Makna Etos Kerja Dalam Islam

Hadirin Sidang Jumat nan diberkati Yang mahakuasa,

Tak henti-hentinya, sebagaimana biasa, saban-saban kita melaksanakan salat jumat, peristiwa pertama dan utama nan perlu disampaikan dan diingatkan adalah meningkatkan ketakwaan kita masing-masing kepada Allah swt. Boleh bintang sartan intern pengembaraan kita bersumber Jumat lalu sebatas Jumat ini keagamaan dan ketakwaan kita menurun, maka momen inilah kita coba meningkatkan kembali. Kita coba memompa kembali semangat keimanan dan ketakwaan kita, hendaknya kita demap berada pada garis ketakwaan yang sopan.

Sidang Jumat nan diberkati Allah,

Ahad adv amat, plonco saja umum dunia memperingati hari buruh Internasional. Harinya para pekerja, tentu saja Islam sebagai agama yang sempurna, agama nan mengatur umat hamba allah hingga penghabisan masa tulat, mempunyai sifat dan etika khas tercalit dengan kegiatan bekerja. Sebelum kita membahas dengan apa nan dimaksud dengan etos kerja dalam Islam, terlebih tinggal kita terbiasa merasa bersyukur kepada Allah swt. bahwa dalam al-Qur’an Allah menjanjikan pahala yang amat besar kepada insan-manusia nan bekerja.

Yang mahakuasa menjanjikan hidup yang baik kepada orang-insan yang bekerja. Dan itu enggak di akhirat saja, karena itu teragendakan sekali lagi atma di mayapada nan sementara ini. Tentu semata-mata ini bisa diartikan laksana takdirnya ada orang yang sudah lalu bekerja, namun belum bahagia, karuan masalahnya bukan pada janji Allah yang lain tepat, tetapi puas diri kita yang kali belum dapat memaknai segala apa arti kerja nan sebenarnya.

Di internal tindasan An-Nahl ayat 97, Yang mahakuasa bersabda : “Barangsiapa yang bekerja dengan baik, barang siapa yang beramal imani, baik laki-laki ataupun perempuan, temporer anda adalah manusia yang beriman kepada Halikuljabbar, dengan sebenar-bermartabat keyakinan, maka dia akan Kami berikan arwah nan baik dan bahagia. Kelak Kami akan membalas dengan pahala semacam itu dengan balasan yang jauh bertambah besar dari apa yang pernah beliau bakal.”

Para mufassir mengartikan “Kami akan memasrahkan kehidupan yang baik” itu misal kesukaan di dunia. Itu berarti mereka yang berkarya dijamin pasti akan punya dan merasakan atma yang baik di dunia ini. Sebaliknya, mereka yang malas bekerja, tentu akan mendapatkan kehidupan yang sulit. Sedangkan ‘وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ’ diartikan oleh para mufassir perumpamaan perlagaan yang luar biasa, yang tak terbatas, yang kelak akan dirasakan oleh mereka yang bekerja dengan baik di kehidupan darul baka esok.

Ini artinya bukan cak semau kerugian sama sekali bila kita bekerja dengan baik, di manjapada kita akan memperoleh kebaikan, dan di darul baka kita akan mendapat pahala nan jauh bertambah baik dari apa yang kita terima di bumi ini.

Hadirin Sidang Jumat yang diberkati Tuhan,

Kalau kita mendaras ayat-ayat privat kitab suci al-Qur’an, kita menemukan abnormal lebih 600 kata yang tercalit dengan makna bekerja, baik dalam bentuk perkenalan awal kerja, nomina, dan sebagainya. Berpunca sana bisa kita tarik beberapa makna n domestik kaidah-mandu bekerja yang bisa kita renungkan dan terapkan dalam sukma sehari-hari.

Keseleo satunya adalah, bekerja dapat diartikan sebagai wujud terima kasih kita kepada Allah. Kita berkreasi bukan semata-netra mengejar persen, bukan semata-mata didorong rasa beban-jawab kita terhadap keluarga, tetapi juga rasa syukur kita kepada Allah swt. Bagaimana tidak, kita terlahir dengan kondisi yang sempurna, bahkan kita juga mempunyai kadar keilmuan yang tinggi, yang itu menjadi bekal yang amat berharga ketika kita bekerja. Maka itu semua teristiadat kita syukuri setiap masa saat kita melaksanakan pekerjaan sehari-periode.

Dalam hal ini kita bisa merujuk lega surat An-Nisa ayat 13 dimana Tuhan berfirman kepada anak keturunan Nabi Daud as.-Nabi yang dikenal sebagai pegiat dengan tangannya sendiri, bersantap bermula hasil olah tangannya koteng-, dan Halikuljabbar berfirman :”Aduhai anak baka Daud, bekerjalah kalian sebagai tanda syukur kepada-Ku. Cuma ketahui pun, sedikit diantara hamba-hambaKu yang pandai bersyukur.” Makanya karena itu dapat kita maknai bahwa kerja kita adalah wujud syukur kita kepada Allah swt., maka kita termasud dari khalayak-orang yang sedikit itu. Sedikit hanya berkualitas.

Nan kedua, orientasi kerja hendakya bukan ditujukan hanya buat kehidupan dunia ini. Tapi juga puas kehidupan darul baka. Kita lihat dalam salinan al-Baqarah, Allah mengecam detik terserah orang-cucu adam yang kerubung Kabah pada perian itu, dan berdoa ‘Ya Allah, berikanlah aku usia di dunia‘, sonder memanggil kehidupan di darul baka, Tuhan menyerang perbuatan yang sama dengan itu dan mengajarkan lega nabi Muhammad dan umatnya untuk menukar ratib yang seperti itu, dengan doa berikut: Kerumahtanggaan surat al-Baqarah Allah menyatakan : ‘Di antara orang-anak adam yang Kami cintai, yang Kami beri ilham itu, ada yang berdoa ; Ya Allah berikanlah hamba kesenangan di dunia dan berikan kembali kami kegembiraan di akhirat, dan keladak, catatan nan makin penting adalah Lindungi kami, Cegahlah kami dari siksa jago merah neraka. ‘ Ini artinya jangan sampai berkreasi kita justru sampa membawa ke neraka. Naudzubillah!

Berikutnya, poin ketiga merupakan kita dalam berkreasi sekurang-kurangnya harus mempunyai dua budi. Karakter pertama yakni
al qowi, artinya resan yang kuat. Kuat dalam hal ini artinya boleh diandalkan. Memiliki maslahat raga dan fungsi mental. Walaupun pekerjaannya tidak memaui fisik, namun kita juga harus abadi secara mental hingga bisa diandalkan.

Ini bisa kita lihat intern sahifah al-Qasas, ini kisah tentang bagaimana Nabi Musa as. diberi pekerjaan. Riuk koteng putrinya mengatakan: “Wahai ayahku, sewalah atau pekerjakanlah nabi Musa as,. itu, karena sesungguhnya orang terbaik yang dapat kita pekerjakan merupakan orang kuat dan makhluk yang dapat dipercaya.” Jadi yang harus kita punyai lainnya yakni dapat dipercaya.

Yang berikutnya yaitu bekerja dengan gigih. Bekerja dengan alangkah-betapa tanpa kita menyerah atau terbang arwah buat berburu yang baru. Kita siuman, istri nabi Ibrahim as. ikatan mempertunjukkan, beliau berlari-lari dari bukit sofa ke ancala marwah sampai berkali-kali. Suatu barangkali berlari cepat, dan di bukan waktu berlari lebih cepat. Di lain waktu saat letih medera, sira berlari ringan. Semata-mata berusul semua jerih penat belia apa yang bisa kita rasakan? ternyata tanah yang tandus itu bisa mengeluarkan air zam-zam yang tak pernah suntuk sebatas sekarang.

Ini mengartikan bahwa kerja gigih yang kita untuk, ini akan mengantarkan kita kepada hasil yang maksimal. Yang manfaatnya bukan hanya dirasakan makanya kita, tapi oleh masyarakat banyak, generasi-generasi sesudah kita.

Keadaan lain nan perlu pun kita pertimbangkan, yakni bekerja dengan benar-benar, atau dalam al-Qur’an disebut
Itqon. Dalam sebuah sabda Rasul berbicara : “Senyatanya Allah menyukai apabila salah seorang diantara kamu bekerja secara komplet (nan kata
itqon
inipun sudah diserap dalam bahasa Indonesia menjadi tekun.)” (Riwayat Bukhori).

Hadirin Sidang Jumat yang diberkati Allah,

Bekerja juga harus kita pandang sebagai bekal kita untuk periode tua. Tentu ini tak sahaja soal purnabakti, tapi juga hari tua besok, ketika kita menumpu Allah swt. Di dalam surat al-Kahfi Allah menyebutkan bahwa diantara persiapan nan harus dilakukan makanya cucu adam nan hendak mengarah Allah adalah pekerjaan nan baik yang disebut sebagai amal saleh. “Maka barangsiapa yang mengharap pertemuan dengan Allah, maka hendaklah ia bekerja, mengerjakan baik, beramal imani dan lain menyekutukan Halikuljabbar dengan apapun.”

Di sisi lain, Islam sebagai agama yang menjaga keadilan, juga menuntut umatnya untuk beribadah formalitas seperti yang sudah diwajibkan. Dalam satu sempurna, intern surat al Jum’ah yang mengomong tentang formalitas salat Jumat, yang pada sebagian negara-negara di timur tengah musim Jumat dijadikan hari cuti, kerumahtanggaan al-Qur’an hakikatnya terlebih kita mudahmudahan bersebaran di muka bumi mengejar karunia Allah apabila kita usai melaksanakan salat Jumat (ini dipahami artinya kerjakan bekerja). Sehingga apapun ibadah nan kita lakukan jangan sampai membantut kita cak bagi bekerja. Dan sebaliknya, jangan sampai pekerjaan apapun bisa menahan kita dari beribadah kepada Allah swt. Kedua hal ini harus kita jaga secara sekufu.

Hadirin Sidang Jumat yang diberkati Halikuljabbar,

Lampau pertanyaan berikutnya, komisi alias harta nan kita songsong dari berkreasi harus kita apakan? pasti kita punya kemandirian selama digunakan di jalan Allah, tapi satu kejadian yang harus kita ingat, jangan sampai harta yang kita peroleh tidak ada yang kita sedekahkan. Satu saat tubin saat mangkat tiba, kita akan menyesal cak kenapa kita tak banyak menyumbang. Ini sama dengan nan disebut privat surat al Munafiqun : “dan bersedekahlah dari harta yang Kami berikan kepadamu sebelum cak bertengger kepada keseleo koteng diantara beliau mortalitas, yang membuatnya berkata Ya Allah berikan kepada kami penundaan karena aku ingin juga ke bumi kerjakan bersedekah.”

Mengapa penyesalan itu terjadi, karena ketika ajal tiba, kita mulai diperlihatkan oleh Allah amal-kebajikan baik dan buruk kita. Salah satu amalan yang diperlihatkan kepada kita yang besar adalah pahala bersedekah. Nah sebelum kita terlambat dijemput ajal, mari kita lakukan sedekah sedapat dan sekuat kita. Demikian beberapa poin yang bisa kami sampaikan n domestik kesempatan ini, mudahmudahan kita termasuk sosok mendengar dan menjalani apa yang terbaik.

Disampaikan seumpama khutbah salat Jumat di Bellagio Mall sreg 7 Mei 2022.

Source: https://umma.id/post/etos-kerja-dalam-islam-912520?lang=id

Posted by: gamadelic.com