Kerajaan Budha Pertama Di Indonesia

Kerajaan Buddha Tersohor di Indonesia
– Buddhisme yang menyebar di Nusantara pada awalnya adalah sebuah keagamaan intelektual dan hanya sedikit berkaitan dengan supranatural. Namun dalam prosesnya, kebutuhan strategi dan keinginan emosional pribadi kerjakan terlindung pecah bahaya-bahaya di dunia oleh insan dewikaa yang kuat, sudah menyebabkan modifikasi dalam agama Buddha.

Dalam banyak hal, Buddhisme yaitu lewat individualistis, yaitu semua individu, baik pria maupun wanita bertanggung jawab buat spiritualitas mereka sendiri. Bisa jadi pun bisa bermeditasi sendirian; candi tidak diperlukan, dan tidak terserah pendeta yang diperlukan untuk berlaku sebagai perantara. Publik menyediakan pagoda dan kuil-kuil saja cak bagi menginspirasi rencana ingatan yang tepat untuk membantu umat dalam pengabdian dan kesadaran diri mereka.

Agama Buddha pertama kelihatannya timbrung ke Nusantara (sekarang Indonesia) sekitar abad ke-5 Masehi takdirnya dilihat berpokok penginggalan batu bersurat-batu bertulis yang suka-suka. Diduga pertama boleh jadi dibawa maka itu pengelana bersumber Tiongkok bernama Fa Hsien. Kerajaan Buddha pertama bisa jadi yang berkembang di Nusantara adalah Kekaisaran Sriwijaya yang berdiri pada 600 sampai 1377.

Kerajaan Sriwijaya pernah menjadi salah satu sentral pengembangan agama Buddha di Asia Tenggara. Situasi ini terlihat melalui catatan seorang intelektual bersumber Tiongkok bernama I-Tsing, yang mengerjakan avontur ke India dan Nusantara, serta mengingat-ingat perkembangan agama Buddha di sana.

Biarawan Buddha lainnya yang mengunjungi Indonesia adalah Atisa, Dharmapala, seorang profesor dari Nalanda, Vajrabodhi, dan koteng penganut agama Buddha nan berasal dari India Selatan.

Berikut penjelasan berasal lima kekaisaran Buddha yang pernah berdiri di Nusantara dan memiliki kekuasaan besar sreg hari kejayaannya.


1. Kerajaan Sriwijaya

Candi Muara Takus dianggap telah suka-suka puas zaman keemasan Sriwijaya, sehingga beberapa ahli sejarah menganggapnya sebagai salah satu peninggalan dari Kerajaan Sriwijaya.

Sriwijaya merupakan sebuah kekaisaran maritim yang ki berjebah di Sumatra, tetapi kekuasaannya mencapai Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Semenanjung Malaya, Thailand, Kamboja dan lainnya. Sriwijaya berasal dari bahasa Sanskerta,
sri
nan bermanfaat “berdamar” dan
vijaya
yang penting “kemenangan”.

Kerajaan Sriwijaya mula-mula berdiri seputar tahun 600 dan bertahan hingga tahun 1377. Imperium Sriwijaya adalah salah satu kerajaan yang luang terlupakan, yang kemudian dikenalkan kembali oleh sarjana Prancis, bernama George Cœdès sreg tahun 1920-an.

George Cœdès memopulerkan kembali Sriwijaya berdasarkan penemuannya dari batu bertulis dan berita dari Tiongkok. Penciptaan George Coedes kemudian dimuat dalam koran berajar Belanda dan Indonesia. Sejak saat itu, Kerajaan Sriwijaya mulai dikenal kembali oleh masyarakat.

Hilangnya kabar mengenai keberadaan Sriwijaya diakibatkan oleh sekurang-kurangnya jumlah pusaka yang ditinggalkan maka itu Imperium Sriwijaya sebelum runtuh. Beberapa penyebab runtuhnya Kerajaan Sriwijaya antara lain:

  • Serangan berbunga Dinasti Chola dari Koromandel, India Daksina (1017 dan 1025). Serangan ini berhasil menawan raja Sriwijaya dan kemudian Dinasti Chola menjadi berwajib atas Kerajaan Sriwijaya. Akibat dari bidasan ini, takhta Sriwijaya di Nusantara mulai melemah;
  • Munculnya Kerajaan Melayu, Dharmasraya. Setelah melemahnya kekuasaan Dinasti Chola, kemudian muncullah Kerajaan Dharmasraya yang mengambil alih Semenanjung Malaya dan juga menekan keberadaan Sriwijaya;
  • Alasan lain yang menyebabkan runtuhnya Sriwijaya adalah perang dengan kekaisaran lain seperti mana Singasari, Majapahit, serta Dharmasraya. Selain misal penyebab runtuhnya Sriwijaya, perang ini juga menyebabkan banyak peninggalan Sriwijaya nan rusak atau hilang, sehingga keberadaannya sempat terlupakan selama sejumlah abad.

Perkembangan agama Buddha selama perian Sriwijaya dapat diketahui berlandaskan laporan I-Tsing. Sebelum melakukan studi ke Universitas Nalanda di India, I-Tsing melakukan kunjungan ke Sriwijaya. Berdasarkan catatan I-tsing, Sriwijaya merupakan apartemen lakukan intelektual Buddha dan menjadi rahasia penerimaan agama Buddha.

Keadaan itu membuktikan bahwa selama masa Kekaisaran Sriwijaya, agama Buddha berkembang habis pesat. Selain itu, I-tsing juga melaporkan bahwa di Sriwijaya terletak perputaran Buddha Theravada (kadang disebut Hinayana) dan Mahayana. Buddhisme di Sriwijaya lebih jauh membujur pengaruh pecah aliran Vajrayana dari India.

Pesatnya perkembangan agama Buddha di Sriwijaya lagi didukung oleh seorang Mahaguru Buddhis di Sriwijaya, ialah Sakyakirti. Nama Sakyakirti ini berbunga berbunga I-tsing yang berkenalan saat singgah di Sriwijaya. Selain Mahaguru Buddhis, I-tsing juga melaporkan ada perguruan Buddha yang mempunyai perikatan baik dengan Universitas Nalanda, India, sehingga suka-suka cukup banyak orang yang mempelajari Buddhisme di kerajaan ini. Intern catatannya, I-tsing lagi menulis ada lebih dari 1.000 imam yang belajar Buddhisme di Sriwijaya.

2. Kekaisaran Kadiri

Masa-tahun awal Imperium Kadiri alias Panjalu tidak banyak diketahui. Prasasti Roboh Hyang II (1044) yang dikeluarkan oleh Kerajaan Janggala doang memberitakan adanya perang sipil antara kedua putra Airlangga.

Pada akhir November 1042, Airlangga tertekan membelah area kerajaannya karena kedua putranya bersaing memperebutkan kedudukan. Putra yang bernama Sri Samarawijaya mendapatkan kerajaan barat bernama Panjalu dan pusatnya di daerah tingkat baru, yakni Daha. Adapun putranya yang bernama Mapanji Garasakan mendapatkan kekaisaran timur bernama Janggala dan pusatnya di kota lama, yaitu Kahuripan.

Menurut Nagarakretagama, sebelum dibelah menjadi dua, kerajaan yang dipimpin Airlangga sudah bernama Panjalu dan pusatnya di Daha. Makara, Kerajaan Janggala lahir bak pecahan dari Panjalu. Adapun Kahuripan adalah logo kota lama nan sudah ditinggalkan Airlangga dan kemudian menjadi ibu kota Janggala.

Pada mulanya, tera Panjalu alias Pangjalu memang kian camar dipakai tinimbang merek Kadiri. Situasi ini boleh dijumpai dalam prasasti-prasasti nan diterbitkan oleh raja-raja Kadiri. Nama Panjalu kembali dikenal sebagai Pu-chia-gendewa privat jurnal Tiongkok berjudul
Ling wai tai ta

(1178). Nama “Kediri” atau “Kadiri” seorang berasal berpangkal pembukaan bahasa Sansekerta,
khadri,
yang signifikan pacé maupun
Morinda citrifolia
(buah noni).

Ilustrasi foto Sri Jayabhaya.

Ketika diperintah oleh Sri Jayabhaya, Panjalu mengalami masa kejayaannya. Kawasan kerajaan ini meliputi seluruh Jawa dan sejumlah pulau di Nusantara, bahkan sebatas cundang pengaruh Imperium Sriwijaya.

Jayabhaya juga dipercaya menulis ramalan internal adat istiadat Jawa yang dikenal dengan Jangka Jayabaya atau Wangsit Jayabaya. Ramalan ini dikenal di kalangan publik Jawa dan dilestarikan secara turun-temurun maka itu para pujangga.

Asal usul utama Serat Ramalan Jayabaya bisa dilihat di Kitab Musasar yang digubah makanya Tuanku Argo Prapen. Sekalipun banyak keraguan keasliannya, tetapi kuplet pertama kitab tersebut yang menuliskan bahwa Jayabaya yang membuat nubuat-ramalan tersebut.

3. Kerajaan Singhasari



Candi Singhasari dibangun andai tempat pemuliaan Kertanegara, raja keladak Kerajaan Singhasari.

Berdasarkan Prasasti Kudadu, nama halal Kerajaan Singhasari adalah Kerajaan Tumapel. Menurut Nagarakretagama, ibu ii kabupaten Kerajaan Tumapel bernama Kutaraja detik pertama bisa jadi didirikan masa 1222.

Sreg 1253, Paduka Wisnuwardhana awalnya mengangkat putranya yang bernama Kertanagara sebagai
yuwaraja
(putra mahkota) dan mengganti nama ibu ii kabupaten imperium menjadi Singhasari. Label Singhasari yang merupakan segel ibu ii kabupaten kemudian justru makin tenar daripada nama Tumapel.

Inilah nan membuat Kerajaan Tumapel lagi tenar lagi dengan nama Kekaisaran Singhasari. Nama Tumapel lagi muncul dalam harian Tiongkok mulai sejak Dinasti Yuan dengan ejaan Tu-ma-pan.

Berdasarkan kenyataan di Pararaton, Tumapel awalnya hanya sebuah daerah pion Kerajaan Panjalu. Adapun yang menjabat laksana akuwu (sebanding camat) Tumapel saat itu adalah Tunggul Ametung. Anda mati dibunuh dengan cara kecoh taktik oleh pengawalnya seorang yang bernama Ken Arok, yang kemudian menjadi akuwu baru. Ken Arok juga nan mengawini gula-gula Tunggul Ametung yang bernama Ken Dedes. Ken Arok kemudian bertujuan melepaskan Tumapel dari kekuasaan Kerajaan Kadiri.

Pada 1254, terjadi perseteruan antara Kertajaya, raja Kerajaan Kadiri, dengan suku bangsa brahmana. Para brahmana sangat menggabungkan diri dengan Ken Arok nan mengangkat dirinya menjadi raja mula-mula Tumapel dengan gelar Sri Rajasa Sang Amurwabhumi. Perang menandingi Kerajaan Kadiri letup di Desa Ganter yang dimenangkan oleh pihak Tumapel.

Nagarakretagama juga menegur tahun yang sama buat mandu Kekaisaran Tumapel, tetapi tidak menyebutkan adanya nama Ken Arok. Intern skrip itu, pendiri kerajaan Tumapel bernama Menjolok Rajasa Sang Girinathaputra yang berbuah mengalahkan Kertajaya raja Kerajaan Kadiri.

Batu bertulis Mula Malurung atas merek Kertanagara tahun 1255 kemudian menyebutkan jika pendiri Kekaisaran Tumapel adalah Bhatara Siwa. Nama ini kebolehjadian adalah gelar anumerta berpangkal Ranggah Rajasa, karena dalam Nagarakretagama umur pendiri Kerajaan Tumapel tersebut dipuja andai Siwa.

Selain itu, Pararaton juga menyebutkan bahwa, Ken Arok lebih dulu menggunakan julukan Bhatara Siwa sebelum maju dalam perang melawan Kerajaan Kadiri.

4. Kerajaan Dharmasraya

Degradasi Kerajaan Sriwijaya akibat serangan Rajendra Chola I, mutakadim mengakhiri kekuasaan Wangsa Sailendra atas Pulau Sumatra dan Ancol Malaya. Beberapa tahun kemudian, muncul sebuah dinasti baru yang mewakili peran Wangsa Sailendra, yaitu Wangsa Mauli.

Prasasti tertua yang asosiasi ditemukan atas nama tuanku Mauli adalah Prasasti Grahi hari 1183 di daksina Thailand. Prasasti itu berisi perintah Maharaja Srimat Trailokyaraja Maulibhusana Warmadewa kepada Wedana Grahi yang bernama Mahasenapati Galanai supaya membuat reca Buddha seberat 1 bhara 2 tula dengan angka emas 10 tamlin. Makhluk yang mengerjakan tugas membuat patung tersebut bernama Mraten Sri Nano.

Prasasti kedua berselang kian dari satu abad kemudian, yaitu Prasasti Padang Roco tahun 1286. Batu bertulis ini menjuluki Kanjeng sultan Swarnabhumi bernama Maharaja Srimat Tribhuwanaraja Mauli Warmadewa yang asian kiriman anugerah Arca Amoghapasa dari Tuanku Kertanagara, kanjeng sultan Singasari di Pulau Jawa. Arca tersebut kemudian diletakkan di Dharmasraya.

Dharmasraya dalam Pararaton merupakan ibu kota berusul negeri
bhūmi mālayu. Dengan demikian, Tribhuwanaraja dapat juga disebut laksana baginda Malayu. Tribhuwanaraja sendiri kemungkinan raksasa adalah keturunan dari Trailokyaraja. Makanya karena itu, Trailokyaraja pun bisa juga dianggap perumpamaan kaisar Malayu, sungguhpun Batu bersurat Grahi tidak menyebutnya dengan jelas.

Berdasarkan Kidung Panji Wijayakrama dan Pararaton, disebutkan bahwa Kertanagara mengangkut utusan dari Jawa ke Sumatra pada 1275 yang dikenal dengan nama Pengiriman barang Pamalayu. Ekspedisi ini dipimpin oleh Mahisa Anabrang atau Kebo Anabrang.

Kertanagara pada 1286 kemudian pun mengirimkan utusan lakukan mengantarkan Arca Amoghapasa, yang kemudian dipahatkan di Prasasti Padang Roco. Tim ekspedisi tersebut kembali ke Pulau Jawa pada 1293 dengan mengirimkan dua orang putri dari Kerajaan Jawi yang bernama Gadis Petak dan Dara Jingga.

Dara Petak kemudian dinikahi maka itu Raden Wijaya, yang telah menjadi tuanku Majapahit dan menggantikan Singasari. Melalui pernikahan ini, lahirlah Jayanagara, raja kedua Majapahit. Adapun Dara Jingga dinikahi oleh
anda alaki dewa
(orang yang bergelar batara) dan kemudian melahirkan Empunya Janaka atau Mantrolot Warmadewa nan identik dengan Adityawarman. Besok, Adityawarman menjadi Tuan Surawasa (Suruaso) beralaskan Prasasti Batusangkar yang berlambak di pedalaman Minangkabau.

5. Imperium Majapahit

Majapahit adalah sebuah imperium historis di Indonesia yang pernah berdiri bermula sekitar tahun 1293 setakat 1500 M. Kerajaan ini mencecah puncak kejayaan pada masa kontrol Hayam Wuruk yang berwenang dari tahun 1350 hingga 1389. Kerajaan Majapahit ialah imperium Hindu-Buddha terakhir yang menguasai Tanjung Malaya dan dianggap sebagai salah suatu dari negara terbesar dalam ki kenangan Indonesia.

Majapahit banyak menjauhi wadah-tempat suci, sisa-sempuras sarana formalitas keagamaan masa itu. Bangunan-bangunan suci ini dikenal dengan logo candi, pemandian lugu (pertirtan) dan gua-gua pertapaan. Bangunan-konstruksi nan ditinggalkan tersebut kebanyakan beraliran agama Siwa dan abnormal yang bertabiat agama Buddha, yaitu lain Candi Juara, Bhayalangu, Sanggrahan, dan Jabung. Pusaka lain berusul kerajaan ini yaitu Kakawin Nagarakretagama, Arjunawijaya, dan Sutasoma.



Candi Jabung adalah salah satu peninggalan Kerajaan Majapahit.

Beralaskan sumber tertulis, sinuhun-raja Majapahit umumnya beragama Siwa mulai sejak aliran Siwasiddhanta, kecuali Tribuwanattungadewi (ibunda Hayam Wuruk) nan beragama Buddha Mahayana. Doang demikian, agama Siwa dan agama Buddha ki ajek menjadi agama jamak kekaisaran hingga akhir tahun 1447.

Pada masa rezim Raden Wijaya (Kertarajasa), terdapat dua pejabat protokoler keagamaan tinggi Siwa dan Buddha, ialah
Dharmadyaksa ring Kasiwan
dan
Dharmadyaksa gelang-gelang Kasogatan, kemudian lima majikan Siwa di bawahnya nan disebut
Dharmapapati
atau
Dharmadihikarana.

Pada zaman Majapahit, terserah dua rahasia yang menguraikan wahi Buddhisme Mahayana, yaitu
Sanghyang Kamahayanan Mantrayana
yang weduk mengenai wahi yang ditujukan kepada biksu yang sedang ditahbiskan, serta
Sanghyang Kamahayanikan
yang berisi mengenai pusparagam indoktrinasi kerjakan seseorang untuk boleh mencapai pelepasan.

Pokok visiun n domestik
Sanghyang Kamahayanikan
adalah menunjukan bahwa bentuk yang bermacam-jenis dari tulang beragangan pelepasan lega dasarnya yakni sama. Gelagatnya, sikap sinkretisme mulai sejak dabir
Sanghyang Kamahayanikan
tercermin berasal pengidentifikasian Siwa dengan Buddha dan menyebutnya misal “Siwa-Buddha”, bukan lagi Siwa atau Buddha, tetapi Siwa-Buddha perumpamaan satu kognisi tertinggi.

Sinkretisme era Majapahit hingga ke puncaknya lega 12921478. Sepertinya, saat itu aliran Hindu-Siwa, Hindu-Wisnu dan agama Buddha dapat hidup bersamaan. Ketiganya dipandang sebagai bentuk yang berbagai macam dari satu kebenaran yang sama.

Siwa dan Wisnu dipandang sama nilainya dan digambarkan sebagai “Harihara”, ialah rupang (reca) setengah Siwa sekeping Wisnu. Siwa dan Buddha dipandang setimbang. Berdasarkan Kitab Kakawin Arjunawijaya karya Mpu Tantular, diceritakan bahwa momen Arjunawijaya memasuki candi Buddha, para pandhita menerangkan bahwa para Jina pecah penjuru alam yang digambarkan di patung-patung itu yakni sama saja dengan penitisan Siwa.

Vairocana seperti mana Sadasiwa yang menduduki posisi tengah. Aksobya sama dengan Rudra yang menduduki posisi timur. Ratnasambhava seperti mana Brahma yang menduduki posisi selatan, Amitabha seperti Mahadewa nan menduduki posisi barat dan Amogasiddhi begitu juga Wisnu yang menduduki posisi paksina. Maka dari itu karena itu, para bhikkhu tersebut mengatakan enggak ada perbedaan antara agama Buddha dengan Siwa.

Lebih lanjut, dalam Kitab Kunjarakarna disebutkan bahwa tiada seorang lagi, baik pengikut Siwa maupun Buddha yang bisa mendapat libur takdirnya kamu meleraikan yang sebenarnya satu, yaitu Siwa-Buddha.

Reformasi agama Siwa-Buddha pada zaman Majapahit, antara lain kelihatan pada cara mendharmakan raja dan keluarganya yang wafat di dua candi yang farik sifat keagamaannya. Hal ini dapat dilihat pada yang dipertuan pertama Majapahit, yakni Kertarajasa, yang didharmakan di Candi Sumberjati (Simping) sebagai wujud Siwa (Siwawimbha) dan di Antahpura andai Buddha.

Selain itu, aji kedua Majapahit, Jayabaya, pun didharmakan di Shila Ptak (red.
Sila Lahan) bagaikan Wisnu dan di Sukhalila sebagai Buddha. Hal ini memperlihatkan bahwa kepercayaan kenyataan teratas dalam agama Siwa maupun Buddha bukan berbeda.

Walaupun Buddhisme dan Hinduisme telah memencar di Jawa Timur, gelagatnya pengapit leluhur masih memerankan peranannya intern kehidupan umum. Situasi ini ditunjukkan dengan struktur candi yang di dalamnya terletak tempat pendewaan pitarah, nan berwujud batu megalit, yang ditempatkan di teras tertinggi dari medan suci itu.

Setelah Kerajaan Majapahit mengalami kemunduran pada waktu intiha pemerintahan Raja Brawijaya V (14681478) dan jatuh pada waktu 1478, berangsur-angsur agama Buddha dan Hindu digeser kedudukannya oleh agama Selam.

Nah, itulah manifesto mengenai
5 Kerajaan Buddha Tersohor di Indonesia. Rekaman Nusantara pada era Kerajaan Hindu-Buddha berkembang karena rangkaian dagang daerah Nusantara dengan negara-negara dari luar, seperti India, Tiongkok, dan wilayah Timur Perdua. Sejak masuknya agama Hindu dan Buddha, mahajana prasejarah Nusantara yang sebelumnya memiliki kepercayaan animisme dan dinamisme beralih memeluk agama Hindu dan Buddha.


BACA Lagi:

  • Pendiri Kekaisaran Kutai: Album, Masa Keberhasilan, dan Peninggalan
  • Pendiri Kerajaan Majapahit: Sejarah dan Yang dipertuan Pertama
  • Pembina Kerajaan Singhasari : Radiks-Usul dan Album Singkat
  • Rekaman Pendiri Kerajaan Sriwijaya Beserta Silsilahnya
  • Ki kenangan Imperium Sunda dan Peninggalannya

ePerpus adalah layanan perpustakaan digital kontemporer yang mengusung konsep B2B. Kami hadir untuk menggampangkan dalam ikutikutan taman pustaka digital Beliau. Klien B2B Perpustakaan digital kami meliputi sekolah, perhimpunan, korporat, sampai tempat ibadah.”

logo eperpus

  • Custom log
  • Akses ke ribuan buku pecah penerbit berkualitas
  • Kemudahan kerumahtanggaan mengakses dan mengontrol perpustakaan Kamu
  • Tersedia dalam tribune Android dan IOS
  • Tersedia fitur admin dashboard untuk mematamatai takrif analisis
  • Laporan perangkaan lengkap
  • Tuntutan aman, praktis, dan efisien

Source: https://www.gramedia.com/literasi/kerajaan-buddha-tersohor-di-indonesia/

Posted by: gamadelic.com