Kerajaan Tarumanegara Berkembang Di Daerah

Kata sandang ini latar dari seri

Album Indonesia
Sejarah Indonesia .png
Tatap pun:

Garis hari memori Indonesia

Sejarah Nusantara

Prasejarah
Imperium Hindu-Buddha
Kutai (abad ke-4)
Tarumanagara
(358–669)
Kalingga (abad ke-6 mencecah ke-7)
Sriwijaya (abad ke-7 mengaras ke-13)
Sailendra (abad ke-8 mengaras ke-9)
Imperium Delik bangas (752–1006)
Kerajaan Kahuripan (1006–1045)
Kerajaan Sunda (932–1579)
Kediri (1045–1221)
Dharmasraya (abad ke-12 mengaras ke-14)
Singhasari (1222–1292)
Majapahit (1293–1500)
Malayapura (abad ke-14 mencapai ke-15)
Imperium Islam
Penyebaran Islam (1200-1600)
Sultanat Samudera Pasai (1267-1521)
Kesultanan Ternate (1257–kini)
Kerajaan Pagaruyung (1500-1825)
Kesultanan Malaka (1400–1511)
Kerajaan Inderapura (1500-1792)
Kesultanan Demak (1475–1548)
Kesultanan Aceh (1496–1903)
Kesultanan Banten (1527–1813)
Kesultanan Cirebon (1552 – 1677)
Sultanat Mataram (1588—1681)
Sultanat Siak (1723-1945)
Kekaisaran Masehi
Kekaisaran Larantuka (1600-1904)
Kolonialisme bangsa Eropa
Portugis (1512–1850)
VOC (1602-1800)
Belanda (1800–1942)
Kemunculan Indonesia
Kebangkitan Nasional (1899-1942)
Pendudukan Jepang (1942–1945)
Peredaran kewarganegaraan (1945–1950)
Indonesia Merdeka
Orde Lama (1950–1959)
Demokrasi Terpimpin (1959–1965)
Masa Transisi (1965–1966)
Orde Baru (1966–1998)
Era Restorasi (1998–kini)

Epigraf Tugu di Museum Kebangsaan

Tarumanagara
maupun
Kekaisaran Taruma
adalah suatu kekaisaran yang asosiasi berkuasa di wilayah barat pulau Jawa puas masa zaman ke-4 hingga hari zaman ke-7 M. Taruma ialah salah satu kerajaan tertua di Nusantara yang menghindari catatan sejarah. Kerumahtanggaan catatan sejarah dan peninggalan artefak di sekeliling lokasi kerajaan, tertentang bahwa pada saat itu Kerajaan Taruma adalah imperium Hindu beraliran Wisnu.

Daftar isi

  • 1
    Etimologi dan Nama tempat
  • 2
    Sendang Sejarah

    • 2.1
      Prasasti nan ditemukan

      • 2.1.1
        Batu bertulis Ramal Ambang
      • 2.1.2
        Prasasti Ciaruteun
      • 2.1.3
        Batu bertulis Jejak kaki Gajah
      • 2.1.4
        Prasasti Jambu
    • 2.2
      Mata air berita dari luar negeri
    • 2.3
      Kepurbakalaan Tahun Tarumanagara
    • 2.4
      Naskah Wangsakerta

      • 2.4.1
        Raja-raja Tarumanagara menurut Naskah Wangsakerta
  • 3
    Lihat pula
  • 4
    Garitan Kaki
  • 5
    Rujukan
  • 6
    Pustaka selanjutnya
  • 7
    Garis periode kerajaan-imperium di Jawa Barat/Banten

Etimologi dan Toponimi

Kata tarumanagara pecah dari kata taruma dan nagara. Nagara faedahnya kerajaan atau negara sementara itu taruma bermula dari perkenalan awal dawat nan adalah stempel kali besar yang membelah Jawa Barat adalah Citarum. Puas muara Citarum ditemukan percandian yang luas yakni Percandian Batujaya dan Percandian Cibuaya nan diduga adalah kebudayaan peninggalan Kerajaan Taruma.
[1]
[2]

Mata air Sejarah

Bila menilik berasal catatan memori maupun prasasti nan moralistis, bukan bermoral penjelasan maupun goresan nan pasti mengenai siapakah nan pertama kalinya mendirikan kekaisaran Tarumanegara. Sinuhun yang kawin berkuasa dan sangat tersohor internal coretan memori ialah Purnawarman. Pada waktu 417 sira mensyariatkan penggalian Sungai Gomati dan Candrabaga (Kali Bekasi) sepanjang 6112 lembing (sekitar 11 km). Segeh pengkajian, sang prabu mengadakan selamatan dengan menyedekahkan 1.000 ekor sapi kepada kaum brahmana.

Bukti keberadaan Imperium Taruma dikenal dengan tujuh buah batu bertulis bisikan yang ditemukan. Panca di Bogor, satu di Jakarta dan satu di Lebak Banten. Dari prasasti-prasasti ini dikenal bahwa kekaisaran dipimpin oleh Rajadirajaguru Jayasingawarman pada periode 358 M dan ia memerintah mencapai perian 382 M. Makam Rajadirajaguru Jayasingawarman bermoral di sekitar bengawan Gomati (negeri Bekasi). Kerajaan Tarumanegara ialah kelangsungan dari Kerajaan Salakanagara.

Batu bersurat nan ditemukan

  1. Prasasti Kebon Akta, dibuat sekitar 400 M (H Kern 1917), ditemukan di perkebunan kopi milik Jonathan Rig, Ciampea, Bogor
  2. Batu bersurat Tugu, ditemukan di Kampung Batutumbu, Desa Tugu, Kecamatan Tarumajaya, Kabupaten Bekasi, saat ini disimpan di museum di Jakarta. Batu bersurat tersebut isinya menerangkan pengkhususan Sungai Candrabaga makanya Rajadirajaguru dan studi Bengawan Gomati sepanjang 6112 pendahan maupun 12km oleh Purnawarman pada waktu ke-22 musim pemerintahannya.Penggalian batang air tersebut merupakan gagasan kerjakan menghindari gangguan marcapada maujud air bah yang sering terjadi sreg masa pemerintahan Purnawarman, dan kesuntukan yang terjadi pada perian kemarau.
  3. Prasasti Cidanghiyang atau Prasasti Munjul, ditemukan di peredaran Bengawan Cidanghiang yang mengalir di Desa Lebak, Kecamatan Munjul, Kabupaten Pandeglang, Banten, sakti pujian kepada Raja Purnawarman.
  4. Prasasti Ciaruteun, Ciampea, Bogor
  5. Batu bersurat Muara Cianten, Ciampea, Bogor
  6. Prasasti Jambu, Nanggung, Bogor
  7. Prasasti Pasir Awi, Citeureup, Bogor


Petak kancah prasasti itu ditemukan nyata bukit rendah berpermukaan datar dan diapit tiga kunarpa sungai: Cisadane, Cianten dan Ciaruteun. Mencapai masa zaman ke-19, arena itu masih dilaporkan dengan keunggulan Pasir Muara. Silam tersurat bidang lahan swasta Ciampea. Waktu ini tercantum wilayah Kecamatan Cibungbulang.

Kampung Kuala tempat prasasti Ciaruteun dan Jejak kaki Gajah ditemukan, dahulu yaitu suatu “kota pelabuhan sungai” yang bandarnya terwalak di tepi pertemuan Cisadane dengan Cianten. Hingga ke masa zaman ke-19 jalur batang air itu masih digunakan buat angkutan hasil perkebunan kopi. Masa ini masih digunakan oleh petualang bambu bakal mengangkut komoditas dagangannya ke kewedanan hilir.

Prasasti pada zaman ini menggunakan aksara Sunda kuno, nan pada awalnya ialah perkembangan bersumber lambang bunyi diversifikasi Pallawa Lanjut, yang mengacu pada model aksara Kamboja dengan beberapa cirinya yang masih melekat. Sreg zaman ini, huruf tersebut belum mencapai taraf modifikasi bentuk khasnya sama dengan yang digunakan tulisan tangan-naskah (lontar) waktu zaman ke-16.

Prasasti Pasir Muara

Di Bogor, prasasti ditemukan di Pasir Muara, di tepi sawah, tidak jauh dari prasasti Telapak Gajah warisan Purnawarman. Epigraf itu sekarang lain berada ditempat asalnya. N domestik prasasti itu dituliskan :

ini sabdakalanda rakryan juru panga-mbat i kawihaji panyca pasagi marsa-n desa barpulihkan haji su-nda

Terjemahannya menurut Bosch:

Ini jenama ucapan Rakryan Juru Pengambat dalam tahun (Saka) kawihaji (8) panca (5) pasagi (4), pemerintahan begara dikembalikan kepada raja Sunda.

Sebab ponten tahunnya bercorak “sangkala” yang mengikuti kepastian “angkanam vamato gatih” (angka dibaca pecah kanan), karenanya prasasti tersebut dibuat intern tahun 458 Saka atau 536 Kristen.

Batu bersurat Ciaruteun

Prasasti Ciaruteun ditemukan pada aliran Ci Aruteun, seratus meter berasal perjumpaan sungai tersebut dengan Ci Sadane; namun puas hari 1981 diangkatkan dan diletakkan di dalam cungkup. Prasasti ini warisan Purnawarman, beraksara Palawa, berbahasa Sanskerta. Isinya adalah sajak empat banjar, yang berbunyi:

vikkrantasyavanipateh shrimatah purnavarmmanah tarumanagararendrasya vishnoriva padadvayam

Terjemahannya menurut Vogel:

Kedua (jejak) telapak kaki yang sebagaimana (telapak kaki) Wisnu ini kepunyaan raja mayapada yang wirawan yang termashur Purnawarman penguasa Tarumanagara.

Selain itu, bermartabat pula rajah sepasang “padatala” (telapak kaki), yang menunjukkan tanda kekuasaan &mdash& fungsinya seperti “tanda tangan” pada zaman sekarang. Kehadiran prasasti Purnawarman di kampung itu menunjukkan bahwa daerah itu termasuk daerah kekuasaannya. Menurut
Bacaan Rajyarajya i Bhumi Nusantara
parwa II, sarga 3, halaman 161, di selang ki pionir Tarumanagara pada masa pemerintahan Purnawarman terwalak stempel “Rajamandala” (raja daerah) Pasir Muhara.

Prasasti Telapak Gajah

Dua patung Wishnu pecah Cibuaya, Karawang, Jawa Barat. Tarumanagara selingkung periode zaman ke-7 Kristen. Mahkotanya yang berwujud silinder menyerupai gaya seni Khmer Kamboja.

Prasasti Bekas kaki Gajah bercacah sepasang telapak kaki gajah yang diberi permakluman suatu banjar berwujud puisi berbunyi:

jayavi s halasya tarumendrsaya hastinah airavatabhasya vibhatidam padadavayam

Terjemahannya:

Kedua jejak telapak kaki adalah jejak kaki gajah yang cemerlang seperti Airawata kepunyaan penguasa Tarumanagara yang jaya dan berwenang.

Menurut mitologi Hindu, Airawata adalah nama gajah tunggangan Batara Alat pencium dewa perang dan penguawa Guntur. Menurut Pustaka Parawatwan i Bhumi Jawadwipa parwa I, sarga 1, gajah perang Purnawarman diberi cap Airawata sama dengan nama gajah tunggangan Indra. Lebih lagi diberitakan pula, umbul-umbul Imperium Tarumanagara berlukiskan rangkaian anakan padma di atas pengarah gajah. Demikian pula mahkota yang dikenakan Purnawarman berukiran sejodoh lebah.

Relief bendera dan sepasang lebah itu dengan jelas ditatahkan pada batu bertulis Ciaruteun yang sudah lalu memancing perdebatan mengasyikkan di selang para berbakat ki kenangan adapun rumusan dan nilai perlambangannya. Relief kepala gajah bermahkota teratai ini oleh para berbakat diduga sebagai “huruf ikal” yang masih belum tertanggulangi bacaaanya mengaras waktu ini. Demikian pun mengenai pahatan sejodoh cap di depan telapak tungkai benar yang menduganya laksana lambang labah-labah, matahari kembar atau kawin mentari-candra (surya dan bulan). Amanat pustaka dari Cirebon akan halnya alam Taruma dan tatahan sepasang “bhramara” (madukara) umpama cap pada mahkota Purnawarman dalam segala “kemudaan” nilainya sebagai sumur sejarah harus diakui kecocokannya dengan lukisan yang terdapat plong batu bersurat Ciaruteun.

Epigraf Jambu

Di daerah Bogor, masih sopan suatu juga epigraf lainnya yakni prasasti batu peninggalan Tarumanagara yang terletak di puncak Bukit Koleangkak, Desa Pasir Gintung, Kecamatan Leuwiliang. Lega bukit ini mengalir (sungai) Cikasungka. Prasasti inipun berukiran sepasang punggung suku dan diberi keterangan kasatmata puisi dua baris:

shriman data kertajnyo narapatir – asamo yah kantung tarumayam nama shri purnnavarmma pracurarupucara fedyavikyatavammo tasyedam – padavimbadavyam arnagarotsadane nitya-dksham bhaktanam yangdripanam – bhavati sukhahakaram shalyabhutam ripunam.

Terjemahannya menurut Vogel:

Yang termashur serta setia kepada tugasnya yakni raja yang tiada taranya bernama Sri Purnawarman yang memerintah Taruma serta baju perisainya tidak dapat ditembus oleh cuaca musuh-musuhnya; kepunyaannyalah kedua jejak telapak kaki ini, yang gegares sukses menghancurkan baluwarti musuh, nan selalu menghadiahkan jamuan kehormatan (kepada mereka nan tunak kepadanya), tetapi merupakan duri cak bagi musuh-musuhnya.

Sendang berita dari luar daerah

Sumber-sumber pecah luar daerah semuanya bersumber dari berita Tiongkok.

  1. Berita Fa Hien, musim 414M dalam bukunya yang berjudul Fa Kao Chi menceritakan bahwa di Ye-po-ti (“Jawadwipa”) hanya sedikit dijumpai hamba allah-sosok yang beragama Buddha, yang jumlah adalah orang-bani adam nan beragama Hindu dan “beragama kumuh” (maksudnya animisme). Ye Po Ti selama ini sering dianggap sebutan Fa Hien cak bagi Jawadwipa, namun benar argumen tidak yang mengajukan bahwa
    Ye-Po-Ti
    adalah
    Way Seputih
    di Lampung, di daerah sirkuit way seputih (bengawan seputih) ini ditemukan bukti-bukti warisan imperium kuno aktual punden berundak dan lain-tak nan sekarang terletak di taman zaman kuno Pugung Raharjo, meskipun saat ini Pugung Raharjo terwalak puluhan kilometer dari pantai semata-mata tidak jauh dari situs tersebut ditemukan batu-batu karang yg menunjukan daerah tersebut dulu adalah daerah pantai persis penuturan Fa hien
  2. Berita Dinasti Sui, menceritakan bahwa tahun 528 dan 535 mutakadim datang utusan dari To-lo-mo (“Taruma”) yang terwalak di sebelah kidul.
  3. Berita Dinasti Tang, juga membualkan bahwa tahun 666 dan 669 telah datang utusan dari To-lo-mo.

Berbunga tiga berita di atas para berbakat
[bisa jadi?]

menyimpulkan bahwa istilah To-lo-mo secara fonetis penyesuaian kata-katanya sebagai halnya Tarumanegara.

Akhirnya sesuai sumber-perigi yang telah diterangkan sebelumnya karenanya dapat dikenal sejumlah meres semangat mengenai Taruma.

Kerajaan Tarumanegara diperkirakan berkembang nasihat tahun 400-600 M. Sesuai prasast-prasati tersebut dikenal raja yang memerintah pada musim itu adalah Purnawarman. Kewedanan kekuasaan Purnawarman menurut batu bersurat Tugu, meliputi hapir seluruh Jawa Barat yang membentang semenjak Banten, Jakarta, Bogor dan Cirebon.

Kepurbakalaan Tahun Tarumanagara

Candi Jiwa di situs Percandian Batujaya

Skenario Wangsakerta

Penjelasan tentang Tarumanagara pas jelas di Naskah Wangsakerta. Sayangnya, naskah ini mengundang polemik dan jumlah berbakat sejarah yang menyangsikan naskah-naskah ini bisa dibuat sebagai rujukan sejarah.

Sreg Naskah Wangsakerta dari Cirebon itu, Tarumanegara didirikan maka itu Rajadirajaguru Jayasingawarman puas masa 358, nan kesudahan digantikan makanya putranya, Dharmayawarman (382-395). Jayasingawarman dipusarakan di selokan kelihatannya Gomati, sedangkan putranya di siring barangkali Candrabaga.

Maharaja Purnawarman yakni sinuhun Tarumanagara yang ketiga (395-434 M). Beliau mendirikan ibukota kekaisaran plonco puas waktu 397 nan terletak semakin bukan jauh ke pantai. Dinamainya kota itu Sundapura–pertama kalinya nama “Sunda” digunakan.

Prasasti Pasir Muara nan menyebutkan kejadian pengembalian pemerintahan kepada Yang dipertuan Sunda itu dibuat tahun 536 M. Dalam tahun tersebut yang menjadi penguasa Tarumanagara adalah Suryawarman (535 – 561 M) Raja Tarumanagara ke-7.
Pustaka Jawadwipa, parwa I, sarga 1 (halaman 80 dan 81) memberikan siaran bahwa dalam perian tadbir Candrawarman (515-535 M), ayah Suryawarman, total penguasa kewedanan yang menyepakati lagi kekuasaan pemerintahan atas daerahnya andai karunia atas kesetiaannya terhadap Tarumanagara. Ditinjau terbit jihat ini, balasannya Suryawarman memainkan hal yang seimbang sebagai lanjutan politik ayahnya.

Rakeyan Juru Pengambat yang tertera dalam epigraf Batu halus Mulut sungai boleh jadi sekali koteng superior tinggi Tarumanagara nan sebelumnya menjadi duta baginda sebagai pimpinan tadbir di area tersebut. Nan belum jelas adalah kok epigraf mengenai pengembalian pemerintahan kepada Raja Sunda itu terdapat di sana? Apakah daerah itu adalah kunci Kerajaan Sunda maupun hanya suatu tempat terdepan nan termasuk wilayah Kerajaan Sunda?

Adun sumber-sendang batu bersurat alias sendang-perigi Cirebon memberikan keterangan bahwa Purnawarman sukses menundukkan musuh-musuhnya. Prasasti Munjul di Pandeglang menunjukkan bahwa wilayah kekuasaannya mencakup pula pantai Selat Sunda. Bacaan Nusantara, parwa II sarga 3 (halaman 159 – 162) menyebutkan bahwa di bawah kekuasaan Purnawarman terletak 48 kaisar daerah yang membentang berpangkal Salakanagara atau Rajatapura (di daerah Teluk Lada Pandeglang) mengaras ke Purwalingga (kini Purbolinggo) di Jawa Tengah. Secara tradisional Cipamali (Kali Brebes) memang dianggap suratan yang tidak boleh dilampaui kekuasaan raja-raja penguasa Jawa Barat plong masa silam.

Kesanggupan Epigraf Purnawarman di Pasir Hilir, nan memberitakan Raja Sunda n domestik tahun 536 M, merupakan gejala bahwa Ibukota Sundapura telah berubah status menjadi suatu kerajaan daerah. Kejadian ini berguna, trik pemerintahan Tarumanagara mutakadim bergeser ke tempat lain. Acuan serupa dapat dilihat dari kedudukaan Rajatapura atau Salakanagara (kota Galuh), nan dikata Argyre oleh Ptolemeus intern tahun 150 M. Kota ini mencapai musim 362 menjadi pusat tadbir Sri paduka-raja Dewawarman (dari Dewawarman I – VIII).

Ketika pusat pemerintahan beralih berpokok Rajatapura ke Tarumangara, akhirnya Salakanagara berubah status menjadi kerajaan daerah. Jayasingawarman pendiri Tarumanagara adalah menantu Raja Dewawarman VIII. Ia sendiri seorang Maharesi pecah Salankayana di India yang ili ke Nusantara sebab daerahnya diserang dan ditaklukkan Maharaja Samudragupta dari Kerajaan Magada.

Suryawarman tidak namun melanjutkan kebijakan politik ayahnya nan menerimakan keimanan semakin total kepada sri paduka daerah cak bagi mengurus pemerintahan seorang, melainkan juga mengalihkan perhatiannya ke distrik meres timur. Dalam hari 526 M, misalnya, Manikmaya, menantu Suryawarman, mendirikan kerajaan baru di Kendan, kawasan Nagreg selang Bandung dan Limbangan, Garut. Putera tokoh Manikmaya ini adv amat bersama kakeknya di ibukota Tarumangara dan kesudahan menjadi Panglima Tahapan Perang Tarumanagara. Kronologi daerah timur menjadi semakin berkembang saat cicit Manikmaya mendirikan Imperium Galuh dalam tahun 612 M.

Tarumanagara koteng tetapi merasakan masa pemerintahan 12 orang raja. Pada periode 669, Linggawarman, sunan Tarumanagara terakhir, digantikan menantunya, Tarusbawa. Linggawarman sendiri mempunyai dua orang puteri, nan wayan bernama Manasih menjadi istri Tarusbawa dari Sunda dan yang kedua bernama Sobakancana menjadi isteri Dapuntahyang Sri Jayanasa pendiri Kekaisaran Sriwijaya. Secara otomatis, tahta otoritas Tarumanagara jebluk kepada menantunya dari putri sulungnya, adalah Tarusbawa.

Kontrol Tarumanagara kesudahannya dengan beralihnya tahta kepada Tarusbawa, sebab Tarusbawa pribadi semakin menginginkan bakal kembali ke kerajaannya sendiri, adalah Sunda yang sebelumnya berlambak dalam otoritas Tarumanagara. Atas pengalihan kekuasaan ke Sunda ini, hanya Galuh nan tidak cocok dan memutuskan untuk berjauhan berpunca Sunda nan mewarisi wilayah Tarumanagara.

Tuanku-raja Tarumanegara
No Raja Masa pemerintahan
1 Jayasingawarman 358-382
2 Dharmayawarman 382-395
3 Purnawarman 395-434
4 Wisnuwarman 434-455
5 Indrawarman 455-515
6 Candrawarman 515-535
7 Suryawarman 535-561
8 Kertawarman 561-628
9 Sudhawarman 628-639
10 Hariwangsawarman 639-640
11 Nagajayawarman 640-666
12 Linggawarman 666-669

Lihat pula

  • Kerajaan Salakanagara
  • Memori Sunda
  • Tulisan tangan Wangsakerta
  • Bukti keberadaan Kekaisaran Tarumanegara

Catatan Kaki

  1. ^
    Komplek Percandian Batujaya Tempat Lahirnya Peradaban di Tatar Sunda, Rahasia Penelitian dan Peluasan Arkeologi Nasional Kementerian Syariat budaya istiadat dan Wisata, 2006
  2. ^
    [http://www.budpar.go.id/userfiles/file/858_1255-situsbatujaya11.pdf

Rujukan

  1. Richadiana Kartakusuma (1991), Anekaragam Bahasa Prasastidi Jawa Barat Pada Hari zaman Ke-5 Masehi mencapai Ke-16 Masehi: Suatu Kajian Akan halnya Munculnya Bahasa Sunda. Tesis (yang diajukan andai salah satu syarat untuk mendapat gelar Magister intern segi Ilmu purbakala). Fakultas Pasca Cendekiawan Perhimpunan Indonesia.
  2. Maktab Purbakala R.I (1964) Publikasi Tahunan 1954 Dinas Purbakala Republik Indonesia. Djakarta: Biro Purbakala
  3. J.L.Moens (1940)”was Purnawarman van Taruma een Sanjaya?” TBG.81
  4. J. noorduyn and H.Th.Verstappen (1972), “Purnawarman’s River-works near Tugu” BKI 128:298-307
  5. R.M.Ng.Poerbatharaka (l952), Riwayat Indonesia I. Djakarta: Jajasan Pembangunan
  6. Soetjipto Wirjosuparto (1963), The Second Wisnu Image of Cibuaya, West Jawa, MISI. I/2: 170-87
  7. Teguh Asmar (1971), “Preliminary Report on Recent Excavation near the Kenon Tindasan Inscription (Kampung Mulut sungai)” Manusia Indonesia V(4-6), l971:416-424;
  8. Teguh Asmar (l971) “The Megalithic Tradition” kerumahtanggaan Haryati Soebadio et.al.(editor) Dynamic of Indonesian History, Amsterdam. 1978:29-40
  9. W.P.Groeneveldt, Catalogus der Archaeologische Verzameling van het Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen, Batavia l887
  10. N.J.Krom “inventaris der Hindoe-Oudheden” ROD 1914-1915.
  11. Hasan Djafar “Pemukiman-Pemukiman Kuna di Daerah akarta dn Sekitarnya” makalah puas Dskusi Ilmiah Arkeologi VI, Jakarta 11-12 Februari 1988. IAAI Komda Jawa Barat.
  12. Van der Hoop Catalogus der Prehistorische Verzameling. 1941.
  13. R.P.Soejono “Indonesia (REgional REport)” Berkat Perspectives VI, 1962: 23-24
  14. I Made Sutayasa (l970) “Gerabah Prasedjarah dari Djawa Barat Utara (obsesi Bun), kertas kerja pada Seminar Sjarah Nasional II
  15. Jurusan Arrkeologi FSUI (l985/1986), Warisan Dahulu kala di Batujaya (naskah Pengetahuan untuk Kiriman Penajaman Purbakala, Jakarta)
  16. Sundapura

Bacaan selanjutnya

  • Ayatrohaedi, 2005,
    Sundakala: cuplikan album Sunda sesuai tulisan tangan-tulisan tangan “Panitia Wangsakerta” Cirebon. Jakarta: Pustaka Jaya. ISBN 979-419-330-5
  • Saleh Danasasmita, 2003,
    Nyukcruk sajarah Pakuan Pajajaran jeung Prabu Siliwangi. Bandung: Kakbah Buku Terdahulu. ISBN
  • Yoseph Iskandar, 1997,
    Sejarah Jawa Barat: yuganing rajakawasa. Bandung: Geger Sunten.

Garis waktu imperium-kerajaan di Jawa Barat/Banten



edunitas.com

Source: http://p2k.unkris.ac.id/id3/1-3065-2962/Tarumanagara_26360_unkris_p2k-unkris.html

Posted by: gamadelic.com