Kitab Suci Agama Hindu Adalah

ahimsa1
[ilustrasi]

Konten kekerasan intern Kitab Lugu enggak namun ki aib tiga agama yang dikenal dengan “agama-agama Ibrahim” (Yahudi, Kristen dan Islam), yang lahir berpokok area Mediterranean. Agama-agama yang lahir berasal India, sebagaimana Hindu, Budha, Sikh dan Jain, pula menghadapi kelainan serupa. Kitab Kudrati agama Hindu, misalnya, banyak menggambarkan babak keterlibatan Dewa-Batara dalam kekerasan.

Bahkan, Bhagavad Gita, salah satu Kitab Suci Hindu yang gegares dikaitkan dengan petunjuk nir-kekerasan, juga digunakan lakukan menjustifikasi tindak kekerasan. Kalau Sira menyekar ke taman makam Mahatma Gandhi di Delhi, India, Anda akan mendengar ayat-ayat Bhagavad Gita dilantunkan oleh
tour guides. Ayat-ayat yang memberi instruksi tentang bagaimana mengaras kedamaian jiwa dan pengendalian diri itu digunakan makanya Gandhi umpama bawah argumen bagi perbantahan nir-kekerasan, nan dikenal dengan ahimsa.

Namun demikian, pada 1992 ayat-ayat Bhagavad Gita pun dikumandangkan oleh para demonstran yang memprotes sebuah sajadah yang beberapa abad lalu dibangun di atas Jaring-jaring Rama, di sebelah utara daerah tingkat Ayodhya. Seperti mana dicatat oleh Anantanand Rambachan (2003), pasca- membacakan ayat-ayat Bhagavad Gita, para pengunjuk rasa itu berteriak, “Jika Gandhi timbrung rumah pasung, maka kami kembali.” Satu minggu kemudian, protes kembali pecah dan barikade polisi berakibat diterobos, sehingga mengakitkan penghancuran masjid. Tragedi itu serentak memicu kericuhan di seantera negara India.

Bagaimana mungkin wacana Hindu dipahami dan digunakan cak bagi dua keadaan yang tertolak bokong? Betul, Bhagavad Gita memang kerap diasosiasikan dengan ajaran nir-kekerasan. Berpunca kitab itu Gandhi mempraktikkan
ahimsa. Tapi, pernah terjadi di zaman penjajahan di mana seorang aktivis ditangkap maka dari itu penguasa Inggris karena ditemukan mengapalkan dua kitab Bhagavad Gita. Yang sesungguhnya ditakuti oleh kolonialis Inggris, kendati Gita dikaitkan dengan wahyu nir-kekerasan, bahwa
setting
Kitab Kudrati tersebut ialah peperangan.

Dari Rigveda ke Bhagavad Gita

Basyar-makhluk Hindu bukan belaka mengakui kesucian suatu kitab. Salah satu karakteristik semenjak agama Hindu adalah keanekaragaman yang inheren di dalamnya. Seperti mana umum diketahui, nama “Hindu” bagaikan sebutan sebuah agama nan mencengap kemajemukan keagamaan di India itu hijau muncul pada abad ke-18, dan dipopulerkan maka itu penjajah Inggris. Tentu saja, istilah “Hindu” sudah lalu dikenal sebelumnya.

Menarik dicatat, istilah tersebut tidak berasal dari bahasa Sansekerta, melainkan Persia kuno. Adalah, Sind yang merujuk sreg kali besar Indus atau Sindhu. Sebuah teori menamakan, nan mempopulerkan perkenalan awal “Hind” buat tanah India adalah penguasa Muslim, dan kemudian dilanjutkan makanya penjajah Inggris. Istilah agama Hindu itu dipopulerkan oleh Inggris kerjakan mengasingkan pembantu anak adam-orang India dari Selam dan Kristen.

Demikian pula dengan Kitab Suci agama Hindu. Setidaknya, kaum Hindu mengimani tiga Kitab Tulen, adalah Veda, Upanishads, dan Bhagavad Gita, yang masin lidah secara luas. Bermula ketiganya itu, Veda dianggap paling awal. Dalam Rigveda, misalnya, terwalak kitab Purusa Sukta yang menayangkan asal hal manusia, yang seringkali dikomparasikan dengan kitab kejadian dalam Kitab Putih agama Ibrani dan Kristen. Dari ucapan Purusa lahir suku bangsa brahman (pemimpin agama), terbit tangannya muncul
ksatriya
(pangeran-pejuang), dari pahanya tercipta
waisya
(kaum pedagang) dan dari kakinya adalah
sudra
(kasta terbawah).

Gandhi1Tugas dan tanggung jawab setiap kelompok itu dijelaskan privat Bhagavad Gita.
Ksatriya, misalnya, bertugas menjaga keutuhan masyarakat. Mereka diwajibkan membela tatanan sosial dan seremoni dengan menggunakan kekerasan, bila perlu. Gambaran
ksatriya
sebagai pejuang dalam berbagai pertempuran patut dominan n domestik literatur Hindu, nan dipersiapkan untuk berperang demi mempertahankan
dharma. Maka, tidak mengherankan kalau kaum Hindu militan sekarang mengidealisasikan
ksatriya.

Pujian-penghargaan tentang ke-satria-an boleh ditemukan dalam
Ramayana dan Mahabharata, dua kitab yang adv amat populer dalam tradisi Hindu. Perang Mahabhrata yang diceritakan privat Bhagavad Gita mengajarkan bahwa kekerasan bisa dibenarkan sebagai kaidah mengendalikan kelainan, jika metode lain bukan berhasil.

Perlu dicatat, Bhagavad Gita diyakini unjuk bermula sebuah medan perang. Karena itu, penangkisan bukanlah sesuatu yang harus dihindari. Bahkan, untuk
ksatriya, berkujut dalam perlagaan merupakan tugas keimanan. Kelihatannya itu sebabnya penjajah Inggris menjebloskan seorang aktivis yang mengirimkan kitab itu ke kerumahtanggaan pengasingan. Internal Bhagavad Gita, perang Mahabhrata disebut “dharma yuddha”. Yakni, perang yang dilakukan demi membela keadilan dan kebenaran, serta cak bagi menciptakan keamanan dan kesejahteraan bagi masyarakat. Tidak runyam bagi membandingkan konsep
dharma yuddha
ini dengan
jihad
(Islam) alias
just war
(Kristen).

Ahimsa dan Militansi Hindu

Penjelasan di atas tidak dimaksudkan lakukan mengatakan bahwa
ahimsa
tidak punya medan privat Kitab Suci agama Hindu. Lamun para
ksatriya
berkewajiban atas keamanan dan keselataman masyarakat, bila mesti, menggunakan kekerasan, tapi gambaran masyarakat yang tenteram dikaitkan dengan
ksatriya
yang mempraktikkan ahimsa dalam hidupnya koteng.

Cerita Ramayana yang melibatkan Rama, Sinta dan Hanuman memperlihatkan spirit penolakan atas kekerasan. Ketika Rawana takluk, Hanuman bertujuan membalaskan kecemburuan Sinta, permaisuri Rama, dengan membunuh cewek yang telah menahannya. Tapi, Sinta taajul melarang Hanuman dengan bertanya, “Adakah bani adam di manjapada yang tidak sangkutan berbuat pelecok?” Ia menjawab sendiri, “Jiwa yang mulia harus menyayangi semua – baik nan berbuat dosa atau alim.”

Memang, sejumlah sarjana mencurigakan bahwa sikap Sinta itu mengungkapkan jalan mulus bagi praktik
ahimsa. Pertama, “Spirit nan mulia menganakemaskan semua” lain bermanfaat bahwa kekerasan kadang kala tak dibolehkan. Konteks pernyataan Sinta itu ialah detik lawan mutakadim tak berkutik, bukan tersapu penggunaan kekerasan untuk melawan agresi, misalnya.

Kedua, kenyataannya, peperangan demi penampikan terbantah diizinkan dan malar-malar didorong dalam Kitab Putih agama Hindu.

Kita tak mesti terlibat n domestik perdebatan itu. Copot dari kemajemukan penglihatan mengenai kekerasan, agama Hindu mengajarkan kedamaian sebagai tujuan penutup atma. Kitab-Kitab Suci Hindu bersepakat bahwa tujuan akhir kehidupan ialah
moksya
ataupun
mukti, dua istilah yang boleh diterjemahkan seumpama “pembebasan” alias “pencerahan”. Bila seorang telah terbebas dari beban semangat sosial dan sebaik-baiknya mengabdikan diri plong pencapaian
moksya, maka moga engkau menjalankan misi nir-kekerasan.

Pertanyaan yang sederhana: Bagaimana dengan kaum Hindu militan? Karuan saja, sumber-sendang dan conton-sontoh internal Kitab Suci mereka memberikan inspirasi, cuma ideologi militansi lebih dibentuk oleh konteks-konteks modern.

Identitas keagamaan dan komunalisme yang kian istimewa, hingga takat tertentu, unjuk sebagai respons terhadap kolonialisme. Memang benar, gerakan-propaganda militan seperti Arya Samaj merintis reformasi Hindu dengan merujuk pada Veda. Tapi, persuasi Arya Samaj sendiri unjuk dalam konteks kolonialisme. Militansi Hindu umumnya tidak bersifat skripturalis dan lain menekankan tujuan lepas sebagaimana disebutkan dalam Kitab Suci.

Riuk satu penyebabnya yaitu karena mereka meyakini sejumlah Kitab Suci, enggak suatu. Sebagaimana disebutkan di awal, etiket “Hindu” sendiri bersifat inklusif karena mencakup plural tradisi domestik di India, termasuk dalam kejadian doktrin dan ibadah. Karena itu, keliru menyapa militansi Hindu laksana fundamentalisme, karena agama Hindu tidak mengenal hal-peristiwa “fundamental” yang normal menjadi ciri distingtif agama tertentu.

Avatar

Mun’im Sirry

Assistant Professor di Fakultas Teologi Universitas Notre Dame, USA, Owner KEPITING++. Beberapa karyanya: “Selam Revisionis: Kontestasi Agama Zaman Radikal” (Suka Press, 2022), “Polemik Kitab Suci: Kata tambahan Reformis atas Kritik Al-Quran terhadap Agama Lain” (Gramedia, 2022), “Kontroversi Islam Awal: Antara Mazhab Tradisionalis dan Revisionis” (Mizan, 2022), dan “Scriptural Polemics: The Qur’an and Other Religions” (Oxford University Press, 2022).

Source: https://geotimes.id/kolom/agama/hindu-ahimsa-dan-kekerasan-kitab-suci-munim-sirry/

Posted by: gamadelic.com