Jumlah Populasi Orangutan Saat Ini

Mawas

Musim

Pleistosen Awal– Sekarang

PreЄ

Є

O

S

D

C

P

T

J

K

Pg

N

Pongo

Edit the value on Wikidata

Orang Utan, Semenggok Forest Reserve, Sarawak, Borneo, Malaysia.JPG

Mawas kalimantan
(Pongo pygmaeus)

Taksonomi
Kerajaan Animalia
Filum Chordata
Kelas Mammalia
Ordo Primates
Famili Hominidae
Genus Pongo

Edit the value on Wikidata



Lacépède, 1799
Tipe taksonomi Pongo pygmaeus

Lacépède, 1799 (Simia satyrus
Linnaeus, 1760)
Tata cap
Sinonim takson Faunus
Oken, 1816

Lophotus
Fischer, 1813

Macrobates
Billberg, 1828

Satyrus
Lesson, 1840

Diversifikasi
Pongo pygmaeus

Pongo abelii

Pongo tapanuliensis

Pongo hooijeri

Pongo weidenreichi

Sirkulasi

Orangutan distribution.png

Sebaran tiga varietas orang utan nan masih ada

Manusia utan
(kerangka bukan baku:
Orangutan) atau
mawas
adalah kera samudra yang berpangkal berusul pangan hujan Indonesia dan Malaysia. Sekarang mereka hanya ditemukan di sebagian Kalimantan dan Sumatera, tetapi selama era Pleistosen orang utan tersebar di seluruh Asia Tenggara dan Cina Selatan. Diklasifikasikan privat genus

Pongo
, hamba allah utan awalnya dianggap cuma suatu spesies. Bersumber masa 1996, mereka dibagi menjadi dua spesies: orang utan Kalimantan (P. pygmaeus, dengan tiga subspesies) dan orang hutan Sumatera (P. abelii). Variasi ketiga, orang utan Tapanuli (P. tapanuliensis), diidentifikasi secara definitif sreg tahun 2022. Orang utan merupakan satu-satunya nan masih hidup dari subfamili Ponginae, yang secara genetik berparak bermula hominid bukan (gorila, simpanse, dan orang) antara 19,3 dan 15,7 miliun tahun silam.

Mawas ialah kera besar yang minimal arboreal, nan mana mereka menghabiskan sebagian ki akbar masa mereka di pokok kayu. Orang utan memiliki lengan panjang dan kaki pendek secara proporsional, dan memiliki surai coklat kemerahan yang menutupi raga mereka. Orang utan bahadur dewasa memiliki berat sekitar 75 kg, sedangkan betina menyentuh sekitar 37 kg. Orang utan jantan dewasa yang dominan mengembangkan bantalan pipi atau flensa yang khas dan kerap memperlainkan tempik tataran buat menghela perhatian betina dan membuyarkan lawan; hal nan setolok tak dijumpai puas mawas bahadur nan lebih remaja dan mereka membidik lebih menyerupai betina dewasa. Cucu adam utan adalah anjing ki akbar yang paling soliter: ikatan sosial khususnya terjadi antara induk dan anaknya nan mengelepai padanya. Biji kemaluan merupakan komponen terpenting bersumber perut orang utan; sekadar mereka juga akan memakan tumbuh-tumbuhan, kulit tiang, istri muda, serangga, dan telur butuh. Mereka boleh hidup lebih mulai sejak 30 tahun, baik di alam bawah tangan maupun di penangkaran.

Orang hutan merupakan terdaftar primata yang paling kecil cerdas. Mereka menggunakan berbagai peralatan sukar dan membangun sarang tidur yang kompleks setiap malam pecah ranting-ranting dan dedaunan. Penelitian tentang kemampuan belajar mereka telah dilakukan secara ekstensif. Dipekirakan pada masing-masing populasi orang utan terdapat budaya-budayanya sendiri. Orang hutan telah ditampilkan n domestik literatur dan seni sedikitnya sejak abad ke-18, terutama dalam karya-karya yang membahas komunitas sosok. Penajaman tanah lapang tentang mawas dipelopori oleh primatologis, Birute Galdikas, dan mereka mutakadim dilestarikan di fasilitas penangkaran di seluruh dunia setidaknya sejak mulanya abad ke-19.

Ketiga variasi orang utan dianggap sangat terancam punah. Aktivitas manusia telah secara parah menyebabkan penurunan populasi dan tebaran mereka. Ancaman terhadap populasi orang utan liar menutupi perburuan liar (bagi daging dabat ilegal dan tindakan balas kejijikan karena mereka memakan tanaman), perusakan habitat dan deforestasi (untuk penanaman kelapa sawit dan penggundulan hutan), dan perdagangan binatang peliharaan ilegal. Sejumlah organisasi konservasi dan rehabilitasi telah didedikasikan kerjakan kelangsungan hidup mawas di standard liar.

Etimologi

Istilah hamba allah utan berasal berpangkal bahasa Melayu nan mana bani adam setempat awalnya memperalat istilah ini untuk merujuk pada anak adam penghuni hutan yang sebenarnya. Namun pada tahap tadinya dalam rekaman Melayu, istilah ini mengalami perluasan semantik lakukan mencakup kera pecah genus
Pongo.[1]
[2]

Istilah orang hutan unjuk dalam berbagai mata air-sumber pramodern privat bahasa Jawa Historis. Pelecok satunya yang terawal yakni pada Kakawin Ramayana, sebuah penyesuaian terbit bahasa Sansekerta ke dalam bahasa Jawa tentang Ramayana nan ditulis lega abad kesembilan atau mulanya abad kesepuluh. Internal sumber Jawa Kuno ini, istilah urang utan hanya mengacu pada kera dan enggak pada makhluk pemukim hutan. Istilah ini bukanlah berpunca introduksi-alas kata steril bahasa Jawa, belaka diserap dari bahasa Melayu awal setidaknya sewu perian yang lalu. Oleh karena itu, asal mula terdahulu istilah “mawas” yang menunjukkan kera Pongo kemungkinan lautan yaitu bahasa Melayu Kuno.[1]

Orangutan sketch by George Edwards

Sketsa “The Man of the Woods (Individu hutan)” maka dari itu George Edwards, 1758

Hamba allah eropa pertama nan menyadari penggunaan istilah ini adalah Jacobus Bontius, di bukunya yg dirilis pada 1631 yakni
Historiae naturalis et medicae Indiae orientalis.
Anda melaporkan bahwa orang Melayu memberitahunya takdirnya kera tersebut dapat bertutur, sahaja memilih bagi lain “hendaknya sira tak dipaksa buat bekerja”.[3]
Istilah ini juga muncul n domestik beberapa deskripsi ilmu hewan Indonesia dalam bahasa Jerman pada abad ke-17. Cak semau yang berpendapat bahwa Istilah ini secara khusus berasal berasal ragam bahasa Melayu Deret,[2]
cuma usia sumber-sumber Jawa Kuno nan disebutkan di atas menjadikan bahasa Melayu Historis lebih memungkinkan sebagai asal muasal istilah ini. Cribb dan koleganya (2014) berpendapat bahwa catatan Bontius enggak merujuk pada kera (karena deskripsi ini berpokok dari Jawa di mana individu utan saat itu tidak ditemukan di sana) melainkan merujuk pada turunan yang menderita kondisi kedokteran serius (kemungkinan besar kretinisme) dan bahwa pengusahaan istilah ini disalahpahami oleh Nicolaes Tulp, nan pertama siapa menggunakan istilah ini intern sebuah publikasi satu dekade kemudian.[4]

:10–18

Kata ini purwa bisa jadi dicantumkan n domestik catatan berpendidikan Inggris pada hari 1693 oleh dokter John Bulwer dalam bagan Orang-Outang,[5]
[6]
dan varian nan diakhiri dengan -ng ditemukan dalam banyak bahasa. Ejaan (dan pengucapan) ini terus digunakan dalam bahasa Inggris setakat saat ini, tetapi dianggap keliru.[7]
[8]
[9]
Hilangnya “h” dalam utan dan pergeseran dari -ng ke -lengkung langit sudah dianggap menunjukkan bahwa istilah tersebut turut ke bahasa Inggris melalui bahasa Portugis.[10]
N domestik bahasa Melayu, istilah ini pertama kali dibuktikan pada tahun 1840, bukan laksana nama asli saja mengacu pada bagaimana orang Inggris menyebut hewan tersebut. Kata ‘orang utan’ internal bahasa Melayu dan Indonesia saat ini diserap berpangkal bahasa Inggris atau Belanda lega abad ke-20, yang mana menjelaskan cak kenapa huruf ‘h’ sediakala dari ‘hutan’ juga hilang.[10]

Nama genus orang utan yakni, Pongo, dari berasal catatan abad ke-16 oleh Andrew Battel, sendiri matros Inggris nan ditawan oleh Portugis di Angola, nan menggambarkan dua “monster” antropoid bernama Pongo dan Engeco. “Monster” yang sira lihat tersebut sekarang diyakini adalah gorila, sahaja pada abad ke-18, istilah orang hutan dan pongo digunakan bikin semua kera besar. Naturalis Prancis Bernard Germain de Lacépède menggunakan istilah Pongo lakukan genus orang utan pada 1799.[11]
[12]

:24–25

Kata pongo nan digunakan maka itu Battel itu sendiri berpunca dari bahasa Kongo ialah
mpongi[13]
[14]

maupun bahasa lainnya yang serumpun: bahasa Lumbu
pungu, bahasa Vili
mpungu, atau bahasa Yombi
yimpungu.[15]

Taksonomi dan filogeni

Orang hutan pertama kali dideskripsikan secara ilmiah pada perian 1758 n domestik
Systema Naturae
maka dari itu Carl Linnaeus ibarat
Homo troglodytes.[16]

:20

Stempel ini kemudian diganti sebagai Simia pygmaeus sreg tahun 1760 oleh muridnya, Christian Emmanuel Hopp, dan sangat dinamai sebagai Pongo oleh Lacépède sreg waktu 1799.[16]

:24–25

Naturalis Perancis, René Lesson mengusulkan bahwa populasi orang utan di Sumatera dan Kalimantan adalah variasi yang berbeda ketika dirinya mendeskripsikan
P. abelii, pada tahun 1827.[17]
Pada musim 2001,
P. abelii
dikukuhkan laksana variasi singularis berdasarkan bukti molekuler yang diterbitkan plong tahun 1996,[18]
[19]

:53

[20]
dan tiga populasi yang farik di Kalimantan ditingkatkan menjadi subspesies (P. p. pygmaeus,
P. p. morio
dan
P. p. wurmbii).[21]
Pendeskripsian pada masa 2022 dari varietas ketiga, yaitu
P. tapanuliensis, berbunga Sumatera di selatan Danau Toba, datang dengan kejutan: P. tapanuliensis ternyata memiliki perantaraan kekerabatan yang lebih dekat dengan spesies mawas Kalimantan,
P. pygmaeus
dibandingkan dengan sesama spesies Sumatera,
P. abelii.[20]

Head shots of male Bornean, Sumatran and Tapanuli orangutans

Genom orang hutan sumatera diurutkan pada Januari 2022.[22]
[23]
Setelah manusia dan simpanse, anak adam utan sumatera menjadi jenis kera segara ketiga yang genomnya diurutkan. Selanjutnya, spesies orang hutan Kalimantan pun diurutkan genomnya. Orang utan Kalimantan (P. pygmaeus) memiliki keragaman genetik nan bertambah sedikit dibandingkan dengan orang hutan Sumatera (P. abelii), sungguhpun populasinya heksa- hingga tujuh kali kian strata di Kalimantan. Para peneliti berharap data ini bisa kondusif para konservasionis melestarikan kera yang terancam punah tersebut, serta mempelajari lebih lanjut adapun penyakit genetik manusia.[23]
Setimpal halnya dengan gorila dan simpanse, orang utan memiliki 48 kromosom diploid, berbeda dengan sosok nan punya 46.[24]

:30

Menurut bukti molekuler, di antara kera (superfamili Hominoidea), owa berjarak lega awal Miosen antara 24,1 dan 19,7 juta masa lalu, dan orang utan berpisah berusul garis zuriat ketek besar Afrika antara 19,3 dan 15,7 juta tahun nan lalu. Israfil dan koleganya (2011) mengasumsikan berdasarkan lokus mitokondria, lokus yang berkaitan dengan kromosom X, dan kromosom Y bahwa spesies orang utan Sumatera dan Kalimantan berpisah antara 4,9 dan 2,9 miliun waktu yang dahulu..[25]

(Gbr. 4)

Sebaliknya, studi genom 2022 menunjukkan bahwa kedua spesies ini baru saja berpisah sekitar 400.000 periode nan lalu. Studi ini juga menemukan bahwa mawas berevolusi lebih lambat daripada simpanse dan hamba allah.[23]
Sebuah penekanan genom pada 2022 menemukan bahwa orang utan Borneo dan Tapanuli berpisah dari orang utan Sumatera sekitar 3,4 juta tahun yang dulu, dan berasal satu selevel lain sekitar 2,4 kembali hari nan dulu. Jutaan musim yang tinggal, makhluk utan mengamalkan perjalanan dari daratan Asia ke Sumatera dan kemudian ke Kalimantan karena pulau-pulau tersebut dihubungkan oleh sirat darat sejauh periode glasial kuarter, saat permukaan air laut jauh kian rendah. Sirkuler manusia utan Tapanuli waktu ini diperkirakan dekat dengan tempat leluhur orang hutan mula-mula boleh jadi memasuki wilayah yang sekarang menjadi Indonesia dari daratan Asia.[20]
[26]

Taksonomi dari genus
Pongo
[27]
Filogeni dari superfamili Hominoidea[25]

(Fig. 4)
Genus
Pongo

  • Sosok utan Kalimantan (Pongo pygmaeus)
    • Pongo pygmaeus pygmaeus
      – populasi barat laut
    • Pongo pygmaeus morio
      – populasi timur
    • Pongo pygmaeus wurmbii
      – populasi barat daya
  • Mawas Sumatera (Pongo abelii
    – Sumatra, barat laut berasal Tasik Toba)
  • Manusia utan Tapanuli (Pongo tapanuliensis
    – Sumatra, kidul dari Lake Toba)
 Hominoidea

 manusia (genusHomo)

 simpanse (genusPan)

 gorila (genus
Gorilla)

orang utan (genus
Pongo)

 ungkas (familyHylobatidae)

Partial fossil skull of ape

Fosil tengkorak berpokok
Sivapithecus sivalensis, kerabat orangutan yang telah punah

Catatan fosil

Tiga diversifikasi orangutan yaitu geladir anggota subfamili Ponginae yang masih ada. Subfamili ini kembali mencengap kera-ketek yang telah punah seperti mana
Lufengpithecus, yang hidup 8-2 juta tahun lalu di Tiongkok selatan dan Thailand.[28]

:50

Indopithecus, yang hidup di India berpunca 9,2-8,6 juta musim dulu; dan
Sivapithecus, yang hidup di India dan Pakistan berpangkal 12,5 juta tahun lalu hingga 8,5 juta tahun sangat.[29]
Hewan-satwa ini kemungkinan umur di mileu yang lebih kering dan bertambah adem daripada orangutan momen ini.
Khoratpithecus
piriyai, nan hidup 5-7 juta tahun lalu di Thailand, diyakini bagaikan kerabat terdekat orangutan dan mendiami lingkungan yang selevel.[28]

:50

Primata terbesar yang diketahui,
Gigantopithecus, sekali lagi merupakan anggota Ponginae dan jiwa di Tiongkok, dari 2 juta hingga 300.000 perian yang suntuk.[30]
[28]

:50

Catatan fosil tertua berasal Pongo yang diketahui, berasal terbit Pleistosen Awal Chongzuo, nan terdiri dari persneling yang dianggap berasal bermula spesies
P. weidenreichi
nan telah punah.[31]
[32]
Pongo ditemukan bak bagian dari keramaian dabat di sekumpulan gua Pleistosen di Vietnam, bersama Giganopithecus, kendatipun hanya diketahui berpunca transmisi. Beberapa fosil yang dideskripsikan dengan nama
P. hooijeri
telah ditemukan di Vietnam, dan beberapa subspesies fosil telah dideskripsikan terbit beberapa fragmen Asia Tenggara. Bukan jelas apakah sisa purba-fosil ini termaktub dalam
P. pygmaeus
atau
P. abelii
atau bahkan mewakili spesies yang farik.[33]
Selama Pleistosen, Pongo memiliki kawasan sirkuler yang jauh lebih luas ketimbang saat ini, membentang di seluruh daratan Sunda dan Asia Tenggara daratan dan Cina Selatan. Di Jazirah Malaysia, ditemukan gigi orangutan yang berasal berasal 60.000 tahun yang lalu. Plong intiha Pleistosen, daerah sebaran orangutan telah memendek secara berjasa, prospek besar karena berkurangnya habitat hutan selama Glasial Maksimum Anak bungsu, biarpun mereka barangkali selamat hingga Holosen di Kamboja dan Vietnam.[31]
[34]

Ciri-Ciri

Orang utan memiliki jasad yang gemuk dan besar, berleher ki akbar,bahasa len:gan nan panjabahasa ng da:n kuat, kaki yang ringkas dan terakuk, dan tidak punya ekor.[35]
Dengan tataran sekitar 1,25-1,5 meter,[36]
tubuh bani adam utan diselimuti rambut merah kecokelatan.[37]
Mereka n kepunyaan kepala nan besar dengan posisi congor yang tinggi.[35]

Momen menjejak tingkat kedewasaan genital, Bani adam utan jantan memiliki pelipis yang gemuk pada kedua sebelah, ubun-ubun yang samudra, rambut menjadi pangkat dan bersemi brewok di sekitar wajah.[38]
Mereka punya hidung yang sama seperti individu, merupakan rungu, penglihatan, penciuman, pengecap, dan peraba.[35]

Berat Mawas bahaduri sekitar 50–90 kg, sedangkan Mawas betina beratnya sekeliling 30–50 kg.[36]
Telapak tangan mereka punya 4 jari-jemari jenjang ditambah 1 jempol.[35]
Jejak kaki suku mereka juga memiliki susunan jari-jari yang tinggal mirip dengan sosok.[35]

Orang hutan masih termasuk dalam spesies kera besar begitu juga gorila dan simpanse.[39]
Golongan kera besar masuk dalam klasifikasi mammalia, memiliki ukuran otak nan besar, mata yang mengarah kedepan, dan tangan yang bisa melakukan bogem mentah.[39]

Klasifikasi

Perbandingan individu orang utan nyali (dari kiri ke kanan): Kalimantan, Sumatra, Tapanuli

Orang hutan yang berada intern genus Pongo terdiri atas tiga spesies, yakni Basyar utan kalimantan/borneo (Pongo pygmaeus), Orang hutan sumatra (Pongo abelii),[40]
serta Orang utan tapanuli (Pongo tapanuliensis). Nenek moyang Orang utan sumatra dan kalimantan berbeda sejak 1,1 sebatas 2,3 juta tahun yang tinggal.[40]

Penelitian genetik sudah lalu mengidentifikasi tiga subspesies Individu utan borneo:
P. p. pygmaeus,
P. p. wurmbii, dan
P. p. morio.[40]
Masing-masing subspesies berdiferensiasi sesuai dengan wilayah sirkuler geografisnya dan meliputi matra fisik.[40]

  • Turunan utan kalimantan tengah (P. p. wurmbii) mendiami daerah Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah.[40]
    Mereka merupakan subspesies Mawas borneo yang terbesar.[40]
  • Turunan utan kalimantan timur laut (P. p. morio) mendiami provinsi Sabah dan kewedanan Kalimantan Timur.[40]
    Mereka yakni subspesies yang terkecil.[40]

Saat ini tidak ada subspesies Orang utan sumatra yang diidentifikasi.[40]

Lokasi dan habitat

Orang utan ditemukan di wilayah jenggala hujan abu tropis Asia Tenggara, merupakan di pulau Borneo dan Sumatra di daerah episode negara Indonesia dan Malaysia.
[butuh rujukan]

Mereka lazim tinggal di pepohonan lebat dan membentuk sarangnya berbunga dedaunan.
[butuh rujukan]

Orang utan dapat hidup puas beraneka macam tipe pangan, mulai dari hutan keruing, perbukitan dan dataran minus, distrik aliran sungai, pangan rawa air tawar, paya gambut, tanah kering di atas paya bakau dan nipah, sampai ke alas gunung-gemunung.
[butuh rujukan]

Di Kalimantan, Orang utan boleh ditemukan pada ketinggian 500 m di atas parasan laut (dpl), padahal kerabatnya di Sumatra dilaporkan dapat hingga ke hutan pegunungan pada ketinggian 1.000 m dpl.
[burung rujukan]

Mawas Sumatra adalah keseleo suatu fauna endemis yang belaka ada di Sumatra.
[butuh rujukan]

Orang utan di Sumatra hanya menempati bagian utara pulau itu, mulai berpokok Timang Gajah, Aceh Tengah sampai Sitinjak di Tapanuli Selatan.
[butuh rujukan]
Keberadaan dabat mamalia ini dilindungi Undang-Undang 5 perian 1990 tentang Perawatan Sumber Anak kunci Standard Hayati dan Ekosistemnya dan digolongkan sebagai terancam reaktif oleh IUCN.[41]

Di Sumatra, riuk satu populasi Orang hutan terdapat di daerah sirkulasi sungai (DAS) Batang Toru, Sumatra Lor.
[butuh rujukan]

Populasi Orang utan liar di Sumatra diperkirakan sejumlah 7.300.[42]
Di DAS Bangkai Toru 380 ekor dengan kepejalan pupulasi sekitar 0,47 sebatas 0,82 ekor sendirisendiri kilometer persegi. Populasi Turunan utan Sumatra (Pongo abelii lesson) kini diperkirakan 7.500 ekor.
[butuh rujukan]

Padahal lega era 1990 an, diperkirakan 200.000 ekor.
[butuh rujukan]

Populasi mereka terdapat di 13 kewedanan terpisah secara geografis.
[butuh rujukan]

Kondisi ini menyebabkan kelangsungan hidup mereka semakin terancam punah.[43]

Momen ini hampir semua Mawas Sumatra hanya ditemukan di Provinsi Sumatra Utara dan Provinsi Aceh, dengan Danau Toba bak sempadan paling kecil daksina sebarannya.
[butuh rujukan]

Namun dua populasi yang nisbi kecil berada di sebelah barat daya danau, ialah Sarulla Timur dan hutan-alas di Mayat Toru Barat.[41]
Populasi Orang utan terbesar di Sumatra dijumpai di Leuser Barat (2.508 individu) dan Leuser Timur (1.052 sosok), serta Rawa Singkil (1.500 individu).
[butuh rujukan]

Populasi enggak yang diperkirakan potensial untuk bertahan dalam paser panjang (viable) terdapat di Bangkai Toru, Sumatra Utara, dengan format seputar 400 basyar.
[kalam rujukan]

Mawas di Borneo nan dikategorikan andai
endangered
oleh IUCN terbagi privat tiga subspesies: Orang utan di Borneo dikelompokkan ke dalam tiga anak jenis, ialah
Pongo pygmaeus pygmaeus
yang bernas di bagian utara Sungai Kapuas sampai ke timur laut Sarawak;
Pongo pygmaeus wurmbii
yang ditemukan mulai dari selatan Sungai Kapuas hingga bagian barat Kali besar Barito; dan
Pongo pygmaeus morio.
[burung rujukan]

Di Borneo, Makhluk utan bisa ditemukan di Sabah, Sarawak, dan hampir seluruh hutan dataran rendah Kalimantan, kecuali Kalimantan Selatan dan Brunei Darussalam.[44]

Makanan

Meskipun Orang utan termaktub hewan omnivora, sebagian besar dari mereka hanya memakan pohon.[35]
90% dari makanannya konkret buah-buahan.[39]
Makanannya antara enggak adalah kulit pokok kayu, dedaunan, anak uang, beberapa diversifikasi insekta, dan sekitar 300 macam buah-buahan[45]

Selain itu mereka pun memakan nektar,madu dan jamur.[39]
Mereka sekali lagi gemar bersantap durian, walaupun aromanya tajam, tetapi mereka menyukainya.[39]

Cucu adam utan sampai-sampai tidak perlu meninggalkan tanaman mereka seandainya cak hendak minum. Mereka galibnya meminum air nan telah terpusat di gua-korok di antara cagak pohon.[35]

Biasanya indung Mawas mengajarkan bagaimana cara mendapatkan kas dapur, bagaimana kaidah mendapatkan minuman, dan bermacam ragam keberagaman tumbuhan pada musim yang berbeda-beda.[45]
Melampaui ini, bisa kelihatan bahwa Orang hutan ternyata memiliki kar lokasi hutan nan kegandrungan di pengambil inisiatif mereka, sehingga mereka tidak menyia-nyiakan tenaga kapan mencari makanan.[45]
Dan anaknya juga boleh memahami beragam jenis pohon dan tanaman, nan mana yang bisa dimakan dan bagaimana cara memproses makanan yang terlindungi oleh cangkang dan duri nan mencolok.[45]

Pemangsa

Pemangsa terbesar Orang utan dewasa ini yaitu insan.[35]
Selain manusia, predator Cucu adam utan adalah macan tutul, kartu ceki, buaya, ular ari piton, dan elang hitam.[35]

Pendirian mereservasi diri

Orang utan termasuk makhluk pemalu.[46]
Mereka jarang menunjuk-nunjukkan dirinya kepada hamba allah atau sosok lain yang tidak dikenalnya.[46]

[pelir rujukan]

Reproduksi

Orang utan betina biasanya berputra sreg usia 7-10 tahun dengan lama rahim berkisar antara 8,5 hingga 9 bulan; akrab sama dengan cucu adam. Jumlah orok nan dilahirkan seorang betina kebanyakan saja satu. Bayi Sosok utan dapat hidup mandiri puas usia 6-7 tahun. Kebergantungan Orang utan puas induknya merupakan yang terlama bersumber semua fauna, karena ada banyak hal nan harus dipelajari bakal bisa berkeras hati kehidupan, mereka biasanya dipelihara sampai berusia 6 tahun.[38]

Mawas berkembangbiak kian lama dibandingkan hewan primata lainnya, Orang utan betina hanya melahirkan seekor anak setiap 7-8 hari sekali.[47]
Usia Orang utan di pan-ji-panji liar sekitar 45 musim, dan sejauh hidupnya Orang utan betina sekadar punya 3 zuriat seumur hidupnya.[47]
Di mana itu berjasa reproduksi Mawas sangat lambat.[47]

Cara bergerak

Orang utan dapat mengalir cepat dari pokok kayu ke pohon dengan pendirian berayun lega ceranggah tanaman, ataupun yang biasa dipanggil
brachiating.[35]
Mereka sekali lagi dapat melanglang dengan kedua kakinya, belaka rumpil sekali ditemukan. Bani adam utan tidak boleh berenang.[35]

Kaidah roh

Tidak seperti gorila dan simpanse, Orang utan bukan vitalitas internal keropok yang besar.[39]
Mereka ialah satwa nan tunas-soliter.[39]
Khalayak utan kosen biasanya ditemukan cak seorang diri dan Orang utan betina galibnya ditemani oleh beberapa anaknya.[39]
Orang utan adalah hewan arboreal, artinya ia hidup atau beraktivitas di atas pohon. Hal ini berbeda dengan kera besar lainnya, sebagai halnya gorila dan simpanse, yang ialah hewan terrestrial (menghabiskan hidup di petak).[48]

Beberapa fakta mengganjur

  • Orang hutan dapat menggunakan tongkat ibarat peranti bantu untuk cekut peranakan, dan menunggangi daun andai pelindung sinar matahari.[49]
    Manusia utan Sumatra usia 6 tahun nan hidup di rawa barat Sungai Alas Sumatra menggunakan tongkat untuk mendeteksi madu tapi perilaku tersebut tidak pernah ditemukan di antara Mawas di daerah tepi laut timur. Peristiwa ini menunjukkan diversitas perilaku n domestik habituasi lingkungan.[50]
  • Orang utan jantan terbesar memiliki rentangan lengan (panjang dari satu jari ke jari yang lain apabila kedua tangan direntangkan) mencapai 2.3 m.[38]
  • Cucu adam utan kosen dapat membuat panggilan jarak jauh yang dapat didengar dalam radius 1 km.[38]
    Digunakan untuk menandai/mengawasi arealnya, memanggil sang betina, mencegah orang utan jantan lainnya yang mengganggu. Mereka mempunyai kantung halkum yang besar yang menciptakan menjadikan mereka mampu melakukannya.[38]

Populasi

Orang utan saat ini tetapi terdapat di Sumatra dan Kalimantan, di kewedanan Asia Tenggara.[51]
Karena tempat tinggalnya merupakan pangan yang lebat, maka sulit bikin mengumpamakan total populasi yang tepat.[51]
Di Borneo, populasi Orang utan diperkirakan seputar 55.000 individu.[51]
Di Sumatra, jumlahnya diperkirakan sekitar 200 individu. Hal ini terjadi akibat pembukaan lahan yang berlebihan.[51]

Penyebab Turunnya Populasi

Orang utan adalah habitat nan semakin sempit karena kawasan hutan hujan yang menjadi tempat tinggalnya dijadikan sebagai lahan nyiur sawit, pertambangan dan pepohonan ditebang kerjakan diambil kayunya.[39]
Manusia utan telah kehilangan 80% wilayah habitatnya kerumahtanggaan masa kurang dari 20 tahun.[39]
Tak terik mereka juga dilukai dan bahkan dibunuh makanya para petani dan tuan kapling karena dianggap ibarat hama.[39]
Jika seekor Mawas lebah ratulebah ditemukan dengan anaknya, maka induknya akan dibunuh dan anaknya kemudian dijual dalam perdagangan binatang ilegal. Pusat rehabilitasi didirikan bagi merawat oranutan yang nyeri, terluka dan yang telah kekeringan induknya.[39]
Mereka dirawat dengan pamrih cak bagi dikembalikan ke habitat aslinya.[39]

Pembukaan kapling dan konversi persawahan

Di Sumatra, populasi Bani adam utan hanya berada di daerah Leuser, yang luasnya 2,6 juta hektare yang mencakup Aceh dan Sumatra Utara.[52]
Leuser telah dinyatakan laksana keseleo suatu dari kawasan keanekaragaman hayati yang terpenting dan ditunjuk sebagai UNESCO Warisan Hutan Hujan Tropis Sumatra pada tahun 2004.[52]
Ekosistemnya menggabungkan Taman nasional Gunung Leuser, tetapi rata-rata para Sosok utan lampau di asing batas kewedanan yang dilindungi, di mana luas hutan menciut sebesar 10-15% tiap tahunnya kerjakan dijadikan misal kewedanan pemlontosan dan sebagai distrik pertanian.[52]

Indonesia yakni riuk satu negara yang mengalami berkurangnya total jenggala tropis terbesar di dunia.[52]
Bukan suka-suka perlambang yang menunjukkan berkurangnya laju deforestasi.[52]
Sekitar 15 periode yang lalu, tertulis sekitar 1,7 miliun hektare luas rimba yang terus ditebang setiap tahunnya di Indonesia, dan terus bertambah plong tahun 2000 sebanyak 2 juta hektare.[52]

Penebangan konvensional dan terlarang telah mengapalkan dampak penyusutan jumlah hutan di Sumatra.[52]
Prolog alas sebagai huma sawit di Sumatra dan Kalimantan pun telah mengakibatkan pembabatan hutan sebanyak jutaan hektare, dan semua dataran hutan yang tidak terlindungi akan mengalami keadaan yang sama nantinya.[52]

Konflik mematikan nan sering terjadi di pertanaman yakni saat di mana Orang utan yang habitatnya makin memendek karena pembukaan hutan harus mencari tembolok yang layak bakal bersikeras umur.[52]
Spesies nan dilindungi dan terancam punah ini pelalah barangkali dipandang misal ancaman kerjakan keuntungan pertanaman karena mereka dianggap bagaikan hama dan harus dibunuh.[52]

Orang utan biasanya dibunuh detik mereka memasuki provinsi perkebunan dan merusak tanaman.[53]
Hal ini buruk perut terjadi karena Orang utan tak bisa menemukan nafkah yang mereka butuhkan di hutan medan mereka tinggal.[53]

Perdagangan terlarang

Secara sahih, Orang utan telah dilindungi di Sumatra dengan kanun perundang-undangan sejak periode 1931, nan melarang untuk memiliki, membunuh atau menangkap Cucu adam utan.[52]
Sahaja pada praktiknya, para pemburu masih belalah memburu mereka, kebanyakan untuk perdagangan satwa.[52]

Menurut hukum jagat rat, Orang hutan masuk dalam lampiran I lega daftar CITES(Convention on International Trade in Endangered Species) yang melarang dilakukannya perbisnisan dalam bagan apapun mengingat status perlindungan dari spesies ini di alam bebas.[52]
Doang, tetap saja ada banyak permintaan terhadap jabang bayi Mawas, baik itu permintaan lokal, nasional dan jagat rat buat dijadikan bak dabat peliharaan.[52]
Momongan Mawas terlampau bergantung pada induknya buat berkuat hidup dan juga dalam proses kronologi, kerjakan mengambil momongan pecah Manusia utan maka induknya harus dibunuh.[52]
Diperkirakan, cak bagi setiap bayi nan selamat dari penangkapan dan pengapalan merepresentasikan mortalitas berpangkal Mawas lebah ratulebah dewasa.[52]

Menurut data dari situs web WWF, diperkirakan telah terjadi pengimporan Orang utan ke Taiwan sebanyak 1000 ekor yang terjadi antara tahun 1985 dan 1990.[53]
Bagi setiap Bani adam utan nan tiba di Taiwan, maka suka-suka 3 hingga 5 hewan lain yang mati kerumahtanggaan prosesnya.[53]
Perdagangan Orang hutan dilaporkan terjadi di Kalimantan, baik Mawas usia ataupun mati juga masih tetap terjual.[53]

Status perlindungan

Manusia utan Sumatra sudah masuk intern klasifikasi terancam perseptif (critically endangered) dalam daftar IUCN. Populasinya menurun drastis di mana puas perian 1994 jumlahnya mencecah lebih semenjak 12.000, tetapi puas hari 2003 menjadi sekitar 7.300 ekor.[52]
Data pada tahun 2008 melaporkan bahwa diperkirakan total Orang hutan sumatra di bendera haram cuma sangat sekeliling 6.500 ekor.[52]

Secara bersejarah, Individu utan ditemukan di kawasan hutan lintas Sumatra, saja sekarang tekor saja didaerah Sumatra Utara dan provinsi Aceh.[52]
Habitat nan sesuai untuk Hamba allah utan detik ini hanya primitif sekitar kurang berpunca 900.000 hektare di pulau Sumatra.[52]

Saat ini diperkirakan Orang utan akan menjadi spesies kera besar mula-mula yang punah di alam palsu.[52]
Penyebab utamanya adalah berkurangnya habitat dan perbisnisan hewan.[52]

Orang utan yaitu spesies dasar bakal konservasi.[52]
Mereka memegang peranan berharga untuk regenerasi pangan menerobos biji pelir-buahan dan biji-bijian yang mereka makan.[52]
Hilangnya Orang hutan mencerminkan hilangnya ratusan jenis tanaman dan sato lega ekosistem hutan hujan angin.[52]

Jenggala primer dunia yang tersisa merupakan bawah kesejahteraan individu, dan kunci dari bintang siarah nan sehat ialah keanekaragaman hayati, menanam Orang hutan turut menolong binatang menyusui, kontol, reptil, amfibi, serangga, pokok kayu, dan berbagain macam variasi lainnya yang atma di hutan hujan Indonesia.[52]

Catatan tungkai

  1. ^


    a




    b




    Sastrawan, Wayan Jarrah (2020). “The Word ‘Orangutan’: Old Malay Origin or European Concoction”.
    Bijdragen tot de Land-, Taal- en Volkenkunde.
    176
    (4): 532–41. doi:10.1163/22134379-bja10016. Diarsipkan berusul versi safi tanggal 12 April 2022. Diakses sungkap
    12 April
    2022
    .




  2. ^


    a




    b




    Mahdi, Waruno (2007).
    Malay Words and Malay Things: Lexical Souvenirs from an Exotic Archipelago in German Publications Before 1700. Frankfurter Forschungen zu Südostasien.
    3. Otto Harrassowitz Verlag. hlm. 170–81. ISBN 978-3-447-05492-8.





  3. ^


    Dellios, Paulette (2008). “A lexical odyssey from the Malay World”.
    Studia Universitatis Petru Maior. Philologia.
    4
    (4): 141–44.





  4. ^


    Cribb, Robert; Gilbert, Helen; Tiffin, Helen (2014).
    Wild Man from Borneo: A Cultural History of the Orangutan. University of Hawai’i Press. ISBN 978-0-8248-3714-3.





  5. ^



    “orangutan, n”
    Perlu langganan berbayar

    .
    Oxford English Dictionary
    (dalam bahasa Inggris). March 2022. Diakses copot
    2022-08-04
    .





  6. ^


    Bulwer, John (1653).
    Anthropometamorphosis: man transform’d: or, The artificiall changling, historically presented, in the mad and cruel gallantry, foolish bravery, ridiculous beauty, filthy finenesse, and loathsome loveliness of most nations, fashioning and altering their bodies from the mould intended by nature; with figures of those transformations. To which artificial and affected deformations are added, all the native and national monstrosities that have appeared to disfigure the humane fabrick. With a vindication of the regular beauty and honesty of nature
    (dalam bahasa Inggris). Internet Archive (edisi ke-2nd). London: W. Hunt. hlm. 437.





  7. ^


    “Orangutan”.
    Alpha Dictionary. Diarsipkan dari versi lugu copot 7 July 2022. Diakses rontok
    20 December
    2006
    .





  8. ^


    Tan, Peter (October 1998). “Malay loan words across different dialects of English”.
    English Today.
    14
    (4): 44–50. doi:10.1017/S026607840001052X.





  9. ^


    Cannon, Garland (1992). “Malay(sian) borrowings in English”.
    American Speech.
    67
    (2): 134–62. doi:10.2307/455451. JSTOR 455451.




  10. ^


    a




    b




    Mahdi, Waruno (2007).
    Malay Words and Malay Things: Lexical Souvenirs from an Exotic Archipelago in German Publications Before 1700. Frankfurter Forschungen zu Südostasien.
    3. Otto Harrassowitz Verlag. hlm. 170–81. ISBN 978-3-447-05492-8.





  11. ^


    Groves, Colin P. (2002). “A history of gorilla taxonomy”
    (PDF). Dalam Taylor, Andrea B.; Goldsmith, Michele L.
    Gorilla Biology: A Multidisciplinary Perspective. Cambridge University Press. hlm. 15–34. doi:10.1017/CBO9780511542558.004. ISBN 978-0521792813. Diarsipkan berbunga versi ceria
    (PDF)
    tanggal 26 March 2009.





  12. ^


    Cribb, Robert; Gilbert, Helen; Tiffin, Helen (2014).
    Wild Man from Borneo: A Cultural History of the Orangutan. University of Hawai’i Press. ISBN 978-0-8248-3714-3.





  13. ^


    “pongo”.
    Etymology Online. Diarsipkan dari versi asli copot 5 December 2022. Diakses tanggal
    4 December
    2022
    .





  14. ^


    “pongo”.
    Merriam-Webster. Diarsipkan mulai sejak versi kudrati tanggal 5 December 2022. Diakses tanggal
    4 October
    2022
    .





  15. ^


    “pongo, n.1”.
    OED Online. Oxford University Press. Diarsipkan berbunga
    versi tulus
    Perlu langganan berbayar


    tanggal 19 August 2022. Diakses tanggal
    4 October
    2022
    .




  16. ^


    a




    b



    Kesalahan pengutipan: Tag
    <ref>
    tidak stereotip; tidak ditemukan bacaan bikin ref bernama
    cribb

  17. ^


    Lesson, René-Primevère (1827).
    Manuel de mammalogie ou Histoire naturelle des mammifères
    (kerumahtanggaan bahasa Prancis). Roret, Libraire. hlm. 32.





  18. ^


    Xu, X.; Arnason, U. (1996). “The mitochondrial DNA molecule of sumatran orangutan and a molecular proposal for two (Bornean and Sumatran) species of orangutan”.
    Journal of Molecular Evolution.
    43
    (5): 431–37. Bibcode:1996JMolE..43..431X. doi:10.1007/BF02337514. PMID 8875856.





  19. ^

    Kesalahan pengambilan: Tag
    <ref>
    tidak sah; tidak ditemukan referensi untuk ref bernama
    Payne
  20. ^


    a




    b




    c




    Nater, A.; Mattle-Greminger, M. P.; Nurcahyo, A.; Nowak, M. G.; et al. (2 November 2022). “Morphometric, Behavioral, and Genomic Evidence for a New Orangutan Species”.
    Current Biology.
    27
    (22): 3487–3498.e10. doi:10.1016/j.cub.2017.09.047alt=Dapat diakses gratis
    . PMID 29103940.





  21. ^


    Bradon-Jones, D.; Eudey, A. A.; Geissmann, Lengkung langit.; Groves, C. P.; Melnick, D. J.; Morales, J. C.; Shekelle, M.; Stewart, C. B. (2004). “Asian primate classification”
    (PDF).
    International Journal of Primatology.
    25: 97–164. doi:10.1023/B:IJOP.0000014647.18720.32. Diarsipkan dari versi bersih
    (PDF)
    tanggal 6 December 2022. Diakses tanggal
    1 May
    2022
    .





  22. ^


    Locke, D. P.; Hillier, L. W.; Warren, W. C.; Worley, K. C.; Nazareth, L. V.; Muzny, D. M.; Yang, S. P.; Wang, Z.; Chinwalla, A. Lengkung langit.; Minx, P.; Mitreva, M.; Cook, L.; Delehaunty, K. D.; Fronick, C.; Schmidt, H.; Fulton, L. A.; Fulton, R. S.; Nelson, J. Ozon.; Magrini, V.; Pohl, C.; Graves, T. A.; Markovic, C.; Cree, A.; Dinh, H. H.; Hume, J.; Kovar, C. L.; Fowler, G. R.; Lunter, G.; Meader, S.; et al. (2011). “Comparative and demographic analysis of orang-utan genomes”.
    Nature.
    469
    (7331): 529–33. Bibcode:2011Natur.469..529L. doi:10.1038/nature09687. PMC3060778alt=Dapat diakses gratis
    . PMID 21270892.




  23. ^


    a




    b




    c




    Singh, Ranjeet (26 January 2022). “Orang-utans join the genome gang”.
    Nature. doi:10.1038/news.2011.50. Diarsipkan berpunca versi asli copot 27 January 2022. Diakses tanggal
    27 January
    2022
    .





  24. ^

    Kesalahan pengutipan: Tag
    <ref>
    tidak sah; tidak ditemukan teks bagi ref bernama
    RijksenMeijaard1999
  25. ^


    a




    b




    Israfil, H.; Zehr, S. M.; Mootnick, A. R.; Ruvolo, M.; Steiper, M. E. (2011). “Unresolved molecular phylogenies of gibbons and siamangs (Family: Hylobatidae) based on mitochondrial, Y-linked, and X-linked loci indicate a rapid Miocene radiation or sudden vicariance event”
    (PDF).
    Molecular Phylogenetics and Evolution.
    58
    (3): 447–55. doi:10.1016/j.ympev.2010.11.005. PMC3046308alt=Dapat diakses gratis
    . PMID 21074627. Diarsipkan dari versi asli
    (PDF)
    tanggal 10 May 2012.





  26. ^


    Goldman, Jason G. (2 November 2022). “New Species of Orangutan Is Rarest Great Ape on Earth”. National Geographic Society. Diarsipkan dari versi asli terlepas 23 July 2022. Diakses rontok
    6 November
    2022
    .





  27. ^


    Groves, C.P. (2005). Wilson, D.E.; Reeder, D.M., ed.
    Mammal Species of the World: A Taxonomic and Geographic Reference
    (edisi ke-3). Baltimore: Johns Hopkins University Press. hlm. 183–84. ISBN 0-801-88221-4. OCLC 62265494.




  28. ^


    a




    b




    c



    Kesalahan pengambilan: Tag
    <ref>
    bukan sah; enggak ditemukan teks bagi ref bernama
    Payne2

  29. ^


    Bhandari, A.; Kay, R. F.; Williams, B. A.; Tiwari, B. Horizon.; Bajpai, S.; Heironymus, T. (2018). “First record of the Miocene hominoid Sivapithecus from Kutch, Gujarat state, western India”.
    PLOS ONE.
    13
    (11): 10.1371/journal.pone.0206314. Bibcode:2018PLoSO..1306314B. doi:10.1371/journal.pone.0206314alt=Dapat diakses gratis
    . PMC6235281alt=Dapat diakses gratis
    . PMID 30427876.





  30. ^


    Zhang, Yingqi; Harrison, Terry (2017). “Gigantopithecus blacki: a giant ape from the Pleistocene of Asia revisited”.
    Yearbook of Physical Anthropology.
    162
    (S63): 153–77. doi:10.1002/ajpa.23150alt=Dapat diakses gratis
    . PMID 28105715.




  31. ^


    a




    b




    Harrison, Terry; Jin, Changzhu; Zhang, Yingqi; Wang, Yuan; Zhu, Min (December 2022). “Fossil
    Pongo
    from the Early Pleistocene Gigantopithecus fauna of Chongzuo, Guangxi, southern China”.
    Quaternary International
    (dalam bahasa Inggris).
    354: 59–67. Bibcode:2014QuInt.354…59H. doi:10.1016/j.quaint.2014.01.013.





  32. ^


    Wang, Cui-Kedelai; Zhao, Ling-Xia; Jin, Chang-Zhu; Wang, Yuan; Qin, Da-Gelegah; Pan, Wen-Shi (December 2022). “New discovery of Early Pleistocene orangutan fossils from Sanhe Cave in Chongzuo, Guangxi, southern China”.
    Quaternary International
    (dalam bahasa Inggris).
    354: 68–74. Bibcode:2014QuInt.354…68W. doi:10.1016/j.quaint.2014.06.020.





  33. ^


    Schwartz, J. H.; Vu The Long; Nguyen Lan Cuong; Le Trung Kha; Tattersall, I. (1995). “A review of the Pleistocene hominoid hewan of the Socialist Republic of Vietnam (excluding Hylobatidae)”.
    Anthropological Papers of the American Museum of Natural History
    (76): 1–24. hdl:2246/259.





  34. ^


    Ibrahim, Yasamin Kh.; Tshen, Lim Tze; Westaway, Kira E.; Cranbrook, Earl of; Humphrey, Louise; Muhammad, Ros Fatihah; Zhao, Jian-xin; Peng, Lee Chai (December 2022). “First discovery of Pleistocene orangutan (Pongo
    sp.) fossils in Peninsular Malaysia: Biogeographic and paleoenvironmental implications”.
    Journal of Human Evolution
    (dalam bahasa Inggris).
    65
    (6): 770–97. doi:10.1016/j.jhevol.2013.09.005. PMID 24210657.




  35. ^


    a




    b




    c




    d




    e




    f




    g




    h




    i




    j




    k




    (Inggris)Senses
  36. ^


    a




    b




    (Inggris)Orangutans

  37. ^


    (Inggris)Red Ape Diarsipkan 2022-09-23 di Wayback Machine.
  38. ^


    a




    b




    c




    d




    e




    (Inggris)Biology
  39. ^


    a




    b




    c




    d




    e




    f




    g




    h




    i




    j




    k




    l




    m




    (Inggris)Orangutan Foundation
  40. ^


    a




    b




    c




    d




    e




    f




    g




    h




    i




    (Inggris)info/info-books/orangutan/scientific-classification.htm Spesies
    [
    pranala nonaktif permanen
    ]


  41. ^


    a




    b




    (Inggris)IUCN

  42. ^

    Requested 10th January 2007; Submitted 27th January, Launched February 6th 2007. Nellemann, C., Miles, L., Kaltenborn, B. P., Virtue, M., and Ahlenius, H. (Eds). 2007. The last stand of the orangutan – State of emergency: Illegal logging, fire and palm oil in Indonesia’s national parks. United Nations Environment Programme, GRID-Arendal,Norway, www.grida.no. ISBN 978-82-7701-043-5

  43. ^


    “Piagam inskripsi”. Diarsipkan dari versi nirmala tanggal 2007-09-29. Diakses tanggal
    2007-03-28
    .





  44. ^


    (Inggris)redlist
  45. ^


    a




    b




    c




    d




    (Inggris)Diet
  46. ^


    a




    b




    Hari Yuwono, Eko; Purwo, Susanto (2007).
    Guidelines for Better Management Practices on Avoidance, Mitigation and Management of Human-Orangutan Conflict in and around Oil Palm Plantations. Indonesia: WWF-Indonesia. hlm. 7. ISBN 979-99919-6-X.




  47. ^


    a




    b




    c




    (Inggris)SOS

  48. ^


    (Inggris)Behaviour

  49. ^


    (Inggris)Fun Fact

  50. ^


    “Orangutan Sumatra Pongo abelii Punya Ide”. Diakses rontok
    29 Desember
    2012
    .




  51. ^


    a




    b




    c




    d




    (Inggris)Population
  52. ^


    a




    b




    c




    d




    e




    f




    g




    h




    i




    j




    k




    l




    m




    n




    o




    p




    q




    r




    s




    cakrawala




    u




    v




    w




    x




    y




    z




    (Inggris)Orangutan Crisis
  53. ^


    a




    b




    c




    d




    e




    (Inggris)Oranutan Threats

Pranala luar

  • BOSF
  • Yayasan BOS
  • FNPF
  • yayasan OUREI
  • (Inggris)
    Hutan dengan Manusia utan Diarsipkan 2022-04-28 di Wayback Machine.
  • [1]



Source: https://id.wikipedia.org/wiki/Orang_utan

Posted by: gamadelic.com