Nabi Yusuf As Adalah Putra


Yusuf


يوسف



יוֹסֵף



Γιόζεφ

Joseph of Islam.png

Kaligrafi Yusuf

Lahir Mesopotamia
Meninggal Mesir
Makam
  • Peristirahatan terakhir Yusuf, Nablus
  • Safed
  • Masjid Ibrahimi, Hebron
Wadah tinggal
  • Palestina
  • Mesir
Stempel lain Zafnat-Paaneah
Gelar
  • Nabi dan Rasul
  • ‘alaihis-salam
    (keselamatan atasnya)
  • Al-‘Aziz
Pendahulu Ya’qub
Penukar Ayyub
Suami/istri Asnat
Momongan
  • Manasye
  • Efraim
Turunan tua
  • Ya’qub (buya)
  • Rahel (ibu)
Kerabat
  • Ishaq (kakek)
  • Esau (paman)

Yusuf
(bahasa Arab:
يوسف,

translit.



Yūsuf

‎, bahasa Ibrani:


יוֹסֵף
,

Modern

Yosef


Tiberias

Yôsēp̄

, bahasa Yunani:
Γιόζεφ,

translit.



Giózef

) adalah dedengkot kerumahtanggaan Al-Qur’an, Bibel, dan Tanakh. Sira adalah putra semenjak Ya’qub bin Ishaq polong Ibrahim.

Dalam kitab agama samawi disebutkan bahwa Yusuf adalah turunan alim nan tenar akan ketampanannya. Dia dibuang oleh mbok-kakaknya yang iri padanya, kemudian dipungut kafilah nan sangat dan dijadikan budak. Kamu alhasil dijual pada riuk satu majikan Mesir. Secara bertahap, Yusuf akhirnya menjadi riuk satu tokoh terdahulu di Mesir sehabis berdampak memungkirkan mimpi raja. Al-Qur’an mengistilahkan perjalanan hayat Yusuf umpama “narasi terbaik.”

Ayat

[sunting
|
sunting sumur]


Al-Qur’an

[sunting
|
sunting sumur]

Bibel

[sunting
|
sunting sumber]

Nama

[sunting
|
sunting perigi]

Dalam bahasa Ibrani, istilah Yusuf (Y-S-F) memiliki khasiat ‘bertambah’.[1]
[2]
Nama ini diberikan maka itu Rahel, ibu Yusuf, yang sembahyang supaya Allah mengaruniakan sendiri anak asuh tambahan cak bagi dirinya.

Kisah

[sunting
|
sunting sumber]

Dalam Al-Qur’an (kitab tulen Islam), merek Yusuf disebutkan sebanyak 27 kali.[a]
Kisah Yusuf sendiri terpusat di Surah Yusuf, surah kedua belas intern Al-Qur’an. Hal ini berbeda dengan para rasul bukan nan umumnya kisahnya tersebar di sejumlah surah. Dalam Tanakh (kitab kudus Yahudi) dan Alkitab (kitab suci Kristen), kisah Yusuf tercantum dalam Kitab Situasi pasal 37, 39-50.

Secara galur kejadian, kisah Yusuf nan terletak pada Surah Yusuf dan Kitab Kejadian punya garis besar yang setimpal, meskipun terdapat beberapa perbedaan dalam rincian tertentu.

Satah bokong

[sunting
|
sunting sumber]

Alkitab menamakan bahwa Yusuf yaitu putra kesebelas dari dua belas putra Ya’qub. Ibunya adalah Rahel, istri kedua Ya’qub. Anak-momongan Ya’qub yang disebutkan Injil berdasar usap kelahiran adalah: Ruben, Simeon, Lewi, Yehuda, Dan, Naftali, Gad, Asyer, Isakhar, Zebulon, Dina, Yusuf, dan Benyamin. Di antara segel-nama yang disebut, hanya Dina yang kuntum. Benyamin merupakan suatu-satunya saudara kandung Yusuf, sedangkan yang lainnya adalah saudara seayah berbeda ibu. Yusuf dan kakak-kakaknya lahir di Mesopotamia.[3]
[4]

Pasca- sejumlah masa bekerja di peternakan ayah mertuanya di Haran (Mesopotamia utara), Ya’qub kemudian pulang ke Palestina bersama ampean-istri dan anak-anaknya. Lantaran enggak memiliki sangkutan yang baik dengan ning kembarnya, Esau, Ya’qub mangut takdirnya kamu akan dibunuh olehnya. Ya’qub mengutus seseorang lebih lagi tinggal buat pergok Esau, hanya saat kembali, utusan tersebut menyatakan bahwa Esau sedang dalam avontur menemui Ya’qub diiringi catur dupa bani adam. Merasa mengirik, Ya’qub kemudian membagi kafilahnya menjadi dua kontingen, agar bila yang satu diserang, yang lain dapat selamat.[5]
[6]

Saat benar-benar bertemu Esau dan rombongannya, Ya’qub kemudian bersujud sebagai tradisi penghormatan zaman itu. Esau kemudian memeluk Ya’qub dan mereka silih bertangisan. Para istri, istri simpanan, dan anak-anak Ya’qub juga ikut memberikan sujud penghormatan. Ya’qub kemudian menerimakan sebagian hewan ternaknya pada Esau sebagai hadiah. Rombongan Esau dan Ya’qub kemudian berpisah. Ya’qub kemudian membeli tanah di Sikhem (mutakadim masuk area Palestina) dan suntuk di sana untuk sementara.[7]
[8]

Kemudian delegasi Ya’qub bertolak mendatangi Hebron, kediaman Ishaq. Di tengah perjalanan, Rahel melahirkan koteng anak laki-laki yang kemudian dinamai Benyamin. Belaka persalinan tersebut terlampau jarang dan Rahel kemudian meninggal. Dia dikuburkan di daerah dekat Bethlehem.[9]
[10]

Mimpi

[sunting
|
sunting sumber]

Al-Qur’an menamakan bahwa Yusuf mereka-reka melihat sebelas bintang, matahari, dan bulan bersujud kepadanya. Saat Yusuf membualkan mimpi itu puas Ya’qub, Ya’qub berpesan mudahmudahan jangan mengobrolkan damba itu pada plasenta-saudaranya karena ditakutkan mereka akan iri dan timburu padanya. Ya’qub kemudian menjelaskan bahwa Allah memintal putranya tersebut menjadi sendiri utusan tuhan dan memasrahkan ilmu tentang takwil mimpi.[11]
Sebelas bintang itu merupakan perlambang tembuni-saudara Yusuf, sementara syamsu dan bulan adalah perlambang kedua orangtuanya.[12]

Dalam Alkitab dijelaskan bahwa Yusuf menceritakan mimpi itu lega ayah dan saudara-saudaranya. Ya’qub kemudian menegur Yusuf, “Masakan aku dan ibumu serta saudara-saudaramu sujud menyembah kepadamu menyentuh tanah?” Tembuni-tali pusar Yusuf kemudian sirik padanya.[13]
Injil juga menyebutkan bahwa sebelum memimpikan situasi tersebut, Yusuf mengarang pada tali pusar-saudaranya bahwa ia berangan-angan mereka sedang di ladang mengikat berkas-berkas cante. Kemudian bebat gandum Yusuf agak gelap tegak, sedang kebat gandum milik saudaranya merubung miliknya dan bersujud padanya. Kakak-kakak Yusuf menanggapi, “Apakah sira cak hendak menjadi raja atas kami? Apakah engkau ingin berwenang atas kami?” Mereka jadi semakin membenci Yusuf karena damba tersebut.[14]

Al-Qur’an lain mengistilahkan roh Yusuf saat itu, tetapi para ulama ahli adverbia menyebutkan bahwa mimpi itu terjadi detik Yusuf belum baligh,[12]
sedangkan Injil menyebutkan bahwa Yusuf berusia sekeliling tujuh belas waktu.[15]

Sumur

[sunting
|
sunting sendang]

Di jihat lain, mbok-kakak Yusuf merasa bahwa Ya’qub makin mencintai Yusuf dan Benyamin dari mereka. Privat Al-Qur’an disebutkan bahwa mereka kemudian berusaha membunuh Yusuf, sahaja salah satu mulai sejak mereka menolak lembaga itu dan mengusulkan agar Yusuf dibuang ke sumur sekadar agar dipungut kafilah nan lewat, dan lainnya sepakat dengan proposal tersebut.[16]
Sebagian ulama menafsirkan bahwa putra Ya’qub yang memurukkan membunuh Yusuf adalah Simeon, pendapat lain merupakan Yehuda, pendapat lain merupakan putra sulung Ya’qub, Ruben.[17]

Setelahnya, mereka membujuk Ya’qub sepatutnya mengizinkan Yusuf keluar bersama mereka agar dapat berlaku serempak. Ya’qub awalnya ragu karena menggermang Yusuf dimakan jakal, cak agar risikonya ia mengizinkan. Setelah mereka keluar refleks, Yusuf dimasukkan ke dalam sendang sesuai tulang beragangan mereka. Saat itu Allah mewahyukan puas Yusuf, “Anda kelak karuan akan menceritakan polah ini kepada mereka, medium mereka tidak menyadari.”[18]

Ayuk-kakak Yusuf kemudian pulang mengangkut pakaian Yusuf nan dilumuri darah. Sembari menangis, mereka mengatakan bahwa Yusuf dimakan jakal saat mereka lengah dan meninggalkan Yusuf di pinggul bersama dagangan-produk. Mendengar pengakuan mereka, Ya’qub doang pasrah kepada Allah dan mengatakan, “Sebenarnya dirimu sendirilah yang memandang baik urusan yang buruk itu, maka belaka mengelus dada itulah yang terbaik. Dan kepada Allah saja aku memohon pertolongan-Nya terhadap yang beliau ceritakan.”[19]

Setelahnya, kafilah pedagang lewat dan saat seseorang berbunga mereka mencari air di sendang, dia kegirangan karena menemukan seorang anak, kemudian menyembunyikannya sebagai barang komoditas.[20]
Al-Qur’an kemudian mengistilahkan bahwa mereka kemudian menjual Yusuf dengan harga yang rendah karena mereka tidak tertarik kepadanya.[21]
Anak laki-laki Katsir menamakan bahwa saat taci-ayuk Yusuf tahu Yusuf dibawa rombongan musafir, mereka mengejar delegasi tersebut dan mengatakan seandainya Yusuf adalah budak mereka yang melarikan diri. Kakak-kakaknya kemudian cak memindahtangankan Yusuf dengan harga cacat pada para pendatang tersebut.[22]

Versi Bibel mengisahkan bahwa suatu hari Ya’qub mensyariatkan Yusuf menyusul saudara-saudaranya yang medium menggembala kambing dan domba dan Yusuf mematuhinya. Ketika Yusuf tampak dari jauh, embuk-kakaknya kemudian berencana bikin membunuhnya. Namun Ruben mencegah mereka dan mengusulkan kiranya Yusuf dimasukkan sahaja ke privat sumur, senyatanya dengan niat agar dia nanti dapat memulangkan sekali lagi Yusuf. Saudaranya yang tidak menyetujui prasaran tersebut. Saat Yusuf menginjak, mereka melucuti jubahnya, kemudian memasukkannya ke n domestik sumur. Kemudian datanglah kafilah membahu ke tempat itu. Yehuda kemudian mengusulkan mudah-mudahan Yusuf dijual cuma ke kontingen tersebut. Yusuf balasannya diangkat dari sumur dan kakak-kakaknya menjualnya seharga dua puluh syikal perak. Mereka kemudian menyembelih kambing dan mencelupkan baju Yusuf dengan darah kambing tersebut. Baju tersebut kemudian diserahkan kepada Ya’qub. Ya’qub kemudian bersabda, “Ini jubah anakku, hewan sadis telah memakannya. Tentulah Yusuf sudah lalu diterkam.” Ya’qub sangat berduka dan tidak bersedia dihibur anak-anaknya.[23]

Mesir

[sunting
|
sunting sumber]

Pada hasilnya Yusuf dijual lega seorang maskulin Mesir dan dia diperlakukan dengan baik di flat tingkatan laki-laki tersebut. Al-Qur’an menyebutkan bahwa laki-laki tersebut berkata kepada istrinya, “Berikanlah kepadanya bekas yang baik, mudah-mudahan dia bermanfaat bagi kita atau kita pungut dia seumpama anak.”[24]
Muhammad polong Ishaq menyatakan bahwa musafir yang cak memindahtangankan Yusuf ke Mesir bernama Malik polong Daghir nan masih ialah keturunan Madyan polong Ibrahim, sehingga dia masih kerabat jauh Yusuf. Sebagian ulama berpendapat bahwa suami-laki Mesir tersebut membeli Yusuf seharga dua desimal dinar, sebagian menyatakan seharga minyak gandapura, yang lain menamakan senilai satu pakaian utas. Privat Al-Qur’an, lanang ini membujur julukan Al-‘Aziz (Yang Perkasa, Terhormat), tetapi tidak disebutkan mengenai posisinya. Bani Katsir menyebutkan bahwa dia adalah seorang menteri.[25]

Mata air Bibel mengistilahkan bahwa lelaki Mesir yang membeli Yusuf bernama Potifar, seorang pengarah mat kodak raja.[26]
Potifar terlampau menyukai dan mempercayai Yusuf sehingga dia menyerahkan urusan rumah tangganya puas Yusuf.[27]

Al-Qur’an menyebutkan bahwa detik Yusuf sudah cukup dewasa, dia dianugerahi hikmah dan ilmu.[28]
Disebutkan dalam adverbia bahwa nan dimaksud merupakan kenabian. Beberapa ulama farik pendapat mengenai usia Yusuf saat itu. Ada yang berpendapat 25 hari, 30 hari, 33 tahun, dan 40 musim.[29]

Zulaikha

[sunting
|
sunting sumber]

Yusuf kemudian bertaruk menjadi pria yang dulu tampan dan itu membuat istri gelap Potifar roboh cinta padanya. Baik sumber Al-Qur’an maupun Alkitab tidak menyebutkan namanya. Sebagian pendapat menyatakan bahwa namanya Ra’il ataupun Fakka. Pendapat lain menyebutkan, dan ini yang paling masyhur, bahwa namanya yakni Zulaikha.[22]
Ibnu Ishaq berpendapat bahwa Zulaikha adalah keponakan paduka tuan Mesir.[30]

Yusuf dan Zulaikha, miniatur karya Kamāluddīn Behzād, 1488.

Al-Qur’an menyebutkan bahwa Zulaikha kemudian menudungi pintu-pintu di kediamannya dan merayu Yusuf, “Marilah mendekat kepadaku.” Tetapi Yusuf menolak ajakan zina tersebut.[31]
Para ulama menyebutkan bahwa Zulaikha yakni wanita yang sangat cantik, berbenda, dan masih muda. Dia melingkarkan pakaian terbaik yang paling kecil mewah bagi menggoda Yusuf.[30]

Disebutkan n domestik Al-Qur’an bahwa “perempuan itu mutakadim berkehendak kepadanya dan Yusuf pun berkehendak kepadanya, sekiranya beliau lain mengawasi cap berpokok Tuhannya.”[32]
Sebagian ulama menyebutkan bahwa logo yang dimaksud berusul ayat tersebut merupakan munculnya sosok Ya’qub yang memperingatkan Yusuf untuk tidak terlibat dengan perempuan tersebut.[33]

Selanjutnya Yusuf berlari cenderung pintu kerjakan keluar demi menghindari godaan Zulaikha, tetapi Zulaikha mengejarnya dan sempat menarik bagian belakang baju Yusuf sampai tersobek. Keduanya kemudian mendapati Potifar berada di depan gerbang. Dengan cepat, Zulaikha melayangkan tuduhan bahwa Yusuf yang berusaha berbuat situasi buruk kepadanya. Yusuf membela diri dan menyatakan bahwa Zulaikha yang merayu dirinya. Di tengah perdebatan, seorang bermula keluarga Zulaikha memberi kesaksian, “Jika gaun gamisnya (Yusuf) koyak di putaran depan, maka perempuan itu etis dan dia (Yusuf) termasuk makhluk yang bidah. Dan jika baju gamisnya koyak di bagian belakang, maka nona itulah yang dusta, dan dia tersurat orang yang benar.”[34]
Sebagian ulama menyebutkan bahwa nan menjatah kesaksian itu adalah sendiri bocah yang masih menyusu yang secara ajaib bisa bicara. Makna mulai sejak kesaksiannya adalah bahwa jika memang Yusuf yang bermaksud memperkosa, Zulaikha akan membalas dan menyebabkan rok Yusuf koyak di sisi depan. Namun jika busana Yusuf koyak di belakang, berarti Yusuf berlari menghindari Zulaikha.[35]

Potifar kemudian memeriksa dan menangkap basah bahwa busana Yusuf tersobek di episode pinggul. Dia kemudian mengatakan puas Zulaikha, “Sesungguhnya ini merupakan helat dayamu. Tipu dayamu khusyuk hebat.” Potifar juga meminta Yusuf untuk melupakan peristiwa ini.[36]

Kecaburan di kediaman Potifar kemudian memencar, membuat para perempuan ii kabupaten menggunjing dan ki memberaki Zulaikha lantaran bisa tergila-gila dengan seorang pelayan. Menyadari gunjingan mereka, Zulaikha kemudian mengundang mereka di kediamannya lakukan menghadiri satu jamuan. Di sana disediakan pula pisau untuk menyelang saji. Zulaikha kemudian mewajibkan Yusuf mengenakan busana nan lampau bagus dan menyuruhnya mendapati para perempuan tersebut. Mengawasi Yusuf, para tamu undangan sangat terpesona hingga tidak siuman melukai jemari mereka sendiri saat memotong hidangan dan berujar, “Mahasempurna Halikuljabbar, ini bukanlah hamba allah. Ini mendalam malaikat yang mulia.”[37]
[38]

Dengan menunjukkan Yusuf pada mereka, Zulaikha berusaha mencari pengecekan atas tindakannya. Anda pula mengancam Yusuf kerjakan memenjarakan maupun menghinakannya seandainya tidak menuruti keinginannya.[39]
Para wanita yang semula menggunjing Zulaikha kini berbalik mendukungnya. Yusuf balasannya berdoa, “Wahai Tuhanku! Penjara kian aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka.”[40]
Pada akhirnya, Potifar kemudian memenjarakan Yusuf selama beberapa waktu tertentu meski dia sempat bahwa Yusuf tidak bersalah. Kejadian ini untuk meminimalisir omongan-omongan manusia nan mengomongkan ki aib ini berlarut-larut dan ondok kesalahan istrinya.[41]
[42]

Perigi Alkitab mengisahkan bahwa saat rumah nol, Zulaikha memegang baju Yusuf dan mengajaknya bergendak. Yusuf kemudian pergi bajunya dan berlari keluar, kemudian Zulaikha berteriak bahwa Yusuf hendak memperkosanya. Momen Potifar kembali, dia mendengar pengaduan istrinya dan itu membuatnya adv amat marah sehingga Yusuf dipenjara.[43]
Alkitab tidak menyebutkan mengenai Zulaikha yang mengundang para perempuan di kediamannya alias ketika mereka melukai jemarinya karena terpesona melihat Yusuf.

Pengasingan

[sunting
|
sunting perigi]

Al-Qur’an menyebutkan bahwa saat Yusuf timbrung penjara, turut pula dua orang bujang bersamanya. Suatu hari mereka empat mata berfantasi. Salah seorang berpangkal mereka melamun semenjana memeras anggur, sedangkan yang satunya lagi berfantasi bahwa dia mengangkut roti di atas kepalanya dan burung memakan sebagian roti tersebut. Mereka menceritakan mimpi tersebut kepada Yusuf lantaran memandang Yusuf sebagai orang yang baik.[44]
Para jamhur menamakan bahwa mereka empat mata adalah para pelayan aji, yang satu pelayan yang jamak menjatah minum pangeran bernama Banuwa, yang satunya ialah pelayan yang biasanya membuat roti yang bernama Majlats.[45]

Yusuf kemudian menyatakan bahwa dia mengetahui makna mimpi tersebut, kemudian menegaskan bahwa ilmu takwil mimpi yang dimilikinya ialah sebagian guna-guna yang diajarkan Allah padanya. Yusuf menyatakan bahwa dia telah meninggalkan agama orang-bani adam nan tidak beriman pada Halikuljabbar, dan memfokuskan bahwa beliau menirukan agama leluhurnya: Ibrahim, Ishaq, dan Ya’qub. Yusuf lagi menjelaskan bahwa bermacam-jenis tuhan selain Allah yang disembah orang-turunan hanyalah buatan nenek moyang mereka. Setelah menjelaskan dan mengajak mereka ke perkembangan Sang pencipta, Yusuf kemudian menguraikan tafsir mimpi mereka. Pemuda yang satu akan kembali bertugas memberikan khamr bagi tuannya, sedangkan pemuda yang lain akan dihukum kayu palang dan burung memakan sebagian kepalanya. Yusuf kemudian meminta pemuda yang lain dihukum sepi bakal memberi tahu pada tuannya mengenai keadaan Yusuf di rumah tahanan, tapi teruna tadi lalai sehingga Yusuf harus tetap di interniran selama beberapa hari lagi.[46]
Beberapa ulama ada yang menyatakan bahwa intensi ‘bilang waktu’ ini yakni tiga sampai sembilan tahun.[47]

Dalam Bibel disebutkan bahwa di privat penjara, Yusuf dipercaya pengarah tangsi bikin ikutikutan tawanan lainnya.[48]
Yusuf dikisahkan menafsirkan mimpi kepala tukang minuman dan pandai roti puri,[49]
tetapi enggak disebutkan bahwa Yusuf menyeru mereka ke urut-urutan Halikuljabbar sebagaimana yang dikisahkan dalam Al-Qur’an.

Mimpi baginda

[sunting
|
sunting sumber]

Al-Qur’an mengklarifikasi bahwa suatu hari Sunan Mesir berangan-angan melihat sapta ekor sapi betina yang berharta dimakan tujuh ekor sapi lebah ratulebah yang kurus, lagi suka-suka tujuh tangkai cante nan hijau dan tujuh tangkai garai yang tandus. Raja berusaha mencari makna mimpi tersebut, tapi para ahli hanya menyebut mimpi Raja sebagai mimpi kosong dan tidak boleh menakwilkan mimpi itu. Ahli minuman keraton kemudian teringat dengan Yusuf dan menyingkir ke hotel prodeo untuk lamar makna damba tersebut. Yusuf menjawab bahwa agar mereka bercocok tanam seperti biasa sejauh sapta tahun, sedangkan hasil panen yang sudah lalu dituai agar dibiarkan di tangkainya, kecuali sebagian kecil yang akan digunakan untuk makan. Yusuf melanjutkan bahwa setelahnya akan nomplok paceklik sejauh tujuh tahun nan akan menghabiskan persediaan makanan. Sesudah masa sulit itu berlalu, besok hujan dan cucu adam akan memeras anggur.[50]

Mendengar jawaban tersebut, Raja mengutus hamba allah agar Yusuf dihadirkan di hadapannya. Namun Yusuf, melalui utusan tersebut, mempersunting agar Kanjeng sultan terlebih lewat menanyakan para perempuan mengenai masalah Yusuf. Saat Baginda menginterogasi mereka, para perempuan itu menjawab, “Mahasempurna Allah, kami tidak mengetahui sesuatu keburukan darinya.” Zulaikha menasdikkan mereka, “Saat ini jelaslah keabsahan itu, akulah yang menggoda dan merayunya dan sepatutnya ada sira tercantum basyar yang benar.”[51]

Al-Qur’an seterusnya mengistilahkan, “Nan demikian itu agar dia (Potifar Al-‘Aziz) mengetahui bahwa aku benar-benar tidak mengkhianatinya momen sira bukan cak semau, dan bahwa Halikuljabbar tidak meridhai semu daya manusia-makhluk nan berkhianat.”[52]
Sebagian ahli tafsir mengistilahkan bahwa itu ucapan Yusuf. Maknanya yaitu bahwa Yusuf bukanlah sendiri pengkhianat seperti yang dituduhkan. Sebagian menyatakan bahwa itu adalah ucapan Zulaikha. Maksudnya merupakan bahwa Zulaikha mengaku agar suaminya senggang bahwa dia semata-mata merayu Yusuf, tidak sampai berkhianat dan berbuat nista.[53]

Al-Qur’an lain menjelaskan mengenai identitas penguasa Mesir momen itu dan hanya menyebutnya
malik
atau sunan. Ibnu Katsir menyebutkan bahwa nama dan silsilah raja tersebut yaitu Ar-Rayyan bin Al-Walid bin Tsarwan yang yaitu keturunan Sem bin Nuh.[54]
Kerumahtanggaan Alkitab, penguasa Mesir tersebut disebut fir’aun, gelar yang biasanya digunakan untuk merujuk penguasa Mesir bersejarah. N domestik Al-Qur’an, gelar fir’aun hanya digunakan untuk penguasa Mesir pada zaman Musa dan Harun.

Bibel menamakan bahwa setelah Fir’aun menceritakan mimpinya, juru minum teringat Yusuf dan menceritakannya plong Fir’aun. Fir’aun kemudian memerintahkan agar Yusuf dihadapkan padanya. Yusuf kemudian keluar terbit kerangkeng, bercukur, dan berganti busana, kemudian menghadap Fir’aun dan menjelaskan makna mimpi itu secara serampak kepada Fir’aun.[55]
Alkitab tidak menyebutkan adapun permintaan Yusuf hendaknya namanya dibersihkan tercalit kasusnya dengan Zulaikha dan para perempuan enggak.

Berkuasa

[sunting
|
sunting perigi]

Al-Qur’an menyebutkan bahwa setelah nama baiknya dipulihkan, Yusuf dihadapkan sreg Raja. Setelah mereka bercakap-cakap, Aji menyatakan bahwa Yusuf akan diberi takhta yang jenjang dan kepercayaan. Yusuf menyatakan, “Jadikanlah aku bendaharawan provinsi, karena sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga dan berpengetahuan.”[56]

Sejumlah ulama memberikan pengumuman tambahan nan tidak terletak dalam Al-Qur’an. Ats-Tsa’labi menyebutkan bahwa Yusuf kemudian diberi kursi yang sebelumnya dipegang oleh Potifar. Muhammad polong Ishaq menyatakan bahwa kemudian Raja beriman kepada ajaran Yusuf.[57]

Bibel menyebutkan bahwa Fir’aun kemudian menyerahkan Yusuf kekuasaan atas seluruh Mesir dan dia menjadi orang yang berkedudukan tahapan, Fir’aun memberi cincin Fir’aun, busana halus, dan kalung emas, juga dinaikkan dalam kereta Fir’aun yang kedua. Fir’aun kemudian memberi segel Mesir pada Yusuf, Zafnat-Paaneah, dan menikahkannya dengan perempuan bernama Asnat, gadis bersumber seorang pendeta di On (Heliopolis) bernama Potifera. Ketika itu Yusuf berusia tiga puluh masa. Yusuf kemudian menumpuk sorgum dalam jumlah suntuk banyak untuk persediaan masa paceklik. Sebelum waktu masa sulit berangkat, Yusuf dan Asnat memiliki dua khalayak putra: Manasye dan Efraim.[58]

Paceklik

[sunting
|
sunting sumber]

Momen tujuh waktu masa subur berakhir, datanglah masa paceklik seperti mana yang dikatakan Yusuf. Paceklik ini tidak hanya melanda Mesir, tetapi juga kawasan Palestina, tempat tinggal Ya’qub dan keluarganya. Putra-putra Ya’qub selain Benyamin pergi ke Mesir buat membeli gandum. Di sana mereka bertemu dengan Yusuf. Yusuf mengenali kakak-kakaknya tersebut, tetapi mereka lain mengenal Yusuf. Detik gandum mereka sedang dipersiapkan, Yusuf berkata kepada mereka, “Bawalah kepadaku saudaramu nan seayah dengan kamu, tidakkah kamu mengawasi bahwa aku menunaikan janji takaran dan aku adalah penerima tamu yang terbaik. Maka jika kamu tidak membawanya kepadaku, maka kamu lain akan mendapat jatah lagi dariku dan jangan dia mendekatiku.” Maka putra-putra Ya’qub tersebut membalas bahwa mereka akan membujuk ayah mereka. Setelah itu, Yusuf memerintahkan para pelayannya agar barang-barang yang digunakan embak-kakaknya cak bagi membeli gandum dimasukkan ke karung sorgum mereka, berharap moga kakak-kakaknya boleh pula kembali.[59]

Dalam Alkitab disebutkan bahwa Yusuf dan kakak-kakaknya bertemu. Yusuf mengenal mereka, tapi mereka enggak mengenal Yusuf. Yusuf menghakimi bahwa mereka mata-mata, tetapi mereka menolak dakwaan tersebut dan menyebutkan bahwa mereka adalah dua belas bersanak bermula satu ayah yang tinggal di tanah Kan’an (Palestina), nan bungsu bersama ayahnya, sedangkan yang suatu hilang. Yusuf kemudian menawan mereka selama tiga hari. Setelahnya, mereka dibebaskan dengan persyaratan bahwa keseleo satu bermula mereka loyal ditahan di sini, sementara sisanya harus membawa adik mereka pada kedatangan berikutnya ke Mesir. Diputuskan bahwa Simeon yang tetap ditahan. Yusuf kemudian memerintahkan hendaknya medan gandum mereka diisi gandum dan uang mereka dimasukkan ke dalam karung.[60]

Al-Qur’an menguraikan bahwa setelah kembali, ning-kakak Yusuf mengatakan bahwa mereka tidak akan berbahagia jatah lagi jika enggak membawa Benyamin puas kedatangan mereka berikutnya. Doang Ya’qub enggan mengabulkannya dan berujar, “Bagaimana aku akan mempercayakannya kepadamu, seperti aku telah mempercayakan saudaranya kepada kamu dahulu?” Ya’qub mengungkit kembali penyakit hilangnya Yusuf ibarat alasan untuk lain melepaskan Benyamin. Ketika mereka membuka karung-karung, mereka menemukan produk-barang pengalih mereka ada di sana. Memahami hal tersebut, Ya’qub risikonya luluh dan bersedia mempercayakan Benyamin plong mereka lega kepergian mereka berikutnya ke Mesir. Belaka Ya’qub meminta sumpah mereka, “Bersumpahlah kepadaku atas etiket Allah bahwa engkau tentu akan membawanya kepadaku kembali, kecuali jika kamu dikepung musuh.” Setelah mereka mengucap sumpah, Ya’qub melanjutkan, “Yang mahakuasa adalah saksi terhadap nan kita ucapkan.”[61]

Injil menyebutkan cerita serupa. Ya’qub sangat elusif mendengar permintaan mereka dan berkata, “Kamu membuat aku kehilangan anak-anakku. Yusuf tidak terserah lagi, dan Simeon tidak suka-suka lagi, kini Benyaminpun hendak anda panggul juga. Aku inilah yang menanggung segala-galanya itu!” Ruben sampai berkata pada ayahnya bahwa dia rela kedua putranya dibunuh jika Benyamin tidak mereka bawa pulang kembali, sekadar Ya’qub tetap mendorong.[62]
Saat gandum mereka lewat, Ya’qub memerintahkan putra-putranya kembali meninggalkan ke Mesir, tetapi Yehuda menolak sekiranya mereka tidak membawa Benyamin karena mereka mutakadim diperingatkan alangkah-sungguh untuk membawanya. Ya’qub kemudian memerintahkan putra-putranya membawa hasil terbaik sebagai persembahan: merupakan madu, damar, lotek ladan, buah kumbik, dan buah badam. Ya’qub pun menyuruh mereka mengapalkan tip dua kali lipat, tip yang dikembalikan pada mereka dulu juga dibawa kembali kalau-takdirnya para petugas detik itu melakukan kekhilafan. Ya’qub akhirnya lagi mengizinkan Benyamin masuk bersama rombongan ke Mesir.[63]

Keberangkatan kembali

[sunting
|
sunting mata air]

Pada ketika kakak-kakak Yusuf pergi ke Mesir bakal kedua kalinya, mereka mengapalkan Benyamin. Sebelumnya Ya’qub sudah lalu berpesan pada mereka agar masuk pecah pintu pintu nan farik-tikai saat di Mesir dan mereka mematuhinya.[64]
Sebagian ulama mengatakan bahwa hal ini dilakukan bagi menghindarkan dari sihir ‘ain karena mereka memiliki fisik dan rupa nan lalu bagus.[65]
Sesudah kafilah putra-putra Ya’qub tiba di Mesir, Yusuf membawa Benyamin di medan pribadinya dan mengungkapkan jati dirinya.[66]

Bibel menerangkan bahwa kemudian Yusuf membentuk jamuan dan mengundang plasenta-saudaranya. Simeon dibebaskan dan turut bergabung. Uang suap yang dibawa putra-putra Ya’qub juga kemudian diserahkan kepada Yusuf. Yusuf kembali menanyakan kejadian ayah mereka dan mereka menjawab bahwa ayah mereka masih kehidupan. Dalam jamuan, dihidangkan makanan kerjakan Yusuf sendiri, untuk saudara-saudaranya sendiri, dan untuk insan Mesir sendiri. Hal ini dilakukan karena makan bersama cucu adam Ibrani dipandang sebagai hal yang brutal bagi orang Mesir. Namun putra-putra Ya’qub duduk di depan Yusuf dan itu membuat mereka saling bertimbang pandang karena heran. Lalu disajikan pada mereka hidangan bermula bidang datar Yusuf dan Benyamin bernasib baik lima kali kian banyak semenjak khalayak tak. Mereka semua bersuka ria pada jamuan tersebut.[67]
Tidak disebutkan bahwa Yusuf menyibakkan jati dirinya pada Benyamin.

Saat sorgum mereka dipersiapkan, Yusuf memasukkan beker (cawan menenggak) ke karung Benyamin. Saat kafilah putra-putra Ya’qub kerumahtanggaan pertualangan pulang, Yusuf dan rombongannya menghentikan mereka dan menempikkan, “Wahai kafilah! Sesungguhnya kamu pasti pencuri!” Putra-putra Ya’qub berhenti dan bertanya, “Kamu kehilangan apa?” Dijawab, “Kami kehilangan trofi sri paduka dan yang bisa mengembalikannya akan memperoleh bahan makanan seberat pikulan unta dan aku jamin itu.”[68]

Putra-putra Ya’qub menjawab, “Demi Allah, sungguh, kamu memafhumi bahwa kami datang bukan bikin berbuat fasad di distrik ini dan kami bukanlah para penyambar.” Dijawab, “Tetapi apa hukumannya sekiranya kamu bidah?” Para putra Ya’qub menjawab, “Maka dia sendirilah yang menerima hukumannya. Demikianlah kami memberi siksa kepada turunan-orang zalim.”[69]
Internal syariat mereka, aniaya bagi koteng penjarah adalah dirinya harus diserahkan kepada pihak yang barangnya dicuri.[70]

Maka pasca- digeledah, ditemukanlah piala emir tersebut di karung Benyamin. Putra-putra Ya’qub yang tak mengatakan, “Jika kamu mencuri, maka sungguh sebelum itu saudaranya pun koalisi pula mencuri.” Maksud mereka merupakan bahwa Yusuf juga pernah mencuri sebelumnya. Para jamhur memiliki bilang pendapat terkait ucapan mereka. Sebagian menyatakan bahwa maksudnya merupakan Yusuf dulu pernah mencuri patung cikal bakal dari pihak ibunya, kemudian menghancurkannya. Ada yang berpendapat bahwa bibi Yusuf hubungan menggantungkan ikat pinggang Ishaq di baju Yusuf, sehingga nantinya Yusuf akan dituduh mencuri dan ditahan di rumah bibinya makin lama lagi misal hukuman. Situasi ini karena bibinya lalu mencintai Yusuf dan celih berparak dengannya. Pendapat lain mengistilahkan bahwa Yusuf relasi mencuri makanan untuk diberikan kepada duafa miskin. Mendengar perkataan mereka, Yusuf merasa jengkel, belaka menyembunyikannya lubuk hati.[71]
[72]

Putra-putra Ya’qub yang lain memohon pada Yusuf, “Wahai Al-‘Aziz. Dia mempunyai ayah yang telah lanjut umur, karena itu, ambillah salah koteng di antara kami sebagai gantinya. Selayaknya kami mematamatai engkau teragendakan bani adam-orang nan berbuat baik.” Biar demikian, Yusuf menolak penawaran tersebut karena menahan orang lain bersalah sebagai ganti pelaku yang senyatanya adalah sebuah angkara. Setelah putus asa karena bukan bisa mengirimkan Benyamin pulang, mereka kemudian berembuk. Putra tertua Ya’qub, Ruben, memutuskan untuk tetap sangat di Mesir sampai ayah mereka mengizinkan kembali atau Yang mahakuasa memberi keputusan padanya. Putra Ya’qub yang tidak kemudian pulang dan memberitahukan nan terjadi plong mereka kepada Ya’qub. Mereka juga meminang Ya’qub bertanya pada warga Mesir atau kafilah bukan yang datang bersama mereka untuk menguatkan pendapat mereka.[73]
[74]

Mendengar pelisanan mereka, Ya’qub sangat berduka dan berkata, “Sebenarnya hanya dirimu sendiri yang memandang baik urusan itu. Maka kesabaranku adalah ketenangan yang baik. Semoga Yang mahakuasa mendatangkan mereka semuanya kepadaku. Bukan main Dialah Yang Maha Memafhumi, Maha Bijaksana.”[75]
Anak laki-laki Katsir mengistilahkan bahwa maksudnya merupakan Ya’qub berkeyakinan bahwa Benyamin enggak maling karena itu enggak wataknya sehingga mengatakan
sebenarnya hanya dirimu sendiri yang memandang baik urusan itu. Makna nan lain merupakan mereka kekurangan Benyamin akibat pecah yang mereka lakukan kepada Yusuf dahulu, sebagaimana yang dikatakan sebagian cerdik pandai, “Sesungguhnya keburukan akan mendatangkan keburukan yang lain setelahnya.”[76]

Ya’qub juga bersedih pula terkait Yusuf, “Aduhai gobar citaku kepada Yusuf.” Kesedihan yang baru menimpanya menyebabkan terungkitnya kesedihan yang lama. Disebutkan bahwa mata Ya’qub menjadi putih karena awan kelabu dan diam menahan amarah. Putra-putranya mengkhawatirkan ayah mereka nan pelahap menghafaz Yusuf, menyebabkan dirinya lindu jarang. Kendati demikian, Ya’qub hanya menjawab, “Hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku. Dan aku mengetahui dari Allah yang tidak kamu ketahui.”[77]
[78]

Yusuf mendedahkan diri

[sunting
|
sunting sumber]

Al-Qur’an meneruskan bahwa setelahnya Ya’qub berkata, “Wahai anak asuh-anakku! Pergilah kamu, carilah berita akan halnya Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus sangkil bersumber hadiah Allah.”[79]
Ya’qub yang mendadak menyuruh anak asuh-anaknya mencari Yusuf yang telah hilang sekian lama disebutkan lantaran Tuhan mengabarkan Ya’qub banyak keadaan nan membuatnya berharap buat berlawan Yusuf.[80]
Hal ini sejalan dengan tuturan Ya’qub di ayat sebelumnya, “Aku mengetahui dari Allah yang tidak engkau ketahui.”[81]

Putra-putra Ya’qub kemudian pun ke Mesir. Saat bertarung Yusuf, mereka berkata, “Aduhai Al-‘Aziz. Kami dan keluarga kami telah ditimpa kesengsaraan dan kami cak bertengger membawa produk-komoditas yang enggak berharga, maka penuhilah jatah kerjakan kami dan bersedekahlah kepada kami. Sepantasnya Allah memberi balasan kepada orang yang bersedekah.”[82]
Para ulama menyebutkan bahwa maksud “produk-barang yang enggak berguna” yang mereka bawa ialah dirham-dirham yang jumlahnya sangat cacat. Ada yang mengatakan biji-bijian dan semacamnya. Ibnu ‘Abbas mengistilahkan kendi yang sudah usang, tali-temali, dan semacamnya.[83]

Kemudian Yusuf berujar, “Tahukah beliau keburukan yang mutakadim kamu perbuat terhadap Yusuf dan saudaranya karena kamu lain menyadari akibat perbuatanmu itu?”[84]
Disebutkan bahwa Yusuf start-tiba menunangi itu lantaran merasa iba melihat saudara-saudaranya yang tampak lembam tersebut sehingga ia tidak resistan juga menahan perasaannya.[85]

Mereka kepanikan ditanyai begitu juga itu lantaran koteng pembesar Mesir dapat mengetahui tanya Yusuf dan bahkan perlakuan mereka padanya.[86]
Kejadian itu nan kemudian mereka bertanya sebagaimana yang termasuk n domestik Al-Qur’an, “Apakah engkau Yusuf?” Plong akhirnya Yusuf mengekspos jati dirinya lega mereka. Taci-kakaknya kemudian mengakui diri mereka sebagai orang yang bersalah, belaka Yusuf menjajari, “Sreg hari ini tidak suka-suka cercaan terhadap engkau, hendaknya Allah memaafkan kamu. Dan Sira Maha Penyayang di antara para penyayang.”[87]
[88]

N domestik Alkitab disebutkan bahwa sehabis Yusuf berusaha menawan Benyamin lantaran didakwa mencuri piala fidah, Yehuda memohon pada Yusuf lakukan mengasihani mereka dan mengistilahkan bahwa ayahnya dapat antap jika Benyamin tidak ikut pulang bersama mereka. Yehuda bahkan mengajukan diri ibarat budak mengoper Benyamin.[89]
Mendengar permohonan Yehuda, Yusuf mensyariatkan orang-makhluk keluar kolom memencilkan dirinya bersama saudara-saudaranya. Seterusnya Yusuf membuka lugu dirinya sreg mereka. Saudara-saudaranya merasa takut puas Yusuf, tapi Yusuf mengatakan, “Akulah Yusuf, saudaramu, yang sira jual ke Mesir, tetapi sekarang, janganlah bersusah hati dan janganlah menyesali diri, karena kamu menjual aku ke sini, sebab kerjakan memelihara kehidupanlah Sang pencipta menyuruh aku mendahului ia.” Yusuf pula mengatakan, “Maka Sang pencipta telah menyuruh aku mendahului dia buat menjamin kelanjutan keturunanmu di bumi ini dan bakal memelihara hidupmu, sehingga sebagian ki akbar dari padamu tertolong. Jadi bukanlah sira yang menyuruh aku ke sini, tetapi Allah; Dialah yang sudah mengedrop aku sebagai bapa untuk Fir’aun dan empunya atas seluruh istananya dan umpama kuasa atas seluruh kapling Mesir.” Yusuf kemudian mencium saudara-saudaranya dan dia menangis sinkron memeluk mereka.[90]

Perjumpaan keluarga

[sunting
|
sunting sumber]

Al-Qur’an menamakan bahwa Yusuf kemudian mempersunting saudara-saudaranya agar mengangkut bajunya saat pulang dan diusapkan ke wajah Ya’qub sehingga bisa melihat lagi. Detik kafilah mereka keluar Mesir, Ya’qub yang adv amat di Palestina mengatakan, “Sepatutnya ada aku mencium bau Yusuf,” saja keluarganya menanggapi, “Demi Halikuljabbar, senyatanya kamu masih kerumahtanggaan kekeliruanmu yang terlampau.”[91]
Para ulama mengistilahkan bahwa saat rombongan putra-putra Ya’qub keluar Mesir, bertiuplah angin dan berorientasi Ya’qub dengan membawa bau baju Yusuf.[92]

Detik kontingen putra-putra Ya’qub tiba dan baju Yusuf diusapkan ke paras Ya’qub, Ya’qub boleh mengawasi pun. Dia berujar, “Bukankah mutakadim aku katakan kepadamu bahwa aku mengetahui berpokok Halikuljabbar hal yang tidak kamu ketahui.” Kemudian putra-putranya meminta ayah mereka memohonkan ampun atas dosa-dosa mereka. Ya’qub menjawab, “Aku akan memohonkan maaf bagimu kepada Rabbana. Sungguh Engkau Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.”[93]
Sebagian jamhur menyebutkan bahwa Ya’qub menunda permohonan ampun bikin mereka hingga perian sahur.[94]

Alkitab menyebutkan bahwa setelah Yusuf mengungkapkan jati dirinya, Fir’aun dan para pegawainya mengerti bahwa saudara-tali pusar Yusuf sedang berada di Mesir dan mereka menerima saudara-saudara Yusuf dengan baik. Fir’aun kemudian mengatakan pada Yusuf agar saudara-saudaranya menjauhi ke Kan’an (Palestina) untuk menjemput ayah mereka beserta seisi rumahnya kerjakan kemudian tinggal di Mesir. Ari-ari-ari-ari Yusuf kemudian diberi kereta beserta perbekalan untuk pergi ke Palestina. Setelah hingga, mereka mempublikasikan pada Ya’qub, “Yusuf masih nasib, lebih lagi dialah yang menjadi kuasa atas seluruh tanah Mesir,” tetapi Ya’qub tetap bersikap dingin lantaran tidak mempercayai mereka. Namun saat mereka menyampaikan segala bacot Yusuf dan ketika Ya’qub melihat kereta nan dikirim Yusuf untuk menjemputnya, spirit Ya’qub bangkit kembali dan dia berkata, “Cukuplah itu, anakku Yusuf masih hidup. Aku cak hendak meninggalkan melihatnya, sebelum aku sirep.”[95]
Alkitab tidak menyebutkan adapun Yusuf nan menyerahkan pakaiannya agar diusapkan ke wajah Ya’qub.

Alkitab juga mengistilahkan bahwa Ya’qub kemudian pergi ke Mesir bersama kafilah anak-anak dan cucu-cucunya dengan menanjak kereta yang dikirim Fir’aun. Ya’qub kemudian menyuruh Yehuda menangkap basah Yusuf terlebih terlampau hendaknya Yusuf bisa bertemu dengan Ya’qub di sebuah tempat bernama Gosyen. Saat berlanggar, Yusuf dan Ya’qub saling berpelukan dan menangis. Ya’qub berkata, “Sekarang bolehlah aku mati, setelah aku melihat mukamu dan mengetahui bahwa engkau masih hidup.” Setelahnya, Yusuf berpesan pada keluarga besarnya bahwa apabila Fir’aun menanyakan pekerjaan mereka, mereka harus menjawab bahwa mereka adalah penggembala. Hal ini dilakukan agar mereka bisa habis di Gosyen, terpisah dengan orang Mesir. Gembala merupakan pekerjaan yang dianggap remeh oleh manusia Mesir.[96]

Yusuf kemudian memusat Fir’aun, bersama sebagian saudaranya dan juga Ya’qub. Ketika Fir’aun lamar pegangan mereka, saudara-uri Yusuf menjawab sebagaimana nan dipesankan Yusuf. Fir’aun juga menunangi kehidupan Ya’qub dan Ya’qub menjawab bahwa usianya 130 tahun. Fir’aun kemudian mengizinkan mereka lampau di Gosyen. Disebutkan pula bahwa Ya’qub kemudian memohonkan berkat bagi Fir’aun.[97]

Al-Qur’an menyebutkan bahwa Yusuf menyambut orangtuanya dengan mengatakan, “Masuklah dia ke negeri Mesir, insya Yang mahakuasa intern situasi aman.” Yusuf kemudian menaikkan kedua orangtuanya ke kursi khusus. Mereka semua kemudian bersujud sebagai jenama penghormatan kepada Yusuf.[98]
Sebagian juru tafsir menyebutkan bahwa nan dimaksudkan orangtua Yusuf dalam ayat tersebut yaitu Ya’qub dan Lea, lain Rahel nan merupakan ibu kandung Yusuf.[99]
Secara silsilah, Lea merupakan bibi Yusuf karena anda adalah kakak Rahel. Melalui ijab kabul, Lea adalah ibu tiri Yusuf karena merupakan ulam-ulam mula-mula Ya’qub. Privat Alkitab disebutkan bahwa Rahel sendiri meninggal sesaat pasca- melahirkan Benyamin lantaran beratnya partus.[100]
[10]

Tahun-perian selanjutnya

[sunting
|
sunting sendang]

Al-Qur’an mengistilahkan bahwa sebelum meninggal, Ya’qub menanya pada anak asuh-anaknya, “Apa yang kamu hormat sepeninggalku?” Mereka menjawab, “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Almalik nenek moyangmu, ialah Ibrahim, Isma’il, dan Ishaq, Tuhan Yang Maha Esa dan kami berserah diri kepada-Nya.”[101]
[102]
Alkitab mengistilahkan bahwa Ya’qub memberkati anak asuh-anaknya, terutama terkait peran pecah keturunan anak-anaknya di perian mendatang, seperti keturunan Yehuda akan mewarisi tongkat kekaisaran, anak cucu Zebulon akan terlampau di tepi laut dan menjadi pangkalan kapal, nasab Asyer akan memiliki lambung berlimpah fertil dan akan memasrahkan santapan raja-ratu, dan nasab Naftali akan dikaruniai anak asuh-anak yang mulia.[103]

Alkitab menguraikan bahwa Ya’qub wafat pada usia 147 periode.[104]
Ketika Ya’qub meninggal, Yusuf mendekap muka ayahnya dan menciumnya. Jenazahnya kemudian dirempah-rempahi selama empat puluh hari dan bangsa Mesir berkabung selama tujuh puluh tahun. Yusuf menunangi izin sreg Fir’aun kiranya dapat mengetanahkan ayahnya di Kan’an sebagai halnya wasiatnya dan Fir’aun memasrahkan izin. Setelahnya, batang Ya’qub diantar ke Palestina dan diiringi Yusuf dan plasenta-saudaranya, para pegawai Fir’aun, dan para sesepuh istana dan negeri Mesir. Warga Palestina yang melihat prosesi itu menyebutkan bahwa perkabungan basyar Mesir amat riuh. Ya’qub kemudian dikebumikan di Lubang Makhpela di Hebron, gelanggang jenazah Sarah, Ibrahim, Ishaq, Ribka, dan Lea juga dikebumikan.[105]
[106]
Sehabis menjadi kewedanan kekhalifahan, didirikanlah sebuah masjid di gelanggang itu yang bernama Langgar Ibrahimi.[107]

Alkitab sekali lagi mengistilahkan bahwa Yusuf wafat plong usia 110 periode dan dia hidup sampai Efraim berputra-cucu. Mayatnya dirempah-rempahi dan diletakkan di internal peti jenazah di Mesir. Kendati demikian, engkau berwasiat puas zuriat Ya’qub bahwa mereka akan mengangkut jenazahnya ketika mereka kelak keluar untuk juga ke Palestina.[108]
Di kemudian hari, Musa mengapalkan benak-bawak Yusuf ketika perpindahan keluar Mesir bersama rombongan Anak lelaki Israil.[109]
[110]
Keterangan mengenai wafatnya Yusuf dan jenazahnya yang dibawa pergi dari Mesir tidak terdapat internal Al-Qur’an.

Kedudukan

[sunting
|
sunting sumber]

Selam

[sunting
|
sunting mata air]

Yusuf dipandang andai nabi dan rasul dalam Islam. Intern Al-Qur’an, para nabi yang kisahnya cukup panjang akan diceritakan kerumahtanggaan beberapa surah nan berbeda. Internal kasus Yusuf, kisahnya terkumpul menjadi satu intern suatu surah hierarki, yakni surah kedua belas. Al-Qur’an mengistilahkan Yusuf sebagai sosok nan diberi tanzil oleh Allah[111]
dan hamba Allah nan terpilih.[112]
Andai koteng rasul, Yusuf sekali lagi digambarkan menyeru insan bikin kembali ke jalan Allah. Hal ini terlihat terbit dakwahnya sreg penghuni penjara.[113]
[114]
Pada musim Musa, ada salah seorang keluarga Fir’aun yang berkeyakinan. Kamu memperingatkan kaumnya akan datangnya azab Sang pencipta, juga menamakan bahwa Yusuf sudah mengirimkan bukti-bukti nan faktual pada masa sebelumnya.[115]

Dalam hadits isra’ kwetiau’raj disebutkan Nabi Muhammad bersabda bahwa Yusuf dikaruniai separuh ketampanan.[116]
Maknanya ialah bahwa Yusuf memiliki separuh keindahan Adam. Halikuljabbar menciptakan Lanang dengan tangan-Nya seorang dan meniupkan ruh kepadanya sehingga Maskulin ialah manusia nan paling tampan, sedangkan Yusuf n kepunyaan separuh ketampanan Adam.[117]

Di intiha surah Yusuf disebutkan, “Alangkah, pada kisah-narasi mereka (para rasul) itu terdapat pencekokan pendoktrinan untuk orang yang mempunyai akal geladak. (Al-Qur’an) ini bukanlah cerita nan dibuat-buat, hanya menasdikkan (kitab-kitab) yang sebelumnya, menjelaskan barang apa sesuatu, dan (bagaikan) petunjuk dan rahmat bagi orang-bani adam nan berketentuan.”[118]

Masehi

[sunting
|
sunting sumber]

Yusuf dipandang ibarat sosok nan beriman.[119]
Selain menghormatinya, ada tendensi kuat intern periode patristik bagi mengaitkan kisah spirit Yusuf dengan Yesus.[120]
Bilang contohnya adalah Yohanes Krisostomus yang mengatakan bahwa kesengsaraan Yusuf yaitu “sejenis situasi yang akan datang”,[121]
Sesarius berbunga Arles menafsirkan jas hujan Yusuf yang populer sebagai isyarat berasal berbagai bangsa nan akan mengikuti Yesus,[122]
dan Ambrosius berpunca Milan mengartikan bahwa damba Yusuf yang mencitrakan berkas gandumnya yang berdiri laksana penggambaran kebangkitan Yesus.[123]

Yusuf diperingati sebagai riuk satu Bapa Suci dalam Kalender Manusia Nirmala Gereja Apostolik Armenia pada 26 Juli. Dalam Basilika Ortodoks Timur dan Gereja-Gereja Katolik Timur yang menirukan Ritus Byzantium, ia dikenal sebagai “Yusuf yang rupawan”, tak semata-mata merujuk lega penampilan fisiknya, belaka lebih penting lagi pada keindahan kehidupan spiritualnya. Mereka memperingatinya puas musim Minggu Bapa Suci (dua musim Minggu sebelum Natal) dan puas hari Senin Osean dan Suci (Senin Ahad Ceria). Dalam ikon, anda kadang-kadang digambarkan mengenakan hiasan kepala nemes wazir Mesir. Gereja Lutheran Sinode Missouri memperingatinya sebagai seorang patriark pada terlepas 31 Maret.

Ibrani

[sunting
|
sunting sumur]

Komentar Yahudi, baik tradisional maupun berbudaya, umumnya memandang Yusuf laksana karakter kompleks nan plong jadinya dipandang sebagai orang yang benar. Meskipun beberapa kurator seperti mana Sforno mengakui ketidakdewasaan tindakannya detik berhadapan dengan saudara-saudaranya di masa muda, tetap semata-mata Yusuf sebagian besarnya dianggap umpama sosok yang memesona karena dapat mempertahankan tulen diri Israelnya, meski telah terpisah selama 20 tahun berpokok keluarganya. Yusuf sekali lagi disebut bagaikan
tzadik
(hamba allah nan imani) secara tali peranti.[124]

Cap dan gelar

[sunting
|
sunting sumber]

Internal Al-Qur’an disebutkan bahwa superior Yusuf di Mesir disebut Al-‘Aziz (bahasa Arab:
ٱلْعَزِيز‎, “Nan Perkasa”, “Terhormat”).[125]
Sehabis keluar dari penjara dan berbahagia kedudukan janjang, Yusuf juga disebut Al-‘Aziz.[126]
Sebagian mata air Orang islam non-Qur’an mengistilahkan bahwa logo pejabat Yusuf ialah Qithfir, Qatafir, Qittin,[127]
atau Isthafir bin Ruhaib.[22]
Sumber Alkitab mengistilahkan bahwa namanya yakni Potifar.[128]

Alkitab menyatakan bahwa Fir’aun memberi tanda Mesir pada Yusuf, Zafnat-Paaneah.[129]
Sebagian berpendapat bahwa keunggulan ini bermakna “sosok yang kepadanya misteri diungkapkan” ataupun “orang yang menyibakkan misteri”.[130]
Suka-suka lagi pendapat lain adapun kekuatan nama ini.

Privat Al-Qur’an, penguasa Mesir puas masa Yusuf disebut
malik
(bahasa Arab:
مَلِك‎, ‘raja’).[131]
[132]
Dalam Alkitab, gelar fir’aun dan raja (Ibrani:
melekh) digunakan secara bergantian cak bagi menyapa penguasa Mesir plong masa Yusuf. Al-Qur’an sendiri menggunakan gelar fir’aun untuk merujuk penguasa Mesir hanya pada waktu Musa dan Harun, tidak buat periode Yusuf.

Pada umumnya, gelar fir’aun kerap digunakan kerjakan merujuk para penguasa Mesir sejak Dinasti pertama (3150 SM) sampai perebutan Mesir oleh Romawi (30 SM).[133]
Namun gelar ini sebenarnya yunior digunakan pada waktu makin belakangan, merupakan plong tahun Akhenaten (berkuasa 1353–1336 SM)[134]
[135]
atau Thutmosis III (berwajib 1479–1425 SM).[136]

Yusuf dan Zulaikha

[sunting
|
sunting sendang]

Tali peranti tenar sreg suku bangsa Muslim menyebutkan bahwa puas balasannya Zulaikha menikah dengan Yusuf. Terdapat kisah yang berbeda-cedera tersapu tema ini, semata-mata skor penting yang kerap disebutkan adalah bahwa setelah Zulaikha bertobat dan Potifar wafat, dia menikah dengan Yusuf. Ternyata didapati Zulaikha masih dalam situasi putri lantaran Potifar enggak tertarik dengan perempuan. Yusuf dan Zulaikha kemudian dianugerahi dua putra.[57]

Meski sangat dikenal, kisah ini lain memiliki gudi n domestik Al-Qur’an maupun hadits.[137]
Disebutkan bahwa permakluman adapun pernikahan Yusuf dan Zulaikha disadur dari cerita
israiliyat, merupakan narasi yang dinukil dari Bani Israil, biasanya berusul terbit awam Yahudi. Sekadar saja Tanakh (kitab suci Ibrani) dan Alkitab (kitab jati Masehi) sendiri secara jelas menamakan bahwa Yusuf dinikahkan dengan Asnat, anak perempuan dari seorang pendeta dari On bernama Potifera.[138]

Makam

[sunting
|
sunting sumber]

Secara tradisi, disepakati bahwa jenazah Yusuf telah dipindahkan dan dikebumikan ulang di Palestina. Ada beberapa tempat yang dipandang sebagai makamnya:

  • Provinsi Sikhem, di wadah Ya’qub dulunya berdiam selepas kembali dari Mesopotamia.[139]
    Para rabbi berpendapat bahwa Yusuf meminang saudara-saudaranya memakamkan dirinya di Sikhem lantaran itu adalah panggung anda dijual seumpama budak.[140]
    [141]
  • Safed, menurut sebagian sumur Yahudi
  • Musala Ibrahimi atau Gorong-gorong Makhpela di Hebron yang juga yakni kuba Ibrahim, Sarah, Ishaq, Ribka, Ya’qub, dan Lea[142]
    [143]

Lihat pula

[sunting
|
sunting sendang]

  • 25 Nabi, di antaranya:
    • Ya’qub
    • Ayyub
    • Syu’aib
  • Yusuf kacang Yakub

Goresan

[sunting
|
sunting sumber]


  1. ^

    Dalam Al-Qur’an, jenama Yusuf disebutkan 27 siapa, ialah sreg surah:

    1. Al-An’am (06): 84
    2. Yusuf (12): 4, 7, 8, 9, 10, 11, 17, 21, 29, 46, 51, 56, 58, 69, 76, 77, 80, 84, 85, 87, 89, 90
      (2 kali), 94, 99
    3. Ghafir (40): 34

Rujukan

[sunting
|
sunting mata air]


  1. ^

    Friedman, R.E.,
    The Bible With Sources Revealed, (2003), p.80

  2. ^


    Keadaan 30:24

  3. ^


    Hal 30: 1-24

  4. ^

    Ibnu Katsir 2022, hlm. 326.

  5. ^


    Kejadian 32: 1-8

  6. ^

    Ibnu Katsir 2022, hlm. 328.

  7. ^


    Kejadian 33: 1-20

  8. ^

    Ibnu Katsir 2022, hlm. 329.

  9. ^


    Hal 35: 16-20
  10. ^


    a




    b



    Ibnu Katsir 2022, hlm. 330.

  11. ^

    Yusuf (12): 4-6
  12. ^


    a




    b



    Bani Katsir 2022, hlm. 335.

  13. ^


    Kejadian 37: 9-11

  14. ^


    Hal 37: 5-8

  15. ^


    Keadaan 37: 2

  16. ^

    Yusuf (12): 8-10

  17. ^

    Ibnu Katsir 2022, hlm. 337-338.

  18. ^

    Yusuf (12): 11-15

  19. ^

    Yusuf (12): 16-18

  20. ^

    Yusuf (12): 19

  21. ^

    Yusuf (12): 20
  22. ^


    a




    b




    c



    Ibnu Katsir 2022, hlm. 342.

  23. ^


    Kejadian 37: 12-35

  24. ^

    Yusuf (12): 21

  25. ^

    Anak lelaki Katsir 2022, hlm. 342-343.

  26. ^


    Keadaan 39: 1

  27. ^


    Kejadian 39: 2-6

  28. ^

    Yusuf (12): 22

  29. ^

    Ibnu Katsir 2022, hlm. 343-344.
  30. ^


    a




    b



    Ibnu Katsir 2022, hlm. 345.

  31. ^

    Yusuf (12): 23

  32. ^

    Yusuf (12): 24

  33. ^


    al-Tabari, Muhammad ibn Jarir (Translated by William Brinner) (1987).
    The History of al-Tabari Vol. 2: Prophets and Patriarchs. SUNY. hlm. 156.





  34. ^

    Yusuf (12): 25-27

  35. ^

    Ibni Katsir 2022, hlm. 346-347.

  36. ^

    Yusuf (12): 28-29

  37. ^

    Yusuf (12): 30-31

  38. ^

    Ibnu Katsir 2022, hlm. 348-349.

  39. ^

    Yusuf (12): 32

  40. ^

    Yusuf (12): 33

  41. ^

    Yusuf (12): 35

  42. ^

    Ibnu Katsir 2022, hlm. 349-351.

  43. ^


    Kejadian 39: 11-20

  44. ^

    Yusuf (12): 36

  45. ^

    Anak lelaki Katsir 2022, hlm. 351.

  46. ^

    Yusuf (12): 37-42

  47. ^

    Ibnu Katsir 2022, hlm. 352-354.

  48. ^


    Kejadian 39: 21-23

  49. ^


    Kejadian 40: 1-22

  50. ^

    Yusuf (12): 43-49

  51. ^

    Yusuf (12): 50-51

  52. ^

    Yusuf (12): 52

  53. ^

    Ibnu Katsir 2022, hlm. 359-360.

  54. ^

    Anak laki-laki Katsir 2022, hlm. 356.

  55. ^


    Peristiwa 41: 1-36

  56. ^

    Yusuf (12): 54-56
  57. ^


    a




    b



    Ibnu Katsir 2022, hlm. 361-362.

  58. ^


    Kejadian 41: 37-52

  59. ^

    Yusuf (12): 58-62

  60. ^


    Kejadian 42: 1-26

  61. ^

    Yusuf (12): 63-66

  62. ^


    Kejadian 42: 27-38

  63. ^


    Kejadian 43: 1-15

  64. ^

    Yusuf (12): 67-68

  65. ^

    Anak laki-laki Katsir 2022, hlm. 366.

  66. ^

    Yusuf (12): 69

  67. ^


    Kejadian 43: 16-34

  68. ^

    Yusuf (12): 70-72

  69. ^

    Yusuf (12): 73-76

  70. ^

    Ibnu Katsir 2022, hlm. 368.

  71. ^

    Yusuf (12): 77

  72. ^

    Ibnu Katsir 2022, hlm. 369.

  73. ^

    Yusuf (12): 78-82

  74. ^

    Ibnu Katsir 2022, hlm. 369-371.

  75. ^

    Yusuf (12): 83

  76. ^

    Ibnu Katsir 2022, hlm. 371.

  77. ^

    Yusuf (12): 84-86

  78. ^

    Ibnu Katsir 2022, hlm. 371-372.

  79. ^

    Yusuf (12): 87

  80. ^

    Ash-Shadr 2003, hlm. 90-91.

  81. ^

    Yusuf (12): 86

  82. ^

    Yusuf (12): 88

  83. ^

    Ibnu Katsir 2022, hlm. 373-374.

  84. ^

    Yusuf (12): 89

  85. ^

    Ash-Shadr 2003, hlm. 92-93.

  86. ^

    Ash-Shadr 2003, hlm. 93.

  87. ^

    Yusuf (12): 90-92

  88. ^

    Bani Katsir 2022, hlm. 374-375.

  89. ^


    Situasi 44: 1-34

  90. ^


    Peristiwa 45: 1-15

  91. ^

    Yusuf (12): 93-95

  92. ^

    Ibnu Katsir 2022, hlm. 375.

  93. ^

    Yusuf (12): 96-98

  94. ^

    Ibni Katsir 2022, hlm. 376-377.

  95. ^


    Peristiwa 45: 16-28

  96. ^


    Hal 46: 1-34

  97. ^


    Peristiwa 47: 1-12

  98. ^

    Yusuf (12): 99-100

  99. ^

    Ibnu Katsir 2022, hlm. 379-380.

  100. ^


    Hal 35: 16-20

  101. ^

    Al-Baqarah (02): 133

  102. ^

    Ibnu Katsir 2022, hlm. 383.

  103. ^


    Hal 49: 1-28

  104. ^


    Kejadian 47: 28

  105. ^


    Keadaan 50: 1-14

  106. ^

    Ibnu Katsir 2022, hlm. 383-384.

  107. ^


    Mann, Sylvia (January 1, 1983). “This is Israel: pictorial guide & souvenir”. Palphot Ltd. – via Google Books.




  108. ^


    Kejadian 50: 22-26

  109. ^


    Keluaran 13: 19

  110. ^

    Ibnu Katsir 2022, hlm. 384.

  111. ^

    Al-An’am (06): 84

  112. ^

    Yusuf (12): 24

  113. ^

    Yusuf (12): 37-40

  114. ^

    Ibnu Katsir 2022, hlm. 352-353.

  115. ^

    Ghafir (40): 28-35

  116. ^

    HR. Mukminat (162/259) dari hadits Anas

  117. ^

    Anak laki-laki Katsir 2022, hlm. 349.

  118. ^

    Yusuf (12): 111

  119. ^


    Ibrani 11: 22

  120. ^


    Smith, Kathryn (1993), “History, Typology and Homily: The Joseph Cycle in the Queen Mary Psalter”,
    Gesta,
    32
    (2): 147–59, doi:10.2307/767172, ISSN 0016-920X, JSTOR 767172





  121. ^


    Chrysostom, John (1992),
    Homilies on Genesis, 46-47, trans. Robert C. Hill, Washington DC: Catholic University of America Press, hlm. 191





  122. ^


    Sheridan, Mark (2002),
    Genesis 11-50, Downers Grove: InterVarsity, hlm. 231





  123. ^


    Sheridan, Mark (2002),
    Genesis 11-50, Downers Grove: InterVarsity, hlm. 233





  124. ^


    Roth, Elana. “The Story of Joseph”.
    My Jewish Learning.





  125. ^

    Yusuf (12): 30

  126. ^

    Yusuf (12): 88

  127. ^


    al-Tabari, Muhammad ibn Jarir (Translated by William Brinner) (1987).
    The History of al-Tabari Vol. 2: Prophets and Patriarchs. SUNY. hlm. 153.





  128. ^


    Peristiwa 37: 36

  129. ^


    Peristiwa 41: 45

  130. ^


    Antiquitates Iudaicae
    ii.6.1

  131. ^

    Yusuf (12): 43

  132. ^

    Yusuf (12): 54

  133. ^

    Clayton, Peter A. Chronicle of the Pharaohs the Reign-by-reign Record of the Rulers and Dynasties of Ancient Egypt. London: Thames & Hudson, 2012. Print.

  134. ^


    Hieratic Papyrus from Kahun and Gurob, F. LL. Griffith, 38, 17.

  135. ^


    Petrie, W. M. (William Matthew Flinders); Sayce, A. H. (Archibald Henry); Griffith, F. Ll (Francis Llewellyn) (1891).
    Illahun, Kahun and Gurob : 1889-1890. Cornell University Library. London : D. Nutt. hlm. 50.





  136. ^

    Robert Mond and O.H. Meyers.
    Temples of Armant, a Preliminary Survey: The Text,
    The Egypt Exploration Society, London, 1940, 160.

  137. ^


    Abdillah, Abu Umar. “Nabi Yusuf Menikahi Zulaikha?”.
    Ar-Risalah.





  138. ^


    Situasi 41: 45

  139. ^


    Yosua 24: 32

  140. ^


    Harry Freedman; Maurice Simon (February 1983).
    Midrash Rabbah: Exodus. Soncino Press. hlm. 259. ISBN 978-0-900689-38-3. Diakses terlepas
    12 September
    2022
    .
    Similarly, it was from Shechem that the brothers of Joseph had stolen him and had sold him: and when he was about to die, he adjured them: ‘My brothers! ye have stolen berpenyakitan from Shechem while I was alive, I pray you, return my bones to Shechem’ (Exodus Rabbah 20,19.)





  141. ^


    Jacob ben Solomon Ibn Ḥabib; Avraham Yaakov Finkel; Rabbi Yaakov Ibn Chaviv (August 1999).
    Ein Yaakov: the ethical and inspirational teachings of the Talmud. Jason Aronson. hlm. 453. ISBN 978-0-7657-6082-1. Diakses sungkap
    12 September
    2022
    .
    ‘They buried [Joseph] in Shechem’ (Joshua 24:32). Why in Shechem of all places? R. Chama b. R. Chanina said: From Shechem they stole him, and to Shechem we will return what is lost. (Sotah 13b BT).





  142. ^

    Freund 2009, hlm. 28

  143. ^

    Le Strange 2022, hlm. 325

Daftar bacaan

[sunting
|
sunting mata air]

  • Fatoohi, Dr. Louay dan Prof. Sheta Al-Dargazelli. ..Rekaman Bangsa Israel dalam Injil dan Al-Qur’an. 2007. Bandung: Mizania.
  • Freund, Richard A. (2009).
    Digging Through the Bible: Modern Archaeology and the Ancient Bible. Rowman & Littlefield. ISBN 978-0-7425-4645-5.



  • Bani Katsir (2014).
    Cerita-Narasi Para Nabi. Diterjemahkan oleh Muhammad Zaini. Surakarta: Insan Kamil Spesial. ISBN 978-602-6247-11-7.



  • Le Strange, Guy (2010) [1890].
    Palestine Under the Moslems: A Description of Syria and the Holy Land from A.D. 650 to 1500. Cosimo, Inc., 2022. ISBN 978-1-61640-521-2.



  • Ash-Shadr, Sayid Ridha (2003).
    Kisah Terbaik: Hikmah dan Pelajaran Semangat di balik Ki kenangan Utusan tuhan Yusuf as. Diterjemahkan oleh Drs. Ali Yahya. Jakarta: PT. Lentera Basritama. ISBN 979-3018-35-6.



Pranala luar

[sunting
|
sunting sumur]

  • Kisahmuslim: Kisah Nabi Yusuf



Source: https://id.wikipedia.org/wiki/Yusuf_(tokoh_Al-Qur%27an)

Posted by: gamadelic.com