajaan Selam di Maluku

  • Kesultanan Ternate
  • Sultanat Tidore
  • Kesultanan Jailolo
  • Kesultanan Bacan
  • Kekaisaran Tanah Hitu
  • Kerajaan Iha
  • Kerajaan Huamual

Nah itulah bacaan imperium Islam di Indonesia beserta ki kenangan, lokasi, kiat pemerintahan, musim kejayaan, waktu ngeri, dan label-nama raja ataupun raja yang memerintah. Hendaknya bisa menjadi teks akan halnya sejarah pendakyahan Selam di Indonesia.

Source: https://www.zonareferensi.com/kerajaan-islam-di-indonesia/

Posted by: gamadelic.com