Mazhab Yang Umum Dipakai Di Indonesia Adalah

by andromeda

0:00 – 4:55

Kenapa di Indonesia kita bermanhaz Syafi’i. Lain manhaz ya, mazhab, beda. Manhaz itu adalah metode hidup, manhaz. Kalau mazhab itu kesadaran, Kognisi berasal jihat fiqih.

Kenapa Indonesia mayoritas (berpaham Syafi’i) yaitu memang karena mazhab Syafi’i nan dulu dibawa oleh para ulama-ulama ke sini. Dan Pater Syafi’i salah satu pendeta yang diakui oleh ahli sunah waljamaah.

Sama juga (sama dengan) di Turki mayoritasnya Hanafiah, mazhab Hanafi. Di Afrika Maliki, di Timur Tengah Hambali, itu centung. Jadi kebanyakan lawan-bandingan di Saudi mahzab Hambali, di Indonesia Syafi’i. Memang begitu. Di Turki, di Eropa itu Hanafi.

Jadi jangan heran takdirnya pendirian sholat gitu ketel. Itu seperti Hongkong ke atas ya. China, Hongkong sampai ke Turki semua itu memang Hanafi, makanya azannya agak beda, dua. Dia sampai bilang kali, iqomah pula seperi seruan salat, tetap dua, dua kali. Saya kemaren waktu begitu, sholat diundang disalah satu mesjid di Hongkong, ternyata iqomahnya begitu, mazhab Hanafi. Itu punya dalil. Selama dalam 4 mazhab ini diakui. Diakui, dan kita harus bisa memahami.

Tikai antara perilaku nan bisa membawa plong kekufuran sebagai halnya turunan minta-harap ke kober. Kemudian mau menyembelih kepada selain Allah. Ini semua perbuatan-polah ini, ini lain bisa ditoleransi kalau sampai puas kekufuran. Lamun sira menisbatkan diri kepada salah satu mazhab, karena 4 rohaniwan mazhab ini tentu memungkiri perbuatannya.

Seperti Indonesia banyak khalayak nan bersedia dan menerima Syafi’i tapi ngambil tanah-tanah kuburan, harap-minta puas kuburan. Ini n domestik mazhab imam Syafi’i sendiri dilarang, gak boleh ini. Kalau pastor Syafi’i roh sudah dilarang itu pasti. Dalam siasat-buku beliau tidak pernah menamakan bolehnya disuruh minta-minta plong taman bahagia gitu kan. Nah ini, sesuatu yang sudah lalu sampai pada digresi. Ini harus diluruskan.

Tapi kalau ki kesulitan yang berselisih ulama, tetapi masih punya dalil. Seperti pastor Syafi’i sejumlah, qunut pagi buta, imam Ahmad bilang tak qunut subuh. Ini toleransi. Harus kita dapat mengakui itu. Tapi kita bisa menjalankan apa yang kita paling yakini, gitu kan. Terutama kita kembalikan kepada dalil nan paling abadi. Oleh dalam masalah qunut, misalnya. Pernah saya jelaskan. Imam Syafi’i mengatakan hadist nan berhubungan dengan qunut semuanya dituruti oleh beliau. Rohaniwan Ahmad, muridnya, dan memang imam Ahmad lebih perseptif masalah hadist, karena padri Syafi’i kombinasi bilang, hai Ahmad, kalau sebatas kepadamu berhubungan dengan hadist Rasullah saw, sampaikan kepada kami, karena engkau kian paham. Padri Ahmad melemahkan hadist itu kan. Gak boleh ini (maksudnya: qunut enggak dapat), dalam hadist ini tidak bisa dipakai menurut imam Ahmad.

Selepas pendeta Syafi’i ke Mesir, dahulu di Mesir dan imam Ahmad tinggal di Iraq. Jaraknya jauhkan. Nah, murid-muridnya ini pelahap menukil pendapat satu setara yang tidak. Jadi terbantah pertengkaran pendapat memang samudra.

Koneksi terserah siswa imam Ahmad datang dan berkata, duhai pendeta, kalau kami semenjana sholat dibelakang Syafi’i, mereka qunut kami gak qunut, gitu morong. Apa nan kami harus kerjakan, qunut alias tidak. Perkenalan awal pater Ahmad, takdirnya kau bukan mau qunut, jangan sholat dengannya. Untuk sholat, maksudnya apa? qunutlah. Apa hubungannya tidak qunut? Karena masih ada dalil, gitukan. Masih ada pemandu, ini namanya problem khilafiyah.

Di Indonesia sekarang teman-dagi yang belajar ini. Apalagi sudah mulai masuk pengajian sunah, biasanya mereka tak bisa mengklasifikasikan, mana yang bid’ah mukafirah, mana bid’ah masih masalah khilafiyah.

Kalau bid’ah mukafirah, teko tadi saya bilang, ambil-rebut lahan kuburan. Taruh air yang gak berkah lah, beristiqosah mohon tolong kepada kober tersebut. Ini, kufur ini, bahaya. Gak bisa, dalam mazhab empat pun ditolak ini sebenarnya. Tadi jikalau problem perselisihan tentang ada hadist doang yang suatu rengsa, nan suatu mengatakan boleh dipakai, ini pergesekan diantara ulama.

Kita kalau mau lebih dalam memaksudkan ilmu, cari dalil yang paling langgeng, kemudian kita ikutin. Jadi tidak harus kita, o ya, saya mazhab Syafi’i lalu semua mazhab Syafi’i saya rebut, bisa cuma pendapat beliau yang bertolak belang dengan hadist. Maka kita dahulukan pendapat ulama yang tak.

Boleh kita berideologi berbunga (…) empat ini, tapi jangan fanatik dengan pendapat itu. Sehingga kita langsung memvonis cucu adam bukan salah, temporer masih ada dalil.

Sekiranya ini bisa difahamin, tidak terserah pertikaian sebenarnya diantara umat. Karena hadist yang mengatakan (…) umati rahmah, perselisihan umatku anugerah, ini hadist gak bermoral. Masa Nabi saw suruh kita ki bentrok. Gitu morong. Nabi saw suruh kita bersatu, tidak berselisih . Mestinya memang lain suka-suka perselisihan karena Tuhan kita suatu, Allah. Utusan tuhan kita satu, Nabi Muhammad saw. Qur’an kita satu, hadist-hadist Nabi jelas, gitu centung. Ini cuma terkadang egoisme yang cak semau turut disitu. Ah, gak ini pendapat guru saya, kiyai saya, terpangkal harus benar dan seterusnya. Ini semestinya harus dihindari.

Source: https://rhinospike.com/script_requests/basti84/3651/