Lokasi Taman Nasional Ujung Kulon

Cagar alam Ujung Kulon

IUCN Kategori II (Ujana Nasional)

Ujung Kulon National Park, 2022.jpg

Peta memperlihatkan letak Taman Nasional Ujung Kulon

Peta memperlihatkan letak Taman Nasional Ujung Kulon

TN Ujung Kulon

Tampilkan atlas Provinsi Banten

Peta memperlihatkan letak Taman Nasional Ujung Kulon

Peta memperlihatkan letak Taman Nasional Ujung Kulon

TN Ujung Kulon

Tampilkan peta Jawa

Peta memperlihatkan letak Taman Nasional Ujung Kulon

Peta memperlihatkan letak Taman Nasional Ujung Kulon

TN Ujung Kulon

Tampilkan peta Indonesia

Lokasi Taman Kebangsaan Ujung Kulon

Letak Jawa, Indonesia
Koordinat


6°44′48″S
105°20′1″E


 / 

6.74667°S 105.33361°E
 /
-6.74667; 105.33361




Koordinat:



6°44′48″S
105°20′1″E


 / 

6.74667°S 105.33361°E
 /
-6.74667; 105.33361




Luas 122.956 hektare (1229,56 km²)
Didirikan 1980
Pengunjung 12.000-an (masa 2022[1])
Pihak pengelola Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan
Situs web www.ujungkulon.org
Situs Warisan Dunia UNESCO
Kriteria Bendera: vii, x
Referensi 608
Pengukuhan 1991
(Sesi ke-15)

Ujana Kebangsaan Ujung Kulon
terletak di babak paling barat Pulau Jawa, Indonesia. Kawasan taman nasional ini pada mulanya meliputi wilayah Krakatau dan bilang pulau boncel di sekitarnya sebagaimana Pulau Handeuleum dan Pulau Peucang dan Pulau Panaitan. Kawasan ujana nasional ini mempunyai luas sekitar 122.956 Ha; (443 km² di antaranya ialah laut), yang dimulai semenjak Semenanjung Ujung Kulon sebatas dengan Samudra Hindia.

Ujung Kulon yaitu taman nasional tertua di Indonesia yang sudah lalu diresmikan bak salah satu Warisan Marcapada yang dilindungi oleh UNESCO pada hari 1991, karena wilayahnya mencakupi hutan lindung nan lampau luas. Sampai saat ini abnormal kian 50 sampai dengan 60 rino semangat di habitat ini.

Plong awalnya Ujung Kulon adalah negeri pertanaman pada beberapa masa sampai akhirnya hancur bertabur dan suntuk seluruh penduduknya ketika Ardi Krakatau meletus puas terlepas 27 Agustus 1883 nan kesudahannya mengubahnya kawasan ini kembali menjadi wana.

Kartu ikut ke Suaka alam ini dapat diperoleh di dinas Balairung Cagar alam di Labuan atau di pos Tamanjaya. Fasilitas penginapan terwalak di desa Tamanjaya, Pulau Handeuleum dan Pulau Peucang.

Buat meningkatkan kemampuan pengelolaan Taman Nasional Ujung Kulon sebagai Situs Pusaka Alam Bumi, UNESCO sudah lalu memasrahkan dukungan investasi dan pertolongan teknis.

Ki kenangan dan Gengsi Kawasan

[sunting
|
sunting sumber]

Negeri Ujung Kulon pertama kali dijelajahi oleh seorang pandai botani Jerman, F. Junghuhn, pada tahun 1846, cak bagi keperluan mengumpulkan tumbuhan tropis. Pada masa itu aset dunia tumbuhan dan fauna Ujung Kulon sudah tiba dikenal oleh para peneliti. Bahkan pelawatan ke Ujung Kulon ini sempat turut di n domestik jurnal ilimiah beberapa musim kemudian. Enggak banyak goresan akan halnya Ujung Kulon sampai meletusnya dolok Krakatau plong tahun 1883. Cuma kemudian kedahsyatan letusan Krakatau nan menghasilkan gelombang listrik Tsunami sekelas kurang lebih 15 meter, telah memporak-porandakan bukan hanya pemukiman warga di Ujung Kulon, semata-mata lagi menimpa dabat liar dan vegetasi nan suka-suka. Sungguhpun letusan Krakatau telah mengelus tulen kawasan Ujung Kulon, akan tetapi beberapa tahun kemudian diketahui bahwa ekosistem-vegetasi dan satwaliar di Ujung Kulon tumbuh baik dengan cepat.

Perkembangannya kemudian, beberapa areal berhutan ditetapkan sebagai kawasan yang dilindungi, secara kronologis.

Tahun 1921

[sunting
|
sunting sumber]

Beralaskan rekomendasi mulai sejak Perguruan tinggi The Netherlands Indies Society for The Protectin of Nature, Jazirah Ujung Kulon dan Pulau Panaitan ditetapkan oleh Pemerintah Hindia Belanda laksana Kawasan Suaka Kalimantang menerobos SK Pemerintah Hindia Belanda Nomor: 60 Tanggal 16 November 1921.

Tahun 1937

[sunting
|
sunting perigi]

Besluit Van Der Gouverneur – General Van Nederlandch – Indie dengan keputusan Nomor: 17 Tanggal 24 Juni 1937 menetapkan status provinsi Cagar alam tersebut kemudian diubah menjadi Distrik Suaka Margasatwa dengan memasukkan Pulau Peucang dan Pulau Panaitan.

Tahun 1958

[sunting
|
sunting sendang]

Berdasarkan SK Menteri Perkebunan Nomor: 48/Um/1958 Copot 17 April 1958 Daerah Ujung Kulon berubah status juga menjadi Daerah Suaka alam dengan memasukkan kawasan perairan laut selebar 500 meter mulai sejak takat air laut surut terendah.

Tahun 1967

[sunting
|
sunting sumber]

Melewati SK Nayaka Perladangan Nomor: 16/Kpts/Um/3/1967 Tanggal 16 Maret 1967 Kawasan Gunung Honje Daksina seluas 10.000 Ha yang bergandengan dengan fragmen Timur Tanjung Ujung Kulon ditetapkan menjadi Taman nasional Ujung Kulon.

Perian 1979

[sunting
|
sunting sendang]

Menerobos SK Nayaka Pertanaman Nomor: 39/Kpts/Um/1979 Tanggal 11 Januari 1979 Daerah Ardi Honje Lor seluas 9.498 Ha dimasukkan ke n domestik wilayah Cagar alam Ujung Kulon.

Tahun 1992

[sunting
|
sunting mata air]

Melalui Keputusan Menteri Kehutanan Nomor: 284/Kpts-II/1992 Sungkap 26 Februari 1992, Ujung Kulon ditunjuk misal Taman nasional Ujung Kulon dengan luas total 122.956 Ha terdiri terbit kawasan darat 78.619 Ha dan perairan 44.337 Ha.

Dalam hal penegasan perenggan-had rimba negara, perkembangan penataan batasnya yaitu sebagai berikut:

Musim 1980

[sunting
|
sunting sumber]

Dilaksanakan Manajemen Tenggat di Cagar Bendera Gunung Honje, Berita Program Tata Batas puas Sungkap 26 Maret 1980, dan disyahkan Sungkap 2 Februari 1982 oleh Menteri Pertanian.

Tahun 1995

[sunting
|
sunting mata air]

Dilaksanakan Rekonstruksi Batas Taman Kebangsaan Ujung Kulon wilayah G. Honje oleh Tubuh Planologi Kehutanan. Badan Planologi Kehutanan, Taman nasional Ujung Kulon bekerjasama dengan Pemerintah New Zealand melaksanakan pengisian sebanyak 6 ( enam ) yang terdiri berpunca 1 ( satu ) unit Rambu pijar, dan 5 (lima) unit pelampung seumpama senggat perairan laut.

Musim 1999

[sunting
|
sunting mata air]

Jasmani Planologi Kehutanan melaksanakan pemasangan patok suar kuning di Tj. Alang – alang dan pemancangan titik referensi di Tj. Sodong, Tj. Layar, Tj. Alang – alang, Tj. parat dan Tj. Cina. Badan Planologi Kehutanan melaksanakan pengukuran batas tunggul pantai Semenanjung Ujung Kulon. Sesuai SK Menteri Kehutanan dan Perkebunan Nomor: 758/Kpts-II/1999 Tanggal 23 September 1999 mematok Kawasan Perairan Taman nasional Ujung Kulon seluas 44.337 Ha ibarat Kewedanan Pelestarian Alam Perairan.

Musim 2004

[sunting
|
sunting mata air]

Balai Pemantapan Kawasan Alas ( BPKH ) Kewedanan XI Jawa – Madura melaksanakan Rekonstruksi Batas Taman nasional Ujung Kulon di daerah Gunung Honje.

Kawasan Taman Nasional Ujung Kulon laksana kawasan yang dilindungi berlandaskan Undang-undang No.5 tahun 1990 tentang Proteksi Sumberdaya Standard dan Undang-undang No.41 tahun 1999 tentang Kehutanan, sudah mendapat pengakuan sebagai kawasan yang penting dan dibanggakan secara kebangsaan dan jagat rat, antara lain:

Tahun 1992

[sunting
|
sunting perigi]

Komisi Peninggalan Dunia UNESCO menetapkan Taman Nasional Ujung Kulon umpama Natural World Heritage Site (Situs Warisan Umbul-umbul Dunia) dengan Sahifah Keputusan Nomor: SC/Gurih/5867.2.409 Tanggal 1 Februari 1992.

Umpama Provinsi Strategis Kebangsaan dari sudut keefektifan kelebihan dan daya dukung mileu usia (internal Statuta Pemerintah No. 26 tahun 2008 adapun Rencana Pengelolaan Ruang Wilayah Nasional).

Letak dan Luas

[sunting
|
sunting perigi]

Kewedanan Taman nasional Ujung Kulon secara administrative terletak di Kecamatan Sumur dan Kecamatan Cimanggu, Kabupaten Pandeglang, Banten. Secara geografis Taman nasional Ujung Kulon terletak antara (


06°52′17″S
105°02′32″E


 / 

6.87139°S 105.04222°E
 /
-6.87139; 105.04222


) dan (


06°30′43″S
105°37′37″E


 / 

6.51194°S 105.62694°E
 /
-6.51194; 105.62694


).

Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan No. 284/Kpts-II/1992 sungkap 26 Februari 1992 tentang Perubahan Faedah Taman nasional Ardi Honje, Cagar alam Pulau Panaitan, Persekot Alam Pulau Peucang, dan Cagar alam Ujung Kulon seluas 78.619 Ha dan Penunjukan perairan laut di sekitarnya seluas 44.337 Ha yang terletak di Kabupaten Daerah Tingkat II Pandeglang, Provinsi Dati I Jawa Barat menjadi Suaka alam dengan nama Ujana Kewarganegaraan Ujung Kulon maka luas daerah Suaka alam Ujung Kulon adalah 122.956 Ha.

Ekosistem dan diversifikasi ekosistem

[sunting
|
sunting sumber]

Kawasan Taman Nasional Ujung Kulon memiliki tiga tipe ekosistem yakni:

  • Ekosistem daratan/teresterial, terdiri bermula jenggala hujan angin tropika n baruh rendah yang terletak di area Gunung Honje, Semenanjung Ujung Kulon, Pulau Peucang dan Pulau Panaitan.
  • Ekosistem perairan laut
    terdiri dari terumbu karang dan padang walaupun yang terletak di wilayah perairan Semenanjung Ujung Kulon, Pulau Handeuleum, Pulau Peucang dan Pulau Panaitan.
  • Ekosistem pesisir pesisir
    terdiri bermula hutan pantai yang terdapat di selama pantai pantai dan hutan mangrove di penggalan timur laut Tanjung Ujung Kulon.

Ketiga ekosistem tersebut mempunyai hubungan saling ketergantungan dan menciptakan menjadikan dinamika proses ekologi yang suntuk obsesi di n domestik kawasan.

Spesies ekosistem

[sunting
|
sunting sumber]

Hutan pesisir

[sunting
|
sunting sendang]

Dimulai dengan formasi
sampar-caprae
yang merupakan vegetasi pioner terdapat di selama tepi pantai barat dan selatan. Di atas pasir erat dengan garis pasang tertinggi antara lain dijumpai
Ipomoea sampar-caprae
(katang-katang),
Spinifex littoreus
(suket kiara),
Desmodium umbellatum
(kanyere laut) dan
Sophora tomentosa
(tarum laut). Di sepanjang tepi laut daksina di atas bukit kersik halus menghadap laut terletak
Pandanus tectorius
(pandan duri) membentuk tegakan-tegakan kalis dan
Pandanus bidur
(pandan bidur) walaupun agak jarang.

Selanjutnya di salutan makin kerumahtanggaan ditemui
Lantana camara
(cente),
Hibiscus tiliaceus
(waru),
Thespesia populnea
(waru laut),
Tournefortia argentea
(babakoan). Makin turun ke internal ditemui
Drypetes sumatrana
(taritih),
Laportea stimulans
(pulus). Tepat di belakang bukit kersik halus yang datar dan lempem ditemui
Arenga obtusifolia
(langkap),
Corypha utan
(gebang) dan jenis palma lainnya. Terkadang tegakan pandan diganti oleh formasi
Barringtonia
karena tanahnya lebih lempem dan terlindung oleh kilangangin kincir.

Formasi
Barringtonia
di pantai daksina ditandai makanya adanya
Barringtonia asiatica
(butun),
Cerbera manghas
(bintaro),
Terminalia catappa
(ketapang),
Syzygium
spp. (kopo),
Hernandia peltata
(kampis cina),
Calophyllum inophyllum
(nyamplung),
Buchanania arborescens
(poh-pohan) dan
Pongamia pinnata
(malapari). Formasi ini kembali didapati di pantai utara, di atas pasir karang dalam jongkong memanjang sempit pecah tepi laut ke sisi dalam sejauh 5–15 m. Di tempat-tempat tertentu yang terbuka di bagian barat sosi di temui
Pemphis acidula
(cantigi laut) dan
Ardisia humilis
(lampeni).

Alas mangrove

[sunting
|
sunting sumber]

Jenis-jenis bakau yang paling umum terdapat yaitu antah-gabah (Lumnitzera racemosa), Api-api (Avicennia
spp.), Bakau-bakau (Rhizophora
spp.), bogem (Sonneratia alba) dan pedada (Bruguiera
spp.). Kadang-kadang terdapat
Nypa fruticans
dan paku laut (Acrostichum aureum) di hilir batang air payau. Hutan mangrove yang luas terwalak pada jalur yang luas selama sisi utara tanah lanjai meluas ke arah paksina sepanjang pantai sampai Sungai Cikalong dan Legon Lentah Pulau Panaitan. Di atas sebelah barat laut Pulau Handeuleum dan kedua pulau kecil di sisi daksina damping Pulau Handeuleum terwalak hutan pandau nipah yang tidak semacam itu luas, juga di estuari Cijungkulon dan Cigenter di pantai lor Ancol Ujung Kulon.

Wana paya air tawar

[sunting
|
sunting sumber]

Rimba ini dicirikan dengan diversifikasi-jenis lembang (Typha angustifolia), teki (Cyperus
spp.), walingi (Cyperus pilosus), dan lampeni (Ardisia humilis), yang kadang-kadang mewujudkan tegakan sejati. Tumbuhan yang terdapat di daerah ini antara lain berpokok familia Palmae misalnya
Salacca edulis
(salak) dan
Caryota mitis
(sayar). Hutan ini kebanyakan berbatasan dengan hutan hujan legok rendah. Hutan rawa musiman ini terdapat di bagian utara Semenanjung Ujung Kulon dekat dengan Ancol Ilalang, Nyiur, Jamang, dan batang air Cihandeuleum.

Pangan hujan angin tropika n baruh rendah

[sunting
|
sunting sumber]

Variasi hutan hujan ini membentangi hampir sebagian besar Ancol Ujung Kulon, Pulau Panaitan, Pulau Peucang dan Gunung Honje. Hutan hujan ini ditandai dengan banyaknya palma dari bermacam ragam spesies terutama
Arenga obtusifolia
(langkap) nan cinta dijumpai intern tegakan murni di daerah yang letaknya rendah. Keberagaman palem yang lain adalah
Oncosperma filamentosa
(nibung),
Arenga pinnata
(aren),
Caryota mitis
(sayar),
Areca catechu
(pinang),
Areca pumida
(bingbin),
Corypha gebanga
(gebang),
Licuala spinosa
(kaman),
Calamus
spp. dan
Daemonorops
spp. (rotan). Selain itu terletak spesies
Lagerstroemia benang sutra-reginae
(bungur),
Ficus
spp. (ara),
Diospyros macrophylla
(capuk calung),
Vitex pubescens
(laban),
Anthocephalus chinensis
(hanja) dan
Planchonia valida
(putat).

Di kewedanan yang relatif terbuka seperti di dataran tangga Telanca mempunyai cacat tumbuhan besar tetapi berdampingan oleh semak dan tumbuhan sekunder begitu juga
Achasma
spp. (tepus),
Nicolaia
spp. (honje),
Donax cannaeformis
(bangban), dan
Lantana camara
(cente) yang bercampur dengan berbagai macam diversifikasi rotan dan sesekali terdapat
Syzygium polyanthum
(salam) dan
Leea
spp. (sulangkar) serta bermacam-macam varietas liana misalnya
Cayratia geniculata
(areuy kibarela),
Ziziphus tupula
(areuy jinjing selerang),
Uncaria
sp. (areuy kolebahe) dan
Embelia javanica
(areuy kecembeng).

Dolok Payung mempunyai pangan primer yang baplang dan lebih mencirikan vegetasi rangkaian gunung, dengan pohon
Dillenia excelsa
(gerbang logo),
Pentace polyantha
(ki sigeung),
Vitex pubescens
(laban) dan lain-lain.

Padang suket

[sunting
|
sunting sumber]

Di dalam padang rumput sering ditemui beberapa spesies rumput, di antaranya
Cyperus pilosus,
Cyperus compactus,
Panicum repens,
Panicum colonum,
Andropogon
sp.,
Isachne meliacea,
Imperata cylindrica
(alang-alang) dan
Melastoma polyanthum
(harendong).

Flora dan Sato

[sunting
|
sunting sumber]

Flora

[sunting
|
sunting sumber]

Flora di Yojana Nasional Ujung Kulon membentuk berbagai formasi hutan, di mana formasi hutan ini dicirikan adanya dominasi oleh jenis/variasi tertentu. Ditinjau dari tipe hutan, dunia tumbuhan di negeri ini terdiri dari hutan tepi laut, jenggala hujan angin tropika dataran rendah, hutan hujan tropika pegunungan, hutan rawa air sia-sia, hutan mangrove dan padang suket. Formasi wana yang cukup hipotetis ini mengandung diversitas plasma nutfah serta spesies tumbuhan berharga dan susah yang adv amat tahapan. Bilang jenis pokok kayu diketahui langka dan di pulau jawa tetapi terdapat di TN Ujung Kulon antara lain:
Batryohora geniculata,
Cleidion spiciflorum,
Heritiera percoriacea, dan
Knema globularia. Banyak sekali lagi beraneka rupa tipe tanaman yang telah dimanfaatkan masyarakat baik lakukan kayu pertukangan, obat­-obatan, tanaman rias atau pangan. Jenis-spesies yang mutakadim dimanfaatkan tersebut antara enggak bayur (Pterospemum javanicum) dan berbagai rotan (Calamus sp.) laksana bahan pertukangan; kayu gaharu (Aquilaria malaccensis), Kusen cempaka (Michelia campaca) dan kayu jambe (Areca catechu) sebagai bahan pemohon-obatan; Anggrek (Dendrobium sp.) sebagai tanaman rias; tangkil (Gnetum gnemon) dan salak (Salacca edulis) bak sasaran pangan.

Alas rantau umumnya dicirikan oleh adanya jenis-variasi
nyamplung
(Calophyllum innophyllum),
butun
(Barringtonia asiatica),
Klampis Cina
(Hemandia peltata),
ketapang
(Terminalia catappa),
cingkil
(Pongamia pinnata) dan lain-lain. Formasi hutan pantai ini kebanyakan dikenal sebagai formasi barringtonia dengan spesies yang kurang beranekaragam dan
nyamplung
merupakan jenis yang lebih khas tipenya. Formasi ini terdapat sepanjang rantau Barat dan Timur Laut Jazirah Ujung Kulon, Pulau Peucang, sepanjang pesisir Utara dan teluk Kasuaris Pulau Panaitan. Umumnya formasi ini hidup di atas kersik halus karang dalam kolek sempit ki bertambah sejauh tepi laut dengan gempal 5 sampai 15 meter.

Sato

[sunting
|
sunting sumber]

Cagar alam Ujung Kulon memiliki majemuk variasi satwa ilegal baik berperilaku endemik maupun utama cak bagi dilindungi. Secara mahajana kawasan ini masih kreatif menampar proliferasi heterogen populasi hewan liar. Beberapa varietas hewan endemik penting dan yaitu macam langka yang sangat terbiasa dilindungi adalah Badak sumbu (Rhinoceros sondaicus), Owa Jawa (Hylobates moloch), Surili (Presbytis aigula) dan Ketek rimba (Cuon alpinus javanicus).

Jazirah Ujung Kulon bilamana ini merupakan habitat terpenting dari Badak Jawa, yang populasinya diperkirakan ada 50-60 ekor, serta merupakan satu-satunya wadah di dunia di mana secara alami Badak Jawa mampu berkembang biak pada dekade terakhir ini. Di taman nasional ini diperkirakan ada sekitar 30 jenis mamalia, yang terdiri dari hewan menyusui ungulata sebagaimana Badak, Banteng, Kijang, Rusa, Pelanduk, dan Babi hutan, mamalia predator seperti Macan Titik, Anjing Hutan, Harimau Dahan, Luwak dan Kucing Alas, binatang menyusui katai sebagaimana walang kopo, tando, landak, bajing kapling, kalong, bintarung, anjing air, tikus, trenggiling dan jelarang. Di antaraPrimata terdapat dua jenis endemik, yaitu Owa dan Surili. Semenjana macam Primata enggak adalah Lutung (Presbytis cristata), Kukang (Nycticebus coucang) dan Kera ekor panjang (Macaca fascicularis) memiliki populasi yang cukup baik dan tersebar di sebagian kawasan.

Banteng (Pembesar javanicus) merupakan binatang berkuku terbesar dan terbanyak jumlah populasinya (± 500 ekor). Satwa ini hanya terdapat di Tanjung Ujung Kulon dan Gunung Honje, serta tidak dijumpai di Pulau Panaitan. Menjangan (Cervus timorensis) di Tanjung Ujung Kulon dan Giri Honje terletak dalam jumlah dan penyerantaan yang sangat minus,dan di Pulau Peucang tedapat privat jumlah yang dulu banyak, dan di Pulau Panaitan menunjukan perkembangan nan semakin banyak. Babi hutan (Sus scrofa), muncak (Muntiacus muntjak) dan pelanduk (Tragulus javanicus) relatif umum terwalak di seluruh kawasan, tetapi ciling (Sus verrucosus) namun di jumpai di Semenanjung Ujung Kulon dan Gunung Honje.

Jumlah Fauna

  • Terdapat 35 varietas hewan menyusui
  • Terdapat 5 jenis Primata
  • Terdapat 240 spesies Butuh
  • Terdapat 59 jenis Reptilia
  • Terdapat 22 jenis Amphibia
  • Terwalak 72 diversifikasi Insecta
  • Terdapat 142 diversifikasi Pisces
  • Terletak 33 varietas Terumbu Karang

Pulau-Pulau di Ujana Nasional Ujung Kulon

[sunting
|
sunting sumber]

Di Taman Nasional Ujung Kulon kembali terdapat bineka tipe Pulau nan tepat cak bagi Konservasi dan pula Tamasya, di antaranya ;

Pulau Panaitan

[sunting
|
sunting sumber]

Pulau Panaitan adalah sebuah pulau yang terwalak minimum barat di Ujung Semenanjung Kewedanan Suaka alam Ujung Kulon yang dipisahkan makanya sebuah selat sempit. Pulau Panaitan ialah pulau yang tidak kalah menariknya dengan Pulau Peucang. Pulau dengan luas ± 17.000 Ha ini memiliki berbagai potensi bahan ekopariwisata yang sangat menghela bakal dikunjungi.

Perbukitan Pulau Panaitan terasuh oleh hutan nan masih suci dengan kombinasi vegetasi Rimba Mangrove, Hutan Rantau dan Alas Hujan ceduk cacat. Keadaan hutannya yang masih ikhlas ini dihuni oleh berbagai spesies satwa liar sebagaimana rusa, kancil, nangui hutan, ketek ekor hierarki, buaya, cecak tanah, ular phyton, dan rupa-rupa pelir.

Di Pulau Panaitan ini pula terdapat Arca Ganesha beserta benda-benda peninggalan sejarah lainnya yang mempunyai nilai kuno sangat jenjang dan merupakan pusaka zaman hindu kuno, tepatnya di Puncak Bukit Raksa. Kewedanan tepi laut berbatu dan berpasir kudrati dengan terumbu karang yang mulia di dalamnya silam baik buat kegiatan wisata liwa bahari seprti menyelam dan selam permukaan. Riak ombak di lautnya pas tinggi sehingga seia untuk berselancar.

Lega bilang bagian kawasan daratan pulau ini telah cawis jalan setapak untuk mengakomodasikan kegiatan tersebut di atas, cuma belum dilengkapi dengan sarana/fasilitas pendukung pelancongan lainnya terutama layanan akomodasi yang memadai untuk wisatawan.

Pulau Handeleum

[sunting
|
sunting sumber]

Pulau Handeuleum terdapat di antara gugusan pulau-pulau kecil yang berada di ujung timur laut rantau Semenanjung Ujung Kulon. Luas Pulau Handeuleum ± 220 Ha. Di Pulau ini terwalak satwa kijang (Menjangan timorensis), dan i beludak phyton. Pulau ini dikelilingi maka itu hutan mangrove.

Pesona nan bisa dinikmati di Pulau ini adalah daerah Cigenter, Padang Penggembalaan Cigenter, dan Cikabeumbeum yang jika ditempuh bisa menghabiskan waktu sepanjang 2 (dua) periode. Cak bagi melewati daerah tersebut diperlukan perahu/kano karena akan menyusuri batang air.

Kejadian menarik lainnya yang bisa dilakukan di pulau ini yakni bersampan/canoing menyusuri Sungai Cigenter sambil melihat variasi wana hujan abu tropis selama sungai. Pada episode hulu sungai terwalak rute jalan setapak yang melintasi tumbuhan bamboo menuju cegar yang bertingkat.

Pulau Peucang

[sunting
|
sunting sumber]

Pulau Peucang merupakan lokasi nan minimum ramai dikunjungi oleh para pengunjung baik dalam ataupun luar distrik. Pulau dengan luas kawasan ± 450 ha ini dilengkapi dengan sarana dan prasarana serta berbagai objek wisata bendera yang boleh dikunjungi oleh Wisatawan. Fasilitas nan cak semau di Pulau Peucang antara lain Internat, Pusat Proklamasi, Dermaga, dan enggak sebagainya.

Pesisir di Pulau Peucang n kepunyaan karakteristik nan khas yakni pasir bersih dan hamparan yang luas. Objek wisata lingkungan yang dapat dinikmati di pulau ini antara enggak Tracking ke Karang Copong, berenang, islam permukaan dan Menyelam. Wildlife viewing bisa dinikmati dengan menyeberang ke Padang Penggembalaan Cidaon yang memakan masa ± 15 menit dengan menggunakan boat kecil yang berkapasitas 6 (heksa-) basyar. Di Cidaon ini kita dapat menuding atraksi satwa sebagaimana Banteng, Merak, Rusa, dan Babi hutan. Selain itu kita sekali lagi dapat melihat situs memori peninggalan kolonial Belanda berwujud Mercusuar Tanjung Layar dan mantan pembangunan Pelabuhan di Tanjung Layar dan Cibom.

Jazirah Ujung Kulon

[sunting
|
sunting sumber]

Pantai Cimayang Ujung Kulon

Wilayah Semenanjung Ujung Kulon merupakan habitat Badak jawa (Rhinoceros sondaicus), sehingga n domestik tata pelancongan umbul-umbul bikin lokasi ini suntuk terbatas sekali. Hal ini dikarenakan seharusnya tidak mengganggu habitat Badak Jawa. Luas provinsi Jazirah Ujung Kulon ini ± 38.000 Ha. Kegiatan ekoturisme yang dapat di lakukan di lokasi ini antara bukan Trekking, Berkemah dan Memaki Hewan Gelap.

Di Tanjung Ujung Kulon terdapat jalur konstan yang boleh digunakan lakukan Trekking. Fasilitas lainnya adalah Pos Jaga yang terdapat dibeberapa titik sebagai halnya Karang Ranjang, Cibunar, dan Cidaon. Selain trekking, kegiatan wisata lainnya yang dapat dilakukan merupakan mengamati kawanan satwa di padang penggembalaan Cidaon dan Cigenter, berkemah di Semenanjung Layar, dan wisata budaya di Goa Sang Hyang Abang.

Gunung Honje

[sunting
|
sunting sumber]

Gunung honje merupakan riuk satu wilayah Taman Nasional Ujung Kulon. Luas wilayah Gunung Honje ± 19.500 Ha dan disekitarnya dikelilingi makanya 19 (sembilan belas) desa penyangga baik yang berbatasan sederum maupun tidak langsung. Pelecok satu desa yang menjadi gerbang gerbang masuk ke Taman Nasional Ujung Kulon adalah Desa Wisata Tamanjaya.

Bulan-bulanan pariwisata menarik yang terdapat diseputar Tamanjaya antara lain Kampung Penangkap ikan Cibanua, Curug Paniis, sumber air merangsang Cibiuk, dan memperhatikan Owa Jawa di Curug Cikacang. Fasilitas akomodasi yang terdapat di Tamanjaya antara lain Tumpangan Sundajaya, penyewaan kano/kapal, perkumpulan pemandu wisata/guide local, dan pusat pembuatan souvenir patung warak.[2]

Kematian Badak Bercula Satu

[sunting
|
sunting sumber]

Seekor rino kosen ditemukan oleh Tim Inventarisasi Badak jawa (Sdr. Baehaki dan tiga personilnya) di sekitar areal Kerambil (E: 060 40’ 34,1” – S: 1050 20’ 22,3”) – Taman nasional Ujung Kulon, plong hari Kamis, 20 Mei 2022, pukul 14.40 WIB. Lokasi kematian badak dikenal sebagai jalur penyeberangan/pergerakan badak, dan individu yang senyap siluman di bawah pohon. Dengan kondisi yang utuh tulang belulang dan cula badaknya, anak adam badak itu tersebut telah berada di tempat cukup lama (seputar satu bulan). Data dan informasi tanah lapang tak akan halnya rino yang tenang tersebut, yaitu:

  • Posisi mortalitas berbaring pada sisi kanan.
  • Cula, lembaga dan gigi-gigi kondisinya masih baik.
  • Tulang bawak yang masih utuh diselimuti ulat (ulat) pada cula dan kuku-cakar kaki.
  • Kondisi gigi seri dan gigi belakang memadai baik (masih tajam)
  • Panjang sumsum dari ujung penasihat ke pangkal ekor adalah 270 cm dengan panjang ekor 55 cm.
  • Kerangka badak berada dalam kondisi 90% lengkap dengan sejumlah episode yang enggak ditemukan berupa: beberapa tulang digit (jari), sternum (tulang dada), 1 (suatu) gigi seri kecil/melur, dan ujung sumsum ekor.
  • Saat ditemukan batok kepala berada di dekat kuku kaki depan, dan cakar kaki belakang terbenam di dalam tanah sedalam tekor lebih 5–7 cm (makin intern dibanding kuku kaki depan).

Berdasarkan posisi kematian warak serta utuhnya kerangka dan masih adanya tanduk, mortalitas badak nyali dewasa ini dipastikan bukan karena usia tua dan bukan karena perburan liar. Penyebab-penyebab lain yang masih akan dianalisis seperti:

  • Verifikasi gigi herbivora (kondisi dan usia) oleh sinse hewan
  • Amatan tanah di sekitar bagan badak yang meliputi: logam berat (Hg) dan bahan toksik (Sianida), mikroorganisme (E. Coli, Salmonella), Trypanosoma, Anthraks.

Referensi

[sunting
|
sunting sumur]


  1. ^


    Indriani, Ririn (7 Juli 2022). “Kunjungan Wisatawan ke Ujung Kulon Terus Meningkat”.
    Suara minor.com. Suara.com. Diakses tanggal
    22 April
    2022
    .





  2. ^


    Post, The Jakarta. “Ujung Kulon: Memories of paradise”.
    The Jakarta Post
    . Diakses rontok
    2016-10-10
    .




Teks terkait

[sunting
|
sunting perigi]

  • A. Hoogerwerf. 1970.
    Udjung Kulon, the land of the last Javan rhinoceros. With local and general data on the most important faunal species and their preservation in Indonesia. Leiden:E.J. Brill
  • H. Kurniati. 2002. “Frogs and toads of Ujung Kulon, Ardi Halimun and Gede-Pangrango National Park”.
    Berita Ilmu hayat, Vol.
    6(1): 75-84. (April 2002, Edisi Partikular “Biodiversitas Ujana Nasional Gunung Halimun (II)”)

Pranala luar

[sunting
|
sunting sumber]

  • (Indonesia)
    Situs Resmi Taman Nasional Ujung Kulon
  • (Indonesia)
    Situs Resmi TN Ujung Kulon lama Diarsipkan 2022-09-22 di Wayback Machine.
  • (Indonesia)
    Taman nasional Ujung Kulon di Departemen Kehutanan Diarsipkan 2012-06-20 di Wayback Machine.
  • (Indonesia)
    Suaka alam Ujung Kulon di WWF Indonesia Diarsipkan 2012-06-11 di Wayback Machine.



Source: https://id.wikipedia.org/wiki/Taman_Nasional_Ujung_Kulon

Posted by: gamadelic.com