Kenapa Kerajaan Sunda Tidak Bisa Ditaklukan Majapahit


camera

Wilayah historis kerajaan Sunda, Galuh, hingga Kerajaan Sunda Pajajaran. Foto: wikipedia.

SETELAH mencupaikan para pencibir yang memfokus Sumpah Palapa, Gajah Mada beserta para pendukungnya mulai muncul kekuatan. Bersama tentara Majapahit, mereka memulai serangkaian serangan ke luar Jawa.

Kewedanan mula-mula yang diserang adalah Bali. Mpu Prapanca menyebut, raja Bali berbuat bernafsu, kejam, nista, sehingga teristiadat diperangi.

Negarakrtagama mencatat serangan membengang pada 1265 saka (1343 M) di bawah pimpinan Gajah Mada dan Mpu Aditya (Adityawarmman), seorang kerabat Tribhuwanattunggadewi yang berdarah Melayu. Sehabis perang nan lama dan memayahkan, Bali akhirnya takluk, sebelum kemudian Gurun (Pulau Lombok).

Berlainan dengan Bali, Majapahit tidak menyerang Kerajaan Sunda sedangkan termasuk provinsi nan dibidik Gajah Mada seharusnya sumpahnya terpenuhi. Karenanya, Sunda menjadi salah suatu wilayah yang belum memufakati kebesaran Majapahit, sesudah banyak negara di Nusantara melakukannya.

KerumahtanggaanGajah Mada: Biografi Politik, arkeolog Agus Aris Munandar berpendapat, buat Majapahit, Kerajaan Sunda punya posisi yang unik. Enggak mudah kerjakan mereka menaklukannya seperti mana terhadap Bali ataupun Lombok.

“Lain terbayang apabila barisan dan tentara Majapahit harus menyerang Kerajaan Sunda,” kata Agus.

Sunda adalah kerajaan istimewa yang netral merdeka. Plong masa itu ada anggapan, Sunda ialah wilayah nan harus dihormati. Lain layak ditaklukkan secara militer.

Menurut Agus pangkal pemikiran itu siapa disandarkan kepada pernyataan dalam Prasasti Raja Sri Jayabhupati bermula abad 11 M. Batu bersurat berbahasa Jawa Kuno ini ada di provinsi Sukabumi.

Di dalamnya disebutkan gelar yang mirip dengan Airlangga, yaitu Jayabhupati haji ri Sunda(Raja Sunda). “Jadi sememangnya raja-raja Sunda keturunan Jayabhupati sejatinya masih bekerabat dengan para penguasa di Jawa Timur dalam perian yang kemudian,” jelas Agus.

Wilayah Jawa bagian barat tempat berkembangnya Kerajaan Sunda itu juga merupakan daerah kultur tua. Kerajaan yang bercorak kebudayaan India pertama kali muncul di Jawa bagian barat, yaitu Tarumanegara.

Wilayah barat Majapahit itu dulunya pula suka-suka di pangkal kontrol Sanjaya. Kaisar pertama Mataram Kuno ini, berlandaskan prasastinya, ialah yang pertama menghamburkan agama Hindu Trimurti. Agama ini terus dikenal sampai musim Majapahit.

“Sanjaya dapat dipandang seumpama pensyiar agama Hindu-Saiva di Jawa, karena itu tempat daerah kekuasaannya taat harus dihormati,” lanjut Agus.

Gajah Mada sekali lagi rikuh ketika mengingat kewedanan Sunda laksana daerah nan aman dan stabil. Sampai-sampai, ketika wilayah Timur terus menerus dilanda kerusuhan dan perdurhakaan sejak masa Airlangga, Janggala-Panjalu, Kadiri, Singhasari, sampai masa Tribhuwanattunggadewi.

Penduduk wilayah Kekaisaran Sunda tampak tidak ditakutkan dengan berbagai perjuangan. Karenanya Gajah Mada ganar jika pihaknya serupa itu saja mencamkan Sunda dalam perang melangah, mereka bakal kalah.

Lagipula secara kebijakan hubungan antara Sunda dan Majapahit baik-baik saja. Hanya saja para penguasa Sunda tidak pernah mau menunduk di bawah Majapahit.

Kemungkinan itu karenanya datang, ketika putri raja Sunda, Dyah Pitaloka akan menikah dengan Hayam Wuruk, raja Majapahit. Mata air
Pararaton,Kidung Sunda, Kidung Sundayana, danCarita Parahyanganmencatat keberangkatan sinuhun Sunda beserta rombongannya ke Majapahit bagi mengantar si putri.

Inilah kesempatan Gajah Mada bagi memecahkan sumpahnya. Dia membuat ketatanegaraan kebijakan dengan menafsirkan keberadaan bani adam nomor suatu Kerajaan Sunda itu andai pernyataan tunduk. Dia meminta sang putri sebagai persembahan dari Sunda ke Majapahit.

“Privat keadaan tulangtulangan pernikahan Hayam Wuruk dengan Putri Sunda sepenuhnya problem asmara dan perantaraan antara lelaki dan perawan. Makara, sebenarnya jauh berpangkal barang bawaan strategi,” kata Agus.

Kontingen Kerajaan Sunda tentu saja menjorokkan tungkul. Pernikahan pun gagal dan terjadilah Peristiwa Bubat. Supaya demikian, Kerajaan Sunda tetap tak berdampak ditaklukkan. Bahkan, kekaisaran itu baru binasa 60 periode setelah Majapahit runtuh pada 1519.

Baca juga:

Cerita Tutur Perang Bubat
Ambisi Gajah Mada di Perang Bubat
Perang Bubat kerumahtanggaan Memori Orang Sunda
Sandiwara tradisional Bubat dan Sensual-Cahang Kawin Majapahit-Sunda
Tragedi Perang Bubat dan Batalnya Pernikahan Hayam Wuruk-Dyah Pitaloka

Source: https://historia.id/kuno/articles/gajah-mada-segan-pada-kerajaan-sunda-PGpzo