Jenis Jenis Najis : Pengertian dan Penjelasannya




Al-hamdulillah  Mengenai Najis telah dibahas, dan bisa jadi ini
Fiqih.co.id
akan menyambat ke Diversifikasi Najis dan Penjelasannya. Dalam pada ini kami akan terangkan Syariat Layon Serangga dan macam najis.

Daftar Isi

  • 1
    Variasi Macam Najis : Denotasi dan Penjelasannya

    • 1.1
      Mukadimah
    • 1.2
      Macam Varietas Najis
    • 1.3
      Perkataan Mushanif
    • 1.4
      Syariat Sato
    • 1.5
      Macam Najis Bangkai
    • 1.6
      Mencuci di Air Mengalir Nan Mencacau
    • 1.7
      Jenis Macam Najis Terbagi Tiga :
    • 1.8
      Najis Mukhaffafah.
    • 1.9
      Najis Mutawassithah.
    • 1.10
      Najis Mughalladzah.
    • 1.11
      Sucinya Arak Setelah Menjadi Cokak
    • 1.12
      Sebarkan ini:
    • 1.13
      Posting tercalit:

Variasi Spesies Najis : Pengertian dan Penjelasannya

Varietas-spesies najis merupakan Muhkoffafah, Mutwasithoh dan Mugholladzoh. Najis Mutawasithoh diantaranya merupakan naji buntang. Yanmg dimaksud dengan Kunarpa yakni dabat nan mati bukan karena dipotong secara syar’i. Mengenai hukum bangakai itu adalah najis, lakukan bertambah jelasnya ayo kita baca jabaran berikut ini.

Mukadimah


السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهْ.  بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ. اَلْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ

Sidang pembaca yang dirahmati Almalik Subhanahu wa Ta’ala. temu pun bersama Fiqih.co.id nan  internal pembahasan mungkin ini kita masih seputar Najis dan hukumnya. Namu intern pembahsan kali ini kita menerangkan soal hukum bangkai yang kami kutip berasal Fathul qorib fiqih madzhab Syafi’i.

Macam Variasi Najis

Ada sejumlah macam najis yang harus kita ketahui bersama hendaknya kita dapat mengeluarkan hukmnya antar naji-bajis tersebut. macam-macam najis tersebut akan kami terangkan diakhir uraian ini. Berikut ini kami sampaikan menmgenai Hukum bangkai insek.

Adapu Hukum Bangkai Serangga Sebagai halnya telah diterangkan dalam fathul-qorib, bahwa semua fauna nan enggak ada darah mengalir lalu termendak ke privat badah air, terus mati di dalamnya, maka anda tidak  menajiskan.

Tertera dalam Fathul Qorib sebagai berikut:


﯁(وَ) اِلَّا (مَا) اَيْ شَيْئٍ (لَانَفْسَ لَهُ سَائِلَةٌ) كَذُبَابٍ وَنَمْلٍ (اِذَا وَقَعَ فِيْ الْاِنَاءِ وَمَاتَ فِيْهِ فَاِنَّهُ لَايُنَجِّسُهُ). وَفِيْ بَعْضِ النُّسَخِ اِذَا مَاتَ فِي الْاِنَاءِ وَاَفْهَمَ قَوْلُهُ وَقَعَ اَيْ بِنَفْسِهِ اَنَّهُ لَوْ طُرِحَ مَا لَانَفْسَ لَهُ سَائِلَةٌ فِي الْمَائِعِ وَهُوَ مَا جَزَمَ بِهِ الرَّفِعِيُّ فِي الشَّرْحِ الصَّغِيْرِ. وَلَمْ يَتَعَرَّضْ لِهَذِهِ الْمَسْأَلَةِ فِيْ الْكَبِيْرِ.﯁

Artinya: Dan Belaka bukan najis hewan yang tak bergerak darahnya, seperti mana lalat dan semut ketika jatuh ke dalam wadah, kemudian mati di dalamnya maka ia enggak menajis kannya. Tersebut di dalam sebagian pemberitahuan mempekerjakan perkataan “saat senyap hewan tersebut di kerumahtanggaan tempat”.

Perkataan Mushanif

Dan telah menyerahkan pemahaman perkataan mushannif  “yang jatuh”, bahwa nan dimaksudkan adalah ambruk dengan sendirinya.

Seandainya hewan yang lain bersirkulasi darahnya itu sengaja dijatuhkan ke kerumahtanggaan benda cair, maka hukumnya benda cair tersebut adalah najis. Ini adalah penetapan Imam Rafi’i terdapat dalam pidato kitab nan kecil. Dan Rohaniwan Rafi’i bukan menjelas ketel masalah ini internal syarah kitab yang besar.


وَاِذَا كَثُرَتْ مَيْتَةُ مَالَانَفْسَ لَهُ سَائِلَةٌ وَغَيَّرَتْ مَا وَقَعَتْ فِيْهِ نَجَسَتْهُ. وَاِذَا نَشَئَتْ هَذِهِ الْمَيْتَةُ مِنَ الْمَائِعِ كَدُوْدِ خَلٍّ وَفَاكِهَةٍ لَمْ تُنَجِّسْهُ قَطْعًا.﯁

Ketika bangkai hewan yang tidak mengalir darahnya itu banyak jumlahnya dan sudah merubah keadaan benda enceran tersebut, maka jelas hukumnya najis.

Dan ketika bangkai ini tumbuh dari dalam benda cair sama dengan belatungnya cukak dan buah-buahan maka hukumnya tidak menajiskan.


وَيُثْتَسْنَى مَعَ مَاذُكِّرَهُنَا مَسَائِلُ مَذْكُوْرَةٌ فِيْ الْمَبْسُوْطَاتِ سَبَقَ بَعْضُهَا فِيْ كِتَابِ الطَّهَارَةِ.﯁

Dan dikecualikan terbit hal-situasi yang diterangkan dalam pasal ini adanya beberapa komplikasi nan tersebut dalam kitab yang panjang lebar keterangannya nan sebagian terdapat dalam kitabThaharah.

Syariat Binatang


﯁(وَالْحِيْوَانُ كُلُّهُ طَاهِرٌ اِلَّا الْكَلْبَ وَالْخِنْزِيْرَ وَمَا تَوَلَدَ مِنْهُمَا اَوْ مِنْ اَحَدِهِمَا) مَعَ حِيْوَانٍ طَاهِرٍ وَعِبَارَتُهُ تَصْدُقُ بِطَهَّارَةِ الدُّوْدِ الْمُتَوَلَدِ مِنَ النَّجَاسَةِ وَهُوَ كَذَلِكَ.﯁

Semua fauna itu suci, kecuali anjing dan nangui, dan binatang yang keluar atau diperanakkan dari keduanya alias salah satunya dengan binatang yang suci. Pernyataan Muhannif sekaligus menyungguhkan sucinya binatang belatung yang keluar berusul najis dan ini hukumnya adalah steril.

Macam Najis Mayat

Ada beraneka ragam macam najis batang, sebagaimana bangkai ayam aduan, burung, belalang dan sebagainya. Pada dasanya semua batang itu hukumnya najis kecuali tiga keberagaman kunarpa seperti diterangkan n domestik Fiqih:


﯁(وَالْمَيْتَةُ كُلُّهَا نَجِسَةٌ اِلَّا السَّمَكَ وَالْجَرَادَ وَالْاَدَمِيَّ) وَفِي بَعْضِ النُّسَخِ وَابْنَ آدَمَ اَيْ مَيْتَةَ كُلِّ مِنْهَا فَاِنَّهَا طَاهِرَةٌ.  (وَيُغْسَلُ الْإِناَءُ مِنْ وُلُوْغِ الْكَلْبِ وَالْخِنْزِيْرِ سَبْعَ مَرَّاتٍ) بِمَاءٍ طَهُوْرٍ (اِحْدَاهُنَّ) مَصْحُوْبَةٌ (بِالتُّرَابِ) الطَّهُوْرِ يَعُمُّ الْمَحَلَ الْمُتَنَجِّسِ.﯁

Semua jenazah itu najis, kecuali ikan, belalang dan anak Adam. Di kerumahtanggaan sebagian deklarasi menunggangi mulut  ”Ibn Adam”. Pengertiannya merupakan, bahwa masing-masing bermula ikan, belalang dan anak asuh Lelaki tersebut bangkainya yakni kudus.

Dan dicuci medan-tempat yang dijilat oleh anjing dan babi sebatas sapta kali bilasan dengan air yang polos. Pelecok satunya harus dicampuri debu yang suci pula nan dapat merata sampai tempat nan terkena najis.

Kumbah di Air Mengalir Yang Cemas

Badah yang dihinggapi najis mugholladzoh apabila dicuci di kandang kuda bersirkulasi dan iair tersebut keadaannya mencacau maka hukumnya sebagai berikut


فَاِنْ كَانَ الْمُتَنَجِّسُ بِمَاذُكِرَ فِيْ مَاءٍ جَارٍ كَدِرٍ كَفَى مُرُوْرُ سَبْعَ جَرْيَاتٍ عَلَيْهِ بِلَا تَعْفِيْرٍ.  وَاِذَا لَمْ تَزُلْ عَيْنُ النَّجَاسَةِ الْكَلْبِيَّةِ اِلَّا بِسِتٍّ مَثَلًا حُسِبَتْ كُلُهُ غَسْلَةً وَاحِدَةً وَالْاَرْضُ التُّرَابِيَّةُ لَايَجِبُ التُّرَابُ فِيْهَا عَلَى الْاَصَحِّ.﯁

Jika nan terkena najis tersebut dicuci intern air mengalir nan keruh, maka hukumnya shah pencuciannya minus mengurusi duli. Apabila keadaan najisnya anjing tersebut tidak boleh hilang kecuali dengan enam mungkin pengumbahan, maka yang demikian itu harus dihitung sekali pencucian.

Menurut pendapat nan bertambah shaheh, bahwa bumi itu sudah berabu, maka tidak wajib menaruh abu lagi.


﯁(وَيُغْسَلُ مِنْ سَائِرِ) اَيْ بَاقِي (النَّجَاسَةِمَرَّةً وَاحِدَةً) وَفِي بَعْضِ النُّسَخِ مَرَّةً (تَأْتِي عَلَيْهِ وَالثَّلَاثُ) وَفِي بَعْضِ النُّسَخِ وَالثَّلَاثَةُ بِاالتَّاءِ (اَفْضَلُ)﯁

Dan dibasuh (dicuci, pen.) sesuatu nan dihinggapi najis-najis sah sekali saja yang merata sampai yang terkena najis itu. Menurut sebagian keterangan, mencuci najis biasa tersebut hingga tiga kali yaitu lebih baik.

Jenis Diversifikasi Najis Terbagi Tiga :

Adapun Tiga macam najis itu adalah :

  1. Najis Mukhaffafah
  2. Najis Mutawassithah
  3. Najis Mugholadzoh

Najis Mukhaffafah.

Najis Mukhaffafah itu adalah najis yang mencucinya layak dipercikkan air padanya sampai tak terlihat jebolan najis itu bila dilihat oleh mata. Sebagai halnya air kencing anak maskulin nan belum pernah bersantap dan meneguk kecuali air susu ibunya.

Najis Mutawassithah.

Najis Mutawassithah itu adalah najis yang mencucinya layak dibasuh sekali semata-mata, sebatas tidak tertentang bekas najisnya, baik warnanya, baunya dan sifatnya. Seperti air berkemih dan sempelah basyar, kotoran ayam jago dan sebagainya.

Najis Mughalladzah.

Najis Mughalladzah itu yakni najis nan mencucinya sampai 7 mana tahu riuk satu diantaranya harus dicampuri debu yang suci. Sebagai halnya tertular Jilatan atau air pipis atau kotoran anjing dan babi dan yang diperanakkan berbunga salah satu keduanya dengan binatang yang suci.


وَاعْلَمْ اَنَّ غُسَالَةَ النَّجَاسَةِ بَعْدَ طَهَارَةِ الْمَحَلِ الْمَغْسُوْلِ طَاهِرَةٌ اِنِ انْفَصَلَتْ غَيْرَ مَتَغَيِّرَةٍ. وَلَمْ يَزِدْ وَزْنُهَا بَعْدَ اِنْفِصَالِهَا عَمَّا كَانَ بَعْدَ اعْتِبَارِ مِقْدَارِ مَايَتَشَرَّبَهُ الْمَغْسُوْلُ مِنَ الْمَاءِ. هَذَا اِذَا لَمْ يَبْلُغْ قُلَّتَيْنِ فَاِنْ بَلَغَهُمَا فَالشَّرْطُ عَدَمُ التَّغَيُّرِ.﯁

Ketahuilah !, bahwa lulusan najis sehabis tempatnya dicuci itu menjadi tahir, jika memang eks tempat najis tersebut sesudah berpisah dengan najisnya tidak berubah. Dan bukan pula bertambah berat (timbangannya) berpisahnya bekasnya najis dari situasi sebelumnya setelah diperhitungkan perkiraannya benda yang dibasuh itu menyerap air.

Ini jika air tersebut enggak sampai berjumlah 2 kulah. Sementara itu bilaair itu tadi mencapai 2 kulah, maka syaratnya harus tidak berubah.

Sucinya Arak Setelah Menjadi Cokak


وَلَمَّا فَرَغَ الْمُصَنِفُ مِمَّا يَطْهُرُ بِالْغَسْلِ شَرَعَ فِيْمَا يَطْهُرُ بِالْاِسْتِحَالَةِ. وَهِيَ اِنْقِلَابُ الشَّيْئِ مِنْ صِفَةٍ اِلَى صِفَةٍ اُخْرَى فَقَالَ: (وَاِذَا تَخَلَلَتْ الْخَمْرَةُ) وَهِيَ الْمُتَّخَذَةُ مِنْ مَاءِ الْعِنَبِ مُحْتَرَمَةً كَانَتِ الْخَمْرَةُ اَمْ لَا وَمَعْنَى تَخَلَّلَتْ صَارَتْ خَلًّا وَكَانَتْ صَيْرُورَتُهَا خَلًّا (بِنَفْسِهَا طَهُرَتْ).﯁

Setelah mushannif selesai membicarakan mengenai benda nan dapat suci dengan dibasuh, maka kemudian beliau meneruskan mengomongkan benda nan dapat menjadi zakiah sebab berubah warnanya. Yaitu berubahnya sesuatu bermula aturan nan satu ke aturan yang lain, maka beliau bercakap :

Momen ciu, berubah menjadi cukak, adalah tuak yang dibuat berusul air anggur baik tuak itu dimulyakan atau bukan dan berubahnya menjadi cokak tersebut yaitu dengan sendirinya (tak diproses) maka ia dapat menjadi asli.


وَكَذَا لَوْ تَخَلَّلَتْ بِنَقْلِهَا مِنْ شَمْسٍ اِلَى ظِلٍّ وَعَكْسِهِ. (وَاِنْ)لَمْ تَتَخَلَلْ الْخَمْرَةُ بِنَفْسِهَا بَلْ (تَخَلَلَتْ بِطَرْحِ شَيْئٍ فِيْهَا لَمْ يَطْهُرْ) وَاِذَا طَهُرَتْ الْخَمْرَةُ طَهُرَ دَنُّهَا تَبَعًا لَهَا.﯁

Demikian juga bila tuak itu berubah menjadi cukak dengan dipindahkannya terbit tempat yang panas (karena matahari,pen.) maupun sebaliknya, maka ia berstatus suci pula.

Jika tuak itu tidak menjadi cukak dengan sendirinya, tetapi ia bintang sartan cukak sebab dimasuki sesuatu benda di dalamnya, maka hukumnya tidak suci. Dan detik tuak itu menjadi suci maka ceria pulalah tempatnya karena mengikuti kepada tuaknya.

Macam Macam Najis Pengertian dan Penjelasannya.
Macam Diversifikasi Najis Denotasi dan Penjelasannya.

Demikian Uraian kami tentang


Macam Macam Najis : Konotasi dan Penjelasannya

 – Semoga jabaran ini bisa menginspirasi para pembaca dan berjasa. Harap abaikan belaka uraia kami ini kalau pembaca tidak sepikiran. Cak dapat kasih atas kunjungannya.


بِاللهِ التَّوْفِيْقُ وَالْهِدَايَةُ و الرِّضَا وَالْعِنَايَةُ وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهْ