Jelaskan Perbedaan Hadis Dan Sunnah


PENDAHULUAN

Hadith Nabi telah ada sejak sediakala perkembangan Islam merupakan sebuah kenyataan yang lain dapat diragukan sekali lagi.

Kedudukan Hadith dalam hukum islam ialah yaitu sumber kedua setelah Al-Qur’an, maka dari itu alhasil sebagai seorang muslim/muslimah dituntut paling tidak menguasai dan mempelajari Hadith sebagai peninggalan Rasulullah SAW nan harus dijadikan pegangan untuk setiap manusia islam n domestik melangkah dan berbuat kesehari-hariannya selain Al-Qur’an.

K
etika seseorang ingin mempelajari Hadith secara mendalam, Maka disinilah peran ulumul Hadith maupun ilmu-ilmu Hadith habis diperlukan. Karena dengan adanya ulumul Hadith seseorang dapat membedakan tingkatan-tataran Hadith, serta dapat mengelompokkan kualitas Hadith sehingga kaum muslimin tidak terjerumus dan terpasung dalam mengamalkan Hadith-Hadith dloif (lemah) maupun bahkan maudhu (liar) yang tentunya dapat berakibat privat penyimpangan ibadah yang tidak bernilai disisi Allah SWT.

Namun, makanya karena masifnya perkembangan masyarakat muslim di seluruh bumi, banyak pula istilah-istilah

Hadith

yang dikenal oleh publik umum.

Lega masyarakat umum yang dikenal yaitu Hadith dan as-Sunnah, sedangkan lega kelompok tertentu, dikenal istilah Khabar dan Athar. Kendati pada dasarnya beberapa istilah tersebut merujuk pada kejadian yang sama, namun istilah-istilah tersebut n kepunyaan maksud nan berbeda. Baik intern segi

epistemologis


atau aksiologis.

Untuk itu
,

puas pembahasan makalah ini, pemakalah akan menyoroti kejadian-hal yang berkaitan dengan istilah-istilah yang tersebut diatas. Meliputi;

signifikasi Hadith, persamaan dan perbedaan dengan Sunnah, Khabar dan Ath
s
ar.



A.





Signifikasi Hadith, Sunnah, Khabar, dan Athar



1.





Hadith

Kata “Hadith” atau
alHadith
menurut bahasa penting
aljadid
(sesuatu nan mentah), jodoh prolog dari
al-qadim
(sesuatu yang lama). Perkenalan awal Hadith juga signifikan
al-Khabar
(berita), yaitu sesuatu yang dipercakapkan dan dipindahkan berpokok seseorang kepada orang bukan. Kata jamaknya, ialah
al-ahadis.

Menurut jumhur cerdik pandai’
,


h
adith adalah sesuatu yang disandarkan kepada Rasulullah SAW, baik berupa ucapan, ragam, penetapan, ataupun kebiasaan. Sama dengan sesuatu yang disandarkan kepada para sahabat dan tabi’in, baik berwujud perkataan ataupun perbuatan. Maka dalam signifikasi ini Hadith mencakup marfu’, mauquf dan maqtu’.

Imam Toyyibi berbicara: Hadith itu lebih awam, karena terdiri berpunca perkataan, ragam, dan penetapan Rasulullah SAW beserta para sahabat dan tabi’in.


[1]



Pendapat yang kedua
,


h
adith adalah sesuatu yang disandarkan pada Rasulullah SAW, baik berupa perkataan, perbuatan, penetapan ataupun sifat. Maka sreg pengertian ini Hadith cuma diartikan pada marfu’ saja.

Pendapat nan ketiga
, h
adith adalah sesuatu yang disandarkan sreg Utusan tuhan SAW, baik berupa bacot ataupun perbuatan.

Bani Al-Akfani berkata
,

Aji-aji Hadith riwayah adalah ilmu yang mencengap perkataan dan perbuatan Rasulullah SAW. Sekaligus memuat tentang periwayatannya, keakuratan dan penulisan lafadz-lafadznya.

Sedangkan Imam Suyuti menyebutkan dalam bukunya akan halnya adanya pendapat yang mengatakan bahwa bukan dinamakan Hadith selain yang marfu’ kecuali dengan syarat taqyid (pembatasan).


[2]



Contoh Hadith shoheh :
Terbit Abi Abdurrahman Abdillah kedelai Umar bin Khattab ra. bersuara: Aku mutakadim mendengar Rasulullah saw bersabda: “Bangunan Islam itu atas lima perkara Menerima bahwa tiada Halikuljabbar melainkan Allah dan sepatutnya ada Muhammad itu Utusan Halikuljabbar, Mendirikan Shalat, Membebaskan Zakat, Melakukan Haji ke Baitullah dan Puasa bulan Ramadhan.”
(Bukhari – Muslim)



2.





Sunnah

Sunnah menurut bahasa berarti :
“Jalan dan kebiasaan yang baik atau nan jelak”. Menurut M.Horizon.Hasbi Ash Shiddieqy, pengertian sunnah ditinjau berusul tesmak bahasa bermakna jalan yang dijalani, terpuji, atau tidak. Sesuai pagar adat nan telah dibiasakan, dinamai sunnah, walaupun tidak baik.


[3]



Berkaitan dengan signifikasi sunnah ditinjau dari sudut bahasa, perhatikan hadis Rasulullah SAW, misal berikut :


“Siapa pun mengadakan sesuatu sunnah (urut-urutan) nan baik, maka baginya pahala Sunnah itu dan pahala orang enggak yang berbuat hingga hari hari pembalasan. Dan barang siapa mengerjakan sesuatu sunnah yang buruk, maka atasnya dosa takhlik sunnah buruk itu dan dosa orang nan mengerjakannya setakat hari kiamat” (H.R. Al-Bukhary dan Muslim).

Sedangkan, Sunnah menurut istilah muhadditsin (ahli-pakar Hadith) ialah segala yang dinukilkan dari Nabi SAW., baik berupa congor, ulah, maupun berupa taqrir, pengajaran, sifat, kelakuan, perjalanan hidup baik yang demikian itu sebelum Nabi SAW., dibangkitkan menjadi Rasul, maupun sesudahnya.Menurut Fazlur Rahman, sunnah adalah praktek maujud yang karena telah lama ditegakkan mulai sejak satu generasi ke generasi selanjutnya memperoleh martabat normatif dan menjadi sunnah. Sunnah merupakan sebuah konsep perilaku, maka sesuatu yang secara maujud dipraktekkan publik untuk tahun yang layak lama lain namun dipandang perumpamaan praktek yang aktual hanya juga andai praktek nan normatif berasal mahajana tersebut.


[4]



Menurut Ajjaj Al-Khathib, bila kata Sunnah diterapkan ke dalam masalah-masalah syariat syara’, maka nan dimaksud dengan alas kata sunnah di sini, yaitu segala sesuatu yang diperintahkan, dilarang, dan dianjurkan oleh Rasulullah SAW., baik aktual perkataan maupun perbuatannya.


[5]



Dengan demikian, apabila dalam dalil hukum syara’ disebutkan al-Kitab dan as-Sunnah, maka nan dimaksudkannya adalah




Al-Qur’an dan Hadith.

Denotasi Sunnah ditinjau berpunca tesmak istilah, dikalangan cerdik pandai terdapat perbedaan. Suka-suka ulama nan mengartikan sebagai halnya Hadith, dan ada ulama yang membedakannya, justru ada yang memberi syarat-syarat tertentu, yang berbeda dengan istilah Hadith. Cerdik pandai juru Hadith mengekspresikan pengertian sunnah bak berikut :

Barang apa yang bersumber dari Nabi SAW., baik aktual tuturan, perbuatan, taqrir, tabiat, budi pekerti, ataupun perjalanan hidupnya, baik sebelum diangkat menjadi Rasul, sebagaimana ketika bertapa di gua Hira maupun sesudahnya“.

Berdasarkan definisi nan dikemukakan di atas, alas kata sunnah menurut sebagian ulama sama dengan kata Hadith. “Ulama yang mendefinisikan sunnah seperti mana di atas, mereka memandang diri Nabi SAW., sebagai uswatun hasanah atau qudwah (contoh ataupun teladan) yang paling kamil, lain bak sumber syariat. Olah karena itu, mereka memufakati dan meriwayatkannya secara utuh segala apa berita yang dituruti akan halnya diri Utusan tuhan SAW, tanpa membebaskan apakah (yang diberitakan itu) isinya berkaitan dengan penetapan hukum syara’ maupun lain. Begitu pula mereka tidak berbuat pemilihan buat keperluan tersebut, apabila ucapan atau perbuatannya itu dilakukan sebelum diutus menjadi Rasul SAW, atau sesudahnya.

Ulama Ushul Fiqh memberikan definisi Sunnah ialah “segala yang dinukilkan dari Nabi Muhammad SAW., baik berwujud perkataan, perbuatan maupun taqrirnya yang ada sangkut pautnya dengan hukum”. Menurut Tepi langit.M. Hasbi Ash Shiddieqy, makna inilah nan diberikan kepada perkataan Sunnah dalam hadis Nabi, perumpamaan berikut :


“Sungguh telah saya tinggalkan untukmu dua hal, tidak sama sekali kamu sesat selama kamu berpegang kepadanya, yaitu Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya”





(H.R.Malik).



Perbedaan pengertian tersebut di atas, disebabkan karena cerdik pandai Hadith memandang Utusan tuhan SAW., sebagai khalayak yang sempurna, nan dijadikan surieksemplar untuk umat Islam, sebagaimana firman Tuhan surat al-Ahzab ayat 21, perumpamaan berikut :


“Sesungguhnya telah ada puas diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu”.

Ulama Hadith membicarakan segala apa sesuatu yang berbimbing dengan Nabi Muhammad SAW., baik yang suka-suka hubungannya dengan kekekalan hukum hukum Islam maupun tidak. Sedangkan Ulama Ushul Fiqh, memandang Utusan tuhan Muhammad SAW., sebagai Musyarri’, artinya penggarap undang-undang wetgever di samping Allah. Firman Tuhan dalam al-Qur’an piagam al-Hasyr ayat 7 nan berbunyi:

“Apa yang diberikan oleh Rasul, maka ambillah atau kerjakanlah. Dan apayang dilarang oleh Nabi jauhilah”.

Ulama Fiqh, memandang sunnah ialah “perbuatan yang dilakukan dalam agama, tetapi tingkatannya tidak hingga wajib atau fardlu.


[6]



Atau dengan kata tak sunnah yakni suatu amalan yang diberi pahala apabila terjamah, dan tidak dituntutapabila ditinggalkan. Menurut Dr.Taufiq dalam kitabnya
Dinullah fi Kutubi Ambiyah
menerangkan bahwa Sunnah adalah suatu urut-urutan yang dilakukan oleh Nabi secara kontinyu dan diikuti oleh para sahabatnya; sementara itu Hadith yaitu tuturan-mulut Nabi nan diriwayatkan makanya seseorang, dua atau tiga sosok perawi, dan tidak ada yang memahami tuturan-congor tersebut selain mereka sendiri.

Misalnya sunnah
mulut adalah:


“Segala ‘kebajikan itu dengan niat.”


(Riwayat Bukhari, Orang islam dan sekelian

ulama’ hadith).

Sedankan sunnah
polah ialah:


“Bersembahyanglah kamu begitu juga kamu melihat aku bersembahyang.”

(Riwayat Bukhari dan Orang islam).



3.





Pengertian al-Khabar

Selain istilah Hadith dan Sunnah, terletak istilah Khabar. Khabar menurut

bahasa berarti

berita yang disampaikan terbit seseorang kepada seseorang. Cak bagi itu dilihat dari sudut pendekatan ini (ki perspektif pendekatan bahasa), kata Khabar sama artinya dengan Hadith.

Menurut Ibn Hajar al-Asqalani, nan dikutip as-Suyuthi, memandang bahwa istilah Hadith sama artinya dengan Khabar, keduanya dapat dipakai bakal sesuatu yang
marfu




,
mauquf, dan
maqthu’.


[7]



Ulama lain, mengatakan bahwa kbabar adalah sesuatu yang cak bertengger selain dari Utusan tuhan SAW., semenjana yang datang berbunga Nabi SAW. disebut Hadith. Suka-suka lagi cerdik pandai nan mengatakan bahwa Hadith lebih mahajana pecah Khabar. Buat keduanya berlaku prinsip
‘umumun wa khushushun muthlaq, yaitu bahwa masing-masing Hadith dapat dikatan Khabar, tetapi tidak setiap Khabar dapat dikatakan Hadith.


[8]




Menurut istilah sumber pandai Hadith; baik

berita

berusul Nabi ataupun

berita

dari sahabat, ataupun

berita

berpangkal tabi’in. Cak semau ulama nan berpendapat bahwa Khabar digunakan kerjakan segala

berita

nan masin lidah dari yang selain Nabi SAW. Dengan pendapat ini, sebutan untuk orang yang meriwayatkan Hadith dinamai
muhaddits, dan turunan nan meriwayatkan sejarah dinamai
akhbary
atau
Khabary. Cak semau juga cerdik pandai yang mengatakan bahwa Hadith lebih umum mulai sejak Khabar, seperti sebaliknya ada yang mengatakan bahwa Khabar lebih umum berusul puas Hadith,karena masuk ke dalam perkataan Khabar, segala nan diriwayatkan, baik dari Rasul maupun dari selainnya, padahal Hadith khusus terhadap yang diriwayatkan dari Nabi SAW. saja.Misalnya khabar
mauquf
adalah khabar nan dikeluarkan Rohaniwan al-Bukhari rahimahullah, tentang bacot seorang rawi, bahwa ‘Ali ibn Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata:


حدثوا الناس بما يعرفون ، أتريدون أن يكذب الله ورسوله

Artinya:
“Ceritakanlah kepada manusia sesuatu yang mereka ketahui. Apakah kalian ingin Allah dan Rasul-Nya didustakan?


.



4.





Pengertian al-Athar

Athar menurut bahasa yaitu lulusan dari sesuatu, ataupun cerih sesuatu, dan berarti nukilan (yang dinukilkan). Misalnya do’a yang dinukilkan dari Rasul disebut: do’a ma’tsur. Mayoritas jamhur memahamkan Athar sama dengan khabar dan hadith.


Seperti mana
ratib berikut ini: “Ya Alloh, cukupilah aku dengan rizki-Mu yang halal (supaya aku terhindar) pecah yang gelap, perkayalah aku dengan pemberian-Mu (supaya aku tidak meminang) kepada selain-Mu.” (HR: At-Tirmidzi).

Sementara itu menurut istilah, terjadi perbedaan pendapat di antara ulama. Mayoritas ahli hadith mengatakan bahwa Athar sebagai halnya khabar, ialah sesuatu yang disandarkan kepada Rasul SAW., sahabat, dan tabi’in. Sementara itu menurut ulama Khurasan, bahwa Athar bagi yang Hadith
mauquf
dan khabar lakukan Hadith yang
marfu’.


[9]





Dari keempat istilah yaitu Hadith, Sunnah, Khabar, dan Atsar, menurut jumhur cerdik pandai Hadith bisa dipergunakan untuk pamrih yang sama, yaitu bahwa hadith disebut juga dengan sunnah, khabar atau atsar. Begitu juga halnya sunnah, dapat disebut dengan hadith, khabar dan atsar. Maka Hadith Mutawatir bisa sekali lagi disebut dengan Sunnah Mutawatir atau Khabar Mutawatir. Begitu juga Hadith Shahih boleh disebut dengan Sunnah Shahih, Khabar Shahih, dan Atsar Shahih

.



B.





Sejarah Perkembangan dan Pendataan Hadith Nabi

A
s

Sunnah atau Hadith utusan tuhan


ialah salah satu sendang terdahulu bakal umat islam sedunia, umat islam percaya bahwa

diantara fungsi Hadith yakni bikin menjelaskan

Al-Qur’an

semoga umat islam dapat memahaminya dengan baik dan dapat mengamalkannya internal kehidupan sehari-hari, karena didalam Hadith ialah sesuatu yang keluar dari Rasul SAW dan dijamin kebenarannya. Meskipun dalam bilang kasus Rasul juga hubungan ditegur oleh Yang mahakuasa Swt. Sebagai halnya yang terdapat pada surat Abasa, ayat 1-2 yang berbunyi:

عَبَسَ وَتَوَلَّى أَنْ جَاءَهُ الأعْمَى



Artinya:
Beliau (Muhammad) bersegi masam dan menengok. Karena telah datang



seorang buta kepadanya.






[10]



Rasul juga diperintahkan maka itu Allah lakukan menyampaikan serta mengklarifikasi wahyu Allah, dan keadaan ini lain menutup kemungkinan keluar berpunca ijtihad Rasul koteng. Sebagaimana firman Allah yang berbunyi:




يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ وَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ



Artinya:
Hai Utusan tuhan Allah ! sampaikan barang apa-apa yang diturunkan kepadamu dari tuhanmu. Dan jikalau tidak kamu laksanakan apa yang diperintahkan itu, berjasa kamu tidak melaksanakan amanat risalahNya.



[11]





Dan sesuai dengan firmanNya nan berbunyi:

وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ


Artinya:
Dan Kami turunkan kepadamu Muhammad Al-Qur’an, agar engkau supaya menjelaskan kepada umat manusia segala apa nan sudah lalu diturunkan kepada mereka.


[12]



Puas masa sekarang ini umat selam bisa secara mudah mem
pelajari Hadith-Hadith Rasul
, berbarengan memahaminya. Situasi ini tidaklah mungkin dapat

di
rasakan tanpa adanya operasi

berpangkal

para sahabat

dan tabi’in

buat membukukannya

. Walaupun plong awalnya Nabi melarang para sahabatnya buat menulisnya, tujuannya ialah tidak lain mudahmudahan apa sesuatu yang keluar semenjak Rasul tidak tercampur dengan Al-Qur’an.

Proses perkembangan dan pembukuan Hadith, perekam membagi menjadi dua

fase
:



1.





Pe


rkembang


an



Hadith




pada zaman Utusan tuhan sampai para sahabat.

Para ulama’ berlainan pendapat adapun diperbolehkan dan tidaknya batik sesuatu yang keluar berpunca Rasul.

Pendapat permulaan mengatakan tidak diperbolehkannya menulis Hadith, tetapi diperintahkan untuk langsung menghafalnya. Diantara yang berpendapat seperti ini ialah: Umar, Bani Mas’ud, Zaid bin Tsabit, Abu Musa Al-Asy’ari, dan Abu Said Al-Khudlori. Mereka berpendapat berdasarkan Hadith Rasul yang berbunyi:




لاَ تَكْتُبُوا عَنِّى وَمَنْ كَتَبَ عَنِّى غَيْرَ الْقُرْآنِ فَلْيَمْحُهُ

Artinya:
jangan kalian menulis apapun dariku (Muhammad), dan produk kelihatannya menulis sesuatu dari aku selain al-qur’an, maka hapuslah.





[13]



Pendapat kedua mengatakan diperbolehkannya menulis Hadith Nabi. Diantara yang berpendapat sebagai halnya ini ialah: Ali bin Abi Tholib, putranya Hasan, Anas, Abdullah bin Amr bin Ash dan Jabir. Qodli Iad mengatakan bahwa mayoritas dari sahabat dan tabi’in memperbolehkan untuk batik Hadith Nabi.

Beberapa dalil bakal menguatkan pendapat nan kedua:


a.



Hadith yang diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim, berbunyi:



[14]



اكْتُبُوا لأَبِى شَاهٍ


b.



Hadith dari Abuk Daud dan Hakim nan mengobrolkan bahwa Abdullah bin Amr ingin menulis akan halnya segala sesuatu yang didengar dari Rasul, lalu menghafalkannya. Hanya orang Qurays melarangnya dan merenjeng lidah: wahai Abdullah apakah anda ingin batik sesuatu yang kamu dengar dari Rasul, sedangkan dia itu lagi manusia yang dapat mengatakan sesuatu yang dia suka dan yang dia benci? Kemudian Abdullah membualkan hal tersebut kepada Rasulullah. Lalu Nabi berucap:


[15]



اكْتُبْ فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ مَا يَخْرُجُ مِنْهُ إِلَّا حَقٌّ


c.



Hadith yang diriwayatkan maka dari itu Bukhori bersumber Serdak Huroiroh yang berbunyi:


[16]



حَدَّثَنَا عَلِىُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ قَالَ حَدَّثَنَا عَمْرٌو قَالَ أَخْبَرَنِى وَهْبُ بْنُ مُنَبِّهٍ عَنْ أَخِيهِ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ يَقُولُ مَا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – أَحَدٌ أَكْثَرَ حَدِيثًا عَنْهُ مِنِّى ، إِلاَّ مَا كَانَ مِنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو فَإِنَّهُ كَانَ يَكْتُبُ وَلاَ أَكْتُبُ .


d.



Hadith yang diriwayatkan oleh Turmudli dari perkataan Abu Huroiroh:


[17]



عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ كَانَ رَجُلٌ مِنَ الأَنْصَارِ يَجْلِسُ إِلَى النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- فَيَسْمَعُ مِنَ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- الْحَدِيثَ فَيُعْجِبُهُ وَلاَ يَحْفَظُهُ فَشَكَا ذَلِكَ إِلَى النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّى أَسْمَعُ مِنْكَ الْحَدِيثَ فَيُعْجِبُنِى وَلاَ أَحْفَظُهُ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- اسْتَعِنْ بِيَمِينِكَ. وَأَوْمَأَ بِيَدِهِ لِلْخَطّ





e.



Hadith yang disandarkan kepada Ar-Romahurmuzi berusul Rofi’ bin Khodij:


[18]



قال : قلت : يا رسول الله إنا نسمع منك أشياء أفنكتبها ؟ قال : اكتبوا ذلك ولا حرج


f.



Hadith mauquf yang diriwayatkan maka dari itu Wasit berpangkal Anas:


[19]



عن أنس ، أنه كان يقول لبنيه :
قيدوا العلم بالكتاب

Pendapat ketiga mengatakan diperbolehkannya menulis Hadith Utusan tuhan, lewat menghapusnya setelah dihafalkan, kemudian membolehkan lakukan mengumpulkan dan membukukannya, maka hilanglah perbedaan pendapat.

Ibnu Solah mengatakan seandainya Hadith tak dibukukan, maka ia tidak akan dapat dipelajari puas perian sekarang ini.


[20]

Beberapa sanggahan bersumber keramaian pendapat yang kedua terhadap pendapat yang pertama:


a.



Sebenarnya larangan buat menulis Hadith ialah terjadi sreg mula-mula islam, karena kuatir akan terjadi rancam aduk antara al-qur’an dan Hadith. Maka tatkala jumlah makhluk islam menjadi banyak dan mereka mengenal al-qur’an sekaligus dapat membedakannya dengan Hadith, maka hilanglah kekhawatiran tersebut dan diperbolehkannya menulis Hadith.


b.



Sepantasnya yang dilarang adalah menulis Hadith dan al-qur’an dalam suatu mushaf atau kepingan, karena ditakutkan akan tercampurnya Hadith degan al-qur’an.


c.



Sesungguhnya larangan batik Hadith adalah cak bagi orang-bani adam yang bagus hafalannya dan dapat dipercaya, seharusnya mereka tidak tergantung terhadap goresan. Sedangkan bagi orang yang hafalannya lunglai, maka diperbolehkan lakukan menulis Hadith, karena merembah hilang dan takut tercampur antara al-qur’an dengan Hadith.


[21]



Berpangkal pernyataan ini bahwa pendapat kedualah nan minimum kuat dan dapat diterima.



2.





Pembukuan Hadith Lega Waktu Tabi’in.

Plong fase ini adalah masa penimbunan Hadith dan pembukuannya.

Puncak



f
ase ini

ialah

perintah Umar bin Abdul Azis kepada para bawahannya:


Pelajarilah Hadith Rasulullah, kemudian kumpulkanlah

.


[22]





Dan suatu saat Umar bin Abdul Azis memerintahkan kepada warga Madinah agar mempelajari Hadith Rasul dan menuliskannya. Berikut petikan teksnya:


[23]



كَتَبَ عُمَرُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ إِلَى أَهْلِ الْمَدِينَةِ : أَنِ انْظُرُوا حَدِيثَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَاكْتُبُوهُ ، فَإِنِّى قَدْ خِفْتُ دُرُوسَ

الْعِلْمِ وَذَهَابَ أَهْلِهِ.

Karena perintah itu, maka banyak para ulama’ berlomba-adu mengumpulkan Hadith Nabi menjadi suatu kumpulan Hadith. Kemudian mereka mengirimkannya kepada Khalifah, suntuk Khalifah menyebarkannya ke berbagai kota.

Para sejarawan farik pendapat tentang siapa yang pertamakali mengumpulkan Hadith utusan tuhan:


1.



Pendapat mula-mula mengatakan yakni Muhammad kacang Syihab Az-Zuhri. Berdasarkan pengakuannya bahwa engkau diperintah Umar kedelai Abdul Azis kerjakan mengumpulkan Hadith Utusan tuhan.


[24]



قال : سمعت ابن شهاب يحدث سعد بن إبراهيم قال

: أمرنا عمر بن عبد
العزيز بجمع السنن فكتبناها دفترا دفترا، فبعث إلى كل أرض له عليها سلطان دفترا

Disamping itu

Muhammad bin Syihab Az-Zuhri

berbesar hati mendapatkan tugas nan mulia itu dan dia juga pernah mengatakan bahwa dialah orang yang pertamakali membukukan Hadith Nabi.

وحق للزهري أن يفخر بعمله قائلا : ” لم يدون هذا العلم أحد قبلي”


2.



Pendapat kedua mengatakan merupakan Abuk Bakar bin Muhammad kacang Amr kedelai Hazm. Karena beliau sebagai pelecok satu pelaku Umar kedelai Abdul Azis dan mendapat perintah untuk menulis Hadith nabi.


[25]



كَتَبَ عُمَرُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ إِلَى أَبِى بَكْرِ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرِو بْنِ حَزْمٍ : أَنِ اكْتُبْ إِلَىَّ بِمَا ثَبَتَ عِنْدَكَ مِنَ الْحَدِيثِ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَبِحَدِيثِ عَمْرَةَ ، فَإِنِّى قَدْ خَشِيتُ دُرُوسَ الْعِلْمِ وَذَهَابَهُ


3.



Pendapat ketiga mengatakan bahwa adanya kemungkinan kedua-duanya, baik Az-Zuhri ataupun Abu Bakar ialah individu yang pertamakali mengumpulkan dan membukukan Hadith Nabi. Karena Khalifah Umar bin Abdul Azis mensyariatkan kedua-duanya kerjakan mengumpulkan dan membukukan Hadith Nabi.


[26]





Penali

Dari keempat istilah ialah
Hadith, Sunnah, Khabar, dan Atsar,
menurut jumhur ulama, Hadith boleh dipergunakan bagi maksud yang sama, yaitu bahwa hadith disebut juga dengan sunnah, khabar atau atsar. Begitu juga halnya sunnah, dapat disebut dengan hadith, khabar dan atsar. Maka Hadith Mutawatir dapat juga disebut dengan Sunnah Mutawatir maupun Khabar Mutawatir. Seperti mana Hadith Shahih boleh disebut dengan Sunnah Shahih, Khabar Shahih, dan Atsar Shahih

.

Permulaan Islam Rasulullah SAW memang melarang para Sahabatnya cak bagi menulis barang apa sesuatu yang keluar dari Rasul, baik itu yang berupa perkataannya, perbuatannya, ketetapannya ataupun aturan-sifatnya, karena ditakutkan akan terjadinya kacau balau antara Al-Qur’an dengan As-Sunnah.

Doang keadaan menjadi berubah tatkala kuantitas umat islam semakin banyak dan diantara mereka banyak yang hafal Al-Qur’an, sekaligus dapat memperlainkan antara Al-Qur’an dan As-Sunnah. Maka plong masa akhir roh Nabi, beliau seorang yang memerintahkan sahabatnya bagi menulis Hadith.

Berpangkal pemberitaan semacam ini, maka hilanglah perbedaan pendapat tentang diperbolehkan ataupun enggak diperbolehkannya menulis dan membukukan Hadith Nabi. Oleh sebab itu umat islam seia bahwa penulisan dan pembukuan Hadith Nabi itu diperbolehkan dan dibenarkan


DAFTAR PUSTAKA

Ajjaj al-Khathib, Muhammad.
Ushul al-Hadith Ulumuhu wa Mushthalahuhu
. Bairut: Dar al-Fikr, 1998.

Ali, Atabik,
Kamus Mutakhir Arab-Indonesia,
Yogyakarta: gubuk pesantren Krapyak, 2002.

Al-Muhith al-Fasil Baina Rawi Wa al-Wa’iy. Maktabah Syamilah

Almustadrok Lilhakim. Maktabah Syamilah

Al-Suyuti,
Tadriburr Rawi Fi Syarhi Taqrib al-Nawawi.
Maktabah Syamilah.

Ash Shiddieqy, Teungku Muhammad Hasbi,
Rekaman dan Pengantar Ilmu Hadith, Semarang: Pustaka Rizki Putra, 1998.

Bakar, Muhammad Mahmud.,
Mausu’ah Ulum al-Hadith,Kementrian Agama Republik Arab Mesir, 2009.

Chalil, Moenawar,
Kembali Kepada al-Qur’an dan as-Sunnah, Jakarta: Bulan Bintang, 1996.

Fathul Mughith. Maktabah Syamilah

Husnuddu’at, Sukarnawadi H.,
Melempengkan Bid’ah,Surabaya: Mayapada Ilmu,1996.

Bani Abdil Kafetaria,
Jami’ al-Bayan al-Ilm. Maktabah Syamilah

Anak laki-laki Hajar,

Fathul Bari. Maktabah Syamilah

Ismail, M. Syuhudi,
Metodologi Penelitian Hadith Nasbi, Jakarta: Bulan Medalion,1992.

Khusu’i, Muhammad,

Mausu’ah Ulum al-Hadith,
Kementrian Agama Republik Arab Mesir, 2009.

Rahman, Fazlur,
Islamic Methodology in History, terj. Anar Mahyuddin,
Membuka Pintu Ijtihad, Bandung : Bacaan, 1995

Sohih Bukhori. Maktabah Syamilah

Sohih Muslim. Maktabah Syamilah

Sunan Abu Daud. Maktabah Syamilah

Sunan al-Darami. Maktabah Syamilah

Sunan Tirmidzi. Maktabah Syamilah.

Zuhdi, Masjfuh,
Pengantar Ilmu Hadith, Surabaya: Bina

Source: https://makalahpendidikanislamlengkap.blogspot.com/2013/06/pengertian-hadith-persamaan-dan.html

Posted by: gamadelic.com