Macam Macam Teori Komunikasi Massa

Teori komunikasi konglomerat merupakan sebuah proses dimana seseorang atau sekelompok orang ataupun organisasi yang osean menyusun sebuah pesan dan mengirimkannya melangkahi berbagai media kepada hamba allah awam yang inkognito dan beraneka rupa. Eksistensi sarana komunikasi beradab ini sebagai dampak semakin berkembangnya teknologi informasi dan komunikasi cenderung mengaburkan batasan antara komunikasi antar pribadi ataupun komunikasi interpersonal tradisional dan juga komunikasi massa.

Misalnya saja, seseorang yang mempunyai peranti komputer dan ketangkasan mengoperasikan komputer dapat mengkover majalahnya koteng. Hal tersebut menjadi cak bertanya para peneliti tentang apakah berbagai buram komunikasi yunior itu bisa dikategorikan ke dalam komunikasi massa. Para peneliti sudah mengkaji media dan pun komunikasi sepanjang bertambah mulai sejak suatu abad. Ada tiga paradigma dimana kendaraan menjadi kajian terdepan dalam sebuah penelitian komunikasi agregat, antara lain:

a. Paradigma pertama yaitu acuan kekuatan bilyet media yang melihat kuatnya kekuasaan media terhadap khalayak konglomerasi.
b. Acuan kedua yakni kamil sekuritas minus atau efek minimalist media terhadap khalayak konglomerat.
c. Paradigma yang ketiga adalah model efek kumulatif wahana terhadap khalayak konglomerat.

Ada beberapa teori komunikasi konglomerasi yang secara spesifik fokus pada komunikasi komposit dan beberapa teori lain yang digunakan buat meneliti media massa. Sebagian besar berbunga teori yang digunakan berkembang di asing rataan studi komunikasi yang kemudian diaplikasikan ke dalam studi media oleh para ahli.

Di dalam bukunya yang berjudul Encyclopedia of Communication Theory (2009), Littlejohn dan Foss memberi teori komunikasi massa ke dalam tiga kategori, adalah teori yang gandeng dengan budaya dan masyarakat, teori yang berhubungan dengan pengaruh dan persuasi wahana, dan teori nan berhubungan dengan penggunaan media. Selain teori yang menegaskan pada proses dampak media massa dan insan massa, maka beberapa teori komunikasi konglomerasi sekali lagi fokus pada isi wanti-wanti alat angkut dan struktur dan penampilan wahana massa.

Daftar Teori Komunikasi Massa Menurut Para Ahli

Di sumber akar ini yaitu beberapa daftar teori komunikasi massa menurut para ahli, antara lain:

1. Teori Penyemat Hipodermik (Hypodermic Needle Theory)

Teori pencucuk hipodermik pula dikenal dengan sebutan Magic Bullet alias Stimulus Response Theory. Mengapa disebut laksana jarum hipodermik karena teori ini terkesan seakan-akan para audiens dapat ditundukkan dengan pemberian informasi sesuai dengan apa nan dikehendaki maka dari itu kendaraan. Sebagaimana kembali diibaratkan obat yang disimpan dan disebar ke dalam seluruh badan melewati jarum suntik.

Selain itu, teori nan satu ini kembali mengasumsikan bahwa sarana mempunyai kekuatan yang perkasa dan makin mandraguna. Dibandingkan dengan audiens nan sifatnya pasif atau tidak sempat barang apa-barang apa. Makanya karena itu, audiens dapat dikelabui sedemikian rupa dari segala apa yang diberitakan makanya media. Makara, bikin menghindari dampak negatif dari pengumuman yang ada di media massa, penting bagi audiens comar menyaring embaran yang diberitakan oleh media massa.

2. Teori Pengembangan (Cultivation Theory)

Teori peluasan atau yang disebut kembali dengan teori kultivasi pertama kali dicetuskan oleh Profesor George Gerbner. Di pertengahan periode 1960-an, Ia memulai sebuah titipan penelitian tentang Indikator Budaya. Penelitian ini bertujuan bagi mempelajari pengaruh menonton televisi terhadap umur publik. Menurut teori kultivasi ini, televisi menjadi sarana atau alat terdepan dimana para penonton bisa belajar mengenai masyarakat dan juga kultur lingkungannya. Sensasi segala nan tercegak di manah penonton sangat ditentukan oleh televisi. Itu artinya, melalui kontak penonton dengan televisi, maka seseorang boleh berlatih tentang dunia, anak adam-orang nan ada di dalamnya, biji-biji nan terkandung di dalamnya, dan juga adat kebiasaannya.

Berdasarkan pendapat para peneliti, televisi merupakan pendongen penting yang ada di dalam umum waktu kini. Dengan menonton televisi, masyarakat dapat meraih bineka warta. Selain itu, televisi kembali menampilkan sebuah tayangan mainstream ataupun rukyah yang seragam tentang dunia saat ini. Sehingga, pemadat berat televisi akan menganggap bahwa segala nan terjadi di televisi adalah dunia senyatanya. Padahal, hal itu belum pasti terjadi di dunia nyata. Dengan kata bukan, penilaian, opini penonton, persepsi mereka akan digiring sedemikian rupa supaya sesuai dengan segala yang mereka lihat di televisi.

3. Teori Imperialisme Budaya (Cultural Imperialism Theory)

Teori imperialisme budaya pertama kali dicetuskan maka itu Herb Schiller waktu 1973. Dimana teori yang satu ini menyatakan bahwa negara barat akan mendominasi media nan ada di seluruh manjapada. Alasannya yaitu media konglomerasi barat memiliki efek yang kuat untuk mempengaruhi wahana di negara lainnya. Setiap negara berkembang menghadap lebih sulit untuk memproduksi media massa seperti negara barat, karena keterbatasan yang mereka miliki.



Selain itu, teori ini juga mengira bahwa media boleh mendukung memodernisasikan dengan mandu memperkenalkan angka-nilai barat yang dilakukan. Dimana mereka akan mengorbankan angka-skor tradisional dan menyebabkan hilangnya kesejatian budaya tempatan. Nilai-ponten yang diperkenalkan tersebut merupakan nilai kapitalisme. Seperti yang kita pahami bahwa biji ini disengaja supaya meletakkan negara yang semenjana berkembang di posisi paling kecil bawah, ialah dibawah kepentingan kekuasaan yang lebih mendominasi.

4. Teori Persamaan Media (Media Equation Theory)

Teori persamaan ki alat ataupun yang disebut dengan media equation theory mau menjawab permasalahan kenapa orang-basyar secara tak siuman dan bahkan secara otomatis merespon apa yang dikomunikasikan oleh media, seolah-olah sarana itu pula basyar. Selain itu, teori yang satu ini kembali mencela bahwa media kembali dapat diajak berucap. Media dapat menjadi antitesis bicara seseorang seperti mana dalam komunikasi interpersonal yang melibatkan dua individu n domestik situasi tatap muka.

Misalnya saja, detik kita sedang mencari informasi adapun pengolahan data dengan memperalat komputer. Maka kita seakan berkomunikasi secara langsung dengan meminta informasi tersebut, seakan-akan komputer itu adalah manusia. Kita pun mengaryakan media lain untuk berkomunikasi, bahkan kita juga berperilaku secara tidak sadar seolah media adalah manusia.

5. Teori Spiral Keheningan (Spiral of Silence Theory)

Teori spiral keheningan yang dicetuskan maka dari itu Elizabeth Noelle Neumann ini menganggap bahwa suara miring minoritas berat bikin dikabulkan oleh alat angkut. Sehingga kejadian itu menyebabkan kelompok minoritas ini harus menyembunyikan pendapat ataupun pandangan mereka saat berada di dalam kelompok mayoritas. Seseorang yang nanang bahwa mereka ialah anak adam minoritas akan menggarisbawahi pandangannya, tapi tinimbang itu, apabila seseorang memiliki pendirian nan sangat kuat, maka makhluk tersebut tidak akan mudah terbujuk opini mayoritas. Misalnya cuma, apabila opini mencantol ajudan, dimana sendiri Mukmin beriktikad bahwa daging babi itu haram dan dia beriman betul akan situasi tersebut. Pastinya, dia akan menyorong dengan sangat tegas apabila ada opini yang mengatakan bahwa daging kartu ceki itu sahih cak bagi Mukmin.

6. Teori Determinisme Teknologi (Technological Determinism Theory)

Teori determinisme teknologi ini purwa kali dikemukakan oleh Marshall McLuhan di tahun 1962. Ide dasar pecah teori ini merupakan bahwa transisi yang terjadi di berbagai diversifikasi cara berkomunikasi akan membentuk juga kehadiran bani adam itu sendiri.Teknologi membentuk individu terkait bagaimana cara mereka berpikir dan bertabiat dalam mahajana. Sehingga teknologi tersebut pada akhirnya mengincarkan anak adam bagi berputar lebih modern.

7. Teori Pelarutan Inovasi

Munculnya teori pembauran inovasi dimulai tahun 1903 oleh seorang sosiolog yang terbit dari Perancis, yaitu Gabriel Tarde. Menurut teori difusi inovasi ini, sesuatu yang baru akan menimbulkan keingintahuan masyarakat bagi mengetahuinya. Dimana seseorang yang menemukan hal baru cenderung akan mensosialisasikan dan menyebarkannya. Sehingga, teori ini kian titik api bahwa manusia detik menemukan situasi yang hijau, menuju akan membagikan informasi tersebut kepada orang lain melalui media konglomerat.

8. Teori Penggunaan dan Kepuasan

Teori penggunaan dan juga kepuasan ini dicetuskan maka itu Herbert Blumer, Elihu Katz, dan pun Michael Gurevitch. Dimana teori nan satu ini ialah kebalikan dari teori jarum hipodermik. Dalam teori penyemat hipodermik, media akan sangat aktif dan berpengaruh besar. Sedangkan audiens berada di pihak nan pasif. Tentatif di dalam teori ini menonjolkan bahwa audiens aktif bermain untuk menentukan alat angkut mana yang seharusnya dipilih untuk memuaskan kebutuhannya.

9. Teori Otoritas Agenda

Teori pengaturan agenda akan menciptakan public awareness atau kesadaran umum dengan menggarisbawahi sebuah isu yang dinilai minimal berharga untuk didengar, dilihat, dibaca, dan dipercaya di media massa. Tokoh yang mencucuh teori ini merupakan Bernard Cohen, Maxwell McCombs, dan kembali Donald Shaw. Teori yang satu ini didasari makanya asumsi para peneliti, adalah bahwa pers dan media tidak merenungkan warta yang sebenarnya kepada khalayak umum. Alat angkut lebih mengajak bikin membicarakan isu tersebut dibandingkan dengan membahas isu lainnya.

10. Teori Media Tanggap

Teori media kritis ini berasal dari aliran ilmu-ilmu peka yang bersumber pecah hobatan sosial Marxis. Dimana teori ini menyibuk bahwa ki alat tidak lepas kebaikan, terlebih sarat dengan kepentingan kaum tuan modal, negara, atau kelompok nan lebih kuat tak. N domestik artian lain, media menjadi alat bakal mendominasi masyarakat. Berikutnya, teori reaktif melihat bahwa media merupakan pembentukan kesadaran. Representasi nan dilakukan makanya media dalam sebuah struktur masyarakat lebih mudah dipahami sebagai kendaraan yang bisa memberikan konteks pengaruh kognisi. Inilah sebabnya alat angkut dijadikan sebagai agen sosial yang dapat mempengaruhi masyarakat secara luas.

11. Teori Sistem Ketergantungan Media

Teori nan suatu ini mengatakan bahwa media bergantung pada konteks sosial dan pertama boleh jadi dicetuskan oleh Sandra Ball-Rokeach dan juga Melvin DeFleur pada masa 1976. Mereka menganggap bahwa bertemunya media dengan khalayak didasari dengan tiga perspektif, yakni perspektif perbedaan individual, perspektif kategori sosial, dan lagi perspektif hubungan sosial.

Postulat dari teori ini memandang bahwa dependensi relatif khalayak terhadap sumber alat angkut konglomerat apabila dibandingkan dengan sendang pengumuman lainnya merupakan sebuah variabel nan harus ditentukan secara empiris. Semakin besar kadar dependensi terhadap media massa dilihat bersumber segi pemerolehan informasi dan semakin hierarki kadar kritis serta ketidakstabilan masyarakat, maka akan semakin besar kembali kekuasaan yang dimiliki maka dari itu media.

12. Teori Spiral Keheningan

Teori yang dicetuskan oleh Elizabeth Noelle-Neumann pada tahun 1974 ini menggambarkan hubungan efek wahana terhadap pembentukan opini awam dan juga abstrak perilaku demokratis. Frasa “spiral of silence” ini mengacu pada bagaimana orang-manusia yang merentang kerjakan lebih memilih diam saat mereka merasa pandangannya yakni minoritas. Setiap individu yang melihat opininya seorang diterima akan mengekspresikannya. Sedangkan mereka yang berpikir bahwa dirinya bagaikan minoritas, akan makin menekan pandangannya. Para inovator dan juga agen pertukaran tidak takut n domestik menyuarakan pendapat yang berlainan begitu juga mereka tidak takut dengan isolasi.

13. Teori Kesenjangan Pengetahuan

Teori yang satu ini purwa mana tahu dicetuskan oleh Philip Tichenor, George Donohue, dan Clarice Olien. Dimana teori ini menyatakan bahwa bertambahnya jumlah informasi tentang suatu topik menyebabkan bertambahnya ketakseimbangan permakluman antara mereka yang memahami lebih banyak dan mereka nan cuma mengetahui sedikit. Teori kesenjangan pengetahuan ini bisa membantu menjelaskan bermacam-macam penelitian nan menegaskan pada opini publik. Kesenjangan pengetahuan bisa menghasilkan bertambahnya kesenjangan antara cucu adam-bani adam yang mempunyai status sosioekonomi yang cacat dan sosok-turunan yang mempunyai martabat sosioekonomi yang tinggi.

Dulu, memperbaiki kehidupan orang-orang dengan informasi yang suka-suka di ki alat massa tak selalu melanglang dengan lampias, sesuai dengan yang sudah direncanakan karena biasanya akan menemui beraneka macam jenis obstruksi komunikasi. Media konglomerat mungkin akan memberikan efek memperbesar perbedaan kesenjangan di antara anggota papan bawah sosial.

Ada lima alasan cak bagi menjustifikasi terjadinya kesenjangan butir-butir begitu juga nan dikatakan oleh Tichenor, Olien, dan Donohue, yakni bahwa makhluk-khalayak dengan tingkat sosioekonomi nan lebih tinggi:

a. N kepunyaan keterampilan komunikasi, kemampuan membaca, pendidikan, kemampuan mengingat embaran yang makin baik.
b. Bisa menyimpan informasi dengan lebih mudah atau menghafaz topik beralaskan latar pinggul pengetahuan.
c. Mempunyai konteks sosial nan makin relevan.
d. Bertambah baik internal berbuat penerimaan, terpaan ketat, dan juga retensi.
e. Bertambah mudah kerjakan menjangkau alat angkut agregat

14. Teori Sosial Psikologis

Teori sosial kognitif ini dicetuskan pertama oleh seorang psikolog yang bernama Albert Bandura plong perian 1960-an. Dimana teori yang satu ini menitikberatkan pada bagaimana dan mengapa orang-individu lebih cenderung meniru apa nan dilihat dari kendaraan. Situasi ini yakni teori yang fokus plong produktivitas kita lakukan belajar dengan mengalaminya secara sedarun. Proses belajar melalui pengamatan ini bergantung plong sejumlah faktor, yakni kemampuan subjek bakal boleh memahami dan lagi mengingat segala nan mereka lihat, mengidentifikasi, dan heterogen variasi situasi yang membimbing kepada proses pemodelan perilaku. Teori sosial kognitif ialah salah satu teori yang paling kecil buruk perut dipakai untuk meneliti media dan lagi komunikasi massa.

15. Teori Dua Tahap

Teori dua tahap dicetuskan permulaan kali oleh Paul F. Lazarsfeld dan kawan-kawannya berdasarkan hasil survey terhadap pemilih. Hasil investigasi tersebut menyebutkan bahwa hubungan sosial informal menyandang peranan internal memodifikasi perilaku, yang mana masing-masing bani adam akan mengklasifikasikan isi ki alat usaha.

Penelitian ini lagi mengindikasikan bahwa berbagai spesies ide atau gagasan seringkali mengalir dari radio dan surat kabar kepada para pemuka pendapat dan dari mereka kemudian disampaikan kepada khalayak awam. Oleh sebab itu, keramaian sosial informal mempunyai beberapa jenjang internal mempengaruhi orang-sosok dan cara mereka memilah isi media serta bagaimana cara mereka bertindak terhadapnya.

Demikian penjelasan mengenai teori komunikasi konglomerat dan beberapa jenis teori komunikasi komposit menurut para tukang. Buat Grameds yang kepingin mengetahui secara lebih benar-benar adapun teori lainnya bisa membaca persendian terkait dengan mengunjungi Gramedia.com. Untuk kondusif Grameds dalam menambah wawasan, Gramedia selalu meluangkan peruasan berkualitas dan original agar Grameds memiliki informasi #LebihDenganMembaca.

ePerpus adalah layanan taman pustaka digital kontemporer yang mengusung konsep B2B. Kami hadir untuk memudahkan kerumahtanggaan mengelola perpustakaan digital Anda. Klien B2B Perpustakaan digital kami meliputi sekolah, universitas, korporat, setakat tempat ibadah.”

logo eperpus

  • Custom log
  • Akal masuk ke ribuan buku dari penerbit berkualitas
  • Kemudahan internal mengakses dan mengontrol perpustakaan Sira
  • Tersedia dalam platform Android dan IOS
  • Tersaji fitur admin dashboard bakal melihat kenyataan analisis
  • Laporan statistik kamil
  • Aplikasi aman, praktis, dan efisien

Source: https://www.gramedia.com/literasi/teori-komunikasi-massa/

Posted by: gamadelic.com