Ketiduran Sebentar Apakah Membatalkan Wudhu

Rutifah
(2011)
KONDISI TIDUR Nan MEMBATALKAN WUDHU’ (STUDY KOMPERATIF ANTARA SYAFI’I DAN ABU HANIFAH).
Skripsi thesis, Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau.

Abstract

Skripsi ini berjudul : KONDISI TIDUR Nan MEMBATALKAN
WUDHU’ ( Studi KOMFERATIF ANTARA Padri AL- SYAFI’I DAN
Padri ABU HANIFAH ). Yang dimaksud dengan judul ini adalah bagaimana
pendapat Imam al-Syafi’I dan Imam Abu Hanifah tentang kondisi tidur yang
membatalkan wudhu’.
Akan halnya latar pinggul penulis menyanggang judul ini adalah karena
katib mengaram bahwa privat pembahasan akan halnya kondisi tidur yang
membatalkan wudhu’ masing-masing ada perbedaan dan persamaan. Pendapat
Imam al-Syafi’i yang menjelaskan bahwa kondisi tidur yang membatalkan
wudhu’ adalah selain dari kondisi tidur dengan duduk ditempat, sedangkan Pendeta
Abu Hanifah menjelaskan bahwa kondisi tidur yang membatalkan wudhu’ adalah
dengan cara rebahan selain semenjak berbaring maka tak membatalkan wudhu’.
Perbedaan antara Imam al-Syafri’i dan Imam Abu Hanifah merupakan disebabkan
eksploitasi dalil masing-masing. Padri al-Syafi’i berpendapat kondisi tidur yang
membatalkan wudhu’ selain berpangkal duduk ditempat berdasarkan kaidah yang
menempelkan dubur dilantai mungil peluang keluarnya hadats, sedangkan
Pater Abu Hanifah berpendapat berdasarkan dalil hadits yang diriwayatkan at
tirmidzi bahwasanya tidur yang membatalkan wudhu’ hanyalah tidur dengan
posisi berbaring, dengan alasan tidur dengan posisi berbaring terasa lebih rileks
karena mengendurnya otot-urat sendisendi.
Secara masyarakat penyelidikan ini bermaksud cak bagi mengetahui konsep Pastor al
Syafi’i dan Imam Serdak Hanifah akan halnya kondisi tidur yang membatalkan wudhu’
dan bikin mengetahui secara kian rinci dan mendalam bagaimana pendapat
sendirisendiri Imam serta menela’ah faktor – faktor nan menyebabkan
perbedaan pendapat.
Penelitian ini berbentuk Study Kepustakaan ( Library Reseach ) yakni
dengan menjumut data primer semenjak karangan begitu juga al-Umm dan Al-Mabsuth
dan membaca serta menela’ah literature-literatur lain sebagai data sekunder yang
berhubungannya dengan penajaman ini dan dengan metode penulisan induktik,
deduktif dan komferatif.
Setelah melakukan pembahasan pencatat berkesimpulan bahwa sebab
sebab terjadinya pendapat yaitu karena dalil yang digunakan masing-masing
Imam serta metode istimbath yang digunakan. Menurut cermat penulis kondisi
tidur yang membatalkan wudhu’ yaitu tidur yang pulas yang menyebabkan
hilangnya kesadaran, tak mampu mendengar suara , tidak merasakan kalau
sesuatu jatuh dari tangannya maupun jika terserah air liur keluar dari mulutnya dan tidak
lain, ialah tidur yang membatalkan membatalkan wudhu’.

Item Type: Thesis (Skripsi)
Subjects: 200 Agama > 290 Agama Selain Kristen > 297 Selam > 297.8 Sekte-sekte dalam Islam
Divisions: Fakultas Syariah dan Hukum > Neraca Mazhab dan Hukum
Depositing User:
Mutiara Jannati
Date Deposited: 06 Jan 2022 02:48
Last Modified: 06 Jan 2022 02:48
URI: http://repository.uin-suska.ac.id/id/eprint/324

Actions (login required)

View Item View Item

Source: https://repository.uin-suska.ac.id/324/

Posted by: gamadelic.com