Mengapa Pekabaran Injil Itu Penting




Maka dari itu: Pdt. Pinehas Djendjengi

Kisah Para Rasul 2:37-40

(37) Ketika mereka mendengar hal itu lever mereka lalu sedih, lewat mereka menyoal kepada Petrus dan rasul-utusan tuhan yang bukan: “Apakah yang harus kami perbuat, plasenta-saudara?” (38) Jawab Petrus kepada mereka: “Bertobatlah dan hendaklah engkau masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka anda akan menerima karunia Semangat Safi. (39) Sebab buat kamulah ikrar itu dan bagi anak-anakmu dan bagi makhluk nan masih jauh, yakni sebanyak yang akan dipanggil oleh Tuhan Allah kita.” (40) Dan dengan banyak tuturan lain pula ia memberi suatu kesaksian nan sungguh-sungguh dan kamu mengecam dan menasihati mereka, katanya: “Berilah dirimu diselamatkan dari tentara yang jahat ini.”

Tugas pekabaran Injil (memberitakan Injil) adalah tugas semua orang Serani. Bagaimana kita dapat menjadi pekabar Injil yang baik? Kata kuncinya ada pada diri kita. Itu bergantung pada sikap kita. Kalau kita cangap bersikap sebagai mustami Firman yang baik, maka dijamin, kita akan menjadi pekabar Bibel yang baik. Pendengar nan baik maksudnya, enggak doang serius menyimak setiap firman, tapi sekali lagi bersedia melakukannya. Sudahkah kita menjadi pendengar firman yang baik sebagaimana ini?

Marilah kita tatap, bagaimana kita beraksi, khususnya internal mendengar pidato. Khotbah ialah unsur terdepan intern ibadah. Melalui khotbah, firman diberitakan. Firman disampaikan kepada mustami (jemaat) agar kemudian mereka vitalitas dalam firman. Di sinilah khasiat dasar dari pekabaran (perputaran) Injil. Kita adv pernah, bahwa pertumbuhan gereja mulai berlangsung sehabis Petrus berpidato pada masa Pentakosta. Perhatikan baik-baik: turunan yang mendengar khotbahnya meresponnya dengan baik. Dikatakan dalam ayat 37: “Momen mereka mendengar hal itu hati mereka lalu terharu, lalu mereka bertanya kepada Petrus dan rasul-nabi nan lain: “Apakah yang harus kami perbuat, saudara-saudara?” Takdirnya orang-sosok itu tidak merespons pidato Petrus, dan tidak ada yang tergerak, maka tidak akan terjadi apa-apa.

Adakah kita besar perut bersikap merespon khotbah seperti sidang pendengar dalam ayat tadi? Kita silam tergerak untuk melakukan sesuatu? Pengkhotbah dan orasi yang hebat bagaimana pun kalau cuma direspon dengan kata “amin”oleh jemaat tidak akan berdampak apa-apa. Ya bukan akan terjadi segala-apa nan berarti walau mata kita samapi membelalak mendengar khotbah nan menarik, kita terbahak-bahak karena lucunya, atau menangis tersedu-isak saking menyentuhnya, namun sesudah itu kita pulang tanpa berbuat apa-apa.

Untuk itu jadilah pendengar yang baik. Segala apa sira pikir menjadi mustami yang baik itu gampang? Ternyata tidak. Dituntut beberapa sikap bagi menjadi pendengar yang baik. Mendengar firman itu membutuhkan:

Kerendahan hati

Keterbukaan hati

Kehadiran bakal berlatih

Kehadiran untuk menghargai orang lain.

Lakukan itu, takdirnya datang ke gereja atau persekutuan-persekutuan ibadah jangan apriori (berprasangka negatif) silam. Datanglah dengan hati yang terfokus dan munjung kerinduan pada firman Tuhan, dan bukan pada yang lain. Kalau firman terasa mengecam, terasa mengaibkan dan ‘menohok’ perilaku kita nan jahat, jangan cepat-cepat marah atau tersinggung. Firman itu bak pedang bermata dua yang siap mengiris segi-segi buruk dari karakter kita. Dengarkanlah, firman itu menengah membangun kita.

Jika kita benar-etis siap mendengar firman dengan seluruh pesannya, maka kita dapat melangkah ke tahap nan kedua dan menentukan, yaitu menjadi pekerja firman Tuhan. Bagaimana kita boleh menjadi pelaku firman yang baik seandainya bikin menjadi pendengarnya belaka kita susah? Dengar dan simak dulu mentah kemudian bikin. Firman jangan Cuma didengar tapi harus dilakukan! (Baca Yakobus 1:22 dan Matius 7:21).

Sadarilah, Injil menjadi pesiaran yang umur ketika kita bersedia mendengarnya dan melakukannya. Saat kita koteng berbuat firman itu, maka kita telah menjadikan diri kita sebagai media pemberitahuan Bibel. Kita menjadi pekabar-pekabar Injil melalui nasib kita sendiri.

Source: https://www.suarakristen.com/2017/10/02/tugas-pekabaran-injil/