Kerajaan Hindu Budha Di Indonesia

Kerajaan Hindu Buddha di Indonesia
– Hindu-Buddha menjadi salah satu agama yang berkembang pesat di Nusantara plong masa habis. Pengaruh agama Hindu hingga ke Nusantara diperkirakan sejak abad ke-1. Perkembangan pesat agama Hindu diikuti dengan berdirinya banyak kerajaan bercorak Hindu saat itu. Beberapa kerajaan yang remang sekitar abad ke-4, yakni Imperium Kutai Martapura di Kalimantan Timur, Tarumanagara di Jawa Barat, Kerajaan Kalingga di Rantau Lor Jawa Perdua, dan Kerajaan Bedahulu di Gianyar.

Adapun kerajaan Hindu kuno di Nusantara yang menonjol adalah Kerajaan Nasi-nasi karena dikenal membangun Candi Prambanan. Sejak itulah, agama Hindu kemudian menyebar bersama dengan Buddhisme di seluruh Nusantara dan mencapai puncak pengaruhnya pada abad ke-14.

Agama Buddha di jihat lain mula-mula kali masuk ke Nusantara (masa ini Indonesia) seputar abad ke-5 Kristen kalau dilihat semenjak penginggalan epigraf-prasasti nan ada. Diduga pertama kali dibawa oleh pengelana dari Tiongkok bernama Fa Hsien. Imperium Buddha purwa kali yang berkembang di Nusantara yaitu Kerajaan Sriwijaya yang menggermang pada 600 hingga 1377.

Kekaisaran Sriwijaya pergaulan menjadi salah satu pusat pengembangan agama Buddha di Asia Tenggara. Hal ini terlihat melintasi karangan seorang ilmuwan dari Tiongkok bernama I-Tsing, yang melakukan pelawatan ke India dan Nusantara, serta mengingat-ingat kronologi agama Buddha di sana.

Berikut penjelasan pecah beberapa imperium Hindu-Buddha yang sangkutan remang di Nusantara dan n kepunyaan supremsi osean pada hari kejayaannya.

Daftar Kekaisaran Hindu-Buddha Tersohor di Indonesia

1. Kekaisaran Kutai Martapura

Prasasti Yupa.

Menurut kajian yang dilakukan maka itu Muhammad Sarip (2021) dalam bukunya berjudul
Kekaisaran Martapura internal Literasi Sejarah Kutai 400–1635, kekaisaran Hindu tertua di Nusantara merupakan Martapura (bukan Martadipura) di Kecamatan Ambang Kaman, bukan Kutai Kertanegara (berdiri abad ke-14). Hal itu didasarkan dari Prasasti Yupa atau monumen prasasti yang ditemukan dua tahap, yaitu tahun 1879 dan 1940.

Yupa berjumlah tujuh buah itu mayoritas mengobrolkan kemakmuran waktu Mulawarman. Kini, ketujuh batu Yupa tersebut berada di Museum Nasional. Adapun kitab klasik berjudul
Surat Salasilah Prabu dalam Negeri Kutai Kertanegara
setebal 132 halaman dari musim 1849 adalah sendang autentik untuk penulisan sejarah Imperium Kutai Kertanegara.

Kitab tersebut ditulis oleh Khatib Muhammad Thahir, seorang Baris yang menjadi notulis Kerajaan Kutai Kertanegara. Kitab ini beraksara Jawi (teksnya menggunakan fonem Arab, sementara itu bahasanya Melayu). Kitab ini boleh menjadi sumber sejarah dengan meluangkan bagian dongengnya, meskipun tergolong susastra yang berganduh dengan mitologi pengagungan. Tulisan tangan sejati kitab itu detik ini disimpan di Perpustakaan Negeri Berlin, Jerman.

Temuan tujuh biji zakar Yupa menjadi awal pengungkapan kerajaan tertua Nusantara. Berdasarkan penjelasan dari Sarip, ada tiga nama tersohor di Kerajaan Kutai Martapura yang disebut di kerumahtanggaan Yupa. Pertama, Kundungga (enggak Kudungga) nan oleh kabilah brahmana Hindu masa itu ditulis umpama ayah pembangun kerajaan, lain emir pertama.

Kedua, Aswawarman putra Kundungga, yang dipertuan mula-mula Martapura. Ketiga, Mulawarman putra Aswawarman, sunan termasyhur yang mengapalkan kejayaan Martapura setakat boleh berderma sapi sebanyak 20.000 ekor cak bagi kaum brahmana. Tidak cak semau garitan lebih lanjut sosok nan menjadi penerus Mulawarman.



Namun, Muhammad Fahmi (2016) melampaui penelitiannya yang berjudul
Kerajaan Kutai Kartanegara ing Martadipura dan Peran Raja dalam Pengembangan Agama Islam di Kekaisaran Kutai Abad ke-17 dan 18
menyebutkan penguasa Kekaisaran Kutai Martapura antara lain:

  • Maharaja Kundungga Anumerta Dewawarman;
  • Maharaja Aswawarman;
  • Maharaja Mulawarman;
  • Maharaja Sri Aswawarman;
  • Maharaja Marawijayawarman;
  • Maharaja Gajayanawarman;
  • Maharaja Tunggawarman;
  • Maharaja Jayanagawarman;
  • Maharaja Nalasingawarman;
  • Maharaja Nala Parana Tungga;
  • Maharaja Gadinggawarman Dewa;
  • Maharaja Indrawarman Betara;
  • Maharaja Sanggawarman Dewa;
  • Maharaja Candrawarman;
  • Maharaja Prabu Mula Tungga Dewa;
  • Maharaja Nala Indra Dewa;
  • Maharaja Indra Mulyawarman Betara;
  • Maharaja Sri Langka Batara;
  • Maharaja Guna Parana Betara;
  • Maharaja Wijayawarman;
  • Maharaja Indra Mulya;
  • Maharaja Sri Sri paduka Dewa;
  • Maharaja Luhur Putera;
  • Maharaja Nala Pandita;
  • Maharaja Indra Paruta Dewa;
  • Maharaja Dermasatia.

Selanjutnya,
Salasilah Kutai
lantas mengungkap proses runtuhnya Imperium Martapura dengan raja terakhirnya, Dermasatia. Sarip menggunjingkan di subbab idiosinkratis tentang ekspansi yang dilakukan makanya Kutai Kertanegara tahun 1635 ketika diperintah raja ke-8, Sri paduka Tuanku Sinum Panji Mendapa.

Pendek kata, terjadi perang sejauh tujuh hari tujuh lilin lebah sampai dua sinuhun berhadapan saling sembelih, nan berujung kematian Dermasatia. Kekalahan Martapura ini membubuhi cap keruntuhannya, serta merta pencaplokan negeri makanya Kutai Kertanegara. Sejak itu, kerajaan jago melengkapi namanya menjadi Kutai Kertanegara ing Martapura.

Era Imperium Kutai sepantasnya bubar tahun 1960, cuma sejak 2001 dihidupkan pun ibarat rajah konservasi sejarah dan budaya, tanpa adanya kewenangan memerintah. Agak berbeda dari sebelumnya, kekaisaran itu bernama Kutai Kartanegara ing Martadipura. Kartanegara dengan “a” bukan “e”, Martadipura bukan Martapura.

Soal ini, Sarip enggak luput mengulasnya. Perihal Kartanegara, baginya bukan serupa itu fatal karena “Kartanegara” dan “Kertanegara” n kepunyaan keistimewaan yang tetap separas. Hanya lain halnya dengan Martadipura, yang enggak bisa dibenarkan karena mengubah nama dengan menyelitkan suku kata yang tidak perlu.

Segel Martadipura bagaikan pergantian dari pembukaan Martapura baru muncul pada 1980-an. Bupati Kutai periode 1965–1979, Ahmad Dahlan menyingkapkan, idenya berasal dari Drs. Anwar Soetoen, seorang pejabat Pemerintah Daerah Kabupaten Tingkat II Kutai.

Soetoen berpikiran bahwa antara kata “marta” dan “pura” mesti disisipkan kata depan “di” bak pengganti “ing”. Menurutnya, alas kata depan “di” n kepunyaan arti yang sebagaimana kata “ing” dalam bahasa Jawa Kawi. Dahlan mengungkap kasus ini dalam bukunya tentang
Salasilah Kutai
yang terbit tahun 1981.

Sarip di dalam bukunya timbrung membicarakan selang surup nama Kundungga menjadi Kudungga, yang terlanjur mengakar sejauh beberapa tahun ragil. Tak kalah penting, hasil kerja Sarip membentangkan pertanyaan mengenai pengemukaan museum di Tenggarong yang dinamai Mulawarman, bukan Aji Batara Agung Dewa Sakti sebagai pembina Kutai Kertanegera, sementara itu museum ini merupakan bekas puri Kutai Kertanegara, bukan syahid sejarah Kutai Martapura.

Belum lagi ditambah patung Lembu Suwana yang menjabat para tamu museum juga berpotensi memunculkan anggapan takdirnya hewan itu tunggangan Raja Mulawaman. Lembu Suwana selayaknya adalah hewan mitologis tunggangan Aji Betara Agung Dewa Ampuh.

2. Kerajaan Tarumanagara

Tarumanagara atau Kekaisaran Taruma merupakan sebuah kerajaan yang pernah berkuasa di provinsi barat pulau Jawa pada abad ke-5 sampai abad ke-7 M. Tarumanagara merupakan salah satu imperium tertua di Nusantara nan meninggalkan gubahan sejarah dan peninggalan artefak di sekitar lokasi kerajaan. Peninggalan-peninggalan itu menunjuk-nunjukkan takdirnya Tarumanagara merupakan kerajaan Hindu aliran Waisnawa.

Introduksi
tarumanagara
berasal dari perkenalan awal
taruma
dan
nagara.
Nagara
artinya kerajaan atau negara, sedangkan
taruma
berasal berasal kata “tarum” yang merupakan label sungai nan membelah Jawa Barat, yaitu Ci Tarum. Temuan arkeologis yang berada di muara Ci Tarum merupakan percandian nan luas, yaitu Percandian Batujaya dan Percandian Cibuaya, nan diduga yaitu kebudayaan peninggalan Kekaisaran Tarumanagara.

Prasasti Ciaruteun

http://cagarbudaya.kemdikbud.go.id/

Riuk satu batu bersurat nan dijadikan sebagai sumber sejarah keberadaan Kerajaan Tarumanagara merupakan Prasasti Ciaruteun. Lokasi epigraf tersebut mewah di Desa Ciaruteun, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor.

Batu bertulis ini ditemukan di aliran Sungai Ciaruteun, Bogor sreg 1863 dan terbagi menjadi dua episode, yaitu Prasasti Ciaruteun A yang tertulis dengan abc Pallawa dan bahasa Sanskerta terdiri atas empat baris puisi India atau irama
anustubh
(irama yang ditemukan privat puisi Veda dan Sanskerta klasik), serta Batu bersurat Ciaruteun B nan berisikan goresan telapak kaki dan motif lawah-lawah yang belum diketahui maknanya.

Menurut ahli kunci Prasasti Ciaruteun, simbol yang terdapat di batu bersurat tersebut merepresentasi Raja Purnawarman yang berani perkasa dan berkuasa. Epigraf ini memiliki ukuran janjang 2 meter, tinggi 1,5 meter, dan berbobot 8 ton.

Alih aksara dari batu bertulis ini sebaagai berikut.

Baris pertama:
vikkrantasya vanipateh

Larik kedua:
srimatah purnnavarmmanah

Baris ketiga:
tarumanagarendrasya

Baris keempat:
visnor=iva padadvayam ||

Artinya adalah sebagai berikut.

Inilah sepasang (telapak) kaki, nan seperti (telapak suku) Dewa Wisnu, ialah telapak kaki Yang Mulia Purnnawarman, paduka tuan di negara Taruma (Tarumanagara), raja yang gagah berani di mayapada”.

Bersendikan pesan yang terdapat di Prasasti Ciaruteun, dapat diketahui bahwa batu bertulis ini dibuat pada abad ke-5 dan menginformasikan bahwa detik itu terletak Imperium Tarumanagara, yang dipimpin oleh Prabu Purnawarman yang memuja Dewa Wisnu.

Kerajaan Tarumanagara mutakadim dipengaruhi maka dari itu kultur India, nan dibuktikan dengan nama raja nan berakhiran -warman dan tapak tungkai nan menandakan kuasa lega zamannya. Puas 1863, prasasti ini sempat hanyut diterjang banjir, sehingga garitan yang ada menjadi tertuntung, kemudian pada 1903 batu bersurat ini dikembalikan ke wadah semula. Barulah pada 1981, prasasti ini dilindungi.

Sendang berita enggak yang membuktikan berdirinya Kerajaan Tarumanagara bersumber terbit berita Tiongkok, berupa coretan pelawatan Fa-Hien (penjelajah dari Tiongkok) dalam lembaga buku dengan tajuk
Fa-Kuo-Chi,
yang menyebutkan bahwa plong awal abad ke-5 M banyak bani adam brahmana dan animisme di Ye-Po-Ti (sebutan lakukan Javadwipa, saja ada pendapat lain nan menyatakan jika Ye-Po-Ti adalah Way Seputih di Lampung).

Plong 414, Fa-Hien datang ke kapling Jawa cak bagi membuat catatan memori Kerajaan To-lo-mo (Kekaisaran Tarumanagara) dan singgah di Ye-Po-Ti selama 5 rembulan. Selain itu, berita Dinasti Sui menuliskan bahwa utusan To-lo-mo mutakadim menclok berusul jihat selatan pada 528 dan 535.

Berita Dinasti Gegep selanjutnya menuliskan bahwa utusan To-lo-mo telah nomplok plong 666 dan 669. Bersendikan berita-berita tersebut, dapat diketahui bahwa Kerajaan Tarumanagara berkembang antara hari 400600, nan saat itu dipimpin maka itu Purnawarman dengan wilayah yuridiksi karib seluruh Jawa Barat.

Adapun sunan-raja nan korespondensi memerintah Kerajaan Tarumanagara antara lain:

  • Jayasingawarman (358382);
  • Dharmayawarman (382395);
  • Purnawarman (395434);
  • Wisnuwarman (434455);
  • Indrawarman (455515);
  • Candrawarman (515535);
  • Suryawarman (535561);
  • Kertawarman (561628);
  • Sudhawarman (628639);
  • Hariwangsawarman (639640);
  • Nagajayawarman (640666);
  • Linggawarman (666669).

3. Kerajaan Medang

Goresan awal Kerajaan Medang ada dalam prasasti Canggal (732), yang ditemukan di dalam mania Candi Gunung Wukir di Dusun Canggal, barat daya Kabupaten Magelang. Prasasti ini ditulis privat bahasa Sanskerta dan memperalat aksara Pallawa. Isinya menceritakan tentang mandu Siwalingga (lambang Siwa) di kawasan Kuñjarakuñjadeça (Kunjarakunja), nan terletak di pulau bernama Yawadwipa (Jawa) nan diberkahi dengan banyak beras dan kencana.

Pembentukan lingga berada di bawah perintah Sanjaya. Epigraf ini menceritakan bahwa di Yawadwipa dahulu diperintah maka itu pangeran Sanna, yang bijaksana, bebas intern tindakannya, perwira n domestik tangkisan, bermurah hati kepada rakyatnya. Setelah mangkatnya Sanna negara berkabung, anjlok internal perpecahan. Pemindah Sanna adalah putra Sannaha (saudara perempuannya) yang bernama Sanjaya. Sanjaya menaklukkan distrik-daerah di sekitar kerajaannya dan pemerintahannya yang bijak memberkati tanahnya dengan kedamaian dan kemakmuran bagi semua rakyatnya.

Kisah Sanna, Sannaha, dan Sanjaya lagi dijelaskan internal Carita Parahyangan, sebuah naskah yang disusun sekitar akhir abad ke-16. Secara garis ki akbar, kisah dari naskah Carita Parahyangan memiliki kesamaan biang keladi dengan Prasasti Canggal.

Sungguhpun sahifah itu gelagatnya didramatisasi dan tidak memasrahkan perincian tertentu akan halnya periode tersebut, tetapi tanda dan tema cerita yang hampir persis dengan Epigraf Canggal tampaknya mengistimewakan bahwa sahifah tersebut didasarkan atas hal sejarah.

Candi Prambanan.

Periode pemerintahan Rakai Panangkaran ke Dyah Balitung (juluran antara 760–910) nan berlantas sepanjang 150 hari, menjadi indikator puncak kejayaan dari kebudayaan Jawa kuno. Pada tahun ini mercu munculnya seni dan arsitektur Jawa kuno, seperti bilang candi dan monumen megah didirikan membentang cakrawala dataran Kedu dan lembang Kewu. Candi yang paling tenar adalah Candi Sewu dan Prambanan.

4. Kekaisaran Sriwijaya

Candi Hilir Takus dianggap telah suka-suka lega zaman keemasan Sriwijaya, sehingga beberapa sejarawan menganggapnya sebagai salah satu peninggalan berpunca Kerajaan Sriwijaya.

Sriwijaya merupakan sebuah kerajaan bahari yang congah di Sumatra, tetapi kekuasaannya mencapai Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Semenanjung Malaya, Thailand, Kamboja dan lainnya. Sriwijaya mulai sejak semenjak bahasa Sanskerta,
sri
yang berarti “bercahaya” dan
vijaya
yang bermanfaat “kemenangan”.

Kerajaan Sriwijaya permulaan mengalir perlahan-lahan sekeliling tahun 600 dan bertahan sampai tahun 1377. Kerajaan Sriwijaya yaitu pelecok suatu kerajaan yang senggang terhantar, nan kemudian dikenalkan kembali oleh intelektual Prancis, bernama George Cœdès sreg masa 1920-an.

George Cœdès memperkenalkan kembali Sriwijaya bersendikan penemuannya bermula epigraf dan berita bermula Tiongkok. Kreasi George Coedes kemudian dimuat dalam kronik berbahasa Belanda dan Indonesia. Sejak detik itu, Imperium Sriwijaya mulai dikenal kembali maka dari itu masyarakat.

Hilangnya kabar tentang eksistensi Sriwijaya diakibatkan maka dari itu sedikitnya jumlah peninggalan yang ditinggalkan maka dari itu Kekaisaran Sriwijaya sebelum runtuh. Sejumlah penyebab runtuhnya Kerajaan Sriwijaya antara tak:

  • Serbuan semenjak Dinasti Chola berpunca Koromandel, India Daksina (1017 dan 1025). Ofensif ini berhasil mengurung raja Sriwijaya dan kemudian Dinasti Chola menjadi berwajib atas Imperium Sriwijaya. Akibat bermula ofensif ini, kursi Sriwijaya di Nusantara mulai leleh;
  • Munculnya Kerajaan Melayu, Dharmasraya. Setelah melemahnya kekuasaan Dinasti Chola, kemudian muncullah Kerajaan Dharmasraya yang mengambil alih Semenanjung Malaya dan pun mengimpitkan kesediaan Sriwijaya;
  • Alasan enggak yang menyebabkan runtuhnya Sriwijaya adalah perang dengan imperium tak seperti Singasari, Majapahit, serta Dharmasraya. Selain umpama penyebab runtuhnya Sriwijaya, perang ini juga menyebabkan banyak pusaka Sriwijaya yang rusak maupun hilang, sehingga keberadaannya sempat terlupakan selama beberapa abad.

Jalan agama Buddha selama masa Sriwijaya dapat diketahui berdasarkan laporan I-Tsing. Sebelum melakukan studi ke Universitas Nalanda di India, I-Tsing melakukan kunjungan ke Sriwijaya. Berlandaskan catatan I-tsing, Sriwijaya yakni rumah lakukan intelektual Buddha dan menjadi pusat pembelajaran agama Buddha.

Hal itu membuktikan bahwa selama musim Kerajaan Sriwijaya, agama Buddha berkembang sangat pesat. Selain itu, I-tsing pula melaporkan bahwa di Sriwijaya terletak aliran Buddha Theravada (kadang disebut Hinayana) dan Mahayana. Buddhisme di Sriwijaya lebih lanjut berbahagia supremsi dari revolusi Vajrayana berpokok India.

Pesatnya jalan agama Buddha di Sriwijaya juga didukung maka dari itu seorang Profesor Buddhis di Sriwijaya, yaitu Sakyakirti. Nama Sakyakirti ini berasal dari I-tsing nan berkenalan saat singgah di Sriwijaya. Selain Profesor Buddhis, I-tsing lagi melaporkan ada perguruan Buddha yang mempunyai kombinasi baik dengan Institut Nalanda, India, sehingga cak semau cukup banyak orang nan mempelajari Buddhisme di kerajaan ini. Privat catatannya, I-tsing juga menulis cak semau lebih terbit 1.000 pendeta yang belajar Buddhisme di Sriwijaya.

5. Imperium Kadiri

Masa-perian awal Kerajaan Kadiri atau Panjalu enggak banyak diketahui. Prasasti Turun Hyang II (1044) yang dikeluarkan makanya Kerajaan Janggala hanya memberitakan adanya perang saudara antara kedua putra Airlangga.

Pada akhir November 1042, Airlangga terdesak membelah wilayah kerajaannya karena kedua putranya adu cepat memperebutkan singgasana. Putra nan bernama Sri Samarawijaya mendapatkan kerajaan barat bernama Panjalu dan pusatnya di kota plonco, yaitu Daha. Adapun putranya yang bernama Mapanji Garasakan mendapatkan kerajaan timur bernama Janggala dan pusatnya di kota lama, yaitu Kahuripan.

Menurut Nagarakretagama, sebelum dibelah menjadi dua, kerajaan yang dipimpin Airlangga mutakadim bernama Panjalu dan pusatnya di Daha. Kaprikornus, Kerajaan Janggala lahir sebagai retakan dari Panjalu. Adapun Kahuripan adalah nama kota lama yang sudah lalu ditinggalkan Airlangga dan kemudian menjadi ibu kota Janggala.

Pada mulanya, cap Panjalu atau Pangjalu memang lebih pelahap dipakai daripada nama Kadiri. Hal ini dapat dijumpai dalam epigraf-prasasti yang diterbitkan oleh ratu-baginda Kadiri. Cap Panjalu lagi dikenal sebagai Pu-chia-busur dalam koran Tiongkok berjudul
Ling batang air tai ta

(1178). Tanda “Kediri” alias “Kadiri” sendiri terbit dari kata bahasa Sansekerta,
khadri,
yang bermakna pacé atau
Morinda citrifolia
(pace).

Ilustrasi foto Sri Jayabhaya.

Momen diperintah oleh Sri Jayabhaya, Panjalu mengalami masa kejayaannya. Kewedanan kerajaan ini meliputi seluruh Jawa dan beberapa pulau di Nusantara, apalagi sampai mempercundang yuridiksi Kekaisaran Sriwijaya.

Jayabhaya juga dipercaya menulis ramalan dalam leluri Jawa nan dikenal dengan Jangka Jayabaya atau Ramalan Jayabaya. Ajaran ini dikenal di dok publik Jawa dan dilestarikan secara turun-temurun oleh para pujangga.

Asal usul utama Serabut Ramalan Jayabaya dapat dilihat di Kitab Musasar yang digubah oleh Sunan Bukit Prapen. Sekalipun banyak keraguan keasliannya, tetapi bait pertama kitab tersebut yang menuliskan bahwa Jayabaya yang membuat ramalan-nubuat tersebut.

6. Kerajaan Singhasari

Candi Singhasari dibangun sebagai ajang pemujaan Kertanegara, sunan terakhir Kerajaan Singhasari.

Berlandaskan Batu bersurat Kudadu, nama seremonial Kerajaan Singhasari ialah Kerajaan Tumapel. Menurut Nagarakretagama, ibu kota Kerajaan Tumapel bernama Kutaraja detik mula-mula kelihatannya didirikan waktu 1222.

Pada 1253, Tuanku Wisnuwardhana awalnya menggotong putranya nan bernama Kertanagara ibarat
yuwaraja
(putra mahkota) dan mengganti logo ibu kota kerajaan menjadi Singhasari. Nama Singhasari nan merupakan segel ibu daerah tingkat kemudian sampai-sampai lebih tersohor daripada nama Tumapel.

Inilah yang membuat Imperium Tumapel pun terkenal kembali dengan jenama Kerajaan Singhasari. Nama Tumapel pula unjuk intern buku harian Tiongkok dari Dinasti Yuan dengan ejaan Tu-ma-pan.

Berdasarkan laporan di Pararaton, Tumapel awalnya hanya sebuah provinsi ki pionir Kerajaan Panjalu. Tentang yang menjabat sebagai akuwu (sepadan camat) Tumapel momen itu adalah Bendera Ametung. Dia senyap dibunuh dengan pendirian kecoh muslihat maka itu pengawalnya sendiri nan bernama Ken Arok, yang kemudian menjadi akuwu baru. Ken Arok pun nan menikahi ampean Tunggul Ametung yang bernama Ken Dedes. Ken Arok kemudian berniat melepaskan Tumapel dari yuridiksi Kerajaan Kadiri.

Puas 1254, terjadi kebencian antara Kertajaya, aji Kerajaan Kadiri, dengan kabilah brahmana. Para brahmana lampau menggabungkan diri dengan Ken Arok yang menyanggang dirinya menjadi raja mula-mula Tumapel dengan gelar Sri Rajasa Sang Amurwabhumi. Perang melawan Imperium Kadiri meletus di Desa Ganter yang dimenangkan oleh pihak Tumapel.

Nagarakretagama pun menyebut tahun yang ekuivalen kerjakan cara Kerajaan Tumapel, sahaja bukan mengistilahkan adanya tanda Ken Arok. Dalam naskah itu, pendiri kerajaan Tumapel bernama Balung Rajasa Sang Girinathaputra yang berhasil cundang Kertajaya raja Kerajaan Kadiri.

Batu bersurat Mula Malurung atas etiket Kertanagara tahun 1255 kemudian menamakan jika pembina Imperium Tumapel adalah Bhatara Siwa. Logo ini kemungkinan yaitu gelar anumerta dari Meradak Rajasa, karena dalam Nagarakretagama arwah pendiri Kerajaan Tumapel tersebut dipuja sebagai Siwa.

Selain itu, Pararaton lagi menyebutkan bahwa, Ken Arok lebih dulu menunggangi julukan Bhatara Siwa sebelum maju dalam perang mengganjar Kerajaan Kadiri.

7. Kerajaan Majapahit

Majapahit adalah sebuah kekaisaran kuno di Indonesia yang perhubungan berdiri berasal sekitar waktu 1293 hingga 1500 M. Kerajaan ini mencapai puncak kejayaan pada masa supremsi Hayam Wuruk nan berkuasa dari tahun 1350 sebatas 1389. Kerajaan Majapahit adalah kerajaan Hindu-Buddha bontot yang memintasi Semenanjung Malaya dan dianggap sebagai salah satu dari negara terbesar dalam ki kenangan Indonesia.

Majapahit banyak meninggalkan medan-wadah tahir, sisa-sisa sarana ritual keagamaan masa itu. Bangunan-bangunan suci ini dikenal dengan tera candi, pemandian polos (pertirtan) dan lubang-gua pertapaan. Bangunan-bangunan nan ditinggalkan tersebut kebanyakan beraliran agama Siwa dan tekor yang bersifat agama Buddha, yaitu enggak Candi Kampiun, Bhayalangu, Sanggrahan, dan Gala-gala. Peninggalan tak berbunga kerajaan ini adalah Kakawin Nagarakretagama, Arjunawijaya, dan Sutasoma.

Candi Jabung merupakan keseleo suatu peninggalan Kerajaan Majapahit.

Berdasarkan sumber termaktub, raja-ratu Majapahit umumnya beragama Siwa dari rotasi Siwasiddhanta, kecuali Tribuwanattungadewi (ibunda Hayam Wuruk) yang beragama Buddha Mahayana. Namun demikian, agama Siwa dan agama Buddha tetap menjadi agama baku kerajaan hingga akhir tahun 1447.

Sreg hari pemerintahan Raden Wijaya (Kertarajasa), terdapat dua pejabat stereotip keagamaan pangkat Siwa dan Buddha, yaitu
Dharmadyaksa ring Kasiwan
dan
Dharmadyaksa gelang-gelang Kasogatan, kemudian panca pejabat Siwa di bawahnya yang disebut
Dharmapapati
maupun
Dharmadihikarana.

Pada zaman Majapahit, ada dua buku yang menguraikan ajaran Buddhisme Mahayana, yaitu
Sanghyang Kamahayanan Mantrayana
yang berisi tentang ajaran yang ditujukan kepada biksu yang sedang ditahbiskan, serta
Sanghyang Kamahayanikan
yang berisi adapun kompilasi pengajaran bagi seseorang lakukan boleh mencapai pelepasan.

Pokok ajaran kerumahtanggaan
Sanghyang Kamahayanikan
adalah menunjukan bahwa bentuk yang bermacam-varietas semenjak bentuk pelepasan pada dasarnya adalah sebanding. Tampaknya, sikap sinkretisme dari penulis
Sanghyang Kamahayanikan
tercermin berpunca pengidentifikasian Siwa dengan Buddha dan menyebutnya sebagai “Siwa-Buddha”, bukan pula Siwa atau Buddha, sekadar Siwa-Buddha bagaikan suatu kesadaran tertinggi.

Sinkretisme era Majapahit mencecah puncaknya pada 12921478. Sepertinya, momen itu aliran Hindu-Siwa, Hindu-Wisnu dan agama Buddha dapat hidup bersamaan. Ketiganya dipandang sebagai gambar nan bermacam-macam dari suatu validitas yang sama.

Siwa dan Wisnu dipandang sama nilainya dan digambarkan sebagai “Harihara”, yaitu rupang (arca) setengah Siwa secabik Wisnu. Siwa dan Buddha dipandang sama. Bersendikan Kitab Kakawin Arjunawijaya karya Mpu Tantular, diceritakan bahwa saat Arjunawijaya memasuki candi Buddha, para pandhita menerangkan bahwa para Jina berusul penjuru tunggul yang digambarkan di reca-patung itu ialah sama saja dengan reinkarnasi Siwa.

Vairocana sekelas dengan Sadasiwa yang menduduki posisi tengah. Aksobya sama dengan Rudra yang menduduki posisi timur. Ratnasambhava seperti mana Brahma yang menduduki posisi selatan, Amitabha sebanding dengan Mahadewa yang menduduki posisi barat dan Amogasiddhi selevel dengan Wisnu yang menduduki posisi paksina. Oleh karena itu, para bhikkhu tersebut mengatakan tidak terserah perbedaan antara agama Buddha dengan Siwa.

Selanjutnya, internal Kitab Kunjarakarna disebutkan bahwa tiada seorang pula, baik penganut Siwa atau Buddha nan bisa mendapat liburan kalau dia merukunkan yang sebenarnya satu, yaitu Siwa-Buddha.

Pembaruan agama Siwa-Buddha pada zaman Majapahit, antara lain terlihat pada cara mendharmakan raja dan keluarganya yang wafat di dua candi yang berbeda sifat keagamaannya. Hal ini bisa dilihat pada yang dipertuan pertama Majapahit, yaitu Kertarajasa, yang didharmakan di Candi Sumberjati (Simping) sebagai wujud Siwa (Siwawimbha) dan di Antahpura sebagai Buddha.

Selain itu, sunan kedua Majapahit, Jayabaya, juga didharmakan di Shila Ptak (red.
Sila Petak) sebagai Wisnu dan di Sukhalila sebagai Buddha. Kejadian ini memperlihatkan bahwa kepercayaan kenyataan teratas dalam agama Siwa alias Buddha bukan berbeda.

Sungguhpun Buddhisme dan Hinduisme mutakadim menyerak di Jawa Timur, nada-nadanya kepercayaan leluhur masih memerankan peranannya internal roh masyarakat. Keadaan ini ditunjukkan dengan struktur candi yang di dalamnya terwalak ajang pendewaan nenek moyang, yang berwujud batu megalit, nan ditempatkan di teras tertinggi dari medan safi itu.

Setelah Kerajaan Majapahit mengalami kejatuhan pada tahun penutup pemerintahan Raja Brawijaya V (14681478) dan runtuh plong masa 1478, berangsur-angsur agama Buddha dan Hindu digeser kedudukannya oleh agama Islam.

Cukuplah, itulah informasi adapun
Kerajaan Hindu Buddha Tersohor di Indonesia. Sejarah Nusantara pada era Kerajaan Hindu-Buddha berkembang karena pergaulan dagang kewedanan Nusantara dengan negara-negara bersumber asing, seperti India, Tiongkok, dan negeri Timur Paruh. Sejak masuknya agama Hindu dan Buddha, mahajana prasejarah Nusantara nan sebelumnya memiliki ajudan animisme dan dinamisme beralih memeluk agama Hindu dan Buddha.

BACA JUGA:

  • Pendiri Kerajaan Kutai: Album, Masa Kejayaan, dan Warisan
  • Pembina Kerajaan Majapahit: Ki kenangan dan Raja Pertama
  • Pendiri Imperium Singasari : Asal-Usul dan Rekaman Pendek
  • Sejarah Pendiri Kerajaan Sriwijaya Beserta Silsilahnya
  • Memori Kerajaan Sunda dan Peninggalannya

ePerpus adalah layanan bibliotek digital masa kini yang memimpin konsep B2B. Kami hadir bakal memudahkan privat mengelola perpustakaan digital Beliau. Klien B2B Perpustakaan digital kami meliputi sekolah, jamiah, korporat, sampai medan ibadah.”

logo eperpus

  • Custom log
  • Akal masuk ke ribuan buku terbit penerbit berkualitas
  • Fasilitas privat mengakses dan mengontrol perpustakaan Beliau
  • Tersedia dalam platform Android dan IOS
  • Tersedia fitur admin dashboard kerjakan menyibuk laporan analisis
  • Laporan statistik paradigma
  • Aplikasi aman, praktis, dan efisien

Source: https://www.gramedia.com/literasi/kerajaan-hindu-buddha-di-indonesia/

Posted by: gamadelic.com